[EXOFFI FREELANCE] You Can’t Blame Me (Chapter 2)

COVER FF FIX.jpg

YOU CAN’T BLAME ME

Chapter 2

Author             : ADiamond

Lenght             : Chapter

Genre              : Romance, Friendship

Rating             : PG-17

Cast                 : Jung Shian

Byun Baekhyun

Other Cast       : Oh Sehun, Jeon Jungkook, Kwon Jiyong, Park Chanyeol etc.

Summary         : “Sial! Siapa dia sebenarnya?” Dia seramah malaikat sepolos angin musim semi tanpa debu dan menghanyutkan.

Desclimer        : This story is mine and based on my imagination.

Author’s note  : Hai readers^^ Chapter 2 udah selesai nih… Semoga kalian suka dan jangan lupa coment yah. Ngga wajib sih, Cuma rasanya author makin semangat nulisnya kalo responnya juga bagus. Oke deh sekian, So enjoy and hope you like it J

Taksi yang kunaiki berhenti tepat di depan gedung KBS setelah melewati lalu lintas pagi hari yang mengerikan. Sengaja kubayar tarifnya dengan uang lebih sebelum akhirnya masuk ke dalam. Orang-orang tersenyum dan menyapaku bergantian saat kulangkahkan kaki menuju ruang kerjaku. Hari yang sama seperti hari lain dimana semua orang akan sejenak menatap dan mengagumi ketika Nona Jung Shian lewat di depan mereka.

Kuletakan tas di kursi dan membenarkan letak cermin di meja yang sedikit bergeser. Mengamati cukup lama refleksi yang dihasilkannya hingga saat seseorang mengetuk tiga kali pintu ruanganku.

“Masuklah.”

“Selamat pagi Shian.” Ternyata Seonyoo.

“Selamat pagi. Ada apa pagi-pagi sudah menemuiku? Ah… pasti kau sudah merindukanku kan?”

“Ya tentu saja, siapa yang tidak merindukan Jung Shian. Apa kau sudah makan? Ayo ke kantin.”

“Bukankah kau tahu aku selalu sarapan sebelum ke kantor. Tapi tidak apa-apa, aku ingin minum cappucino tiba-tiba saja.” Ujarku setuju. Lagipula siaran pagi ini baru akan dimulai satu jam lagi.

“Baiklah, kajja.”

Ternyata sudah ada Yeonghan di salah satu meja dengan kursi untuk tiga orang. Lantas ia menepuk-nepuk kursi di sebelahnya mempersilahkan kami duduk. Kami pun memesan pesanan masing-masing sebelum memulai obrolan.

“Baiklah, sekarang sudah ada Shian. Jadi katakanlah Seonyoo-ya.” Ucap Yeonghan memulai dengan bersemangat.

Wae? Mengapa menungguku? Katakan apa?” Aku cukup penasaran dan memandang Seonyoo dengan raut penuh tanya.

“Gosip paling menghebohkan.” Sambung Yeonghan. Tiba-tiba aku jadi tidak bersemangat.

“Apakah sepenting itu sehingga harus mengumpulkan kita pagi-pagi begini? Dan kalian tidak lupa kan siapa yang selalu memberikan gosip-gosip terbaru pada kalian?” Lanjutku, kemudian lebih memilih fokus pada cappucinoku yang baru saja tiba.

“Tapi aku berani menjamin kau maupun Yeonghan belum tahu akan berita ini. Aku baru mendengarnya tadi malam ketika harus menyelesaikan pekerjaan di kantor. Beritanya benar-benar fresh dan sangat menentukan masa depan kantor kita.” Jelas Soenyoo menggebu-gebu meyakinkan kami.

Arraseo, marraebwa!” Kataku akhirnya.

“Baiklah, Sudah siap?” Aku dan Yeonghan mengangguk dan menunggu penuh keputus asaan. Awas saja jika bukan berita yang penting.

“Kim Sajangnim secara resmi dipecat tadi malam setelah para pemegang saham mengetahui skandal perselingkuhannya. Bahkan tadi malam, ia digelandang ke kantor polisi oleh istrinya sendiri. Sepertinya istri Kim Sajangnim tahu akan hal ini dan melaporkan suaminya pada para pemegang saham.” Seonyoo mencondongkan kepalanya mendekat dan mengurangi volume suaranya seakan ini benar-benar rahasia.

“Bukankah tidak mengherankan? Cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi.” Kataku memprotes.

“Shian benar. Lagipula bukankah Shian telah mengatakannya terlebih dulu tentang perselingkuhan itu?” Yeonghan yang juga kecewa, mendukung opiniku. Benar-benar mengecewakan. Seharusnya aku tahu akan jadi seperti ini. Dasar Seo Seonyoo.

Ya! Bisakah kalian tidak menyelaku? Bahkan aku belum mengatakan bagian terpentingnya. Dengarlah dulu, ini benar-benar penting.”

“Ya sudah kami akan mendengarkan. Kali ini tidak boleh mengecewakan.” Yeonghan sepertinya masih penasaran.

“Jadi..”

“Sudah hentikan! Aku tidak ada waktu untuk ini. Sebentar lagi ada interview dengan Walikota Seoul. Jadi sebaiknya aku kembali untuk bersiap-siap.” Aku baru saja akan beranjak, tapi Seonyoo dengan cepat menahan lenganku.

“Tunggu Jung Shian! Dengarlah dulu, aku berjanji bahwa kali ini memang sangat penting. Kumohon…”

Baiklah. Demi sahabatku yang merengek minta didengarkan. Demi melatih kesabaranku yang akhir-akhir ini sedang memburuk. Aku pun kembali duduk di kursiku dan mau tak mau mendengarnya berceloteh.

“Oke aku akan melanjutkan, jadi tolong dengarkan. Ekhmm.. Jadi kalian pasti penasaran dengan siapa yang akan menggantikan posisi Kim Sajangnim kan?” Seonyoo si penggosip ulung kembali bercerita.

“Ah ya, siapa yah kira-kira?” Yeonghan mulai larut dalam pembicaraan.

“Penggantinya adalah seorang pria muda dan tampan. Dia adalah Byun Baekhyun, anak tiri dari pemilik rumah sakit Wooridul Spine sekaligus pemegang saham terbesar di KBS, Tuan Oh Taewoo.”

“Byun Baekhyun? Oh Taewoo?” Tiba-tiba saja aku jadi tertarik mendengarnya lebih lanjut.

“Bukankah Byun Baekhyun adalah pria kemarin di cafe yang datang bersama Dokter Oh? Ah benar, dia adik tirinya. Jadi Tuan Oh Taewoo adalah ayah tiri Byun Baekhyun yang berarti ayah kandung Doter Oh Sehun kan? Kau ingat Byun Baekhyun kan Shian?” Penjelasan Yeonghan sangat masuk akal. Tapi benarkah ayah kandung Sehun menempatkan Byun Baekhyun yang adalah anak tirinya sebagain presdir di kantor stasiun TV terbesar di Korea? Sementara anak kandungnya hanya menjadi seorang dokter bedah di rumah sakit ayahnya sendiri?

“Jadi kalian pernah bertemu keduanya? Wah, benar-benar beruntung. Gosipnya mereka berdua sangat tampan, benarkah begitu?” Seonyoo berteriak heboh.

“Yah mereka tampan.” Jawabku singkat. Aku masih bergelut dengan pikiranku sendiri. Masih mencerna fakta barusan. Seperti, tidakkah Oh Sehun merasa cemburu jika ayah kandungnya memberi Baekhyun posisi itu? Apakah hubungan keduanya memang sebaik itu sebagai saudara tiri?

“Shian… Shian.. ya Jung Shian!” Yeonghan tiba-tiba saja menepuk pundakku yang memang sedari tadi tengah asyik sendiri.

Wae?” Aku berteriak merasa kesal karena dia telah menggangguku berpikir. Aku menatapnya dan dia entah mengapa terlihat kikuk dan menggerak-gerakan telunjuknya ke samping. Seperti tengah memberi isyarat padaku.

Kuikuti arah telunjuknya dan betapa terkejut saat tiba-tiba saja sudah ada seorang pria berdiri di sebelahku tanpa kusadari. Pria yang baru saja kami bicarakan, Oh Sehun. Aku hampir saja terjungkal ke belakang jika saja Sehun tidak menahan kursiku. Sejak kapan dia di sini?

“Dokter Oh?”

“Selamat pagi Shian sii, Yeonghan sii, dan Seo Seonyoo kalau tidak salah. Kekasih Park Chanyeol.” Jawabnya lalu tersenyum dan memandang kami bertiga bergantian. Kulihat sepertinya bukan hanya aku saja yang terkejut. Yeonghan pun sepertinya masih tidak percaya. Bagaimana bisa lima menit yang lalu kami membicarakannya dan kini dia ada di tengah-tengah kami?

“Biar ku ambilkan kursi satu lagi.” Ucap Yeonghan yang sadar melihat Sehun berdiri sedari tadi.

“Tidak usah. Aku ke sini hanya mampir dan membawakan ini untuk Nona Jung Shian.” Ujarnya lalu menyerahkan sebuket mawar merah padaku yang memang berada di tangannya sejak pertama.

“Wah, red rose? Dari mana kau tahu aku menyukainya?” Kuterima bunga tersebut dan mencium aromanya. Segar dan manis, favoritku.

“Dari Chanyeol. Dia bilang Seonyoo sii yang memberi tahunya.”

“Ah benar. Jadi karena itu semalam Park Chanyeol menanyakan bunga kesukaan Shian. Aku kira dia ingin memberikannya sebagai ucapan terima kasih.” Ucap Seonyoo membenarkan.

Jadi Sehun kemari hanya untuk memberikan bunga ini untukku? Dan bahkan Sehun menanyakan seleraku pada Chanyeol? Itu manis sekali kan?

“Ngomong-ngomong terima kasih bunganya.”

“Sama-sama Shian sii. Jadi benar kau menyukai mawar merah, aku akan membawakannya lagi kapan-kapan.” Sehun tersenyum terlihat malu-malu, bahkan mukanya bersemu merah kini. Lucu sekali saat aku menatapnya dan ia terlihat mengetuk-ngetuk jam tangannya salah tingkah.

“Bergabunglah dengan kami Sehun sii. Akan kupesankan kopi kalau kau mau.” Tawar Seonyoo.

“Tidak terima kasih, aku akan langsung saja ke rumah sakit. Setengah jam lagi akan ada operasi.” Jawab Sehun lantas melirik jam tangannya sekali lagi.

“Kau benar-benar tidak bisa bergabung bersama kami?” Aku ambil suara. Tidak rela jika harus bertemu dengannya sesingkat ini. Entahlah, tapi hanya saja aku rasa dia pria yang baik.

“Pasien yang menunggu harus selalu diutamakan bagi seorang dokter. Jadi lain kali lagi yah. Kalau begitu aku permisi Shian sii, Yeonghan sii, Seonyoo sii.”

Ne hati-hati di jalan.” Ucap kami bertiga sebelum Sehun beranjak.

Tapi baru beberapa langkah pergi, tiba-tiba saja ia berbalik dan menghampiri kami lagi. Seperti ada sesuatu yang tertinggal.

Waeyo Sehun sii?” Tanyaku. Ia terlihat sedang berpikir, menimbang-nimbang sesuatu mungkin. Ia terlihat gugup dan itu membuatnya terlihat sangat lucu. Maka sengaja kugoda dia dengan tersenyum manis dan menatap ke arahnya dengan mata puppyku. Lihatlah, dia semakin salah tingkah dan menggaruk-garuk tengkuknya berkali-kali. Sepertinya aku akan menyukai pria ini.

“Ehmm… Shian sii, apa kau ada acara sore nanti?” Tanyanya masih terlihat ragu-ragu.

“Sepertinya tidak.”

“Bagus. Ehmm maksudku, mau kah kau jalan-jalan denganku sore nanti? Bagaimana?”

Deal. Aku biasanya sudah pulang pukul 5.” Sekilas kulihat dua wanita di sebelahku ternganga dan saling bertatap satu sama lain.

“Oke, akan kujemput nanti sore. Sampai jumpa.”

Well, ini bukan pertama kali bagiku diajak berkencan oleh seorang pria. Sudah ratusan kali mungkin, bukankah seharusnya aku merasa biasa saja. Percaya diri dan tak tergoyahkan. Tapi kenapa rasanya sangat berbeda dari sebelumnya. Seperti pria itu melihatku sebagai seorang gadis bernama Jung Shian, bukan reporter terkenal bernama Jung Shian. Ia terlihat sangat tulus dari bagaimana cara dia menatapku. Walau baru beberapa hari mengenalnya, tapi di setiap momen-momen singkat kami selalu membuatku bahagia, entah kenapa. Membuatku menjadi sedikit melunak di depannya.

“Pasti teman kita sudah gila karena tersenyum sendiri tanpa sebab.”

“Kau benar Yeonghan-aa. Tapi aku mungkin tahu kenapa dia berubah jadi gila.”

Ya! Aku tidak gila, diamlah!” Ucapku kemudian menyeruput cappucinoku untuk kesekian kalinya.

“Kau benar-benar hebat Jung Shian. Baru dua hari putus dari Taehyung dan sekarang ada seorang dokter tampan dari keluarga kaya raya mengajakmu berkencan. Benar-benar hebat, seperti Jung Shian yang kuketahui.” Ujar Yeonghan sambil bertepuk tangan riuh.

“Berapa kira-kira kekayaan keluarga Oh? Mungkinkah mereka bahkan lebih kaya dari keluarga Joonmyeon oppa?” Tanya Seonyoo yang seperti biasa terlampau penasaran pada suatu hal.

Ani. Aku yakin kekayaan keluarga Joonmyeon oppa lebih besar. Kyungsoo bilang dua hari lalu mereka membeli bar kelas atas di daerah Gangnam entah yang ke berapa kali.”

“Ya benar. Bahkan setiap malam Joonmyeon oppa tak segan-segan membayar Dj dari luar negeri yang bayarannya selangit.”

Aku merasa tidak tertarik dengan pembicaraan mengenai kekayaan keluarga mereka. Menurutku, tidaklah keren jika hanya mendapat warisan harta dan perusahaan besar tanpa usaha sendiri. Lebih baik memulainya dari awal dan berkali-kali jatuh demi sesuatu yang lebih besar.

“Shian.. kau di sini rupanya? Aku… mencari ke ruanganmu barusan… ternyata kau di sini.” Aku sontak berdiri saat Jiyong oppa berlari menghampiriku dan berbicara tersengal-sengal. Kasihan oppa, pasti dia kelelahan karena mencariku.

Mian oppa. Pasti interviewnya akan dimulai kan? Ayo oppa kita langsung saja ke studio.”

Ani. Interviewnya ditunda siang ini. Ayo cepat kita harus berkumpul di ballroom sekarang, acaranya akan segera dimulai. Kalian juga Seonyoo, Yeonghan.” Sambung managerku Kwon Jiyong oppa yang entah merujuk pada acara apa.

“Acara apa oppa?” Seonyoo yang juga tidak mengetahuinya bertanya pada Jiyong oppa.

“Acara penyambutan CEO baru KBS. Ayo cepatlah!”

 

Oppa benar. Acaranya sepertinya akan segera dimulai. Sudah banyak orang yang berkumpul dan mengambil tempat duduk masing-masing. Bahkan para petinggi perusahaan pun ada di sini. Wajar sebenarnya, ini acara yang sangat penting menyangkut kelangsungan perusahaan. Jiyong oppa menuntun kami duduk di barisan terdepan. Bagus sekali, karena aku ingin melihat secara jelas bagaimana CEO baru kami. Meski sudah pernah bertemu sekali, pasti rasanya akan berbeda saat dia berdiri sebagai orang nomor satu di KBS.

Aku melihat Jungkook yang baru saja masuk ke dalam ballroom bersama Kim Namjoon managernya. Ia terlihat sedang mencari tempat duduk yang kosong. Semoga saja dia menemukannya di belakang. Jangan sampai ia kemari dan duduk di dekatku. Pasti akan sangat canggung jika teringat kejadian semalam. Dan Jungkook adalah pria berakal sehat yang pastinya masih mengingat kejadian itu juga.

“Namjoon sii… duduklah di sini masih ada yang kosong.” Sial! Kenapa Jiyong oppa malah memanggil mereka di saat aku ingin menghindari Jungkook.

Jungkook yang melihatku lantas tersenyum dan mengambil tempat duduk di sebelahku. Tepat di sebelah kananku, benar-benar sial. Di saat aku bahkan tak ingin melihatnya di ruangan ini, kini justru dia duduk di sampingku. Apa dia tidak merasa kikuk karenanya? Benar-benar sulit diprediksi pria ini.

“Selamat pagi Shian sii.”

Ne selamat pagi.” Kubalas senyumannya senatural mungkin.

“Kudengar presdir yang baru masih sangat muda.” Lanjutnya. Benar-benar terlambat. Aku bahkan sudah pernah bertemu dengannya kemarin malam.

“Ya. Dan sangat tampan.” Jawabku lantas memilih menyibukkan diri dengan ponselku.

Tak selang begitu lama acaranya pun dimulai. Mulai dari pidato membosankan para pemegang saham, penampilan beberapa penyanyi terkenal yang sengaja diundang, sederet tayangan dan presentasi tentang masa depan perusahaan dan masih banyak lagi. Tidak kusangka acaranya akan sebesar dan selama ini. Hingga akhirnya sambutan dari Presiden Direktur kantor stasiun TV KBS yang baru. Seisi ruangan berubah riuh saat pembawa acara mempesilahkan presdir yang baru untuk naik ke panggung.

Semua mata otomatis langsung tertuju pada seorang pria tampan dengan setelan jas mahal dan rambut yang ditata ke samping. Demi apapun, dia benar-benar tampan dan mempesona dengan senyum paling manis yang pernah kulihat. Wajahnya imut dan segar layaknya anak abg di bangku SMA. Dan matanya, sungguh indah seperti yang terakhir kali kuingat.

“Menurutmu berapa usianya?” Tanya Jungkook yang ternyata juga penasaran. Bagaimana tidak? Kim Sajangnim selaku presdir terdahulu ialah pria tua seumuran kakekku dengan wajah keriput dan rambut yang sudah berubah putih seluruhnya. Sementara penggantinya tidak lain adalah seorang pria muda imut yang memiliki senyum dan mata yang indah.

“Dua puluh tahun mungkin.” Tebakku asal.

“Selamat pagi semuanya.” Sontak suasana yang semula riuh, kembali senyap saat semua orang memfokuskan diri mereka pada presdir yang baru. Dengarlah, bahkan suaranya pun sangat halus.

“Kalian pasti berpikir ada anak SMA yang berdiri di atas panggung dan orang-orang memanggilnya tuan presdir, bukan begitu?” Seisi ruangan tertawa mendengarnya yang tanpa canggung sedikit pun membuat lelucon. Benar-benar memiliki kepercayaan diri yang besar untuk pria seusianya.

“Baiklah, kalau boleh jujur. Aku juga mengira abeoji pasti sedang setengah sadar setelah menghabiskan berbotol-botol soju  saat menunjukku sebagai CEO di stasiun TV terbesar dan terbaik seantero Korea.” Aku sangat terhibur dengan pembawaannya yang santai dan jenaka. Benar-benar imut berkali-kali ia tertawa dan mengangguk-anggukkan kepalanya seperti anak berusia lima tahun yang minta dibelikan mainan oleh ibunya.

“Tapi jika kalian mengira aku adalah remaja yang baru merayakan sweet seventeen kemarin, maka kalian salah. Aku tidak semuda itu sebenarnya. Jadi namaku Byun Baekhyun, dan aku berusia 27 tahun. Ingat 27 bukan 17 arraseo?” Benarkah? 27 tahun? Ternyata dia lebih muda dua tahun dariku? Ah lega sekali saat semula kupikir aku adalah seorang noona bagi bosku sendiri. Tapi nyatanya dia lebih tua dariku, benar-benar menipu.

“Wah ternyata dia bahkan lebih tua dariku sekalipun. Benar-benar sulit dipercaya. Bukan begitu Shian ssi?” Pria berusia 26 tahun di sebelahku angkat bicara.

“Ya begitulah.”

“Dan sekarang seperti kalian tahu, aku adalah seorang presdir di sini. Tapi aku tidak ingin kalian memanggilku dengan sebutan Byun Sajangnim atau sejenisnya. Terutama bagi para wanita, kalian cukup hanya memanggilku Baekhyun oppa.” Lagi-lagi ia kembali bergurau bahkan mengedipkan sebelah matanya.

Aniyo aniyo aku hanya bercanda. Sebenarnya terserah kalian saja hendak memanggilku dengan sebutan apapun, aku sama sekali tak keberatan.”

“ Baiklah sebagai presdir yang baru, aku sudah dihadapkan pada sebuah tantangan besar. Pasti kalian saat ini tengah bersiap menghadapi kompetisi World Broadcast and TV Program tiga hari lagi yang akan diadakan di Chicago bukan? Ya benar, perusahaan kita selaku yang terbaik di bidangnya dengan bangga akan mewakili Korea mengikuti ajang bergengsi tahunan tersebut. Dan pastinya kita berharap bisa mengulang kemenangan yang sama tahun lalu. Oleh karena itu kita sebagai tim akan melakukan yang terbaik dalam rangka mengemban misi menjadi salah satu TV terbaik di dunia. Dan kita bersama-sama akan membuktikan pada dunia bahwa kita layak menjadi pemenang tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya. Ya benar, itulah yang akan dunia pikirkan tentang kita. Seorang pemenang!” Waow benar-benar hebat caranya berpidato yang membakar semangat kami semua. Suasana benar-benar berubah menjadi berapi-api dengan teriakan dan tepuk tangan meriah seisi ruangan.

Masalah kompetisi itu, memang benar kami telah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Apakah aku terlibat? Ya, tentu saja. Tapi aku tidak akan ikut ke Chicago. Tugasku melaporkan dan menggalang dukungan dari studio. Tentu saja hal itu sangat penting. Lagipula aku lebih memilih bersantai di apartemenku yang tenang dan nyaman selepas siaran ketimbang mabok udara akibat penerbangan seharian lamanya.

Lagipula aku yakin kami akan menang. Apalagi ada reporter jenius dan berbakat macam Jungkook yang akan turun tangan langsung ke Chicago. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan walaupun aku tak turut serta ke sana. Dan ya, jangan lupakan presdir baru kami yang sepertinya cukup berkompeten bahkan akan langsung menjadi ketua tim ini.

 

Karena acara penyambutan yang diadakan mendadak dan cukup lama berlangsung, jadwalku hari ini jadi berantakan. Bahkan yang semula akan diadakan interview siang tadi, kini bahkan acaranya baru akan dimulai. Pukul 05.30 aku masih berada di studio dan baru berakhir pukul 07.00 malam.

Apalagi aku harus membatalkan rencana kencan dengan Sehun tanpa mengabarinya. Terlalu sibuk dan bahkan lupa di mana terakhir kali meletakan ponselku. Semua orang juga terlalu larut dengan pekerjaan masing-masing yang ikut tertunda. Sampai-sampai aku belum bertemu Jiyong oppa sejak tadi siang. Kalau tidak, pasti aku sudah memintanya untuk menelpon Sehun dan memberitahu padanya bahwa kencan kami harus dibatalkan.

Aku pasti sudah membuatnya kecewa dan mungkin sedari tadi Sehun sudah menunggu di apartemenku. Ah, ini bahkan adalah kencan pertama kami dan aku sudah mengacaukannya. Entah apa yang akan dipikirkannya tentangku. Aku tahu ini bukan sepenuhnya salahku, malah mungkin bukan sama sekali. Tapi entah mengapa aku jadi merasa bersalah telah mengecewakan pria itu.

Apalagi badanku serasa remuk dan pikiranku benar-benar kacau bekerja dari pagi sampai malam nonstop. Tidak terasa sebutir air mata menuruni pipiku. Aku tidak tahu mengapa aku tiba-tiba saja menangis tanpa sebab. Benar-benar aneh.

Saat tiba di lobi, kusandarkan sejenak tubuhku di sofa yang ada di pojok ruangan. Memejamkan mata dan bahkan tak peduli jika aku sampai tertidur di sini.

“Shian sii? Apa kau tidur?”

Kubuka mataku saat tiba-tiba saja Jungkook datang dan dengan tanpa merasa berdosa sedikit pun menggangguku. Sungguh menyebalkan, jika memang aku tertidur bukankah dia tidak seharusnya membangunkanku.

“Kau baru saja membangunkanku.”

“Biar ku antar pulang. Kebetulan aku juga baru akan pulang Shian sii. Lagipula bukankah mobilmu masih di bengkel. Jadi daripada kau naik taksi sendirian, lebih baik kau ikut denganku.”

“Tidak Jungkook sii, terima kasih. Lagipula sebentar lagi Jiyong oppa akan menjemputku. Jadi pulanglah.” Aku terpaksa berbohong. Kalau tidak, pasti dia akan terus membujukku sampai pagi.

“Kau serius?”

“Ya, sangat serius. Pulanglah.”

“Baiklah, aku pulang dulu Shian sii. Sampai jumpa.” Kubalas hanya dengan lambaian tangan.

Baru hendak memejamkan mata lagi, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyodorkan segelas hot chocolate di tangannya. Jungkook? Ada apa dengannya? Padahal tadi dia sudah bilang akan pulang.

“Jangan tidur di lobi nona, di sini dingin.”

Sehun?

“Sehun sii?” Benar dia Sehun. Apa dia memiliki kekuatan teleportasi?

“Minumlah dulu. Kau terlihat seperti seseorang yang baru mengerjakan soal matematika seharian.” Ujarnya lantas ia tertawa kecil dan mengambil tempat duduk di sebelahku.

“Apa aku terlihat seburuk itu?” Lantas kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Pasti kantung mataku terlihat jelas. Mana kutahu kalau Sehun akan menemuiku sehingga tidak memoles make up lagi terlebih dulu.

“ Jadi seperti ini wajah asli Jung Shian saat tidak menggunakan make up?”

Ya pergilah! Apa kau sedang mengatakan kalau aku terlihat jelek sekarang?”

“Apa kau tega mengusirku setelah menunggu lebih dari dua jam di depan apartemenmu?”

“Tapi kau seharusnya tidak mau berkencan dengan gadis jelek sepertiku.”

“Aku hanya bercanda Shian-aa. Lagipula apakah aku mengatakan kalau kau jelek.”

“Ya secara tidak langsung.”

“Aku bilang bahwa seperti ini Jung Shian yang asli tanpa make up, dia terlihat natural dan…”

Natural dan jelek?”

Natural dan mengagumkan.” Lanjut Sehun dengan senyum menawan mengembang di pipiya. Jadi sekarang giliran dia yang menggodaku?

Geodjimal.”

“Inilah akibatnya jika terlalu banyak pria yang suka menggombalimu. Kau jadi tidak percaya ketika seseorang mengatakannya dengan jujur.”

“Ya karena kau juga terlihat seperti mereka.” Dia hanya tertawa menanggapinya.

“Jadi kau pasti belum makan kan? Ayo ikutlah denganku, ini bisa menjadi pengganti kencan kita yang tertunda.” Ucap Sehun lantas menarik lembut tanganku.

 

Jalanan Myeongdong? Kenapa Sehun membawaku ke sini? Aish bukankah di sini sangat ramai dan tidak romantis sama sekali? Sebenarnya di sini tidaklah buruk, hanya saja terlalu ramai dan berisik. Bayangkan jika orang-orang melihat Jung Shian berdesak-desakkan demi makanan pinggir jalan yang mungkin saja kurang higienis.

“Kau yakin kita akan makan di sini Sehun sii?” Aku berkilah saat Sehun membukakan pintu mobilnya untukku.

“Ya sangat yakin. Kau pasti belum pernah mencoba ramyeon di sini kan?” Sehun terlihat antusias dengan binar di matanya.

No, tentu saja belum. Dan aku tidak makan ramyeon asal kau tahu Sehun sii.” Dia sudah membawaku ke sini dan sekarang mengajakku makan ramyeon? Let’s go to a luxurious restaurant and eat some steak.

“Ayolah Shian, biar aku yang menentukan kali ini. Anggap saja sebagai balasan karena aku telah menunggu sangat lama di depan apartemenmu.” Sehun membujukku lagi.

Baiklah aku menyetujuinya. Aku hanya tidak ingin berhutang pada siapapun di dunia ini, yah selain orang tuaku tentu saja. Maka di sinilah kami, sebuah kedai pinggir jalan kawasan Myeongdong yang dipenuhi luatan manusia.

Aku hanya menunduk sambil menutupi wajahku dengan daftar menu di meja. Kulihat Sehun tertawa melihat tingkahku. Lantas ia memesan dua mangkuk ramyeon dan odeng pada seorang ahjumma dengan celemek kumal yang menutupinya.

“Apa kekasih Anda baik-baik saja tuan?” Tanya Ahjumma tersebut sembari memperhatikanku yang masih menutup wajah dengan daftar menu.

“Dia baik-baik saja ahjumma. Dia hanya sedikit pemalu. Sebenarnya dia sangat cantik, maka dari itu dia takut orang-orang melihat kecantikannya dan langsung jatuh cinta padanya.” Jawab Sehun sambil tersenyum manis ke arahku.

“Bukankah itu sedikit aneh?” Sehun lagi-lagi tertawa. Beraninya ahjumma itu mengataiku orang aneh. Biar saja, setidaknya aku cantik dan terkenal.

“Hei anak-anak…” Apa yang Sehun lakukan? Setelah ahjumma itu pergi, sekarang dia memanggil segerombolan anak-anak SMA yang baru masuk dengan membawa alat-alat musik di tangannya.

Ne, ada apa hyung?” Jawab si anak paling gempal di gerombolan.

“Apa kalian akan pesan ramyeon?” Tanya Sehun. Mereka lantas menjawab ‘ya’ serentak.

Hyung akan mentraktir kalian, asal kalian mau bernyanyi untuk noona yang cantik ini.” Mereka pun setuju dan salah satu anak yang paling tinggi mulai memetik gitarnya.

Hallo Angel….

Geurim gata haneureul bomyeon neoman boyeo

City street lights buri kkeojigo

Dari sarajyeodo nuni busin geon

Haneuri tteoreotteurin byeol

Geuge baro neonikka

Aku tidak bisa menahan senyum yang sedari tadi ingin muncul ke permukaan. Baiklah, kubiarkan senyumku lolos begitu saja. Bahkan aku tertawa cukup keras. Benar-benar manis Sehun menyuruh anak-anak ini menyanyi. Malahan aku sudah tidak merasa kesal sedikitpun. Entah ia belajar dari mana cara menaklukan hati seorang Jung Shian.

Apalagi anak bertubuh gempal yang mencoba menyanyikan part rap pada lagu benar-benar lucu. Dia bertingkah seperti seorang rapper dengan gaya berlebihan yang mengocok perut. Dan harus kuakui, anak tertinggi di gerombolan adalah seorang gitaris dan penyanyi yang baik.

Sehun pun tak kalah menggemaskan dengan ikut bernyanyi dan menepuk-nepukkan tangannya sesuai irama. Bahkan ia menarikku berdiri dan bernyanyi bersama anak-anak ini. Jika kupikir cukup memalukan, tapi aku hanya merasa bahagia. Lagi-lagi Sehun sedikit merubahku.

Usai bernyanyi, anak-anak yang akhirnya mengenaliku meminta berfoto bersama. Aku tidak keberatan sama sekali. Toh, hanya foto tak akan membawa masalah apapun.

Akhirnya pesanan kami datang juga. Dua mangkok ramyeon lengkap dengan udang, daging dan sayur-mayur. Dan saat kumasukan sesumpit ramyeon ke mulut benar-benar membuatku terdiam sejenak, tidak bisa berkata-kata. Rasanya benar-benar enak dan original harus kuakui. Mi yang kenyal dan gurih adalah hal pertama yang kutemukan. Pantas Sehun bersikeras memintaku mencoba ramyeon di sini. Sama sekali tidak mengecewakan meski harus mengantri bersama orang ramai.

“Bagaimana? Kau suka?” Sehun ternyata lebih memilih memperhatikanku dan belum menyentuh ramyeonnya sama sekali.

“Tidak buruk sebenarnya. Baiklah ini sangat enak Sehun, kuakui. Ayo kau juga makan.” Jawabku kemudian menyeruput mi yang menggantung di bibirku.

Chankkanman.” Dengan gerakan tiba-tiba Sehun lantas menggunakan ibu jarinya untuk membersihkan sudut bibirku. Aku sedikit terkejut dan tersipu di saat bersamaan.

Gomawo.” Kataku yang masih sedikit tersipu oleh perilaku manisnya.

“Ehmmm…. Sehun sii. Boleh aku bertanya sesuatu?” Aku sengaja ingin mencairkan suasana kembali. Hal yang paling tidak kusuka di dunia ini adalah terlihat goyah, lemah, apalagi tersipu malu di depan pria. Sangat bukan style seorang Jung Shian.

“Tanyakan saja Shian sii, apapun itu akan kujawab.” Sehun mulai memakan ramyeonya yang masih mengepul. Tangannya mulai sibuk dengan sepasang sumpit namun matanya sama sekali tak beralih dariku.

“Pria seperti apa Byun Baekhyun itu?” Tanyaku akhirnya. Memang dari awal aku sangat ingin menggali informasi tentang pria yang kini secara resmi menjadi bosku. Ya mungkin saja kita bisa menjalin hubungan rekan kerja yang baik. Atau mungkin pertemanan yang menyenangkan.

“Dia seorang yang manis. Penurut dan rajin yang ku tahu. Bahkan selama aku mengenalnya, dia tidak pernah sekalipun membuat masalah. Oh dan dia sangat mudah bergaul dan suka melucu walaupun terkadang sangat berisik.” Sehun lalu tertawa mengingat tingkah adik tirinya mungkin.

Dari apa yang diceritakan Sehun, sepertinya kesan pertamaku pada Baekhyun tidaklah salah. Tapi aku masih belum mengerti bagaimana ayah Sehun bisa dengan mudahnya menyerahkan posisi Baekhyun saat ini padanya. Dan apakah Baekhyun memang selugu itu? Entahlah, tapi sepertinya ia pria yang baik.

“Dan apa… apa kau berhubungan baik dengannya?” Aku sedikit ragu.

“Ya sangat baik. Meskipun Baekhyun notabene adalah adik tiriku, sama sekali tidak menghalangi sebuah hubungan yang baik bagi kami. Malahan aku sangat senang bisa merasakan menjadi seorang hyung.”

“Oh jadi begitu. Aku benar-benar penasaran dengan Baekhyun sejak pertama mengenalnya.”

“Ya dia juga bilang sangat senang bisa bekerja sama denganmu. Dia fans beratmu asal kau tahu.”

“Byun Baekhyun, fans beratku? Benarkah? Wah aku senang sekali mendengarnya.” Aku jadi tidak sabar ingin bertemu Baekhyun dan mengobrol dengannya. Pasti menyenangkan memiliki bos sekaligus fans di kantor.

“Shian sii?”

“Kenapa Sehun sii?”

“Sekarang tinggal aku yang akan bertanya, bolehkah?”

Sure.”

“Mengapa kau sangat menyukai mawar merah?”

“Menurutku mawar merah melambangkan seorang wanita sempurna yang seharusnya. Indah, tenang, dan siapapun akan merasa senang di sekitarnya. Namun di sisi lain, misterius, seksi dan berbahaya. Tak bercela, tak tergoyahkan dan tak tertandingi.”

“Dulu noona selalu memintaku membelikannya sebuket mawar merah sepulang dari rumah sakit. Dan tak pernah absen, aku selalu membelinya.” Ekspresi Sehun tiba-tiba saja sedikit menggelap. Seperti ada sesuatu di memorinya yang merenggut kebahagiannya seketika.

“Kau memiliki seorang noona Sehun sii?” Aku berujar masih berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

“Namanya Byun Baekhan, noona kandung Baekhyun. Kau sangat mirip dengannya. Tak bercela, tak tergoyahkan dan tak tertandingi.” Sehun sedikit memaksakan dirinya tersenyum.

“Mungkin aku bisa bertemu dengannya kalau ada waktu.”

“Dia sudah meninggal Shian sii.” Deg! Dia sudah meninggal? Jadi hal itulah yang menyebabkan Sehun kini terlihat sangat pucat, peluhnya bercucuran dan matanya bahkan bergetar hebat. Beban macam apa yang sebenarnya ditanggung  namja ini?

“Aku turut menyesal.” Kuusap tangannya dan tersenyum berusaha menenangkan. Tak lama pandangan Sehun kembali berubah teduh. Aku senang bisa setidaknya menjadi teman berbagi yang ada untuk mendengar ceritanya. Mungkin dengan begitu kesedihannya bisa sedikit berkurang.

 

“Terima kasih sudah mau repot-repot menjemput dan mengantarku ke kantor Sehun sii.”

“Tidak masalah sama sekali Shian. Bagaimana kalau sore nanti kujemput?”

“Apa kau tidak sibuk?”

“Jadwalku hari ini hanya sampai siang selebihnya aku free. Bagaimana?”

“Baiklah kalau begitu.”

“Ya sudah aku duluan Shian. Sampai jumpa nanti sore.”

Ne hati-hati di jalan. Sampai jumpa nanti sore.” Lantas aku melambaikan tangan seiring kepergian Sehun.

Ya benar, tadi pagi dia menjemputku di apartemen dan menawari tumpangan ke kantor. Beruntung sekali, lagipula mobilku baru akan diantar siang ini. Jadi daripada aku naik taksi lagi, jauh lebih baik kalau aku menyetujui ajakannya berangkat bersama.

“Shian!” Tiba-tiba Jiyong oppa menghentikanku di lobi.

Oppa?”

“Kemarin kau meninggalkan ponselmu di ballroom. Untung saja Kim Namjoon menemukannya dan menyerahkannya padaku. Aishh.. anak ini ini ceroboh sekali.” Ya begitulah, Jiyong oppa mungkin satu-satunya pria di dunia ini yang tak sungkan menegur bahkan memarahiku. Dia sudah seperti kakaku sendiri. Walaupun dia sangat suka menggerutu dan berbicara seenaknya, tapi oppalah yang selama ini menjaga dan mengurus semua keperluanku di kantor.

“Ah aku benar-benar lega ponselku ada pada oppa. Lagipula oppa ke mana saja kemarin? Aku pulang sampai malam tapi oppa entah menghilang ke mana. Benar-benar menyebalkan.” Kini giliranku yang menggerutu padanya. Memang dia saja yang bisa?

“Hehe mianhae, aku ada keperluan sebentar.”

“Sebentar? Yang benar saja maksud oppa menghilang seharian adalah menghilang sebentar?” Aku berlagak sok galak. Kapan lagi aku bisa memarahi Jiyong oppa.

Ya apa kau tidak mau memaafkan oppamu sendiri? Shian-aa aku sudah berusaha menelponmu tapi ponselmu saja ada padaku. Aku sudah berusaha.”

“Mana kutahu kalau oppa tidak berbohong.”

“Aishh kau ini. Sudahlah kenapa kau tidak bisa memaafkan kesalahanku kali ini? Biasanya kau yang selalu berbuat salah dan aku akan langsung memaafkanmu.”

“Tentu saja bisa, dengan satu syarat.”

“Baiklah katakan. Dasar bocah ini, mengambil kesempatan dan memanfaatkanku.”

“Belikan aku ramyeon di kedai sebelah KFC di kawasan Myeongdong.”

Mwo? Sejak kapan Jung Shian makan ramyeon?”

“Sejak tadi malam. Baiklah oppa aku akan bersiap-siap, 15 menit lagi ada meeting. Dan ah ya, antarkan sekalian ke ruanganku arraseo? Terima kasih oppaku sayang.”

Aku benar-benar senang bisa mengerjai Jiyong oppa kali ini. Sungguh pagi yang menyenangkan. Apalagi sebelumnya Sehun menjadi orang pertama yang kutemui hari ini. Moodku benar-benar dalam kondisi yang sangat baik.

Saking baiknya, aku tak ragu membalas sapaan orang-orang yang biasanya hanya kubalas dengan senyuman. Aku bahkan mulai bergumam menyanyikan lagu Heaven yang menjadi lagu favoritku sejak semalam. Hingga akhirnya tiba juga di depan pintu ruang kerjaku.

Aku terkejut saat kuputar kenop pintu ruanganku dan mendapati Baekhyun tengah duduk di atas meja kerjaku. Rasanya seperti melihat sebuah mahakarya saat ia menyilangkan kakinya dengan senyum manis di bibir indahnya. Tangannya menggenggam sebuket mawar merah kemudian menciumnya cukup lama

Sajangnim?”

“Sudah kubilang jangan memanggilku begitu, Jung Shian sii.” . Matanya tak ragu sedikit pun menatapku intens dan entah mengapa dia terlihat seksi pagi ini.

“Oh mianhae Baekhyun sii, aku hanya sudah terbiasa. Tapi ngomong-ngomong apa yang sedang kau lakukan di sini? Apa kau menungguku?”

“Ya. Dan kau membuatku menunggu cukup lama. Kemarilah aku ada sesuatu untukmu.” Tiba-tiba saja bulu kuduku berdiri saat ia menggunakan suara rendahnya yang serak. Auranya pun seketika benar-benar berubah, seperti bukan Baekhyun yang kutahu. Gelap, telak dan mengintimidasi.

Dengan sedikit keraguan, aku mendekat ke arahnya. Ia menyuruhku berjalan lebih dekat lagi dan membuat jarak kami benar-benar hanya sepuluh senti. Ia memutar posisinya dengan satu gerakan yang membuat kami bertukar posisi sekarang. Dengan tak mengalihkan pandangan dari mataku, Baekhyun berjalan perlahan menyudutkanku ke meja. Bahkan saat kurasakan pinggangku telah menyentuh tepi meja, ia tetap berjalan mendesakku dengan senyum di bibirnya. Tapi bukan senyum yang sama yang ia tunjukan sebelumnya. Bukan senyum malaikat yang ramah, melainkan sebuah seringaian. Sial, siapa dia sebenarnya?

“Kakakku mengirim sebuket mawar untukmu. Pasti dia sangat tergila-gila padamu. Bukankah hal itu mudah saja bagi Jung Shian?” Baekhyun lantas menyodorkan buket mawar tersebut tepat di depan wajahku. Aku masih bisa melihatnya tengah mengamatiku seperti seekor predator pada mangsanya lewat celah rumpun-rumpun mawar.

“Ah… katakan padanya aku sangat berterima kasih.” Sebisa mungkin kucoba menyembunyikan nada gentar dalam suaraku.

“Ini ambilah!” Dan saat tanganku hendak meraih buket mawar tersebut, Baekhyun justru menjatuhkannya ke lantai yang membuat kelopaknya rontok berhamburan. Aku terbelalak saat Baekhyun lantas mencekal tangan kananku yang masih menggantung di udara.

“Apa yang kau lakukan?” Bukannya menjawab, ia malah meremas tanganku yang masih dalam cekalannya kuat. Dengan seringaian licik dan semakin meremasnya hingga tanganku hampir mati rasa. Apa yang dia inginkan sebenarnya?

“Lepaskan aku brengsek!”

“Wah wah apa kau selalu bersikap seperti ini pada semua pria?”

“Aku tidak peduli jika kau bosku atau siapapun, tapi aku tidak menyukai sikapmu barusan. Jadi keluarlah! Kau tahu pintu keluarnya kan sajangnim?” Dia pasti tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa sekarang.

“Kau pasti lupa fakta bahwa akulah yang lebih berhak mengatur di sini Jung Shian sii. Kau tidak dalam kapasitas demikian.”

“Baiklah katakan apa yang kau inginkan?” Kutatap matanya tajam mencoba mendominasi.

“Pasti tidak menarik jika kukatakan sekarang. Bukan begitu?” Sepertinya dia bukan pria sembarangan. Nyalinya sama sekali tidak menciut sedikitpun. Dengan langkah yang boleh kuakui sangat seksi, ia mendudukan dirinya di sofa.

”Aku tidak ada waktu untuk berbasa-basi Baekhyun sii. Jadi katakanlah selagi aku masih bersikap sopan!” Tak ingin kalah darinya, kini kududukan diriku di atas meja dan menyilangkan kakiku seseksi mungkin. Terlihat ia cukup menikmatinya. Matanya memicing mengamati setiap pergerakanku dengan senyum menawan yang mengembang.

“Kenapa terburu-buru? Duduklah!” Ia melirik sofa di sebelahnya dan mengisyaratkanku untuk duduk.

“Kenapa aku harus repot-repot? Kau kemarilah!” Kulambaikan tangan dan tersenyum sambil menggigit bibir bawahku. Dia pasti menyesal telah berurusan dengan Jung Shian.

Tanpa ragu Baekhyun menyambut undanganku dan kini ia berdiri tepat di depanku. Wajahnya berada di bawah wajahku karena posisiku yang duduk di atas meja membuatku lebih tinggi darinya.

“Kau pasti berpikir aku tidak berani melakukannya?” Baekhyun bersuara. Suaranya bahkan lebih serak dari sebelumnya. Beberapa kali nafasnya yang berat mengenai bibirku.

“Aku tahu kau adalah pria yang akan melakukan apapun Baekhyun  sii.”

“Ya benar, aku akan melakukan apapun yang aku mau Shian sii.” Seketika aku cukup menegang saat Baekhyun meraih pinggangku dan menatap wajahku seduktif. Ternyata aku salah, dia tidak akan menyerah dan pergi begitu saja.

Mengerti akan situasi yang tidak menguntungkan bagiku, kudorong dadanya yang sudah menempel dengan milikku. Sial, bahkan tubuhnya tidak bergeser sedikitpun. Ternyata dia jauh lebih kuat dari terlihat.

Aku benar-benar kecolongan saat dengan cepat ia meraup bibirku dan menciumnya tanpa jeda. Dan tanpa memberiku celah sedikitpun, ia mengunci kedua tanganku ke belakang dengan satu tangannya. Oh yang benar saja, kurasakan tangan Baekhyun sangat halus saat ia mengelus pipiku lembut. Benar-benar kontras dengan ciumannya yang terburu-buru dan menuntut. But damn, he’s such a good fucking kisser.

Setelah selesai dengan pipiku, tangannya lantas melucur mengelus pahaku yang terbuka. Anehnya aku merasa benar-benar melayang karena Baekhyun menyentuh titik-titik sensitifku. Dan saat aku mulai menikmatinya, dengan sangat baik ia memperhalus ciumannya. Tidak ada lagi ciuman panas yang menguras keringat, yang ada tinggal setiap kecupan bibirnya yang lembut dan memabukkan. Bagaimana dia melakukannya?

Saking terlena pada ciuman kami, tanpa kusadar kukalungkan tangan di leher Baekhyun dan menjambak rambutnya gemas. Ia kembali mempercepat tempo ciuman dan tangannya mengaitkan pahaku di pinggangnya yang membuat kami benar-benar tanpa jarak sekarang.

“Shian? Boleh aku masuk?” Suara Jiyong oppa tiba-tiba menginterupsi dan membuat Baekhyun dengan cepat menjauhkan tubuhnya dan merapikan jas sekadarnya.

Oh Tuhan, apa yang sudah kulakukan? Si brengsek ini dengan mudahnya merobohkan benteng yang kubangun. Seharusnya aku tidak melayaninya dan pergi selagi bisa. Pasti semua tidak akan jadi seperti ini. Benar-benar sial.

“Shian kau di dalam? Aku masuk yah?”

“Masuk saja oppa!” Jawabku masih dengan napas yang tak beraturan.

Jiyong oppa nampak terkejut melihat Baekhyun di sini. Namun dengan cepat, ia lantas tersenyum seperti biasa.

Sajangnim?”

“Oh aku hanya sedang mengingatkan Nona Jung Shian untuk menghadiri rapat sekarang juga.” Aku yakin Baekhyun akan menjadi aktor terkenal kalau tidak menjadi seorang presdir. Aktingnya benar-benar luar biasa dan meyakinkan. Ia berbicara dan tersenyum seperti biasa. Seperti orang–orang menilainya, ramah dan polos.

Bagus sekali, sekarang aku tahu bahwa bosku adalah seorang bermuka dua. Penipu kelas kakap yang sukses membuat semua orang bahkan kakaknya sendiri terkelabuhi. Kurang ajar, dia pasti sangat baik memainkan perannya hingga membuatku sempat berasumsi bahwa dia adalah pria yang baik. Dan bersembunyi dari wajah manisnya, entah hal apa yang bisa saja dilakukan pria ini.

 

“Selamat pagi semuanya.” Wah sekali lagi aku takjub pada akting natural Baekhyun saat ia dengan wajah angelnya membuka rapat pagi ini. Aku tak habis pikir orang-orang tertipu oleh sosok di ujung meja tersebut.

“Aku mengadakan rapat kali ini hanya akan sekedar mereview dan sedikit merubah persiapan kita sebelum berangkat ke Chicago.” Aku masih tidak percaya pada apa yang kulihat setelah mengingat kejadian di ruanganku barusan. Sekarang Baekhyun dengan segala bakat akting  dan tipuannya berbicara sangat imut dan beberapa kali menggigit ujung bulpoin yang dipegangnya.

“Apa kita benar-benar membutuhkan sebuah perubahan saat waktu yang tersisa tinggal 2 hari lagi sajangnim?” Jungkook bertanya setelah sebelumnya ia mengangkat tangan.

“Aku sudah memikirkannya matang-matang tentang ini. Aku yakin kau akan menyukainya Jungkook sii. Jadi aku menunjuk Nona Jung Shian untuk menjadi rekanmu saat kompetisi di Chicago. Dan masalah penggantinya yang akan menyiarkan dari studio, aku memilih Han Jungeum sii dan kami telah menyetujuinya bersama. Aku yakin kau sama sekali tidak keberatan dengan perubahan kecil ini kan Jungkook sii?” Apa? Seenaknya sekali Baekhyun memutuskan tugasku yang bahkan telah kupersiapkan sebelum ia menjadi presdir di sini. Pasti dia berencana membunuhku setelah ini.

“Kalau begitu terserah sajangnim saja, aku yakin dengan adanya Shian sii di sana akan semakin menambah kinerja tim ini.”

“Ya aku sangat yakin Jung Shian sii tidak akan mengecewakan kita. Bagaimana Shian sii, kau menerimanya kan?” Baekhyun menatapku cukup lama menunggu jawaban.

Dan sialnya, aku sadar tak bisa menolak mengingat posisi Baekhyun di sini. Baiklah anggap saja dia tengah mengibarkan bendera perang padaku. Maka akan kusambut tantangannya dan memborbardir pertahanannya sampai kalah. Lihat saja siapa yang akan menang kali ini?

TBC

 

 

11 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] You Can’t Blame Me (Chapter 2)

  1. dari ff yg aku bca biasanya sehun yang memiliki dua kepribadian sementara baekhyun namja ceriah…

    tapi?disini… mereka berubah 180 derajat..

    keren thor.. ditunggu chap selanjutnya…

    • Thank u udah nyempetin baca n coment^^
      Sebenernya hanya menyesuaikan bias author yaitu baekhyun n kai
      tp berhubung menurut author kai kurang cocok dengan karakter ini jd terpilihlah sehun yg emang mukanya ganteng badai dan semua exol kayaknya pd suka deh sama sehun hihi

  2. waaah kerenn ka.. aissh sehun yawla co cwiit bgt sii uuh mau jg dong dikasih mawar merahny sm dedek
    wow byun you’re so fuckin boy..shiit tertipu dg wajah innocentny ckk
    dtunggu chap selnjtny ka jan lama” ya hee fighting

  3. Hah ternyata baekhyun tidak sebaik kelihat anya?
    Ya ampun baek inget tuh di kantor jgn berbuat yg tidak senonoh wkwk
    apakah dia suka sama shian sebenernya? Duh ffnya makin keren jadi bingung antara baekhyun or sehun
    next thor udah ngga sabar pas mereka di chicago

  4. Sumpah… Gw speachless banget baca ff ini
    Terlebih ama adegan Tn. BYUN yg klakuannya BYUN…(ditonjok shiners gw👻👻)
    Fix..
    Chicago kota romantis, apa mreka mw bkin cerita ber2 dsana?
    Gw tunggu aksi cilik (licik) mu Tn. BYUN

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s