[EXOFFI EVENT] Grief (Oneshot)

tumblr_n07vy91H501s3z68no3_500.gif

Bagi Kim Jongdae, hari yang indah itu diawali ketika ia baru bangun dari tidurnya. Sinar mentari yang memasuki kamarnya lewat jendela, semilir udara yang terasa sejuk menyegarkan, dan nyanyian burung gereja yang hinggap di pepohonan terdengar begitu merdu untuknya. Namun semuanya hanya tinggal angan belaka saat- “Yak.. Kim Sehun, kembalikan sepatu olahraga punyaku. Hyung akan memakainya hari ini..” – Kim Sehun, adik satu satunya kembali berulah dengan segala tingkah nakalnya.Sehun berlari secepat yang ia bisa. Menghindari kejaran Jongdae, dengan sepasang sepatu olahraga yang ia ambil secara diam diam –setidaknya itu sebelum ia ketahuan- dari Jongdae.

“Andwae Hyung.. Sehun mau memakainya hari ini. Hyung pakai saja sepatu yang lain” teriak Sehun sambil berlari memasuki kamarnya dan mengunci pintu rapat rapat. Menyisahkan Jongdae yang menggeram kesal di depan pintu kamar adik kurang ajarnya itu. Sehun itu nyebelin. menurut Jongdae, Sehun itu ibarat setan kecil di keluarganya. Tapi disaat bersamaan, Sehun itu juga seperti malaikat kecil di keluarganya. Polos dan lugu, jago mengeluarkan wajah imut –minta dikasihani- dan tatapan anjing terbuangnya. Siapa yang tidak akan luluh jika Sehun sudah mengeluarkan jurus andalannya itu? Jongdae pun takluk dIbuatnya.

Jongdae mempercepat langkah kakinya, meninggalkan sosok Sehun yang berusaha menyamakan langkah kaki dengan dirinya, dengan sepatu milik Jongae yang kebesaran dan tali sepatu yang sama sekali tidak terikat. “Hyung.. tunggu..” Sehun berusaha mengejar, ia bahkan tidak takut jika salah melangkah, yang dapat membuat dirinya terjatuh akibat tali sepatu yang tidak terikat itu. Masa bodo,ia yakin jika itu terjadi Jongdae Hyung pasti akan menolongnya. Lagi, Sehun berteriak kencang. Memanggil Jongdae tanpa tahu bahwa Jongdae berhenti beberapa meter didepannya. Bocah itu terus saja memanggil Jongdae, tanpa melihat kedepan. Ia hanya memperhatikan langkahnya.

Anggap Sehun ceroboh. Karena dengan berjalan dengan kepala menunduk, bocah itu tidak sadar jika ia menabrak punggung sang hyung dan lucunya bocah itu terjatuh dengan tidak elitnya. Sungguh Sehun malu.. ingin rasanya ia pulang dan merengek dalam pelukkan Ibunya. “Dasar ceroboh, idiot, bodoh,-” Jongdae mengumpat, kesal dengan tingkah sang adik. “Jika kau tidak bisa mengikat tali sepatu, mengapa kau tetap memaksa memakai sepatu bertali, eoh?” meski Jongdae mengumpat, mengeluarkan kekesalannya, namun pemuda itu berbalik, berjongkok didepan Sehun yang masih terduduk di aspal, dan mengikat tali sepatu Sehun yang tidak terikat.

Mendengar omelan Hyungnya, Sehun semakin menunduk, tidak berani menatap wajah sang Hyung, matanya berkaca kaca. “Sehunnie hanya ingin seperti Hyung.. Hyung terlihat keren jika menggunakan sepatu ini” ujar Sehun lirih. Jongdae tertegun. Jadi, karena ini? Alasan sederhana yang sering didambakan seorang adik terhadap kakaknya? “Bangunlah..” kata Jongdae sambil mengulurkan tangannya, menarik sang adik agar berdiri. Jongdae merasa buruk sebagai seorang kakak, ia menyesal sudah mengumpat kesal karena tingkah Sehun. “Hyung tidak marah?” Sehun berujar takut-takut, bagaimana jika Jongdae masih marah padanya?

“Tidak” satu jawaban singkat itu berhasil membuat Sehun nyaris melompat bahagia. “Asal kau jangan ulangi lagi, lain kali jika ingin memakai barang barang milik Hyung, minta izinlah terlebih dahulu. Kau mengerti?”. “Nde Hyung..” jawab Sehun seraya menganggukan kepalanya semangat. Ekspresi takut takutnya pun sudah tidak terlihat lagi,  berganti dengan wajah ceria dan cengiran kanak kanaknya

Kening Nyonya Kim menyeringit bingung. Pasalnya sejak pulang sekolah tadi, kedua putranya tampak aneh. Eh.. ralat, hanya si bungsu Kim yang terlihat aneh. Bocah yang baru memasukki senior high school itu tampak mengikuti segala aktivitas dan tingkah laku Jongdae, sang kakak. Diawali ketika mereka baru bangun tiba dirumah, sepulang sekolah ketika Jongdae meletakkan sepatunya dengan rapih di rak sepatu, bocah tengil itu juga mengikutinya. Biasanya bocah itu sangat malas meletakkan sepatu miliknya ke rak sepatu. Sehun juga mengikuti Jongdae yang memilih masuk kamar , berganti pakaian, dan langsung melangkah ke meja makan setelahnya. Ini aneh.. ini membingungkan.. tapi bukankah hal ini terlihat baik untuk Sehun? “Apa ada sesuatu yang Eomma lewatkan?” tanya Nyonya Kim penasaran. Meski hal yang terjadi tadi bukan merupakan sesuatu yang salah, tetap saja Nyonya Kim penasaran. Mendapat pertanyaan seperti itu, Sehun tersenyum lebar kearah Ibunya. “Sehun ingin seperti Jongdae Hyung, Eomma” seraya Sehun mengambil sesendok sayur ke piringnya, setelah Jongdae melakukan yang sama sebelumnya. “Sehun ingin terlihat keren seperti Hyung”“Benar begitu Jongdae-ya?” Nyonya Kim tersenyum lega ketika mendapati anggukan dari Jongdae. “Syukurlah.. Eomma kira ada apa”

Awalnya Jongdae kira tidak masalah saat Sehun mengatakan ingin menjadi seperti dirinya. Bukankah itu artinya Sehun menjadikan Jongdae sebagai panutannya? Tapi lama kelamaan Jongdae menjadi menjadi keki juga dIbuatnya. Bagaimana tidak bocah itu selalu merengek kepada Ibu mereka agar dibelikan barang yang sama seperti milik Hyungnya. Sepatu, baju, dan semua barang yang sama seperti punya Jongdae. Kesal? Tentu. Mereka bukanlah anak kembar yang wajar jika memiliki benda yang sama. “Eomma.. Sehun ingin topi yang sama seperti Jongdae Hyung” kali ini Sehun kembali berulah, merengek manja meminta sesuatu pada Ibu mereka. Jongdae memutar bola matanya malas. Pasalnya baru dua hari yang lalu Sehun merengek dibelikan sendal rumah yang sama seperti miliknya, dan sekarang bocah itu ingin topi yang sama? Nyonya Kim menggeleng, berusaha menolak permintaan si bungsu Kim. “Bukankah topimu sudah banyak?”

“Tapi tidak ada yang sama seperti punya Jongdae Hyung. Eomma.. jebal..” kali ini Sehun menunjukkan keahliannya. Merengek sambil memasang wajah memelas dan mata puppynya.“Huh.. baiklah” dan tentu saja Nyonya Kim luluh begitu saja, puppy eyes Sehun cukup mematikan asal kalian tahu. “Yeay.. gomawo Eomma” teriak Sehun kesenangan. Membayangkan sebentar lagi ia memiliki topi yang sama seperti milik Jongdae, sehingga membuat wajahnya berbinar senang. Teralu senang hingga ia tidak menyadari ekspresi Jongdae yang terlihat dongkol.

LIburan akhir pekan ini, keluarga Kim berencana akan menghabiskan waktu dengan berlIbur ke pantai busan. Pagi-pagi sekali, si Nyonya rumah tampak sIbuk di dapurnya. Sedangkan Tuan Kim, sIbuk membangunkan kedua putranya dan menyuruh mereka bersiap siap. Pukul tujuh pagi, keluarga Kim –minus Sehun- telah berkumpul di ruang keluarga. Mereka siap untuk berangkat, hanya tinggal menunggu si bungsu Kim yang masih bersiap di kamarnya. “Pagi semuanya..” Sehun muncul beberapa menit kemudian, dengan senyuman lebar dan kekanak kanakkannya. Tuan Kim dan Nyonya Kim, serta Jongdae terkejut dIbuatnya. Bukan.. bukan karena kemunculan Sehun yang mendadak. Tapi..“Kenapa kalian memakai baju yang sama?” “Kalian seperti anak kembar, begitu lucu dan menggemaskan” Celetukkan Tuan dan Nyonya Kim semakin membuat Jomgdae merasa kesal. Ia menatap tubuhnya dan Sehun secara bergantian. Jongdae menggunakan celana pendek berwarna putih, sepatu kets berwarna biru, kaos hitam polos dilapisi jaket hoodie merah, dan Sehun memakai pakaian yang sama persis. Konyol.. benar benar terlihat bodoh bagi Jongdae.“Hai Hyung..ternyata kita mengenakan baju yang sama” ujar Sehun dengan polosnya. “Ganti bajumu” titah Jongdae dengan segala ketidaksukaannya.Sehun ingin protes, tapi teriakkan Kim Jongdae kembali terdengar “Hyung bilang ganti bajumu, Kim Sehun”. Sehun tersentak kaget, ini pertama kali Jongdae membentaknya.“Sudahlah.. tidak ada waktu lagi untuk berganti pakaian ” Tuan Kim melerai, sebelum perkelahian putranya semakin menjadi jadi. “Sehun, Jongdae, masuk kedalam mobil” dan keduanya pun tak bisa membantah perintah Tuan Kim. Sepanjang perjakanan, tak henti hentinya Sehun bercerita tentang apa yang ia ingin lakukan hari ini setibanya di pantai nanti. Tentu saja nama Kim Jongdae diikut sertakan didalmnya. Tapi Jongdae tidak peduli. Ia masih kesal dan keki terhadap Sehun. Lelah bercerita, tanpa sadar Sehun tertidur dimobil. Dan ketika ia terbangun dari tidurnya, hanya ada Tuan Kim yang berada disampingnya, Ibu dan kakaknya kemana? “Kajja.. Eomma dan Hyung sudah kesana terlebih dahulu”. Baru saja Sehun hendak bertanya, namun Tuan Kim sedah menjelaskan semuanya.Sehun berlari menuju tempat dimana sang Eomma menggelar tikar piknik mereka. Dan anehnya, ia tidak menemukan Jongdae disana. “Eomma.. dimana Hyung?” Nyonya Kim tersenyum mendapati si bungsu berdiri di dekatnya. Ia menoleh kearah pandang sang Ibu dan bingo.. Jongdae Hyung-nya ada disana, berenang di pantai dan lagi lagi Sehun menganggap hal itu keren baginya. “Eomma appa.. Sehun ingin berenang juga seperti Jongdae Hyung” seru Sehun antusias. Sehun berlari ke bibir pantai meninggalkan pasangan Kim yang menatap horror. Berenang katanya? Bocah itu saja takut berendam di dalam bathub.

“Hyung..” Jongdae mendengus kesal saat indra pendengarannya –meski sayup sayup- mendengarkan teriakkan seseorang. Tidak perlu menebak, Jongdae sangat hafal suara itu. tapi Jongdae berusaha tidak peduli, ia tetap berenang menuju laut, menjauhi bibir pantai. Sehun semakin kagum pada Hyungnya. “Sehun juga ingin seperti Hyung”dan Sehun dengan bodohnya berjalan menuju pantai, berusaha mendekati Jongdae yang berenang dengan lincahnya. Sehun berjalan sambil menatap lurus kearah Jongdae yang masih tidak memperdulikan kehadirannya. Meski berkali kali tubuh kurusnya nyaris limbung terkena ombak pantai itu.  “Jongdae Hyung..” Sehun mulai ketakukan. Kenapa semakin ia berusaha mendekati Jongdae, air semakin tinggi merendamnya? “Hyung.. Jongdae Hyu..”. Dan sapuan ombak yang besar menghantam tubuh Sehun, dan menenggelamkan dirinya.

Tanah sialan.. peti sialan.. dan orang orang sialan. Jongdae mengumpat dan terus mengumpat sepanjang hari. Orang orang bodoh iitu, mengapa mendatangi rumahnya ramai ramai? Mengenakan pakaian hitam dan memasang wajah sendunya, kenapa? Mengapa mereka terlihat bersedih?Jongdae juga mengumpat kala melihat Sehun yang terlelap tenang di dalam peti. Bagaimana bisa adiknya tertidur kala mereka kedatangan tamu seperti ini? Jongdae berjanji akan memarahi adiknya itu nanti saat tamu tamu mereka telah pulang. Berbagai ucapan belasungkawa juga di terimanya dari orang orang yang mendatangi rumahnya. Tapi Jongdae bisa apa? sedari tadi pemuda itu duduk manis disamping peti yang Sehun tiduri. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya, tidak terlihat sedih, tapi tidak juga senang. Wajah datar itu tanpa ekspresi. Dan hal itu membuat pasangan Kim kian bersedih.Jongdae baru bereaksi kala orang orang ingin menutup peti Sehun. Pemuda itu langsung bangkit dan memeluk peti dengan erat.“Jangan tutup peti ini.. Nanti Sehun tidak bisa bernapas” ujar Jongdae seperti orang linglung. “Sehun sayang.. jangan takut.. Hyung akan menjagamu selamanya” Namun Jongdae tidak bisa melakukan apapun saat ayahnya –Tuan Kim-, memeluknya erat. Dan menyuruh orang  untuk menutup peti Sehun dan membawanya entah kemana. Perlahan peti mulai dimasukkan kedalam tanah. Mereka menguburnya. Isak tangis mengiringi prosesi pemakaman itu. Kembali, Jongdae tidak bereaksi apapun. Hingga satu persatu orang meninggalkan pemakaman, menyisakan Jongdae disana. Dan tiba tiba sekelebat ingatan terbayang dibenaknya. ‘Sehunnie hanya ingin seperti Jongdae Hyung’ ‘Eomma.. Sehun ingin topi yang sama seperti Jongdae Hyung’ ‘Whoa.. Jongdae Hyung kereen’,Tes.. Tanpa bisa ia tahan, airmata Jongdae mengalir begitu deras. Adiknya.. adiknya hanya ingin seperti dirinya. Mengapa Jongdae bisa terbebani dengan hal yang sesimpel itu? Sehunnya polos, Sehunnya yang begitu mengagumi dirinya, dan Sehun kesayangannya. “Sehunnie.. kau mengenakan jas yang keren. Tapi jas kita tidak mirip. Bukankah kau ingin punya jas yang sama seperti milik Hyung? Ayo bangun.. kita minta pada Eomma agar memberikan jas yang sama seperti punyaku”.  “Kau begitu terlelap di peti itu. bagiku  itu tidak keren. Bukankah kau ingin terlihat keren? Maka dari itu kau harus bangun, Kim Sehun”.“Sehunnie.. mi-mianhae.. Jeongmal mianhae saengie..” dan tangis Jongdae pecah begitu saja. Ia terisak pilu didepan makam adiknya. Tidak ada lagi yang akan menggangunya.. tidak ada lagi yang dapat diomelinya, tidak ada lagi merengek padanya, dan tidak ada lagi Kim Sehun adik tercintanya.

fin

 

2 thoughts on “[EXOFFI EVENT] Grief (Oneshot)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s