[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Forgotten

myhome_26

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Forgotten – Stephanni

Cast : Kim Jongdae. Yoon Eunbi OC.

Genre : Marriage life, Sad.

Rate : 15+

Lenght : Oneshot.

.

“Ibu, galeri lukis ku kelihatan sangat buruk, ya?. Sepertinya perlu aku rombak lagi”

Wanita tua di sisi kiri Jongdae tersenyum kagum memandangi ornamen didalam ruang itu. tangan nya menepuk pelan bahu kanan Jongdae.

“Tidak nak, galeri lukis mu kelihatan mengagumkan, kau tata dengan sangat rapi” Ujar sang Ibu memuji.

Diluar hujan turun sangat deras, sudah hampir empat jam lamanya dan waktu itu Jongdae habiskan untuk menata galeri lukisnya yang akan segera dibuka. Semua persiapan sudah selesai, tinggal memberi banner tokonya saja, dan sekarang ia tengah mencari tempat yang pas untuk bannernya nanti.

ZHASS

Hujan semakin deras tidak lama setelah pintu toko terbuka dan menimbulkan bunyi “Kring” dari lonceng di atas pintu. Seorang wanita dengan setelan mantel coklat gelap dan jeans hitam panjang dengan dua bungkus belanjaan berdiri di depan pintu toko.

“Eunbi, mana Soyeon dan Jihoon? Mereka pergi bersamamu, kan?” Tanya Jongdae sedikit dengan raut khawatir.

“Aku titip mereka di toko Sera, mereka bisa sakit jika kehujanan. Aku akan pergi mengganti pakaian dulu”

Wanita dengan tubuh basah kuyup itu berlalu meninggalkan ruang galeri dan pergi ke belakang. setidak nya dibelakanglah tempatnya bisa menahan semua sesak ketika tiba di toko ini.

Jongdae bahkan tidak khawatir dengan tubuh Eunbi yang basah kuyup seperti ini. apalagi Ibu mertua Eunbi yang bahkan menatap jijik ke arah Eunbi tadi.

Ditatapnya mesin jahit yang berada disudut ruang itu, disisi kanan nya ada empat kotak kardus berukuran besar yang isinya benang dan alat jahit lain nya, dapat pula ia lihat kain-kain dasar pakaian yang terlihat berantakan tidak disusun atau tidak tertata rapi disana. Itu semua adalah impian Eunbi yang harus ia kubur dalam—dalam. Karena sudah tidak ada harapan lagi yang harus ia capai.

Sekarang bisakah Eunbi berpikir jika Jongdae tidak mencintainya lagi?, atau ini hanya kesalahpahaman nya saja?.Apa yang akan Jongdae pikirkan saat Eunbi bilang dia menginginkan toko itu sebagai tempat menjahitnya. Akan kah Jongdae memberikan nya?. Entahlah pria itu hanya diam dan mengalihkan topik pembicaraan setiap kali membahasnya.

Eunbi tiba tiba merasakan tangan nya sakit. Rupanya tanpa sadar, dia mempererat cengkeraman nya pada pergelangan tangan nya sendiri.

“Eunbi…”

Sebuah suara tertahan merambat masuk ke dalam indra pendengaran Eunbi. cepat-cepat ia menghapus airmata nya lantas berbalik kearah sang ibu mertua yang barusan memanggil.

“Iya bu?” Katanya parau.

Eunbi berusaha menunjukan senyum terbaiknya. Memang bagaimanapun juga wanita itu kelihatan cantik ketika ia tersenyum atau menangis. itulah sebab nya Jongdae bisa jatuh hati padanya.

“Jangan menangis, kau tau kan sejak kecil Jongdae ingin punya gallery lukis?, dan kau pantas membantu suami mu mencapai tujuannya. setidaknya buat dia bahagia”

Eunbi diam. matanya tidak lagi menoleh sang ibu mertua. tatapan nya jatuh pada lantai marmer yang kusam.

“Kau tidak perlu menjahit atau memajang hasil jahitanmu, cukup jaga anak anak dan urus perkerjaan rumah. itu cukup membuat Jongdae senang. Ingat Eunbi, kau tidak punya hak dalam keluarga kami” nada bicaranya lembut, tetapi maksud ucapan nya itu yang membuat Eunbi lagi—lagi merasa sakit hati.

Sang ibu mertua pergi meninggalkan ruang belakang toko. Tepat sepersekian detik berikutnya Eunbi kembali menitikkan airmata tanpa bisa ia cegah.

“Aku kecewa… ternyata hubungan rumahtangga kami selama delapan tahun ini hanya membuat ku terlihat seperti pembantu di keluarga ini”

.

Kring.

bunyi lonceng mini lagi lagi terdengar setelah beberapa jam yang lalu Eunbi keluar dari toko dan membuat bunyi bising itu. kali ini Sera harus ke ruang depan dan melihat siapa pengunjung bakery shop nya.

“Jongdae…” Gumam nya pelan setelah melihat pria itu sibuk menutup kembali payung kuningnya.

“Aku datang untuk menjenguk Soyeon dan Jihoon, apa mereka sedang bermain?” Jongdae mengakhiri ucapan nya dengan senyuman tipis.

“Tidak, mereka sedang tidur, dan…. bisakah aku bicara serius sebentar saja dengan mu?”

Ini pembicaraan serius pertama Sera dan Jongdae setelah delapan tahun mereka lulus dari SMA. Jongdae rasa tidak ada salah nya jika wanita tomboy bernama sera itu ingin bicara serius. memang saat masih SMA, sera-lah yang selalu memberikan saran terbaik pada Jongdae untuk mendekati Eunbi.

“Soal apa?, pernikahan mu yang batal itu ya?, hahaha. Aku tidak punya waktu membahasnya” Kalimat bercanda Jongdaelantas dibalas degusan kesal pada wajah Sera.Tapi Jongdae memang tidak tertarik bercakap cakap tentang hal itu, mengingat diluar hujan semakin deras dan hari semakin sore, ia malah sibuk berusaha mencari keberadaan kedua anak kembarnya itu.

“Aku sedang tidak bercanda Chen —panggilan Jongdae saat SMA dulu— Ini tentang perasaan Eunbi dan anak—anaknya..”

.

Jongdae berhadapan langsung dengan Eunbi di kamar mereka, tadi tiba—tiba saja Jongdae menariknya dan langsung memeluknya di kamar.

“Maaf” kata Jongdae pelan masih dalam posisi memeluk erat Eunbi. Matanya tertutup, tampak menikmati kehangatan tubuh Eunbi, Wanita itu benar-benar istimewa.

“Untuk?”

“Semua kesalahan yang telah kuperbuat pada mu” Eunbi diam seribu bahasa, tampak memalingkan wajahnya ke arah meja rias di sisi kiri.

“Ey, dasar kau. Semudah itukah? Kau harus dapat hukuman”

“aku akan memenuhi permintaan mu, tapi setidak nya setelah aku kembali. Bisa kan?. Untuk saat ini aku ingin bersama mu”

“Kau ingin pergi? Kemana? Berapa lama?, tidak kah kau memikirkan aku?, kau lupa pada ku? Seberapa penting semua perkerjaan mu dibandingkan aku, huh?” Eunbi melontarkan semua pertanyaan nya yang selama ini selalu tercekat di tenggorokannya. Ia melepas pelukan dan menangis tesedu—sedu, wanita itu kelihatan sangat malang kali ini.

Jongdae terhenyak, melihat wanita itu duduk hampir berbaring di ranjang dengan mata lelah. Betapa bodohnya ia tidak menyadari keadaan wanita itu dari dulu, wanita yang sangat ia cintai dengan jutaan kesabaran yang perlahan lahan menghancurkan impiannya.

Jongdae menghela nafas, “Aku akan kembali besok” ucapnya merdu, lantas berbalik dan meninggalkan ruang kamar.

.

Pagi itu cuaca yang bagus, Pohon hijau dan bunga-bunga bermekaran setelah kemarin hujan mengguyuri Gangnam gu dengan derasnya. Dan disini, tepatnya di halaman depan toko milik ibu Jongdae, mulut Eunbi terngaga melihatnya. Sampai sampai Jongdae tidak bisa tidak tertawa melihat ekspresi istrinya itu.

“Apa yang kau lakukan” Ujarnya masih tidak menyangka.

Tangan Jongdae menarik lembut tangan Eunbi, membawanya masuk kedalam toko dan melihat langsung hasil kerja kerasnya selama satu malam ini.

“Kau… lakukan ini dalam satu malam?”

“tentu” Jongdae kembali tersenyum lantas menarik istrinya kembali dalam pelukan.

“Aku sungguh menyesal, aku tidak menyadari penderitaan mu. Ini karena aku terlalu egois, aku mementingkan kebahagianku dan mengabaikan impian mu. Jadi sekarang bagaimana?”

Eunbi mengangguk bahagia, diluar sana beberapa orang tengah menunggu dan memandangi toko mereka. Ya, toko mereka.

Tertulis disana.

TOKO ALAT JAHIT DAN GALERI LUKIS.

Mereka memiliki impian yang telah diwujudkan. Satu toko untuk dua profesi sepasang suami instri.

“Ayah!!” Soyeon menarik tangan Jongdae dan secara bersamaan eunbi juga menoleh pada anaknya itu.

“kenapa sayang?” ujarnya lembut.

“buatkan aku toko boneka, dan untuk Jihoon toko mainan robot?”

“baiklah tunggu kau buat adik lagi, nanti akan ayah buatkan”

“Hei kau mesum!!. Jangan ajari mereka yang masih polos”

END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s