[Chen Birthday Project] Ms. Moon

untitled-1

A SPECIAL FANFICT for our special bias

Kim Jongdae | Moon Hyekyung

Drabble

T

Romance maybe hahahaha

Sorry for typo(s)

 

Cinta itu wajar. Lazim. Manusiawi. Bukan sesuatu yang memang harus disembunyikan dari dunia. Bukan juga kesalahan besar yang membuatmu harus dikurung disel dingin seperti Azkaban. Tapi sayangnya kata-kata itu tidak berlaku untukku. Aku harus menyembunyikan cinta itu dalam-dalam agar tidak ada satupun yang menyadari perasaan yang kata mereka ‘terlarang’.

Aku mencintai seorang pria, tentu saja. Dia tampan. Jika kau melihat matanya, kau akan terjebak seketika karena mata itu memancarkan pesonanya begitu kuat. Mata tajam sekaligus hangat itu yang telah memenjarakanku. Pahatan wajahnya terlihat sempurna –dimataku. Dan bibir ranumnya yang membuatku gemas setiap kali dia memanggil namaku atau sekedar tersenyum manis menampilkan gusi merah mudanya. Dia manis disaat tertawa, tapi menyeramkan ketika marah. Tubuh tegapnya yang terlihat kuat itu, begitu mengesankan ketika kau melihatnya meliuk-liuk diiringi lagu. Dan hampir saja aku lupa. Suaranya, adalah pesona dan kelebihan paling kuat yang dia miliki. Suaranya itu, yang membuatku susah tidur, karena sangat melekat dikepala. Hanya dia. Dia yang berhasil membuatku berulang kali mengucap kata syukur karena kehadirannya yang memberi warna hidupku, dan berulang kali mengumpat karena sosok yang dekat denganku itu terlalu jauh untuk diraih.

“Sudah kuduga noona disini.” aku memutar kepalaku kesamping kanan dan menemukan laki-laki yang sejak tadi berputar-putar dipikiranku telah duduk disamping kananku dengan senyum konyolnya. Aku tersenyum tipis kepadanya dan segera kembali keposisi awal –memandangi arus tenang Sungai Han. Menghindar sebisa mungkin agar tidak semakin jauh tenggelam dalam mata teduhnya.

“Ada apa ini? kenapa calon pengantin menyendiri disini?” Calon pengantin? Aku ya? Tapi rasanya malas walau hanya untuk sekedar menatap balik. Biarlah dia bermonolog sendiri dulu.

Noona, kau tidak bosan memandangi air-air itu?” aku menggeleng –jawaban nyata pertamaku- dan sedetik kemudian laki-laki dengan seragam sekolah menengah disampingku mendecak kesal. Aku tahu sifatnya yang tidak suka duduk manis lebih dari tiga menit kecuali jika disekolah. Itupun aku yakin dia lakukan karena terpaksa.

“Tapi aku bosan noona. Air itu bahkan tidak bergelombang. Pantai bagaimana?” salahkan aku dan kebodohanku yang dengan kata pantai dapat memutar kepalaku dengan mudahnya. Aku melanggar janjiku sendiri. Aku tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya. Pura-pura mengabaikannya sama sakitnya dengan bunuh diri sepertinya. Dia tersenyum bangga, kemudian menarik tanganku menuju motornya yang ternyata terpakir tidak jauh.

Selamat Kim Jongdae. Kau berhasil membuat jantungku berdetak lebih dari 10x dalam dua detik.

***

Pantai ini memang indah. Lautnya biru dan berombak. Seperti yang Jongdae sukai. Ada batu besar dibeberapa sudutnya. Belum lagi burung camar yang sibuk berputar-putar diatas air dengan latar matahari jingga yang setengahnya sudah tenggelam kedalam air. Lalu ditambah pasir putih yang kududuki sekarang. Kau bisa membayangkan betapa indahnya pantai ini, ‘kan? Rasanya tidak sia-sia duduk dua jam diatas motor.

Hanya saja aku yang mengaku seorang pecinta pantai ini, tidak bisa fokus memandangi pemandangan menakjubkan ini karena sebuah pemandangan yang lebih menarik. Ya, punggung Kim Jongdae yang berdiri 500 meter dihadapanku. Konyol? Memang. Bukankah cinta bisa mengkamuflasekan konyol?

“Hey, Kim. Sebenarnya kenapa kau mengajakku kesini?” aku melontarkan pertanyaan untuk sekedar basa basi.  Rasanya mulai bosan hanya duduk terdiam memandanginya yang juga mematung membiarkan kakinya terkena deburan ombak berkali-kali.

Akhirnya, setelah sepuluh menit ia memunggungiku dia berbalik menatap mataku. Sedikit menyesal karena Jongdae  yang menatapku terlihat seperti bukan Kim Jongdae yang kukenal. Mata tajam itu, terlihat kehilangan cahayanya. Suram, dan aku benar-benar bingung sekarang. Sebenarnya dia kenapa?

“Apa terjadi sesuatu?” satu menit berlalu dan pertanyaanku dia biarkan mengambang diudara. Tanpa jawaban.

“Hei Tuan Muda Kim. Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, lebih baik kita pulang. Aku harus fitting baju malam ini,” begitu pernikahan terbayang dikepalaku, tida-tida perutku rasanya mual.

“Aku…mencintai seseorang, noona,” dapat kudengar ia membuang nafasnya sebelum akhirnya untaian kata setajam pedang itu menghunus benda rapuh didadaku. Aku terdiam, menunggunya yang kupikir akan melantunkan beberapa kalimat lagi yang mungkin akan semakin menghujam benda rapuh yang kusebut hati.

“…Tapi, ayah dan ibu bilang aku tidak boleh memilikinya. Bahkan mencintainya saja tidak boleh. Dan saat aku bercerita pada Minseok, anak itu malah marah-mara.Dia memukul kepalaku dan menceramahiku hingga air liurnya menyembur kemana-mana. Jujur aku bingung noona, aku takut kehilangannya tapi aku harus melepaskannya. Sampai akhirnya aku teringat pada noona. Hanya noona yang bisa membantuku….”

Jika bisa aku ingin memeluk tubuhnya. Ingin melontarkan penolakkan sekeras-kerasnya hingga tengrokkanku perih. Enak saja bantu-bantu orang. Meski sudah tua begini, aku tetap bisa merasakan sakit hati. Hanya saja yang terjadi…

“Dimana yeoja itu? Apa aku kenal? Aku akan membantumu,”

B-o-d-o-h. aku akan memasukkan namaku sendiri kedalam nominasi gadis bodoh abad ini. Bagaimana bisa kau berkata ‘ya’ sementara hatiku terus bergemuruh menahan sakit?

Jongdae berbalik. Ia berjalan kearahku dengan langkah gontainya yang membuatku semakin tak tega. Tanganya merogoh saku celananya. Tepat ketika ia berdiri dihadapanku, dia mengeluarkan amplop manis berwarna biru muda. Sambil menguatkan hati, aku membuka amplop itu perlahan.

Bersiaplah untuk menangis dalam selimut malam ini, Hye Kyung.

Menurutmu bulan itu bagaimana?

Indah bukan?

Saat kau menatapnya, kau tidak akan sanggup untuk berbalik

Aku menyukai bulan

Tidak perlu malam untuk melihatnya, setiap hari di detik-detik hidupku,

Bulan itu ada disampingku

Lewat senyummu, aku bisa melihat dua bulan sekaligus

Aku menarik nafas sebentar. Setiap kata yang dia tulis benar-benar menyesakkan. Aku menatapnya yang sudah duduk diatas motor dengan wajah tertekuk. Sebesar itukah rasa cintamu padanya Kim? Dengan hati yang sebisa mungkin aku buat tegar, aku membaca satu paragraph terakhir disuratnya.

Bulan, aku menyukaimu

Tidak, aku mencintaimu

Menyayangimu, mengagumi sinarmu

Tapi maaf,

Takdir bilang aku tidak bisa datang menjemput

Tempatmu terlalu jauh untuk kuraih

Terlalu banyak lapisan langit yang harus kutembus

Jadi bisakah kau percaya?

Ada ruang disini yang selalu kosong untukmu

Membiarkan hanya satu nama yang menjadi pemilik tetap ruangan kosong itu

Ruang kosong atas nama Nona Moon

Kali ini aku benar benar menangis. Rasanya sesak dan semakin sakit. Aku tahu nama itu. Kenal juga siapa yang memberikan nama panggilan yang cantik itu. Hanya satu orang yang kutahu berpangkat ‘Nona Bulan’ dan hanya satu orang Aku menatap Jongdar yang sekarang sudah duduk diatas motor putihnya. Aku yakin matanya juga berkabut, sama sepertiku. Meski tidak dapat benar-benar melihatnya karena mata favoritku itu bersembunyi dibalik kaca helm yang bertengger diatas kepalanya.

Berjalan perlahan kearahnya, sambil meremas surat yang baru beberapa detik lalu aku baca. Lalu dengan gerakan perlahan pula mengambil amplop warna senada dengan amplop yang tadi Jongdae tunjukkan padaku.

Dia mengangkat kepalanya. Menatap lurus mataku dengan mata sendunya itu. mengabaikan amplop biru muda yang sudah berpindah tangan ke tangannya.

“Maafkan aku Jongdae. Untuk kasus yang ini aku tidak bisa bantu,”

“Tapi besok, kau pasti datang kan? Aku ingin mendengar suaramu lagi,”

Jongdae tersenyum. Memandangku sebentar. Menelisik kedalaman mata satu sama lain. Sebelum akhirnya dia mengangguk. Kemudian menyodorkan helm merah yang tadi aku pakai.

 

…Dan sekarang aku berharap besok tidak pernah terjadi dalam hidupku.

 

-FIN-

 

 

 

dibuat dalam kurung waktu yang sesingkat- singkatnya

Love,

Keyo

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s