[Chen Birthday Project] Jangan Pulang Dulu, Katanya

 

glasses-books.jpg

-Jangan Pulang Dulu, Katanya-

Kim Jongdae | Wendy Son
Ficlet | AU! | Fluff | Romance | Teen
.by l18hee
.
Hari Jumat ini, Jongdae mengajak Wendy menghabiskan hari di kafe dengan sedikit penghuni.
Yang terjadi, mereka malah tenggelam dalam sunyi.
.

Jika dipikir berapa kali pun, hari ini Kim Jongdae memang terlihat berkecimpung dalam mode anehnya. Tak perlu proses pemungutan suara agar Wendy setuju seratus persen. Dia yang terduduk di depan Jongdae berkacamata bulat, anggap saja sebagi buktinya. Batas yang ada hanya sebuah meja kayu mengkilap, di sebuah kafe yang notabene tak pernah mereka kunjungi. Kafe biasa yang tidak terlalu dekat dengan pusat kota. Ada dua Caramel Macchiato yang mengapit satu Tiramisu di depannya. Catatan, belum tersentuh sama sekali.

Bagi Wendy, Jongdae yang menyeretnya ke kafe ini saja sudah aneh. Biasanya, sebagai lelaki yang mengaku hitz, Jongdae lebih suka menghabiskan waktu luang untuk nongkrong di kafe elit. Padahal Wendy tahu sendiri, seringnya lembaran uang di dompet si lelaki benar-benar jauh dengan ketebalan buku ensiklopedia paling mini. Berkat kebiasaan memborong novel terbaru di toko buku, tentu.

Hari Jumat sore seharusnya bukan waktu yang lazim mereka habiskan bersama. Karena biasanya Jongdae sudah sibuk memberi kode minta diulungi botol minum saat tanding futsal dengan teman-temannya─kegiatan rutin seminggu sekali yang sedikit Wendy hindari. Persetan dengan label romantis yang Jongdae koar, lontar godaan yang hinggap di pendengaran sang gadis rasanya lebih menjijikkan. Bukannya Wendy tidak suka (sebenarnya memang lumayan tidak suka), tapi rasanya risih saja mendengar cletukan menggoda milik gerombolan lelaki sejenis Jongdae; golongan autis dan gila. Ups, maaf jika sedikit menyinggung, Wendy memang tak pandai berbohong, omong-omong.

Oke, penuturan barusan memang belum begitu memeberikan kesan yang terlalu aneh jika ditelaah baik-baik. Tapi, sumpah, jika saja kalian berada di posisi Wendy, tidak perlu memberi anggukan dua kali untuk menyetujui vonis si-aneh-hari-ini pada sosok Jongdae. Bayangkan saja, hampir lewat setengah jam semenjak pesanan diantarkan, namun suara Jongdae belum terdengar.

Kalau kalian menganggap itu normal untuk ukuran seorang Kim Jongdae si tukang belingsitan, silakan cek kesehatan. Tak masalah sih, jika alasannya jelas. Marah atau malas, misalnya. Tapi sejauh yang Wendy tahu, Jongdae dalam keadaan apa pun lebih sering menggunakan cara verbal dibanding dengan demo diam.

Jika sudah begini, pasti ada sesuatu yang disembunyikan.

“Jong─” belum juga selesai memanggil nama, Wendy lebih dulu mendapati Jongdae bergerak mengambil sesuatu di ransel. Sebuah laptop hitam dalam sekian detik sudah menempati urutan atas benda paling diperhatikan di meja, menggeser tempat Caramel Macchiato jatah Jongdae.

Wendy kira bakalan ada cerita penting tentang laptop atau file di dalamnya. Namun lagi-lagi perkiraannya dibanting kencang. Dengan tenang, Jongdae menyalakan laptop. Tak acuh pada rahang Wendy yang turun jauh. Alih-alih memilih satu film atau apa pun itu, Jongdae justru diam. Membiarkan jemarinya menari di atas keyboard laptop. Cukup membuat Wendy tahu bahawa aplikasi Ms. Word sedang berjalan di sana.

Memangnya Jongdae sedang membuat laporan atau bagaimana, sih? Lama-lama Wendy bisa mati penasaran juga.

“Tugas apa?” Pertanyaan ini hanya memancing lirikan Jongdae. Si lelaki mengalihkan fokus sejenak pada gadis di depannya, sedikit memiringkan kepala disertai suguhan senyum miring. Hanya sekian saat sebelum kegiatan mengetik kembali ia lakukan. Jelas saja Wendy mengerutkan kening.

“Atau sedang menyelesaikan bab terakhir?”

Hening dan senyum kecil masih tersaji sebagai jawaban. O, imbuhan, gerakan membenarkan kacamata yang dia lakukan di sela mengetik ‘pekerjaan’.

Ah, sudahlah. Jika begini, rasanya makin malas saja. Wendy memutuskan untuk menyantap tiramisunya dalam potongan kecil. Sudah masa bodoh dengan kegiatan Jongdae. Dia sudah bertekad, pokoknya jika jarum jam sudah menyentuh angka lima, pulang ke rumah harus menjadi tujuan utama.

Sementara menunggu Jongdae menyelesaikan pekerjaan, Wendy mencoba menghibur diri. Melipat kertas yang ia robek dari notes Jongdae,  membentuknya menjadi bentuk angsa, hati, dan kapal kecil. Senandung yang begitu lirih ia lontarkan. Jongdae bisa mendengarnya samar-samar.  Lelaki itu memerhatikan sekilas, kembali tersenyum kecil mengetahui Friday dari IU sedang dinyanyikan.

Dan rasanya tiba-tiba sekali jarum jam sudah mencumbu angka lima. Wendy mengembus napas panjang. Ini adalah rekor terlama ia dan Jongdae sama-sama diam dalam jangka waktu lama tanpa didasari suatu permasalahan.

“Jongdae,” panggilan ini memecah hening. Tanpa mau bersusah menoleh, Jongdae bergumam sebagai ganti jawaban.

“Sepertinya aku─”

“Jangan pulang dulu,” Jongdae memotong, “Masa kau tega meninggalkan pacar tampanmu ini sendirian. Bagaimana jika ada perempuan yang menggodaku?”

Sontak Wendy mencibir, “Yang ada kau menggoda mereka.” Padahal ia tahu Jongdae bukan tipikal yang seperti itu.

Lantas Jongdae kembali mencegah, “Sebentar lagi aku selesai, kok. Jangan pulang dulu.” Bujukan yang baru saja dilayangkan belum mampu mendepak suntuk dari wajah Wendy. Tidak mau disia-siakan tanpa alasan jelas lagi, gadis ini langsung membuka suara, “Paling tidak beri alasan kenapa kau diam terus seperti itu.”

Ada jeda detik yang diisi Jongdae dengan senyuman─lagi, ia mencondongkan tubuh, “Sini kuberi tahu.” Mengerti akan kode yang Jongdae beri, Wendy ikut-ikutan memajukan tubuh, memasang telinga baik-baik.

“Aku sedang …,” Jongdae menyangga dagunya, “menyelesaikan bab terakhir novelku. Kau bilang ingin membaca akhir bahagia, jadi,” lagi-lagi ia menggantungkan kalimat. “Jadi apa?” desak Wendy tak sabar.

“Jadi kupikir untuk membuat akhir bahagia, aku harus menulisnya saat bersama dengan sumber bahagiaku.” Satu kedikan bahu disuguh sang lelaki, “Manjur, lho. Aku sudah sampai di paragraf terakhir.”

Di lain sisi, Wendy sudah menebar jutaan kutuk dalam hati, “Ew, so cheesy, jangan membuatku mual, deh.”

Sumpah demi anak Poseidon yang suka main loncat tali dalam air, Wendy ingin mengutuk betapa manisnya senyum yang Jongdae suguh sekon selanjutnya.

“Masa mual, sih? Bukannya malu ya, sampai merona begitu.”

Ah, pokoknya Jongdae memang sialan.

“Tukang gombal.”

… sialan manisnya.

.end

-HAPPY BIRTHDAY URI CHENCHEN-

❤ SEMOGA TETEP BAHAGIA KAMU MAS❤

p.s: maafkan ini yang bikin mual :’)

p.s.s: maafkan plis

.kecenganSehun; nida

3 thoughts on “[Chen Birthday Project] Jangan Pulang Dulu, Katanya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s