[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Suddenly

myhome_8

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Suddenly – milkysekai
Cast: Kim Jongdae, Cho Mirae (OC)
Genre: Romance, Fluff, School-Life
Rating: G

Waktu itu, kau bukan siapa-siapa.

Penghujung semester satu, musim semi. Aku cuma tahu, kau adalah teman sekelasku yang termasuk berisik. Kau adalah salah seorang dari mereka yang suka menorehkan celetukan usil saat guru sedang menerangkan. Meski sekelas, kita jarang sekali mengobrol, paling-paling hanya senyum basa-basi ketika kita tidak sengaja berpapasan di luar kelas. Terlebih, aku memang tidak begitu pandai bergaul dengan kaum laki-laki.

Tapi hari itu, kau berbeda.

Bel istirahat tiba, tetapi kedua tanganku masih sibuk. Yang satu meremas kertas tes Matematika, yang satu lagi meremas perut. Tes Matematika hari itu, aku mendapat nilai di bawah rata-rata. Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa, aku yang semalamnya tidak belajar atau guru Matematika yang memberikan tes sangat mendadak (lagipula mau ujian begini masih saja memberi tes). Dan soal perutku, aku sedang datang bulan hari-hari awal, jadi tahu ‘kan, kenapa aku meremasnya?

Mood-ku benar-benar rusak. Terlebih Kyungri, teman sebangkuku tidak masuk. Aku tidak punya teman untuk mengobrol. Bukannya aku tidak dekat dengan teman sekelas yang lain, tapi aku paling nyaman mengobrol dengan Kyungri. Jadilah aku hanya berdiam diri di bangku saat jam istirahat tiba. Semuanya berhambur ke kantin, kecuali aku yang sibuk sendiri.

Kepalaku terangkat dari meja saat aku merasakan ada orang yang menduduki tempat Kyungri. Dahiku berkerut begitu menyadari siapa yang duduk di sana.

Kau, Kim Jongdae. Dengan segelas teh hangat dan earphone yang menyumpal telinga. Meski kaget, namun aku tidak ambil pusing. Aku kembali menaruh kepalaku di meja, dengan tangan yang masih meremat perut dan kertas.

Aku masih ingat betul, lima menit setelah keheningan antara kita, suaramu terdengar. Bukan sapaan ‘halo’ atau bagaimana, tapi kalimat tanya dengan nada heran yang kentara: “Kenapa meremas kertas seperti itu?”

Tanganku otomatis berhenti meremas kertas, lalu menatapmu dengan alis yang terangkat satu. Mungkin wajahku saat itu terlihat seperti, “Lalu kenapa? Masalah?” Maaf, saat itu mood-ku memang sangat jelek, jadi kau kena imbasnya.

Herannya, kau tidak tersinggung atau marah. Kau hanya tersenyum kecil, aku tahu itu bukan senyum meremehkan, tapi—lagi-lagi—karena mood-ku kacau, emosiku makin naik. Tak lama, kau melempar pertanyaan dengan nada ringan. “Di bawah rata-rata?”

“Kalau iya, kenapa? Apa pengaruhnya dengan hidupmu?” Itu jawabku. Aku terlalu kasar, iya ‘kan?

Entah kau yang sabar atau bagaimana, kau hanya menaikkan kedua bahumu. Tidak ada tanda-tanda tersinggung sama sekali. “Aku juga, kok. Santai saja, banyak yang di bawah rata-rata.”

Setelah itu, aku diam. Aku mau jawab apa? Perkataanmu itu tidak butuh jawaban. Jadilah aku meremas perut lagi karena perutku mulai bereaksi kembali. Kuturunkan kepalaku sampai daguku menyentuh meja.

Pipiku merasakan sesuatu yang hangat saat kau menyodorkan segelas teh milikmu. Aku meringis kecil, lalu kembali melirikmu. Meminta jawaban dari apa yang kau lakukan. Seharusnya kau punya tujuan mengapa kau menempelkan gelas tehmu ke pipiku.

“Dilihat dari gelagat dan sikapmu, pasti kau sedang sakit perut. Dan kemungkinan besar, karena hari awal datang bulan,” jawabmu lancar. Tanganmu kembali menyodorkan gelas plastik itu ke pipiku. “Kalau salah maaf, tapi yang penting minumlah ini, setidaknya perasaanmu akan membaik. Tenang, belum kuminum, kok.”

Tidak ingin diminta untuk kedua kalinya, aku langsung mengambil gelas darimu dan mulai menyedot. Rasa hangat langsung mengaliri kerongkongan dan perutku, membuatku merasa baikan. Meskipun rasa sakit di perutku belum hilang sih, tapi setidaknya mood-ku tidak seberantakan tadi.

“Bagaimana? Merasa lebih baik?” tegurmu membuatku sadar dari lamunanku. Aku mengangguk kecil, yang kau tanggapi dengan senyum tipis. “Semoga cepat sembuh, ya.”

“Terima kasih,” ucapku pelan dan sedikit gengsi. Beberapa menit lalu aku ketus padamu, bagaimana aku tidak malu?

Kau tidak menjawab, hanya tersenyum. Senyum lebarmu yang khas sampai matamu nyaris terpejam. Tadinya aku mau balas tersenyum, tapi aksimu yang selanjutnya membuatku bungkam.

Tanganmu menyelipkan helai rambutku ke belakang telinga, lalu menaruh sebelah earphone di sana—yang entah kapan sudah dicopot sebelah. Badanku terasa kaku begitu merasakan kulit tanganmu bertemu kulitku. Rasanya darahku berdesir dengan cepat.

“Kalau-kalau kau sedang sedih atau bad mood, Cho Mirae. Biasanya musik bisa membuat mood naik. Ehm… maaf kalau tidak suka lagunya.” Kau bersuara sebelum aku bertanya. Tanganmu menggaruk-garuk tengkuk, tampak gugup. Dan itu terlihat lucu di mataku.

Sudut bibirku terangkat naik, dan tidak lama kemudian tawaku pecah. “Terima kasih, ya,” balasku masih tertawa.

Istirahat itu kita habiskan dengan tertawa dan mengobrol, diiringi lagu Heaven milik Bryan Adams. Kita yang biasanya jarang mengobrol, entah kenapa bisa langsung akrab dan nyaman satu sama lain. Kau yang tadinya bukan siapa-siapa, kelamaan berubah menjadi orang penting dalam hidupku.

Yah, siapa yang tahu, karena kejadian kecil itu, kau bisa menjadi teman hidupku sekarang. Kau, yang tadinya hanya murid berisik di kelasku, menjadi ayah dari anak-anak kita, dan sekarang sedang menyesap kopi bersamaku di teras rumah kita.

Takdir terkadang memang mengejutkan, tapi aku suka dengan takdir kita.

END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s