[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Proposal

myhome_7

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Proposal – Neen
Cast : Kim Jongdae x Kim Sohee (OC)
Genre : Romance
Rating : General

Sohee membantu beberapa anak di halaman depan untuk menanam bunga. Tangannya sudah kotor, mukanya juga, tapi ia tak peduli.
“Jinhee-ya, jangan menggali terlalu dalam, mulailah menanam mawarmu.” Sohee berhenti sejenak, mengamati gadis kecil berambut sebahu dengan bibir mengerucut disampingnya. Jinhee tak menjawab, ia terus menggali.
Sohee duduk ditanah, meraih tangan Jinhee dan bertanya, “Ada apa denganmu?”
“Dimana Jongdae oppa?” Sebuah pertanyaan meluncur dari mulut kecil Jinhee.
Sohee terdiam sebentar sampai Jinhee melanjutkan, “Aku merindukannya, minggu lalu ia tak kesini.”
Sohee tersenyum, “Benarkah? Kau sangat merindukannya?”
Jinhee mengangguk.
Jongdae, lihat. Jinhee saja merindukanmu. Bolehkah aku juga?
Sohee mendongak, menatap siluet lelaki yang tengah menghalangi sinar matahari. Lelaki itu tersenyum.
“Jinhee-ya, lihat siapa yang ada di belakangmu.” ujar Sohee.
Jinhee berbalik dan berteriak, “Oppa!!” kemudian memeluk Jongdae yang kini tengah berlutut.
Sohee tersenyum, ia sudah tak dibutuhkan jika Jongdae datang. Maka dari itu, ia mulai menanam bunga yang tersisa dan mengembalikan peralatan kebun ke gudang.

“Bagaimana kabarmu?” Seseorang bertanya.
Sohee mendongak, “Masih perempuan.”
Jongdae tertawa, kemudian duduk satu bangku dengan Sohee.
“Anak-anak merindukanmu.” ujar Sohee.
“Aku juga. Mereka sudah tidur setelah kunyanyikan.” Balas Jongdae.
Sohee tersenyum, tangannya bermain-main di ujung kaus.
“Minggu lalu aku ke luar kota, urusan pekerjaan.”
“Tidak usah bilang.”
“Kupikir kau merindukanku.”
Sohee menatap Jongdae tajam. Membuat lelaki itu membuang muka dan berkata, “Waw, ternyata tidak.”
“Sesekali tanyalah dirimu sendiri, apa kau merindukanku juga?” Cibir Sohee. Hatinya tiba-tiba tak karuan. Padahal ia hanya bergurau.
“Aku merindukan adik kecilku.”
Sohee jengah, “Jelas saja, kau merindukan adik -adik di panti asuhan. Kau kan favorit mereka.”
Jongdae mengacak poni Sohee, “Kubilang adik, bukan adik-adik.”
Sohee menatap Jongdae sekali lagi, “Adikku kan hanya Kim Sohee.” lanjutnya.
xx
“Jongdae sedikit terlambat, Sohee-ya. Kita bisa mulai dulu acaranya.” Ibu Han menepuk pundak Sohee pelan.
Sohee mengangguk. Ia berdiri di sudut ruangan, sesekali tersenyum melihat kepolosan anak-anak yang tengah bernyanyi bersama-sama—tak beraturan. Sejenak ia mengingat kenangannya disini, dahulu bersama Jongdae.
Mereka bertemu untuk pertama kalinya di panti asuhan, selepas orang tua Jongdae meninggal. Ia sudah sebatang kara, kakek neneknya juga tiada. Ia tak punya saudara.
Jongdae menangis beberapa hari setelah sampai di panti—tanpa henti. Sohee, perempuan itu kemudian mengulurkan tangannya pada Jongdae, mengatakan bahwa semuanya akan lebih baik. Jongdae tidak perlu khawatir, karena ada Sohee yang bersedia berteman dengannya. Waktu itu Sohee berumur 6 tahun dan Jongdae 8 tahun.
Sohee juga mengingat beberapa kali mereka bernyanyi di panggung sederhana saat panti asuhan berulang tahun. Sohee tidak pandai bernyanyi sebenarnya, tapi Jongdae memaksa.
Sohee juga teringat ketika ia tak sengaja memecahkan piring ketika ia bertugas untuk mencuci. Jelas teringat ibu Han memarahinya tak henti-henti, tapi Jongdae datang dan beradu argumen selama 10 menit dan akhirnya Ibu Han memaafkan Sohee.
Sohee jelas mengingatnya, kejadian ‘piring pecah’ adalah saat dimana pertama kalinya ia sadar bahwa telah menyukai Jongdae. Dan terus berlanjut.
Kim Sohee menyukainya, ia mencintai kakaknya.
Ia mencintai Kim Jongdae.
“Sohee-ya” seseorang memanggil Sohee.
Gadis itu menoleh, “Ya, Ibu Song?”
“Bisa kau gendong Taejin sebentar? Ada yang harus kubicarakan dengan donatur kita.” jelasnya.
“Ah ya, baiklah.” Sohee mengulurkan tangannya, menerima Taejin untuk di dekapnya.
“Taejin-ah, jangan menangis ya? Lihat kakak-kakakmu sedang menari disana. Ayo bilang halo.” Sohee mengangkat tangan kanan Taejin dan melambai-lambaikannya ke depan.
“Anakmu?” Seseorang dengan suara berat bertanya.
“Jongdae, jangan mulai.” Sohee menjawab tanpa repot-repot menengok.
Jongdae terkikik sebentar, lalu merentangkan tangannya. “Aku saja yang gendong dia.”
Sohee menyerahkan Taejin pada lelaki itu. Jongdae menimang-nimang Taejin sebentar, lalu tertawa. Sohee mau tidak mau tersenyum.
“Aku mengantar teman perempuanku pulang, makanya sedikit terlambat.” Jongdae menjelaskan—padahal Sohee diam saja.
Sohee hanya mengangguk samar, kemudian tanpa sadar bertanya, “Teman dekat?”
Pertanyaan yang membuatnya membuang muka cepat-cepat. Kelepasan.
Jongdae menoleh, “Dekat karena proyek, tidak lebih.”
Jongdae dari dulu tidak berubah, selalu tahu jawaban yang Sohee minta. Makanya ia pintar dan tidak bertele-tele. Terbalik dengan si gadis.
Sohee mengangguk lagi.
Tangannya menggenggam satu sama lain di belakang. Matanya memindai seluruh ruangan.
“Sudah hampir 4 tahun aku keluar dari sini.” Sohee bersuara. Bibirnya tersenyum tipis.
“Menolak 6 kali tawaran adopsi, hanya kau Sohee.” Jongdae menggeleng-gelengkan kepala. Sebelah tangannya menggenggam tangan Taejin.
“Semoga Taejin tak keras kepala sepertiku.” ujar Sohee, lebih kepada memohon.
“Taejin-ah, jangan merepotkan Ibu Han dengan teriakan penolakan adopsimu ya?” Cicit Jongdae. Tubuhnya memantul-mantul sedikit.
Sohee tertawa, “Tidak akan. Taejin harus bahagia.”
“Memangnya kau tidak boleh bahagia?” Jongdae merendahkan intonasinya.
Sohee bergumam sebentar lalu bersuara, “Aku sudah bahagia. Sebagian iya sebagian tidak.”
Jongdae mengecup puncak kepala Taejin, “Sebagian bahagia?”
Sohee mengangguk, “Bertemu dengan Kim Jongdae. Itu sebagian bahagiaku.”
Tubuh Sohee bergerak pelan di tempat, ia melanjutkan, “Sebagian tidaknya—”
“—belum memiliki Kim Jongdae.” Si lelaki memotong.
Sohee mundur selangkah, tangannya saling meremas, matanya melotot.
“Seutuhnya.” Jongdae melanjutkan.
Nafas Sohee tertahan. Jongdae tahu segalanya.
“Selamanya.” Jongdae menambahkan, kemudian ia menengok ke samping.
Sohee menatap Jongdae, lelaki itu membenarkan letak kacamatanya. Itu kacamata 2 tahun lalu yang ia pilihkan untuk Jongdae.
Lelaki itu tersenyum hangat, menarik lengan Sohee agar kembali sejajar dengannya. Si gadis tak menolak, selalu begitu jika Jongdae bersikap.
“Hei, adik kecil.” Tegur Jongdae. Pandangannya kembali pada panggung, tangannya kembali pada Taejin, tubuhnya memantul lagi.
Sohee masih menatapnya, menjawab dengan gumaman.
“Kau bisa buatkan aku anak lucu seperti Taejin tidak?” Tanya Jongdae. Pertanyaan vulgar yang membuat Sohee kembali melotot.
“Jika tidak, aku tidak keberatan.” Lanjut Jongdae.
Kepalan tangan Sohee terurai, hampir lolos untuk memukul kepala Jongdae.
“Atau, kau bisa memasak selain ramyoen untukku tidak?” Tanya Jongdae lagi.
Kening Sohee berkerut, pertanyaan aneh lagi.
“Apa mak—”
“Tidak tidak. Ramyoenmu paling enak walaupun instan. Aku tidak keberatan memakannya setiap hari.” Jongdae memotong dengan pernyataan lagi.
Percuma ia bertanya.
Percuma Sohee bertanya-tanya.
“Kau bisa tidak, tidak marah-marah saat bajuku kotor karena saus?” Tanya Jongdae lagi, yang membuat Sohee mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Waktu itu mereka tengah berkunjung ke panti, Jongdae tengah menonton Naruto dengan Sehun, anak yg 6 tahun lebih muda dari Jongdae.
Mereka makan kentang goreng dengan saus. Hasilnya, kaus Jongdae penuh saus setelahnya. Sohee marah-marah, tapi tetap mencucinya. Jongdae terpaksa meminjam kaus Sehun.
“Jangan jangan,” ucapan Jongdae memutus lamunan Sohee.
“Aku suka wajahmu ketika marah-marah.” lanjut Jongdae. Taejin mulai menangis, dan tepat sebelum tangisnya menjadi keras Ibu Song datang dan berterimakasih, kembali membawa pergi Taejin.
Jongdae mengibaskan tangannya yang agak pegal karena terlalu lama menggendong Taejin, tapi Sohee meraihnya dan mulai memijat telapak Jongdae.
Sohee diam saja. Ia terbiasa melakukan ini, sejak dulu.
Setelah beberapa lama sama-sama diam, Jongdae membuka mulut lagi.
“Bisa tidak, seperti ini, seterusnya?”
Sohee menatap telapak Jongdae, masih memijatnya. “Seperti ini seperti apa, Jongdae? Daritadi kau aneh sekali.”
Jongdae tersenyum hangat, “Ternyata benar-benar tidak sampai ya maksudku.” Itu pernyataan.
“Jadi apa maksudmu?” Kini Sohee bertanya.
Jondae diam sebentar, merasakan sentuhan Sohee yang dari dulu tak berubah.
“Aku sedang melamarmu.”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s