[Chen Birthday Project] Choice – Honeybutter26

qwedd

Choice

Presented by Honeybutter26

Chen x Darla

Fluff, Romance

Vignette

PG -17

Summary:

“Mana bisa aku punya pilihan untuk meninggalkanmu. Sedangkan dua pilihan yang ada dalam hidupku hanya mencintaimu atau … mencintaimu.”

Related to : L O V E

***

Darla berpikir. Seribu kali berpikir tapi hasilnya selalu sama. Harusnya, harusnya ia memang tidak memilih untuk begini. Harusnya dia dulu lari saja. Bukan dengan bodohnya pasrah saat sang Ayah menggandeng tangannya untuk diserahkan pada Jongdae yang sudah berdiri gagah di altar.

Ya, sekarang Darla sedikit menyesal telah menikah dengan Jongdae. Hanya sedikit, mengingat usia pernikahan mereka yang masih seumur jagung. Mungkin sekitar sepuluh persen rasa penyesalannya, lima puluh untuk rasa bahagia, dan tiga puluh untuk perasaan lainnya.

 
Tapi sungguh, baginya menikah dengan Jongdae juga bukan suatu keputusan yang murni baik. Sisi lain dirinya memang merasa bahagia, tapi sisi yang lain merasakan sebuah dilema besar. Sebuah dilema yang seakan mampu membuat Darla mati ditempat andaikata apa yang berkecamuk dalam alam delusinya menjadi realita.
 
Satu milyar kali pun Darla tak pernah ingin hal itu terjadi.
 
Kembali ia mematut diri di cermin. Membalik badan ke samping kiri, memeriksa pinggang, dada, kemudian bokong. Berbalik ke kanan dan melakukan hal yang sama. Lantas menghadap ke depan, tangan berkacak di pinggang, jarinya menekan sedikit pinggang dan perutnya.
 
“Ya Tuhan, lemaknya semakin banyak saja,” ujarnya frustasi. Tumpukan lemak berlipat di perut dan paha adalah musuh utama wanita. Sebuah indikasi yang menyatakan bahwa bentuk tubuh tak lagi sesempurna sebelumnya. Bahwa perubahan itu terjadi bukan ke arah yang positif melainkan negatif.
 
“Sialan! Sialan! Sialan!” Darla terus mengumpat. Ini yang ia takutkan. Dilema yang menghantui malam-malamnya. Mimpi buruk yang bergelayut dalam bunga tidurnya.
 
Ia mengingat lagi, setelah melahirkan hingga kini Damian yang berusia dua tahun telah resmi lepas dari ASI-nya, beberapa bagian tubuhnya mengalami perubahan. Yang paling mencolok adalah tumpukan lemak di pinggang, perut, paha, betis, serta pipinya.
 
Ini adalah kekejaman yang luar biasa. Memang bokong dan dadanya jadi lebih berisi, tapi bagian lainnya juga berisi. Kalau dilihat-lihat Darla seperti donat bantat.
 
“Kenapa yang jadi sekretarismu harus si Ashley? Bocah genit kurang zat besi itu, sebenarnya dada dan bokongnya tidak ada isinya. Dia hanya menang kurus saja, tapi … tetap saja matamu itu tidak bisa dipercaya, Kim.”
 
“Ada apa, darl? Apa yang tidak bisa dipercaya?” Jongdae datang tiba-tiba, nyaris membuat Darla kehilangan detak jantungnya karena terkejut.
 
“Jongdae, kau nyaris membuatku jadi zombie,” ujarnya masih dengan tangan di atas dada. Darla mengatur napas sebaik mungkin agar aritmia dadakan yang disebabkan Jongdae dapat mereda.
 
Jongdae membawa tungkainya mendekat pada Darla. Ia rindu setelah siang memisahkan dirinya dan Darla dengan hiruk pikuk dunia. Malam memang selalu indah, karena malam untuk kembali kepada Darla, kembali mengunci hatinya. Satu dekapan ia berikan pada Darla untuk melepas belenggu rindu yang membuat sesak kerja paru-paru. Aroma Darla begitu khas, begitu Jongdae kenal sebagai aroma yang lebih menenangkan dari morfin dan lebih candu dari kokain. Gabungan wangi lavender dan bergamot menguar begitu kuat hingga membuat Jongdae jadi lepas dari gravitasi.
 
“Aku merindukanmu. Apa saja yang kau lakukan hari ini?” katanya. Hempasan udara hangat dari pernapasan Jongdae menggelitik tengkuk. Timbulkan gelenyar yang membuat Darla nyaris khilaf dan kakinya mulai lemas. Terlebih saat Jongdae menggerakkan bibir menyentuh perpotongan leher, satu kecupan yang berarti sebuah kesalahan fatal karena Darla jadi benar-benar lemas dan kepanasan.
 
“Tidak banyak. Semuanya masih sama. Monoton. Aku membersihkan rumah, memasak, mengurus Damian, hanya itu,” jawabnya lirih. Napasnya terasa berat dan panas. Jongdae adalah neraka yang indah untuk Darla. Perhalan, Darla merasakan Jongdae membawa tangannya bergerak ke bawah dengan perlahan. Darla merasakan kakinya berubah jadi kuah kari dengan perlahan pula. Satu remasan kecil pada pinggang membuat Darla menggeliat disertai dengan sebuah erangan lirih. Kepalanya terkulai dengan lemas di atas pundak Jongdae. Ubun-ubunnya sudah siap untuk membakar hangus kewarasannya.
 
“Jongdae?”
 
“Yes, Darl?”
 
“Aku gendut, ya?” suara Darla masih seperti burung gereja yang mencicit tiap pagi. Entah karena gairah atau karena malu, Jongdae enggan mencari tahu.
 
“Maksudmu ini?” tanyanya sambil menekan kembali pinggang Darla, dilanjut dengan menekan perut wanitanya beberapa kali. Jongdae meringis kala satu cubitan keras dihadiahkan Darla pada lengannya.
 
“Sakit, Darl,” ringis Jongdae.
 
“Salahmu sendiri!” ucapnya ketus. Mood Darla berubah secepat gravitasi, dan Jongdae tahu itu dengan baik. Dia juga tahu bagaimana cara mengatasi ini dengan tepat.
 
“Memangnya aku berbuat apa?” Jongdae bertanya polos. Tanpa sedikit pun merasa bersalah juga berdosa. Darla sebal tentu saja. Jongdae melukai harga dirinya sebagai seorang wanita dan pria itu bertanya apa salahnya? Memangnya Jongdae tidak tahu kalau pria selalu salah di mata wanita?
 
“Terserahmu saja!” Darla hendak berlalu meninggalkan Jongdae sebelum pria itu menahan lengannya dan menarik ia ke dalam satu dekapan yang hangat.
 
“Kau cantik.”
 
“Bohong.”
 
“Iya …. Aw, sakit, darling.” Jongdae mengaduh lagi. Panas terasa pada bagian yang menjadi tempat pukulan sayang dari istrinya bersemayam.
 
“Kau sialan! Bajingan tengik!”
 
“Dengar dulu lanjutannya, nona tukang memotong ucapan orang.” Darla merunduk, merasa bersalah dan malu di saat bersamaan. Sifatnya yang satu itu memang belum bisa dihilangkan.
 
“Iya, aku bohong. Kau tidak cantik. Tapi sangat, sangat, sangat cantik.”
 
Jongdae sialan! Darla bersama dewa batinnya mengerang. Satu desir yang panas menjalar di setiap pori kulit, jantungnya berpacu gila-gilaan dalam memompa darah dalam tubuh. Alirannya secepat cahaya matahari, bergerak serentak menuju dua pipinya yang dengan cepat berubah jadi merah. Ia selalu suka dan malu sekaligus saat Jongdae membuatnya bersemu oleh semua kata-kata picisan yang terlontar dari prianya.
 
“Tapi aku gendut sekarang.” Masih dengan kepala tertunduk menyembunyikan merah di pipi, Darla berucap lirih.
 
“Memangnya kenapa? Aku suka kau begini. Aku juga tidak masalah kalau kau hanya tinggal tulang dan kulit. Meski itu akan membuatku mati khawatir sebenarnya. Tapi aku selalu suka asal itu kau.”
 
Ajari Darla bagaimana cara membuat wajahnya tidak meledak. Jongdae selalu berubah jadi tampan seribu kali lipat dalam keaadaan seperti ini. Ia tenggelam terlalu dalam, netra coklat itu menghisapnya jauh sekali. Menyedot seluruh atensinya, menghabisi pikirannya hingga tak lagi mampu memikirkan apapun kecuali Jongdae.
 
“Kalau aku gendut dan tidak cantik kau pasti akan meninggalkanku. Kau bahkan punya sekretaris yang punya S line bak Victorian Angels. Lalu aku yang seperti donat bantat ini punya harapan apa?”
 
Jongdae terbahak. Mood Darla berubah lagi. Merah di wajahnya berubah jadi amarah alih-alih karena desiran hangat hasil dari kata picisan Jongdae.
 
“Kau selalu saja tertawa seperti itu seakan dunia akan runtuh hari ini. Berhentilah dan tertawa dan besikap serius sesuai umurmu, Kim!” marahnya. Jongdae berhenti tertawa. Ia bawa pandangannya pada netra sang istri yang berwarna sebiru langit. Dalam, dalam sekali Jongdae menyelam. Perasaan hangat muncul seperti biasanya kala ia temukan pancaran dirinya sendiri di dalam pandangan Darla yang penuh cinta dan hanya untuknya.
 
“Kim, jangan menatapku seperti itu!”
 
Oh, wanitanya memalu. Seperti biasa. Jongdae juga menyukainya, seperti biasa.
 
“Darl, dengar. Kalau aku tidak serius, untuk apa aku terus bersamamu, hm? Aku lebih dari itu ketika memutuskan untuk terikat dalam komitmen ini bersamamu untuk selamanya. Sampai aku kehilangan napasku. Mana bisa aku punya pilihan untuk meninggalkanmu? Sedangkan dua pilihan yang ada dalam hidupku hanya mencintaimu atau … mencintaimu.”
 
Darla ingin menjerit, seperti bagaimana dewa dewi batinnya sudah berteriak heboh sejak kalimat pertama yang Jongdae ucapkan. Berkantung-kantung helium membesar dalam hatinya hingga Darla merasa benar-benar ringan. Merah di pipinya semakin menjadi, elusan tangan Jongdae di sana juga tak membantu sama sekali untuk membuatnya reda alih-alih ia jadi merasa semakin terbakar oleh rasa cinta pada prianya. Beginilah adanya ia, yang lemah jika dihadapkan pada Jongdae dan segala tingkah polah serta tutur katanya yang semanis madu.
 
“Lagipula, kalau aku meninggalkanmu lantas bagaimana aku hidup? Kau adalah oksigen, dan aku bergantung hidup padamu. Tak melihatmu sedetik saja aku tersengal, apalagi hidup tanpamu. Detik pertama aku berpikir untuk meninggalkanmu, maka saat itu juga aku mati kehilangan napasku.”
 
“Jongdae, cukup. Aku juga mencintaimu.”
 
Darla bukannya bosan dengan kata cinta yang Jongdae ucapkan. Hanya saja ia tidak yakin masih bisa berdamai dengan kewarasannya untuk tidak segera menarik Jongdae dan merubah diri jadi rubah agresif yang haus akan belaian sang jantan.
 
Sementara Jongdae tersenyum penuh arti. Mudah sekali membalikkan perasaan wanita. Kalau lelaki selalu salah di mata perempuan, maka perempuan tak ubahnya seperti permen yang siap meleleh oleh mulut lelaki.
 
I do love you to, Darl.”
 

FIN

 
Maapkeun, finnya gaenak banget kan?? Melenceng dari konsep awal sih, beberapa detil kelupaan jadi ubah haluan. beteweeeee selamat hari penuaan dini Kim Chen Jongdaeku sayaaaaaaaaanggg mwah mwah i luph yuhhh. And betewe lagi, makasih emak okky buat kata katanya.. bhaqs padahal awalnya ini Cuma setatus gaje tapi malah jadi penpik. :3 maapin juga lagi males bikin poster :3

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s