[EXOFFI FREELANCE] For You (Chapter 2)

baek cover.jpg

 

ByunPelvis’s Story Line

Cast                      :BaekSumin (OC)  // ByunBaekhyun

Other Cast          : Xi Luhan ,Park Jisung NCT a.k.aBaekJisung,  ect.

Genre                   : Sad , Romance, Friendship,family,AU, &Find Yourself.

Leght                    : Chapter

Disclaimer                    : This story is mine .no impersonation . If there are the same then only accidental .   * “I will always look at you while you’re indifferent .me, you only have a wounded heart . I really want to heal .allow me. because I like you”

*

Waktu dibumi semakin cepat berganti , begitupun dengan kegiatan semua orang. Kegiatan dikampus sangat membosankan karena dosen tak masuk dan hanya meninggalkan tugas merangkum. Sumin berulangkali menilik jam dipergelangan tangannya. Waktu kursus  melukisnya dimulai 2 jam lagi, dan ia akan menunggu lama jika ke Art Bank sekarang.

“apa aku pulang saja ya?”

Ucap Sumin sembari menangkup kedua wajahnya dengan tangan, nafas lelah dihembuskannya berulangkali dan pada akhirnya kepalanya jatuh bertumpu pada meja.

“kau butuh sesuatu yang segar Sumin-ssi.”

Sumin mengangkat kepalanya saat ada yang mengajak bicara. Tubuhnya seketika langsung tegak, dan buku yang berantakan di hadapannya ia rapikan. Seketika suasana canggung tercipta diantara dua insan itu. Yang paling merasa tidak nyaman adalah Sumin, ia jadi mengingat tentang hari itu. Dimana saat Luhan menyatakan sebuah pengakuan tentang perasaan suka padanya.

“e-eo Luhan Saem? Anyeonghaseyo.”

“Ne nado. Wahh kau rajin sekali  Sumin-ssi.”

Pujian pria berdarah Korea-China itu membuat Sumin tersenyum bangga. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali. Ya , seperti itulah dirinya jika sedang dilanda kegugupan.

“ah iya. Aku selalu mengutamakan tugas agar nanti ada waktu luang untuk belajar.” jawab Sumin diakhiri dengan cengiran.

“Universitas akan bangga jika semua mahasiswanya rajin seperti dirimu. Kau mudah berteman,ceria,dan aktif. Kurasa siapa saja akan menyukaimu dengan kepribadian seperti itu. Kau ini gadis yang sangat sempurna Sumin-ssi. Pantas jika aku juga tertarik padamu” Luhan mencoba bergurau dan itu berhasil bagi Sumin, eoh tapi kata-kata yang gurunya itu ucapkan bukanlah sebuah candaan.

Sumin berusaha terus meladeni segala pertanyaan Luhan. Ia hanya mencoba hormat pada Luhan yang jauh lebih berumur darinya. Dan tentang perasaan Luhan padanya sungguh membuat Sumin merasa bersalah. Sejak tadi guru seni itu memandangnya dengan tatapan penuh arti.

Dan mereka diam kembali, tak ada bahan obrolan yang keduanya sampaikan.

“emm Luhan saem bagaimana bisa anda ada disini?” ucap Sumin mencoba mengusir hawa canggung yang semakin tercipta.

“hei,  aku mengajar seni hari ini. Kau lupa?”

ah nde. Jeongsohamnida

Luhan terkekeh melihat sikap formal Sumin. Sudah berkali-kali Luhan meminta agar gadis itu bersikap biasa saja padanya, seperti seorang teman misalnya. Tapi Sumin masih saja bercakap ceondemal padanya.

Sumin beralih menyeruput minuman yang diberi Luhan tadi. Ia merasa tak nyaman terus duduk berdua diperpustakaan dengan guru super tampan, apalagi Luhan yang terus  serius menatapnya.

“kau sudah menyatakannya?” tanya Luhan.  Sumin mengerutkan dahinya karena kurang faham dengan apa yang gurunya itu tanyakan.

“nde? menyatakan apa?”

“perasaanmu” ucapan Luhan hampir membuat Sumin tersedak latte. Tiba-tiba kejadian saat Luhan menyatakan perasaan suka padanya kembali melintas dibenaknya. Sumin mendadak tidak enak hati dan menunduk.

“Luhan saem mian aku masih tak bisa menerimamu. A-aku-…“

“bukan perasaanmu padaku Sunmi-ssi. Aku tau cintaku padamu bertepuk sebelah tangan. Kau menyukai namja lain kan?”

Sumin semakin menunduk sembari  mengigit bibir bawahnya, rasanya ia ingin kabur saja menghadapi situasi itu.

“I-iya benar. Sebenarnya aku memang menyukai seseorang.”

“Byun Baekhyun?”

Sumin membulatkan matanya untuk yang kesekian kalinya. Luhan tau tentang perasaanya sekaligus siapa yang disukainya. Ini gawat, bisa saja semua orang akan tau nanti. Apalagi Luhan adalah orang yang kelewat jujur.

“Saem, darimana anda tau jika aku…… m-menyukainya?”

Luhan tersenyum dan mengacak rambut Sumin. Rasanya sangat gemas saat melihat wajah terkejut dan juga gugup milik gadis pujaannya. Jujur saja sebenarnya hati Luhan sangat tidak nyaman saat mengatakan itu. Bagaimana ia tidak sakit hati saat mengetahui Sumin menyukai namja lain. Apalagi Luhan mengetahui sendiri fakta itu.

“aku dapat mengetahui dari tatapanmu padanya. Terlihat jelas jika kau salah tingkah saat bersamanya. Dan kau tak pernah tau jika aku selalu memperhatikanmu saat sedang mencuri pandang pada Byun Baekhyun” Ucap Luhan dengan begitu lancar.

Sumin mengerjap tak percaya atas ucapan gurunya itu. Tak pernah diketahuinya jika Luhan selalu memperhatikan gerak-geriknya selama ini. oh gadis itu entah mengapa semakin merasa bersalah saja.

“eum tapi kurasa ia tak menyukaiku.”

“kau tak pernah tau bagaimana hatinya . Seorang pria punya cara tersendiri untuk menyembunyikan perasaan..”

Sumin meringis dan kembali menunduk. Luhan menengok arlogi di pergelangan tangannya dan beranjak. Namja itu memiliki jadwal mengajar juga di Art Bank beberapa jam lagi.

“Berbahagialah untukku Sumin-ssi. Aku boleh saja tak mendapatkan hatimu tapi bisakah kau memberiku kebahagiaanmu?. Itu lebih dari cukup dari mendapat balasan cinta darimu.”

“s-saem!”

“aku pergi dulu. sampai bertemu di Art Bank”

Bibir Sumin kelu, ia ingin menagis karena menyia-nyiakan namja baik dan juga dewasa seperti Luhan Seonsaengnim.

Sampai Luhan berlalu pun gadis itu masih tak mengeluarkan suaranya.

‘maafkan aku Luhan saem.’

.

.

.

Sumin mampir ke minimarket terdekat. Disana ia membeli puncake dan juga sebuah kertas lengkap dengan amplop berwarna biru laut. Ia meminjam bolpoin pada ajhussi penjaga kasir untuk menulis sesuatu.

Sumin terlihat serius sampai tak melihat ada seseorang yang sedang lewat dihadapannya. Kaca minimarket yang tembus pandang membuat seseorang itu melihat jelas apa yang sedang Sumin lakukan. Ia memilih pergi sebelum Sumin sadar kehadirannya disana.

Setelah kegiatan menulis surat selesai Sumin memasukan kertas itu  kedalam amplop. Gadis itu melihat jam mungil di pergelangan tangannya dan segera bergegas menuju tempat kursus melukis.

.

.

Sumin berdiri dipintu seperti sedang mengantri tiket konser, ia sedang menanti kedatangan seseorang. Sembari menunggu ia mengingat apa kata-kata Luhan tadi.

‘Berbahagialah untukku Sumin-ssi. Aku boleh saja tak mendapatkan hatimu tapi bisakah kau memberiku kebahagiaanmu. Itu lebih dari cukup dari mendapat balasan cinta darimu’.

Sumin menghembuskan nafasnya karena gugup. Mobil Luhan sudah terparkir, tanda jika gurunya itu sudah datang sejak tadi. Hanya tinggal murid-muridnya yang sepenuhnya belum hadir.

“Lama sekali.” Keluh Sumin. Gadis itu bukan tipe seseorang yang betah menuggu.

“apa aku batalkan saja ya?” lanjutnya semakin frustasi. Gadis itu antara ingin dan tidak percaya diri.

. Pada akhirnya ia berbalik untuk masuk dan malah menabrak sesuatu.

“aww ya Sumin-ah sedang apa kau didepan pintu? Astaga!”

Ternyata itu Hyeori, satu-satunya teman wanitnya  ditempat itu. Sumin meringis, karena kecerobohan dirinya Hyeori hampir saja tersungkur jatuh.

“mian Hyeori-ya. Aku tak sengaja.” Cengir Sumin .

“masuklah ! Nam Saem sudah didal- eoh ini apa?”

Tiba-tiba Hyeori menunduk untuk mengambil sesuatu yang terjatuh. Sumin ikut menatap bawah dan melihat amplop biru miliknya tergeletak dilantai.  Ia membulatkan matanya karena Hyeori memungut suratnya.

“hei ini miliku.”

“surat apa itu? Wahh apa kau mendapatnkannya dari seseorang?”

“B-bukan. Aku …- “

Hyeori mengangkat sebelah alisnya karena Sumi tak melanjutkan perkataan.  Sekilas Hyeori melirik surat beramplop biru yang sudah beralih pada genggaman Sumin.

“Sumin-ah , aku sempat melihat marga Byun disana. Hahh apa kau?”

“anhiyeo. Kau salah lihat  Hyeori-ya kau… yakkk andwe.”

Tanpa ampun Hyeori menarik tangannya dan merebut surat biru itu. Temannya dengan asal membuka dan membaca isinya. Tamat sudah riwayat Sumin detik ini. Ia berdoa agar doraemon muncul dan  meminjamkan pintu kemana saja saat ini.

“n-eo!. Jadi benar jika kau menyukai Byun Baekhyun?”

Sumin sedikit kaget saat tiba-tiba Hyeori berubah ekspresi dan juga berbicara dengan nada lumayan tinggi.

Sumin bahkan sampai sulit untuk meneguk ludahnya sendiri. Ia sudah ketahuan jadi tak ada gunanya mengelak.

“ i-ya emm.. aku menyukai Byun Baekhyun.” jawab Sumin dengan sangat lirih lalu menunduk.

“menyerah saja Sumin-ah.”

Kata-kata Hyeori langsung menusuk telinga tajamnya, begitu terkejutnya Sumin karena temannya sendiri menyuruhnya menyerah bahkan sebelum ia mencoba .

“m-mworago?”

“percuma kau menyatakan perasaanmu padanya. Jangan menyerahkan hatimu pada Byun Baekhyun.” ucap Hyeori berniat merobek surat itu tapi dengan cepat Sumin merebutnya. Sumin tak menyangka Hyeori berbuat seenaknya, ia jadi emosi sekarang.

“wae? apa kau tak suka?’ tanya Sumin sekenanya. Hyeori tersenyum miris dan menatapnya semakin tajam.

“iya. “

“wae? kufikir kau teman yang selalu mendukungku”

“geurae. Apa aku harus membiarkan temanku menggung sakit hati nantinya?”

Sumin mematung, Hyeori tiba –tiba berubah dingin padanya. Selama ini yang tidak pernah suka saat dirinya memperhatikan Baekhyun jelaslah Hyeori. Sumin selalu berusaha diam saat temannya itu memperingati ini itu.

“Hyeori-ya , kenapa kau seperti tak menyukai Baekhyun sunbae?”

“apa terlihat jelas? Ya aku tak menyukai namja bodoh sepertinya.”

Sumin mengepalkan kedua tangannya, mendengar namja yang disukainya dihina oleh temannya sendiri, kini kemarahannya semakin membuncah. Rasanya ia ingin memukul mulut Hyeori .

“Baekhyun Sunbae namja yang baik. Dia tidak bodoh.” Bela Sumin dengan nada cukup tinggi, ia membela Baekhyun. Hyeori sedikit tersentak tapi gadis itu mengontrolnya.

“aku lebih tau bagaimana seorang Byun Baekhyun. Aku lebih lama mengenalnya ketimbang dirimu. Dan aku tak mau kau merasakan apa yang kurasakan”

“mwo? Kau-“

“Dulu aku sama sepertimu Sumin-ah. Aku pernah menyukai Baekhyun.”

Sumin hampir menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan Hyeori walau sangat lirih. Seketika gadis itu kehilangan energi,  membuat kakinya mendadak lemas.

“N-neo “

“aku hanya ingin kau berhenti sebelum menyesal nantinya.”

Setelah mengatakan itu Hyeori berbalik meninggalkan Sumin yang masih mematung. Gadis itu masih syok dengan kata-kata Hyeori .

Tak ada pergerakan setelah beberapa detik sampai Sumin memutuskan untuk berjalan menghampiri Hyeori yang sedang mengeluarkan isi tas.

“jadi kau tak menyukai  Baekhyun karena ditolak?”

Hyeori menghembuskan nafas beratnya mendengar pertanyaan Sumin, gadis itu terlalu malas menerangkan apalagi menjelaskan. Mugkin ia harus memberitahu dulu apa dan kenapa dibalik sikap Baekhyun .

“Kau salah. Aku bahkan tak pernah menyatakan perasaanku padanya, dan saat ini perasaan itu sudah tak ada lagi.”

“k-kau?”

“biar kuceritakan sesuatu yang mungkin akan membuatmu tercengang.”

“mwonde?” jawab Sumin dengan nada tak berminat.

“Byun Baekhyun mungkin tidak pernah berani jatuh cinta lagi.”

“nde? a-apa maksudmu?”

“Baekhyun terpuruk dalam kesedihan selama ini. Kekasihnya mati karena dia sendiri. “

Sumin menggeleng mendengar perkataan Hyeori. Ia saja baru bertemu Baekhyun baru sekitar 5 bulan lalu. Dan memang tatapan namja itu pada setiap orang sangat berbeda. Sumin sebenarnya sadar ada kesedihan mendalam pada diri Baekhyun.

Dan setelah Sumin mendengar perkataan Hyeori perasaannya jadi tak karuan. Antara kaget dan juga tidak percaya.

“kekasihnya mati bunuh diri karena depresi dan itu disebabkan oleh keegoisan Byun Baekhyun.”

Penjelasan singkat Hyeori membuat Sumin tercengang, ia bahkan tak bisa mengatupkan mulutnya untuk saat ini.

“m-memangnya apa yang Baekhyun sunbae lakukan? Dan bagaimana kau tau semua ini?”

“entahlah. Aku tak begitu faham dengan masalahnya. Sebenarnya kekasih Baekhyun adalah temanku juga. Namanya Ahn Seulrin. Kami cukup dekat saat SHS”

Sumin meneguk ludahnya dengan susah payah. Mungkinkah Baekhyun menyesal selama ini?.Jadi mungkin alasan Baekhyun bersikap datar dan acuh karena masa lalu yang sangat pahit. Sumin sekarang tahu sedikit mengenai sifat Baekhyun.

“t-tapi Hyeori-ya. Bisakah jika aku mencobanya? Menyatakan perasaanku padanya.”  Mendengar kata-kata Sumin membuat Hyeori berdecak dan berdiri dari duduknya.

“sudahlah Sumin-ah. Aku tak ingin kau tersakiti nantinya. Kau hanya akan mendapat penolakan dari Baekhyun.”

“wae? aku fikir tak apa , emm aku akan siap apapun jawabannya.”

Hyeori mengepalkan kedua telapak tangannya mendengar kata-kata Sumin. Hyeori paling tidak suka dengan seseorang yang keras kepala.

“hahh… Baiklah jika kau memang tak percaya. Ayo kita buktikan!”

Sumin terbelalak saat Hyeori merebut surat yang ada ditangannya dan berjalan melewatinya, gadis itu tambah terkejut saat  mata indahnyamenangkap Baekhyun yang baru saja masuk.

“Hyeori-ya !. Biarkan aku sendiri yang menyerahkan surat itu. Jebalyeo.” Pinta Sumin dengan nada berbisik.

Secepat apa ia mencegah Hyeori akan berbuah sia-sia karena Baekhyun sudah berhenti menanggapi panggilan Hyeori.

Sumin mendekat dan  mencengkram lengan Hyeori untuk menarik temannya itu pergi, tapi yang didapat justru sebuah tepisan halus. Kini keringat dingin mulai membasahi pelipis Sumin yang tertutup oleh poni. Sumin menggeleng dan mengigit bibir bawahnya.

“ada apa?”

Kini suara emas favorit Suminlah yang terdengar sangat merdu. Baekhyun menatap bingung dua gadis dihadapannya secara bergantian.

“Byun Baekhyun, ada yang ingin menyatakan cinta padamu” ucap Hyeori langsung . Sumin mengendurkan bahunya karena pencegahannya gagal. Kini Baekhyun akan tau bagaimana perasaannya.

Baekhyun masih memandang kedua gadis dihadapannya sampai Hyeori menyodorkan sebuah surat.

“ini pengakuan cinta dari Baek Sumin. Aku hanya membantunya menyerahkan surat ini pada orang yang disukainya. Aigo kenapa dia terjerat olehmu Baekhyun-ssi? . Kuharap kau tak menyakiti hatinya sama seperti kau menyakiti hatiku dan hati Seulrin.”

Ekspresi Baekhyun berubah saat Hyeori menyebutkan salah satu nama. Karena hanya diam yang didapati pada akhirnya Hyeori memaksa Baekhyun menerima surat yang disodorkannya.

“baca sekarang dan beri jawabannya!” perintah Hyeori dengan nada dingin. Baekhyun hanya memasang wajah datar seperti biasa, ia terlalu malas membuat konflik dengan orang lain.

Dengan malas namja itu membuka surat soft blue yang sudah berada digenggamannya.

Sumin berharap cemas melihat Baekhyun membaca suratnya. Gadis itu hanya bisa diam sedari tadi. Tak dibayangkannya sama sekali apa yang terjadi setelah ini. Mungkin ia akan menghilang bagaikan tokoh Kai si teleport dalam film EXO yang ditontonnya minggu lalu.

Baekhyun awalnya tertegun saat membaca isi surat itu. Tapi dengan ekspresi datar yang ia punya tak membuat  reaksinya terlihat . Satu menit yang digunakan namja itu untuk terdiam. Masih dengan ekspresi datar namja itu berjalan mendekati Sumin. Diraihnya tangan Sumin untuk mengembalikan surat tadi.

“Maaf , aku belum bisa membuka hatiku” hanya itu yang dikatakan Baekhyun lalu namja itu berjalan melewatinya. Bahkan sedari tadi Baekhyun sama sekali tak menatap matanya .

Tak ada jawaban lain lagi yang bisa Sumin dengar,

Sumin merasa hatinya hancur seketika,ia berharap hari ini sebuah kebohongan. Sumin berharap hari ini hanyalah sebuah mimpi buruk.

Hyeori berjalan mendekatinya dan memeluknya. Sumin tak bisa menahan kesedihannya saat ini. Jadilah ia menangis dengan meminjam bahu Hyeori.

“kau lihat? dia begitu bodoh karena masih menutup hatinya.” Ucap Hyeori membuat Sumin semakin terisak kecil. Untunglah seonsaengnim tak ada diruangan itu jadi Sumin tak perlu ragu untuk terus mengeluarkan air matanya.

“maafkan aku Sumin-ah. Aku melakukan hal tadi untuk membuktikan jika ia memang namja bodoh. Aku tak mau kau tersakiti dan menanggungnya sendiri. Sungguh maafkan aku . Kau boleh kesal padaku Sumin-ah.” Lanjut Hyeori masih memeluk Sumin. Diusapnya bahu Sumin agar lebih tenang.

“m-maaf tak percaya padamu Hyeori-ya”

“hemm gwemchana. Sudahlah jangan menangis karena Baekhyun. Masih banyak pria yang bersedia membukakan hatinya untukmu diluar sana.”

Sumin melepas pelukan Hyeori dan menatap temannya itu dengan senyum. Sumin mengangguk dan mengusap sisa air dipipinya.

Mereka tak tau jika dibalik tembok seseorang sedang bersandar.Sejak awal ia mendengar percakapan dua gadis itu. Perlahan ia menghembuskan nafasnya.

“kapan kau akan menerima kenyataan itu?” ucap namja berdarah China itu. Mata rusanya menatap Baekhyun dengan sendu.

.

Tbc

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] For You (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s