[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Buggest Regret

myhome_24

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Buggest Regret – Oh Ah Ran

: Samsung J2

Main cast :
Chen EXO – Kim Jondae
Yu Na AOA – Seo Yu Na

Angin berhembus pelan melalui celah-celah jendela. Bunyi gemericik air hujan membasahi tanah dan menimbulkan aroma yang khas. Tembok terasa lembab saat jemariku menyentuhnya perlahan. Tiba-tiba kakiku terhenti di sebuah ruangan. Di dalamnya terdapat kursi dan piano dengan warna cokelat yang dipadukan dengan garis putih di bagian atas. Tata letak yang sama. Masih sama.

Aku terduduk dan melihat keluar jendela. Bunga-bunga di taman seolah tidak peduli dengan hujan yang dengan kejam telah mengguyurnya selama berjam-jam. Rumah ini masih sama, pikirku dalam hati. Aku termenung memikirkan betapa banyak waktu yang telah aku lewatkan tanpanya. Aku pasti sudah mengutuk diriku sendiri atas kesalahan ini.

Namaku Kim Jongdae. Baiklah, aku bukanlah orang yang romantis. Aku akan menceritakan sebuah kisah yang tidak pernah aku lupakan hingga saat ini. Cerita tentang seorang wanita yang telah mendapatkan hatiku dan menguncinya sehingga aku tidak dapat jatuh cinta lagi. Dia adalah Seo Yu Na. Gadis cantik dengan mata yang indah dan senyum yang terbesit di pikiranku setiap detik. Ah, aku jadi semakin merindukannya. Udara di sekelilingku semakin dingin, aku akan memulai cerita ini secepatnya.

Kala itu adalah musim semi yang indah di tahun 1979. Seoul dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran dan memunculkan warnanya yang beraneka ragam. Aku melangkahkan kakiku ke sebuah gedung dan segera menemui anak-anak yang sangat aku rindukan. Aku lupa menceritakan 1 hal, aku adalah guru pengajar musik dan vokal di Seoul, aku menerima siswa dari berbagai kalangan dan umur. Tidak seperti yang lain, aku membuka usaha ini dengan tujuan membantu dan tidak mengharapkan apapun. Aku ditemani oleh sahabatku, Kim Minseok. Dia juga turut membantuku di bidang vokal. Pada saat itulah, wanita yang membuatku jatuh hati mulai memasuki kehidupanku. Seo Yu Na, wanita dengan tinggi 163 cm itu mengetuk pintu ruanganku di tempat aku mengajar. Dia berkata dengan jelas bahwa dia ingin membantuku melatih vokal dan musik kepada anak-anak yang tidak mampu. Aku menolaknya, tetapi dia tidak peduli dan menerobos masuk kemudian dia mulai memainkan tuts-tuts piano dengan jemarinya yang lincah. Aku tertegun dan berpikir, dia tidak mengenalku dan jelas tempat ini bukanlah tempat yang terkenal, tapi bagaimana bisa dia datang kesini dan memintaku untuk menjadikannya pengajar?
“Bagaimana? Bukankah penampilanku barusan sudah cukup membuatmu percaya bahwa aku layak? Tuan Kim Jongdae?” Seo Yu na menatapku dan tersenyum. Aku mendengus kesal.
“Baiklah nona, kau bisa mengajar disini. Tapi izinkan aku bertanya. Bagaimana bisa kau mengetahui tempat ini dan juga mengetahui namaku?” Aku menatap Seo Yu na dengan ragu.
“Itu tidak penting, Tuan. Tapi aku berterimakasih kau telah memberikanku izin mengajar disini. Mulai besok, aku akan membantumu” Seo Yu Na membungkukkan badannya kemudian berlalu dari hadapanku.

Aku tidak tahu takdir macam apa yang telah menimpaku. Segalanya berubah menjadi lebih rumit sejak kedatangan Seo Yu Na di tempat ini. Bukan, bukan tempat ini yang menjadi rumit, bahkan jauh lebih baik semenjak kedatangan Seo Yu Na karena sesungguhnya kami membutuhkan lebih banyak pengajar. Hatikulah yang terasa rumit. Pandangan ini bukan pandangan yang biasa aku tujukan kepada orang lain saat aku melihatnya. Jantung ini juga berdetak lebih cepat ketika aku berada di dekatnya. Aku rasa ada yang salah, benar-benar salah. Aku rasa aku jatuh cinta dalam waktu yang sangat singkat kepada Seo Yu Na.
“Tuan Kim Jongdae, bisakah aku berbicara sebentar denganmu?” Seo Yu Na melangkahkan kakinya mendekatiku.
“Tentu, ada yang bisa kubantu?” Aku menjawab dengan rileks untuk menutupi detak jantungku yang semakin cepat.
“Begini, aku membutuhkan rumah di dekat sini agar memudahkanku untuk mengajar. Jarak rumahku yang sekarang terlalu jauh. Aku lelah Jongdae. Maukah kau mencarikannya?” Seo Yu Na menyadarkan kepalanya pada kursi di sampingku, bahkan saat lelah, dia terlihat begitu cantik.
“Tuan Kim Jongdae?” Seo Yu Na menggerak gerakkan tangannya di depan wajahku. Astaga, aku baru saja memandanginya terlalu lama.
“Ah baiklah, aku akan mencarikannya untukmu.”
“Terimakasih.” Seo Yu Na tersenyum.

Tak lama setelah itu, aku mencarikannya rumah kecil yang indah di dekat gedung tempatku mengajar. Seo Yu Na sangat senang melihatnya, dia puas dengan bentuk bangunan dan tata letak ruangan yang minimalis. Aku jelas lebih bahagia darinya. Banyak waktu yang telah aku habiskan dengan Seo Yu Na, aku sering berkunjung ke rumahnya dan kami sering membuat lagu bersama sama. Aku membuat lirik, dan Seo Yu Na membuat nada dengan komposisi yang indah. Hari hari setelahnya terasa begitu menyenangkan bagiku. Tetapi, Tuhan sepertinya iri denganku. Aku benar benar melupakan segalanya dan hanya terfokus pada Seo Yu Na. Dan setelah itu, sepertinya Tuhan menyuruh takdir untuk melarangku berlama lama berada di dekat Seo Yu Na.
“Aku ingin melamarmu. Maukah kau menjadi istriku, Seo Yu Na?” Aku membuka kotak kecil berwarna hitam dengan cincin berlian berwarna putih di dalamnya. Seo Yu Na menangis, dia tidak menjawab pertanyaanku.
“Seo Yu Na, segera setelah kau menerima cincin ini, aku akan pergi ke luar negeri selama 3 tahun. Tunggulah saat aku kembali, setelah itu kau akan menjadi milikku selamanya, aku mencintaimu.” Aku memandang Seo Yu Na serius.
“Bagaimana bisa kau meninggalkanku di saat aku benar-benar menyayangimu, Kim Jongdae? Tak bisakah kau batalkan kontrakmu dengan agensi besar itu dan tinggal bersamaku?” Suara Seo Yu Na begitu parau, hatiku terasa sakit mendengarnya.
“Maafkan aku, Seo Yu Na. Aku menyayangimu.”

Tak lama setelah kepergianku, di umurku yang ke 26 tahun, aku kembali ke rumah ini dan menyadari bahwa Seo Yu Na tak lagi disisiku. Saat aku sibuk dengan duniaku, Seo Yu Na berperang melawan sakitnya sendiri. Dia mengidap kanker yang selama ini dia sembunyikan dan tak sanggup lagi menahannya. Aku kembali dengan keputus asaan yang mendalam. Sangat mendalam. Aku memutuskan menghabiskan 34 tahunku di luar negeri karena aku tak sanggup menahan rasa bersalahku. Dan disinilah aku sekarang, di usiaku yang menginjak 60 tahun, aku mengenangmu, Seo Yu Na. Aku adalah laki-laki bodoh yang mementingkan obsesiku dibandingkan orang yang mencintaiku. Aku adalah laki-laki bodoh yang menghabiskan sisa hidupku dengan sia-sia. Dan detik ini tiba tiba aku merasa bahagia. Karena aku melihatmu tersenyum kepadaku dengan senyum yang sama. Segalanya berwarna putih di sekitarku dan kau mengulurkan tanganmu. Aku akan meraihnya, Seo Yu Na, dan tak akan aku sia siakan lagi waktuku bersamamu.
End.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s