[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Bittersweet

myhome_14

BITTERSWEET

Cast : Kim Jongdae, Kim Yoon Ra, Byun Baekhyun, Kim Jong In
Genre : Friendship, School-life, Hurt
Rating : General

“Aku terjebak dalam nostalgia cinta yang suram. Ini semua memang salahku. Tidak seharusnya kenyataan ini terjadi. Hidupku terasa sepi karena kecerobohanku sendiri. Maafkan aku, aku terlalu jahat padamu. Andai, semua itu terulang kembali.
Namun tetap saja, ANDAI….”

Seorang pemuda memandang coffee latte di tangannya dengan tatapan kosong, seolah sedang menerawang sesuatu yang mungkin dapat membuat dirinya merasa menyesal dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Tergambar jelas di raut wajahnya jika ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting baginya. Sesuatu yang telah lama hilang dan sampai sekarang pun ia bahkan belum menemukan dimana keberadaannya.

Pemuda bernama Kim Jongdae itu hanya bisa diam membeku. Tak peduli bagaimana dinginnya udara sore ini. Tak peduli bagaimana orang-orang yang berlalu lalang memandangnya dengan tatapan aneh. Pemuda itu sama sekali tidak peduli. Wajahnya yang manis nan teduh itu, kini menjadi muram. Bibirnya bergetar. Ia menangis. Pemuda tampan bernama Kim Jongdae itu bahkan sudah lupa kapan ia terakhir tersenyum, atau mungkin tertawa lepas sekalipun.

Bahkan di saat salju pertama sore ini turun, dirinya masih berharap dengan gadis itu. Berharap jika gadis itu akan muncul dengan tiba-tiba di hadapannya. Mengembangkan sebuah senyuman manis yang telah lama ia rindukan. Itu mungkin sebuah pemikiran yang bodoh, dan sungguh mustahil jika hal tersebut terjadi.

“Yoon Ra-ya hentikan!” umpatku sedikit sebal karena kelakuan gadis yang biasa ku panggil Yoon Ra ini. Karenanya, bahkan sketsa yang ku buat dengan hati-hati menjadi berantakan. Konsentrasi yang ku kumpulkan dengan susah payah kini kabur entah kemana. Dia sangat menyebalkan. Tetapi, entah kenapa aku sangat menyukainya disaat dia tertawa seperti ini. Yoon Ra, dialah gadis yang berhasil memikatku selama ini.

Selesai membuat sebagian sketsaku, aku berencana untuk mengistirahatkan jari-jariku yang merengek kelelahan. Sebentar lagi natal tiba dan Yoon Ra mengajakku untuk merayakan natal bersama. Kami membuat janji untuk saling bertemu di bawah pohon sakura yang tak jauh dari rumahku maupun rumah Yoon Ra. Dan itu berlaku juga setelah kami masuk universitas dan menjadi mahasiswa. Tahun ini memang adalah tahun terakhirku bisa bersama-sama dengan Yoon Ra di bangku SMA. Ini adalah hal yang paling tidak kusukai.

Aku duduk di sebuah bangku taman yang tak jauh dari pusat kota Seoul ini. Memandang banyak orang yang berlalu lalang lewat di hadapanku. Seseorang menyodorkan secangkir cokelat kepadaku. Aku mendongakkan kepalaku sejenak sebelum menerimanya. Mataku membulat seketika saat mendapati siapa yang tengah di hadapanku sekarang ini. Tapi, hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya keluar dari mulutnya. Siswa berkulit tan bernama Jong In baru saja menyatakan cinta padanya. Sial! Kenapa aku bisa melupakan hal yang satu ini. Aku bahkan lupa jika Yoon Ra sudah mengagumi Jong In semenjak pria berkulit tan itu pindah ke sekolah kami. Aku benar-benar bodoh.

Seketika jantungku terasa lambat untuk berdetak. Jari-jari tanganku mulai mengepal meremas ujung mantelku dengan kasar. Aku hanya menahan air mataku sebisa mungkin sekarang ini. Tidak mungkin aku menumpahkan semua kesedihan dan kekesalanku di saat Yoon Ra sedang bahagia merasakan binar-binar indahnya cinta yang baru saja ia dapat dari pria bernama Jong In itu. Pria yang selama ini telah mencuri hatinya. Aku hanya bisa tersenyum pahit mengetahui kenyataan menyakitkan ini.

Setelah pertemuanku dengan Yoon Ra kemarin sore, aku jarang sekali menemuinya bahkan untuk makan di kantin bersama saat jam istirahat sekolah. Aku lebih sering menghabiskan waktuku di ruang musik, bernyanyi dan memainkan piano atau sesuatu di sana untuk menghibur diriku sendiri. Tanpa kusadari selama permainan jemariku tadi ternyata ada seseorang yang tengah memperhatikanku. Dan orang itu adalah orang yang sedang aku hindari selama beberapa hari ini. Kurasa aku sudah menjadi orang yang kejam saat ini. Maafkan aku Yoon Ra karena harus bersikap seperti ini padamu. Tapi bukankah di sini aku yang lebih menderita? Bukankah aku yang sangat terluka ketika aku harus melihatmu dengan pria itu? Pria yang telah merebut kau dariku. Pria yang bahkan tidak mengenal dirimu lebih jauh. Kurasakan tangannya mencoba menggenggam lenganku. Aku tidak menoleh sedikitpun kepadanya. Jujur saja aku ingin memeluknya saat ini dan meminta maaf karena telah bersikap dingin padanya. Tapi aku harus bisa menahannya saat ini.

Yoon Ra hanya diam saja. Aku masih bisa mendengar isakannya yang menyedihkan, memohon padaku untuk menjelaskan perubahan sikapku beberapa hari ini padanya. Aku masih diam mematung berusaha untuk tidak menggubris kata-katanya. Tapi tetap saja aku tidak bisa. Dia bahkan memegang lenganku lebih erat, hingga aku membentaknya. Dengan refleks Yoon Ra melepaskan pegangan tangannya. Ia merasa terkejut dengan apa yang baru saja ku lakukan. Aku membentaknya. Aku membentak orang yang aku cintai. Sekali lagi aku merasa terluka jika harus bersikap seperti ini kepadanya. Oh Tuhan hukumlah aku sekarang jika kau berkenan. Aku menghirup udara di sekelilingku dengan kasar kemudian menghembuskannya asal. Aku memutuskan akan ke Tokyo besok lusa. Aku yakin dia tidak akan keberatan, kan?

Dua tahun sudah berlalu. Rasanya aku tidak sabar untuk kembali ke Korea. Aku rindu dengan suasana di sana. Hari ini tepat sekali dengan malam natal. Berbicara soal natal, aku jadi teringat janji antara aku dengan Yoon Ra dulu. Tahun lalu, kusempatkan diriku untuk pergi ke tempat tersebut tepat di malam natal. Namun, sepertinya gadis itu benar-benar melupakan janjinya. Aku menunggu hingga pagi menjelang, tetapi dia juga tidak menampakkan batang hidungnya. Sejak saat itu aku jadi yakin, jika dia sudah tidak mengingatku lagi. Sungguh, aku tidak ingin menangis lagi sekarang.
Secangkir hot chocolate menemaniku menikmati sore menjelang malam natal tahun ini. Aku memandang ke luar jendela kaca mengamati orang-orang yang bersuka cita ingin menyambut malam natal. Aku menoleh, karena seseorang sepertinya tengah duduk di depan kursiku. Wanita itu tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dengan ragu. Siapa sebenarnya dia?

“Jong-ah, kau benar-benar tidak mengingatku?” ucapnya lagi. Tunggu dulu. Hanya ada satu orang yang akan memanggilku seperti ini. Tapi apa benar? Aku menebak dengan ragu. Dengan gerakan spontan aku segera memeluknya erat sekali. Aku sangat bahagia saat ini. Bahkan aku tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata kias sekalipun. Kami saling berbagi cerita satu sama lain. Ini yang telah lama ku nantikan semenjak kami memutuskan persahabatan kami saat duduk di bangku SMA. Aku sempat merasa canggung ketika harus membahas cerita itu. Karena sampai sekarangpun aku masih sama seperti Jongdae yang dulu. Masih mencintai Yoon Ra. Dan aku berharap setelah ini kita akan bisa bersama-sama kembali.

“Yoon Ra, maaf”

“Kau tak perlu meminta maaf padaku. Aku tahu semuanya. Jong In adalah pria yang jahat. Dia hanya ingin memanfaatkanku menjadi taruhan. Kau mengerti?” kedua tangannya menangkup kedua pipiku. Aku benar-benar menjadi kikuk dibuatnya. Jantungku kembali berdetak tak normal. Ia melepaskan tangannya dari wajahku. Dan kini wajahnya berubah dari yang sebelumnya. Raut wajahnya berubah menjadi sedih. Untuk kedua kalinya aku melihat Yoon Ra menangis. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba seorang pria datang dari balik pintu kafe ini. Pria yang tingginya terlihat sama denganku. Dia juga tampan. Pria itu melihatku beberapa saat, kemudian tersenyum ramah padaku. Yoon Ra berusaha menunjukkan senyumannya yang riang. Tapi aku bisa melihat itu adalah sebuah senyuman terpaksa.

Tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi? Pria itu..memanggil Yoon Ra ‘chagiya’. Apa maksudnya? “Yoon Ra, kau bisa menjelaskan semua ini? Siapa pria tadi? ” tanyaku. Yoon Ra mulai menyodorkan sesuatu berbentuk persegi dengan pita berwarna pink yang sangat manis. Aku segera mengambil benda tersebut dari tangannya. Kulihat dengan seksama. Dan..

Aku kembali menatap wajahnya yang masih tampak sedih dan juga takut. Kedua mataku mulai memanas dan pada akhirnya setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk mataku. Tanganku bergetar meyentuh benda tersebut. Kau tahu apa isinya? Itu adalah undangan pernikahan antara Yoon Ra dengan pria bernama Byun Baekhyun. Pria yang tadi tersenyum padaku.

“Aku akan segera menikah dengan Baekhyun. Kami berdua dijodohkan, dan kami tidak bisa menolaknya. Kami bertunangan pada malam natal tahun lalu. Itulah alasan mengapa aku tidak menepati janji itu. Meskipun aku tidak tahu jika kau benar-benar akan datang ke sana. Maafkan aku. Mungkin ini begitu mengejutkan dan tentu saja menyakitkan.” Jelas Yoon Ra. Ia menundukkan kepalanya dalam. Aku masih terdiam mematung. Lidahku rasanya kelu, bahkan untuk mengatakan hal kecil sekalipun.Sekarang hanya aku yang tersisa. Aku benci dengan semua ini. Mengapa harus aku?

Aku berjalan sendiri di jalan yang gemerlap ini. Semua terlihat begitu bahagia. Dua tahun yang lalu adalah natal yang menjadi penyesalan bagiku. Kemudian di tahun berikutnya, aku bahkan hampir melupakannya. Aku selalu mencoba memikirkan tentangmu, yang selalu ada seperti udara. Bodohnya aku yang melepasmu begitu saja waktu itu Kim Yoon Ra. Maafkan aku, aku terlalu jahat padamu. Setelah waktu berlalu, faktanya kau begitu berharga.

Kulihat salju mulai turun di malam natal yang menyedihkan ini. Aku hanya bisa menatap nanar sebuah cincin yang tadinya ingin kuberikan kepada Yoon Ra sebagai hadiah natal sekaligus untuk mengungkapkan seluruh isi hatiku. Tapi kurasa ini semua tidak berguna. Aku sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk itu. Mungkin seharusnya memang seperti ini. Air mataku kembali menetes layaknya butiran salju yang turun malam ini. Andai aku bisa memutar waktu. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi. Mulai saat ini mungkin aku akan melupakannya.

end

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s