[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Lari Pagi (Oneshot) – Shaekiran

c360_2016-09-20-23-14-31-470

 

Lari Pagi

A Fanfiction by Shaekiran

Cast

Kim Jongdae (EXO), Kang So Hyun (OC)

Genres School life, Romance, fluff, AU , etc

PG-15 | Oneshot

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Warning, typos bertebaran.

Happy reading!

 

“Namanya Kim Jongdae, si tukang bolos.”

 

 

Author’s Side

Gadis itu mengerang pelan, sedikit mendengkur halus sambil mengubah posisi badannya. Matanya terpejam begitu nikmat, sama seperti 3 teman sekamarnya yang lain. Mereka terlelap, sangat terlelap sebelum akhirnya sebuah suara bising michrophone mengganggu alur mimpi indah mereka.

“Pengumuman-pengumuman, Siswa-siswi kelas X Persiapan Senam Pagi. Sekali lagi, pengumuman-pengumuman, siswa..”

Gadis itu-So Hyun- tersentak, matanya yang sedari tadi menutup sempurna kini terbuka dengan paksa. Gadis berperawakan semampai dengan rambut sebahu itu berdiri dari posisi nyamannya di atas tempat tidur, lantas mengambil sepatu sport-nya asal dengan setengah hati -karena sebenarnya masih sangat enggan berpisah dengan ranjangnya-kemudian mengikuti jejak Min Sung -teman sekamarnya- yang sudah turun duluan. Dengan mata yang masih merah dan kantuk yang luar biasa, gadis itu berjalan sambil mengumpat siapa saja yang berbicara lewat microphone beberapa menit yang lalu.

Kalau saja bukan karena hukuman yang mungkin diterimanya kalau tidak ikut senam pagi, mana mau gadis bermarga Kang itu bangun sepagi ini. Heol, lihatlah. Sekarang bahkan masih jam 5 pagi. Orang bodoh mana yang mau bangun di jam segini di hari Minggu yang seharusnya dihabiskan dengan bermalas-malasan dan bangun kesiangan? Sekarang, So Hyun tidak hanya mengumpat si pembuat pengumuman yang mengharuskannya berpisah dengan kasur empuknya, tapi juga mulai mengumpat asrama yang menjadi tempat tinggalnya sekarang. “Wae, wae? Kenapa aku harus sekolah di tempat yang punya asrama?!”, umpatnya dalam hati sambil merentangkan tangan dengan enggan, bersiap memulai pemanasan senam pagi yang sangat dibencinya itu.

 ._.

So Hyun’s Side

Demi segala dewa atau paling tidak demi ahjussi-ahjussi tua pemilik yayasan sekolah berasrama sialan ini, kenapa mereka harus membuat senam pagi di jam yang masih super pagi? Bahkan matahari saja masih enggan muncul di permukaan langit, lalu kenapa aku harus bangun dan mulai menggerakkan badan seperti orang bodoh?

“Satu..dua..”

Aku menguap -ngantuk- melihat instruktur asrama yang sedang menjadi model pemanasan pagi ini sambil sesekali menggerakkan badanku malas agar tidak kentara kalau aku tidak senam dengan baik. Tsk, kenapa pula si instruktur itu harus bangun di jam segini? Lihat, memang apa gunanya melompat-lompat sambil menepuk tangan di atas kepala? Sedang mencari nyamuk kah? Heol, lebih baik tidur bung!

“GERAKKAN SEMUA BADAN KALIAN, KALAU TIDAK KAPAN BADAN KALIAN SEHAT DAN BUGAR?! AYO, SATU DUA..”, pekik instruktur Kim kemudian setelah menyelesaikan aksi pukul nyamuknya dengan semangat kemudian kembali melanjutkannya dengan gerakan yang semakin tidak kumengerti fungsinya. Oh My, ssaem, tubuhku bahkan jauh lebih sehat dan bugar kalau kau tidak membuat senam pagi ini. Tsk, bolehkah aku melempar sepatu sportku sekarang? Aku benar-benar muak dengan senam ini.

“Baiklah, senam pagi selesai.”, kata instruktur itu akhirnya. Binggo, ini kata yang paling kutunggu-tunggu sedari tadi. Dengan begini aku bisa melanjutkan tidurku yang masih tertunda dan mimpiku yang masih TBC, yehet. Baguslah kalau…

“Kita akan melanjutkannya dengan lari pagi.”, sial, aku harus menarik kata bagus barusan. Ternyata si instruktur sialan ini benar-benar berniat mati hari ini. Apa katanya tadi? Lari pagi? Demi bulu ketek anjingku si Marjono, kenapa aku harus hidup di asrama ini? Wae? Eomma, cepat pindahkan aku!

._.

“Lari-lari…Tiap-tiap pagi…agar kuat…..otot kaki….”

Aku berlari dengan enggan tanpa sedikitpun ikut menyanyikan yel-yel. Tuhan, kenapa cobaan hidupku begini berat? Lihat saja sekarang, aku hampir tidak bisa melihat apa-apa dan sudah 6 kali menabrak Na Hyun, gadis aneh pemilik kamar tepat di sebelah kamarku. Apa kau tahan ditatap dengan mata tajam dan smirk-nya yang mirip psikopat itu, huh? Belum lagi nafasku yang sekarang sudah hampir habis karena….

“KYAA!”,pekikku kaget saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarikku hingga aku jatuh ke arah rumput sementara teman-teman selorongku yang lain tetap berlari di atas aspal tanpa memperdulikan teriakanku barusan. Wajar saja, karena sekarang sebuah tangan sudah menutup mulutku dengan keras hingga aku tidak bisa berteriak. Aku melengos, apa-apaan ini? Aku diculik? Di pagi buta seperti ini? Kang So Hyun, hidupmu benar-benar sial!

Sttt…Ini Aku, Jongdae.”, aku memutar badanku paksa, kemudian menatap lelaki yang katanya Jongdae itu dengan mimik tak percaya. Benar saja, itu Jongdae.

Jongdae kemudian melepaskan tangannya, kemudian menatapku yang kini balas menatapnya cengo. Apa yang dilakukan seorang barak putra disini? Bukannya siswa berlari lebih dulu tadi? Jangan bilang kalau dia…

Tsk, jangan menatapku begitu Hyun-ah. Aku hanya kabur dari barisan.”, jawabnya enteng sambil menyandarkan badannya ke arah batang pohon pinus yang menjulang tinggi tepat di belakang kami. Dia tersenyum miring, kemudian menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.

“Kemarilah, bukankah kau masih mengantuk? Kita chat-an sampai jam 2 pagi semalam, bohong kalau kau bilang tidak mengantuk.”, lanjutnya lagi masih dengan senyum yang sama, senyum yang membuat mata sipitnya itu makin sipit dan hanya menyisakan garis lurus saja. Heol, apa maksud ucapannya barusan? Dia mengajakku bolos dari lari pagi?

“Maksudmu bolos lari pagi, begitu?”, tanyaku polos sementara Jongdae kini hanya tertawa kecil, kemudian berdiri dan mencubit pipiku gemas-agaknya.

“Tentu saja, memangnya kau mau lari seperti orang bodoh, huh? Kajja, ayo tidur.” Katanya lagi sambil menarikku duduk di sebelahnya, dan mau tidak mau aku menurut. Ntah sihir apa yang sedang dilakukan si Kim ini sehingga aku mau-maunya duduk begitu saja tanpa perlawanan.

“Tapi bagaimana dengan Instruktur Kim? Kau tidak takut ketahuan dan nantinya dihukum, eoh?”, cegahku lagi. Bagaimanapun juga hukuman dari instruktur kami itu luar biasa berat, 5 kali lipat dari pelanggaran, dan tentunya aku tidak mau menjadi salah satu korban yang berakhir dehidrasi atau pingsan karena kecapekan menjalani hukuman ria dari si guru garang itu. Tsk, it’s not my style.

Aish, kau penakut sekali. Tidak bisakah kau percaya pada pacarmu ini,eoh? Si Kim itu tidak akan tau, tenang saja.”, cerca Jongdae yakin sambil mengacak rambutku yang kini sudah awut-awutan. Benar, Jongdae adalah pacarku, pacar diam-diam sebenarnya karena di asrama ini di larang pacaran, ntah siapa yang membuat peraturan tidak berguna itu. Nyantanya? Banyak pasangan yang bermunculan meski tetap dalam status kucing-kucingan dengan instuktur. Aku menatap Jongdae lagi, lelaki itu sudah menepuk-nepuk bahunya, menandakan aku boleh meminjam bahunya untuk terlelap sejenak.

Arraseo. Aku menyerah. Terserahmu saja Jong-ah.”, jawabku kemudian sambil menempatkan kepalaku di bahu kirinya, bisa kurasakan Jongdae kini mulai mengelus rambutku halus, nyaman sekali.

“Nyaman?”,tanyanya kemudian. Aku mengangguk ringan, kemudian memperbaiki letak kepalaku lagi. Dari sudut mataku bisa ku lihat Jondae tersenyum manis sambil tetap mengelus kepalaku. Terlepas dari sikap pemaksa dan keras kepalanya, kadang lelaki ini nyatanya juga bisa membuatku merasa sangat nyaman, seperti sekarang.

“Ah, lihat. Ada bintang jatuh.”, pekik Jongdae kemudian sambil menunjuk langit di arah kirinya. Sontak aku langsung mendongakkan kepalaku, mengikuti arah pandangan Jongdae barusan.

“Mana? Mana?”, kataku antusias sambil memutar kepalaku ke segala arah, celingak-celinguk penasaran. Jarang-jarang bisa melihat bintang jatuh di kota metropolitan seperti Seoul Ini.

Aish,”, bisa kurasakan kini Jongdae -pacarku itu- sudah mencubit pipiku sambil mengulum tawanya. Aku memandang lelaki itu heran, cengo tentunya. Kenapa tiba-tiba saja dia mencubit pipiku seperti ini? Tidak seperti biasanya.

“Kau gampang sekali dibodohi.”, katanya kemudian, dia tertawa nyaring, membuatku sadar kalau aku baru saja menjadi korban iseng lelaki satu ini.

Ya!”, pekikku kemudian sambil memukuli bahunya, Jongadae masih saja tertawa, tidak peduli sama sekali meski tanganku sedari tadi bersarang di bahu-bahu kekarnya.

“Hei, jangan terlalu antusias. Nanti kita bisa ketahuan.”, tahannya akhirnya sambil memegangi tanganku cepat. Aku mengulum bibirku kesal, sementara Jongdae kini kembali tertawa. Dia menepuk bahunya lagi, dan mau tak mau aku menurut. Kembali ke posisi awal dimana aku bersandar manja di bahunya. Tsk, kenapa posisi ini nyaman sekali?

._.

Byurrr!

Aku mengerjapkan mataku perlahan, kembali membuka sepasang irisku yang ternyata sedari tadi asyik terlelap nyenyak, mungkin efek begadang tadi malam. Tunggu, sepertinya aku merasakan sesuatu yang aneh di kulitku, Kenapa rasanya agak..basah?

YA!”, pekikku kemudian saat sadar kalau sekarang tubuhku memang basah kuyup, aku membuka mataku selebar mungkin lalu menatap seseorang yang kira-kira  bertanggungjawab membuatku mandi sebelum waktunya. Siapa pula manusia yang bera… Tunggu, Kim –ssaem? Instruktur? Gawat, aku ketahuan.

“Apa sudah puas tidurnya?”, Tanya guru lajang itu sambil tersenyum manis sementara matanya melotot tajam ke arahku dan Jongdae yang sekarang langsung berdiri lalu mengambil posisi push-up, lengkap dengan air yang senantiasa menetes dari bajunya. Tsk, sepertinya kami tidak akan selamat sekarang.

._.

 

Author’s Side

“Kami tidak akan bolos lagi.”

“KURANG KERAS.”

“Kami tidak akan..”

“KURANG KERAS!!!”

“KAMI TIDAK AKAN BOLOS LAGI!!”

Instruktur bermarga Kim itu nampak mengangguk-anggukkan kepalanya ringan saat Jongdae dan So Hyun sudah berteriak keras sambil menjalani hukumannya, berlari mengitari sekolah 5 kali lipat dari jatah lari pagi yang tadi mereka boloskan, berarti sekitar 20 putaran. Ini adalah putaran ke-5, artinya kedua manusia yang tertangkap basah membolos itu masih punya 15 putaran lagi. Belum lagi bonus push-up dan bending yang sudah menunggu mereka setelah hukuman lari mereka selesai. Ingatkan? Instruktur Kim itu tidak punya belas kasihan.

“Hyun-ah, kau tidak capek?”, Tanya Jongdae pelan sambil menyeyajarkan langkah kakinya dengan So Hyun yang sudah tertinggal jauh. Wajar saja, gadis itu pasti kecapekan.

Gwenchana.”, jawab So Hyun sambil terengah-engah, sementara dia terus memacu langkahnya berlari. Kim Jongdae hanya bisa menatap So Hyun pasrah, kemudian kembali berlari di sebelah gadis bermarga Kang itu.

Waktu berputar cukup cepat. Satu putaran sudah terlewati, berarti sekarang tinggal tersisa 14 putaran. Jongdae kembali melirik So Hyun di sebelahnya. Gadis itu benar-benar nampak mengerikan sekarang dengan keringat bercucuran dan mata menyipit merah karena terpaan sinar matahari yang memang sudah agak naik ke atas. Wajar, ini sudah jam 9 lebih, bukan jam 5 pagi yang tadinya masih gelap. Sekarang? Matamu pasti beradu dengan raja siang yang pastinya membuatmu merasa perih karena silau.

“Hyun-ah, sudahlah. Kau berhenti saja, bilang kalau kau sakit.”, pinta Jongdae kemudian. Gadis itu lantas menatap Jongdae tajam, apa katanya? Pura-pura sakit? Tsk, Jongdae macam tidak mengenal pacarnya yang keras kepala dan berharga diri tinggi itu saja.

“Enak saja kau bicara, mau ditaruh dimana mukaku nanti kalau aku menyerah pada Kim-ssaem, eoh?”, tolak gadis itu mulai agak kesal. Jongdae menghembuskan nafasnya perlahan, sudah dia duga, So Hyun pasti menolak idenya itu.

“Jadi kau mau pingsan betulan saja karena kecapekan dan dehidrasi? Kau bahkan belum sarapan pagi ini Hyun-ah.”, sambung Jongdae, sebenarnya lebih mirip ajakan agar gadis keras kepala itu mau mengalah untuk sekali ini saja.

“Makanya, jangan ajak aku bolos Jong-ah.”, balas So Hyun lagi, lalu kembali berlari sekuat yang dia bisa, meninggalkan Jongdae yang masih berlari santai di belakang. Lelaki Kim itu hanya bisa menatap punggung gadisnya pasrah, lalu memutar kepalanya ke belakang sebentar, melirik Instruktur Kim yang masih mengawasi mereka dengan setia.

“Sial, cuma ada cara itu.” , batinnya kemudian.

._.

 

“ARGGHH!!!”

So Hyun segera menolehkan kepalanya ke belakang ketika sebuah teriakan kesakitan terdengar. Betapa kagetnya gadis itu ketika matanya malah menemukan Jongdae-pacarnya itu- tengah terduduk di tanah sambil memegangi pergelangan kakinya dengan ekspresi luar biasa kesakitan. Tanpa aba-aba, gadis Kang itu langsung memutar arahnya kemudian berlari ke tempat Jongdae merintih kesakitan.

“Jongdae-ah.”, kata So Hyun sesampainya di sebelah pacarnya itu. Dia langsung jongkok, kemudian memegangi pergelangan kaki Jongdae.

Gwenchana?”, Tanyanya khawatir. Jongdae hanya tersenyum tipis, tak lama kemudian instruktur Kim nampak menghampiri mereka berdua. Instruktur garang itu menatap Jongdae sebentar, kemudian memangku tangannya angkuh.

Tsk, kau itu namja atau yeoja, eoh? Kenapa begini saja sudah cidera?!”, pekik guru itu seakan menyindir Jongdae yang masih merintih kesakitan, sementara So Hyun hanya menepuk-nepuk punggung pacarnya itu. Hei, siapa yang tidak malu dikatai seperti itu? Di depan pacar pula?

Arasseo. Kang So Hyun, tolong bawa si lemah ini ke UKS sekolah. Ingat, hukuman kalian belum selesai. Kalian lanjutkan kalau..”, Kim ssaem menatap Jongdae sinis. “Kalau si kunyuk lemah ini sembuh.”, sambungnya lalu berlalu dari lapangan. Sepeninggal instruktur Kim itu, So Hyun langsung membantu Jongdae berdiri, kemudian memapahnya keluar lapangan, hendak menuju UKS seperti perintah instruktur mereka tadi.

“So Hyun-ah.”, kata Jongdae setelah beberapa lama. Gadis itu menatap Jongdae sebentar, lalu mulai bertanya kenapa Jongdae memanggilnya. Lelaki itu nampak melirik-lirik sekitarnya, lapangan ternyata sudah kosong melompong, tinggal mereka berdua yang tengah berjalan tertaih-tatih ke arah UKS yang tinggal beberapa meter lagi. Merasa aman, lelaki bermata sipit itu kemudian berdehem pelan.

Ekhmm. Kau benar-benar percaya kalau aku sedang cidera?”, Tanya Jongdae kemudian sambil menatap So Hyun yang kini menatapnya cengo. Gadis Kang itu nampak berpikir maksud perkataan Jongdae barusan, barulah dia paham saat detik selanjutnya Jongdae mengedipkan sebelah matanya.

YA!”,pekik gadis itu kemudian sambil memukul-mukuli bahu Jongdae yang kini sudah berdiri tegak. Lelaki itu hanya terkekeh, sementara So Hyun kini benar-benar kesal karena dengan bodohnya sudah percaya pada pacarnya itu. Jongdae-ah, kau benar-benar iseng.

“Kau tidak takut ssaem akan tau, eoh? Kau mau hukuman kita bertambah huh?!”, pekik So Hyun lagi, sementara Jongdae hanya bisa mengulum senyum tipisnya, bersyukur punya pacar yang sangat perhatian seperti So Hyun, yah…meski gadis itu benar-benar galak dank eras kepala.

Gwenchana, instruktur itu tidak akan tau.”, jawab Jongdae yakin, kemudian merangkul gadis di sebelahnya mesra.

“Nah, mau kemana kita? Apa kita perlu kencan?”, goda Jongdae lagi yang kini sukses membuat pipi So Hyun merona merah.

Ya! Kim Jongdae! Kau benar-benar..”

Stttt….

So Hyun hanya terdiam, sementara jari telunjuk Jongdae kini sudah berada di depan bibir bangirnya yang merekah sempurna. Jongdae nampak memandangi So Hyun dari atas ke bawah, kemudian tersenyum lagi, membuat mata sipitnya hanya nampak seperti garis lurus untuk kesekian kalinya.

“Kau tidak lupa kan hari ini hari apa?”, kata Jongdae kemudian sambil mendekatkan badannya ke arah So Hyun sementara si gadis itu kini menepuk dahinya pelan -seakan mengingat sesuatu yang penting- kemudian reflek memundur selangkah.

“Kang So Hyun..”, Jongdae menggantung kalimatnya sambil melangkah mendekati So Hyun yang kini hanya bisa terdiam mematung.

“Kau tidak lupa hari ini hari apa kan?”, ulang Jongdae. So Hyun meneguk salivanya perlahan, kemudian menggangguk perlahan. Melihat itu Jongdae langsung menurunkan jarinya yang sedari tadi ada di depan bibir So Hyun, membiarkan gadis itu bicara.

“Ini hari ulang tahunmu.”, jawab si gadis sambil memalingkan mukanya. Karena inilah So Hyun tidak mau bertemu Jongdae hari ini, tapi nasib ternyata berkata lain. Instruktur Kim dan ulah nakal Jongdae hari ini justru membuatnya harus bersama lelaki itu seharian. Parahnya, gadis itu baru ingat apa hal skakmat yang sudah dia janjikan pada Jongdae. Demi Dewa, So Hyun sangat berharap ada bola yang jatuh dari langit lalu mengenai kepala Jongdae hingga lelaki itu pingsan, atau kalau perlu sekalian saja dia amnesia. Tapi sayang, hanya ada mereka berdua di tengah lapangan, dan mustahil ada bola yang jatuh dari langit.

“Kau ingat janjimu kan?”, kata Jongdae sambil menggerling nakal. So Hyun memejamkan matanya sebentar sambil mencium jari telunjuknya, kemudian langsung menjinjit mencium –ralat- menempelkan jari telunjuknya di pipi kanan lelaki itu.

“Sudah.”, kata So Hyun sambil memalingkan mukanya malu sementara Jongdae kini memegangi pipi kanannya, menyentuh letak jari gadisnya itu tadi. Jongdae menatap So Hyun serius. Tsk, gadis ini malu rupanya.

“Jari? Ya! Kemarin kau berjanji kau akan menciumku di sini.”, lanjut Jongdae sambil menunjuk bibirnya. Sumpah, So Hyun benar-benar mengutuk dirinya sendiri yang dengan bodohnya berkata bahwa dia akan mencium bibir lelaki itu saat dia berulang tahun, sekarang dia benar-benar berharap kalau dia tidak pernah mengatakan itu saat mereka kencan diam-diam minggu lalu.

Arraseo, arasseo..”, ucap gadis itu mengalah . Dia mengetuk-ngetuk sepatunya, kenapa detak jantungnya menjadi tidak normal di saat seperti ini?

“Tu-tutup matamu..A-aku malu..”, pinta So Hyun kemudian, mendengar itu Jongdae hanya bisa mengalah, kemudian memejamkan matanya.

“Jangan buka sampai aku bilang buka.”, pinta gadis itu lagi. Jongdae hanya meng-iya-kan sementara detak jantungnya juga mulai bergerak tidak beraturan -seakan sedang melakukan lomba marathon- membayangkan bagaimana rasa bibir pacarnya itu saat bersentuhan dengan bibirnya.

1 detik..

2 detik..

3 detik..

Cupp..

Jongdae membuka matanya sesaat setelah dia merasakan sesuatu menempel di pipi kananya, bukan di bibir yang seharusnya menjadi perjanjian antara dia dan So Hyun seminggu lalu. Mata Jongdae terbelalak saat mendapati bahwa di depannya tidak ada lagi sosok So Hyun, mau tidak mau dia langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, lalu mendapati sosok gadisnya yang tengah berlari sekencang yang dia bisa.

YA! Kang So Hyun! Tepati jannjimu!”, pekik Jongdae kemudian sambil merajut langkah mengejar So Hyun. Memang dasarnya fisik laki-laki lebih kuat, Jongdae kini dengan mudah sudah bisa menyamai langkah So Hyun dan bahkan kini menghentikan gerakan lari gadis itu sambil menahan pergelangan tangannya.

Jongdae menatap gadis berwajah semerah kepiting rebus di depannya, lantas memegang kedua bahu So Hyun sementara si gadis hanya bisa memejamkan matanya.

“So Hyun-ah, kau harus menepati janjimu,arraseo?”, dan detik selanjutnya bibir tipis Jongdae sudah menempel sempurna di bibir So Hyun. Hanya beberapa detik, namun sanggup membuat detak jantung kedua insan itu berdegup tak beraturan.

“Terima kasih.”, ucap Jongdae kemudian setelah So Hyun membuka matanya. Gadis itu hanya bisa tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya -malu.

“Kim Jongdae!”

Sekon selanjutnya Jongdae dengan gerak super cepat sudah merangkul bahu So Hyun lagi, kemudian merendahkan badannya dan memasang ekspresi kesakitan.

“Kenapa lama sekali sampai di UKS?!”, Tanya instruktur Kim sambil menghampiri mereka berdua. Jongdae langsung tersenyum tipis.

“Maaf ssaem, kakiku benar-benar sakit jadi jalanku benar-benar lama. Perih ssaem.”, jawabnya dengan ekspresi paling kesakitan yang pernah So Hyun lihat. Kim ssaem nampak percaya-percaya saja, kemudian berjalan di sebelah Jongdae yang kini berjalan tertatih-tatih dibantu papahan So Hyun ke UKS.

“Tsk, dia pandai sekali berakting.”, batin So Hyun sambil melirik Jongdae yang masih memesang ekspresi kesakitan. Tsk, lelaki ini benar-benar. Lalu kenapa So Hyun bisa begitu menyukai Jongdae dengan semua tingkah nakalnya ini?

 

-FIN-

Curcolan Eki ^^

Haloha semuanyahhh, ketchup atu-atu /plakkk/😄

Pertama-tama mau ngucapin pibesdeh buat uri main vocal kita, mas Chen si vokal cetar membahana dari boyband Eksoh yang suka buat Eki kejang-kejang pas nonton mereka /plakk/😄. Semoga makin ganteng, makin bangsat, makin cetar suaranya, makin eksis baareng eksoh, makin sukses, pokoknya wish you all the best yaw mas Chen ^^

Sebenernya tadinya pengen ngebuat epep yang isinya sad ending dengan kisah romance yang complicated atau sekalian aja epep thriller buat nyabik-nyabik Chen, namun Eki ternyata masih punya hati nurani /plakk/😄. Masa sih Eki tega nyabik atau motong mas Chen yang super kalem cem ningrat Keraton? Sad story? Xixixi, sebenernya mau buat cerita  pacar mas Chen ini selingkuh, tapi kog ya kurang sreg, masa HBD tapi isinya sad semuah /plakk/😄

Kemudian lahirnya epep ‘Lari Pagi’, syumpah, judulnya nista amat, sama kayak isinya, wong idenya aja muncul pas Eki lagi lari pagi dengan keadaan mirip So hyun -kepaksa-

Okedeh, sepertinya Eki udah kebanyakan curcol. Abaikan saja semua isi curcol recehan ini. Pokoknya Thanks for reading untuk readers hitam maupun putihnnya Eki (?) (*kalo ada yg baca dan merasa :V)

Sekali lagi (*sok korea-koreaan :v)

 

SAENG-IL CHUKHAE URI CHEN OPPA!!

6 thoughts on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Lari Pagi (Oneshot) – Shaekiran

  1. Eeaaa..wkwkwkwk
    Ekhem.. Ekhem..

    Demi apa aku bacanya sampe senyum” sndiri gx mau berhenti..kkkk
    Bawaannya mau senyum terus..ahaha

    Etdahh bang., aktingnya bagus yahh.. Cocok kalo main sinetron(?)..wkkwkwk^^v
    Malu kucing iihhh.. Tapi so sweet ihh, semanis gulali..ecciie#Plaak

    Ini abang chen aja udah manis kek gini ya 😊😊😊. apalgi nanti klo abang ceye pasti melelehh..bhakss..hahahahaha
    #purapuragxkenal
    #에키, 정말 미안해 ..ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

    Eehh lupa., mau Nanya aahhh..wkwkwk#tdikatanyapurapuragxkenal!!!

    Eki itu yg dihukum 15 putaran kisah Eki kah??#Plakk

    HBD KIM JONGDAE / CHEN OPPA^^
    💞💕💞💕💞

    • Awas senyumnya dikira gila sama yg ngeliat kak /plakk/😂
      Uahhh, ceritanya pamer senyum nih kak? Kok senyum mulu, napa hayoo?😂
      Aku juga senyum” baca komentar ini /plakk/😂
      Iya, ntar chen main di sinetron ftv indo yg siang ntu di sctv, yg sering nyanyi ‘cintaku hanyalah Cinta biasa, yg tak sempurna dan kadang salah…’/plakk/😂 (*efek tiap ftv mau judulnya apa genre apa, alurnya apa tapi tetep aja tuh lagu nampang…😂)
      So pasti, chen meleleh? Ceye nguap ntar, nguap ke hari eki maksudnya /PLAKK/OPEN YOUR EYES EKI!!😂
      Kok tetiba mianhae kak ly? Wae? 😂
      Mmm, kisah eki apa nggak ya? Wkwk, untuk kali ini nggak, ngarang doang itu mah. Sama eki lakunya rolling atau ngerayap di lapangan bola :v
      Noh chen, diselametin pibesdeh sama kak ly,😗
      Okelah kak ly, sudah sepanjang apakah balasan eki ini? Ficlet kah?😂
      Thanks for reading kak, cintakuh padamuh.❤

      • Hahahaha.,
        Di rumah mendingan yahh., dari pada di angkutan umum?!..haha apalagi di jalan..wkwkwkwkwk^^v

        Iya pamerr.. Senyum kakk kan maniss#Plaakkk.. Apalagi kalo sambil liat Eki..cihuyyy..wkwkwkwkwkwk

        Ciahh.,
        typo bikin ktawa yah.. 😂😂😂😂😂

        Itu yg pura” gx kenal..wkwkwk^^v

        Eoh., ngarang kirain kisah eki., duh kalo ntu kisah eki nggak kebayang ane..

        Wkwkwkwk., sepanjang jarak antara kau dan aku#Plakk/oke nih mulai ketularan eki#kenabogemsamaeki..kkkkk^^v
        Ehh., gimana kalo coment kita djadiin satu?, bakal jadi apaan yahh..wkwkwk
        Ne cheonma^^
        💋💋💋

      • Mending banget, setidaknya yg dirumah udah biasa ngeliat kita menggila, daripada yg dijalan atau angkot? Dikira pasien rsj yg kabur kita mah kak/plakk/😂
        Duh, senyumnya manis sekalee kak, tapi kok sepet kalo eki nampang? /plakk/😂
        Yakali kisah eki, pingsan duluan mah sayanya kak,😂
        Eakkk, kak ly mulai nyanyi egen, ketularan ciee..😂
        Jadi apa yak? Epep komenan fangirl sengklek nam absurdkah?😂
        Cintakuh padamuh kak ly.❤

      • Iya bner tuh..wkwkwkwk

        Huehehe#maluuu
        Sepet?/ ihh eki mah gitu.,
        Dimana mana kalo orang senyum itu orang yg liat ikut senyum 😊

        Hehehe., baru 3 putaran udah pingsan mungkin..wkwkwk
        Ngomong” org pingsan itu kek apa yah#belum pernah pingsan 😂😂

        Hahaha., nyanyi” sama abang thehun#plaakk..wkwkwkwk
        Iya ketularan eki..ahaha

        Huahahaha., eki tuh nggak bisa buat eonni gak ktawa yahh#takunyel”/ditendangeki/maapkeun..wkwkwk

        😱😱😍😍😍😂😂😂

      • Eki emang gini kak, apa adanya /plakk/😄
        Kalo eki beda, rada sepet gitu rasanya kak. :’)
        Sama dunks, eki juga blm pernah pingsan. Nyoba lari cem so hyun kali ya biar pingsan beneran/plakk/😄
        Nyanyi apaan sama selingkuhan eki? Open your eyes?😄
        Eki ternyata menular, hmm..XD
        Berarti eki cocok dong jadi pelawak kak ly? :v

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s