[CHEN BIRTHDAY PROJECT] 오랜 시간 후 (AFTER A LONG TIME) – by AYUSHAFIRAA

오랜 시간 (AFTER A LONG TIME) – AYUSHAFIRAA

alt-tzuyuchensana

♥ A romance, sad, complicated drama family story written by AYUSHAFIRAA ( @ayushafiraa_ ) || Supported by all the main casts (EXO’s) Kim Jongdae, (Twice’s) Chou Tzuyu as Son Dahye and Minatozaki Sana as Lee Sana, (TRS’s) Lee Daeul as Son Daeul || PG-15 || Oneshoot ♥

Disclaimer : Casts are belongs to God and Their real life, I just own the plot. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

 

|| ♫ Recommended song : Taeyeon – All With You ♫ ||

 

© AYUSHAFIRAA, 2016. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

 

After a long time, I find You…

 

♥♥♥

Wanita berambut hitam panjang itu terdiam di depan pintu sebuah rumah bergaya modern minimalis di sudut kota Seoul. Tangannya menekan tombol bel yang ada di sebelah kanan pintu dengan ragu-ragu, takut kalau pilihannya ini adalah sebuah kesalahan.

Pintu itu dibuka dari dalam oleh seorang wanita cantik yang sudah tak asing lagi dalam ingatannya. Wanita cantik yang membukakan pintu itu, Lee Sana, sahabat terdekatnya saat di sekolah menengah atas 4 tahun yang lalu.

Tunggu, apa ia salah alamat? Ia datang untuk mencari pria yang dulu pernah mengisi hatinya, mungkin hingga saat ini pun masih tetap begitu. Namun ia juga telah mendengar kabar pahit dari sahabatnya yang lain, pria itu sudah menikah. Lalu?

“Dahye? Ada perlu apa kau datang kemari?”

Bukan kalimat sapaan yang hangat ataupun kata-kata rindu yang diterima wanita bernama Dahye itu dari seorang Sana untuk pertama kalinya setelah 4 tahun mereka tak bertemu. Sana seperti ketakutan melihatnya. Kenapa?

“Siapa, Sayang?” Pria yang dicari Dahye akhirnya muncul dengan panggilan ‘Sayang’ untuk Sana. Pria bernama Kim Jongdae itu membulatkan matanya saat menyadari tamu yang diterima wanitanya adalah Son Dahye, cinta pertamanya saat masih duduk di bangku SMA yang menghilang tanpa kabar selama bertahun-tahun.

Dahye meremas ujung roknya, manik matanya terlihat berkaca-kaca. Di satu sisi, ia senang bisa kembali bertemu dengan Jongdae, tapi di sisi lain, ia harus menerima kenyataan bahwa wanita yang beruntung mendapatkan Jongdae seutuhnya adalah sahabatnya sendiri yang sangat tahu bagaimana perasaannya pada Jongdae dulu.

“Apa kabarmu, Dahye-ya?” tanya Jongdae. Sana melirik tajam ke arah Dahye sebelum akhirnya melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Jongdae bersama wanita yang seharusnya tak pernah muncul lagi di kehidupan suaminya.

“Ada yang ingin kukatakan padamu, Jongdae-ya.” Ucap Dahye ragu.

“Apa itu? Katakan saja.”

“Bisakah kau ikut aku ke suatu tempat? ada seseorang yang benar-benar merindukanmu meski kau belum pernah bertemu dengannya sama sekali. Dia membutuhkanmu sekarang.”

Tatapan mata Dahye seolah menggetarkan kembali hati Jongdae yang telah lama tak pernah merasakan rasa seperti ini. Dahye memohon padanya, bagaimana bisa ia menolak permohonan itu?

Oppa…” Sana berdiri di ambang pintu kamar yang berhadapan langsung dengan ruang tamu. Tubuhnya gemetar. “Kajima…”

Jongdae menatap istrinya yang kini sudah berbalut piyama merah muda. Lelaki itu juga sangat paham kalau istrinya tahu betul hubungannya dengan Dahye di masa lalu. Cukup tegakah ia menolak permintaan istrinya untuk tetap tinggal dan pergi bersama seseorang yang pernah menjadi sangat berarti di hidupnya?

Gwenchana, aku tidak akan lama. kau tidur saja duluan.” Lelaki itu mengecup kening Sana. Dahye terluka melihatnya.

Kajja, Dahye-ya.”

 

♥♥♥

 

“Siapa sebenarnya seseorang yang merindukanku itu? ani, maksudku… apa… kau tak merindukanku juga?” tanya Jongdae di sela-sela keheningan suasana yang tercipta di antara dirinya dan Dahye. Ia masih memfokuskan pandangan matanya ke jalanan di depannya dan memegang kendali kemudi dengan kecepatan standar.

Dahye terdiam untuk sesaat.

“Aku merindukanmu, tapi… pantaskah aku? dibandingkan dengan rasa rinduku, aku justru lebih ingin mengatakan, aku benar-benar membencimu, Kim Jongdae.”

“Ye?” lelaki itu terkejut. Kesalahan apa yang telah dilakukannya hingga membuat Dahye berkata seperti itu?

“Berhenti di sini.” Ucap Dahye. Jongdae memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah sakit kecil yang jauh dari kota Seoul.

Dahye melangkah keluar dari mobil diikuti Jongdae yang juga keluar dari mobilnya. Wanita itu tampaknya sudah sangat akrab dengan beberapa pasien, tak heran kalau beberapa dari pasien itu saling berbalas sapaan dan senyuman dengannya. Melihat Dahye tersenyum manis seperti itu ternyata mampu membuat bibir Jongdae melengkung tanpa lelaki itu sadari.

Akhirnya langkah mereka pun terhenti di depan sebuah kamar rawat dengan nama pasien ‘Son Daeul, 3 Tahun’. Kening Jongdae mengkerut, mencoba berpikir keras. Son Daeul? Son Dahye?

“Eoh? Halmeoni? Terimakasih sudah membantu Dahye menjaga Daeul! Maaf karena Dahye selalu merepotkan Halmeoni.” Dahye membungkukkan badannya berulang kali di hadapan seorang nenek sebagai tanda terimakasihnya. Nenek itu bukanlah nenek kandung Dahye, melainkan hanya seorang wanita tua yang tinggal sebatangkara dan akhirnya menganggap Dahye seperti cucunya sendiri.

“Apa lelaki ini ayah Daeul, Dahye-ya?” tanya sang nenek setelah menyadari kehadiran Jongdae. Batin lelaki itu seketika tersentak.

Halmeoni, bisakah Halmeoni meninggalkan kami bersama Daeul? Hanya sebentar saja.”

Nenek itu mengerti. Sebelum melangkah keluar, nenek itu tersenyum pada Jongdae yang menyapanya dengan sopan dan berkata bahwa wajah Jongdae dengan anak bernama Daeul itu benar-benar sangat mirip.

“Jongdae-ya… kemarilah.”

Dahye membuka tirai gorden yang semula membatasi pandangan Jongdae pada seorang malaikat kecil yang terbaring di ranjang hangatnya dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuh mungilnya. Lelaki itu mengambil langkah untuk mendekat, hatinya terenyuh, bagaimana bisa balita lelaki sekecil itu harus mendapat perawatan seintensif ini?

“Namanya Son Daeul. Dialah seseorang yang sangat merindukanmu bahkan meski dia tak pernah bertemu denganmu sebelumnya. Dan dia….” Dahye menggantungkan kata-katanya, matanya berair. “Dia anakku.”

“Anakmu?”

Jongdae menatap Dahye dengan tatapan tak percaya, “Kalau dia benarlah anakmu, lalu siapa ayahnya?”

“Daeul-ku merindukan sosok ayahnya sejak lama. Dan saat aku mengatakan kalau dialah seseorang yang sangat merindukanmu, apa jawaban dari pertanyaanmu itu sudah cukup jelas?”

Jongdae mengalihkan pandangannya ke arah Daeul yang masih terlelap. Keluarga besarnya sudah tak sabar menanti kehadiran malaikat kecil di tengah-tengah rumah tangganya dengan Sana, namun tanpa ia ketahui sama sekali, malaikat kecil yang dinanti keluarga besarnya itu bahkan telah lahir 3 tahun yang lalu dari rahim Dahye?

“Kenapa… kau baru mengatakannya sekarang, Dahye-ya?”

Dahye tersenyum kecut, ia sudah mengira pasti Jongdae akan bertanya seperti itu padanya.

“Memangnya keluarga mana yang mau menerima seorang bayi hasil percobaan bodoh anak-anaknya saat SMA?”

Percobaan bodoh. Ya, Jongdae dan Dahye yang saat SMA dulu pernah berada di kelas yang sama masih tidak yakin dengan proses reproduksi pada manusia. Jongdae bahkan bertaruh akan memberikan Dahye seratus juta won kalau sampai percobaan mereka itu berhasil dan Dahye hamil.

 

Flashback

 

Dahye menunduk di depan seorang pria paruh baya yang tak lain adalah kepala sekolahnya. Ia menunduk, tak sanggup beradu tatap dengan sang kepala sekolah yang sedaritadi menunggu jawaban pasti darinya.

“Yak, Son Dahye! Jawab aku! apa kau benar-benar hamil?!”

Sungguh, bukan ini yang Dahye inginkan. Dahye hanya mengatakan perihal kehamilannya pada seorang Lee Sana, sahabat terbaiknya, sebagai suatu rahasia. Namun nyatanya, seluruh warga sekolah hingga sosok orang nomor satu di sekolah itu pun mengetahui rahasianya.

Ne.” Satu kata yang keluar dari mulut Dahye pun seketika membangkitkan amarah si kepala sekolah dan membuat darah tingginya kambuh.

Gadis 17 tahun itu melangkah gontay di lorong sekolah yang begitu ramai dengan siswa-siswi yang terus mencibirnya dan menatapnya dengan tatapan jijik. Sebisa mungkin ia memerintahkan telinganya untuk tak mendengar cibiran orang-orang, tapi tetap saja, ia tidak tuli.

“Kau yang bernama Son Dahye, kan?” tanya seorang siswa laki-laki. Dahye mengangguk. Siswa laki-laki itu lantas membawanya ke atap sekolah di mana seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan yang tampak seperti ibu-ibu orang kaya pada umumnya sedang berdiri menunggu kedatangannya.

Setelah berterimakasih dan memberikan ‘sedikit’ uang jajan pada siswa laki-laki tersebut, wanita itu pun menyuruh siswa tersebut untuk meninggalkannya berdua saja bersama Dahye.

“Son Dahye?” wanita kaya itu memperhatikan penampilan Dahye dari atas sampai bawah dan tersenyum miring. “Kau tidak terlalu buruk. Kau juga anak yang cantik.”

PLAK!

Dahye menyentuh pipi kanannya. Wanita itu baru saja mendaratkan tamparan keras di pipi mulus Dahye yang sama sekali tidak tahu apa sebenarnya kesalahannya pada wanita itu.

“Jangan rusak impian anakku! Biarkan dia hidup tenang dan pergi belajar dengan baik di Jerman! Jangan pernah kau coba-coba untuk merusak masa depan anakku dengan kehadiran bayi itu!”

Wanita itu melempar banyak uang pecahan lima puluh ribu won ke wajah Dahye dan memberi peringatan pada gadis malang itu untuk hidup layaknya orang mati dan membiarkan Jongdae hidup bahagia tanpa bayang-bayangnya lagi.

Sejak hari itu, kehidupan Son Dahye yang malang berubah. Bukan menjadi lebih baik, melainkan semakin malang karena mendapat penolakan dari berbagai pihak. Jongdae pergi ke Jerman tanpa tahu kalau percobaan bodoh mereka berhasil. Jongdae meninggalkannya sendirian, benar-benar sendirian. Ia terpaksa dikeluarkan dari sekolah, dirinya yang memang sudah yatim piatu pun terus mendapat perlakuan tidak meng-enakan dari tetangga-tetangganya, bahkan, saat ia harus berjuang melahirkan bayinya, tak ada satupun rumah sakit yang mau menerima wanita yang hamil tanpa seorang suami.

 

Flashback End

 

“Aku melahirkan di sebuah gang sempit di malam hari yang dingin dan sepi di dekat tong sampah. Sendirian. Ingin rasanya saat itu juga kubuang bayi yang baru kulahirkan itu ke tempat sampah sebagaimana orang-orang di sekitarku menganggap keberadaan kami layaknya sampah. Tapi… dia menangis membutuhkan pelukanku. Dia membutuhkanku. Dia anakku.” Airmata Dahye tumpah, Jongdae pun tak tega mendengar kisah wanita itu yang berjuang keras mempertahankan anak mereka, Daeul, yang seharusnya mengambil marga Kim darinya.

Mianhae.” Ucap Jongdae menahan airmatanya. “Aku tahu kalau kata maaf saja tak cukup untuk membayar semua penderitaanmu selama ini. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku yang begitu bodoh karena sempat mengira kau yang begitu tega menghilang dari hidupku tanpa kabar apapun tapi ternyata kenyataannya akulah yang jahat di sini. Maafkan aku, Son Dahye.”

Eomma…” lirihan bayi kecil itu mengalihkan perhatian Dahye dan Jongdae. Bayi kecil itu terbangun dari tidurnya yang lelap, mungkin terganggu dengan percakapan kedua orang tuanya yang terdengar begitu menyakitkan meski sebenarnya ia tak mengerti sama sekali.

Aigoo~ Daeul-ku terbangun eoh?” Dahye mengusap kepala bayinya penuh kasih sayang. “Mianhae ne? Eomma pasti mengganggumu.”

“Daeul-ahAppa Daeul sudah pulang~ Daeul mau melihat Appa eoh?”

Jongdae mengerenyitkan dahinya, tak mengerti. Ditambah lagi dengan gerakan tangan Dahye yang bergerak meraih sebuah kacamata kecil di laci di samping ranjang Daeul. Tunggu, ada apa dengan Daeul?

Dahye memakaikan Daeul kacamata kecil itu, Daeul tersenyum cerah melihat sang ibu yang ada di hadapannya dan senyuman malaikat kecil itu semakin bertambah cerah ketika pandangan matanya berhasil menangkap sosok Jongdae, ayahnya.

Appa~” Daeul terlihat senang karena kini sosok yang dirindukannya selama ini ada di depan matanya.

Annyeong, Daeul-ah!~ Daeul baik-baik saja bukan? Maafkan Appa yang baru bisa datang menemui Daeul sekarang, Appa juga sangat merindukan Daeul.” Lelaki itu duduk di kursi di pinggir ranjang Daeul. Melihat Daeul yang terus tersenyum saat melihatnya membuat Jongdae tak kuat lagi menahan airmata. “Maafkan Appa, Daeul-ah.”

Appa uljima~ Appa kan laki-laki, kata Eomma, laki-laki tidak boleh menangis.” Ujar Daeul tak lepas dari logat anak-anak balita seusianya. Daeul benar, Jongdae tak seharusnya menangis di hadapan anak itu. Bagaimanapun, yang pantas menangis adalah Daeul, bukan Jongdae.

Jongdae menatap wanita yang masih berdiri di seberang ranjang sana,

Arraseoyo, Appa takkan menangis lagi. Appa janji!” senyum Jongdae mengembang di sela airmatanya yang terus memaksa keluar.

Dahye tersenyum, terharu.

 

♥♥♥

 

“Kau belum tidur?” tanya Jongdae saat melihat Sana yang masih terjaga di ruang tamu rumah mereka bahkan ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.

“Aku menunggumu karena kau bilang kau tidak akan lama. tapi ternyata aku bodoh, bagaimana mungkin seseorang yang baru bertemu dengan cinta pertamanya hanya menghabiskan waktu sebentar saja?”

“Sudahlah, ayo kita tidur. Kau harus istirahat.”

Sana tersenyum pahit, matanya jelas berair. Akhirnya Jongdae kembali memperlakukannya seperti ini, sama seperti saat pertama kali mereka dijodohkan.

Jongdae mengulurkan tangannya, berniat mengajak sang istri untuk segera beristirahat. Namun uluran tangan itu tak diterima dengan baik oleh Sana. Wanita itu hanya duduk terdiam dengan pandangan kosong.

Tangan Jongdae menggenggam kedua tangan Sana, perlahan tapi pasti lelaki itu bergerak mengecup kening Sana dengan lembut, penuh kehangatan.

“Kau masih tidak mau menemaniku tidur, hm?”

Sana memandangi wajah Jongdae yang sejajar dengan wajahnya lekat-lekat, lelaki itu tersenyum manis, meluluhkan hati Sana dalam sekejap.

Sana memeluk Jongdae erat,

“Jangan pernah tinggalkan aku, kumohon.”

“Atas dasar apa aku berani meninggalkanmu? Jangan takut, aku akan selalu menjadi milikmu, Sayang.”

Mendengar perkataan Jongdae membuat wanita itu akhirnya dapat kembali mengukir senyum di bibirnya. Setidaknya, rasa kekhawatirannya akan kehilangan Jongdae menjadi sedikit berkurang.

Layar ponsel Jongdae yang tergeletak di atas meja ruang tamu itu terlihat menyala menarik perhatian Sana, memperlihatkan sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor kontak bernama ‘Yang tercinta, Daeul Eomma’.

 

Terimakasih telah memberi kebahagiaan pada Daeul kita malam ini. –Dahye

 

♥♥♥

 

Sinar mentari pagi itu menelusuk masuk ke kamar Sana dan Jongdae melalui celah-celah gorden krem mereka yang sedikit terbuka. Sana yang sudah terbangun terlebih dulu kemudian menatap Jongdae yang masih tertidur lelap di sampingnya. Ini sudah 1 tahun sejak pertama kali ia menatap wajah seorang Kim Jongdae sebagai suaminya. Tak terasa, ternyata waktu begitu cepat berlalu.

Tangan Jongdae mendekap tubuh ramping Sana tepat saat istrinya itu hendak bangkit dari posisinya. Jongdae menarik kembali tubuh Sana hingga tak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka berdua. Mata lelaki itu masih terpejam, namun lelaki itu bisa-bisanya memanyunkan bibirnya dengan nakal, meminta jatah morning kissnya secara tidak langsung.

Oppa, lepaskan~ aku mau mandi dulu.”

“Cium aku dulu, baru akan kulepaskan.” Ucap Jongdae masih tetap pada posisinya mendekap erat tubuh Sana.

“Baiklah, karena hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita yang ke 1 tahun, aku akan menciummu!” Sana menangkup kedua pipi Jongdae dan mengecup kilat bibir kriting lelaki itu sebelum akhirnya berlari ke kamar mandi.

Jongdae tertawa kecil melihat tingkah lucu sang istri. Namun perlahan tawa kecilnya memudar. Haruskah ia selalu berpura-pura tersenyum dan tertawa seperti ini di depan Sana? Haruskah ia menjalani sisa hidupnya dengan terus bersandiwara? Bersikap seolah ia benar-benar mencintai Sana padahal jauh di dalam lubuk hatinya masih ada nama Son Dahye yang tak akan pernah tergantikan. Ia benar-benar lelaki jahat.

Jongdae-ya, apa kau jadi menemani Daeul berjalan-jalan di taman hari ini?

Pesan itu diterima Jongdae dari nomor ponsel Dahye. Jawabannya, tentu saja. Jongdae tidak bisa lagi berkata ‘Tidak’ untuk dua malaikat terindah yang hadir di hidupnya itu.

Oppa kau mau ke mana?” tanya Sana yang sedang sibuk mengurusi urusannya di dapur saat melihat Jongdae keluar dari kamar mereka dengan berpenampilan rapi dan seperti terburu-buru.

“Aku ada urusan di luar, Sayang. Telepon saja aku jika Eomma dan Appa sudah datang.” Lelaki itu mengecup kening istrinya dan pergi begitu saja.

Sana menghela nafasnya, berpikir bahkan di hari penting seperti hari ini, suaminya harus meninggalkannya untuk suatu urusan di luar sana. Memangnya apa yang lebih penting dari acara pertemuan keluarga mereka sampai-sampai membuat Jongdae harus sibuk dengan urusannya sendiri dan menomorduakannya?

 

♥♥♥

 

Matahari bersinar begitu cerah siang ini. Jongdae, Dahye, dan Daeul menghabiskan waktu kebersamaan mereka di sebuah taman dengan berpiknik ria. Anak laki-laki berkacamata itu terlihat riang bermain dengan ayahnya. Jongdae mengajak Daeul bermain kuda-kudaan, meniup balon air, dan lain-lain. Sementara ayah dan anak itu bermain-main dengan ceria, Dahye duduk di bawah pohon rindang di atas sebuah tikar sembari menyiapkan roti sandwich untuk mereka bertiga.

Eomma~ ayo kita bermain kuda-kudaan!” ajak Daeul pada Dahye yang masih mengoleskan selai cokelat di roti mereka.

“Daeul ingin main kuda-kudaan bersama Eomma eoh? geurae kajja!”

Daeul menggeleng, Dahye kebingungan.

“Daeul ingin melihat Eomma dan Appa bermain kuda-kudaan bersama! Appa yang jadi kudanya!”

“Ye?!” kejut Jongdae dan Dahye, keduanya sama-sama tak mengira kalau Daeul akan menyuruh mereka bermain kuda-kudaan –lagi– setelah sekian lama mereka tak melakukannya.

Jongdae menghampiri Daeul dan memeluk tubuh mungil itu dari belakang,

Appa tidak mau bermain kuda-kudaan bersama Eomma, karena Daeul tahu? Eomma sangat berat!”

Mata Dahye memicing, tak terima dengan perkataan Jongdae yang menyebut berat badannya sangatlah berat.

“Lagipula, memangnya Daeul ingin punya adik, hm?”

Uhuk! Dahye tiba-tiba saja tersedak oleh air liurnya sendiri, sementara itu Jongdae hanya menyeringai ke arahnya. Apa maksud seringaiannya itu?!

“Adik? Daeul tidak mau punya adik, Appa!” tolak Daeul terang-terangan. Kini giliran Jongdae yang tersedak dan Dahye menertawakannya.

“Padahal Appa sudah siap sedia kalau Daeul memintanya. Ah! sayang sekali.”

“Yak! Kim Jongdae! Apa maksudmu?!><”

Tangan Dahye tertarik hingga berdiri dari posisinya semula, mata Dahye dan Jongdae membulat sempurna ketika menyadari seseorang yang menarik tangan Dahye dengan kasar itu adalah Sana.

PLAK!

PLAK!

PLAK!

“Yak, Lee Sana!” Jongdae memisahkan Sana dari Dahye. Dahye terdiam mematung dengan airmata mengalir di pipinya yang memerah bekas tamparan keras Sana.

“Ternyata firasatku benar. Tidak ada alasan bagimu untuk menomorduakanku kecuali itu adalah Dahye!” teriak Sana di depan suaminya. Matanya sudah basah dan sembab.

Eomma~” Daeul memeluk kaki ibunya ketakutan.

Jongdae menatap kedua mata Sana dalam-dalam dengan tatapan tajamnya,

“Hentikan! Jangan pernah kau sentuh Dahye jika kau hanya ingin menyakitinya lagi!”

“Eoh? jadi kau lebih membelanya?” tanya Sana tak percaya. “Sebenarnya yang menjadi istrimu itu siapa?! Aku atau Dahye, huh?!”

“Aku milikmu, Lee Sana! Sejak satu tahun yang lalu aku telah menjadi milikmu! Kau telah membeliku! Aku milikmu, jadi apa lagi yang harus kau takutkan?!”

Membeli. Benar, Sana memang telah membeli Jongdae. Kondisi keuangan perusahaan keluarga Jongdae yang hampir mengalami kebangkrutan dapat tertolong oleh kebaikan keluarga Sana dengan syarat Jongdae harus mau dijodohkan dengan Sana yang memang sudah jatuh cinta pada Jongdae jauh sebelum Dahye hadir di hidup lelaki itu.

“Aku harus membunuhnya…” gumam Sana.

Mwo?”

“Aku harus membunuhnya agar kau tak pernah bisa berpaling dariku lagi! kalau dia tetap hidup, aku takkan pernah bisa memilikimu seutuhnya!”

PLAK!

Kini tamparan keras itu mendarat di pipi Sana, Jongdae menamparnya.

“Sadarlah, Lee Sana! Kau benar-benar sudah gila!”

“Daeul-ah…” lirihan Dahye mengalihkan perhatian Jongdae dari Sana. Ia terkejut saat melihat Daeul kecilnya sudah pucat dan tak sadarkan diri dalam pelukan Dahye.

“Jongdae-ya, kita harus cepat kembali ke rumah sakit! kajja, Jongdae-ya!” Dahye histeris.

Jongdae bergegas meraih tubuh kecil putranya dari pelukan Dahye, namun belum sempat lelaki itu melangkah terlalu jauh, suara keras Sana berhasil menghentikan langkahnya.

“Kalau aku mengatakan aku hamil, apa kau akan tetap pergi bersama Dahye dan meninggalkanku?!”

“Jongdae-yapalliwa…” ucap Dahye yang sudah tak tega melihat Daeul begitu lemah dalam gendongan Jongdae.

“Kau pilih aku atau Dahye, Oppa?”

Sana memberikan pilihan di saat yang tidak tepat. Daeul membutuhkan pertolongan medis sekarang dan Sana malah membuatnya harus memilih.

“Aku sudah terlalu banyak berdosa pada Dahye, aku tidak mungkin mengulang kesalahanku lagi. Mereka sangat berharga untukku. Tapi aku milikmu dan aku mencintaimu, terserah kau menganggapku memilih yang mana. Yang jelas, aku akan sangat berdosa bila melangkah mundur menghampirimu dan kembali mengabaikan mereka.”

Sana jatuh terduduk, merasa terpukul karena Jongdae lebih memilih untuk melangkah meninggalkannya. Rasanya benar-benar menyakitkan. Ia yang pertama kali jatuh cinta pada seorang Kim Jongdae, ia juga yang mengenalkan Dahye sebagai sahabatnya pada seorang Kim Jongdae, namun ia juga yang harus terluka pertama kali ketika Dahye bercerita tentang kehamilannya akibat percobaan bodoh yang sahabatnya itu lakukan dengan lelaki yang sangat ia cintai.

 

Aku pikir, setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya kau datang menyambut cintaku. Aku pikir, setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya aku bisa memilikimu. Aku pikir, setelah sekian lama aku menunggu, semuanya akan menjadi indah pada akhirnya. Tapi ternyata pikiranku salah. Kau takkan pernah datang untuk menyambut cintaku, aku takkan pernah bisa memilikimu dan ceritaku bersamamu takkan pernah bisa menjadi indah sampai kapanpun.

Aku membenci wanita itu, aku sangat membencinya. Kenapa harus selalu dia yang merebut kebahagiaanku? Kenapa harus dia yang hadir dan mengukir namanya di hatimu? Kenapa harus sahabatku?

Tak ada yang lebih menyakitkan dari ini, kau tahu? Mencintai seseorang yang kau miliki raganya tapi tidak dengan hatinya. Berbagi kehidupan yang kau pikir cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu tapi nyatanya itu tak berlaku sama sekali. Kebahagiaan semu, aku membenci semua itu.

 

♥♥♥

 

Dahye berdiri di ambang pintu sembari menggenggam erat tangan Daeul yang berdiri berpegangan pada tangannya. Mata wanita itu menatap sendu ke arah Jongdae yang tengah memberikan pelukan hangat dari belakang pada Sana.

Ini bukan akhir bahagia yang diharapkan Dahye maupun Jongdae. Meski keduanya kini telah menjadi sepasang suami istri dengan status Dahye sebagai istri kedua Jongdae, mereka tak bisa sepenuhnya merasakan bahagia karena saat ini, Sana harus duduk di sebuah kursi roda karena kakinya yang lumpuh akibat kecelakaan dan mengalami keguguran yang membuatnya harus kehilangan rahim satu-satunya yang ia miliki. Selain itu, tingkat depresi Sana yang begitu tinggi membuat Sana hanya bisa menghabiskan hari-harinya dengan melamun tanpa tersenyum sedikitpun.

“Kau adalah yang terbaik dari seluruh istri terbaik di dunia ini, Sana-ya. Maafkan aku yang tak pernah bisa memberimu kebahagiaan sebagaimana suami-suami di luar sana yang begitu memperhatikan istrinya. Maafkan aku yang selalu mengecewakanmu. Maaf, aku yakin satu kata itu takkan pernah bisa menebus segala kesalahanku padamu. Jadi kumohon biarkanlah aku mencintaimu dan berada di sisimu sampai akhir. Aku takkan pernah mengecewakanmu lagi, aku bersumpah untuk itu.”

Eomma, Appa menangis lagi.” ucap Daeul pada Dahye. Dahye mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang putra dan mengelus kepala putranya itu lembut penuh kasih sayang.

“Laki-laki terkadang juga harus menumpahkan airmatanya kalau sedang merasa sedih agar bisa kembali tenang. Daeul juga boleh menangis kapanpun Daeul merasa sedih, tapi Eomma harap, Daeul tidak akan pernah merasakan yang namanya kesedihan sehingga Daeul tidak perlu menangis.”

Ne, Eomma! Daeul tidak akan menangis dan membuat Eomma, Appa, dan Sana mommy khawatir, janji!”

Jongdae tersenyum tipis ke arah Dahye dan putra mereka, Kim Daeul. Dahye yang melihat senyuman tipis di bibir suaminya itu pun membalasnya dengan sebuah senyuman yang seolah memberi Jongdae kekuatan untuk menghadapi semuanya yang akan terjadi di masa depan bersama-sama mulai sekarang tanpa ada airmata lagi.

 

If you see my heart and feel my true heart,

If you see my heart and find your way to me,

I want to give you all of my heart,

If you can stay by my side forever… –Taeyeon ‘All With You’

 

―End―

2 thoughts on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] 오랜 시간 후 (AFTER A LONG TIME) – by AYUSHAFIRAA

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s