[CHEN BIRTHDAY PROJECT] My Precious Light

myhome_3

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] My Precious Light. -airlight.
.
.
.*Kim Jongdae
.*Im Seola (OC)
.
.

Dia datang saat aku terjebak dalam kegelapan tanpa dasar. Suatu keadaan yang luar biasa mengerikan di tengah banyaknya pilihan untuk hidup. Aku mungkin salah memilih jalan hidup, sama seperti dia yang salah memilihku sebagai salah satu dari yang dia cintai.

Dia Kim Jongdae. Kami bertemu saat aku sedang mabuk-mabuknya dan mengigau seperti orang tolol di depan rumahnya. Ia memberiku kehangatan lewat senyumnya yang indah. Satu hal memalukan, namun pengerat diantara kami adalah, saat aku memuntahkan isi perut kosongku dibajunya yang harum.

Ia membawaku masuk ke rumahnya yang tertata dan hangat. Jongdae memberiku sesuatu dan menghilangkan rasa pening hebat di kepalaku. Aku sudah sepenuhnya sadar saat pria baik hati itu menawarkan kasurnya yang empuk untuk kutiduri. Sebagai rasa terima kasih, kenapa tidak sekalian saja? Aku mungkin memang seorang wanita tidak tahu malu yang memanfaatkan kebaikan hati seseorang.

Setelahnya kami bertemu pada saat-saat tidak terduga sampai memutuskan untuk bertemu secara sengaja. Seolah Tuhan merencanakan kami untuk bertemu dan saling jatuh cinta. Termasuk, tentang kami bertemu saat aku sedang bekerja, dengan bungkusan putih yang agak besar ditanganku dan lipatan uang senilai ratusan juta won yang kudapatkan saat menukarnya.

Jongdae melihatku. Namun, ia tersenyum. Ia benar-benar cahaya dalam hidupku yang muram dan menyedihkan. Jongdae tidak peduli tentang pekerjaanku. Lalu, kami Kami tetap mengobrol seperti biasanya. Tetap menjadikan baju Jongdae yang terkena muntahanku sebagai bahan tertawaan kami.

Hingga cinta kecil kami berubah menjadi sesuatu yang lebih besar berbahaya. Berbahaya bagi Jongdae dan hidupnya. Aku sangat tidak pantas untuk menerima cintanya yang murni, terlebih nyawanya yang berharga. Hanya untuk terbebas dari belenggu setan yang menjebak diriku.

Jongdae mengorbankan hidupnya agar aku bisa pergi. Menjalani hidup yang lebih baik, namun, Kim Jongdae, cintaku, apa kau pernah memikirkan kalau hidup perlu sebuah alasan? Sebelum bertemu denganmu alasanku hanyalah bersenang-senang. Tapi kau datang dan menjadi alasan terbesarku. Kini, apa lagi yang menahanku tetap hidup? Maaf, sayang, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk hidup dengan baik. Kau mengorbankan nyawamu untuk itu, maaf kan aku, Jongdae, aku benar-benar tidak bisa.

Melihat café milikmu yang selalu kau banggakan kini justru menjadi sarang gembong narkoba. Bernapas tanpa dirimu disampingku. Apa kau pikir, dengan semua itu, aku bisa hidup dengan baik? Kau salah, sayang, aku tidak pernah akan bisa.

Darahku sudah semakin habis, pergelangan tanganku tampaknya akan putus sebentar lagi. Kau melihatku Jongdae? Karena aku melihatmu. Jangan menatapku seolah aku menghancurkan jiwamu. Tersenyumlah. Segera, kita akan bertemu.

Aku sudah tidak mampu menulis lagi. Benar, sepertimu Jongdae. Aku juga menulis surat saat akan pergi meninggalkan dunia dimana kita dipertemukan. Mari beremu lagi, Jongdae ku. Mari berbagi cinta tanpa ketakutan apapun.
*****Im Seola, yang menyayangi Kim Jongdae.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seola?^^

Ini, dariku, Kim Jongdae. Kau tahu hari apa ini? 2 tahun sayang. Kita bertemu tepat dihari ini. Kau tahu aku sangat menyayangimu bukan? Hehe.

Atasanmu bilang kau bisa bebas bukan? Si pria sinting tempatmu mendapatkan barang haram itu dan yang memburumu kemana-mana, haha. Dia bilang hanya perlu jaminan saja. Aku memberinya cafè dan nyawaku, ia menerimanya. Sederhana bukan? Nah, Seola. Jaminan itu lah hadiahku untuk merayakan hubungan kita. Hadiah terbesar dan mungkin yang terakhir dariku.

Sebagai gantinya, berjanjilah padaku Seola. Hidup dengan baik, hidup seperti yang selama ini kau inginkan. Kau sudah bebas. Pergilah. Jangan lupakan aku dan cintaku yang dalam untukmu, oke? Ah mereka melarangku menulis lagi. Selamat tinggal seola ku. Hiduplah dengan baik!

p.s : KIM JONGDAE SANGAT MENCINTAIMU.
.
.
.
.
.
.
.
.
(epilogue)

“Ditemukan mayat seorang wanita! Polisi menyatakan ini kasus bunuh diri, terlihat dari pola terputusnya pergelangan tangan dan dua surat yang tercecer darah di samping mayat.”
.
.
.
.
.
.
END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s