[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Hear Your Voice

myhome_0

[CHEN BIRTHDAY PROJECT]Hear Your Voice – valbifleur

Main Cast : -Kim Jongdae
-Jung Ji Hee
-Kim Minseok

Genre : Drama

Perempuan itu menyusuri pantai dengan kaki telanjangnya di bawah langit sore. Mata coklat indahnya menelusuri langit yang sebentar lagi akan berubah gelap.

Dia menghentikan langkahnya. Menikmati semilir angin laut yang tidak selalu bisa dinikmatinya. Matanya terpejam dan tak merasa terganggu dengan rambut yang menggelitik wajahnya.

Pikirannya mengembara ke masa lalu. Saat-saat di mana hanya terdapat dirinya dan segala kehancurhan hatinya. Hingga tak terdapat sedikitpun waktu untuknya melukis senyum.

Sampai akhirnya sosok itu datang, seakan untuk mengumpulkan serpihan hatinya yang sudah lebur. Menempanya kembali dengan segala kasih sayang dan mimpi-mimpi yang memenuhi kepalanya.

Mata itu kembali terbuka. Cairan bening telah mengalir membasahi wajahnya dan menimbulkan rasa sesak di dadanya. Dia sudah berjanji untuk tidak menangis. Dan sejak janji itu dibuat, dia telah mengingkarinya.

****
“Ada pasien baru. Kasusnya sangat berat dan untuk itu aku benar-benar membutuhkan bantuan mu”

Lelaki yang menggunakan tag nama Kim Jongdae di lehernya seketika melempar pandangannya dari chart pasien karena kalimat yang baru saja didengarnya itu.

“Apa? Pasien? 15 menit yang lalu aku datang ke ruangan mu untuk meminta waktu cuti. Dan jika aku tidak mengidap Amnesia, kau sudah menyetujuinya, Tuan Kim Minseok.”

“Aku minta maaf Chen. Aku juga baru saja mendapatkan berita ini dari pimpinan rumah sakit.”

“Jangan pernah memanggilku seperti itu, Minseok. Chen hanya berlaku untuk pasien anak anak di sini.”

Minseok mengerlingkan matanya malas. “Baiklah aku minta maaf, Dokter. Tapi aku benar-benar membutuhkan bantuan mu. Kita berdua bisa dipenggal jika tidak melakukannya. Loyalitas Tuan Wu tidak tergoyahkan jika itu untuk kerabat terdekatnya.”

Jongdae memijit pelipis kepalanya yang mulai terasa berat. Dia sangat lelah dan sekarang rencana istirahatnya diganggu untuk kesekian kalinya.

“Berapa lama?”

“Kau hanya perlu melakukan terapi ringan di rumah pasien tersebut.”

“Berapa lama, Kim Minseok?”

“Dia tidak akan merepotkan mu. Aku yakin itu. Kau juga akan mendapatkan imbalan dari pihak keluarganya selain dari rumah sakit.”

“Berapa lama, Xiumin? Astaga itu bahkan pertanyaan sederhana dan kau sama sekali tidak menjawabnya dengan benar!”

Minseok bergumam dan menunduk sambil memainkan tangannya. “Apa? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas”

“6 bulan”

“APA?!”
****
Seorang perempuan bersurai coklat kayu sedang berkutat dengan buku tulisnya. Tangannya sudah penuh dengan coretan tinta spidol berbagai warna. Rambut gelombangnya terurai kusut di punggungnya. Sesekali kepalanya bergerak-gerak meneliti hasil buatan tangannya.

Tubuhnya terlonjak kecil ketika menyadari sentuhan di bahunya. Saat dia memutar tubuhnya, gigi putihnya terpampang dan membuat orang yang menyentuhnya tak bisa menahan senyum.

“Selamat pagi Nona Ji Hee. Kenapa Nona mengabaikan ku?”. Senyuman itu semakin lebar setelah membaca gerakan mulut lawan bicaranya.

“Apa yang sedang Nona lakukan? Boleh aku melihatnya?”. Perempuan itu mengangguk dan memperlihatkan buku tulisnya. Di sana, tertulis dengan sangat indah sebuah nama “Kim Taeyeon”.

“Indah, seperti biasanya. Terima kasih, Nona.” Taeyeon mengusap kepala perempuan itu dan membuat mata sabitnya melengkung indah.

“Ayo kita mandi dan sarapan! Aku sudah menyiapkan Pancake kesukaan Nona!”
****
Jongdae memutuskan untuk langsung pulang setelah menjalani satu lagi harinya yang melelahkan. Berita dari atasannya sudah menari di kepalanya sejak tadi siang.
“Aku akan memberikan data pasien ini besok. Sebaiknya kau pulang lebih awal hari ini. Sekali lagi aku minta maaf, Dokter Kim.”

“Terserah saja” batinnya.

Dia memutuskan untuk mencari udara segar setelah mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman. Matanya terpejam menikmati angin sore yang tidak selalu bisa dinikmatinya karna kesibukannya.

Kakinya terus melangkah sampai akhirnya tanpa sengaja tubuhnya menabrak sesuatu. Dia membuka matanya, dan terlihat surai coklat bergelombang yang sedang berusaha duduk dan mulai memungut barangnya.

“Oh, Maafkan aku. Kesalahan ku karna menutup mata sambil berjalan. Aku sungguh minta maaf”

Jongdae berjongkok untuk membantu mengumpulkan barang barang itu. Dia tidak kunjung mendapatkan respon permintaan maafnya. “Nona, aku bilang aku minta maaf. Maaf karna aku menabrak mu.”

Tidak ada jawaban. Perempuan itu masih menunduk sambil mengumpulkan barangnya, yang lebih banyak terdiri dari spidol berbagai warna.

Jongdae memutuskan untuk menyentuh pundaknya, dan yang terjadi selanjutnya begitu mengejutkan. Perempuan itu melempar barang yang semula berada di tangannya. Dia berteriak keras hingga Jongdae terlonjak kaget.

“Nona maaf aku tidak bermaksud melakukan apapun. Aku hanya ingin meminta maaf. Nona berhentilah berteriak. Maaf karna aku menyentuhmu. Nona aku mohon”

Perempuan itu masih berteriak teriak parau sambil menarik rambutnya. Terlihat air mata mulai membasahi wajahnya. Dia melempar kotak spidol warnanya dan menendang nendang Jongdae yang berusaha mendekat.

Jongdae tidak sengaja melihat manik matanya. Mata yang sering ditemuinya selama masa kerjanya. Tatapan kosong namun penuh emosi.

Bermodalkan pengalamannya, Jongdae menggapai kedua tangan perempuan itu dan mengangkat wajahnya sehingga pandangan mereka bertemu.

“Nona dengarkan aku!”
Perempuan itu seketika menghentikan gerakannya.
Jongdae menghela napasnya kasar dan menatap tegas mata perempuan itu.

“Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku menyesal karna telah menabrak dan menyentuh mu. Aku tidak akan menyakiti mu. Maafkan aku”.

Gerakan tangan perempuan itu tidak lagi meronta seperti sebelumnya. Tatapannya melunak seiring kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Jongdae.

“Maafkan aku. Aku minta maaf karna menyentuh mu. Aku minta maaf karna baru saja membentak mu. Aku tidak akan melukai mu, aku berjanji. Berhentilah berteriak. Kau justru akan melukai tenggorokan mu. Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku”

Napasnya berangsur-angsur tenang. Namun air mata itu masih mengalir dengan deras. Tanpa ada lagi suara, hanya air mata yang terus turun.

Hal yang terjadi selanjutnya adalah dia yang sudah masuk ke dalam pelukan Jongdae. Memeluk tubuhnya dengan sangat erat, seperti anak kucing yang sedang terseret air sungai.

Jongdae yang mulai menyadarinya, mengangkat tangannya dan menepuk nepuk kepala perempuan itu. Surai itu terasa sangat lembut walaupun kusut, membuat dirinya tanpa sadar membelainya.

Jongdae terduduk dan mulai membereskan barang barang perempuan yang masih berada dalam pelukannya. Lelaki itu telah menyelesaikan kegiatannya dan merasakan tiupan napas yang teratur menggelitik lehernya. Tanpa sadar dia tersenyum dan mengambil barang terakhir yang terletak di sebelahnya.
” Jung Ji Hee ”
****
“Kau sudah datang? Ku kira kau sudah lari dari negara ini dan menyembunyikan dirimu di tempat terpencil seperti hutan Amazon” Minseok meletakkan dua gelas kopi di meja Jongdae.

“Kau mau aku melakukan itu?” Ujar Jongdae tanpa putus dari chart pasiennya.

“Kau tahu, aku sangat berterima kasih, Chen. Aku akan menambahkan waktu cuti mu. Aku berjanji.”

“Jangan ingatkan aku lagi soal itu, okay? Dan bukankah sudah kukatakan untuk tidak memanggilku dengan sebutan Chen?”

“Kau terlihat lucu jika marah. Kau harus bercermin untuk itu” Minseok terkikik dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Ini adalah data pasien yang aku jelaskan kemarin. Semua infromasi sudah tertulis dengan sangat lengkap. Kau bisa membacanya lebih dahulu sebelum aku keluar dari sini.”

Jongdae mengambil map bening dari Minseok dan mulai membaca data tersebut. Matanya menelusuri data pasien barunya. Semakin penasaran, pandangannya langsung mengarah ke kolom data diri pasiennya.
Nama : Jung Ji Hee
Umur : 20 tahun
Keluhan: Traumatis akibat kecelakaan yang menimbulkan reaksi berlebihan dalam kondisi tertentu. Hal ini disebabkan adanya benturan keras di bagian kepala yang mengganggu kelancaran proses aktivitas otak dan adanya Kebisuan sejak lahir.
****
“Dokter Ji Hee akan datang mulai besok. Dia akan melakukan terapi ringan padanya. Tolong buat dia nyaman, okay?”
“Baik, Tuan. Saya akan melakukannya”
“…”
“Apa ada lagi, Tuan?”
“Apakah Ji Hee sehat?”
“Ya, Tuan. Nona Ji Hee sehat dan semakin cantik setiap harinya”
“Baguslah. Kalau begitu aku tutup. Terima kasih Taeyeon.”
****
Sudah tiga bulan Jongdae memberikan terapi kepada Ji Hee. Ada banyak peningkatan yang dialaminya. Perempuan itu sedang memainkan potongan puzzle yang dibawakan Jongdae hari ini. Jongdae memutuskan untuk berkeliling ruang belajar Ji Hee sampai matanya melihat buku tulis yang membantunya mengantar Ji Hee sampai ke rumahnya waktu itu.

Berbeda dengan buku yang digunakan untuk bantuan komunikasi Ji Hee, matanya terpukau melihat tulisan indah yang ada di dalamnya. Hingga pada satu halaman,dia terpaku dan degup kencang aneh muncul di dadanya.

Ji Hee tiba-tiba merebut buku itu dan mengambil kotak spidolnya. Tak lama, dia menunjukkannya kembali “I can hear you,Chen”

Jongdae kembali merasakan bagian dadanya berdetak seperti akan meledak.

Ji Hee panik melihat Jongdae langsung memeluknya. Jongdae mengambil tulisan itu, tersenyum dan membelai surai Ji Hee. “Aku minta maaf. Jangan menangis lagi, kumohon. Aku mencintaimu”

Kemudian Jongdae menghilang.
****
“Dokter Kim Jongdae sudah mengalami koma dari tiga bulan yang lalu, Ji Hee. Dia kecelakaan sehari setelah menandatangani kontrak untuk menjadi terapismu.”
Ji hee terjatuh setelah membaca gerak mulut Minseok.

“Dan kumohon, maafkan aku Ji Hee.” Ji Hee menatapnya bingung.

“Chen sudah pergi meninggalkan kita selamanya. Tapi dia sangat mencintaimu”

Napasnya tercekat.Airmatanya tak lagi terbendung.

“Dia sempat terbangun, tapi hanya untuk menitipkan kertas ini untukmu.”

“I can hear you,Chen”

-End-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s