[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Rain

myhome_17

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Rain – andnaprlynpus

Awan kelabu tengah berkalut di langit. Menampung berjuta tetes air yang siap meluncur bebas membasahi kota Seoul. Kakiku menapaki jalan setapak di samping luasnya sungai han, daun-daun berterbangan ke samping kanan kiriku akibat hembusan angin seakan-akan mempersilahkanku untuk berjalan di tengahnya.

Kurapatkan jaket tebalku, angin dingin kembali berhembus hingga menyentuh kulit epidermisku. Jaket tebalku seakan kurang untuk melawan hembusan angin yang perlahan menyambut tetes demi tetes air yang telah jatuh membasahi kota Seoul. Sepertinya awan sudah tak sanggup menampungnya lagi, seperti otakku yang sudah tak sanggup menampung beban hidupku.

Aku menengadahkan wajahku, merentangkan tanganku, berusaha melawan tetes air hujan yang semakin lama semakin banyak. Benar saja, kini hujan deras menerpa tubuh kurusku yang terasa seperti tertusuk jarum akibat derasnya air.

Namun, kata banyak orang, hujan dapat mendinginkan pikiranmu dan itu terjadi padaku. Bebanku seakan meluruh bersama tetes air hujan yang jatuh ketubuh, semakin ke bawah hingga menyentuh tanah dan terserap. Lalu, bebanku menguap bersama air hujan itu. Hati dan otakku yang terasa dicengkeram erat oleh tangan seperti seorang pegulat perlahan mengendur, membebaskan mereka untuk bernapas. Aku lega.

“Chen-a, Kim Jongdae,” kedua indra pendengaranku menangkap suara lembut bak malaikat yang menyentuh gendang telingaku. Jantungku berdegup, mungkinkah dia?

Aku membulatkan kedua mata untaku dengan sempurna ketika netraku menangkap seorang perempuan cantik yang memanggilku dengan suara lembutnya itu. Amour, memang benar dia, “Amour? Apa yang kamu lakukan di sini? Nanti kamu sakit.” Aku berjalan mendekatinya, ingin memberikannya jaketku sebagai penghalang hujan yang semakin lama membasahi tubuhnya, namun percuma saja, jaketku pun basah.

Aku memegang kedua pipinya yang terasa dingin di tanganku, “Kamu dingin, ayo aku antar pulang,” ucapku sambil menggosokkan kedua telapak tanganku yang juga semakin memucat, kemudian menempelkan pada kedua pipinya agar rasa hangat yang ada pada kedua telapak tanganku menyalur padanya.

Amour memegang kedua tanganku, menggenggamnya, “Daripada pulang, bagaimana jika menikmati air hujan? Kita sudah lama tidak seperti ini. Aku merindukanmu, Chen-a” senyuman manis mengiringi setiap kata yang ia ucapkan. Kedua bola matanya berbinar menatapku, mengharapkan jawaban “ya” atas permintaannya itu.

Otakku ingin mengatakan tidak, namun hatiku berkata sebaliknya, aku ingin menghabiskan waktu dengannya, aku begitu merindukannya. Kini otak dan hatiku seakan berperang di dalam tubuhku. Aku menghela napas perlahan, “Oke, ayo kita bermain. Namun sebentar saja, nanti kamu sakit.” Aku mencolek hidung mungilnya.

Dia menarikku, mengajakku berlari, berputar di bawah rintik air hujan. Meluapkan rasa bahagia dan rindu yang menyatu menjadi satu. Saling menggenggam erat seakan tak ingin berpisah kembali. Lima tahun menjalin kasih dan setahun rasanya berpisah akibat kesibukan masing-masing perlahan memupuk rasa rindu yang semakin terasa sesak di hati.

Lelah berlari-lari, aku memeluknya dengan erat. Menyalurkan rasa rindu yang menggebu, “Aku benar-benar merindukanmu, sangat. Aku tak sanggup jika harus berpisah selama setahun seperti kemarin. Aku menyayangimu. Aku akan segera meminta restu kepada kedua orang tuamu agar kita selalu bersama seperti ini. Kita akan melewati segala sesuatunya bersama, suka, duka. Life isn’t about waiting for the storm to pass, it’s about learning to dance in the rain,” kulepas perlahan pelukan hangat ini, kukecup kening dinginnya cukup lama.

Setelahnya, kuambil sesuatu yang sedari tadi kusembunyikan di saku jaketku. “Pejamkan kedua mata cantikmu sebentar.” Amour memejamkan kedua mata cantiknya. Aku berjongkok di hadapannya, membuka kotak merah yang berisikan cincin perak berhiaskan mutiara dan akan sangat indah ketika Amour memakainya. “Buka kedua matamu.”

Perlahan Amour membuka kedua matanya, mengerjap pelan berusaha menyesuaikan cahaya yang sedikit demi sedikit tertangkap oleh retina matanya. Ia terkejut akan apa yang ada di depannya, tepatnya di tanganku. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Walau sekarang hujan, aku masih dapat melihat air mata yang keluar perlahan dari sudut matanya. “Amour, maukah kamu menikah denganku? Menjadi ibu dari anak-anak kita? Saling melengkapi dan bersama menjalani suka dan duka dalam kehidupan yang selalu berputar ini? Terutama menjadi istri dari seorang Kim Jongdae yang sangat sangat mencintaimu?”

Amour menganggukkan kepalanya perlahan. Aku menundukkan kepalaku, meredam tangis bahagia yang sebentar lagi meledak. Kupu-kupu seakan menggelitik perutku, jantungku berdegup begitu cepat akibat rasa bahagia yang membuncah dari dalam diriku. Aku berdiri dengan kepala yang masih dalam keadaan menunduk. “Amour, aku tak menyangka jika kamu akan menerimaku. Jantungku berdegup kencang ketika menanti jawabanmu, rasanyaa….”

Aku terkejut ketika menyadari jika Amour sudah tak ada di depanku. Kuedarkan pandanganku ke segala arah, namun kosong, tak ada orang selain aku di sini. Lantas di mana Amour? “Amour? Amour? Jangan bercanda tolong. Di mana kamu? Kamu bilang jika kamu ingin bersamaku. Ini tidak lucu, sayang!” Rasa panik memenuhi pikiranku, otakku seakan kusut hingga tak dapat berpikir dengan jernih.

Aku berlari dan terus berlari. Mencari keberadaan Amour yang baru saja menerima lamaranku. Tiba-tiba aku jatuh terduduk, mencengkeram rambutku dengan kuat. Kepalaku terasa sangat sakit. Air hujan yang menetes dari langit sana seakan berganti menjadi beribu paku yang berjatuhan dan menimpa kepalaku. Rol film di dalam otakku seakan berputar, aku merasakan dejavu akan kejadian saat ini.

“Aku menerimamu Chen, aku mencintaimu.”
“Tunggu sebentar, orang tuaku menelpon, halo?”
“Sayang, orang tuaku berkata jika aku harus pulang cepat.”
“Tidak usah, aku pulang sendiri saja. Aku bersama supir yang sudah menjemput. Aku tunggu permohonan restumu di depan kedua orang tuaku, dan aku tunggu kamu di atas altar untuk mengucapkan janji suci sehidup semati. Cincin ini tandanya yaa!”

“Halo?”
“Apakah ini saudara Kim Jongdae? Maaf mobil yang ditumpangi oleh saudara Amour Lee tertabrak truk dan terseret hingga menabrak pembatas jalan lalu masuk ke dalam sungai. Kemungkinan kecil untuk selamat. Diduga jika supir yang menyetir mobil saudara Amour Lee ternyata seorang narapidana yang sedang dicari oleh polisi. Awalnya ia ingin mencelakai saudara Amour Lee kemudian mencuri mobilnya, namun naasnya mereka celaka bersama.”
“Tidak! Tidak mungkin!”

Amour? Amour telah meninggal? Aku menangis. Memukul jalan yang beraspal hingga tanganku mengeluarkan darah yang menyatu dengan air hujan. “Aarrghhh!!” Aku berteriak dengan kencang, meluapkan segala yang ada di hatiku. Selama setahun semenjak kepergiannya, aku selalu seperti ini. Ingatanku datang kemudian pergi, menganggap Amour ada dan mengingat jika ia sudah meninggal. Kugenggam erat cincin yang masih berada dalam genggan tanganku.

“Chen-a, Kim Jongdae?” jangan lagi! Aku mohon jangan lagi! Aku berusaha tak ingin menatapnya. Entah mengapa, pikiranku seolah terpogram dengannya, dengan suaranya. Kepalaku seolah menoleh dengan sendirinya. Pikiran dan hatiku kembali berperang.

Amour, perempuan cantik itu. Melayang di tengah sungai han dengan sayap berwarna putih bercorak biru muda yang terpasang di punggungnya. Cahaya terpancar di sisi tubuhnya, hujanpun seakan tak dapat membasahi tubuh yang memancarkan cahaya itu. Ia melambaikan tangannya seperti menuntunku untuk datang ke padanya. Aku berjalan sedikit demi sedikit tanpa sadar, hingga aku merasakan air masuk dan memenuhi rongga pernapasanku. Aku tersenyum ketika melihat Amour yang juga ikut masuk ke dalam sungai untuk menolongku, tapi bukan aku seutuhnya, hanya rohku saja. Kali ini aku tahu jika ini jalan yang tersisa agar aku bisa bersamanya selamanya. Selama setahun aku depresi karena kehilangannya. Kini aku menggenggam tangannya, terbang menuju celah cahaya di antara tetes air hujan yang masih mengguyur kota Seoul.

“Mari kita menyambut kehidupan baru kita. Kamu tahu Amour? True love like a ghost, which everyone talk about and few have seen.”

Hujan turun mengikuti gravitasi. Menyapu debu dan memberi aroma kesegaran. Hujan turun untuk mempertemukan kita lima tahun yang lalu. Hujan kembali turun saat kita mencoba berpisah karena kesibukan masing-masing. Hujan kembali dan kembali turun saat aku melamarmu sekaligus kehilanganmu. Hujan kembali, kembali, dan kembali turun saat Tuhan kembali mempersatukanku denganmu, namun dengan dunia yang berbeda. Cinta tak peduli dengan di manakah mereka berada, siapa mereka, atau di mana mereka tinggal. Tidak ada penghalang selagi mereka saling mencintai dan membangun kepercayaan satu sama lain. Kita, Kim Jongdae dan Amour Lee telah ditakdirkan untuk bersama.

Tamat, keut!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s