[Chen Birthday Project] Misi Rindu – Joongie

mr

Misi Rindu

Vignette by Joongie © 2016

Kim Jong Dae, Yani (OC), Jemina (OC)

Family (G)

.

.

Aku rindu momen dalam klise saat kita bersama dulu.

Ramah dan asri, kesanku pada tanah Jawa nan memanjakan mata, meski tak segemerlap Seoul. Kemarin usai mendarat di bandara, Jemina lantas menjemput dan membawaku ke sini, losmen Pak Ayat nan murah senyum. Jemi akrabnya disapa, si gadis hitam manis, sahabat dunia mayaku yang berjanji membantuku menuntaskan misi selama di sini.

“Chen, ayo cari sarapan!” ajak Jemi tanpa turun dari motor matic ajaibnya.

Tepi bibirku melengkung antusias, gegas kusorong sendal lantas mengambil alih kemudi, sementara Jemi memasangkan helm. “Jadi, kita mau ke mana? Aku sanggup keliling seharian, kok.”

“Bagaimana kalau ke pasar pagi? Kau pasti ingin menemuinya, kan?”

Dari caraku mengulum senyum agaknya Jemi tahu bahagiaku. Dengan Jemi sebagai navigator, matic yang kami tumpangi melaju santai, membelah jalanan berbatu di desa yang dikepung persawahan. Penduduknya pun ramah, bila di Seoul lazimnya kami akan saling menundukkan kepala, di sini mereka akan menyapa sambil tersenyum.

Itu keramahan yang kusuka dari negeri ini.

Lepas empat puluh menit, tibalah kami di pekan dengan seabrek aktivitas. Jemi menuntunku, menembus hiruk pikuk pasar yang masih asing buatku. Dia lalu berhenti di persimpangan, memandangku sendu lantas menunjuk dengan dagu pada seorang pedagang gudeg berkebaya kuno.

Ibu…

Pupilku meluas dan hatiku terus berdesir. Wanita yang duduk di bangku itu ibu kandungku, juga alasan kedatanganku kemari. Beda jauh dari sembilan belas tahun lalu, kini beliau tampak kurus, menua dengan jangat terbakar matahari. Sedikit cerita, ibuku meninggalkan Korea karena Nenek memaksanya bercerai dari Ayah, lalu dipulangkan ke Indonesia. Pernikahan mereka tidak pernah mendapat restu, karena Ibu adalah mantan asisten rumah tangga yang dipekerjakan Nenek. Aku yang kala itu berusia lima tahun, mana mungkin punya kuasa untuk menentang. Jadilah aku meraung, menyaksikan punggung Ibu nan makin kabur oleh air mata.

“Bu Yani, pesan gudegnya, ya.”

“Eh, Mbak Jemi. Sebentar saya siapkan.” Ibu mendongak, tersenyum cerah kepada kami. Kemudian bertanya dengan logat Jawa nan kental, lepas bertukar pandang denganku. “Bawa siapa ini, Mbak? Pacarnya, ya?”

Mata kami berserobok, netra aswadnya dipenuhi sosok diriku. Haru sampai air mata ingin merebak saat Ibu memandangku hangat. Tapi, aku tidak berencana memberitahunya secepat itu, sebab aku masih ingin tahu kehidupannya. Tepatnya, bagaimana Ibu bisa hidup tanpa aku, putra semata wayangnya.

Jemi menggeleng, tertawa kecil menanggapi godaan Ibu. “Bukan, Bu. Ini Chen, temannya Jemi dari jauh,” jelasnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang. “Bu, ini bayarannya. Titip Chen, ya. Jemi ada perlu sebentar. Boleh, ya?”

Ibu mengamini, lalu mempersilakanku duduk seadanya, menikmati gudeg berbungkus daun jati. Masakan Ibu rasanya meleleh di lidahku, nikmat serta khas. Beda dengan makanan instan yang sering dibelikan Ayah—begitulah, hidupnya agak berantakan semenjak kepergian Ibu dan berpulangnya Nenek.

“Mas Chen, mau tambah gudegnya? Ibu lihat makannya lahap sekali,” tawar Ibu sembari mengeringkan beberapa piring plastik yang baru dibasuh.

“Tidak, Bu. Ini sudah cukup, kok,” sahutku walau mulut terisi penuh. Sengaja kulambatkan suap agar momen emas ini tak lekas berlalu. Cara Ibu bertutur ketika melayani pelanggan membuatku terpana. Alangkah sempurnanya Ibu yang Tuhan hadiahi buatku.

Terik surya siapa nyana sampai di gang kecil ini. Berulang kali Ibu menyeka peluh dari wajah lelahnya, lalu mengipas-ngipaskan daun jati guna menyejukkan tubuh. “Kenapa, Mas? Muka Ibu cemong, ya? Atau Mas Chen juga kepanasan?” tanya beliau sewaktu menyadari sorotku.

Aku menggeleng cepat, bimbang mencari jawab.

Dan aku nan kehabisan kata-kata, hening terhanyut mengamati interaksi malaikatku. Sampai dagangan Ibu habis dan Jemi belum jua datang—aku tahu dia sengaja. Berat rasa hati melihat Ibu mengemas segalanya ke bakul, lalu bersiap pulang dengan ontelnya.

“Mas Chen, mau ikut ke rumah Ibu?” tawar Ibu sambil memasang capingnya. “Mbak Jemi kan, titip Mas Chen ke Ibu. Siapa tahu nanti jemput di rumah. Kasihan Mas Chen kalau kelaparan di sini, nanti makan siangnya di rumah Ibu saja.”

“Yang benar, Bu?” timpaku antusias.

—ooo—

Rumah ini persis seperti yang pernah diceritakan Ibu, berdinding kayu serta berlantai semen, sehingga kesan tempo dulu amat kentara. Udaranya berbau rempah, perabotannya pun antik dan yang paling khas terdengar nyanyian sinden dari radio tua. Lagu ini seperti nan acap Ibu senandungkan dulu sebagai lullaby. Rasanya semua ini bak membayar kuriositasku sejak lama, tentang bagaimana kampung halaman wanita yang melahirkanku.

“Mari Mas, dicicipi,” ucap Ibu sembari meletakkan nampan di meja rotan bertaplak batik. “Maaf, Ibu cuma bisa suguhin beras kencur sama camilan seadanya.”

“Tidak usah repot-repot, Bu,” sahutku sambil menerima uluran gelas, lalu mencomot sepotong getuk. “Ini sudah lebih dari cukup, kok.”

Manikku kembali menjelajah, memperhatikan genteng-genteng tua yang tertembus cahaya. Barangkali gentengnya bocor dan akan merepotkan Ibu di kala musim hujan, hingga desahan lepas begitu saja dari bibirku. Perasaan sedih pun samar-samar mengunjungi relung hati.

“Bu, boleh tanya sesuatu?”

“Boleh. Mau tanya apa, Mas?” Ibu tersenyum, keriput di wajah tenangnya ikut bermunculan.

Maka sigap telunjukku terarah pada setelan pakaian yang digantung di lemari kaca, yang sejak awal meraup atensiku. “Itu pakaian apa, Bu? Kenapa dibingkai kaca begitu?”

“Oh, itu.” Mengikuti arah tunjukku, Ibu lalu mengangguk-angguk kecil. “Itu pakaian adat Jawa untuk laki-laki, Mas. Ibu yang jahit sendiri, mau dikirim untuk hadiah.”

Dari cerita Jemi aku tahu, bila Ibu tidak pernah menikah lagi dan rumah ini adalah peninggalan orangtuanya. Jadi sekembalinya ke Indonesia, Ibu bekerja serabutan sekaligus merawat orangtuanya yang sepuh juga sakit-sakitan sampai tiada.

“Untuk putra Ibu, ya?” selidikku ragu-ragu.

Beliau tidak menjawab, tapi air mukanya sudah menjelaskan.

“Putra Ibu pasti bangga, punya Ibu yang pengertian,” ungkapku tatkala menetralkan vokal nan di ambang tangis. “Memangnya, putra Ibu sekarang ada di mana?”

Tubuh Ibu menegang, terkunci geraknya dalam terawanganku. “Jauh, Mas,” halus tuturnya melirih, kemudian terburu-buru bangkit seraya memeluk nampan. “Duh, Ibu sampai lupa mau masak makan siang. Ibu tinggal sebentar ya, Mas.”

“Biar saya bantu, Bu,” tawarku bersiap tegak.

“Tidak usah, Mas. Tunggu di sini saja, biar Ibu siapkan yang spesial,” tolaknya sambil menepuk pundakku dengan sayang. Dan aku pun terduduk patuh menyaksikan punggung Ibu menghilang di balik tirai usang. Hangat usapnya masih terasa.

Jujur, berada di rumah ibu kandungku sendiri, tapi diperlakukan seperti tamu, mendatangkan kehampaan. Seolah-olah hati kecil mencecar otakku dengan tanya berulang, “apa kau adalah dirimu yang begitu menggebu ingin memeluk Ibu?” Pundakku melunglai, bingung mencari akal menghentikan sandiwara ini. Ke mana angkuhnya diriku tadi, yang bersesumbar ingin menyelidiki hidup Ibu lebih dulu?

Kim Jong Dae, jangan sok naif begitu.

—ooo—

Ibu kembali muncul dengan raut wajah keibuannya nan khas. Beliau membawa tampah berisi gunungan makanan yang tak kupahami hajatnya. Jadi, bangkit dari duduk manis lekas kusambut tampah Ibu, juga meletakkannya di meja. Lagi kuamati, isinya macam-macam, ada ayam goreng, telur rebus, tempe, mi yang mirip japchae, serta sejumput sambal.

“Ibu pikir tahun ini bakal makan sendirian lagi,” ujar Ibu, ada pendaran tak biasa dalam ainnya yang membuat keseluruhan wajahnya berbinar.

Dahiku mengernyit, bingung oleh kalimat ambigu. “Maksudnya, Bu?”

“Ini namanya tumpeng nasi kuning. Biasanya untuk syukuran hari lahir, gantinya kue ulang tahun kalau di sini,” jelasnya sambil menatapku lekat-lekat, entah beliau sadari atau tidak, napasku mulai tersangkut di kerongkongan. “Sama seperti yang Ibu masak dua puluh empat tahun lalu waktu kamu lahir, Jong Dae….”

“Ibu…”

Dan air mata nan semula menggantung di pelupuk pun luruh, deras mengaliri wajah Ibu. “Kamu sudah besar sekarang, Cah Bagus. Jadi gagah dan ganteng, mirip sekali sama Pak Kim,” elunya seraya mengusap wajahku dengan tangan mungilnya. “Rasanya doa Ibu selama ini dikabulkan sama Tuhan. Ibu rindu sekali sama kamu, anak lanangnya Ibu yang sekarang sudah tumbuh besar.”

“Bu… Ibu… Jong Dae juga kangen Ibu, tiap hari kepikiran Ibu di sini,” lirihku nan kontan mendekapnya erat dan menangis sejadi-jadinya. Berapa pun usiaku, di hadapan Ibu, aku tetaplah anak kecil yang akan menumpahkan segala pedih hatinya.

“Tapi, bagaimana Ibu bisa tahu kalau ini Jong Dae? Padahal dari tadi Ibu panggil Jong Dae, ‘Mas Chen’?” imbuhku melantunkan tanya besar nan mematuk-matuk kepalaku sekarang. “Jong Dae pikir Ibu sudah tidak ingat lagi. Ibu sudah lupa kalau punya anak di Korea sampai tidak pernah mengirim kabar.”

Ibu tersenyum getir, menyeka kucuran air dari mataku. “Sehari pun Ibu tidak pernah lupa sama kamu. Ibu selalu doakan kamu biar jadi anak yang pintar dan membanggakan orangtua. Mau bagaimanapun penampilan kamu, hati seorang Ibu bakal mengenali lebih dulu. Kita punya ikatan batin. Ibu mengandung kamu sembilan bulan, berbagi kehidupan dan cinta sama kamu. Jadi, bagaimana mungkin Ibu bisa lupa sama kamu, Nak?”

Bobol sudah pertahananku oleh perasaan haru, pun Ibu nan tersedu sambil memangku kepalaku. “Bu, maafkan Jong Dae baru datang sekarang. Jong Dae cuma ingin Ibu lihat Jong Dae setelah sukses. Maaf, Bu… sekarang kalau Ibu bersedia, Jong Dae mau Ibu kembali ke Korea, biar kita jadi keluarga utuh lagi.”

Bagiku, ulang tahun tidak selalu butuh kado yang besar dan pesta yang mewah. Sebab sesuap makanan dan doa tulus dari Ibu adalah segalanya untukku. Itu lebih berarti ketimbang ucapan dari seribu teman yang kedekatannya bisa pudar. Ibu adalah orang yang tidak pernah marah, meski cinta kasihnya kadang disepelekan dan risaunya dianggap beban. Dan bagiku sendiri, Ibu adalah sosok malaikat berwujud nyata. Kalian setuju?

 

Mission complete.

Hello, this is your author, Joongie ~(‘▽’~) (~’▽’)~

Sebelumnya, pibesdei Mamas Chen cieee yang tambah tua tambah memukau cieee, kapan ke rumah terus lamar aku? Semoga kesuksesan, kesehatan, keberkahan, juga kebahagiaan selalu di pihakmu, juga kedewasaan harus bertambah. Jangan lupa bagi-bagi besek selametannya (˘ڡ˘)

Okay, ditunggu feedbacknya, juga silakan ingatkan aku untuk penggunan EYD atau menemukan typo❤

5 thoughts on “[Chen Birthday Project] Misi Rindu – Joongie

  1. Mas Chen…😀 Wkwkwkw… walaupun ini bukan genre komedi, tapi lucu juga perpaduannya. Unik. itu, posternya juga unik. Secara keseluruhan ceritanya bagus.
    Ada typo di kata ‘terserdu’, thor. Harusnya tersedu.

    • Halo & thank you NanoonaKim berkat ketelitian kamu, jadinya aku bisa koreksi typo yang luput😄
      Aku sedang mencoba sesuatu yang baru, masukin unsur Indonesia ke fanfiction berbau Korea dan alhamdulillah kalo ternyata responnya “unik” kkk ~
      Terima kasih sudah membaca❤

  2. ceritanya gada ngakak sama sekali. sedih huu TT paling sedih kalo ada cerita ngelibatin ibu ibu. eh. ya intinya ini cerita sedih laah. uuh hampir nangis huaaaaa

    • Puk puk don’t be sad, setidaknya mereka berbahagia :’v
      Hahaha dari awal udah bergenre family kok, cuma posternya aja yang jreng😄
      Keinget dosa ama Ibu sendiri ya? C’:
      Terima kasih sudah menjadi pembaca aktif❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s