[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Kim Jongdae After Story

myhome_30

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Kim Jongdae After Story by Khairunnisa Han

T | Family

Kim Jongdae | Ahn Jihyun | Kim Jiyi

***

Kim Jongdae sibuk mengetuk-ngetuk stir yang dipegangnya dengan gemas. Dia sudah menunggu cukup lama. Kaca jendela dibuka dan dia menjulurkan kepalanya ke luar, kemudian senyuman lebarnya timbul. Tangannya melambai-lambai dengan semangat.

“Kim Jiyi, sebelah sini!”

Kim Jiyi menyesal karena teman-temannya melihat tingkah laku ayahnya yang aneh. Jiyi berlari kecil menuju mobil milik Jongdae itu, dan lekas masuk ke dalam. “Ayah,” Jiyi menatap ayahnya dengan tajam, “jangan norak. Tadi teman-teman melihat, tahu!” suaranya ketus dan terlihat tidak suka sekali.

“Kenapa? Ayah jarang menjemputmu. Sekali-sekali harusnya tidak masalah.”

Jiyi semakin memajukan bibirnya. Jongdae terlalu sibuk, bahkan untuk berdiam diri di rumah dan menikmati waktu bersama keluarga. Sebab itu, Jiyi merasa lebih dekat dengan ibunya dan merasa jauh sekali dari Jongdae.

“Eh? Kenapa anak Ayah yang cantik menangis, hm?” Jongdae mengusak-usak kepala Jiyi begitu menyadari gadis kecilnya menitikkan air mata. “Kalau memang tidak ingin dijemput Ayah, bilang saja. Lain kali Ayah tidak akan menjemput Jiyi lagi.”

“Jiyi … Jiyi rindu Ayah,” Jiyi mengusap air matanya dengan susah payah. “Habisnya, Jiyi sama Ibuuu terus. Jiyi cuma bisa lihat Ayah dari televisi. Jiyi iri sama teman Jiyi yang setiap akhir pekan bisa main sama ayahnya.”

Jongdae jadi ingin menangis mendengar penuturan polos anaknya. Tapi, itu semua ada benarnya. Dia merasa menjadi ayah yang sangat buruk.

Pria itu tak tahu harus melakukan apalagi, tapi kemudian dia memutar stirnya ke arah lain. “Karena hari ini Ayah tidak punya jadwal sama sekali, Ayah akan menghabiskan waktu bersama Jiyi. Bagaimana?” dia tersenyum lebar dan menunggu respon Jiyi.

“Mau ke mana?”

“Ke taman hiburan bagaimana? Jiyi bisa menaiki apapun yang Jiyi mau!”

Mata gadis kecil itu berbinar-binar. Belum pernah Jongdae mengajaknya pergi ke manapun. Tapi Jiyi menggeleng keras. “Jiyi kurang tinggi. Kata Ibu, Jiyi belum bisa naik semuanya. Padahal Jiyi mau sekali naik semuanya. Jiyi mau ke taman, atau kebun binatang, atau jalan-jalan saja sama Ayah. Tapi tidak naik mobil.”

Anak kecil biasanya suka diajak pergi ke taman hiburan. Namun kali ini Jiyi justru menolak mentah-mentah ajakannya. “Kenapa?” Jongdae masih menginjak pedal gas, meski sudah menurunkan kecepatannya.

“Anak-anak lain melakukan itu dengan ayah mereka.”

Itu kesalahan yang Jongdae perbuat. Pria itu hanya mengambil keputusan seperti kemauannya sendiri tanpa mempertimbangkan kemauan anaknya. “Kita jemput Ibu sekarang ya? Kau mau kita bertiga bukan?” Jongdae bertanya lagi dan Jiyi mengangguk dengan antusias. “Kita ke toko milik Ibu dan suruh Ibu untuk menutupnya ya?”

-o-

Kling.

Suara lonceng kecil di atas pintu kaca terdengar. “Ibuuu! Ibuuuuu!! Hari ini Ayah bilang, kita pergi jalan-jalan. Jadi, jadi, ayo pergi, Bu! Tutup dulu tokonya ya? Satu hari ini saja. Ayah tidak sibuk, Ayah sendiri yang bilang!” Jiyi berjingkrak-jingkrak bahagia di depan ibunya.

“Benarkah itu, Jong—eh?—kau sedang menelepon rupanya.”

“Maafkan aku,” Jongdae berbicara melalui ponselnya, “seharusnya aku tidak membatalkan janji siaran ini, tapi kalian harus mencari penggantiku. Aku tidak bisa mengabaikan permintaan anakku. Bukankah selama ini aku sudah bekerja keras?”

“Jongdae-ya!” wanita itu memeluk Jongdae dari belakang. “Lihatlah ini, siapa ayah paling manis sedunia? Ya ampun, aku sangat terharu. Tak kusangka kau memikirkan Jiyi sampai seperti ini.”

Jongdae memegang tangan itu, tangan yang banyak bekerja di dapur. “Jihyun-ah, jangan seperti itu. Jiyi melihat ki—“

“Jiyi juga ikut!” Jiyi memeluk pinggang Jongdae. Gadis kecil itu cengengesan begitu melihat betapa bahagianya keluarga kecilnya itu.

Jongdae senang melihat dua bidadari cantiknya merasa amat bahagia seperti ini.

-o-

“Ayah, Ayah,” Jiyi merunduk ke bawah, dia sedang duduk di bahu Jongdae, “Chen itu siapa? Tadi Jiyi dengar dari tante di sana.” Jiyi memainkan kumpulan rambut Jongdae saat menunggu jawaban dari pertanyaannya.

Sementara Jongdae sendiri bingung harus menjawab apa, itu cerita yang sudah lewat. Pria itu meminta tolong Jihyun. “Tolong aku, Jihyun-ah.” Jongdae berbisik pelan.

“Jiyi,” Jihyun yang menjelaskan, “itu nama Ayah dulu saat Ayah bekerja. Tapi sekarang, Ayah sudah ganti pekerjaan.”

“Oh, yang rururong itu ya, Bu?” Jiyi langsung menyahuti. “Rururong rururong itu yang nyanyi ramai-ramai. Tapi tempatnya gelap terus seram.” Jiyi semangat sekali bercerita pada kedua orangnya.

Alis Jongdae bertaut, “Rururong? Itu eureureong! Bagaimana kalau kita nyanyi bersama-sama saja? Mau?”

“JIYI MAU!!!!”

“Na eureureong eureureong eureurong dae ….”

“Na rururong rururong rururong rururong ruru ….” Jiyi menautkan alisnya begitu mendengar versinya berbeda dengan kedua orang tuanya. “Kok punya Jiyi beda sih? Kok beda sih Ayah? Ibu? Kok bisa beda? Yang salah Jiyi atau Ayah dan Ibu sih?”

Jongdae dan Jihyun tak menjawab.

-o-

Jongdae sibuk memilih kemeja mana yang bagus untuk dikenakan. Dia teringat surat yang diterima ketika mereka bertiga sampai di apartemen. Surat itu berisi permintaan agar orang tua mengosongkan jadwal mereka agar dapat datang ke pentas seni murid taman kanak-kanak.

Tentu dia tidak ingin kalah dengan Jihyun. Istrinya itu telah menutup toko rotinya seharian penuh, dan dia juga harus membatalkan seluruh jadwalnya untuk hari ini.

“JONGDAE-YA!!!”

Jongdae berlari ketika mendengar teriakan menggelegar milik Jihyun. Dia harus mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimun yang diperbolehkan. Jongdae menyiapkan sesuatu di mobilnya, dan menyuruh Jihyun untuk membawa itu.

“Jiyi akan melakukan apa untuk pentas seni kali ini?” Jongdae bertanya, memastikan apakah yang disiapkannya ini cocok atau tidak.

Jihyun bergumam sebentar, “Bernyanyi duet dengan Byun Baekyoung, anak Byun Baekhyun.”

“Okay, berarti yang kusiapkan sudah cocok. Eh. Byun katamu? Jangan-jangan—“

“Pasti ada Byun Baekhyun!”

-o-

Jiyi gugup, tidak seperti Byun Baekyoung yang terlihat tenang-tenang saja. Berkali-kali gadis kecil dengan rambut dikuncir dua itu melongok ke luar. “Lihat Byun Baek, ayah dan ibumu datang. Ibumu bawa fotografer ya? Fotografernya bawa anak bayi, terus eh? Kok ada dua laki-laki? Teman ayahmu ya?” Jiyi pusing melhat rombongan keluarga Byun Baekyoung.

“Itu teman Ibu, Tante Eunri dan teman ayah, Paman Kyungsoo. Paman Kyungsoo juga kenal ayahmu. Anak bayi itu anaknya Tante Eunri sama Paman Kyungsoo, namanya Do Eunjo.” Baekyoung menjelaskan situasi yang ada pada Jiyi.

Jiyi mengangguk-angguk. Mereka terdiam selama beberapa saat hingga akhirnya nama keduanya dipanggil. “Fighting!” Jiyi mengepalkan tangannya. Dia mengambil mic dan menunjukkan wajah percaya diri.

Sementara Baekyoung hanya acuh tak acuh.

Panggung itu tak seluas panggung yang pernah Jiyi lihat di televisi, tak juga seluas panggung yang pernah diceritakan Jongdae saat berkeliling dunia. Jika Jongdae bisa, Jiyi beranggapan dia pasti bisa.

Mata Jiyi berkeliling, menyapu pandangan ke segala arah. Orang yang disebut Baekyoung dengan panggilan Tante Eunri itu mengarahkan kameranya pada mereka berdua. Belum apa-apa, Jiyi sudah dapat melihat kalau tangan wanita itu sibuk memencet tombol. Anaknya? Ada bersama pria yang disebut Baekyoung dengan Paman Kyungsoo.

Sementara itu ….

“Ayah!?”

Kata yang mereka keluarkan sama persis. Ayah mereka itu sama-sama gila. Bahkan Paman Kyungsoo menggeleng-geleng malu. Lagipula … lagipula … YA LAGIPULA SIAPA YANG AKAN PAKAI LIGHTSTICK DI PENTAS SENI MURID TAMAN KANAK-KANAK!?

Itu Kim Jongdae dan Byun Baekhyun.

“Jiyi, itu ayahku.”

“Itu ayahku juga, Byun Baek.”

“Jiyi, mereka gila ya?”

“Ya, tapi mereka tetap ayah kita, Byun Baek.”

“KIM JIYI!! ANAK AYAH PALING CANTIK HARUS SEMANGAT!!! BERJUANG!!!”

“BYUN BAEK KECIL!!! ANAK AYAH YANG MANIS JUGA SEMANGAT YAAA!!! SARANGHAEYO BYUN BAEKYOUNG! YEONGWONHI!”

Jihyun menarik ujung kemeja Jongdae. “Ini bukan konser, Jongdae-ya.” Jihyun berbisik pelan, malu.

“Ini konser perdana anak kita, Jihyun-ah!”

Ya, kurang-lebih, seperti itulah Kim Jongdae. Seorang ayah yang sangat sibuk dan berusaha menghabiskan waktu dengan anaknya tercinta. Meski pada akhirnya, alien dari Exoplanet tetaplah alien.

Meski ayah mereka—bisa dikatakan—cukup memalukan, Kim Jiyi dan Byun Baekyoung tetap melanjutkan penampilan mereka dengan baik. Suara emas yang diturunkan langsung dari orang tua mereka.

“Jihyun-ah, aku terharu karena aku baru tahu suara anakku begitu merdu.”

“Suara itu kau yang menurunkannya, Jongdae-ya.”

“Jiyi juga sangat cantik, persis dirimu, Jihyun-ah.”

Kim Jongdae, benar-benar menangis terharu dengan lightstick di tangannya. Menghabiskan waktu dengan istri dan anaknya adalah pilihan terbaik.

Fin.

One thought on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Kim Jongdae After Story

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s