[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Into the Woods – morschek96

chen-itw

Into the Woods, by. morschek96

Drama, Romance, Dark-Fantasy || PG-17

Kim Jongdae & Park Ara

Another Casts.

Dongeng sebelum tidur.

“find her, I don’t care with the risk“

***

Apakah kalian tahu tentang cerita Cinderella? Apakah kalian pernah membaca cerita aslinya? Si gadis dengan sepatu kaca itu ternyata tak sepolos dan selugu cerita yang diangkat Disney. Dengan ibu peri dan tikus-tikus yang selalu membantunya. Disinilah cerita itu terjadi… Another story of Cinder Aches.

Once upon a time…

Memandang isteri dan ketiga puterinya bergantian, kini tuan Park berdiri berjalan menuju jendela. Tatapannya tak luput dari derasnya guyuran hujan yang membasahi pekarangan rumah. “Apakah kalian menginginkan oleh-oleh selagi ayah keluar kota?” satu lagi perjalanan bisnis, dan inilah hal yang tak disukai Park Ara.

Ketika ayahnya pergi, ibu dan sudara-saudara tirinya akan menampakkan sikap asli mereka.

“Ayah, aku ingin perhiasan. Kalung dn gelang yang terbuat dari emas.” Ujar Minah si kakak tertua.

“Aku ingin kain sutera, ayah. Yang termahal dari yang lain.” Kini Jiseul angkat bicara.

Menunggu ucapan dari anak ketiga, namun anak kandungnya itu malah menunduk diam. “Ara, kau ingin dibawakan oleh-oleh apa?”

“Aku tidak ingin apa-apa ayah.” Ujarnya.

Ibu tiri dan kedua puterinya memandang Ara sinis.

“Ayolah, hal apapun itu tidak akan merepotkan ayah.” Ujar tuan Park kembali.

“Baiklah,” Ara tersenyum, “Bawakan aku ranting dahan pertama yang menyentuh bahu ayah selama perjalanan.”

“Oh?” sang ayah terharu, mendekat dan memeluk puteri kandungnya tersebut.

Oh? Dan apakah kalian akan mengira bahwa cerita ini akan mempunyi alur sama seperti yang di kartun? Sang ayah akan meninggal saat perjalanan keluar kota?

Tidak.

Beberapa minggu kemudian sang ayah pulang dari perjalanan bisnisnya. Ia membawakan masing-masing hadiah yang diminta puterinya.

Ara mengangkat roknya saat berjalan turun melalui tangga. Suara decitan kayu yang bergesekan dengan sepatunya memberikan suara yang khas. Sambil membawa ranting kecil tersebut, ia tersenyum.

Ara berjalan menuju pekarangan belakang rumah dimana makam ibu kandungnya berada. Ia mengambil sekop dan mulai menggali tanah, menanam ranting yang dibawakan sang ayah tepat disamping makam ibunya.

“Ibu, aku merindukanmu.” Ujarnya lirih, hampir terdengar seperti sebuah bisikan. “Ibu dan saudara-saudara tiriku sangat menjengkelkan, Bu. Aku harap—“ ucapannya terhenti, Ara mengusap air mata yang membasahi pipi. “Aku harap baju-baju dan perhiasan yang telah menghabiskan uang ayahku itu menghilang.”

***

Tepat keesokan harinya Minah dan Jiseul bertengkar hebat sampai membangunkan Ara dari tidurnya. Kamar mereka yang bersebelahan membuat suara itu jelas terdengar.

“Apakah kau sengaja membuang perhiasanku?!”

“Apa maksudmu? Baju termahalku juga tidak ada.”

“Jangan banyak alasan! Akan kuadukan kepada eomma.”

“Yak! Apa kau bilang?!”

Ara terdiam diatas ranjangnya. Apakah benar-benar hilang? Apakah permintaannya selamam benar-benar terjadi?

Dan dihari yang sama, sang ayah memutuskan untuk bekerja keluar kota lagi. Berjanji akan memberikan hadiah yang sama kepada puteri-puterinya.

Aku bertaruh, pasti banyak diantara kalian yang menyangka bahwa ini adalah bentuan dari sang ibu peri, atau malaikat, atau makhluk bersayap lain yang membantu Ara.

Tahukah kalian jawabannya?

Ara adalah seorang penyihir.

Kekuatan yang didapatnya dari ranting pohon yang ia tanam didekat makam ibunya. Seiring berjalannya waktu, Ara pun menyadari hal itu.

Suara percikan air saat ia menyirami pohon yang kini telah tumbuh besar itu dengan senyum miring. Ara mendudukkan dirinya dibangku panjang. Dan sekilas melihat ketiga tikus atau yang ia sebut dengan ‘gus-gus’ itu bermain didepan gudang penyimpanan.

“Kedua saudaramu akan kemari Ara, bersiaplah.” Ujar si tikus yang paling gemuk diantara ketiganya. Dapat berbicara dengan hewan adalah salah satu kekuatan yang dimiliki Ara dari pohon tersebut.

Ara mengedipkan sebelah matanya sebagai tanda bahwa ia mengerti.

“Bukankah sudah kubilang, seterika bajuku..!” teriak Minah dari ambang pintu. Jiseul berada disamping kakaknya sambil memakan roti.

“Aku lupa, akan kukerjakan sekarang.” Ara berjalan masuk.

.

.

***

Hmm… dan bagaimana dengan karakter pangerannya? Aku hampir lupa dengan yang satu ini. Well, let’s see.

Ruangan besar yang gaduh. Wanita dan alkohol dimana-mana. Berpasang insan saling memeluk, mencumbu, mencium, bahkan yang lebih dari itu.

“Kau tahu? Aku suka ini.” Tangan si lelaki bergerak bebas diatas tubuh wanita yang sedang dipangkunya. Membelai leher, belahan payudara, hingga daerah tersensitifnya. Satu lagi teguk alkohol dan ia sudah benar-benar mabuk.

Si wanita bergerak gelisah karena tangan si pria bermain dengan sangat baik. Salahkah apabila bagian bawahnya kini sudah mulai basah?

#BRAKK!

Suara pintu terbuka dengan kasar.

“Cepat cari tuan muda Jongdae.” Ucap seorang lelaki kepada semua bawahannya.

Suasanapun menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Semua pasang mata memperhatikan kemana semua pria berbaju hitam itu berjalan.

Tak lama kemudian, mereka berhasil menemukan orang yang mereka cari. Duduk mabuk di sofa ujung ruangan dengan seorang wanita yang memeluknya.

..

..

..

“Aku tidak percaya kau masih melakukan ini, Jongdae!”

“Apa peduli ayah?” jawabnya asal.

“Kau— dasar anak tidak berguna! Siapa lagi yang akan memimpin kerajaan kita kalau aku meninggal nanti? Kelakuanmu yang seperti ini akan menimbulkan masalah dimasa depan.”

Jongdae tidak menjawab, ia menunduk menatap lantai.

“Menikahlah dengan puteri tuan Choi, dan setelah itu kau bisa menggantikan posisi ayah sebagai raja.”

“Gadis kutu buku itu? Ayolah ayah.. dia sama-sekali bukan tipeku.”

“Lalu seperti apa tipemu? Wanita jalang yang memakai pakaian ketat dan alcohol ditangan mereka?!!” Tuan Kim menghela napas, memijat bagian pelipisnya. “Baiklah, kita akan mengumpulkan semua orang di kerajaan ini dan kau bisa memilih pendampingmu sendiri.” Ujarnya sambil menatap lekat wajah puteranya. “Kita adakan pesta tepat di tanggal ulang tahunmu nanti.”

.

.

***

“Ada pesta kerajaan.”

“Semua orang diundang.”

“Sang pangeran akan mencari isteri.”

Berita itu menjadi perbincangan hangat diseluruh penjuru kerajaan. Semua orang tertarik untuk datang, tak terkecuali Ara.

Ketika kedua kakak dan Ibu tirinya sedang menyiapkan baju untuk menghadiri pesta, Ara diancam bahwa ia tidak boleh ikut pergi ke pesta dan harus tetap melakukan pekerjaan rumah, jika ia melanggar, ia akan dikurung di gudang selama sebulan.

Malam harinya, setelah pintu tertutup dan kereta yang membawa Ibu dan kakak-kakak tirinya pergi, Ara berjalan menuju halaman belakang.

Didepan pohon ajaib ia membuat permintaan agar dapat menghadiri pesta dengan gaun dan kereta kuda. Dengan bunyi ‘woosh’ dan satu kedipan mata, gaun indah dan sebuah kereta kuda pun telah berada disana. Juga sepatu kaca bening indah yang sangat pas di kaki Ara.

Gaun berwarna biru, polesan make up dan tatanan rambut elegan menghias penampilan Ara malam ini. Juga kereta kuda berwarna putih dan kuda-kuda berwarna senada.

Ia tahu peraturannya. Sihir muslihat pohon ini, akan lenyap di jam tengah malam. Jadi Ara harus benar-benar kembali sebelum jam 12 malam.

..

..

..

Bunyi benturan lantai marmer dan sepatu kacanya membuat suara mengerikan di ujung koridor. Lampu-lampu yang tertata di setiap sisi malah terkesan memaksa dan mengintimidasi, mengisyaratkan bahwa seperti inilah tempat kerajaan.

Pintu terbuka, dan semua orang langsung melihat kearah ambang pintu dimana Ara berada. Semuanya ber-ohh-dan-aah ria ketika melihat bagaimana penampilan Ara.

“Dimana ia mendapatkan gaun itu?”

“Kurasa gaunnya memakai kain yang mahal.”

“Lihatlah tatanan rambutnya, sangat indah.”

Ara melangkahkan kakinya menuju lantai dansa seraya mendengarkan bisikan-bisikan tersebut. Kekaguman-kekaguman yang selama ini ia dambakan. Tanpa adanya celaan dan ocehan dari saudara-saudara tirinya, dan saat ia memikirkan itu, Ara ingin menyingkirkan Minah dan Jisrul. Betapa indahnya hidup tanpa mereka.

Pangeran Jongdae tersenyum dari tempatnya duduk. Ia meletakkan segelas sirup yang sedari tadi ia genggam. Ia telah menemukan hal lain yang lebih menarik dari sirup itu.

Semua pasang mata memperhatikan langkah kaki Jongdae yang mengarah ketempat Ara berdiri. Memperhatikan gadis itu dari atas ke bawah. “Will you take my hand?” ucapnya.

“I Will.” Jawab Ara pelan.

Ia tahu apa yang sedang terjadi, sang pangeran mengajaknya untuk berdansa. Alunan music walls terdengar merdu di seluruh penjuru ruangan. Mereka bergerak berpasang-pasangan, dan yang tidak ikut berdansa berada di sisi lain ruangan, menikmati kue atau sirup yang telah disediakan.

A night to remember.

Aah.. dan apakah kalian tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mungkin jika mereka tetap berdansa hingga pukul 12 malam? Seperti di film kartun yang biasa kau lihat.

Jika kau berpikir realistis, itu tidak akan mungkin terjadi. Mereka akan merasa jenuh dan lelah jika mereka terus berdansa hingga berjam-jam.

Ditengah kesibukan dansa dan alunan music yang terus terdengar, Pangeran mengajak Ara untuk menjauh dari keramaian. Mereka menuju ke tempat dimana ruangan pribadi Pangeran berada.

“Siapa namamu?” ujar pangeran Jongdae sambil membuka jasnya, lalu mengendurkan sedikit dasi yang ia pakai karena telah merasa lelah.

“Ara imnida.” Jawab Ara pelan, ia duduk tak jauh dari kursi Jongdae.

“Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya Ara-ssi, apakah kau ini berasal dari luar kerajaan?”

“T-tidak Pangeran,” Ara menggelengkan kepalanya cepat. Apakah ia harus terus terang kepada orang yang barusaja ia temui? “Saya berasal dari kerajaan pangeran.”

Jongdae berdiri dari kursinya, mengambil segelas air. “Ara-ssi.” Ia memberikan sedikit jeda pada kalimatnya. “Bagaimana kalau kukatakan— aku tertarik padamu.”

Tak ada keterkejutan di wajah Ara, ia tersenyum miring. “Atas dasar apa anda berbicara seperti itu?” Tanya Ara kembali. Bukankah ini yang ia inginkan untuk menghadiri pesta? Melarikan diri dari Ibu dan saudara-saudara tirinya, juga kehidupannya yang mengerikan.

“Bukankah kau juga merasa bahwa dirimu ini menarik?” Jongdae melangkah sedikit demi sedikit mendekat, ia meletakkan gelasnya dan langsung mendekap bahu Ara.

Terkejut.

Jongdae mendekatkan wajahnya dan mencium Ara langsung di bibir gadis itu.

“Terkejut?” tak perlu bertanya sebenarnya, karena ekspresi wajah Ara sangat memperlihatkan semuanya, “Aku akan bertanggung jawab. Aku mengadakan pesta ini untuk mencari isteri.”

-skip scene-

😛

Ditengah pekerjaan mereka, keringat sudah membasahi seluruh badan. Saat mengenakan kembali gaunnya, terdengar lonceng gereja yang menunjukan bahwa telah pukul tengah malam.

Ara dengan cepat memakai kembali gaun dan sepatunya. Berlari dengan meninggalkan berbagai pertanyaan di kepala Pangeran. “Ya, ada apa denganmu?” Tanya Jongdae.

“Aku tidak punya waktu. Aku harus segera pergi.” Ucapnya.

Berlari menerobos para tamu yang lain dan melewati koridor dengan cepat, Ara hamper sampai di gerbang keluar jika saja ia tidak tersandung dan membuat sebelah sepatunya terpental.

Namun tak ada waktu lagi. Tak ada waktu untuk mengambil kembali sepatu kacanya.

Akhirnya kita telah berada di bagian terpenting dari cerita ini. Sayembara.

Berbagai rumah, toko, dan celah telah para pengawal lewati. Juga Pangeran Jongdae sendiri yang mengikuti setiap prosesinya.

Hari demi hari, minggu demi minggu.

Setiap wanita yang berada di kerajaan tidak ada satupun yang pas mengenakan sepatu ajaib milik Ara. Sihirnya yang membuat seperti itu.

Pagi hari menjelang, Ibu tiri Ara tahu bahwa Panngeran akan tiba ke rumahnya hari ini. Wanita paruh baya itu membangunkan kedua puterinya.

“Satu diantara kalian, harus ada yang menjadi isteri Pangeran.” Desisnya.

Ia mengeluarkan benda yang berada di saku bajunya. Sebuah pisau.

“Aku tahu kaki kalian terlalu besar untuk sepatu kaca itu. Jadi potonglah sebagian kaki kalian agar muat mengenakan sepatu itu.”

Minah si kakak tertua menurut mesti hatinya tak berkata demikian. Ia memotong dua jari terdepan dari kakinya. Jiseul menanagis ketika melihat kakaknya melakukan itu dan juga tiba gilirannya.

Jiseul memotong sebagian tumitnya dengan pisau yang diberikan sang Ibu.

Obsesi, kehausan untuk memperoleh kekayaan. Membuat sang Ibu harus melakukan hal-hal ini. Terkadang, manusia bisa lebiih jahat dari iblis sekalipun.

Memakaikan kaos kaki di masing-masing kaki anaknya. Ia sengaja memilihkan warna merah agar tidak terlihat jelas adanya darah yang keluar.

..

..

Waktunya pun tiba. Sang pangeran dan para pengawal memasuki kediaman Ara. Namun dimana Ara? Ia sedang berada di dapur karena tidak diizinkan keluar oleh Ibu tirinya.

Minah dan Jiseul duduk di kursi, tak bergerak se-inci pun. Rasa sakit dan perih seakan merobek kulit dan daging kakinya sendiri.

“Cobalah noona.” Ucap salah satu pengawal.

Seperti dugaan, sepatu kaca itu muat di masing-masing kaki Minah dan Jiseul. Para pengawal mendesah lega, akhirnya pencarian ini akan segera berakhir.

#Pyarr

Suara gelas jatuh dari atas nakas. Semua orang menoleh kearah sumber suara berasal. Tiga ekor tikus menutuni nakas dengan cara melompat. Ia menarik-narik ujung rok Minah dan Jiseul bergantian.

“Lihatlah pangeran, kedua kaki gadis ini mengeluarkan darah, mereka memotong kaki mereka sendiri. Mereka menipumu. Mereka bukanlah pemilik aslinya.”

Seakan tahu apa yang terjadi, salah satu pengawal menyuruh kakak beradik itu berdiri dari duduknya. Namun tak sesuai ekspetasi sang Ibu, kedua anaknya malah menangis dan menjerit kesakitan ketika mereka mencoba untuk berdiri.

Disaat yang tepat, Ara memberanikan diri untuk muncul dan memakai sepatu kaca itu. Dan seperti kisah Cinderella yang lain, akhir dan Fanfic ini juga memiliki ending yang sama.

Happy ending.

.

-END-

Author Note :

Happy b.day to our Chennie^^ semoga makin sukses & sehat selalu. Amin.

Love love dari author morschek96

Aku tahu dibeberapa part ada yg alurnya kecepetan dan buru-buru, krena aku ngerasa semua org akan tahu cerita Cinderella ini seperti apa, jd aku gk perlu harus jelasin yg lebih detail lagi. Maaf yah kalo ada yg merasa alurnya kecepetan.😛

Leave your comment jusseyo~ please be a good reader. Love u :-*

Regard.

-morschek96

https://morschek96.wordpress.com

4 thoughts on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Into the Woods – morschek96

  1. Ping-balik: [Lay Birthday Project] Writer Block – RIDDLE | EXO FanFiction Indonesia

  2. aku tau cerita ini, hee… cerita asli cinderela. dan ktanya cerita putri tidur jg ada unsur ‘psycho’ gtu… tp aku blm baca.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s