[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Gift From Heaven — 2nd WINNER

myhome_26

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Gift From Heaven – Shinshin

Cast : Kim Jongdae (Chen), Shin Haneul W L(OC)
Genre : Romace, Comedy
Rating : PG-17
Length : Oneshot

“Hal yang paling mengguncang duniaku adalah saat melihat dua buah garis berwarna merah, seperti garis finish yang aku nanti setelah berlari begitu panjang dan melelahkan.”

21 September 2016
Pukul 08 PM
Bali, Indonesia
Terlihat kerumunan penumpang yang baru saja mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali, Indonesia. Wisatawan dari luar negeri begitu dominan terlihat dibanding wisatawan lokal. Kerumunan keluarga, kerabat, ataupun agen pemandu perjalanan tak kalah banyaknya menyambut para penumpang yang datang.

Tepat malam ini, kisah bulan maduku dimulai. Setelah mencari jadwal yang lengang dari kata sibuk. Akhirnya aku bisa meminta cuti untuk pergi berbulan madu bersama istriku. Pada tanggal tujuh belas Agustus dua ribu lima belas, aku resmi melepas masa bujangku dan siap menjadi seorang suami yang bertanggung jawab terhadap istri dan keluarga. Pada hari itu juga aku secara sah memperistri seorang perempuan berdarah Korea Indonesia. Berusia dua puluh dua tahun, tinggi serratus enam puluh sentimeter, golongan darah A, memiliki kulit kuning langsat khas Indonesia, bermata sipit khas Korea, hidung mancung dan bibir tipis manis. Rambut hitam panjang bergelombang menjadi bagian yang paling aku favoritkan, apalagi jika ada efek blower yang membuat rambutnya berkibar seperti iklan shampo di televisi, hahaha.

Aku Kim Jongdae, laki-laki paling beruntung yang bisa memiliki istri seperti dia, Shin Haneul Wijaya Lestari. Semua orang memanggilnya Haneul. Kami bertemu dalam acara seminar di Seoul. Dan dari situlah kami mulai menjalin hubungan serius.

Sifat keibuan yang dimiliki Haneul tak pernah membuatku bosan untuk selalu mencintainya. Memiliki begitu banyak malaikat kecil padahal dia belum pernah melahirkan sama sekali. Bekerja keras melelang dana hasil karya nya dan memberikan dana itu kepada panti yang dikelolanya. Percayalah, bidadari itu ada dunia nyata, dan aku salah satu yang memilikinya!
_OooO_
Dalam lima belas menit kami sudah sampai di Aston Kuta Hotel. Kami sudah mendapatkan kunci kamar bernomor tiga nol lima. Haneul begitu sibuk merapikan barang bawaan kami sesampainya di kamar hotel. Seakan tiada lelahnya dia tetap mengurusku dengan baik.

“Sayang, kamar mandinya sudah siap.” Aku hanya mendengar suaranya saja, sepertinya dia habis mempersiapkan alat-alat mandiku. Oh sungguh sempurna wanita ini.

“Ya ampun! Hahaha!” Mataku seperti melihat hantu saat melihat dirinya sudah berendam di dalam bathtub yang dipenuhi buih dan kelopak-kelopak bunga mawar merah. Membuat serigala ini melonglong kegirangan. Tak akan ku buang kesempatan ini. Segera aku melepaskan kaos dan celana cargo pendek yang sedari tadi melekat di tubuhku. Seperti anak kecil yang bahagia ketika ingin bermain air, aku melompat ke dalam bathtub, membuatnya berteriak dan tertawa. Mungkin karena melihat tingkah lakuku yang kekanak-kanakan. Ah! Masa bodoh, pokoknya aku ingin dimanja malam ini. Muehehehe~

“Kau ini! Seperti anak kecil saja, menggelikan.” Dia memukul dadaku pelan, rambut dan wajahnya dipenuhi buih karena lompatanku tadi.

“Hehehe, habisnya siapa yang tidak senang, serigala diberi daging ya pasti dimakan.” Sementara itu aku menggodanya, tanganku sibuk membersihkan buih yang ada di wajah Haneul.

Saat ini dia sibuk menggosok punggungku. Dia merayuku karena aku marah, karena aku merasa ditipu! Dia berendam memakai baju berenang! Iya baju berenang! Menyebalkan! Dasar yeoja usil! Serigala itu marah karena daging yang diberikan adalah daging palsu, alot tak bisa digigit.

“Kita baru saja sampai, kau harus istirahat sayang.” Dia masih saja mengeluarkan kata-kata manisnya. Mana tahan aku. Sebenarnya mendengar suara lembutnya saja aku sudah luluh apalagi dirayu macam begitu. Aku lemah!

“Tidak! Aku selalu siap siaga 24 jam jika kau menginginkannya.” Aku bangkit dan segera membilas tubuhku, setelah itu memakai handuk dan pergi meninggalkannya. Selang beberapa menit Haneul keluar dari kamar mandi. Mukanya tertunduk.

“Sayang, kemari.” Aku memanggilnya dan memintanya duduk di atas ranjang tepat di sebelahku. Tak lama dia duduk, hanya diam yang kudapat.

“Bukan bulan madu seperti ini yang ku inginkan, aku ingin kita bersenang-senang, tertawa bersama, bahagia.” Masih tidak ada respon disana.

“Baiklah! Aku salah, aku kekanak-kanakan, tolong maafkan aku.” Aku menggenggam tangannya, mencium bibirnya pelan dengan susah payah.

“Apa kau siap menjadi seorang ayah?”

“Apa?” Pertanyaannya kembali membuatku bertanya.

“Ayah… apa kau siap menyaksikan tumbuh kembang anak kita nanti yang begitu luar biasa?”

Apa itu? Matanya berkaca-kaca, apa dia menangis? Tapi kenapa?

“Aku menikahimu, itu tandanya aku siap menjadi seorang suami dan tentu menjadi seorang ayah bagi anak-anak kita kelak.”

Arrgghh!! Aku tidak mengerti wanita, apa mereka begitu sensitif? Aku tidak tega melihatnya bersedih seperti ini, segera aku mendekapnya dalam pelukanku, mengusap rambutnya dan beberapa kali mengecup pucuk kepalanya.

“Selamat ya…dan selamat ulang tahun.” Kepalanya mendongak menatap mataku. Tepat di sebelah wajahnya ada benda aneh yang dia perlihatkan kepadaku. Tidak paham, aku mengambilnya dan memperhatikan benda itu dengan seksama.

“Ada berapa garis?” Tanya Haneul kepadaku, langsung saja aku jawab dua dan berwarna merah.

“Maksudnya apa itu?” Tanyaku heran. Dia hanya menggelengkan kepalanya, memaksaku untuk mencari tahu sendiri. Tanpa pikir panjang segera aku mencari makna dua garis merah itu di internet.

“Yak! Hahahaha! Kau? Sejak kapan?” Seperti ada jutaan kembang api yang meledak di dalam dadaku, ini lebih menggembirakan daripada saat Haneul menerima lamaranku.

“Emm sejak….”

“Diam kau! Aku bertanya padanya! Sejak kapan hah?! Berani-beraninya kau berdiam diri disana.” Aku segera memotong jawaban Haneul, aku menunjuk bayiku! Iya BAYIKU! Aaahhh Jongdae Junior, kau akan membuatku menjadi seorang ayah.

Haneul tertawa geli melihat tingkahku, kemudian dia membuat suara anak kecil dan menjawab jika bayi kami sudah berusia tiga minggu.

Aku memarahinya karena dia merahasiakan hal besar ini dariku, tiga minggu lamanya, aku bahkan tidak tau ada malaikat kecilku di perutnya. Bahkan kami melakukan perjalanan yang cukup melelahkan dari China.

“Maafkan aku, aku ingin memberitahukannya kepadamu, tapi… kita jarang ada waktu berdua, setelah pulang kerja kau langsung tidur bahkan kau bekerja kembali di rumah.” Kembali wajahnya tertunduk.

Oh tidak! Dia tidak boleh bersedih! Aku segera membungkuk meminta maaf kepadanya, saat ini pikirannya harus bahagia, hatinya tidak boleh bersedih sedikitpun, usia kandungannya baru tiga minggu, aku tidak ingin menyesal.

Haneul setengah duduk, sementara aku tidur memeluk pinggangnya, menatap lekat-lekat perutnya, belum terlalu menonjol, tapi aku bisa merasakan kehidupan di dalam sana.

“Nama apa yang akan diberikan?” Haneul membelai rambutku yang masih agak basah.

“Tentu saja Jongdae Junior.” Aku mengusap perutnya sesekali menciumnya gemas.

“Apa? Bagaimana jika dia perempuan?” Haneul seketika menjambak rambutku, menariknya kebelakang, membuat kepalaku mendongak menghadap wajahnya.

“Akh! Iya… iya… lepaskan dulu, sakit.” Aku meringis kesakitan. Kemudian dia kembali mengelus rambutku, dasar wanita!

“Kau tahu, konon katanya jiwa-jiwa yang baru, berasal dari sebuah pohon di surga, malaikat membawanya dan kemudian memasukannya kedalam perutmu yang berisi janin.” Sementara itu telunjuk-ku menuliskan nama di perutnya.

“Kim Haneul, Keemasan di Surga.” Aku melanjutkan ucapanku.

“Mwo? Haneul?” Nadanya sedikit tidak senang.

“Memang kenapa? Kau takut tersaingi?” Aku meledeknya habis-habisan.

Aku mensejajarkan tubuhku dengannya, berdebat tentang nama anak, padahal jelas-jelas kami belum tahu apakah anak kami laki-laki atau perempuan. Sesekali mencuri ciuman darinya, karena untuk kedepannya aku harus lebih bersabar dalam menahan keinginanku.

“Nah sudah malam, agi (baby) dan Ibunya harus beristirahat.” Aku menutupi tubuhnya dengan selimut. Haneul benar-benar terlihat cantik. Jika tidak sedang hamil mungkin aku sudah khilaf malam ini.

“Terima kasih sayang, karena telah menjaga diriku dan juga bayi kita, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik.” Aku mencium mesra bibirnya, sayang sekali untuk melepasnya.

“Kau bisa menengok anak kita kok.” Ucap Haneul saat melepaskan bibirnya dariku.

“Apa? Serius?” Semangat bukan main saat mendengar ucapan Haneul.

“Ya… setelah bulan ke empat, kukira begitu hahahaha.” Tertawanya sangat lepas.

Menjengkelkan kenapa dia suka sekali mempermainkan serigala! Tapi aku lega mendengar suara tawanya. Aku ingin dia selalu bahagia saat bersamaku.

Ya Tuhan, aku tidak mengira jika kau menghadiahkan sesuatu yang sangat besar seperti ini. Hadiah dari surga. Tahun ini tidak akan pernah aku lupakan, dimana Engkau mempercayakan seorang anak kepada kami, khususnya kepadaku. Akan aku jaga dia segenap jiwa. Sehatkanlah selalu istriku dan anakku, tanpa mereka, semua usahaku sia-sia. Aamiin. Setelah mengucapkan Do’a, aku mematikan lampu kamar, memeluk Haneul dan meletakan tanganku di perutnya. Aku akan menjagamu sedari kecil nak.

Bulan madu kami pun kami nikmati bersama-sama, ke pantai-pantai yang ada di Bali, melihat atraksi tari kecak dan upacara budaya lainnya, kami harus memanfaatkan waktu kebersamaan kami. Karena setelah satu minggu kami harus kembali ke rutunitas seperti biasanya.
Sembilan bulan kemudian

Pada tanggal 17 Agustus 2017. Putri kami, Kim Haneul Wijaya Lestari lahir ke dunia ini dengan cara normal. Walaupun lebih cepat dari perkiraan dokter tapi syukurlah kondisinya dalam keadaan sehat dan sempurna. Kurasa dia ingin segera bertemu dengan ayahnya. Aku begitu terharu saat menyaksikan perjuangan Haneul, bahkan aku hampir jatuh pingsan saat melihat begitu banyak darah. Kini kebahagianku telah sempurna. Terima kasih Tuhan.

End.

One thought on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Gift From Heaven — 2nd WINNER

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s