[CHEN BIRTHDAY PROJECT] 00:30:30 — by Len K

003030

 

Ada sesuatu yang menggelitik nurani Chen―itupun kalau Chen masih bisa disebut punya nurani

00:30:30

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fic

 

Starring : Kim Jongdae–Chen EXO, Kim Junmyeon–Suho EXO, Byun Baekhyun EXO, Kim Minseok–Xiumin EXO, Im Nari (OC), etc | Genre : Fantasy, Angst | Rate : T

Dedicated to Kim Jongdae a.k.a Chen EXO. Happy born-day, Dude!

WARNING!

AU, typo(s), rush, possibly OOC

poster by Ravenclaw

 


 

Jam sibuk di Seoul seperti sekarang ini tidak berefek apa-apa pada Chen. Di tengah lalu-lalang orang-orang yang berangkat kerja dan mereka yang bersekolah, ramainya arus kendaraan, Chen dengan santainya duduk di salah satu kursi luar kafe yang belum buka seraya membaca buku.

“Aduh, telingaku!”

Itu bukan suara Chen. Dan saat Chen menoleh ke samping kanan, ia mendapati tempat kosong di sana sudah terisi oleh Suho, teman seprofesinya sekaligus seniornya, yang menepuk-nepuk telinganya.

“Kenapa lagi?” Chen hanya melirik sekilas dengan malas dan kembali fokus pada bahan bacaannya.

Suho agaknya penasaran dengan buku yang tengah dibaca Chen hingga tubuhnya condong ke arah pemuda bermuka kotak itu. Tapi baru beberapa kalimat dibacanya, Suho langsung kehilangan minat. Buku dengan materi berat bukanlah gayanya sekarang ini.

“Seorang manusia yang baru saja kucabut nyawanya berteriak seperti orang kesetanan ketika aku datang untuk mengambil nyawanya.”

Chen terkekeh mendengarnya. Hal yang lumrah. Mayoritas manusia itu takut akan kematian. “Mendapat ‘klien’ yang menyusahkan, eh?”

“Iya. Soalnya dia tidak terima kalau nyawanya kucabut sekarang.” Mendengar penjelasan Suho sampai sini, alis Chen naik. Bukunya tak lagi mendapat perhatiannya. “Seharusnya dia meninggal bulan depan.”

“Lalu … kenapa kau mencabutnya hari ini?”

Suho tersenyum. Manis, tapi licik. Manis, tapi mematikan dan beracun. “Orang itu, laki-laki yang kucabut nyawanya, dia mengadakan perjanjian denganku. Aku masih ingat saat aku bertemu dengannya di sebuah bar kecil. Putus asa dengan ekonomi yang memburuk, kondisi rumah yang tidak kondusif, serta anaknya yang sakit parah. Lalu aku menghampirinya dengan sebuah … penawaran.”

Chen menatap Suho intens.

“Aku berkata kalau anaknya bisa sembuh, tapi … ada harga yang harus dibayar. Jadi aku meminta nyawanya dan dia setuju. Perjanjiannya mengatakan kalau dia akan meninggal sebulan setelah anaknya selesai operasi. Tapi aku melanggarnya dan mengambil nyawanya hari ini. Dia jelas tidak terima … tapi apa yang bisa dia lakukan? Sekalinya dia menyetujui perjanjian itu, nyawanya sudah jadi hakku. Yang berarti aku bebas melakukan apapun pada nyawanya. Termasuk, mencabutnya kapanpun.” Suho tertawa setelahnya dan Chen geleng-geleng kepala.

Suho pernah bercerita padanya kalau dulu dia itu manusia yang punya segalanya; kaya, tampan, pintar, baik hati. Suho juga bilang kalau dulu dia dijuluki ‘malaikat’ dan populer dengan angelic smile-nya. Tapi kalau dilihat dari keadaan Suho yang sekarang … rasanya sulit, amat sulit untuk percaya semua ucapan Suho tadi.

Suho yang sekarang begitu licik. Senyumnya memang masih sama. Tapi ada bisa mematikan di balik senyum dan parasnya yang menawan itu. Chen sendiri sampai heran kenapa Suho mendapatkan nama ‘Suho’ ketika Suho jadi malaikat maut. Suho ‘kan artinya malaikat pelindung. Malaikat pelindung apanya? Dia ‘kan begitu licik dan mematikan. Begitu pikir Chen. Dan saat ia menanyakan hal itu dulu sekali, Suho hanya tertawa. Tawa yang merdu tapi menimbulkan perasaan tidak nyaman.

“Dasar manusia. Masih saja berpikiran dangkal dan mudah digiring.” Suho memainkan jemarinya yang diatasnya membentuk pusaran api hitam.

Chen tersenyum sinis. “Bukankah dulu kau juga manusia?”

“Memangnya kau tidak, heh?” Suho membalas tak kalah sinis sambil mengerling pada Chen.

Chen memutar kedua bola matanya jengah.

“Kau sedang tidak ada kerjaan?” tanya Suho.

“Ada kok. Sebentar lagi.”

“Dimana?”

“Rumah sakit.”

“Uuuu. Sepertinya akan mudah.”

Chen menutup bukunya lalu berdiri. “Jangan sok tahu.”

Suho tertawa dan Chen melenggang pergi. “Sampai jumpa lagi ya!” seruan Suho dibalas bisu oleh Chen.

 

 

 

Chen memasuki rumah sakit itu layaknya manusia lainnya. Langkah kakinya lambat namun tegas. Meski rumah sakit cukup ramai kala itu, tidak ada yang mempedulikan keberadaan Chen. Karena memang seharusnya seperti itu. Chen kan, bukan manusia lagi.

Di persimpangan, Chen berbelok ke kiri, menuju ke ruang persalinan. Tanpa harus menjebol dinding di sana, Chen sudah bisa menembusnya. Hiruk-pikuk di dalam ruangan itu segera menyambutnya. Satu dokter, tiga perawat, dan seorang wanita yang tengah mengejan, bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hatinya. Chen hanya menatap kejadian di depannya dengan raut wajah datar.

Seolah kehilangan minat, Chen kembali menembus tembok untuk keluar. Ada sebuah kursi tunggu panjang di sana yang hanya terisi oleh satu orang pria. Wajahnya tertunduk dan dahinya diletakkan di lipatan tangannya. Chen bisa mendengar lirih untaian kata yang merangkai menjadi doa yang terus-terusan diucapkan pria itu. Chen tahu siapa pria itu. Byun Baekhyun namanya, suami dari wanita yang tengah bertaruh nyawa di dalam ruang persalinan.

“Tuhan, Tuhan, kumohon selamatkan Nari dan bayi kami…” kalimat itu terucap untuk yang kesekian kalinya dari bibir pria bermarga Byun itu.

Sedetik kemudian Baekhyun sudah duduk tegak. Berantakan. Begitu kesan yang Chen dapatkan. Kemeja yang keluar dan nampak kusut, rambut yang berantakan, kantung mata, dan raut wajah yang sangat cemas. Semuanya kebalikan dengan keadaan Chen. Gelisah, Baekhyun kemudian berdiri dan mondar-mandir di depan ruang persalinan.

“Hei, Bung, duduklah saja. Mondar-mandir begitu tidak akan membantu istrimu melahirkan.” Ucapan Chen tentu tidak bisa didengar oleh Baekhyun.

Baekhyun masih mondar-mandir. Sesekali menggigiti jarinya dan mengusak rambutnya frustasi. Satu detik terasa seperti satu jam baginya.

“Oke, aku tahu kau gelisah. Tapi serius, Bung … kau sungguh menganggu pemandangan! Tidak bisakah kau duduk manis di sini saja?” lagi, Chen bermonolog. Kali ini nadanya sedikit meninggi dari yang tadi.

Dahi dan telapak tangan Baekhyun kini menempel pada pintu ruang persalinan. Lagi-lagi Baekhyun berdoa dalam suara yang lebih terdengar seperti berbisik. Kemudian apa yang dilakukan Baekhyun membuat Chen lega; Baekhyun akhirnya kembali duduk di tempatnya tadi.

“Nah, bukankah lebih baik kau diam saja?” cibir Chen.

“Nari, bertahanlah. Kau dan Jihoon pasti bisa melewati ini semua…”

“Jihoon itu nama anakmu ya? Laki-laki, eh?” Chen tahu sia-sia saja ia bertanya karena tidak akan ada jawab untuknya. Tiba-tiba mata Chen menerawang langit-langit rumah sakit yang berwarna putih. “Tapi aku iri padamu Bung. Sungguh. Kau bisa merasa gelisah, panik, juga semua perasaan lain yang kau rasakan saat menunggu kelahiran buah hatimu ke dunia ini. Jantungmu pasti berdebar lebih kencang, akal sehatmu rasanya ingin dicabut, gelisahmu membuatmu gila. Rasanya … seperti itu kan? Aku iri … karena aku tidak bisa merasakan itu semua.” Chen tersenyum getir di akhir kalimatnya.

Baekhyun masih berdoa. Kali ini sambil memejamkan mata.

Chen lalu berdiri. “Oke. Tapi aku harus melakukan tugasku, Bung. Sampai jumpa.” Dan Chen kembali memasuki ruangan persalinan dengan cara yang sama.

Hiruk-pikuk yang tadi dilihatnya bertambah kacau saja.

“Kepalanya sudah terlihat, Nyonya. Ayo, sedikit lagi!” perawat di sana memberi semangat. Dan erangan kembali terdengar.

Chen berjalan dengan santai mendekati ranjang persalinan. Catatan medis yang tergantung di ranjang persalinan menarik perhatiannya. Ada nama wanita itu di sana; Im Nari, identitas lainnya, hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medis, diagnosis, pengobatan yang diberikan, dan yang lain. Akan tetapi ada satu kata yang menyedot perhatian Chen.

Cardiomyopathy.

“Tinggal setengah jalan lagi, Nyonya!” seruan semangat dari dokter di sana sedikit mengejutkan Chen.

Nari kembali menarik nafas sebelum kembali berusaha. Keringatnya sudah banjir kemana-mana. Tangan sang suster di sana diremas dengan begitu erat sampai memerah.

“Dokter! Keadaan Nyonya Nari melemah!” suster yang lain berteriak dalam kepanikan.

“Jangan sekarang,” sang dokter berbisik. Entah untuk dirinya sendiri atau untuk Nari atau untuk Tuhan yang eksistensinya sendiri ia ragukan. “Tinggal sedikit lagi, Nari. Bertahanlah!”

“Dokter, keadaannya semakin melemah! Denyut nadinya mulai menurun!”

Keringat sang dokter mengucur makin deras. Kepanikan menekannya tapi ia harus tetap waras. Sementara itu di luar ruangan, Baekhyun masih menunggu. Masih berdoa. Masih mengharapkan keajaiban terjadi.

Sementara Chen tahu waktu Nari tidak banyak lagi.

 


 

Lima belas detik

 


 

Lima belas detik lagi sebelum Chen mengambil nyawa Nari.

Tapi … ada sesuatu yang menggelitik nurani Chen― itupun kalau Chen masih bisa disebut punya nurani.

 


 

Sebelas detik

 


 

Tiba-tiba tangan kanan Chen terangkat. Kilatan api biru kemudian muncul. Awalnya kecil, namun makin lama makin besar. Membentuk sebuah pusaran hingga akhirnya terbentuklah satu penghitung detik analog. Jarum-jarum di sana membentuk derajat sudut yang mengindikasikan suatu waktu.

 


 

Tiga puluh menit tiga puluh detik

 


 

Itu dispensasi yang Chen berikan.

“Denyut nadi pasien kembali normal!” sang suster berseru takjub.

Semua yang ada di ruangan itu merasa takjub dan lega. Sementara Nari sudah menangis entah sejak kapan.

“Aku tahu kau bisa, Nari. Bertahanlah dan berjuanglah,” kata dokter lirih.

 


 

Dua puluh tujuh menit tiga puluh satu detik

 


 

Tangis bayi laki-laki di sana memecah keheningan dan ketegangan yang ada. Baekhyun dengar itu. Segera kakinya setengah berlari, membawanya ke depan pintu ruang persalinan. Sebelum ia sempat membukanya, Minseok sudah membukanya lebih dulu.

“Minseok-ssi, Nari…” ucapan Baekhyun terpotong saking emosionalnya dia.

Seulas senyum terukir di bibir Minseok. “Nari dan bayi kalian selamat.”

Dan tangis Baekhyun pecah. “Bisa … bisakah aku menemuinya? Menemui Nari dan Jihoon? Bisakah aku menemui mereka?”

Minseok mengangguk. “Tentu saja. Silahkan.”

 


 

Dua puluh tujuh menit tiga detik

 


 

Tangis Baekhyun pecah. Kali ini bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kebahagiaan. Melihat istrinya―yang sama-sama menangis―menggendong putra mereka yang baru lahir dalam dekapan membuat Baekhyun jadi lebih sentimentil. Baekhyun menghampiri Nari, menggenggam tangan istrinya erat, mencium keningnya bertubi-tubi, merengkuh tubuh belahan jiwanya ke dalam dekapnya, sambil tak hentinya mengucap syukur pada Yang Kuasa. Akhirnya penantian lima tahun pernikahan mereka terbayar.

“Dia tampan.” Suara Baekhyun serak.

“Tentu saja. Kan kau ayahnya,” balas Nari dan keduanya tertawa.

“Kau lihat hidung dan bibirnya? Mirip punyaku, bukan?”

“Ya, ya. Tapi kurasa ia mewarisi mataku.”

“Hai, Jihoon. Selamat datang, Nak.” Baekhyun berbisik pada bayi laki-lakinya yang masih memejamkan mata.

Minseok dan dua perawat di sana tersenyum lega bercampur haru. Ini … sungguh manis.

 


 

Dua belas menit lima detik

 


 

“Dia kuat sekali menyusunya, ya?” celetuk Baekhyun. “Minum yang banyak, ya, Jihoon? Cepatlah besar…”

Nari tersenyum melihat kelakuan Baekhyun.

 


 

Sepuluh menit empat puluh tujuh detik

 


 

“Oh! Oh! Lihat matanya! Kurasa Jihoon benar-benar mewarisi matamu, Nari!” Baekhyun berseru kegirangan.

 


 

Delapan menit lima puluh lima detik

 


 

“Ya ampun, Minseok! Kau merekam apa?” Baekhyun dikejutkan oleh hadirnya Minseok dengan handycam di tangan.

Minseok mengalihkan pandangannya dari layar handycam sejenak. “Merekam kalian bertiga tentu saja. Yah, walaupun teknik pengambilan gambarku akan kalah darimu, Tuan Sutradara. Anggap saja kenang-kenanganku untuk kalian. Oke?”

Baekhyun terkekeh mendengarnya.

 


 

Tujuh menit sepuluh detik

 


 

Chen hanya bisa melihat semua kejadian tadi dalam diam. Perasaannya campur-aduk hingga jadi tak terdefinisi. Entah disebut apa yang dirasakannya kali ini. Ia merasa senang, tentu saja. Tapi saat kembali dihadapkan pada fakta bahwa umur Nari tinggal dalam hitungan menit, Chen merasa dihempaskan ke dalam lubang hitam.

 


 

Tiga menit sembilan detik

 


 

Nari mengarahkan telunjuknya pada jemari mungil putranya. Spontan, telunjuknya langsung digenggam erat oleh Jihoon. Rasanya seperti Jihoon mencegahnya untuk pergi.

 


 

Dua menit lima belas detik

 


 

Air mata Nari kembali meleleh. Ada banyak terima kasih, maaf, dan cinta yang tak mampu ia ucapkan secara lisan pada Jihoon, juga Baekhyun. Dua pria yang amat ia cintai.

 


 

Satu menit tiga puluh detik

 


 

Timangan Nari membuat Jihoon kembali tertidur pulas.

 


 

Satu menit delapan detik

 


 

Kecupan sayang dari Nari mendarat di kening Jihoon.

 


 

Lima puluh delapan detik

 


 

Mungkin Nari tidak tahu, tapi Jihoon tersenyum dalam tidurnya saat ibunya mengecup dirinya sayang.

 


 

Lima belas detik

 


 

Nari tahu waktunya tidak banyak lagi. Ia juga tahu tidak ada yang bisa ia perbuat.

 


 

Enam detik

 


 

Nari merasakan kepalanya makin berat.

 


 

Tiga detik

 


 

Kepala Nari sudah jatuh kembali ke bantalnya dan tangannya terkulai lemas.

 


 

Nol detik

 


 

Sudah waktunya. Nari sudah pergi. Dengan senyum di wajah dan Jihoon kecil yang masih berada dalam dekapnya.

Elektrokardiogram di sana mengeluarkan bunyi statis yang memekakkan telinga. Semua yang ada di sana membelalakkan mata. Minseok bahkan sampai terpaku di tempatnya. Dua suster di sana sudah menangis. Mereka tahu, tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi. Penyakit yang diderita Nari sudah membuat kehamilan dan proses kelahirannya beresiko. Bahkan sudah merupakan suatu mukjizat Nari bisa bertahan sampai sekarang ini.

Kali ini Baekhyun meraung. Tangisnya merupakan cerminan dari rasa kehilangan dan sakit hati ditinggal sang belahan jiwa pergi untuk selama-lamanya. Tangan yang digenggam Baekhyun memang masih hangat, tapi sudah tidak ada kehidupan lagi di sana.

Chen menghela nafas. Tugasnya sudah selesai. Dan kini ia harus pergi. Ia kembali berjalan di lorong tanpa diketahui oleh siapapun.

 

 

 

“…dae!”

“Jongdae!”

Sebuah seruan menghentikan langkah Chen. Lama sekali Chen tidak mendengar nama itu. Lama sekali Chen tidak dipanggil dengan nama itu. Itu nama semasa dia hidup sebagai manusia dulu. Di kehidupannya kali ini sebagai malaikat maut, ia dikenal sebagai Chen. Cukup janggal karena ia dipanggil, terlebih dipanggil dengan nama aslinya.

Harusnya … tidak ada yang tahu nama aslinya.

Chen menoleh ke belakang. Mendapati Nari yang dalam balutan mini dress putih selutut berdiri tidak jauh di hadapannya, tersenyum padanya. Nari kelihatan lebih segar sekarang. Tidak banyak yang berubah.

“Terima kasih,” kata Nari seraya tersenyum. “Terima kasih untuk tiga puluh menit tiga puluh detiknya, Jongdae.”

Chen tersenyum getir. “Ya.”

Kemudian bayangan Nari semakin kabur.

Chen kembali melangkah. Menyeimbangi perasaan sesak nan aneh yang tiba-tiba menggelayuti dirinya.

Tentu saja Nari tahu nama asli Chen.

Karena Nari adalah bagian dari masa lalu Chen.

 

FIN

 

A/N        :

Astaga, kelar juga akhirnya. Ane kira ni epep ga bakal bisa kelar ampe jatuh tempo. Jadwal kuliah udah dimulai dan ane jadinya makin sibuk.

Sebenernya kepengen pake marine biologist!AU buat epep ultah Jongdae. Tapi kok plot-plot yang mampir kurang kuat semua. Terus waktu buat riset juga udah bisa dipastiin berkurang drastis. Jadilah ane bikin cerita yang berdasarkan satu komik strip di 9GAG (yang suka nongkrong di 9GAG ngacung!!!!!) karya Snippy MJ dengan judul Thirty And A Half Minute dengan modifikasi sana-sini. LOL. Cuma judulnya beda format penulisan aja ama judul ni epep😄😄😄

Ah ya. Ngomongin karakter Suho dimari, ane sendiri suka ama Suho yang dimari. Bayangin Suho senyum ke elu ampe elu mabok terus dia bilang, “Hei, nyawa lu udah jadi punya gue. Jadi gue cabut aja ya?” OMFG, bukankah itu kyaaaaa sekaleeee? Dan para fangirl masokispun dengan semangatnya bilang, “Cabut nyawa adinda, Bang! Cabut aja!”😄😄 Kepikiran juga buat bikin epep pake karakter Suho yang dimari tapi … tapi … ugh, dengan epep-epep laen yang belom kelar biarlah gagasan ini jadi wacana dulu😄😄

Anyway, met ultah bang Jongdae. Makin maju aja karirnya. Kapan maen drama musikal? Kapan debutin album solo? Jangan lupa cari jodo ya Bang. Jangan jadi perjaka tua /lirik Kangta ama Leeteuk/ kemudian Len dibakar/

Oke, kalo gitu ane Len, yang masih nyari remah-remah wangsit, pamit dulu … adios!

One thought on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] 00:30:30 — by Len K

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s