[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Coming Back Home

myhome_5

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Coming Back Home

Author : Andnsa

Cast : Chen, Xiumin

Genre : Friendship, (slightly) angst

Rating : G

Chen baru saja mati.

Atau setidaknya itu yang ia duga.

Ia selalu mengira dirinya hidup di antara kemewahan dunia yang tidak pernah padam. Di antara pekikan penggemar, tumpukan hadiah, gemerlap industri musik, dan teman-teman setimnya yang luar biasa hebat, Chen tak bisa lebih hidup lagi daripada ini.

Atau setidaknya itu yang ia duga.

Selama ini, Chen menganggap Sang Penguasa Semesta begitu berbaik hati memberinya semacam serentetan keberuntungan yang tak henti. Masuk menjadi salah satu trainee di agensi terbesar di Korea, salah satunya. Disusul singkatnya perjalanannya sebagai trainee yang mengundang decak kagum dan perasaan iri, kemudian EXO menjadi pendamping namanya yang tak pernah luput dari mulut setiap insan di dekatnya.

EXO Chen lahir pada tanggal 21 bulan Februari tahun 2012. Lantas, memutuskan mati hari ini, detik ini, kapan pun waktu yang kalian inginkan.

Yang kemudian menyisakan Kim Jongdae. Laki-laki penuh mimpi yang menghela napas untuk pertama kalinya pada tanggal 21 bulan September tahun 1992. Tertanam di lubuk hati Chen yang terdalam, menanti waktu untuknya kembali hidup.

Kini Chen sudah tiada. Sudah semestinya Kim Jongdae yang bangkit saat ini.

Atau setidaknya itu yang ia duga.

*

Mungkin mereka tidak melihatnya, tapi Xiumin tak bisa berpura-pura tak melihatnya.

Malam itu ia baru saja mengisi gelas dengan air dan hampir menegaknya ketika siluet Chen tanpa sengaja masuk ke pandangannya. Xiumin mengernyit, menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari lalu pada bayang tubuh Chen di balik tirai balkon yang berkibar pelan tertiup angin. Xiumin memiringkan kepala ke kanan;

“Chen? Sedang apa?”

Ia memutuskan untuk menghampirinya. Setelah menegak habis air dan meletakan gelas kotor ke bak cuci piring, Xiumin melangkah mendekati temannya. Kepalanya sudah dipenuhi serangkaian kata-kata nasihat seperti angin malam sama sekali tidak baik; besok kita ada jadwal pagi-pagi sekali, jangan bergadang, kita butuh tidur; kita tidak butuh ocehan Suho di pagi hari nanti hanya karena salah satu dari kita kesiangan. Namun sayangnya nasihat bukan yang dibutuhkan Chen saat ini.

Xiumin tahu-tahu menghentikan langkahnya. Matanya tatkala berubah sendu ketika menyadari Chen tengah menangis. Terisak pelan, memastikan tak ada teman-temannya yang terganggu karenanya. Tubuhnya bersandar pada pagar balkon yang dingin. Kedua tangannya terlipat, kepalanya menunduk walau kadang mendongak sekadar usaha kecil untuk menghentikan air matanya yang, tentu saja, berakhir sia-sia.

Xiumin merasa terkejut. Tapi untuk satu hal yang tak bisa dipahami, ia merasa lega. Ia terkejut melihat Chen menangis sedini hari ini di balkon, tapi ia juga merasa lega karena ternyata, bukan hanya ia yang tak kuasa menahan emosi yang bergulat di suatu tempat di dalam hati.

Sudah hampir tiga bulan mereka di Cina, melakukan berbagai promosi album terbaru mereka. Namun baru kali ini Xiumin mendapati temannya menangis.

Xiumin mungkin tidak benar-benar tahu apa yang sedang berkecambuk pada Chen. Tetapi harus Xiumin akui, sedikit-banyak ia paham apa yang sedang terjadi pada teman karibnya itu. Maka, atas nama persahabatan yang terjalin di antara keduanya, Xiumin diam-diam kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponselnya dari atas nakas lantas men-dial nomor seseorang.

“Yeobeoseyo?”

“Hai, ini aku, Minseok.”

“Minseokie?”

Xiumin kembali membuka pintunya sedikit. Menyisakan celah di mana ia bisa melihat siluet Chen yang masih terisak. “Datanglah ke Cina, besok. Jongdae membutuhkanmu,”

Seberapa besar pun usahanya untuk berpura-pura tak melihat, Xiumin tetap melihatnya.

*

Hari ini, entah kapan tepatnya hari ini, Chen dapat merasakan dirinya mati.

Atau mungkin itu hanya keinginannya semata. Karena seberapa kuat ia membunuhnya, Chen tetap terasa hidup. Meski ia berhenti memberinya napas, meski ia sebisa mungkin melumpuhkan perasaannya. Chen tetap di sana. Hidup.

Chen menghembuskan napas panjang. Boarding lounge dalam situasi ramai saat ini, meski jam digital di sudut FIDS—flight information display system—menunjukkan pukul sebelas malam. Entah karena bandara memang selalu seramai ini atau kemunculannya di sana penyebabnya. Yang kedua itu kemungkinan yang paling besar benar.

Chen merentangkan tangan, mengulet sambil menguap lebar. Bodo amat kalau para perempuan yang tak berhenti mengambil fotonya di sana itu terkekeh geli atau sebagainya. Ia hanya lelah. Manusiawi, kan?

“Chen, tunggu di sini sebentar. Aku harus mengangkat telp—halo? Iya? Benar. Tapi kemarin aku sudah—” dan seperti itu bagaimana manajernya pergi meninggalkannya sendirian di boarding lounge. Teman-teman setimnya masih dalam perjalanan ke bandara, sumber informasi dari manajernya. Tapi ini hampir setengah jam, dan mereka belum juga muncul.

Hanya butuh waktu tiga detik sebelum bosan mulai melandanya. Ia sempat mengecek ponselnya tapi kembali jenuh karena tidak menemukan yang menarik di sana. Ia lantas memperhatikan sekelilingnya. Beberapa penumpang tampak lelah menanti keberangkatannya, namun tak sedikit juga yang terlihat luar biasa semangat, menanti petualangan yang menantinya.

Di titik-titik lain, Chen melihat segerombolan pramugari berparas cantik melewatinya. Berbisik-bisik seru dengan tubuh semampai dan ketukan heels. Belum lagi mereka yang baru saja mendarat, berlarian menghampiri keluarga yang menjemput. Sebagian menangis, sebagian menyeringai sumringah. Sementara di sisi lain Chen juga melihat mereka yang harus dipisahkan jarak. Tampak kesulitan melepaskan genggaman tangan, menahan air mata yang pada akhirnya bergulir juga, dan pelukan terakhir.

Tapi Chen juga melihatnya. Orang-orang yang sudah kelewat biasa berpergian dengan pesawat. No emotion attach. Sama seperti dirinya.

Chen lagi-lagi menghembuskan napas. Ia bersandar, menoleh pada jendela bandara yang berhadapan langsung dengan apron bandara. Sebuah pesawat baru saja mendarat di kejauhan. Chen tak sempat membaca logo pesawat di ekornya tapi ia tidak begitu peduli.

Kapan terakhir kali Chen merasakan ‘sesuatu’ ketika memasukki bandara? Rasanya sudah terlalu lama. Ia ingat bagaimana dulu ia selalu merasa sedih ketika harus meninggalkan Korea, rumahnya. Ia ingat bagaimana bahagianya ia saat kembali ke sana, mendengar orang-orang berbicara bahasa ibunya, bahasa rumahnya. Tapi setelah sekian tahun menjadi seorang Chen, pulang-pergi menggunakan pesawat berkali-kali, bandara bukan lagi tempatnya merasakan ‘sesuatu’.

Tapi hari ini berbeda. Ia merasakannya. Ia merasakan rasa rindunya membuncah tak tertampung. Ia merindukan Korea. Ia merindukan rumah. Rumahnya.

Oleh karena itu, ia menganggap Chen baru saja mati. Karena seorang Chen, sudah tidak bisa merasakan ‘sesuatu’ seperti rindu lagi, sekian lamanya. Yang ada hanya Kim Jongdae. Yang seumur hidupnya dihabiskan di rumahnya, bersama orang tuanya, teman-temannya, orang-orang tersayangnya. Bukan Chen, yang hidupnya tak lebih dari satu bandara ke bandara lain.

Chen mendadak terisak. Sadar ia sedang di antara orang banyak, belum lagi penggemarnya yang akan mencemaskannya, Chen menguatkan diri. Ia mengerjapkan matanya, mengusap air mata di sudut matanya, lalu berusaha tegar. Ia berdeham sebelum kemudian mengubah posisi duduknya yang tak nyaman.

Ketika ia sedang melakukan itulah dia masuk ke pandangannya.

Dia berdiri di sana. Datang dari pintu kedatangan pesawat yang baru saja mendarat. Chen awalnya tidak percaya, yang lantas membuatnya perlahan berdiri. Dia masih di sana, tersenyum, memberikan Chen kekuatan. Ia kemudian mengambil selangkah maju untuk melihat dia lebih baik, menduga delusi sudah mengambil alih otaknya. Tapi dia tetap di sana. Masih berdiri. Masih dengan senyum yang sama.

Setelah yakin ia tidak berdelusi, Chen mulai terisak. Ia berlari mendekatinya, menyambut baik kedua tangan dia yang terentang. Kemudian Chen memeluknya, menangis sejadinya, sama sekali tak memedulikan orang-orang di sekelilingnya. Chen hanya menangis. Memeluk rumahnya yang baru saja datang menghampirinya. Mengapa rumahnya ada di sini, Chen bertanya. Tapi jawaban itu sudah terlintas di benaknya.

Rumahnya tak pernah meninggalkannya.

Karena rumah adalah satu-satunya alasan untuk seorang Kim Jongdae tetap hidup.

*

Kim Jongdae baru saja hidup kembali.

Dipelukan rumahnya yang hangat, disela-sela isak tangis bahagianya yang tak terbendung.

Xiumin melihatnya.

Esok, Chen juga akan kembali hidup. Di antara pekikan penggemar, tumpukan hadiah, gemerlap industri musik, dan teman-temannya yang luar biasa hebat. Karena itu adalah sumbu nyawa seorang Chen. Tidak kurang dan tidak lebih.

Dan, Xiumin akan melihatnya.

Xiumin, dan kalian.

Setidaknya itu yang bisa diduga.

END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s