[CHEN BIRTHDAY PROJECT] REWIND – LADYDAYNA

1474386421465

REWIND

a birthday fiction by ladydayna,

starring Kim Jongdae and OC

Ficlet, Hurt/Comfort

.

.

standard disclaimer applied!

.

.

Derap langkah kaki menggema pelan sepanjang jalan Jongdae menyusuri jalanan trotoar. Di iringi nyanyian malam khas serangga-serangga kecil yang melindungi diri dibalik semak belukar. Di temani gelagar petir yang sesekali bergema seolah mengingatkan langkah supaya lebih cepat sampai ke rumah. Serta belaian angin malam yang seolah ingin ikut serta menyiksa Jongdae kala itu; terasa amat dingin dan juga menusuk hingga bagian terdalam tulang-belulang tubuhnya.

“Aku menyukaimu.”

Jongdae menatap nanar taman kosong di sekitarnya. Semua masih terlihat sama meski Jongdae merasakan ada sesuatu yang berbeda entah apa. Arena seluncur yang tidak begitu tinggi, kotak pasir yang dulu sempit –kini sedikit di perlebar, bahkan pohon-pohon serta tumbuhan lainnya. Mereka masih terlihat rapi, indah juga terawat. Entah mungkin hanya perasaannya saja. Tapi sesuatu yang sebenarnya berubah saat ini adalah dirinya. Hatinya.

“Aku akan membuat pasta keju kesukaanmu di kelas memasak hari ini. Kau harus jadi yang pertama mencoba oke?”

“Bagaimana kalau rasanya tidak enak?”

“Tidak ada protes Jongdae! Ini perintah!”

Jongdae tersenyum miris ketika langkahnya kemudian sampai di arena berayun. Meraba sekilas kepangan besi-besi dingin yang menjuntai tak begitu jauh dari tiang sanggahannya, Jongdae merasa hatinya kembali tersengat. Sengatan ini hampir sama seperti sengatan setahun silam. Di taman ini juga, di ayunan ini pula. Tapi entah mengapa. Sengatan kali ini tidak mampu membuat ia tertawa sumringah seperti kala itu. Sebaliknya, sengatan ini justru membuat dadanya kembali pilu. Tercabik kembali oleh ingatan-ingatan manis di masa lalu.

.

flshbck on

Jongdae bergidik pelan ketika sayup-sayup angin berhembus jahat membelai kulitnya. Membuat ia mati-matian menahan dingin yang menusuk tubuh tanpa mantel tebal menyelimutinya. Tangannya pun sedari tadi aktif menggosok satu sama lain. Sesekali di bantu dengan hembusan napas yang tak seberapa di antaranya, berharap dengan begitu rasa dingin yang menerpanya akan terobati sedikit demi sedikit.

Jarum jam hampir berputar setengah lingkaran. Namun tak sedikitpun Jongdae menunjukkan gelagat untuk pergi meninggalkan tempat ini. Tidak ketika kekasihnya menghubungi untuk menemui ia disini. Taman yang menjadi saksi penyatuan cinta mereka. Terdengar puitis mungkin. Tapi begitulah apa adanya.

“Jongdae!”

Suara dalam lengkingan khas seorang gadis lantas segera membuyarkan lamunan Jongdae. Tubuhnya yang semula lemas pun entah mengapa menjadi kembali segar. Alasanya? Apalagi kalau bukan mata indah bak kelinci itu.

“Kau gila! Ini musim dingin!”

Alih-alih menanggapi sang gadis, Jongdae justru asik menyibukkan dirinya menatapi wajah cantik di hadapan. Memuji ke dua pipinya yang berangsur padam ketika saat-saat tertentu–diantaranya malu dan juga udara dingin.

“Kau bilang ingin menemuiku disini.”

“Tapi bukan dengan pakaian seperti ini. Demi tuhan, kau bahkan tidak memakai baju dingin atau mantel, gila!”

Jongdae tersenyum. “Aku lupa. Kalau aku kembali atau pulang, aku takut nanti kau menunggu seperti aku disini.”

“Mana mungkin.”

Selepasnya argumen-argumen itu berakhir suasana menjadi hening seketika. Entah apa yang dipikirkan keduanya. Tapi yang jelas Jongdae benar-benar sudah tidak tahan dengan hawa dingin yang semakin parah seiring berlalunya malam.

Dan seakan paham dengan sinyal kedinginan Jongdae, si gadis kelinci lantas mulai membuka percakapan kembali.

“Aku..”

Jongdae mengeryit dalam. Kenapa? Pikirnya. Apa yang terjadi? Apa yang ingin dikatakan kekasihnya sebenarnya?

“Hubungan kita.”

“Aku rasa cukup sampai disini.”

Dan bagaikan dihunus besi setajam dinginnya udara malam Jongdae melongo tak percaya. Matanya mengadu dengan irish di hadapan, berharap ada kebohongan di setiap pancar tatap mata besar itu. Namun naas, kenapa Jongdae tak dapat menemukannya meski sedikit saja?

“Jangan tanya aku kenapa, tolong. Hanya.. aku kira semuanya cukup.” Gadis itu menutur seraya melepas syal cream yang sejak tadi menyelimuti lehernya.

“Milikmu.. dan, aku pergi.”

flshbck off

.

Jongdae menggerakan lambat kakinya panjangnya, dengan maksud agar ayunan yang kini di naikinya bergerak selayaknya ayunan biasa. Pelan-pelan di awal hingga akhirnya terbawa angin dan suasana kemudian.

Ada yang Jongdae sesali malam itu, ketika musim dingin hampir mencapai puncaknya. Dan gadis kelincinya dengan mudah saja melepaskan jemari yang dulunya Jongdae kaitkan erat.

Jongdae melepasnya. Tanpa perlawanan berarti, bahkan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya hari itu. Bak seorang anak yang kehilangan balonnya, ia hanya melepas kaitan benang itu tanpa usaha berarti untuk mendapatkannya. Satu hal yang Jongdae sangat sesali bahkan hingga ke dalam sisi hatinya paling dalam.

.

.

And If I shout out then to the wind, the name that I can’t forget. Can you hear this song of my heart in the far future?

For a moment that I miss so bad, can you just back for one day? Rewind all those kind of love, together–with me.

.

.

FIN.


Nah, nggak tau udah ini nulis apaan. Karena menerapkan sistem kebut semalam dan nggak sempet ngecek ulang macem-macem lagi (ide sama plot juga seadannyaㅠㅠ), mohon di maklumi jika masih ada typo yang mejeng yess. Kalau ada yang berkenan mengoreksi malah aku seneng banget wks:v

anyway, happy sweet 24th our bebeks chenchen!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s