[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Akai Ito

myhome_3

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Akai Ito – haneul88
Cast : Kim Jongdae, Kim Jongin
Genre : Brothership
Rating : G


Akai Ito

Akai ito, apakah kalian pernah mendengar itu? benang merah takdir. Bagaimana kita bisa dipertemukan dengan seseorang yang tak pernah kita temui sebelumnya, atau bahkan seseorang yang telah bertahun-tahun meninggalkan kita. Salah satu jari kelingking tangan ada sehelai benang tipis berwarna merah yang tidak terlihat, benang tersebut sudah terjalin dengan jari kelingking jodoh kita. Dan benang itu tak akan pernah putus, benang itu selalu abadi mengikat dua insan yang terhubung itu.
Mungkin banyak orang beranggapan bahwa benang merah takdir itu mengikat kita dengan pasangan kita yang entah berada dimana saat ini. Namun menurut Jongdae, ketika kita dipertemukan dengan seseorang yang kita sayangai yang telah menghilang begitu lamanya, meskipun itu bukan pasangan kita, namun tetap saja Jongdae menganggap bahwa mereka telah terkait dengan benang merah tipis itu.
Kisah bermula dari sebuah kota padat penduduk yang merupakan Ibu Kota Negara Republik Korea Selatan. Seoul, tempat cantik yang memiliki pesona tersendiri yang tak kasat mata. Berada di pinggiran kota, seorang Pemuda tampak berjalan santai dengan sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya di MInggu pagi yang cerah ini. Meskipun auranyaterlihat begitu tenang, namun itu hanyalah yang terlihat, bukan sesungguhnya.
Pemuda itu adalah Jongdae, pemuda keturunan asli korea, tinggal di apartemen kecil yang berada di pinggiran kota jauh dari hirup pikuk kemacetan lalu lintas yang padat. Ia tinggal seorang diri. Kedua orang tuanya memutuskan bercerai di umurnya yang 10 tahun kala itu. Ia dan adiknya, Kim Jogin terpaksa di rawat oleh kakeknya di karenakan kedua orangtua mereka tidak ada yang mau merawat mereka. Lima tahun setelahnya, kakek mereka berpulang kepada Tuhan Yang Maha Esa di atas sana. Kim Jongdae dan adiknya hidup berdua. Jongdae rela menghabiska waktu belajarnya setelah pulang sekolah dengan kerja part-time di salah satu café yang terpaksa mau menerimanya karena faktor kasihan terhadap pemuda itu.
Semua berjalan lancar, hingga suatu malam ketika Jongdae pulang dari kerja paruh waktunya, ia tak menemukan Jongin di rumah. Adik lebih muda 2 tahun darinya itu entah bak hilang ditelan bumi. Ia mencari-cari ditempat Jongin biasa bermain dengan teman-temannya, namun Jongdae tak kujung menemukannya. Bahkan esoknya ketika pagi hari datang, bahkan hingga matahari mulai tenggelam, tanda-tanda kehadiran Jongin tak juga terlihat. Ia bertanya kepada banyak orang yang ia temui, namun hasilnya nihil. Mereka saling menggelengkan kepala seakan mereka telah sepakat untuk membalas gelengan kepala ketika Jongdae bertanya. Apabila ia bertanya kepada para tetangga yang ada di sekitar rumah peninggalan kakeknya tersebut, beberapadari mereka justru memarahi Jongdae karena dianggap tak becus merawat adiknya, bukannya mereka malah iba dengan kondisi Jongdae saat ini.
Setelah berjalan cukup jauh, sampailah Ia di sebuah taman yang telah ramai oleh penggunjung lainnya. Beberapa orang ada yang bercanda, dan tertawa sepuas hati mereka. Jongdae meringis, entah kapan terakhir ia bisa tertawa selebar itu. Hidupnya begitu suram semenjak perceraian kedua orangtuanya. Bertambah suram ketika adiknya menghilang yang sampai saat ini tak ada kabar.
Jongdae duduk di salah satu bangku taman yang kosong setelah beberapa kali lari mengitari taman yang bisa dikatakan cukup luas ini. Sudah menjadi rutinitas hariannya Ia akan ke tempat ini setiap hari minggu pagi, sedikit berharap ia bisa bertemu adiknya di keramaian taman ini. Jongdae bahkan berulang kali mensugesti dirinya bahwa adiknya masih hidup, dan untungnya sugesti diri sendiri
itu berhasil, hingga ia bertahan sampai saat ini.
Esok adalah hari dimana ia harus berbahagia karena Tuhan telah memberinya waktu selama ini untuk tetap hidup di dunia ini. Harusnya ia berbahagia, namun nyatanya ia tak pernah bahagia selama ini sejak 13 tahun yang lalu. Hari ulang tahunnya hanya sekadar hari biasa tanpa arti. Ia akan bangun pagi, mandi, dan bersiap-siap untukberangkat ke kampusnya. Setelah waktu pulang tiba, ia pergi ketempat kerja paruh waktunya, dan pulag di malam hari yang sudah ingin tidur saja rasanya karena sudah terlewat lelah.
Jika kalian berpikir Jongdae adalah mahasiswa kampus yag sangat terkenal bak seorang diva sekolah dan selalu menjadi incaran setiap gadis yang ada disana, cepat singkirkan pikiran itu baik-baik. No! Big No! Jongdae bukanlah mahasswa seperti itu. bahkan amat sangat jauh dari keadaan seperti itu. Ia hanyalah mahasiswa kuper dengan teman satu dua yang ia kenal dan hubungan mereka tidaklah sangat akrab. Jam-jam istirahatnya dan pergantian kelasnya ia pergunakan untuk mengerjakan tugasnya di Perpustakaan karena sudah jelas ia tak mungkin mengerjakannya di malam hari. Yeahh… jadi kalian tahu khan bagaimana buruknya kisah pergaulan Jongdae?
Langit yang tadinya tampak cerah, tiba-tiba saja berubah secara perlahan menjadi gelap. Awan putih bersih bak permen kapas itu kini berubah menjadi awan hitam pekat yang sangat mengerikan. Matahari bahkan seakan ketakutan dengan semua yag terjadi di langit sehingga ia mennyembunyikan dirinya entah dibalik apa itu.
Tes tes tes
Rintikan itu mulai terjadi. Tetesan hujan turun dari langit yang tadinya berirama menjadi deras tak karuan. Orang-orang berlari kalang kabut mencari tempat berteduh yang memungkinkah. Jongdae yang masih terlarut dalam pikirannya akhirnya tersadar ketika pakaiannya telah basah setengah. Ia berlari kearah café yang tertangkap kedua netranya di pikirannya yang kacau dan dirinya yang tergesa-gesa ini.
Teras dan depan pintu café itu penuh dengan orang-orang berteduh yang membuat Jongdae beberapa kali berucap permisi dan maaf karena menerobos kerumunan itu untuk dapat masuk kedalam tempat itu. Lonceng yang terletak di pojokan pintu kayu putih itu berdenting ketika Jongdae membukanya. Dan dihadapan Jongdae berbarislah 3 orang yang sama-sama tengah mengantri dengan menggerak-gerakkan kakinya bosan. Jongdae hanya berharap 3 orang didepannya ini tak ada yang memilih tempat yang diincarnya.
Jongdae beberapa kali menoleh gelisah kearah belakang karena ia merasa ada yang mengamatinya sedari tadi. Entah itu benar atau tidak ia tak tahu. Ketika sudah sampai gilirannya, Jongdae memesan Latte hangat untuk pagi yang dingin ini. Setelah mendapatkan pesanannya, ia berjalan menuju tempat yang diincarnya sedari tadi yang untungnya masih kosong.
Pemuda itu menyesap Lattenya perlahan membiarkan kepulan asap menerpa wajahnya yang menimbulkan rasa hangat setelahnya. Baru saja Jongdae mengembalikan cup kopinya itu, ia langsung dengan tiba-tiba mengangkat kepalanya kedepan. Terus saja seperti ini. sejak dirinya memasuki café ini ia merasa seperti ada yang mengamatiya yang membuat Jongdae rishi sendiri. Namun sialnya Jongdae bahkan tak dapat memergoki siapa orang itu karena ia pun tak tahu siapa yang melakukan ini padanya.
Ketika hujan sudah mulai reda, Jongdae memilih keluar dari café itu dan bergegas pulang kerumah karena memang hari mulai beranjak siang. Dan kejadian seperti tadi masih saja terjadi. Entah ini hanya perasaannya saja atau memang terjadi, ia merasa ada seseorang yang mengikuti langkahnya dari belakang. Namun ketika ia membalikkan tubuhnya, taka da seorangpun yang mencurigakan sedang menguntitnya. Karena justru menjadi paranoid sendiri, Jongdae lebih memilih mempercepat langkahnya agar sampai rumah.
Entah ini keuntungan atau kerugian, yang pasti ketika Jongdae keluar dari lift yang membawanya menuju lantai 7 tempat ia tinggal, seseorang tiba-tiba saja memeluknnya dari belakang erat dan dengan mulutnya yang di tutupi oleh seseorang itu. bukan, ini bukan adegan penculikan seperti yang biasa ada di tv, seseorang itu tak membekapnya dengan sapu tangan yang ditetesi klorofom, tangannya kosong, namun tetap membuat Jongdae terkejut.
“K-kau siapa? Apa yang kau inginkan?
“Bogoshippeo Hyung” tak mungkin Jongdae melupakan suara ini. suara berat yang sedikit seperti seseorang yang terkena flu.
“Jong- jongin-ah?”
“Aissh… sudah ku katakan. Jangan memanggilku Jongin hyung. Panggil aku Kai. Kai, Kim Kai.” Jongin memutar tubuh Jongdae menghadap kearahnya.
Jongdae menutup mulutnya tak percaya setelah Jongin elepaskan pelukan dan bungkamannya. “Apakah aku bermimipi? Benarkah kau adikku, Kim Jongin?” Jongdae membelakkan matanya.
“Sudah ku ingatkan tadi hyung, jangan panggil aku Jongin, panggil aku Kai.”
“Hwaaa…. Bogosippeo Jongin-ah” Jongdae dengan cepat memeluk erat tubuh Jongin yang ada di depanya.
Jongin hanya tertawa kecil menghadapi tingkah kakaknya ini. “Kau tahu hyung? Kau seperti wanita-wanita yang mendapati semua barang di Mall mendapatkan diskon 75% hyung asal kau tahu!”
“Yak! Menyebalkan!”
Dan kisah haru itu berlanjut dengan Jongdae yang mencubiti pingang Jongin dan Jongin yang mengaduh kesakitan dengan tawanya yang tak berhenti dan dengan godannya kepada Jongdae yang kini telah menggeluarkan air mata kerinduannya.
Akai ito, benang merah pengikat jodoh sehidup semati. Tapi Jongdae memaknainya berbeda. Pertemuannya kembali dengan adiknya ini ia anggap karena takdir benang merah tersebut. Benang merah persaudaraan menurut Jongdae. Karena jika kita telah di takdirkan bertemu kembali, kita akan bertemu kembali.

-Selesai-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s