[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Jongdae’s Child : Tingkah Anak Kesayangan Jongdae — 1st WINNER

myhome_6

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Jongdae’s Child : Tingkah Anak Kesayangan Jongdae

©Olivelee

Cast: Kim Jongdae as Daeyoung’s dad
Kim Daeyoung as Jongdae’s child

Other Cast: Oh Youngran
Lee Minji

Length: Oneshot

Genre: Comedy | AU | bit Romance

Rating: PG-15

Summary: Kali ini apalagi yang diperbuat Daeyoung untuk menjahili Ayahnya yang sedang ulang tahun?

Disclaimer: Fanfict ini semata-mata berasal dari imajinasi Olive. Tokoh yang berada dalam fanfict ini hanya Olive ciptakan untuk mendukung ceritanya.

Seorang anak laki-laki berumur 5 tahun perlahan terbangun lantaran mencium aroma kopi yang sampai ke kamarnya.

Lubang hidungnya bergerak kembang-kempis menghirup aroma yang sedap itu. Perutnya seketika berbunyi seolah ikut menyuarakan keinginannya untuk mencicipi walau hanya sedikit.

“Appa—” , ia memanggil Ayahnya sambil mengucek kedua matanya supaya tak mengantuk lagi.

“Appa— Daeyoung lapar.” ,ucapnya gemas karena tak kunjung disahut oleh Ayahnya. Kali ini, kedua kaki mungilnya beranjak turun dari kasur dan berjalan terseok-seok menuju sumber aroma yang membuatnya sangat lapar.

“Appa—” ,ucapnya merengek. Daeyoung berjalan menuju dapur sekarang. Mungkin Ayahnya berada di sana.

“Appa— aku lapar. Sangaaat lapar.” ,Daeyoung yang sudah kelaparan berucap manja pada Ayahnya. Oh, tenyata Ayahnya sedang membaca koran di kursi meja makan.

Daeyoung memberengut melihat Ayahnya. Bagaimana ia tidak kesal, Daeyoung lapar dan Ayahnya tak merespon apapun. Ia menghentakkan kakinya berjalan menuju Ayahnya sambil menepuk-nepuk perutnya lebih keras lagi.

“Appa— Jongdae Appa!! Daeyoung lapar. Perut Daeyoung harus mendapatkan makanan.” ,jeritnya kesal sambil melotot ke arah Ayahnya.

Jongdae menurunkan koran yang sedang ia baca dan segera melipatnya di atas meja. Ia tersenyum melihat putranya yang sudah memberengut kesal karena kelaparan. Jongdae sangat senang melihat raut kesal putranya.

Sambil tersenyum, Jongdae menepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan Daeyoung untuk duduk. Tapi Daeyong justru malah memalingkan wajahnya sambil mengerucutkan bibirnya. Alisnya mengerut dan pipinya memerah menggemaskan. Jongdae yang melihat kelakuan anaknya semakin tersenyum lebar.

“Ya sudah kalau Daeyoung tak jadi makan, Appa mau sarapan sendiri saja.” ,ucapnya menggoda. Namun, Daeyoung masih belum mau merespon perkataan Ayahnya. Ia masih melipat kedua tangannya kesal.

Jongdae bangkit dari kursinya kemudian ia berjalan menuju gantungan kayu yang terletak di sebelah pintu keluar rumah. Jongdae mengambil jaket coklatnya yang sengaja ia gantungkan di atas jaket merah biru milik Daeyoung.

Melihat Ayahnya yang sepertinya serius akan sarapan sendiri di luar, Daeyoung segera berlari kecil ke arah Jongde sambil bertanya, “Appa mau kemana?”

“Sarapan” ,jawab Jongdae singkat sambil melihat Daeyoung yang menatapnya penuh penasaran. Sedang tangannya masih sibuk menaikkan resleting jaketnya.

“Daeyoung ikut—” ,ucap Daeyoung tak sabaran.

Jongdae membungkuk untuk lebih mendekati Daeyoung dan kemudian mengelus puncak kepala Daeyoung dengan penuh kasih.

“Daeyoung sudah tidak marah lagi sama Appa?”

“Tidak! Daeyoung mau ikut Jongdae Appa makan di luar. Daeyoung sudah sangat lapar Appa—” ,ucapnya panjang lebar. Matanya yang lucu membulat ke arah Jongdae. Ia menatap Jongdae berbinar-binar karena sangat ingin dibelikan makanan yang lezat untuk menyingkirkan rasa lapar Daeyoung.

Jongdae tertawa melihat perubahan drastis kelakuan anaknya ini. “Ya, ya, baiklah. Ayo kita pergi makan.” ,ujarnya jenaka.

Setelah itu, Jongdae mengambil jaket Daeyoung yang tergantung kemudian memakaikannya pada Daeyoung. Sambil sibuk mengurusi Daeyoung, Daeyoung terus saja berbicara panjang lebar akan kemana hari ini setelah mereka makan di restoran.

Jongdae tertawa kecil mendengar keinginan putra kesayangannya itu. Setelah selesai memakaikan sepatu Daeyoung, Jongdae menggandeng tangan anaknya keluar rumah menuju mobil yang terpakir di halaman samping rumahnya. Tak lupa, ia juga mengunci pintu. Siapa tahu ia akan pergi lama.

“Daeyoung-a, jangan lupa berdoa dulu sebelum berangkat” ,kali ini Jongdae berucap bijak pada anaknya.

“Siap Appa!” ,jawab Daeyoung semangat. Dan setelah itu, ia memejamkan matanya sambil berdoa. Jongdae kembali mengelus kepala anaknya dan tersenyum sambil ikut berdoa. Dan… Ayo jalan.

Youngran dan pegawai toko lainnya memulai kesibukkan di pagi hari seperti biasa. Jam sebentar lagi menunjukkan pukul sembilan, artinya sebentar lagi toko akan dibuka. Tangannya sibuk merapihkan aksesoris serta letak manekin yang berjejer di jendela depan.

Oh, kali ini ada yang berbeda. Youngran juga membawa keponakannya ke toko dan sekarang ia sedang ikut merapihkan aksesoris yang ada di etalase meja ruangan.

“Youngran-ssi, bisakah kau balik tanda tutup tokonya? Aku sudah selesai mendata list barang kita” ,ujar salah satu pegawai toko.

“Ne!” ,jawabnya sambil segera meletakkan lap yang sedang ia pegang ke lemari di samping meja kasir. Setelah itu ia bergegas membalik tanda tersebut menjadi open —yang terlihat di luar toko.

Youngran menghampiri meja kasir kemudian menepuk pundak keponakannya. “Sudah selesai Minji-ya?”

Yang ditanya pun memutar kursinya ke arah Youngran dan mengangguk antusias. Minji sepertinya sangat senang diajak menjaga toko bersama Youngran. Sudah cukup sering Minji berada di sini.

Dan seperti biasa, Ibu Minji yang juga merupakan kakak Youngran pagi ini ada urusan penting sehingga Minji harus kembali dititipkan di toko Youngran. Tapi itu tak menjadi masalah bagi Youngran maupun Minji.

“Bibi, kapan Ibu akan menjemputku hari ini?

Youngran mengingat-ingat jam berapa kakaknya bilang akan menjemput Minji. Jari telunjuknya ikut mengetuk dagu runcingnya.

“Eum—mungkin siang nanti. Ibumu tak bilang apa-apa padaku.”

Hanya itu yang dikatakan Youngran setelah diingat-ingat memang kakaknya hanya menitipkan Minji dan tak mengatakan akan menjemputnya kapan. Mungkin kakaknya sangat terburu-buru sehingga lupa memberitahunya.

Minji kembali mengangguk-angguk kemudian ia turun dari kursinya. Berjalan-jalan mengelilingi toko Youngran.

Youngran mengangkat bahunya acuh kemudian beralih bekerja dibalik meja kasir. Mencatat pesanan kemudian mengangkat telpon yang baru saja berdering. Mungkin dari pelanggan yang ingin mengambil pesanannya hari ini.

Minji berputar-putar di bawah koleksi blouse wanita yang bergantung di atasnya. Rasanya menyenangkan sekali bermain di bawah sana. Kelakuan Minji juga mengundang tawa beberapa pegawai toko yang melewatinya. Gemas akan tingkah keponakan Youngran.

Minji yang mulai dihinggapi kebosanan akhirnya berjalan menuju meja kasir di depan. Melihat sedang apa Youngran sekarang.

Tadinya Minji ingin bergabung dengan Youngran, namun setelah melihat Youngran masih sibuk berbicara di telpon toko sambil mencatat sesuatu, Minji urung melakukan itu.

Ia pun memutuskan untuk melihat keadaan luar toko dari balik jendela besar di sebelah pintu masuk toko. Matanya sibuk bergerak-gerak menatap orang berlalu lalang melewati toko hingga maniknya melihat seorang anak laki-laki yang menarik tangan Ayahnya menyebrangi jalan menuju ke toko.

Minji antusias melihat mereka datang. ‘Yeay, akhirnya aku ada teman di sini.’ ,pikir Minji kegirangan.

Kakinya meloncat-loncat kecil sambil tetap melihat ke arah Daeyoung dan Jongdae ke sini.

Haha, tingkah Daeyoung yang memaksa Ayahnya untuk mampir ke toko Youngran selain menarik perhatian Minji juga menarik perhatian pejalan kaki yang juga ikut menyebrang jalan bersama mereka. Jongdae yang ditarikpun hanya bisa pasrah mengikuti Daeyoung sambil mengucapkan beberapa kali permintaan maaf karena mengganggu pejalan lainnya.

Jongdae sebenarnya malu diajak Daeyoung menemui Youngran. Karena sebenarnya Jongdae memang menyukai Youngran setelah beberapa kali datang ke toko Youngran. Kagum dengan sikap dewasa Youngran. Mungkin saja Youngran cocok menjadi Ibu Daeyoung.

Jongdae segera mengusir pemikiran yang dari tadi berkelana dalam kepalanya.

“Appa— ayo cepat. Aku merindukan Youngran noona. Apakah Appa tak merindukan Youngran noona juga?” ,tanyanya polos.

Telinga Jongdae seketika memerah mendengar pertanyaan Daeyoung. Jongdae salah tingkah tentu saja. Apa ia harus bilang pada Daeyoung?

Tanpa menunggu jawaban Jongdae, Daeyoung kini mendorong pintu masuk toko Youngran dan meninggalkan Jongdae yang langkahnya terhenti di depan pintu toko. Bingung harus bagaimana bertemu dengan Youngran.

Setelah berperang dengan perasaannya sendiri, ia memutuskan untuk memasuki toko. Ia melihat Daeyoung yang bercanda dengan Youngran dan Minji di dekat meja kasir.

Youngran yang menyadari kedatangan Jongdae menyapanya. Jongdae tersenyum ke arah Youngran. ‘Sangat cantik dan semakin cantik.’ ,pikir Jongdae.

Daeyoung pun yang melihat bagaimana Youngran dan Jongdae bertatapan segera berbisik ke arah Minji. Entah apa yang Daeyoung rencanakan, setelah itu Daeyoung menarik tangan Youngran menuju Jongdae.

“Appa—Youngran noona ingin aku dan Appa tinggal bersama Youngran noona supaya Appa dan Daeyoung tidak kesepian lagi.” ,ujarnya usil.

Youngran dan Jongdae kaget. Bedanya, Youngran melihat ke arah Daeyoung yang mengatakan hal yang tak pernah ia katakan pada Daeyoung walaupun Youngran menginginkannya. Sedangkan Jongdae menatap Daeyoung seakan ingin menggigitnya hidup-hidup karena mengatakan yang tidak-tidak.

Melihat keduanya yang hanya diam saja, Daeyoung berjalan ke belakang Jongdae. Minji yang melihat isyarat Daeyoung juga ikut mengendap-endap ke belakang Youngran.

Begitu mereka mengaba-aba sampai hitungan ketiga, baik Minji maupun Daeyoung sama-sama mendorong Youngran dan Jongdae sehingga terjadilah aksi berpelukan mesra dengan wajah yang hampir saja menempel jika mereka tidak menahannya.

“KABUUURR!!” ,teriak Daeyoung dan Minji berbarengan.

Meninggalkan Youngran dan Jongdae bertelepati memperjelas perasaan mereka.

“Selamat ulang tahun Jongdae Appa!” ,teriak Daeyoung dari kejauhan sambil tertawa puas.

.
.

End

4 thoughts on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Jongdae’s Child : Tingkah Anak Kesayangan Jongdae — 1st WINNER

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s