[Chen Birthday Project] Raja dan Putri – Audrey_co

13294

Main cast: Kim Jongdae, Putri Kalista Adriana.

Author: Audrey_co

Genre: Romance, AU.

Rate: G

Disclaimer: Cerita ini murni milik author, so jangan coba-coba untuk copas atau plagiat!!

Langsung ke ceritanya aja ya, cekidot!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ini klasik. Setiap raja pasti memiliki ratu sebagai pendamping. setelahnya, mereka akan memiliki putri atau pangeran sebagai penerus. Tapi bagaimana jadinya kalau seorang raja mencintai seorang putri?Terdengar janggal, memang–tapi ini benar benar terjadi.

Dia bukanlah raja dari kerajaan mana pun, dia hanyalah manusia biasa. Manusia yang dipuja-puja banyak orang karena sifat dan bakatnya. Setiap hari ia disambut layaknya raja karena memang ia dijuluki ‘Raja populer’ di sekolah. Tak jarang gadis-gadis berdesakan sekedar ingin menyapa pagi sang raja populer. Mereka tak merasa sia-sia lantaran respon yang didapat adalah senyuman manis sang raja.

Sang raja tidak punya pengawal atau pun kawan. Tak banyak pemuda-pemuda disaba merasa iri padanya. Sebagiannya lagi, merasa tidak pantas menjadi temannya bahkan ada juga yang malu berpapasan dengannya.

Normalnya, setiap orang terkenal tentunya memiliki penggemar dan juga haters. Beruntungnya, ia hanya memiliki satu orang hater–yaitu seorang gadis. Terdengar aneh sih, mengingat banyak gadis mengidolakannya sementara ia tidak berpikiran sama.

“Lihatlah lihat!! Itu Kim Jongdae! Dia datang!” Pekikkan para gadis  menginvasi telinga siapa saja yang mendengarnya, termasuk para pemuda yang mau tak mau ikut memperhatikan si objek pembicaraan memasuki gedung sekolah.

“Astaga, dia benar-benar tampan!”

“Lihatlah! Dia tersenyum kearahku!”

“Huaaa Kim Jongdae!!! Jadilah pacarku!”

Well, kalimat yang terakhir itu menjijikkan, memang. Barangkali, lelaki yang bernama Kim Jongdae itu tengah membatin ingin muntah ketika mendengarnya. Lagipula, entah mengapa kiranya para gadis repot-repot berteriak seperti itu.

“Terima kasih.” ujar Kim Jongdae pada gadis cantik yang baru saja memberikannya sebuah kota berukuran sedang yang dibungkus dengan kertas hadiah dan diberi pita berwarna silver diatasnya. Gadis itu tersenyum kegirangan dan berlari kearah teman-temannya yang sedang berkumpul.

“Wahh kalian lihat tadi? Dia mengambil hadiahku! Astaga, aku hampir tidak bernafas melihat senyumnya!” pekik gadis yang memberi Jongdae hadiah tadi, teman-temannya terlihat iri dan juga ikut memekik seperti gadis itu.

“Cih, memang apa bagusnya dia? Kalian benar-benar tertipu dengan wajah topengnya itu.” ujar seorang gadis berambut hitam legam sebahu disebelah perkumpulan gadis-gadis heboh tadi. Para gadis itu sontak menoleh dan menatap gadis surai hitam itu tajam.

“Apa?” Tanya gadis itu seakan tanpa masalah, perkumpulan gadis itu mendekatinya dan mengerubunginya.

“Heh, kau bilang apa tadi? Wajah Jongdae bukanlah topeng, dia memang seperti itu. Jangan asal bicara kau!” Kesal salah satu dari gadis heboh itu. Gadis surai hitam mendecih.

“Kalian seperti mendambakan sesuatu yang takkan pernah kalian dapatkan. kalian mendewakannya dan berharap dia akan melirikmu dan menjadikanmu kekasihnya, cih itu benar-benar memuakkan. Aku bahkan geli mendengar kalian menyatakan perasaan secara terang-terangan dan ditolak dengan senyum palsu itu. Astaga, dimana otak kalian?”

Para gadis heboh itu merasa gahar, bahkan salah satu dari mereka kini maju selangkah dan menatap lekat mata gadis surai hitam itu.

“Dengar ya Putri Kalista Adriana! Bilang saja kau iri dengan kami yang bisa dekat dengan Kim Jongdae! Makanya kau berkata lancang seperti tadi, kau iri kan? Iya kan?” Perkumpulan gadis heboh itu semakin menyesakkan si gadis surai hitam-Putri dengan tatapan elang mereka. Putri hanya berdecak dan berpikir betapa bodohnya mereka itu.

“Sudahlah, susah juga berbicara dengan orang tidak waras seperti kalian.” Putri mendorong pundak mereka dengan telunjuk lentiknya, “Aku ada ulangan hari ini, jadi selamat bersenang-senang dengan delusi kalian!” Putri bersmirk dan langsung berlari cepat menuju kelasnya, tak mengindahkan makian dari perkumpulan gadis heboh itu. Dalam hati Putri tertawa, dia sangat suka mengganggu teman-temannya yang menyukai si Kim Jongdae itu. Menjadi kesenangan sendiri untuknya.

Sesampainya di kelas, ia terdiam didepan pintu kelasnya. Kemana semua orang dikelasnya? sepertinya mereka belum datang atau mungkin mampir di kantin untuk sarapan. Terbukti dengan adanya dirinya dan seseorang lagi dikelas itu. Si raja yang dipuja para gadis, Kim Jongdae. Putri tak merasa canggung ataupun risih, dengan santainya ia duduk dibangkunya yang berbeda tiga bangu dari tempat duduk Jongdae. Pria itu kini sedang membaca buku pelajarannya, seperti yang Putri bilang tadi mereka ada ulangan hari ini. Putri jugaa tak mau kalah, ia mengeluarkan bukunya dan ikut larut dalam bacaannya.

Jongdae mengedarkan pandangannya dan mendapati si gadis surai hitam yang terlihat serius dengan bacaannya. Senyum Jongdae merekah, ia berdiri dan melihat arlojinya yang menunjukkan pukul 6:43. Masih ada beberapa menit sebelum teman-temannya masuk ke kelas. Kakinya menapak menuju tempat duduk Putri dan mendudukkan dirinya tepat di depan bangku gadis itu.

“Hai, Putri. Ayo kita belajar bersama.” ajak Jongdae ramah, namun tak ada tanggapan dari gadis itu.

“Em, Putri?” Panggil Jongdae lagi, kali ini gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap netra Jongdae malas.

“Kurasa aku bisa belajar sendiri, tuan Kim.” ketus Putri dan kembali larut dalam bacaannya. Jongdae tersenyum tipis dan merebut buku milik Putri.

“Yak! Kembalikan Jongdae!” Protes Putri dengan wajah kesal. Jongdae tertawa pelan melihat raut kesal Putri.

“Kita belajar bersama, ya? Aku takkan melakukannya lagi jika kau mau belajar bersamaku.” tawar Jongdae, Putri hanya mengangguk pasrah dan membiarkan Jongdae menemani paginya ini.

~~~~

Putri tidak tahu kenapa ia begitu tidak menyukai sosok Kim Jongdae. Ia sangat menentang jika seseorang terlalu di dewakan, di puja-puja, menurutnya hanya tuhanlah yang patut di puja, tapi kenapa teman-temannya begitu gila memuja Jongdae? Mungkin sebentar lagi dunia akan kiamat.

Terhitung dua bulan setelah mereka belajar bersama untuk pertama kalinya. Hari ini Putri kembali berduaan dengan Jongdae saat jam pelajaran usai, tapi Putri tak begitu memperdulikan Jongdae. Tepat hari ini juga adalah tugas piket Putri dan seperti biasa, teman-temannya begitu jahil padanya. Mereka sengaja mengotori kelas dan membiarkan putri membersihkannya sendiri. Begitu frustasi hingga beberapa kali gadis itu bersumpah serapah untuk teman-temannya.

Jongdae masih setia di bangkunya, memperhatikan setiap gerakan gadis itu dalam diam. Sampai dimana titik lemah seorang Kim Jongdae muncul, ia benar-benar tak tahan jika melihat seorang gadis kewalahan sendiri seperti Putri. Jadilah Jongdae berdiri dan mengambil alih sapu ditangan Putri.

“Biarkan aku membantumu. kau istirahat saja.” ujar Jongdae ramah, Putri awalnya mengernyit namun ia merasa lelah juga dan jadilah ia beralih membersihkan papan tulis yang penuh coretan itu.

Jongdae membersihkan seluruh kelas, tak sepenuhnya karena Putri sudah membersihkannya sebagian. Mengepel setiap sudut ruangan, merapikan properti kelas, dan terakhir mengunci kelas. Keduanya merasa lelah, dan setelah Jongdae melihat jam ia terkejut dan menatap Putri lekat.

“Ini sudah pukul 7 malam.” Putri mengankat alisnya mendengar keluh Jongdae, pandangannya seakan berkata ‘lalu?’.

“Dimana rumahmu? Biar kuantar.” Jongdae beejalan kearah mobilnya saat mereka keluar dari gedung sekolah. Putri terdiam dan menatap Jongdae was-was.

“Aku bisa pulang sendiri.” tolak Putri secara halus. Jongdae mengernyit dan menatap Putri lekat.

“Ini sudah malam, Putri. Kejahatan bisa saja terjadi padamu. Ayolah, aku antar pulang.” Rujuk Jongdae lagi, kali ini Putri menerima tawarannya. Dengan segera Jongdae membuka pintu mobil untuk Putri, setelah Putri masuk Jongdae langsung berlari pelan dan masuk ke dalam mobil. Setelahnya mobilnya tak lagi terlihat di lingkungan sekolah.

~~~~

Putri tahu ada yang aneh dengan dirinya selama beberapa waktu ini. Ia menyadarinya beberapa hari setelah Jongdae mengantarnya pulang, mengajaknya berteman, dan juga belajar bersama. Terhitung mereka berteman sudah tiga bulan ini. Lima bulan yang lalu kontak mereka terhubung saat Jongdae mengajak Putri untuk belajar bersama.

Rasa ketidak-sukaannya terhadap Jongdae kini berbalik menjadi… suka? Ataukah cinta? Putri masih belum bisa menjabarkannya. Bahkan setiap kali Jongdae memperlakukannya begitu lembut saat mereka sedang berduaan saja terasa membahagiakan bagi Putri. Jongdae akan berlaku biasa saja jika di keramaian, dan akan berlaku lembut saat mereka berduaan. Begitu janggal menurut Putri, mungkinkah Jongdae malu jika berteman dengan Putri? Ah, gadis itu tak ingin memikirkannya sekarang.

Hari ini hujan begitu deras. Jam menunjukkan pukul 5 sore dan ini waktunya untuk pulang. Putri yang tadinya janjian dengan Jongdae untuk belajar bersama di sebuah cafe akhirnya nekat untuk pulang. Ia berteduh di halte bis yang sangat ia hapal jadwalnya, untuk hari ini bis takkan datang pukul segini. Jadilah ia duduk dan mereda dingin yang menusuk tubuh sebisanya.

Putri meninggalkan Jongdae sendirian di cafe dengan alasan ia harus cepat pulang karena ibunya menunggu dirinya. Heol, benar-benar lucu saat ia mengatakannya, itu hanya dalih saja agar wajah Putri tak memerah bak tomat jika berlama-lama dengan wajah tampan Jongdae.

Putri kembali teringat, Ibu? Satu kata yang membuat Putri ingin melompat dari atas gedung, lebih baik dia mati saja. Tapi menyusul ibunya bukanlah ide yang baik memang, namun hati kecilnya sungguh merindukan sosok seorang ibu.

Hidup sebatang kara selama hampir 5 tahun ini menyiksa dirinya. Merasa kesepian di Indonesia, akhirnya ia memutuskan untuk bermigrasi ke Korea selatan yang notabenenya adalah kampung halaman Ibunya. Meski ibunya mewariskan harta kekayaan tak seberapa, tapi Putri mampu hidup dengan itu.

Bahkan Putri menambah uang hidupnya dengan bekerja sebagai koki di kedai dekat rumah peninggalan Ibunya setiap hari senin-kamis, dan ini hari minggu jadi Putri memilih untuk bergelayut di dalam kasurnya dan mengingat ibunya lagi malam ini.

Hujan semakin deras, dan uang yang Putri bawa tidak cukup untuk naik taksi menuju rumahnya. Dengan terpaksa ia harus basah-basahan hari ini. Semoga tuhan berbaik hati padanya agar supaya besok ia bisa masuk sekolah dengan keadaan sehat tanpa flu atau pun demam. Semoga.

Baru saja surai hitamnya setengah basah oleh air hujan, mobil Audi berwarna putih itu berhenti tepat disebelahnya dan menampakkan seorang Kim Jongdae didalamnya. Pria itu menyuruh Putri masuk namun gadis itu menggeleng. Merasa sedikit gemas, Jongdae keluar dan ikut basah-basahan dengan putri.

“Ayo Putri, nanti kau bisa sakit.” ujar Jongdae yang berusaha menuntun Putri masuk kedalam mobilnya.

“Tapi nanti jok mobilmu basah, aku tidak mau merepotkanmu juga.” tolak Putri, Jongdae menggelengkan kepalanya dan mendorong pelan tubuh Putri hingga masuk kedalam mobilnya.

“Maaf memaksamu, tapi aku benar-benar tak tega melihatmu basah-basahan begini.”ujar Jongdae saat ia berada didalam mobilnya. Pria itu mengambil jaket jersey yang terletak di jok belakang dan memasangkannya pada bahu sempit Putri.

keheningan yang tercipta membuat keduanya terlihat canggung, maksudnya untuk Putri. Gadis itu menunduk dan menatap buku jarinya yang memucat karena kedinginan, pikirannya benar-benar kosong sekarang. Sedang Jongdae mengemudikan mobil dengan tempo pelan, keselamatan menjadi nomor satu disaat jarak pandang tak lebih dari tiga meter karena derasnya hujan. Jongdae bedehem sebentar, suatu kebiasannya jika ia ingin membicarakan sesuatu.

“Kau bohong.” dua kata itu terdengar pertama kali sejak hampir 15 menit mereka terdiam. Putri mengangkat kepalanya dan menatap Jongdae sayu.

“Bohong soal apa?” Tanya Putri.

“Soal ibumu. Kau sebatang kara, bukan?” Ucapan Jongdae sukses membuat Putri terdiam. Kenapa saat dia berkata begitu hati Putri terasa sesak? Matanya bahkan memanas saat memorinya menampakkan wajah ibunya yang sedang tersenyum manis.

“Maaf, bukan maksudku untuk menyinggungmu. Kita adalah teman, dan aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Sehingga dengan begitu kita semakin dekat dan tidak canggung seperti ini. Sekali lagi maafkan aku jika kau merasa tersinggung.”

Putri hanya terdiam, tak niat membalas perkataan Jongdae. Dirinya tersadar dan melirik suasana di luar mobil, ini bukanlah jalan menuju rumahnya. Netranya menatap Jongdae penuh tanya.

“Kita ke rumahku. Sangat berbahaya jika kau aku tinggal sendirian di rumahmu, kejahatan sedang marak terjadi. Kuharap kau mau menginap dirumahku semalam saja.” ujar Jongdae sembari mematikan mesin mobilnya. Putri sedikit terkejut dan tak bisa berkata lagi saat Jongdae menoleh dan tersenyum padanya.

“Kau pasti kedinginan. Ayo, rumahku terbuka untukmu.” ujar pria manis itu sembari keluar dari dalam mobil. Putri mau tak mau ikut keluar dan mengekori Jongdae.

Rumah itu sangatlah besar, saat mereka masuk kedalamnya terasa begitu retro dan klasik berpadu menjadi satu. Suasana yang sangat Putri sukai, terkesan begitu hangat dan barang-barang antik itu menambah kesan indah dimata Putri. Gadis itu sangat menyukai selera keluarga Jongdae, begitu mewah dan berkelas.

“Putri? Putri, kenapa melamun?” Ucapan Jongdae seakan sebuah angin yang menyadarkan Putri dari lamunannya. Gadis itu tersenyum lucu dan menatap pakaian di tangan Jongdae.

“Pakailah ini, kebetulan sepupuku menyimpan pakaiannya saat berlibur lalu. Semoga cocok untukmu.” ujar Jongdae sembari menyodorkan sebuah baju kaos berwarna coklat muda dan juga celana panjang putih. Putri mengambilnya segera dan melesat menuju kamar mandi yang sudah Jongdae tunjukkan.

Tak terasa sudah pukul 8 malam, dimana seharusnya saat ini Putri sudah tidur ataupun belajar untuk pelajaran besok. Tapi berbeda dengan sekarang, ia kini duduk didepan perapian milik Jongdae dan meminum segelas coklat panas. Hujan masih belum reda membuat suhu udara semakin menusuk. Jongdae yang duduk disamping Putri segera merangkul gadis itu hangat. Membuat gadis itu terkejut dan hampir saja menumpahkan cangkirnya.

“Kau terkejut ya? Maaf. Aku merangkulmu karena kau terlihat kedinginan. Bahkan selimut tebal itu tidak bisa menahan hawa dinginnya, bukan?”

Putri mengangguk patah-patah meresponnya. Entah kemana suaranya pergi, ia tak bisa berkata-kata sekarang. Perlakuan Jongdae setiap kalinya selalu membuat Putri bahagia. Jangan tanyakan kemana kebenciannya terhadap pria itu karena sekarang Putri yakin, yakin kalau dia telah jatuh dalam pesona seorang Kim Jongdae.

“Kau lahir bulan september kan? Tanggal 21 di tahun 92?” Ujar Jongdae hati-hati, perasaannya melega saat gadis di rangkulannya menganggukkan kepala tanda iya. Jongdae tersenyum tipis dan menatap objek indah disebelahnya.

“Kita sama. Aku juga lahir di hari, bulan, dan tahun yang sama denganmu.” Jongdae terkekeh pelan mendapati mata Putri yang menatapnya penuh keterkejutan. Gadis itu menggumam kagum dan meletakkan cangkirnya diatas meja.

“Itu bagus, kurasa kita berjodoh.” ucapan lugu itu lolos dari bibir Putri. Detik kemudian ia menggigit bibirnya, tersadar dengan ucapannya sendiri. Jongdae tertawa dan mengasak surai hitamnya sayang.

“Bisa jadi. Memangnya kau mau denganku?” Goda Jongdae mencoba membuat Putri malu dan yah, dia sukses menbuat wajah Putri bersemu merah.

“Apa aku tidak mengganggu disini? Bisa saja orangtuamu datang dan mengira yang tidak-tidak antara kau dan aku.” Dalih Putri mencoba mengalihkan pembicaraan. Jongdae menatap Putri lekat setelahnya menghela nafas. Beritahu Putri kalau dia batu saja salah bicara.

“Sama sepertimu juga, aku sebatang kara.” ujar Jongdae pelan seiring dengan pandangan sendunya. Putri menggulum bibirnya, perasaan tidak enak menjalar dihatinya.

“Mereka bercerai dan membiarkanku hidup sendiri. Tak ada yang ingin merawatku jadilah pembantu dirumah ini yang menjagaku. Tapi sayang, dia sudah meninggal setahun lalu.” cerita pria itu sembari menatap kayu yang terbakar itu. Putri menatap lekat wajah sendu itu iba. Yah, setidaknya dia orang pertama yang tahu sisi gelap seorang Kim Jongdae. Bisakah dia disebut orang spesial bagi Jongdae?

“Tapi kuharap aku tak hidup sebatang kara lagi setelah ini.” Netra Jongdae beralih menatap Putri penuh perasaan. Tangan kekarnya mengambil pelan tangan mungil milik Putri dan menggenggamnya erat.

“Kau tahu, aku menyukaimu sejak lama. Terhitung sudah hampir tiga tahun ini, selama kita di SMA, aku menyukaimu sebagai anak baru asal Indonesia yang baik dan berani. Aku menyukai segalanya yang kau punya, sampai dimana kau membenciku entah karena apa. Aku awalnya tidak percaya, jadinya aku memberanikan diri mendekatimu untuk pertama kalinya saat itu. Mengajakmu belajar bersama, tapi kau berkata dengan ketus. Tawa pertamaku lolos saat bersamamu.”

Perkataan to the point itu membuat Putri terkejut, ini… serius? Benarkah seorang raja populer di sekolahnya ini menyukainya? Bahkan terhitung tiga tahun? Astaga, Putri bahkan baru menyadari perasaannya beberapa waktu yang lalu. Ini gila. Jujur Putri tak berani menatap netra memikat itu sekarang. Terlalu takut jika ia tak bisa menahan diri.

“Kau benar. Wajah yang aku pasang setiap harinya adalah topeng. Wajah yang kutunjukkan untuk penggemarku adalah topeng. Semua itu kulakukan untuk menutupi kesedihanku karena kehilangan. Banyak yang menyukaiku, tapi mereka tidak bisa memberiku semangat untuk hidup. Hanya kau saja yang bisa, Putri. Untuk pertama kalinya kau orang yang membuatku bertahan dan optimis untuk hidupku. Kau menjadi yang pertama segala sesuatu dihidupku. Bisa kau menjadi yang pertama dan terkahir untuk tempat berlabuhku? Bisakah kau menjadi tempat untukku bersandar dalam suka dan duka? Bisakah kau menjadi orang yang pertama memberiku pelukan hangat setiap paginya? Bisakah kau menjadi putri untuk raja kesepian ini? Bisakah?”

Jongdae menatap Putri penuh perasaan, sungguh lega mengungkap semuanya yang selama ini tersimpan dengan apik di hatinya. Setiap kalimat yang ia ucapkan begitu ia hayati, membuat gadis didepannya mau tak mau menangis haru mendengarnya. Putri kemudian mendekap Jongdae erat.

“Aku bisa… aku bisa menjadi tempat terakhirmu berlabuh. Aku bisa menjadi sandaranmu disaat suka maupun duka. Aku bisa… aku bisa menjadi orang yang pertama memelukmu setiap pagi. Aku bisa menjadi putri untukmu, raja kesepian. Aku bisa, bahkan sangat bisa. Asalkan itu untukmu, rajaku yang kesepian.” Perkataan Putri terdengar penuh keyakinan seiring dengan pelukan eratnya. Jongdae mengelus surai Putri penuh sayang, beberapa kali ia kecup lembut pucuk kepala gadis itu.

“Terima kasih… aku… si raja kesepian kini tidak kesepian lagi karena disini… disampingku sudah ada putri yang cantik menemaniku. Aku adalah raja yang paling bahagia. Terima kasih banyak sudah mau menerimaku, Putri.” Tulus Jongdae sembari melepas taitan mereka. Pria itu menghapus air mata Putri lembut dan tersenyum.

“Ah, selamat ulang tahun, Putri Kalista Adriana. Hadiahnya sudah kuberikan padamu.” Putri tersenyum lalu memeluk Jongdae, lagi. Senyum bahagianya kali ini tak ragu untuk mengembang. Percayalah, kalian akan merasakan apa yang Putri rasakan sekarang.

“Selamat ulang tahun juga untukmu, Kim Jongdae. Ini hadiah terbaik, maka ini adalah hadiah dariku.”

Cup

~END~

2800+ word, yehet! Maapkeun jika kepanjangan, aku biasanya nulis chapter jadinya gini. Maapkeun kali lagi.

Spesial ultah pikaChen!! Yeay. Sekaligus ini ff pertama Chen yang aku buat. Biasanya sih chanyeol, baekhyun, dio, kai, luhan, kris, sama sehun. Lagi seneng2nya ama si chenchen ini.

Btw, HAPPY BORN DAY KIM JONGDAE A.K.A CHENCHEN!!! SEMOGA TAMBAH TINGGI DAN TAMBAH GANTENG. WYATBU LAH UNTUK PIKACHEN!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s