[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Last September

myhome_10

[CHEN BIRTHDAY PROJECT]
“Last September” – Stardust.

Cast:
Chen
Mia(OC)

Kemarin lusa aku telah melakukan sesuatu yang benar-benar gila. Sangat gila. Aku memejamkan mata dan memikirkan segala hal yang sudah -terlanjur- kulakukan sejak kemarin lusa. Mataku terasa panas dan aku pun mulai menangis. Dampak dari perbuatan bodohku kini rasanya menamparku keras-keras. Siapa sangka mencium pipi idolamu yang kau ditemui ditengah kerumunan dapat membuatmu dibenci setengah juta gadis yg ada di muka bumi? Demi Tuhan aku berharap aku menghilang saat ini.

Sore itu keadaan kota Seoul ramai seperti biasa. Aku keluar dari minimarket setelah belanja beberapa keperluan. Aku berjalan sambil memainkan ponselku dengan sebelah tangan sedangkan tanganku yang satunya menggengam erat plastik belanjaan yang baru saja kubeli di minimarket. Karena tidak fokus, tanpa sengaja aku menabrak seorang pria bertubuh tinggi. Badanku yang kalah besar dengannya langsung terjatuh. Belanjaanku jatuh. Agak malu rasanya karna beberapa “keperluan wanita” yang kubeli terlihat dengan jelas karena jatuh dari plastik belanjaan yang baru saja kubeli.

“Ah– Maaf” ujar pria itu.
“Tidak..tidak apa. Ini salahku” ujarku sambil cepat-cepat memasukan barang-barang yg berserakan ke plastik belanjaan. Pria itu membungkuk membantuku memasukan barang-barang yang terjatuh. Pria itu memakai masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Hei.. tunggu. Rasanya aku mengenalnya. Matanya tidak asing bagiku. Rambutny memang tertutup topi, tapi aku kenal dia! Aku mengenalnya!
“Chen..?” Ujarku sambil setengah berbisik.
Senyumku mengembang menunggu jawabannya. Aku tahu pertanyaanku cukup retoris karna aku jelas tahu siapa dia sebenarnya. Pria itu membuka masker yang digunakannya.
“Anggap ini rahasia” bisiknya.
Aku mengangguk. Jantungku berdebar amat keras, terlalu senang. Tanpa sadar aku mencium pipinya. 2-3 detik setelahnya, kusadari apa yang baru saja kulakukan. Aku tak merasa bersalah karnanya. Siapa yang bisa-bisanya merasa menyesal/bersalah setelah berhasil mencium pipi idolanya? Walau begitu, suasananya mendadak berubah canggung. Chen membungkukan badannya lalu pergi. Aku melambaikan tangaku padanya. Ia pun hilang dalam kerumunan manusia yang ada diseberang jalan. Saat itu aku menganggap itulah hari keberuntunganku. Sungguh. Setidaknya, tidak sampai 12 jam setelahnya.

Sekarang aku tahu betapa jahatnya media. Foto disaat aku mencium pipi Chen tersebar di internet. Jika aku dapat menyadari penyamaran Chen saat itu, begitu pula sama dengan gadis-gadis lain diluar sana. Tak lama setelahnya, aku mendapat berbagai terror dan kecaman. Para fans itu mengecamku melalu media sosial yang kumiliki dengan segala kata yang dibuat sedemikian mungkin menyakitkan hati siapapun yang membacanya. Entah bagaimana mereka tahu media sosial yang kumiliki. Tapi aku tersadar dunia berkembang pesat menjadi seribu lipat lebih mengerikan karena adanya internet. Dan sampai hari ini aku tidak berani menginjakkan kakiku keluar rumah. Rasa takut dan sesal menhantuiku. Dan aku hanya mampu menangis. Malamnya setelah 2 hari sejak kejadian itu, seseorang memencet bel rumahku. (Sebelumnya, biar kuceritakan bahwa aku tinggal seorang diri. Ayah dan ibuku harus tinggal diluar negeri karena pekerjaan mereka.) Aku takut. Siapa yang ada didepan pintu rumahku? Aku terlalu takut. Akhirnya aku berjalan mengecek siapa yang ada didepan pintu rumahku. Aku melihat keadaan diluar melalui jendela kamar yang ada dilantai 2.
Diluar sana, terlihat seseorang berdiri didepan pintu rumahku. Dia laki-laki. Kulihat lagi dengan lebih seksama. Sebentar.. itu Chen! Ada sedikit rasa tenang yang datang seketika. Aku berlari ke lantai bawah dan segera aku membuka pintu.

“Maaf.. aku tahu ini sudah larut. Tapi sepertinya ada yang harus kita selesaikan.” Ujar pria itu. Nadanya tenang. Ekspresinya seolah mengatakan bahwa aku tidak harus panik dan takut dengan kejadian saat ini. Aku mengangguk dan membiarkanny masuk. Tak lama kemudian, Chen memulai pembicaraan.

“Aku yakin kau sudah paham dengan situasi saat ini. Dan aku perlu persetujuannmu untuk menyelesaikan masalah ini.” Ujarnya.

“Ya? Aku tidak masalah selama apa yang diputuskan saat ini dapat menyelesaikan situasi sekarang ini. Dan aku.. aku minta maaf.. sudah membuat situasi begitu kacau.. dan.. tolong jangan membenciku..” ujarku.
Aku malu. Aku telah berbuat sesuatu yang amat memalukan dan mempersulit orang yang ku idolakan. Aku menundukkan kepala sembari menunggu jawaban dari Chen.

“Bagaimana kalau kita berpacaran?” Ujarnya.
“Hah? Sebentar.. maksudmu? Seben..”
Chen memotong pembicaraan.
“Untuk meredam segala situasi yang ada, akan lebih baik kalau mereka mengira kau dan aku.. berpacaran bukan? Aku juga punya tanggung jawab untuk melindungimu. Ini cara satu-satunya.” Ujarnya.

Kurasa aku bisa gila

Chen berkata semua yang kami lakukan saat ini akan diakhiri suatu hari nanti. Aku mengerti betul keadaannya dan aku menganggukan kepala. Apa yang sudah kulalui saat ini merupakan sesuatu yang patut disyukuri -membayangkan bagaimana situasi sebelumnya berjalan begitu gila dimana “mereka” terus mengecamku sampai sampai aku merasa ingin mati-.

“Aku belum bertanya siapa namamu ya?” Ujar Chen sambil tersenyum. Dia bertanya seolah-olah aku bukan pembuat masalah yang sudah membuatnya susah sampai saat ini.

“Ah ya.. kau benar. Aku Mia” ujarku.

“Namamu bagus” ujar Chen.

“Terimakasih.. “ujarku bersikap semanis mungkin. “Kurasa aku harus pulang kerumah malam ini. Aku perlu mengambil beberapa keperluanku dirumah” ujarku pada Chen (aku tinggal bersama manager Chen selama ini)

“Ah biar kupanggilkan seseorang untuk mengantarmu” ujarnya

“Tidak! Tidak usah, sungguh. Ini sudah larut dan sepi, aku yakin tidak akan ada sesuatu yang buruk yang mungkin terjadi.” ujarku berusaha meyakinkan.
Chen pun mengangguk dan tersenyum. Aku pergi dengan segera dan memanggil taxi karena ingin sesegera mungkin sampai dirumah.

Sampai dirumah, aku berusaha membuka pagar. Sayangnya pagar tua ini sulit dibuka. Biasanya aku memang tidak pernah mengunci pagar karena pagar ini memang seringkali bermasalah. Tiba-tiba seseorang menghantam kepalaku. Pandanganku gelap. Disaat aku hampir terjatuh, aku merasa seseorang menopang tubuhku. Tak lama, aku benar-benar tak sadarkan diri.

Saat terbangun, aku sudah berada dikamarku. Pukul 11 malam. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi ketika aku melihat Chen tertidur ditepi ranjangku. Sekarang aku tahu siapa yang sudah menolongku saat itu. Aku mengusap kepalanya dan berkata lirih

“Kau tahu? Aku suka menonton tv dan aku berteriak setiap kali aku melihatmu ada di tv. Aku mengidolakan EXO semenjak aku berumur 15tahun. Aku menyukaimu karna suaramu. Dan senyummu.. ” ujarku sambil tertawa. “Aku malu tapi ini kesempatan sekali seumur hidup mengatakan hal ini pada idolamu, bukan?”

“Yah.. kuharap kau serius dalam hubungan ini.” ujar Chen. Matanya masih dalam kondisi terpejam.
Aku kaget. Jantungku berdetak sangat kencang. Apa aku baru saja menyatakan perasaanku? Yatuhan. Kulirik meja disamping tempat tidurku. buku diary ku terbuka lebar-lebar dihalaman terakhirnya, menandakan seseorang telah membacanya sampai habis. Aku mengambilnya secepat kilat dan membaca apa yg terakhir kali kutulis. 6 kata dengan huruf kapital itu mengehentikan nafasku. “AKU HARAP AKU DAPAT MENIKAHI CHEN” disampingnya tertulis tanggal hingga waktu kapan aku menulis diary tersebut. Aku yakin Chen membaca semuanya! Semua yang ada didalam diary ku! Bahkan segala delusi-delusi kotorku tentangnya. Ditengah kepanikanku, aku melihat ada tulisan kecil yang berada diakhir diary ku. Tertulis :

“Aku bersedia menikahimu, setidaknya sampai kau lulus SMA.

Tertanda

Chen (bebek)”

Aku menahan nafasku. Chen mencium keningku lalu pergi. Kepalaku berdenyut setelahnya, tapi rasa sakit itu rasanya tak sebanding dengan perasaanku sekarang ini. Aku pun terjaga hingga pagi. Malam itu adalah malam terindah yang pernah kulewati.

Esoknya Chen menjemputku pagi-pagi sekali. Ia bilang hari itu ia bebas dari jadwal dan akan mengajakku pergi. Butuh sekitar 15 menit bagiku untuk menyadari bahwa kami akan berkencan hari itu. Aku berpakaian sebaik mungkin dan menata rambutku. Ini penampilan terbaikku. Aku bahagia saat ini. Setelah siap, aku segera naik ke mobil Chen. Aku tidak tahu kemana ia akan membawaku pergi. Kepalaku penuh dengan pikiran tentanganya. Hingga dalam seketika sekelebat cahaya dari sebuah kendaraan besar mengaburkan pandanganku. Seketika aku merasa segala kebahagiaan yang kurasakan saat ini hilang begitu saja.

Aku terbangun disebuah kamar rumah sakit. Hal yg pertama kali kusadari adalah keberadaan Chen yang sebelumnya bersamaku. Aku mecoba berlari sambil tertatih. Kakiku terbalut perban dan aku tidak dapat berjalan dengan baik. Hingga seorang perawat menghampiriku dan mencegahku untuk tetap berjalan. Aku bertanya dimana Chen berada hingga seketika aku mendengar berita dari tv rumah sakit bahwa Chen sudah tiada.

Seminggu setelahnya, aku diizinkan keluar dari rumah sakit. Seorang perawat menitipkanku sebuah voice recorder yang diakuinya ditujukan untukku.

Rekaman itu berbunyi:

“Malam ini aku membaca sebuah diary milik seorang gadis yang pikirannya kotor luar biasa. Tapi sejujurnya aku tersentuh oleh setiap apa yg ditulisnya tentangku. Aku bersumpah aku tidak marah dengan kejadian sore itu dimana kau mencium pipiku. Rasanya seperti sebuah takdir ya dipertemukan seperti itu? Oh ya, besok aku akan mengajak si gadis itu kencan. Aku membayanngkan sosoknya yang saat ini tengah tersenyum mendengarkan rekaman ini. Dan sebelumnya, biar kuberitahu bahwa esok akan menjadi ulang tahun terbaikku mengetahui bahwa besok aku akan menghabiskan waktuku bersama dengan gadis yang kucintai. Mia. September kali ini membuatku sungguh bahagia”

Aku terisak mendengarnya. Kudekatkan bibirku pada recorder, sambil memejamkan mataku, aku berkata,
“Aku juga mencintaimu..

Mia”

-END-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s