[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Our Wings

myhome_12

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Our Wings – Febi Elita
• Cast : Kim Jongdae, Shin Minju (OC)
• Genre : Romance
• Rating : T

Our Wings

Pertemuan di klub menggambar telah usai. Setelah berpamitan, aku segera keluar dan melangkah untuk pulang ke rumah.

“Hati-hati di jalan,” teriak salah satu rekanku pada siapapun yang keluar dari ruangan saat itu.

Langit telah gelap, retinaku menangkap sebuah bintang yang bersinar dari balik jendela. Aku tersenyum, takjub dengan bintang yang bersinar itu. Pasalnya, akhir-akhir ini jarang sekali ada bintang di langit karena cuaca selalu mendung dan berawan.

Selagi menyusuri koridor, tiba-tiba pintu ruang musik terbuka kemudian murid yang ikut klub tersebut pun berhambur keluar.

Aku berhenti sejenak dan membiarkan para murid klub musik itu berjalan lebih dulu. Setelah merasa cukup lengang, aku kembali berjalan. Namun, sebuah suara yang terdengar khas menghentikan langkahku lagi.

“Hai, Minju,” sapa Jongdae–murid klub musik– sembari menampilakn cengiran yang begitu cerah dan bersinar tanpa raut kelelahan.

“Hm, ada apa?” sahutku dengan alis yang sedikit terangkat.

“Apa kau ada waktu?”

Diam sejenak, aku pun berujar; “Selama itu tidak lewat jam sepuluh, aku masih punya waktu luang.”

Jongdae tertawa. “Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?” tawarnya beberapa detik kemudian.

Sempat ada keheningan saat itu. Aku masih menimang tawarannya. Bukan karena aku tidak ingin pergi jalan-jalan dengan Jongdae, namun aku memikirkan kembali tentang risiko yang akan aku dapat jika ada seorang siswi sekolahku tahu masalah ini.

Mereka pasti akan memusuhiku, bahkan jika aku tidak bertindak dan diam saja, bisa-bisa mereka akan membullyku karena telah berani jalan berdua dengan orang famous di sekolah.

Sebetulnya, dulu sebelum Jongdae mengisi acara ulang tahun sekolah dengan membawakan sebuah lagu yang begitu indah, semua masih baik-baik saja. Aku dan Jongdae masih berteman dengan akrab tanpa khawatir akan hal apapun.

Semua berubah dalam sekejap saat itu. Jongdae dengan suara emasnya telah membuat dia dikenal satu sekolahan. Penggemarnya pun banyak. Dan aku …, hanya sebagian orang yang pernah singgah dalam hidupnya.

“Jadi, bagiamana dengan tawaranku? Kau mau ikut jalan-jalan atau tidak?”

Aku terlonjak dan tersenyum kikuk saat sadar karena telah sibuk dengan pikiranku sendiri.

“Apa tidak apa-apa jika kita berjalan-jalan … berdua?” tanyaku dengan sedikit rasa cemas.

Jongdae tersenyum. Sepertinya ia mengerti maksud pertanyaanku. Aku benar-benar tidak ingin mendapat masalah di sekolah ini.

“Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku hanya ingin berbicara suatu hal denganmu. Jadi, kumohon temanilah aku kali ini saja,” ujarnya sambil memohon dengan penuh harap. Entah apa maksud dari ekspresi itu, tetapi aku yakin ada sesuatu yang begitu penting yang ingin ia beritahu padaku.

“Baiklah, tapi tidak lewat jam sepuluh, oke?” Aku mengacungkan jari kelingkingku, seolah memberi sebuah perjanjian ala bocah kecil padanya.

“Okay!” serunya sambil mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku.

***

Kami berjalan cukup lama, dengan langkah perlahan sambil menikmati momen yang terbentuk saat ini. Tujuan kami entah kemana, namun arahnya menuju jalan ke rumahku.

“Jadi …, ada hal penting seperti apa?” kataku memecah keheningan sambil sesekali memandang wajah Jongdae.

“Ayo kita ke mini market dulu, aku merasa haus,” ajaknya tanpa menjawab pertanyaanku tadi.

Aku mengangguk kemudian mengikuti langkahnya yang langsung masuk ke mini market terdekat.

Setelah membeli minuman, kami duduk di depan mini market yang telah tersedia kursi, meja, juga sebuah payung yang menaungi tempat itu.

Angin malam yang berembus terasa sangat dingin saat menembus seragamku yang berbahan tidak terlalu tebal. Tetapi untungnya hujan tidak turun, jika iya, mungkin aku akan menggigil kedinginan.

“Kau kedinginan? Kalau begitu kita pindah ke tempat yang lebih hangat?” tanyanya dengan raut wajah khawatir.

“Tidak apa, aku lebih suka disini karena bisa memandang angkasa dengan jelas.”

Jongdae mengangguk kemudian meneguk minumannya sedikit.

“Ekhm,” aku berdehem sebentar sampai Jongdae menatapku. “Jadi, hal apa yang ingin kau bicarakan?”

“Yha, sebenarnya ini sangat rahasia,” jawabnya dengan sebuah cengiran di wajah. Aku hanya mengernyit butuh tambahan kata.

“Maksudnya?”

“Aku … akan menjadi trainee di salah satu agency. Mereka mengajakku untuk bergabung dan saat audisi, ternyata aku lolos.”

Sulit dipercaya. Tapi, itu memang bisa terjadi. Jongdae pantas untuk mengembangkan bakatnya. Tentu, dia memiliki bakat luar biasa yang bahkan sampai membuatku iri.

“Whoa, itu kabar yang sangat bagus. Selamat Jongdae, aku turut senang, orangtuamu pasti sangat bangga. Bahkan, aku yang hanya temanmu ini pun ikut bangga karena pencapaianmu,” ucapku dengan nada bahagia.

Jongdae tersenyum malu. Mukanya memerah dan terlihat lucu, apalagi ditambah dengan senyumnya yang sangat cerah.

“Kau pasti akan cepat terkenal dan punya banyak penggemar, akh, aku tidak bisa membayangkannya,” lanjutku masih dengan sedikit geli melihat wajah Jongdae yang benar-benar lucu.

“Ya, terima kasih. Aku senang mendengar responmu itu,” katanya setelah merasa aku selesai memujinya. “Tapi, mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita sebelum … yha, jika kita ditakdirkan untuk bertemu suatu saat nanti.”

Seketika aku terdiam dan memandang dia penuh dengan pertanyaan. Rasanya itu seperti jatuh dari gedung yang sangat tinggi.

“Jika boleh jujur, aku sangat iri denganmu, Minju. Kau seharusnya layak menjadi insipirasi. Kau orang yang benar-benar sabar, memiliki kecerdasan dan keterampilan yang menarik.”

Aku masih diam, memandang Jongade lekat-lekat. Baru saja tadi aku mendapat kabar bahagia, tetapi kenapa sekarang aku merasa sesak.

“Minju, terima kasih atas segala hal yang kau beri padaku selama ini. Kau selalu membantu dalam mengerjakan tugasku, mengingatkanku jika aku salah ataupun ketika aku sedang marah.”

Tiba-tiba, Jongdae menggeggam tanganku cukup erat.

“Aku menyukaimu, Minju.”

Aku bergeming. Sejujurnya, aku juga sangat menyukai Jongdae, tetapi rasanya aku harus menyimpan perasaan ini dengan rapi, aku benar-benar tidak mau membebani pikirannya. Cukup sudah dia harus memikirkan karirnya, tidak perlu ditambah dengan hubungan asmara.

“Apakah ini yang namanya perasaan cinta atau entahlah, tapi aku benar-benar nyaman berada di dekatmu. Kau itu seperti … tempat aku kembali, mungkin.”

Aku terkekeh sambil tersenyum malu.

“Kau tidak sedang merayu kan, Kim Jongdae?” ujarku masih dengan terkekeh.

“Uhm, kurasa tidak.” Ia pun tertawa.

“Minju, aku tidak akan meminta apalagi memaksamu untuk menyukaiku juga bahkan sampai menjalin sebuah hubungan. Aku hanya … ingin kau tahu tentang perasaanku ini.”

Aku mengangguk. Itu tidak jadi masalah. Bagiku, pengakuan seperti itu adalah hal yang berani dan aku menyukainya. Meski sebetulnya aku menginginkan hubungan dengan Jongdae. Tetapi rasanya aku harus mengubur harapan itu.

“Aku juga menyukaimu, Kim Jongdae.”

Ia terlihat tersenyum. Sungguh sangat menenangkan dan terasa hangat.

“Tapi, tidak apa-apa kan jika kita tidak menjalin suatu hubungan?”

Aku tentu sangat senang mendengar pengakuan Jongdae tadi, namun rasanya agak sedikit sakit mendengar penuturan Jongdae barusan. Tetapi, mau bagaimana lagi? Aku paham maksudnya yang tidak mau menjalin suatu ikatan atau hubungan.

“Tidak masalah, aku mengerti. Kau harus fokus dengan karirmu. Rentangkanlah sayapmu selebar-lebarnya. Aku yakin kau pasti akan menjadi orang yang berhasil dan menebarkan segala keceriaan pada setiap orang.”

Jongdae tersenyum, matanya terlihat berkaca-kaca. Aku yakin dia sangat bahagia.

“Jika memang takdir, kita pasti akan bersatu kembali,” katanya dengan suara yang agak bergetar.

Aku mengangguk. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Sebelum itu, aku juga tidak mau kalah, aku harus bisa melebarkan sayapku dan membuat orang-otang di sekitarku bangga.

“Sudah hampir jam sepuluh, kurasa kita harus pulang.”

Aku pun berdiri dan hendak melangkah. Namun tiba-tiba Jongdae memegang lenganku dan memutar tubuhku hingga berhadapan dengannya.

Cup

Tiba-tiba dia menciumku sekilas. Aku benar-benar kaget dan tidak memercayai ini. Namun, melihat ia tersenyum, aku pun ikut tersenyum dengan senang seolah ada milyaran kupu-kupu sedang beterbangan di dalam perutku.

“Aku akan pindah sekolah mulai besok, semoga kita bertemu lagi.”

Aku tertawa, namun dengan derai air mata. Inikah salam perpisahan darinya? Sungguh membuat perasaanku campur aduk. Aku pun akan selalu berharap bisa bertemu lagi dengannya. Bisa menatap wajahnya yang cerah dan merasakan tangan hangatnya. Pun dengan perasaan yang tetap sama.

Aku selalu berharap, semoga ketika kita bertemu lagi, tentunya saat kami sudah saling menemukan jati diri dan menjadi seseorang dengan hal yang bisa kami banggakan.

THE END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s