[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Boundary Midnight

myhome_27

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Boundary Midnight – AirlyAeri

Written by AirlyAeri ©20160915

Main Casts : Kim Jongdae [EXO’s Chen] | Elise Stalin [OC’s]

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Incest | Rated : General | Length : Vignette (1139 words)

Backsound : Lovelyz Kei & MyunDo feat. Bumzu – Y

***

“Hanya malam ini kita boleh egois mengabaikan semuanya.”

.

My baby
I love you so much

“Hei, Elise Stalin.”

Aku menoleh ke arah lelaki yang kini sedang mengulas senyum seraya memandang lurus ke depan. Dengan mantel hitam dan syal putih, tubuhnya bertumpu pada balkon pembatas. Pemandangan Sungai Yarra yang mengalir menemani kesunyian di antara kami, membuatku dengan cepat berujar, “Ya?”

Lelaki itu menoleh dan memandangiku sembari memegang segelas kopi. Sepasang maniknya yang ikut mengguratkan senyum serasi dengan garis lengkung senyum kucingnya. Ciri khasnya sejak awal aku mengenalnya. “Kau lelah? Kita bisa menunda pergi ke bar sebagai perjalanan terakhir keesokkan harinya.”

Aku menggeleng. “Tidak, aku masih kuat.”

“Kau yakin?”

“Memang seberapa lama kau mengenalku, Kim Jongdae?”

Terdengar tawa yang menderai dari sepasang bibirnya, lalu mengalun ringan menyusup ke dalam telingaku. Membiarkan suara tawanya teringat di otakku dan mengiringi suara detak jantungku yang menderu.

Lelaki itu. Namanya Kim Jongdae.

“Trem City Circle memang cocok untuk berkeliling kota Melbourne. Kau ingat ‘kan bagaimana kita bisa naik dengan gratis, belum lagi pusat kota Melbourne yang begitu meriah menyambut setiap musim.” Jeda sejenak lantaran kepulan asap dari hidung Jongdae keluar yang kentara akibat musim dingin.

“Dan akan aku ingat untuk tak akan pernah mengajakmu pergi ke pertokoan di Melbourne General Post Office,” sahutku santai seraya mendekap mulut menahan tawa. Sukses membuatnya merengut.

“Dengar ya, aku tidak bosan sampai seperti itu mengenai hal-hal bersejarah, El,” jawab Jongdae dengan nada agak tersinggung. Membuatku memilih untuk mengangguk atas pembelaannya. “Kau juga tidak berani saat aku ajak bertaruh siapa yang menang lotre di Southbank.”

Aku mulai mendengus sebal mendengar ucapannya. “Kau ‘kan jelas tahu bahwa aku tidak pintar melakukan hal itu, apalagi tempat yang kauajak bertaruh itu adalah kompleks kasino semua.”

“Ya sudah, bagaimana kalau sebelum pergi ke bar kita pergi ke Melbourne Cricket Ground dan bertaruh siapa yang akan memenangkan pertandingan AFL?” cetus Jongdae seraya menoleh ke arahku.

“Aku ingin segera pergi ke bar habis ini,” tolakku.

“Bagaimana kalau besok malam?”

Hening.

Aku tak menjawab dan memilih berdeham seraya memalingkan wajahku ke arah aliran Sungai Yarra yang tenang. Jongdae juga sepertinya menyadari ucapannya, jadi tak ada sahutan lagi dan sempat kulirik ternyata ia memilih menikmati isi gelas kopinya yang sudah dingin. Sensasi udara dingin Melbourne kembali menyapa kala kami tak berbicara lagi beberapa jenak.

Please tell me why
Why you leave me?
You leave me when I love you

“Maafkan aku, aku melanggar peraturan yang kita buat hari ini, El.” Terdengar suara penyesalan Jongdae setelah kudengar ia meneguk sedikit cairan kopi yang semakin menurun suhunya.

“Setelah tengah malam nanti terlewat, peraturan itu akan menghilang, Jongdae. Kita sama-sama tahu akan hal itu. Tidak apa-apa,” ungkapku dengan suara parau. Pelan-pelan kurasakan sepasang manik mataku seperti ditusuk-tusuk oleh angin salju yang mulai turun tak terlalu deras.

Ini bukan saatnya, El.

Kesunyian kembali tercipta di antara kami, lantaran untaian kata tak dapat kami ucapkan meski seluruh abjad sudah menari-nari di otak.

“Elise?”

“Ya?”

Aku menoleh dan mendapatinya. Sepasang bola mata hitam pekat milik Kim Jongdae yang kini memandangku lekat, membuatku tidak bisa untuk berpaling barang sejemang. Pun membuatku sadar bahwa selama aku mengenalnya, aku sudah terjatuh begitu dalam. Diam-diam napasku tak lagi memburu dan paru-paruku tak lagi mencari sisa udara.

“Apakah setelah malam ini kau akan menyesal telah mengenal Kim Jongdae?”

Tidak, tidak pernah sedikitpun.

“Harusnya kau tahu jawabanku.”

Aku menghelakan napas seraya menundukkan kepala. Seharusnya kami sudah sama-sama tahu, bahwa setelah ini tidak akan ada yang namanya penyesalan dalam hidup. Meski kau tahu penyesalan memang perlu diratapi, tetapi apapun yang terjadi teruslah lihat ke depan. Hidup terus berjalan seiring dengan perputaran waktunya.

Bukankah begitu?

I thing about it these days
I have so many things that I want to tell you

Kulihat, Jongdae menghelakan napas panjang seraya tersenyum tipis. “Kupikir semuanya hanya kebetulan.”

Seperti reka ulang film, aku mencoba mengingat ke belakang dan mendapati siluet adegan pertama kali aku bertemu dengan Jongdae di Federation Square saat aku sedang sibuk menyimpulkan tali sepatu. Lalu bertemu kembali di Brunswick Street saat ia sedang menyantap secangkir americano. Hingga akhirnya, kami saling berbagi cerita kami, mengenai ayahnya Jongdae yang sibuk selama di Melbourne, mengenai diriku yang sibuk mencari cinta pertama ibuku demi beliau yang sedang jatuh sakit, dan sebagainya.

Aku tersenyum miris sewaktu kami menyadari bahwa kami saling membutuhkan dalam hidup ini.

“Tapi meski setelah puncak malam ini akan segera berlalu, aku akan tetap senang telah mengenalmu, Jongdae.”

Jongdae kembali menatap ke arahku yang kini memilih memandangi aliran sungai. Udara musim dingin rasanya membuatku terbayang bagaimana dinginnya air sungai saat ini. Jika diizinkan, ingin rasanya masuk ke dalam sana dan membiarkan tubuhku membeku sampai seluruhnya mati rasa.

What should I do?
I can’t play time

“Kita ini lucu.”

Aku menoleh dan mendapati Jongdae yang sudah berpaling dariku sembari tertawa sumbang. Ia membuang gelas kopinya dan melanjutkan, “Hidup ini kadang aneh, juga tidak adil. Kemarin ia membiarkan kita terbang tinggi seolah membiarkan kita tak pernah mengenal esok, sampai keesokkannya kita dibangunkan pada sebuah kenyataan yang berteriak keras di depan kita. Pun kita sama-sama tahu bahwa kenyataan benar-benar menampar kita, maka dari itu…”

Jongdae melangkah maju ke arahku dan melumat bibirku. Aku berusaha menghindar, namun kala tengkukku sukses dikuasai olehnya membuatku tak bisa berkutik. Sentuh lembut bibirnya membuatku pasrah sekaligus rasa takut yang semakin besar dalam diriku.

Lelaki itu melangkah mundur kemudian mengecup keningku lama, lantas atensinya kembali ke arah mataku. “Sebelum waktu semakin berjalan menjauh menuju puncak malam, aku ingin mengatakan satu hal penting padamu tanpa melihat siapa kita dan mengabaikan seluruh dunia.”

“Aku mencintaimu, El.”

Airmataku perlahan meluncur mulus bersamaan dengan sebuah kalimat yang terdengar dari sepasang bibir manis yang baru saja menciumku. Aku tahu ini akan terjadi, lalu membiarkan aku terbang tinggi sebelum kenyataan membuatku jatuh sampai ke dasar yang tak berujung.

Seulas senyum segera kuukir seraya dengan satu kalimat yang memang sejak dulu selalu ingin aku sampaikan padanya, “Aku juga mencintaimu, Jongdae.”

I love you so much
Forever you and I

Jongdae menghelakan napas lega seraya menghapus setitik airmata yang jatuh, lantas kembali mencium bibirku dengan sayang. Kemudian, dengan seulas senyum ia mengulurkan tangannya ke arahku. “Ayo, kita pergi ke bar sembari saling menggenggam tangan. Hanya malam ini kita boleh egois mengabaikan semuanya. Setelah ini, kita akan kembali baik-baik saja.”

Perlahan aku mencium aroma anggur dari seberang jalan, membuatku mengangguk menanggapi ucapannya seraya menerima uluran tangannya yang kokoh nan hangat. “Ayo kita ke sana dan membiarkan sebotol wine menguasai kita sampai lupa pada kenyataan.”

“Tapi, kau harus berjanji satu hal padaku, El.”

“Apa?”

Jongdae menatapku lamat-lamat. Tatapan penuh sayangnya membuatku tak mampu berpaling barang sebentar. “Setelah puncak malam ini, ayo kita belajar untuk saling mencintai orang lain dan melupakan perasaan kecil ini.”

Aku mengangguk mendengar ucapannya. Lantas kurogoh saku mantelku dan membiarkan secarik kertas kenyataan itu terbang dibawa angin musim dingin Melbourne, lalu teronggok di atas tong sampah. Kertas berisi pernyataan DNA bahwa aku—Elise Stalin adalah anak kandung dari Kim Junghun, pria cinta pertama ibuku, sekaligus ayahnya Kim Jongdae.

-fin.

2 thoughts on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Boundary Midnight

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s