[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Not Meaningless

myhome_2

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] – (Not Meaningless) – (kazehayaza)
Cast:
Kim Jondae (Chen EXO)
Byun Baekhyun (Baekhyun EXO), Kim Minseok (Xiumin EXO)
Gadis Masa Lalu Chen (OC)
Genre: Angst
Rate: T
***

“Hyung, sudah selesai? Yuk, manager sudah menunggu di van.”
Chen, yang masih memandang pantulan dirinya di cermin tergagap sejenak.

“Ahya, kau duluan saja.”

Kini ia sendirian dalam ruang ganti tersebut. Merasa tak ada siapapun, ia melepas cincin emas yang selalu melingkari jemari kanannya. Kalian pasti tahu, bahwa Chen tak pernah menanggalkan dua buah cincin yang masing-masing tersemat di kedua jari telunjuknya, kanan dan kiri. Terkadang, ia pakai salah satunya di jari manis. Dan mungkin, kalian pernah merasa penasaran, mengapa cincinnya dipakai di jari telunjuk? Kenapa ada dua? Atau, kenapa tak pernah dilepas?

Beberapa orang menganggap cincin itu adalah cincin yang merujuk pada sebuah agama, dengan kepercayaan tertentu. Ada juga yang menganggap, cincin itu pemberian ibunya yang amat ia cintai. Yang lain lagi bilang, itu adalah cincin yang disematkan saat ia beranjak dewasa, sebagai penanda kedewasaan.

Tidak, mungkin anggapan itu memang benar. Tapi, jelas cincin itu memiliki nilai lebih.
Jika tidak, tak mungkin seorang Chen EXO, yang punya kekayaan dan ketenaran, yang pasti mampu membeli berbagai macam aksesori yang diinginkan, tetap mempertahankan cincin tua itu.

Mata sendu Chen berpendar sejenak, memandang lekat cincin sebelah kanan yang sudah ia lepas. Sorot kerinduan nampak jelas, membuat matanya berkaca-kaca dan tiba-tiba saja, basah.

“Jongdae-ah!” Tiba-tiba pintu ruang ganti terbuka, Chen buru-buru mengusap ujung matanya yang mulai berair.

“Iya, Minseok-hyung, I’m coming!” serunya ceria, sembari melemparkan cengiran khas pada Hyung kesayangannya. Namun Xiumin hanya memandangnya datar, setengah heran. Namun sesaat kemudian Xiumin berbalik, berlagak tak peduli.

“Cepatlah. Kita harus segera pergi ke pemotretan selanjutnya. Aku sudah pusing mendengar omelan manager-hyung,” katanya singkat sambil berlalu.

Chen tersenyum kecil. Pasti Xiumin melihat ekspresi sendu dan air matanya. Ah, hyungnya satu itu memang selalu seperti itu. Terlalu kikuk menghadapi kesedihan orang lain.

Karena itulah, Chen selalu memendamnya. Memendam kisah sedih di balik cincinnya, karena hyung terbaiknya tak bisa dibagi kesedihan. Tidak juga Suho, leader mereka. Dan tidak pula member lainnya. Selain itu, Chen tidak tega. Ia tidak pernah tega menambah beban pada teman seperjuangannya. Tapi, terkadang ia butuh bercerita. Kadang, hatinya tak cukup luas untuk menampung semua kesedihan. Seperti saat ini.

Dan ia kembali seperti biasanya. Menceritakan keluh kesahnya pada kilau cincin emas di tangan kanannya yang mulai kusam.

***

“Apa aku harus membuangnya saja, ya?” lirih Chen pada dirinya sendiri. Ia sudah lelah hidup dalam kenangan menyedihkan di masa lalunya. Mungkin, dengan membuang satu benda yang mengingatkan pada orang penting di masa lalu bisa meringankan kesedihannya. Atau malah, menambah jerat kenang masa lalu? Ah, ia tak akan tahu sampai ia mencobanya. Tapi… sepertinya membuangnya sudah sedikit berlebihan.

“Membuang apa?” suara tengil Baekhyun tiba-tiba mengusiknya.

“Kenapa sih, galau mulu. Tuh, Umin-hyung mau tanya soal hal itu, tapi dia bingung harus bertanya bagaimana. Haha, kau tahulah, bagaimana hyung kita satu itu.” cerocos Baekhyun sambil menempati rerumputan kosong di sebelah Chen. Mereka saat ini sedang berada di sebuah perbukitan indah, tempat pemotretan pakaian olah raga. Terdapat pergantian set, karena itu Chen berpisah dari teman-temannya dan menikmati sepi dengan tenggelam pada kenangan masa lalunya, sampai Baekhyun datang.

“Heh, pergi sana. Jangan memperburuk moodku.” usir Chen. Ia sudah tahu betul tabiat si berisik di sebelahnya. Jika tidak usil, pasti bermain. Sama seperti dirinya. Ah, yang lebih tepat, dirinya dalam topeng.

“Wey, santai bro. Mungkin aku terlihat seperti ini, tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik. Ah, aku juga pemberi saran yang keren,” Baekhyun menepuk dadanya sendiri, meyakinkan Chen sekaligus membanggakan diri.

Chen mengangkat alisnya, memandang wajah tengil Baekhyun yang berusaha terlihat serius. “Terserah.” Chen bangkit dan menepuk celananya yang terkotori tanah, hendak meninggalkan Baekhyun.

“Tunggu!” Baekhyun mencekal tangan Chen. “Jangan bilang… ini soal dia? Gadis masa lalumu?”

***

Chen tidak tahu, Baekhyun mengetahui masa lalunya dari mana, atau dari siapa. Tapi, untuk pertama kalinya ia merasa bersyukur bahwa bukan ia seorang yang mengetahui hal itu. Karena Baekhyun tak seperti orang lain, yang memandangnya sebagai orang menyedihkan setelah ia menceritakan segalanya. Temannya itu malah menggenggam tangannya dan menggeleng mantap.

“Tidak. Jangan pernah buang cincin itu. Jangan pernah lupakan dia.”

“Hah? Jadi maksudmu, aku harus terus seperti ini?! Tertawa palsu, tapi hidup menyedihkan dalam bayang—”

“Jika ia memang penting bagimu, jangan lupakan. Karena orang yang sudah mati, raganya hilang. Yang tertinggal hanyalah kenangan. Kenangan itu yang membuatnya tetap hidup, dalam hati dan pikiran orang yang menyayanginya. Dan aku yakin, ia akan lebih sedih jika kau terus-terusan menyalahkan dirimu seperti ini. Jangan buat kematiannya sia-sia, Kim Jongdae.”

Chen tertegun sejenak. Antara tak percaya dengan ucapan yang keluar dari Baekhyun, dan kebenaran ucapannya.

“Aku percaya, kau adalah orang yang baik. Baik dari dalam hatimu. Bukan cuma image bentukan yang dituntutkan pada kita. Cincin itu buktinya.” Baekhyun menepuk bahu Chen keras, dan berlari meninggalkannya. Sudah waktunya pemotretan selanjutnya.

“Dae-ah, mau main denganku?”

“Dae-ah, hiraukan saja mereka. Mereka cuma iri karena kamu baik dan punya banyak teman.”

“Jongdae-ah! Menjadi orang baik itu bukan kelemahan!”

“Sepertinya… waktuku sudah mau habis. Dae-ah, bisa kan kau menyimpan cincinnya untukku? Kau tahu, cincin itu sangat berharga. Peninggalan ibuku satu-satunya. Dan aku mempercayaimu untuk menjaganya. Untukku.”
Kilasan masa lalu menghalangi pandangan Chen. Ah, tak terasa matanya memanas, dan kembali berair.

“Kenapa kau selalu memakainya di jari telunjuk? Bukannya cincin seharusnya dipakai di jari manis ya? Ibuku selalu memakainya di jari manis,” tanya Jongdae di masa lalu.

Gadis itu terkikik mendengar pertanyaan yang sudah bosan ia jawab. Semua orang menanyakan hal yang sama padanya. “Kau mau tahu?” balasnya.

“Ah, jangan main-main! Aku penasaran!”

Sang gadis meraih jemari Chen, dan menautkan telunjuknya yang berbalut cincin pada telunjuk kiri Chen. Kemudian ia berdiri, menarik Chen untuk ikut berdiri, masih dengan jari telunjuk yang saling tertaut. “Inilah alasannya.”
Chen mengangkat alisnya, masih belum paham.

“Beginilah cara Ibuku yang sudah tiada menggandengku. Dan ini juga caraku menggandengmu. Karena itu, jangan pernah lupakan aku. Dan jangan pernah berbuat jahat. Menjadi baik hati bukanlah kesalahan. Bukan kelemahan. Dan ingatlah, seperti apapun engkau, engkau tetaplah seorang Kim Jongdae. Jongdae yang selalu menemaniku. Yang selalu membantu orang lain. Jongdae-ku.”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s