[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Call Me Oppa

myhome_10

[CHEN BIRTHDAY PROJECT]
Judul : Call Me Oppa
Author :Mabrian Sandew
Cast : Kim Mina (OC) | Kim Jongdae (Chen)|etc
Genre : romance
Length : Oneshoot
Rating : PG 15
Disclaimer : adengan di FF ini aku buat terinspirasi dari MV Starlightnya Taeyeon. Jadi jika ada kemiripan mohon dimaklumi🙂

— | | —

“sial kita dilihat!”

Segerombolan anak muda berlari menjauhi sebuah toko yang kacanya baru saja mereka pecahkan. Mereka melakukan hal itu bukan tanpa alasan. Teman mereka dilecehkan oleh sang pemilik toko, maka dari itu mereka membalas dendam. Gerombolan anak muda itu terdiri atas 7 orang. mereka terus berlari menghindar, namun kekuatan pemilik toko tersebut masih banyak sehingga dapat mengikuti gerombolan anak muda itu.

“kita memencar saja!” Usul seorang gadis dalam gerombolan itu.

Mereka kemudian berpencar saat di perempatan gang untuk mengecoh sang pemilik toko. Seorang gadis dari gerombolan tersebut berlari sendirian dalam sempitnya jalanan gang. Untungnya, sang pemilik toko tidak mengejarnya. Gadis itu dapat bernafas lega. Ia kemudian melepaskan jaket dan topi yang ia kenakan dan membuangnya di tempat sampah yang berada tidak jauh darinya. Hal itu ia lakukan untuk menyamarkan identitasnya. Siapa tahu sang pemilik toko hanya melihat jaket dan topi yang ia kenakan.

Gadis itu bernama Kim Mina. Gadis yang bisa dibilang tidak tahu sopan santun dan mencintai kebebasan. Mina berjalan menyusuri jalan menuju rumah. Waktu menunjukan pukul 10 malam. Hari ini begitu bebas baginya. Ayah kandung dan Ibu tirinya saat ini sedang berada di luar negeri untuk berbulan madu. Ya, ayahnya baru saja menikah dengan seorang wanita yang untungnya tidak seburuk yang Mina pikirkan.

“Hei Jongdae!” teriak Mina melambai kearah seorang pria yang terlihat gelisah di seberang jalan. Setelah melihat Mina, si pria terlihat menghembuskan nafas lega. Lampu traffic light berubah menjadi merah. Pria yang bernama Jongdae itu kemudain berbalik pergi meninggalkan Mina di seberang jalan.

“Hei tunggu!” Mina kemudian berlari menghampiri Jongdae. Jongdae adalah saudara tirinya. Hubungan mereka tidak terlalu dekat, namun Mina selalu berusaha mendekatkan dirinya kepada Jongdae. Jongdae memiliki sifat pendiam dan menyukai ketenangan. Berada di sebelah orang berisik seperti Mina membuatnya cepat muak, maka dari itu ia tidak menyukai Mina. Namun sebagai kakak, Jongdae harus bertanggung jawab untuk menjaga Mina selagi orang tuanya berbulan madu di Eropa. Ini sebabnya kenapa ia tidak suka memiliki saudara. Berisik, merepotkan. Itu adalah hal utama yang Jongdae benci dari memiliki saudara.

“sudah berulang kali aku katakan, panggil aku Oppa” ujar Jongdae dingin. Walau bersaudara tiri, seharusnya Mina menghormati dirinya sebagai kakak bukan? pikir Jongdae.

“juga kita hanya berbeda 1 tahun saja” elak Mina. Teman prianya yang lebih tua saja tidak pernah Mina penggil dengan sebutan Oppa.

“ngomong-ngomong kau mau kemana?” Tanya Mina mengganti topik pembicaraan.

“tidak kemana-mana”

“baguslah kalau begitu. aku lapar, ayo kita makan” ujar Mina sambil menarik tangan Jongdae untuk pergi ke tempat penjual makanan favoritnya yang tidak jauh dari mereka. Mina membeli 2 buah burger untuk dirinya sendiri karena Jongdae mengatakan bahwa ia sudah makan tadi di rumah.

Jongdae kemudian memasangkan headphone ke telinganya. Ia pun mengeluarkan sebuah note dan sebuah pensil dari saku jaketnya. Jongdae mulai menulis sebuah kalimat di note tersebut. karena penasaran, Mina mendekatkan diri dengan Jongdae sambil terus berusaha melihat apa yang Jongdae tulis. Jongdae yang sadar akan Mina yang terus mendekat pun menoleh sinis kearah Mina. Karena melihat Jongdae sadar dengan apa yang ia lakukan, Mina kemudian menanyakan apa yang sedang Jongdae tulis.

“lirik lagu” ujar Jongdae dingin.

“lalu nadanya bagaimana?” Tanya Mina penasaran karena hanya lirik yang Jongdae tulis, tidak beserta notasi baloknya.

Jongdae menoleh kearah Mina dengan tatapan datar. Mina masih saja menatapnya dengan wajah penasaran. Ia kemudian melepaskan headphonenya dan memasangkannya di telinga Mina. Alunan instrument terdengar dalam headphone tersebut.

“wah bagus juga” sambil memejamkan matanya, Mina menikmati alunan instrument yang keluar dari headphone milik Jongdae. Setelah dirasanya cukup mendengar instrument tersebut, Mina mengembalikan Headphone itu kepada pemiliknya.

“benarkah? Aku yang membuatnya sendiri”

“haha lucu”

“kau tak percaya?” Tanya Jongdae. Mina kemudian mengangguk mantap.

“kau lihat tidak piano di rumah? Aku pintar bermain itu. Aku ahli dalam bermusik” ujar Jongdae dengan bangganya.

“ada kepala rusa di rumah, apa kau juga ahli berburu?” Tanya Mina memastikan yang mungkin lebih cocok dikatakan menyindir.

“Jadi kau berpikir Piano-ku hanya pajangan, begitu?”

“mungkin, Karena kau tidak memiliki aura sebagai orang yang pintar bermusik”

“dasar kau ini”

“lalu bagaimana dengan skateboard yang dipajang di kamarmu? Apa kau pintar bermain skateboard juga atau hanya pajangan?”

“tentu aku pintar memainkannya” ujar Jongdae dengan percaya diri.

“benarkah?” kini Mina bertanya dengan serius.

“iya, memangnya kenapa?”

“ajari aku”

“tidak mau”

“kumohon”

“tidak mau”

“aku akan memanggilmu Oppa”

“aku tidak peduli”

“aku akan mengatakan kepada ibu kalau kau tidak menjagaku dengan baik”

“apa-apaan kau. Tidak menjaga dengan baik? Buktinya aku disini bersamamu”

“aku tidak peduli” Mina menjulurkan lidahnya kemudian mengambil ponselnya dalam saku celana dan mulai menelepon seseorang. Satu yang Mina tahu tentang Jongdae yaitu Jongdae takut kepada Ibunya.

“hei, apa-apaan kau ini!” Jongdae berusaha meraih ponsel Mina. Jongdae tidak ingin Ibunya marah mendengar kebohongan yang akan dilontarkan Mina. Jongdae sangat menghormati Ibunya, maka dari itu ia tidak ingin ibunya marah.

“halo?” terdengar suara dari ponsel Mina. Jongdae mendadak diam namun masih berusaha mengambil ponsel Mina. Dengan berat hati Jongdae menyetujui permintaan adik tirinya itu.

“halo Eunsoo? Aku selamat dari kejaran. Kau tak usah mengkhawatirkanku. Sampai jumpa” ujar Mina berbisik kemudian mengakhiri sambungan telepon tersebut sambil menunjukan senyum kemenangannya. Jongdae hanya pasrah kemudian kembali menulis lirik lagu sambil menunggu Mina selesai memakan burgernya.

— | | —

Keesokan harinya, Jongdae pun mengajari Mina bermain skateboard. Walau terus gagal beraktraksi dengan skateboard, namun Mina pantang menyerah. Mahir bermain skateboard adalah mimpinya. Jongdae dengan sabar mengajari Mina karena semangat Mina yang pantang menyerah. Jongdae sangat suka dengan orang yang pantang menyerah.

Melihat sikap positif dari Mina, Jongdae perlahan-lahan mulai tidak membenci Mina. Ia menyukai sikap Mina yang periang dan pantang menyerah. Siapa yang tahu rasa suka Jongdae dengan sikap Mina itu menjadi rasa suka terhadap diri Mina. Perasaannya terus saja bertumbuh seiring berjalannya waktu. Perasaannya tumbuh dengan suburnya karena terus disirami dan dipupuk oleh Mina dengan kelakuan manis Mina yang membuat hati Jongdae berdebar terus menerus.

Tak terasa, Sebulan telah berlalu. Liburan sekolah Jongdae dan Mina dihabiskan untuk bermain skateboard bersama. Itulah kenapa rasa suka Jongdae dengan Mina semakin besar. Jongdae terus saja menahan perasaannya karena ia tahu bahwa ini adalah cinta terlarang. Maka dari itu ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Mina.

“aku pulang” ujar Mina saat masuk kedalam rumah. Ia baru saja pulang dari ekstranya di sekolah. Setelah memasukkan sepatunya kedalam rak sepatu, Mina kemudian bergegas pergi kearah Jongdae yang duduk di sofa sendirian sambil menulis lirik lagu.

“Jongdae, ayo kita bermain skateboard” ujar Mina sambil bersandar di bahu Jongdae.

“Aku sibuk. Kau tahu kan aku ikut lomba menulis lagu”

“ayolah, sebentar saja”

“tidak mau”

“Jongdae oppa?” Mina mulai menggoda Jongdae. Jongdae sempat tertegun dengan ucapan manis Mina yang memanggilnya Oppa.

“Nope”

“come on” Mina kemudian menarik note yang dipegang Jongdae lalu lari menghindari Jongdae.

“ayo bermain skateboard dulu, baru aku kembalikan notemu” ujar Mina sembari lari menjauhi Jongdae.

“Mina kembalikan”

“tidak mau” Mina menjulurkan lidahnya meledek Jongdae.

Jongdae kemudian dengan malas bangun dari sofanya lalu mengejar Mina. Terus mengejar hingga pada akhirnya Mina tersandung dan jatuh diatas lantai. Walau terjatuh, Mina masih saja menyembunyikan note Jongdae dibawah punggungnya. Jongdae terus berusaha mengambil notenya dengan menindih Mina.

“Mina kembalikan” Jongdae mengunci kedua tangan Mina dengan kedua tangannya sendiri agar Mina tak dapat bergerak.

“tidak mau”

“kau kembalikan atau aku cium?” ujar Jongdae menatap Mina dengan serius.

“coba saja kalau kau berani menciumku” ujar Mina santai. Jawaban itu seperti menantang Jongdae untuk menciumnya. Mina sudah tidak lagi memberontak. Ia menatap mata Jongdae lekat-lekat.

Jongdae dengan perlahan mendekatkan wajahnya kearah Mina. Mina tak sedikit pun menghindar. Jongdae terus mendekatkan wajahnya kepada Mina. Ia kini terbawa suasana. Namun, seketika Jongdae tersadar. Ia teringat oleh ibu dan ayah mereka. Jongdae tidak bisa menghianati keluarganya. Ia kemudian menjauhkan wajahnya dari Mina lalu berdiri dan pergi meninggalkan Mina.

“Jongdae Oppa!” ujar Mina setelah bangun. Jongdae pun menghentikan langkahnya kemudian membalikan tubuhnya menghadap Mina.

Mina berjalan kearah Jongdae kemudian meraih wajah Jongdae. Dengan cepat ia menyambar bibir Jongdae. Jongdae terkejut dengan apa yang dilakukan Mina. Ia melepaskan tautan bibir mereka lalu menatap Mina lekat-lekat. Sorot mata Mina membuat Jongdae terpana. Ia perlahan mendekatkan wajahnya kembali kearah Mina lalu menciumnya kembali. Jongdae saat ini sudah tidak peduli dengan fakta bahwa mereka adalah sepasang ‘saudara’.
“Masalah sekarang akan kami hadapi bersama saat ini. Masalah yang akan datang? itu urusan nanti”

-tamat-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s