[CHEN BIRTHDAY PROJECT] The Uttered Words

Uttered-Words.jpg

The Uttered Words

….about where and will
and something in between.

with Kim Jongdae
and Song Chera

a hurt/comfort, romance, oneshot
by Eunike
PG15


This is a work of fanfiction. I only own the artwork, storyline, and original character(s). 


 

Hening melahap sisa-sisa uap dari tiap-tiap cangkir, menyaksikan mereka yang tercekat dengan perkataan masing-masing. Sebab pada malam itu, segala pertahanan dan alibi, telah menjelma jadi abu.

***

Hanya butuh lima langkah dari pintu depan menuju gerbang, dan lima langkah tambahan untuk menuju tepi jalan. Jika total langkahnya dikali dua, maka ia akan sampai pada kedai kue milik Bibi Kim; destinasinya malam ini pada pukul tujuh.

Song Chera sudah menimbang-nimbang tiga kali selama sehari, mengenai benar-salahnya keputusan yang ia ambil. Tetapi toh, pada akhirnya, gadis itu tetap melaksanakan apa yang sudah bersemanyam sebagai niatnya sedari pagi.

Ia harus menemui laki-laki itu. Harus.

“Jalan raya malam ini cukup padat, Chera,” suara laki-laki itu membuat Chera mengintip keluar jendela kedai. Sang laki-laki yang berada di ujung sambungan telepon menambahkan, “Kuharap kau sabar menungguku.”

Dengan satu anggukan yang tentu tak bisa dilihat lawan bicaranya, Chera menjawab, “Tidak masalah. Kedai ini tutup pukul sepuluh dan kau masih punya waktu sekitar tiga jam.”

Tawa renyah dan beberapa patah kata menjadi penutup konversasi. Hal tersebut hanya berlangsung selama tiga puluh detik, sebelum Chera terdiam di kursinya selama tiga puluh menit.

Matanya menatap keluar jendela, ke arah sudut-sudut gelap yang tak terlihat, ke bangunan-bangunan tinggi yang tak tergapai, serta ke sekumpulan orang asing yang tak dikenal. Menyaksikan bagaimana sisi-sisi gelap itu perlahan diperciki cahaya, bangunan-bangunan tinggi itu ditelan oleh kabut, dan beberapa di antara orang itu yang tidak sengaja menyenggol satu sama lain dan berakhir harus berbasa-basi sejenak.

Chera menyaksikan bagaimana kebetulan-kebetulan yang terjadi di sana, selama tiga puluh menit, menjadi awal dari sebuah rangkaian peristiwa besar yang–entahlah, siapa yang tahu?

Sudut bibirnya terangkat sedikit, menyapa secangkir teh chamomile dan sepotong kue lapis keju yang baru saja diantar seorang pelayan wanita.

“Ada pesanan lain, Nona?” Wanita itu menunduk sedikit, memperlihatkan wajah ramahnya yang begitu menyenangkan.

“Untuk saat ini, belum,” jawab Chera sambil menarik sudut bibirnya lebih tinggi. “Tetapi mungkin, ya, untuk beberapa belas menit mendatang.”

“Setelah laki-laki itu datang, lebih tepatnya?” Senyum wanita tersebut berubah menjadi senyum penuh arti, yang langsung dibalas Chera dengan kekeh pelan. Hatinya memuji keahlian pekerja kedai tersebut yang sangat mengenal pelanggan tetapnya.

“Namanya Kim Jongdae, laki-laki itu,” sahut Chera kemudian. “Dan mungkin ini malam terakhir aku duduk di sini, berdua dengannya.”

Pelayan wanita tersebut tampak terkejut selama beberapa saat, namun segera ditutupi dengan professional. Pelayan tersebut tahu bahwa tidak sepantasnya ia mengusik kehidupan pribadi sang pelanggan, maka dengan sopan ia berkata, “Kalau begitu, semoga kau menikmati malam terakhirmu, Nona.”

Sang gadis tersenyum, dan tidak lama setelah itu Kim Jongdae datang. Pakaian laki-laki itu tampak kasual dengan kaos biru dan celana jeans, dilengkapi dengan topi putih pemberian Chera pada ulang tahunnya bulan lalu. Ia melambai dari seberang ruangan tanpa peduli berapa belas pasang mata yang menatap ke arahnya; khas Jongdae sekali.

“Kau menungguku selama… empat puluh lima menit?” tanya Jongdae setelah berada di hadapan gadis itu, matanya menatap arloji yang melingkar di tangan kanan.

“Empat puluh tujuh menit,” koreksi Chera.

“Kau memang perfeksionis.”

“Selalu.”

Jongdae terkekeh. Ia memesan secangkir capuccino terlebih dahulu sebelum memulai percakapan. “Jadi, apa yang hendak kau katakan, sampai-sampai aku harus pergi dari Cheongdam menuju Yeoksam?”

Gadis di hadapannya menyesap lagi teh yang tinggal separuh. “Aku memajukan jadwal,” katanya kemudian. Membuat Jongdae terdiam selama beberapa saat, menatap kedua mata tersebut dalam-dalam.

“Jadwal… kepergianmu?” suaranya tiba-tiba serak, tetapi Jongdae masih berusaha terlihat santai. Seolah topik yang sedang mereka bicarakan hanya sekadar perpisahan satu bulan. Seolah ia bisa menghitung berapa banyak malam yang akan ia habiskan untuk merindu, di masa mendatang.

“Hm.” Chera mengangguk. “Jadwal kepergianku.”

“Kapan?” Pertanyaannya terlalu cepat dilontarkan.

Chera akhirnya tampak gugup. “Besok.” Tembok pertahannya untuk terlihat baik-baik saja mendadak runtuh. Awalnya tenggat waktu tersebut tidak terlalu menyesakkan Chera; ia membayangkan mereka masih bisa berkomunikasi via ponsel, mengirim pesan, sesekali video call. Tetapi detik ini, melihat wajah Jongdae yang tampak kecewa dan terkejut, membuat rindu datang sebelum perpisahannya dimulai.

“Cher.” Jongdae berdeham. “Kau tahu, ini benar-benar mendadak?”

“Aku tahu, maaf.”

“Kenapa meminta maaf?” Jongdae terkekeh hambar. Ia maju beberapa senti untuk mengambil cangkir capuccino-nya, tetapi tidak mengambil tegukan. “Waktu kebersamaan kita yang awalnya tersisa tiga bulan, ternyata sekarang hanya tersisa semalam. Setidaknya kau tidak pergi tanpa pamit.”

Chera menunduk untuk menahan sesuatu yang tidak seharusnya keluar. “Apa terlalu cepat?”

Jongdae terdiam, tidak menjawab selama beberapa detik. Tetapi kemudian suaranya terdengar, pelan namun tegas, “Cepat atau tidak, perpisahan itu tetap akan berdiri di sana, ‘kan?”

Hening melahap sisa-sisa uap dari masing-masing cangkir. Keramaian kedai tertelan oleh pikiran mereka yang sibuk berkelana kepada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, dan hal-hal yang telah mereka lewatkan selama lima tahun bersama-sama. Sesuatu yang menekan dada mereka semakin sesak.

Perpisahan seharusnya tidak seberat ini, sebab pertemuan selalu berdiri di sampingnya.

Tetapi terkadang hal berlangsung dengan tidak semestinya.

“Aku tidak bisa mengantarmu ke bandara, aku harus kembali ke Gangnam sebelum pukul enam,” kata Jongdae kemudian.

Chera tersenyum tipis. “Kau tidak perlu mengantarku, kau bisa kembali sebelum tengah malam.”

“Dan itu berarti malam ini pertemuan terakhir kita, sampai kau kembali dari Amerika?”

“Kita punya ponsel dan internet.”

“Apa aku bisa memelukmu melalui ponsel dan internet?”

Chera mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Terjadi jeda sejenak; gadis itu tampak tidak menegekspektasikan apa yang diucapkan Jongdae beberapa sekon lalu. Ia mengangkat wajahnya untuk menangkap tatapan laki-laki itu. “Apa itu berarti kau berniat memelukku?” tanyanya sedikit berbisik, serak.

Jongdae seharusnya salah tingkah. Jongdae seharusnya terkekeh kikuk dan mengusap lehernya. Jongdae seharusnya melakukan hal yang biasa ia lakukan ketika guyonannya membuat dirinya terlalu gamblang. Tetapi ia tidak melakukan itu. Malam ini, Jongdae tidak mengelak.

“Sudah sedari dulu,” jawab laki-laki itu tegas.

Tiga detik setelahnya, ia bangun dari duduk, pergi ke samping gadis itu dan memeluknya erat-erat. Menghirup aroma surainya yang lembut, menyentuh punggungnya yang dibalut kaos lengan panjang, merengkuh separuh hidupnya.

“Jika aku berkata jangan, kau tetap akan pergi, ‘kan?” Jongdae berbisik.

Chera tidak menjawab. Matanya terpejam di atas pundak Jongdae, mati-matian menahan sesuatu yang hendak meluap dari pelupuknya.

“Jika aku berkata pulanglah, kau tetap akan di sana, ‘kan?”

Gadis itu mengeratkan pelukannya.

“Aku tidak punya kekuatan untuk menahanmu,” kata laki-laki itu lagi. “Bahkan walau aku tidak rela akan kepergianmu.”

Malam ini, Jongdae terlihat begitu ringkih, setelah bertahun-tahun Chera menatapnya sebagai sosok yang kuat. Dan gadis itu tidak bertanya-tanya mengapa, sebab bukankah manusia memang seperti itu?

Jongdae terkadang tampak bagai sudut-sudut gelap yang tak terlihat; menyembunyikan emosinya dengan pilar-pilar kelakar yang membuatnya tampak kokoh. Menaruh dirinya tinggi-tinggi hingga dirinya tak tergapai oleh tangan-tangan orang peduli; yang hendak mengenal dirinya lebih jauh, untuk mengetahui semua warna emosi yang tersimpan di balik tembok tersebut. Jongdae terkadang terasa asing; menarik diri, berbasa-basi, menghindari inti yang kemudian terangkum pada satu malam sebelum sebuah kepergian yang membuatnya ingin memutar waktu. Tetapi pada akhirnya ia akan sampai pada satu titik, di mana apa yang tak terlihat menjadi tampak, dan apa yang tergapai telah teraih. Orang asing tersebut perlahan-lahan dikenalnya, setelah banyak momen yang hilang dicuri waktu.

“Jong.” Chera berbisik. “Jika pertemuan pertama kita adalah kebetulan..,” gadis itu memberi jeda sejenak. “Maka yakinlah, pertemuan kedua kita nanti, adalah sebuah rencana. Yakinlah, Jong, kita akan benar-benar menyusun masa depan sedari sekarang. Tentang kau dan aku.”

Rengkuhan mereka tak bisa lebih erat lagi, maka Jongdae melepasnya untuk menatap kedua manik Chera. Merengkuh gadis itu melalui sebuah tatap tegas. “Akan ada sesuatu yang tinggal ketika kau pergi,” sahutnya, setengah berbisik. “Yaitu rasa. Maaf, aku baru memberitahumu sekarang. Aku mencintaimu.”

Malam itu bibir mereka bertemu untuk pertama kalinya, sebelum malam terakhir berakhir, dan mereka akan memulai segala sesuatunya dari awal; setelah semesta memberi kesempatan kedua, yang akan selalu dinanti dengan tabah.

***

Author’s note:

  1. Bentar, mau ketawa dulu
  2. HAHAHAHA
  3. Jangan tanya ini maksudnya apa
  4. Ini sebenernya ff comeback setelah lama tenggelam dengan label ‘hiatus’
  5. Sekaligus ff pemanasan sebelum menuntaskan ff chaptered saya yang tertunda
  6. Semoga menghibur deh. Kalau gak menghibur, silakan minum teh hangat
  7. Terima kasih!

xx, eunike.

3 thoughts on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] The Uttered Words

  1. AAA NIKEEEYYY! LAMA BANGET GAK BACA FF KAMU LAGII😪😪 INGET AKU GAAAKK?!!! EHEHE
    As usual ff kamu selalu menarik minat baca aku, gak ada yang perlu di kritik semuanya bagus aku sukaaa! Kalo misalnya di bikin sequel bisa kali👀 lebih bagus lagi kalo castnya di ganti sehun HIHI ditunggu ehc nya yaaap!💖💖💖

    • RANTEEEY! ASTAGA KAMU MASIH BACA :’D INGET DONG. KANGEEEEN. Hahaha Sehun gak cocok kalo tipe yang bego-bego garing gitu, dia mah tipe yang bego-bego swallow /apa. Maish inget aja EHC :’) Thanks yaaa Ran! Hope you have a nice day!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s