[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Thunder Boy

myhome_16

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Thunder Boy – popeyeee

 

Terdengar lagi, petir menggelegar.

“Kerja bagus hari ini, Chen.” Seorang pria membuka pintu, berjalan masuk dengan membawa beberapa dokumen di tangannya. Seorang pria dengan rambut pirang menyusul masuk di belakangnya. “Korban telah dikembalikan ke rumah saudaranya setelah diberi perawatan medis. Dia akan baik-baik saja.”
“Suho…” Chen membalas, menatap cangkir berisi teh di depannya dengan tidak berselera. Dilihat dari isinya, Chen bahkan belum meminumnya sedikitpun.
“—Kau selalu begini setiap hujan deras,” sambung pria berambut pirang, senyum tersungging, melompat duduk ke sofa di depan Chen. “atau… setiap petir menggelegar, eh, Thunder Boy?”
Chen langsung mendelik pria di depannya dengan tajam. “Kau juga sudah tahu alasannya, kan, Xiumin?”
Suho ikut duduk di sebelah Chen. “Itu wajar, kok… Aku, Xiumin atau anak-anak itu, pasti akan ada hal-hal yang membuat kita selalu teringat… Kita tidak akan pernah lupa.” Suho menatap Chen sendu. “Sudah 10 tahun sejak saat itu, ya, Jongdae?”
Jongdae memejamkan matanya, tenggelam dalam kenangannya, di saat hujan turun dengan derasnya.

‘Thunder Boy’, begitu Kim Jongdae biasa dipanggil setelah ‘keajaiban’ yang didapatnya sejak saat itu; saat dimana dia berdiri di antara kehidupan dan kematian, siap menyerahkan segalanya kepada takdir. Kepada pilihan Tuhan. Bukan hal yang biasa bagi keluarganya untuk pergi berjalan-jalan ke pantai atau ke pegunungan ketika liburan. Setelah melewati hari-hari yang menjemukan di sekolah, hal itu menjadi sesuatu yang selalu dinanti-nantikan oleh Jongdae. Hanya saja, saat itu, jika saja dia diberikan kesempatan untuk memilih, dia akan mencegah keluarganya untuk pergi, untuk mencegah takdir yang harus diterimanya—

—Hari itu hujan sangat deras, petir dan gemuruh selalu terdengar bersamaan dimana-mana, bahkan suara radio di dalam mobil pribadi yang dikendarai oleh ayahnya, ibunya dan Jongdae sendiri masih tidak cukup untuk menutupinya. Mereka sedang dalam perjalanan ke salah satu vila di pegunungan yang sudah disewa ayahnya sebelumnya. Hari yang biasa, persiapan untuk berangkat yang biasa. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang tidak pada tempatnya. Seharusnya memang begitu, tapi saat mobilnya mulai kehabisan bensin dan roda mobilnya juga terjebak di tanah yang berlumpur, Jongdae mulai merasa adanya ketidakwajaran yang terjadi.
“Gawat… tidak ada sinyal di sini, aku tidak bisa menelepon bantuan dari vila.” Kata ayah Jongdae, pak Kim, menghela nafas. Menatap layar handphonenya yang tidak menunjukkan tanda sinyal. “Hujannya juga semakin deras, bisa bahaya kalau kita terus berada di dalam mobil…”
“…Jongdae, ambil payung di bawah kursi mobil dan pakai juga jaketmu, ya? Kita harus menunggu di luar mobil demi keamanan kita…” kata ibu Jongdae, bu Kim, terlihat khawatir. Jelas dia lebih memilih untuk tetap di dalam mobil, tapi tentu saja dia tidak ingin mengambil resiko.
Jongdae, 14 tahun, menuruti perkataan ibunya. Melihat dari luar, dia bisa melihat bagian belakang mobilnya yang mulai miring, hampir terperosok ke dalam tanah berlumpur. Dan sejauh mata memandang, selain kelabunya langit di pagi hari yang tidak seperti pagi itu, dipenuhi dengan hamparan dinding pegunungan yang tinggi, berbatu dan berbahaya. Berbahaya? Insting Jongdae sesaat berkata demikian.
“Begini saja, aku akan mencoba untuk mencari bantuan ke vila di atas sana… kalian berdua, tetaplah di sini dan jangan kemana-mana.”
Bu Kim terkejut. “Bu-bukannya lebih berbahaya kalau berjalan kaki melewati jalan pegunungan di cuaca seperti ini…? Sebaiknya kita tetap menunggu di—”
“—Jangan khawatir,” sela pak Kim, penuh percaya diri. “cara ini lebih baik daripada terus menunggu di sini tanpa ada pertolongan yang pasti. Kalau memang terpaksa, masuk saja ke dalam mobil dan kunci pintunya. Jangan menyalakan lampu, mengerti?”
Bu Kim mengangguk pelan. “Berhati-hatilah.”
Jongdae cepat menarik tangan ayahnya sebelum berbalik pergi, “Ayah! Jika terjadi sesuatu, bagaimanapun caranya, aku akan menolong ayah!”
Pak Kim tersenyum, mengelus kepala anaknya, lalu berjalan pergi di balik derasnya hujan. Cahaya lampu dari handphonenya samar-samar mulai menghilang di kejauhan.

1 jam hampir berlalu. Melihat pak Kim yang tidak juga kembali membuat bu Kim sangat cemas. Bu Kim dan Jongdae sempat berlindung di dalam mobil karena hujan tidak kunjung reda, tapi itu malah membuat mobil mereka semakin terperosok. Keduanya menunggu di depan mobil dengan perasaan campur aduk.
“Ibu, aku ingin ke pepohonan di sebelah sana sebentar, aku perlu buang air kecil… bolehkah?” tanya Jongdae.
“Pe-pergilah… tapi, ja-jangan terlalu jauh…” Bu Kim gemetar karena kedinginan, tidak fokus. Dengan basah kuyup, Jongdae berlari cepat ke arah pepohonan.
Seakan-akan sebuah permainan takdir, sebuah mobil dengan lampu depannya yang menyala terang menyinari sosok bu Kim dari arah pak Kim pergi. Bu Kim tersenyum lega, melambai-lambaikan tangannya. Mobil itu berhenti tidak jauh dari bu Kim. Beberapa pria keluar dari dalam mobil, wajah mereka tidak terlalu terlihat jelas karena gelap. “Wah, mobil anda terperosok, ya?” Kata salah satu pria.
“Ka-kalian bala bantuan yang dipanggil suami saya, kan?! Apa suami saya bersama kalian??”
Pria itu terdiam, menatap bu Kim dan teman-temannya bergantian. Pria itu tersenyum. “Benar sekali… suami anda ada di dalam mobil, tertidur karena kelelahan. Di sini berbahaya, jadi sebaiknya anda segera ikut kami… apa barang-barang berharga anda ada di dalam mobil?”
Bu Kim mengangguk cepat. Dua orang pria langsung membuka pintu mobil dan mengambil barang-barang yang ada di dalamnya. “Te-terima kasih… saya sangat tertolong, biarkan saya membangunkan suami saya—”
Sekilas, bu Kim melihat, di kursi belakang mobil itu, sosok pak Kim yang tidak bergerak, dengan darah yang mengalir dari ujung mulutnya. Bu Kim tersentak. “Su—” Suara bu Kim tercekat. “SUAMIKU—” Mulut bu Kim langsung dibungkam oleh tangan salah satu pria. Jeritan bu Kim itu sesaat menyadarkan Jongdae, yang sedang berjalan kembali ke mobilnya, menjadi berlari secepatnya sampai terpeleset. “IBU?!” seru Jongdae, terengah-engah. “Ibu, apa yang—?!”

Petir menggelegar.

“Oh, itu dia anaknya.” kata pria yang membungkam bu Kim. Jongdae berdiri mematung di tempatnya, tak tahu harus berkata apa. “Hei, nak. Kami datang untuk menolongmu dan ibumu…”
“Apa yang—apa yang kalian—”
“LARI! CEPAT PERGI DARI SINI—!!!” teriak bu Kim, yang langsung dibungkam lagi dengan lebih keras. Pria itu berdecak kesal, berseru, “DIAM SAJA KAU, NENEK TUA! Hei, tangkap bocah itu!”
Jongdae tersentak. Takut. Aku takut. Aku harus lari…! Tapi, kemana? Bagaimana dengan ibuku? Aku harus—
Jongdae berbalik, berlari secepat mungkin dari pria-pria itu, yang tentu saja langsung mengejarnya dengan sinar senter memancar ke arahnya. Kaki Jongdae gemetar ketakutan, lututnya berdarah karena terpeleset tadi, tapi dia harus kabur. Tidak boleh sampai tertangkap. Aku akan dibunuh…!
Entah sudah sejauh apa dia berlari di tengah gelapnya hutan. Pria-pria itu masih terus mencarinya; “Petak umpetnya sudah usai~ ayo, keluarlah~ ibu dan ayahmu sedang menunggumu…” Jongdae bersembunyi di balik bayang-bayang pohon, tidak mengeluarkan suara, tapi seluruh tubuhnya gemetar dengan hebat. Saat ada kesempatan, dia kembali berlari. Terus berlari sampai dia berada di bagian hutan yang lebih terbuka, dimana dia dapat memandang persawahan yang luas di bawah sana. Dia juga dapat melihat dengan jelas petir-petir di langit kelabu yang terus mengganggu pendengarannya.
Kenapa? Apa salahku? Dimana yang salah? Seharusnya hari ini menjadi hari dimana aku bisa bersenang-senang dengan keluargaku. Tapi, tentu saja… karena hujan brengsek ini, karena petir brengsek ini… kalau memang aku harus mati… dibandingkan dengan orang-orang itu…!
Jongdae mendongak ke langit, air matanya mengalir, melebur dengan air hujan. “BERISIK! DIAM, DIAM, DIAM! KALAU MEMANG INI TAKDIRKU, BUNUH SAJA AKU! SEKARANG JUGA! HEI, PETIR BODOH! BUAT AKU DIAM, BUAT SEMUANYA MENJADI DIAM!!!” Teriakan Jongdae itu langsung menarik perhatian pria-pria yang masih mencarinya. Mereka menyeringai sinis, mengerikan, saat berhasil menemukan Jongdae, yang terlihat seperti setengah gila di mata mereka. Tapi, sebelum mereka bisa mendekat, petir yang sangat besar menyambar Jongdae dengan kerasnya. Pria-pria itu langsung terdorong jatuh, dan sesaat dunia menjadi hening. “Astaga! Bocah itu… tersambar petir?!”
Jongdae menatap telapak tangannya yang agak terbakar dan mengeluarkan asap. Dia jelas tersambar oleh petir, tapi, entah karena keajaiban atau bukan, Jongdae masih hidup. “Se-seharusnya dia langsung mati…!” jerit salah satu pria. Jongdae menoleh perlahan, menatap pria-pria yang ketakutan itu dengan sirat kemarahan. Seperti petir-petir kecil, yang menari-nari di tengah hujan.

“—6 orang yang menjadi tersangka pembunuhan pasangan Kim dan mencoba untuk menculik anak mereka, mati karena tersengat listrik yang sangat kuat, diduga karena sambaran petir yang diperkuat oleh hujan deras, begitu isi dari dokumen asli pihak kepolisian yang menangani kasus 10 tahun yang lalu itu.” Kata Xiumin. “Dan kau-lah petirnya. Kau, Thunder Boy.” Chen terdiam.
“Dia melakukannya tanpa sadar. Kalau aku jadi kau, akupun akan melakukan hal yang sama.” sela Suho. “Karena itulah, kami menciptakan organisasi EXO, untuk menampung orang-orang seperti kita…”
“Atau ‘Kumpulan anak-anak yang diberkahi Keajaiban Tuhan dan selamat dari malapetaka’, dari pandangan publik?” sambung Xiumin sinis. “Padahal kita ini kumpulan Monster, yang diberkahi kekuatan dari malapetaka yang menimpa kita itu, ya…?”
Suho beranjak berdiri, menepuk bahu Chen. “EXO ada untuk memastikan tidak adanya lagi anak-anak yang menderita seperti kita. Kita menggunakannya untuk kebaikan, Jongdae. Setidaknya, kita masih bisa bekerja seperti layaknya manusia.”
Chen tersenyum sedih. Gelegar petir-petir itu sudah tidak mengganggunya lagi.

[END]

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s