[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Philophobia

myhome_23

[CHEN BIRTHDAY PROJECT]
PHILOPHOBIA
– Whitearmor

EXO’s Kim Jongdae and Armor’s OC Kim Nayoung || Hurt/Comfort || G || Drabble

————————–

“Kau tahu? Sekali dikecewakan setelahnya akan sama saja.”

“Dan karena itu kau selalu menghindar?”

————————–

Kali ini Jongdae duduk sendirian di kafe tetapi sesungguhnya tidak benar-benar seorang diri. Membiarkan secangkir green tea latte di hadapan sang pemuda perlahan kehilangan hangatnya membuktikan selama apa waktu yang dihabiskan Jongdae untuk menunggu. Dengan napas terengah dan kening dibanjiri keringat, gadis berkuncir kuda itu berjalan cepat mendekati meja tempat Jongdae berada.
“Satu jam,” desis Jongdae.
Gadis Kim itu tersenyum tipis lantas duduk di kursi berhadapan dengan Jongdae. “Berikan aku alasan kuat atas keterlambatanmu atau setidaknya ucapan permintaan maaf.” Jongdae menyela aktivitas sang gadis.
Namun setelah kalimat Jongdae dilontarkan tidak ada balasan dari sang gadis. Nayoung terus meminum cairan hijau dalam cangkirnya meski tak lagi hangat—bahkan terasa dingin seperti hatinya saat ini—sampai tandas. Setelah itu, ia hanya menatap cangkir kosong itu dalam hening.
Jongdae menghela napas, ia sudah tahu segala sifat dan tingkah laku sang gadis lebih dari siapapun bahkan sang pemuda bertaruh jika dirinya lebih cocok dipanggil orang tua Kim Nayoung untuk urusan ini. Segera saja Jongdae mengeluarkan sapu tangan kemudian memberikannya pada sang gadis.
“Siapa kali ini?” tanya Jongdae. “Nay, bukankah sudah kukatakan jangan percaya laki-laki manapun?”
Nayoung menyeka air mata yang keluar dari pelupuk mata dengan punggung tangan, enggan menggunakan sapu tangan dari Jongdae. Nayoung pun terlihat malas menjawab kalimat pedas yang dilayangkan sang pemuda. “Buat apa kau memulai hubungan tetapi akhirnya malah disakiti?” cecar Jongdae.
“Cukup,” sahut sang dara singkat. Ditatapnya sepasang netra hitam milik Jongdae lekat, “Kau … bahkan terlalu takut untuk jatuh cinta. Jadi, tutuplah mulutmu dan jangan pojokkan aku seolah kaulah yang paling tahu soal hal ini.”
Jongdae bungkam, perkataan Nayoung terlalu menohok untuknya. Setelah beberapa saat ia membiarkan Nayoung bersuara, kali ini sang pemuda angkat bicara.
“Kau tahu, Nay? Kurasa sepuluh tahun lebih kita bersahabat tidak membuatmu mengetahui diriku lebih dari aku mengetahuimu.”
“Aku tahu semua hal tentangmu,” gumam Nayoung.
Jongdae menggeleng pelan lantas memutar telunjuknya pada pinggiran cangkir. “Sikap dingin dan perkataan ketusku terutama pada gadis … apa kau tahu sebabnya?” tanya Jongdae.
“Kau tidak mau terbawa perasaan pada seorang gadis,” jawab Nayoung. “Sudah kubilang jika aku tahu segalanya tentangmu.”
“Lebih dari itu, Nay.”
Jongdae terdiam sesaat seraya menatap lebih lekat netra kemerahan Nayoung yang sarat akan tanda tanya. “Aku hanya ingin mengindari sesuatu hal yang bisa saja menghancurkan hidup seseorang.”
“Jong—”
“Kumohon, Nay. Jangan potong ucapanku.”
Jongdae membenarkan posisinya, kali ini ia nampak lebih gelisah dari biasanya. “Setiap kali melihatmu, aku sadar jika setiap kali kau mencintai seseorang setelahnya kau hanya akan membuatnya kecewa dan terluka. Lantas apa makna dari percintaan itu? Bukankah kau selalu bilang jika cinta itu membawamu menuju kebahagiaan?”
“Nay, maka jelaskan padaku. Kenapa … kenapa kau selalu dikecewakan? Dan setelah itu kau masih sanggup untuk mencari cinta yang lain? Mengorbankan hatimu lagi dan lagi untuk mencinta.”
“Dan karena itu kau selalu menghindar?” Nayoung balik bertanya.
Jongdae mengangguk pelan. Meskipun awalnya ragu, Nayoung memberanikan diri meraih tangan sang pemuda kemudian menggenggamnya erat. “Ketakutanmu itu harus dihilangkan sebab seperti yang kukatakan cinta akan membawamu menuju kebahagiaan hanya saja jalan ke sana tidak semudah itu. Bukankah kau perlu terjatuh untuk bisa berlari?”
Nayoung tersenyum tipis kemudian menghapus jejak air mata di pipinya. “Kau tahu satu hal baru lainnya dari diriku?”
Jongdae menggeleng, membuat Nayoung semakin melebarkan senyum. “Sejauh apapun aku berlari, mencari rumah untuk bernaung pada akhirnya aku selalu kembali padamu.”
“Maka carilah rumah lain, Nay.”
Sang gadis menggeleng cepat, “Tidak akan pernah.”
Perlahan Jongdae menarik tangan yang berada di dalam genggaman sang gadis. Ia tertunduk, memandang jari-jemarinya yang saling bertaut. “Kau tahu? Sekali dikecewakan setelahnya akan sama saja. Dan … aku tidak ingin mengecewakanmu. Carilah rumah yang lain, Nay. Kau pantas bahagia.”
“Kau juga pantas bahagia, Jongdae.”
“Nay—”
“Kumohon. Sepuluh tahun sudah kau menutup hatimu atas ketakutanmu akan rasa cinta dan untuk kali ini, cobalah untuk berubah. Aku … lelah.”
Nayoung ikut menunduk, “Aku lelah karena terus berlari mencari rumah padahal rumahku hanyalah dirimu. Jongdae, percayalah aku tidak akan merasakan kecewa bersamamu.”

Jongdae terperanjat bersamaan dengan berubahnya irama degup jantung dalam diri. Pemuda itu kini tengah mencerna anak serta induk kalimat yang barusan terlontar dari bibir mungil Kim Nayoung. Pertanyaan mengenai kebenaran sang gadis yang baru saja menyatakan rasa pada seorang Philophobia macam Jongdae seolah diluar dugaan.
“Aku—”
“Tak apa jika kau belum tahu harus membalas apa,” sela Nayoung. “Setidaknya aku sudah mengatakan apa yang selama ini mengganjal,” tandas sang gadis diakhiri sunggingan senyum merekah.
Sepersekon kemudian, Nayoung bangkit dari kursi dan melangkah keluar kafe. Ketika gadis itu sudah menghilang di balik pintu, atensi Jongdae teralih sepenuhnya pada secarik kertas di atas meja. Ia pun meraih kertas itu lantas membacanya pelan.
“Jongdae, siapkah kau tuk jatuh cinta?”
Dan Kim Jongdae hanya bisa mengulum senyum.

-FIN-
————————-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s