[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Kincir Angin

myhome_1

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Kincir Angin-OWE

Main Cast : Kim Jongdae
Other Cast : Ayah dan Ibu
Gendre : Family
Rating : PG-17
Length : Oneshoot

Musim semi yang baru datang beberapa hari ini dinikmati langsung oleh seorang pria yang duduk di bangku taman sepi itu seorang diri.

Jaket tebal masih menyelimuti tubuhnya, asap putih juga masih menyertai deruh nafasnya. Diatas hidungnya bertengger dua benda berkaca kembar dengan ganggang yang terkait di telinganya. Biasanya dengan memakai itu, orang-orang akan menandai dirinya sebagai sosok yang cerdas. Rambutnya yang tidak dipotong cepak namun tidak juga terlalu gondrong tetap tertata rapih dengan sedikit efek mengkilat dari gel rambut. Tangannya dengan santai menggelayut pada kedua ujung pegangan kursi taman yang panjangnya tak lebih dari satu meter itu. Kim Jongdae nama pria itu.

Saat menyandarkan kepalanya di sandaran kursi taman, wajahnya menengadah kelangit. Awan putih sedikit bersisik membawanya kembali kemasa silam. Pada masa itu orang-orang akan sangat gembira saat melihat awan bersisik seperti ini. Mereka meyebutnya kode dari alam bahwa hasil tangkapan ikan dilaut akan sangat melimpah. Mereka rata-rata nelayan dan memang hanya itulah yang selalu mereka harapkan.

Kincir angin, adalah salah satu dari sekian banyak obejek yang menarik perhatiannya saat mendongak kelangit sperti ini. Bukan langit dengan awan berbentuk kincir angin.

Hanya sebuah kincir angin.

Bentuknya tak serupa dengan yang berada di negri Belanda sana, bukan pula yang memiliki kekuatan dahsyat sperti pembangkit listrik. Tingginya juga tidak terlalu menjulang, tiang penyokongnya terlihat tak kokoh lagi. Letaknya tepat dibelakang kursi taman yang sedang didiami Jongdae saat ini.

Ketika terpaan angin yang tidak terlalu kencang itu membuat baling-baling kincir angin berputar, sebanyak putaran itu juga senyum diwajah Jongdae mengembang.

“Ayah” suara sikecil menyapa indra pendengarannya. Terdengar begitu riang namun tetap tak mampu membuat Jongdae mengalihkan perhatiannya dari kincir angin.

“bagaimana, apa kau suka?” suara pria dewasa yang sekarang menyapa pendengarannya, mungkin dari sosok yang di panggil Ayah oleh suara sikecil tadi.

“aku sangat menyukai benda ini. Sungguh. Benda apa ini Ayah?” kembali suara sikecil terdengar.

“mari kita sebut ini kincir angin” suara dewasa itu mengimbangi

Tersenyum. Hanya itulah respon Jongdae saat mendengar sepenggal percakapan yang terbawa angin ketelinganya itu. Matanya masih tetap menatap kincir angin dengan posisi mendongak.

Sebenarnya bisa saja Jongdae melihat kincir angin itu dengan posisi yang lebih nyaman tanpa harus menyakiti beberapa ruas tulang belakangnya karena mendapat kompresi akibat mendongak seperti itu. Tapi tetap saja dia berdalih, jika melihatnya dalam posisi seperti ini akan membuat benda yang berputar itu terlihat berkali-kali lipat lebih mengagumkan.

Saat baling-balig kincir angin berhenti berputar karena angin mengubah arahnya bertiupnya, senyum diwajah Jongdae juga menghilang.

“Ayah. Bagaimana bisa membuat kincir angin ini berputar tanpa harus mengajaknya berlari?” suara sikecil itu lagi-lagi mengacaukan keheningan Jongdae.

“apakah kali ini kau mengaku kalau kau sudah lelah mengajaknya berlari?” tanya sang Ayah

“tidak” kembali suara sikecil lantang membantah. “aku tidak akan pernah lelah mengajaknya berlari dan melihatnya mulai berputar. Hanya saja tidak selamanya aku bisa mengajaknya berlari, tapi aku mau kincir angin ini tetap berputar. Ayah adakah cara lain?” Sikecil terdengar merengek.

“kalau begitu kita harus membuat kincir angin yang lebih besar” suara sang Ayah kembali menyanggupi keinginan sikecil.

Keheningan menarik Jogdae semakin dalam. Mataya masih tetap menatap kincir angin. Menunggu kalau-kalau saja masih ada angin yang berbaik hati mengubah arahnya dan membuat baling-baling kincir angin itu kembali berputar.

“apa kau tidak lelah?” suara berat sang Ayah menyapanya lagi.

“tidak” jawab sikecil Lantang.

“bersabarlah sebertar lagi. Ayah sedang mengumpulkan uang untuk membuat kincir angin besar untukmu. Jadi kau tidak perlu lagi berlari untuk melihatnya berputar seperti ini”

“baiklah Ayah” jawab sikecil

“tidak” seru Jongdae “seharusnya kau menolaknya” lanjutnya.

Untuk pertama kalinya Jongdae mengintrupsi percakapan yang telah berkali-kali terdengar ditealinganya itu. Masih sama, dengan tetap menatap kincir angin yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda untuk kembali berputar itu.

Sepertinya angin benar-benar tak berniat megubah arah bertiupnya.

Ingatannya kembali kemasa 13 tahun lalu. Saat dirirnya masih duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar.

Saat itu rasa lelah benar-benar telah melandah tubuh mungilnya. Bagaimana tidak, tiga hari sejak sang Ayah membuatkannya mainan baru dia terus saja berlari.

Dia berlari karena tidak ada pilihan lain. Pasalnya, mainan yang dibuatkan oleh Ayahnya itu proses kerjanya harus dengan berlari.

Baling-baling pada kincir angin itu berputar kencang sesuai frekuensi kecepatan larinya.

Saat itu Jongdae kecil hanya mampu menyimpulkan bahwa benda itu pasti sangat menyukai terpaan angin. Itulah sebabnya Jongdae tak pernah lelah mengajaknya untuk berlari hanya untuk melihat baling-baling di kincir angin mini buatan Ayahnya itu berputar.

“Ibu. besok saat aku bangun, bisakah aku melihat kincir angin besar itu bu? Aku benar-banar ingin melihatnya” dengan suara yang semakin parau, Jongdae kecil terus saja menuturkan keinginannya.

Diatas keningnya bertengger sebuah handuk kecil yang terlipat rapih. Handuk kecil yang sebelumnya dicelupkan dalan air hangat itu dipercaya dapat menurunkan demam yang melanda tubuhnya.

Kelelahan telah membuat tubuh Jongdae kecil dilanda demam.

“untuk memastikan semua itu Jongdae harus lekas tidur. Dengan begitu, pagi akan segera tiba dan kita akan melihat keajaiban yang kau inginkan” Ucap sang Ibu seraya membelai sela-sela surai hitam pekat putranya dengan perasaan yang tak jauh berbeda dari suami.

“Ayah, benarkah itu?” Jongdae kecil kembali menggantungkan harapannya pada sang ayah, seolah hanya jawaban ayah lah yang dapat dipercayanya.

“jika kau tidur dengan cepat, maka itu akan mejadi kenyataan” dengan tersenyum sang Ayah mengikrarkan janji itu. Sungguh ketulusan benar-benar tergambar dari senyum di wajah sang Ayah. Ketulusan dari seorang Ayah yang mampu melakukan apa saja demi kebahagiaan anaknya. Bahkan untuk hal-hal diluar batas nalar sekalipun.

“baiklah Ayah” Jongdae mengangguk mantap. Matanya tertutup dengan senyum yang mengiringi tidurnya. Seperti yang di janjikan Ayahnya, maka dia juga harus memenuhi persyaratannya terlebih dahulu.

Saat itu, Jongdae kecil bangun melumbai Fajar. Sesuatu di dalam dirinya benar-benar memburunya. Dapat dipastikan bahwa tidurnya semalam sangat tidak lelap, matanya tertutup namun tidak dengan hasratnya. Rasa penasarannya yang terlalu besar bahkan mengalahkan rasa sakit yang mendera tubuhnya.

Jongdae kecil berusaha membebaskan tubuh mungilnya dari dekapan seang Ibu yang tetap menyalurkan kehangatannya bahkan dalam keadaan terlelap sekalipun.

Tak ada Ayah disampingnya.

Ujung kakinya berjinjit. Membuat derap langkahnya senyap menyusuri dinginnya ubin dengan bertelanjang kaki. Dengan begitu dia tidak akan mengganggu tidur sang Ibu yang masih lelap.

Masih beberapa langkah lagi Jongdae akan sampai pada pintu rumah minimalis itu. Pintu yang akan membawanya menuju tempat yang dapat menjawab rasa penasarannya.

Suara-suara aneh menyapa pendengarannya. Seperti benturan diantara dua benda berat atau seseorang sengaja membenturkannya.

Langkah Jongade semakin menyempit saat tangannya berhasil mencapai ganggang pintu. Takut-takut jika saja suara-suara itu berasal dari sesuatu yang berbahaya.

Saat pintu berhasil terbuka, dinginnya udara subuh langsung beradu dengan perasaan hangat yang masih menyelimuti seluruh tubuhnya. Efeknya malah membuat tubuhnya menggigil sebagai bentuk penyesuaian dengan dinginnya udara.

“Ayah” Seru Jongdae.

Lidahnya keluh saat menyebut kata itu. Sosok yang di panggil tengah berkelut dengan ribuan peluh ditubuhnya.

Apakah dia tidak tidur semalaman?

Itulah yang bermain-main dipikiran Jongdae Kecil saat itu. Tanpa terasa air matanya lolos begitu saja.

Sang Ayah belum menyadari keberadaannya. Sampai kembali dia berseru.

“Ayah”

“Eoh” kaget. Itulah reaksi sang Ayah saat menyadari dirinya tertangkap basah.

“Maafkan aku” Jongdae kecil menangis bahkan terisak kuat. Mungkin itu tak cukup mengurangi rasa bersalahnya.

“Hei kenapa menangis?” Sang Ayah mendekap putranya, dari badannya menyeruak bau peluh bercampur keringat. Bau khas seorang Ayah yang telah berkerja keras.

“Lihat sebentar lagi, keinginanmu akan jadi kenyataan” usai mengusap air mata Jongdae, sang Ayah mengarahkan pandangannya pada satu benda luar biasa yang berhasil diciptakannya bahkan saat fajar belum datang.

Benda itu berdiri kokoh dengan tiang dari baja. Berbaling-baling lima kali lipat lebih besar dari yang biasa diajak Jongdae berlari. Kincir Angin.

“Ayah, kau melakukan ini semua untukku?” Tanya Jongdae masih sesegukan.

“Karna Ayah telah berjanji. Pria sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya” Tersenyum. Kembali Ayah mengucapkan kata-kata bersahaja itu dengan senyum mengembang diwajahnya. Sama sekali tak ada keluhan dari senyuman itu.

Jongdae semakin terisak, pelukannya mengerat. Hanya kali ini saja, tidak untuk selanjutnya.

Ayah menuntutnya menjadi pria sejati yang tidak cengeng.

Fajar muncul bersamaan dengan hembusan angin yang membuat kincir angin itu sedikit demi sedikit menunjukkan pergerakkan. Semakin lama semakin cepat.

Senyum diwajah Jongdae kembali. Ketika melihat baling-baling kincir angin itu kembali berputar. Ternyata angin masih berbaik hati pada kincir angin tua yang tak kokoh lagi itu.

Sekarang dia dapat kembali dengan perasaan yang sama seperti 13 tahun yang lalu. Saat pertama kali kincir angin buatan Sang Ayah berputar.
End

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s