[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Kim Jongdae — 4th WINNER

myhome_28

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Kim Jongdae – kim hyomi
Kim Jongdae | Kim Seojoong | Kim Daeul
Romance | Married life

Kim Jongdae. Jika bicara tentang orang ini, akan ada banyak sekali yang diceritakan. Siapa yang tidak mengenalnya? Dia populer, menjadi penyanyi solo yang punya banyak penggemar tentu saja menjadikannya dikenal banyak orang. Suaranya merdu, wajahnya tampan dan hatinya bak malaikat. Katakan siapa yang tidak akan terpikat padanya?

Aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Tentu saja, aku adalah wanita yang begitu beruntung menyandang marga Kim di depan namaku. Ya, aku istrinya. Namaku Kim Seojoong.
Kami menikah dua tahun yang lalu dan kami sudah dikaruniai seorang jagoan kecil yang amat menggemaskan, namanya Kim Daeul.
Ingin tahu bagaimana kami bertemu?

Kisah kami tak seapik kisah romansa dalam novel terkenal. Bukan pula seperti drama yang sering aku tonton. Kisah kami amatlah sederhana.
Kim Jongdae yang sibuk dengan dunia menyanyinya jatuh sakit. Dia harus dirawat di rumah sakit. Dan aku menjadi salah satu perawat yang beruntung karena aku ditugaskan untuk merawatnya.
Awalnya aku biasa saja karena memang aku tidak terlalu tertarik padanya. Aku hanya tahu dia seorang penyanyi dan dia tampan. Aku tidak pernah berpikir jika aku akan berakhir bersamanya.
Dia dirawat selama satu bulan, cukup lama karena memang kondisinya yang sangat buruk. Menjadi penyanyi terkenal ternyata amat menyiksa. Dia bahkan sering melupakan makannya. Aku heran bagaimana bisa dia bertahan dengan semua jadwal yang menyiksa itu.

Kami sering bertemu, tentu saja. Setiap pagi, siang dan malam kami pasti akan bertemu. Dia orang yang baik. Tidak salah dia punya banyak penggemar.

“Seojoong ssi, bolehkah aku keluar dari ruangan ini? Aku bosan.”

Bermula dari menemaninya ke taman, lalu kadang kami mengobrol ringan setelah aku selesai memeriksa keadaannya. Dari sanalah kami menjadi dekat. Ternyata waktu satu bulan bisa mengubah segala hal.

Kami mulai dekat. Saling bertukar nomor ponsel. Sering berkirim pesan dan sesekali menyapa lewat panggilan telepon. Dia dengan mudah membuatku nyaman. Dan tanpa sadar aku dan dia menjadi kami.

Banyak sekali hal yang bisa aku ceritakan tentang dia. Contohnya ketika dia baru saja pulang dari konser solonya.

“Sayang?” Aku menoleh mendapati seseorang memelukku dari belakang. Tentu saja aku tahu jika itu Jongdae, suamiku. Aku berbalik, masih dengan lengannya yang melingkar di pinggangku.

“Kau pulang?” Dia tersenyum lalu mengecup bibirku.

“Dimana jagoan kecil kita?”

“Di kamar, dia sedang tidur. Tadi dia demam.” Wajahnya langsung nampak khawatir.

“Aku akan melihatnya.”
Jongdae langsung berjalan cepat ke kamar putra kami. Aku mengikuti dari belakang. Rasanya benar-benar bahagia ketika melihat Jongdae mengusap kening Daeul. Jongdae berbisik di telinga jagoan kami lalu setelahnya mengecup kening Daeul lama.

“Dia hanya demam, sayang. Itu wajar karena dia baru saja diimunisasi.” Ucapku.
Jongdae tidak menjawab. Dia kembali memelukku dan mengecupi puncak kepalaku. Rasanya nyaman sekali.
“Aku merindukanmu.” Ujarnya.

“Aku juga merindukanmu. Lebih baik kau mandi, aku akan memanaskan makan malam untukmu.”

“Umm.”

Atau ketika dia bebas dari rutinitasnya sebagai penyanyi.

“Daeul jagoan appa!”
Rutinitas Jongdae ketika tak ada kegiatan adalah bangun pagi dan langsung menuju kamar putra kami. Jongdae akan menggendongnya lalu memutar tubuhnya membuat si kecil yang baru saja bangun tertawa senang.

“Kajja mandi lalu sarapan, hari ini kita akan jalan-jalan!”

“Ne appa.” Putraku akan menjawab dengan suaranya yang lucu.
Setelah mandi, Jongdae akan memakaikan Daeul baju. Menyuapi Daeul dengan bubur bayinya. Lalu setelahnya dia akan menciumi pipi Daeul hingga putra kami menangis. Kalau sudah begitu, Jongdae pasti menyerahkan Daeul padaku.

“Dasar tak bertanggungjawab.”
Dan dia hanya akan tertawa sambil berlari ke kamar mandi.
Lalu kita akan jalan-jalan. Entah hanya ke taman. Atau berbelanja bersama. Yang pasti kami akan menghabiskan waktu bertiga.
Saat malam, setelah Daeul tidur, Jongdae akan mengajakku menonton bersama. Bermodal televisi besar di ruang keluarga, cd film yang baru saja dia beli, lampu yang dimatikan dan selembar selimut.

“Ah, aku merindukanmu Seojoong-ah.”
Aku selalu tak bisa menahan rona diwajahku saat mendengarnya mengatakan hal seperti itu.
Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin aku ceritakan tentang Kim Jongdae ini. Tapi aku yakin tak akan cukup satu halaman untuk menuliskan cerita itu.

oh, aku jadi ingat ketika dia marah. Pernahkah kalian membayangkan Kim Jongdae marah? Akan aku ceritakan.

Saat ini aku masih mengandung Daeul. Usia kandunganku baru menginjak tiga bulan. Masih rawan kata dokter. Itu membuat Jongdae sangat menjagaku, lebih tepatnya mengekangku. Dia sangat berlebihan, bahkan aku menuruni tangga rumah kami saja tidak boleh. Alhasil, Jongdae memindahkan kamar kami ke lantai satu.
Aku kesal, tentu saja. Dan ketika dia pergi untuk melakukan rekaman album barunya, aku melakukan apa yang aku mau sejak awal kehamilan yang tidak pernah Jongdae turuti. Berbelanja!

Aku menghabiskan satu hari penuh untuk mengelilingi mall. Ponselku kubuat dalam mode silent. Aku tidak mau diganggu.
Aku pulang ketika matahari sudah terbenam. Dan aku terkejut ketika melihat Jongdae sudah berada di rumah. Dia bilang akan pulang agak larut, tapi sekarang baru pukul tujuh dan dia sudah berada di rumah. Wajahnya tampak kacau, kemejanya berantakan dan ketika melihatku dia langsung mendekatiku. Jelas sekali dia akan marah. Rahangnya sudah mengeras.

“Darimana saja kau?” Aku menunduk tak berani menatapnya. “Aku bertanya padamu Kim Seojoong! Apa kau baru saja pergi ke mall?”

Baru sekali ini aku mendengar Jongdae membentak. Dan dia membentakku. Bayangkan saja seorang Kim Jongdae membentak.

“Sudah kukatakan untuk tidak pergi kemanapun bukan? Dan apa kau tidak bisa mengabariku? Apa sulitnya menulis sebuah pesan? Dan kenapa kau tidak menjawab panggilanku?”

“Maaf.”
Jongdae hanya menghela nafas. Dia mengambil semua belanjaanku dan membawanya ke kamar. Selama satu minggu penuh dia mendiamkanku. Dia tidak bicara padaku.

Saat itu aku benar-benar merasa bersalah. Dan kalian tahu bagaimana kami bisa baikan? Aku sudah lelah meminta maaf dan membiarkan saja dia yang mendiamkanku. Dia lelah sendiri dan dia yang akhirnya minta maaf padaku. Manis sekali bukan?

Ah, sudah. Aku tidak akan bisa berhenti bercerita jika sudah begini. Tapi aku lelah menulis. Oh, Jongdae memanggilku. Baiklah, kita lanjutkan saja lain waktu. Aku harus menemui suami dan putraku. Terima kasih sudah membaca cerita kami.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s