[CHEN BIRTHDAY PROJECT] The Unwanted – puchanli

the-unwanted-bekey-cafe-poster


The Unwanted by puchanli

Kim Jongdae, Kim Minseok | OCs, Byun Baekhyun

{Oneshot | Drama, Hurt/Comfort, Brothership(?) | T+ (PG15)}

Disclaimer: I own nothing but the OCs and the storyline.

the flawless poster goes to this amazing person bekey @ cafe poster

Copyright © puchanli, 2015. All Rights Reserved.


Aku pernah mengenal seseorang

Kalau tidak salah namanya Xiu Min

Seorang teman, sebongkah kenangan yang terabaikan

“Ini namanya Gelang Persahabatan.”

“Gelang Persahabatan?”

“Iya, kau dan aku akan memakai gelang ini. Kau bisa menulis namaku di sini dan aku bisa menulis namamu di gelangku.”

“Mengapa harus menulis nama?”

“Karena jika kita berpisah kelak, kita akan saling mengenali satu sama lain. Karena kita masih memakai gelang yang sama dengan nama kita di sini.”

“Oh, begitu.”

“Biar aku menulis namamu di gelangku. Namamu Xiu Min, kan?”

“I-Iya, Xiu Min.”

Xiu Min…

Langit-langit biru kalem adalah pemandangan pertama ketika aku membuka mata yang terasa berat ini. Kebisingan yang diciptakan alarm di atas meja tak ubahnya irama wajib yang selalu terdengar di pagi hari. Tanganku meraih jam meja tersebut dan menekan tombol OK. Kegilaan yang berkecamuk di pikiran mendadak kembali kurasakan.

Mimpi aneh yang terus terulang.

Aku mencoba bangkit dan meregangkan otot dan persendianku. Mataku menangkap kalender yang menggantung di balik pintu kamar tatkala kakiku melangkah menuju kamar mandi.

Hari ini hari Jum’at tanggal 21 bulan September.

Secercah perasaan perlahan menyelebungi relung hatiku. Selamat mengulang satu tahun lagi, Kim Jongdae. Selamat berumur 18 tahun.

Delapan belas. Sekarang umurku sudah genap delapan belas tahun. Rintangan di depan pintu delapan belas telah menungguku di sana, menanti untuk segera ditemui. Dua ton beban perlahan disematkan di kedua bahuku, menggantung seperti ingin menghancurkan tulangku. Rantai yang mengikat kedua kaki ini makin menebal, menjeratku seperti sebuah jangkar raksasa.

Semoga selalu ada kebaikan di balik angka 18.

“Selamat pagi, Jongdae,” wanita paruh baya berpipi tirus menyambut kehadiranku dari tangga. “Kemarilah, Eomma sudah buatkan pancake kesukaanmu.”

“Selamat pagi, Eomma,” aku menarik bangku meja makan dan menempatkan diri, melirik wanita berambut sebahu yang kupanggil eomma. “Eomma, di mana Appa?”

Uraian desahan putus asa kembali terdengar, memberikan kesan yang sama seperti sebelumnya. Aku menghela nafas panjang, meraih segelas susu di atas meja.

Appa belum pulang sejak kemarin,” ibu meletakkan sepiring pancake berlumuran madu dengan taburan irisan stroberi segar di atas meja. Ia menempatkan diri di bangku sebelahku. “Sudah semalaman Eomma mencoba untuk menghubunginya, tapi selalu diputus.”

Dengan tanpa merespon, aku melahap perlahan pancake buatan ibuku. Mataku sibuk menelusuri kerutan di dahi ibuku yang makin lama makin tampak jelas. Begitu pula lingkaran hitam di sekitar manik matanya yang terus menghitam dari waktu ke waktu. Tak ada tanda-tanda perkembangan yang berarti, begitu pikirku.

“Mengapa Eomma tidak menceraikan saja si keparat itu?”

“Jongdae?”

Eomma berhak bahagia, Eomma berhak hidup tenang,” aku mengangkat kepalaku, mencoba untuk terus memasang tampang datar dan bersikap santai dengan reaksi terkejut ibuku. “Eommaberhak bebas dari pertengkaran yang selalu membawa nama orang asing,” aku menghela nafas dalam keputus asaan. “Kim Minseok—Minseok, atau siapapun itu.”

Ibuku tidak menimpali, meskipun raut mukanya seolah menolak pernyataanku. Aku berhenti makan, menyisakan setengah bagian dari lingkaran pancake berdiamater 5 inci.

“Aku berangkat dulu,” aku mendorong bangkuku ke belakang hingga membuat decitan yang mengganggu. “Pagi ini kelas musik akan dimulai lebih awal.”

“Jongdae… .”

Langkahku terhenti, mataku berputar melirik ibuku.

“Pastikan kau tidak melewatkan pesta ulang tahunmu sendiri sore nanti,” ibu mencoba mengulas senyuman di bibirnya yang pucat. “Jangan lupa ajak juga teman-temanmu, kau sebelumnya sudah memberitahu mereka, bukan?”

Aku mengangguk sewajarnya, “jangan khawatir.” Aku kembali melangkah keluar. “Aku berangkat dulu.”

“Hati-hati di jalan, Jongdae.”

Delapan belas tahun, dan hubungan kedua orang tuaku bahkan tidak sedikit pun mengarah ke peleraian. Masih terjebak di dalam masa suram tanpa ujung. Perselisihan tanpa henti yang menyangkut orang asing misterius yang tak kukenal.

Kerlap-kerlip lampu pinggir jalan menghiasi petang yang merah saga. Sambutan dan ungkapan selamat yang hangat memenuhi atmosfir taman belakang sebuah restaurant pribadi. Gurau dan tawa melengkapi suasana bahagia kala itu. Namun seulas senyum tanpa dorongan tak bisa membohongi sebuah perasaan yang dipendam.

Aku duduk di kursi taman, mengamati kumpulan insan berbalut pakaian formal yang saling berinteraksi. Ekspresi mereka beragam, namun tidak ada satupun yang menunjukkan kesedihan.

Hanya satu ekspresi yang menarik perhatianku. Seorang wanita yang terbungkus dress merah marun yang berdiri bersama seorang pria di dekat meja makan sejak tadi terus menjadi pemandanganku. Senyum di bibir yang berlapis olesan lipstik itu terlihat palsu, terlebih ketika sepasang matanya melirik pria di sebelahnya.

Beberapa menit berlalu, beberapa tamu mulai berpamitan pulang.

“Jongdae,” syarafku menerima tepukan di bahu kanan, aku menoleh.

“Ah, Baekhyun.”

Lelaki berwajah polos yang bernama Baekhyun itu tersenyum, memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi. “Aku pulang dulu, sepertinya hanya aku tamu terakhir.”

“Ah, ya—” aku segera bangkit, menjabat tangannya. “Terima kasih banyak telah datang ke acaraku.”

Baekhyun menarik bahuku dalam rangkulannya. “Ah, sama-sama,” ia menepuk punggung belakangku. “Selamat ulang tahun, Jongdae. Semoga suaramu makin terdengar merdu.”

Aku tertawa pelan.

“Oh ya, jangan lupa turnamen basket minggu depan,” Baekhyun menarik kembali badannya. “Kyungsoo sudah membelikan tiket untuk kita bertiga.”

“Baguslah kalau begitu.”

“Nah, aku pergi dulu.”

Baekhyun berbalik dan perlahan punggungnya menjauh. Ia berlalu menuju tempat parkir belakang dan menghilang setelahnya. Kini senja meninggalkanku sendirian, bersama jejak manusia yang telah selesai dengan urusannya. Sang mentari masih mengintip dari peraduannya, seolah memberikan salam hangat terakhir untuk hari ini. Salam hangat yang manis untuk seluruh umat manusia yang telah lelah bekerja seharian.

Aku berbalik, melangkahkan kaki menuju restauran Jepang milik ayahku sendiri yang menjadi tempat acaraku ini. Sekarang sudah tidak ada orang yang tersisa kecuali para pekerja restauran yang mulai membersihkan taman. Aku terus melangkah, mencari orang lain kukenal yang masih tertinggal.

Pundakku ditepuk, aku menoleh.

“Jongdae, kita pulang berdua saja,” wajah keriput ibuku yang tampak sembab menjadi pemandangan pertama yang ditangkap retina. “Appa sudah di rumah.”

Tanpa penjelasan yang lebih lengkap, aku sudah mampu menarik kesimpulan bahwa orang tuaku baru saja mengalami hal peristiwa sama yang terus terulang. Untuk beberapa alasan, aku mulai terbiasa dengan semua ini. Dan kuharap aku mulai berpikir untuk menyangkal, bahwa ikatan sumpah pernikahan tidak selalu seindah kedengarannya. Dan aku punya bukti yang kuat tentang itu, karena aku mengalaminya sendiri.

Di saat ibuku membuka pintu depan, ayahku melempar tatapan dingin yang penuh keserakahan.

Aku menaiki tangga, bersikap tak acuh dengan semua keganjilan yang seharusnya tidak ada dalam sebuah keluarga. Aku lelah dan aku ingin merebahkan ragaku untuk beberapa saat, hanya untuk melepas sedikit demi sedikit beban yang telah disematkan. Serta melepaskan pikiran berat yang terus membebani kepala.

Hanya dalam kurun waktu 2 menit, meditasiku terpaksa berhenti setelah terdengar suara pecahan kaca dari lantai bawah. Aku bergidik ngeri setelah mengenali jeritan wanita marah dari bawah. Dua anak panah seolah diluncurkan dan menembus tepat di kepalaku, meninggalkan rasa nyeri yang luar biasa. Secuil pikiran berat yang masih tersisa mendadak mendapat tambahan beban lain.

Inilah puncaknya, inilah titik di mana aku sudah muak. Dengan semua dorongan yang ada, aku bangkit dan menghentakkan kaki menuju asal kegaduhan yang tidak rasional.

“Kalau saja Jongdae dan Minseok—”

Ah, di sana asalnya. Dua orang yang seharusnya hidup harmonis dalam ikatan suci pernikahan tampak saling beradu mulut di dapur. Dengan tambahan, tangan keduanya yang saling teracung untuk mempertahankan posisi.

EommaAppa,” aku menyela, menyilangkan lengan yang menunjukkan pesan bahwa aku sudah muak dengan apapun ini. “Tidak bisakah kalian tenang untuk beberapa menit saja?”

Pertanyaanku membungkam keduanya, seolah menjadi putusan hakim pada dua tersangka kasus pidana. Mata elang ayahku menatapku seolah aku adalah sebuah ancaman besar, sekilat kebencian yang jelas terbesit di gerakan pupilnya. Aku mengatur nafas, membuang perasaan aneh yang terus bergelayut tak jelas.

“Dengar ya, Anak Setan—” ayahku berdesis kejam, mengacungkan dua telunjuknya di depan mataku.

“Jangan memanggilnya begitu!” satu pembelaan dari ibuku membuat ayahku memutar lehernya. “Dia anakmu, darah dagingmu!”

“Diam kau!”

Satu hentakan, satu gerakan, satu tamparan mendarat keras di pipi ibuku. Bunyi yang dihasilkan setara dengan memerahnya warna kulit pipi ibuku. Secara refleks aku mendekat, menangkis lengan ayahku dan melakukan hal yang serupa.

“Berhenti menyakitinya!”

Anak yang baik, Jongdae anak baik yang menampar ayahnya.

Sekilas momen yang dahsyat, menghentikan waktu selama dua detik. Mata predator ayah makin membara, melemparkan bola-bola api pada siapapun yang menatapnya. Aku membalas tatapannya, diikuti kepalan tangan yang tidak sabar untuk diayunkan. Ayahku tampak buas, ayahku tampak mengerikan, ayahku sekarang bukan lagi ayah baik hati yang seperti dulu.

Satu detik setelahnya, kurasakan dagu dan gigiku bergemerutuk dengan kuat. Rahangku terasa hancur dan nyaris menggeser struktur tulangnya, kepalaku terpukul, perutku terhantam, organ apendikulerku terus diserang. Ayahku terus meremukkan badanku dengan sekuat tenaganya, melupakan semua perasaan yang seharusnya disebut cinta ayah. Sementara ibuku hanya menjerit, menangis, dan terus mencoba menghentikan kegilaan ayahku.

Tapi gagal.

Pada akhirnya aku terkulai lemas di lantai dapur. Kepalaku terasa berat dan kini dahiku mulai mengalirkan cairan merah kental. Badanku remuk redam, pikiranku makin kacau, tapi indera pendengaranku masih menangkap sumpah serapah ayahku serta tangisan menyedihkan ibuku.

Aku mencoba bangkit tapi tak berhasil. Satu hantaman kejam di leher belakangku membuat tubuhku kembali tersungkur. Organ visualku seketika melebur, menggabungkan seluruh warna dalam mata. Setelah itu semuanya gelap total.

Bau alkohol yang kuat menyusup masuk rongga hidung diikuti dengan perasaan pusing yang luar biasa. Kurasakan dahiku berlapis kain perban tipis dan badanku terbungkus seragam biru muda ala pasien. Tak perlu penjelasan lebih lanjut untuk menyimpulkan bahwa aku tengah terbaring di sebuah tempat tidur di rumah sakit.

Aku mencoba bangkit untuk duduk, menyeimbangkan antara pikiran dan fisikku untuk menerima ini semua. Memori tentang kekerasan yang dilakukan ayahku kembali terulang di alam bawah sadar, menanamkan sedikit demi sedikit benih kebencian yang seharusnya tidak tumbuh. Kuangkat kepalaku dan baru kusadari bahwa aku tidak sendirian di kamar ini.

Lelaki tambun yang terbalut seragam putih dokter mendekat dan menempatkan dirinya di dekatku. Jemari tangan kirinya yang keriput beberapa kali membenarkan kacamata tebal yang bertengger di jempatan hidungnya seraya membaca sesuatu di tangan kanannya. Dahinya berkerut, membuat beberapa garis melintang yang cukup jelas.

“Pasien Kim Jongdae?” suaranya yang berat terlontar pelan, diikuti gerakan tangannya membenarkan letak jarum infus yang ditusukkan di lengan kananku. “Namaku Lee Yejin, panggil saja Dokter Yejin.”

“Di mana ibuku?” aku balik bertanya, mencoba untuk tidak membalas perkenalan singkat dari dokter yang bernama Yejin tersebut.

“Ibumu?”

“Di mana ibuku?”

Dokter Yejin bangkit, tampak sibuk menulis di kertas di tangan kanannya. Mataku terus kufokuskan padanya dengan waspada, namun dia tidak sedikit pun menangkap sinyal kecurigaanku. Hingga pada akhirnya dia berpamitan, “saya keluar dulu untuk memanggil suster. Kau pasti belum makan, bukan?”

Sebelum aku menjawab, dia sudah menutup pintu.

Satu keganjilan kurasakan dalam pertemuan singkat dengan dokter tadi, sesuatu yang cukup tidak masuk akal untuk terjadi. Satu pertanyaan besar diikuti pernyataan simpel mendadak memenuhi pikiranku. Bola mataku berputar dan menangkap handphone-ku tergeletak di meja kecil sebelah tempat tidur. Segera kuraih alat elektronik tersebut dan menghubungi satu-satunya orang yang kukhawatirkan di dunia ini.

Aku harus tahu di mana ibuku sekarang.

Tidak diangkat, benar-benar di luar dugaan. Kucoba sekali lagi, tetap tak ada jawaban. Aku mendesah dalam keputus asaan, mulai berpikir lagi mengapa ibuku tidak mengangkat teleponnya. Ibuku akan selalu mengangkat teleponku bahkan sebelum handphone-nya berdering, dan ia tidak pernah meninggalkan handphone-nya barang satu menit pun. Dan keanehan tingkat Dokter Yejin tadi tiba-tiba muncul.

Apakah ada hubungannya antara ibuku dan dokter tadi?

Pada akhirnya aku hanya bisa berasumsi; apapun itu dokter tadi pasti sudah mengenal ibuku, begitu pula sebaliknya. Dan hatiku seolah berbisik pelan,

Ini tidak benar; ada yang tidak beres. Seperti ada yang disembunyikan, seperti ada yang direncanakan.

Setelah mengalami perdebatan kecil dalam pikiran, kuputuskan untuk bangkit dan meninggalkan ruangan ini. Dengan secuil rasa perih, aku melepas paksa jarum infus yang menusuk lengan kananku, membuat tubuhku tiba-tiba terasa linglung. Aku bertumpu pada kedua kakiku, melangkah keluar dengan segera.

Lorong rumah sakit yang cukup sepi dan tidak asing menyambutku ketika pintu kamar kututup. Mataku mulai menyisir pandangannya ke segala arah, mencari kemungkinan jawaban atas pertanyaan yang terus melayang di pikiran. Handphone masih setia menempel di telinga dengan nada monoton yang mencekam, kakiku yang telanjang masih terus berlari dengan mata yang terus mengedar.

Sampai kemudian langkahku terhenti di depan sebuah kamar pasien yang menarik perhatianku. Telingaku menangkap lantunan nada dering yang sangat akrab, diikuti isakan tangis yang kukenal. Aku melirik layar handphone-ku yang masih menampilkan nomor ibuku dengan tulisan dialing…

Dengan tangan gemetar yang diikuti aliran keringat dingin, aku membuka pintu kamar tersebut perlahan. Aku menelan ludah dengan tetap waspada tatkala pintu terbuka perlahan. Mataku menangkap sebuah handphone yang terus berdering dan diabaikan berada di atas meja. Dan ketika bola mataku berputar, tampaklah punggung kecil seorang wanita yang tengah terduduk menangisi orang yang terbaring di tempat tidur pasien.

Ibuku.

Aku melangkah masuk, memastikan bahwa ibuku tidak mengetahui keberadaanku. Kuamati lelaki muda berambut cokelat tua yang terbaring dengan mata tertutup.

Seorang remaja seusiaku, tampak sangat pucat, dan asing bagiku.

Mataku terus mencoba mengingat sosoknya, tapi tidak berhasil. Siapakah lelaki muda berpipi gembul yang akan ditangisi ibuku? Aku mengamatinya sekali lagi dan satu hal yang berhasil menarik semua perhatianku adalah kenyataan bahwa lelaki itu memakai gelang yang sama dengan yang kupakai, gelang persahabatan yang pernah kuberikan kepada seorang teman.

Xiu Min.

Burung-burung bersahut-sahutan seolah sedang menghibur orang-orang yang berada di taman rumah sakit pagi itu. Sang surya menghangatkan suhu di bumi dengan senyumnya yang kuning sumringah. Angin berhembus pelan, menerpa kulit dan pipi yang kedinginan. Aku tengah duduk di bangku taman ditemani satu porsi lengkap sarapan dari suster di pangkuanku. Ibuku yang baru saja bergabung tampak menunjukkan mendung yang kelabu di tatapannya. Kecanggungan pun mulai terasa.

Eomma,” bisikku, mencoba mencairkan suasana yang terlalu dingin untuk pagi yang hangat ini.

Ibuku menoleh tanpa asa, “iya, Jongdae?”

“Bagaimana keadaannya?”

Ibuku mendesah panjang, bukan pertanda baik. “Cepat atau lambat kita harus mengadakan pemakaman untuknya.”

Hening yang mencekam kembali terulang.

“Jongdae?”

“Ya?” aku menoleh, menelusuri wajah murung ibuku yang sudah tidak lagi muda.

“Sepertinya Eomma harus menceritakan semuanya,” ibuku akhirnya melanjutkan, berhasil membuat jantungku berdegup makin kencang. “Semuanya berarti semuanya, tentang Appa,Eomma, laki-laki bernama Minseok itu, dan juga Xiu Min.”

Seketika aku merasa waktu seolah berhenti berputar, keringat dingin perlahan mengalir di kedua pelipis. Ibuku akan membongkar sesuatu yang selama ini ia pendam dalam-dalam dariku. Dan dalam detik-detik dekat ini aku akan tahu semuanya—semua hal sakral yang terbungkus amat rapi.

“Kau tidak apa-apa kan, Jongdae?”

“Aku baik-baik saja,” aku tersenyum, meyakinkannya bahwa aku memang ingin tahu.

Ibuku menarik nafas panjang, “sebelum menikah dengan AppaEomma sudah pernah memiliki suami. Sayangnya dia meninggal karena serangan jantung setelah kami menikah beberapa bulan.Eomma sempat menjanda satu bulan dan saat itu juga Eomma menyadari bahwa Eomma sedang hamil anak kami. Eomma sempat bingung pada saat itu, namun tiba-tiba Appa datang ke kehidupan Eomma dan memberi banyak warna baru.”

Aku masih duduk di sana, mendengarkan cerita ibuku dengan seksama. Meskipun sebenarnya aku sangat terkejut dengan pengakuan bahwa ayahku adalah suami kedua ibuku, aku mencoba untuk tetap tenang hingga cerita selesai.

“Kami berdua menikah dan beberapa bulan kemudian Eomma melahirkan bayi laki-laki prematureyang kurang begitu sehat,” ibuku berhenti sejenak, aku segera meraih tangannya. “Bayi itu sangat kecil, beratnya di bawah standar, belum lagi diagnosa dokter yang menyatakan bahwa kerja jantungnya sangat lemah. Hal ini mungkin terjadi karena genetik dari ayah aslinya. Tapi Eommadan Appa tetap berusaha untuk membesarkannya. Dan bayi itu bernama Minseok.”

Aku tertegun dalam ketidakpercayaan. Kurasakan jantungku berdegup makin cepat atas apa yang telah diungkapkan ibuku. Pikiranku masih belum bisa menerima kenyataan ini dengan logis, bahwa Minseok yang selama ini dibicarakan keduanya adalah anak ibuku?

“Dua bulan awal semuanya tampak baik-baik saja, sampai kemudian Appa mulai curiga,” ibuku melanjutkan. “Dia melihat keganjilan pada HPL Eomma dan pada suatu hari dia mengetahui fakta bahwa Minseok bukanlah anak kandungnya. Dan sebagai seorang manajer sebuah restauran Jepang yang ternama, adalah suatu kehinaan memiliki anak bukan kandung, terlebih lagi dengan kondisi fisiknya yang lemah dan tidak sehat. Itu bisa membuat citranya tercoreng dari dunia perbisnisan. Maka malam itu juga, Appa membawa Minseok pergi, meninggalkan Eomma yang terus meronta di dalam rumah.”

Tanganku merinding hebat, jantungku makin berpacu kuat. Rasa benci kepada ayahku tiba-tiba makin meluap hingga puncaknya. Aku segera meraih bahu ibuku dan memeluknya erat-erat.

Appa memalsukan dokumen Minseok dan membuangnya di panti asuhan,” ibuku mulai sesenggukan, kudekap lebih erat tubuhnya. “Eomma dilarang untuk mengunjunginya barang satu kali pun. Dua tahun kemudian Eomma hamil lagi dan kau lahir, Jongdae. Seolah mendapat malaikat kecil pengganti, Eomma benar-benar bersyukur telah melahirkanmu. Tapi Eomma akan lebih bersyukur kalau kau bisa bermain bersama Minseok sebagai kakak dan adik.”

Eomma—” leherku terasa tercekat oleh perasaan. Rasanya kerongkonganku bersiap untuk meluapkan air mata yang terus mendesak. Dengan bersusah payah kutahan desakan tersebut, hanya untuk menunjukkan bahwa aku masih kuat.

“Tapi cinta ibu kepada anaknya tidak akan pernah terputus apapun rintangannya, Jongdae,” ibuku masih melanjutkan, dengan uraian air mata yang mulai mengalir perlahan. “Meskipun dilarang,Eomma tetap sering mengunjungi Minseok, terkadang malah membawanya pulang ke rumah ketika Appa sedang bekerja. Eomma mengenalkannya padamu, bukan sebagai Minseok, tetapi sebagai Xiu Min.”

Seketika hatiku terasa luluh—masih dalam ketidakpercayaan. Gelang Persahabatan yang masih melingkar di pergelangan tanganku seketika terasa makin kuat mencengkram, membawaku kepada pasangan gelang ini. Aku merasa hanyut dalam rasa kehilangan yang dalam, rasa kehilangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Eomma benar-benar senang melihat kalian tampak akrab bersama, tapi eomma juga merasa bersalah. Jika kalian terlalu dekat, akan sangat sulit untuk melepaskannya,” ibuku mengusap perlahan pipinya dengan ibu jari. “Dan benar saja, Appa menangkap basah aksi Eomma. Dia benar-benar marah pada Eomma dan saat itu juga segera membawa Minseok pergi darimu.Eomma baru bisa bertemu dengannya satu tahun kemudian, ketika Eomma tidak sengaja mampir ke sebuah panti asuhan. Dan hal yang membuat Eomma benar-benar terpukul adalah kenyataan bahwa Minseok telah mengidap penyakit jantung koroner.”

Tidak ada yang bisa kulakuan selain memeluk ibuku kuat-kuat. Sekarang aku mulai bisa menerima ini semua, hal-hal yang tidak masuk akal mulai logis sekarang. Benang merah yang telah lama terikat kencang perlahan mulai terlepas dan terurai, membawa permasalahan menuju penyelesaian.

“Penyakit jantung memang berbahaya, para pengidapnya bisa mati kapan saja karena serangan dadakan. Dan kemarin, setelah membawamu ke rumah sakit, Eomma mendapat panggilan dari pengasuh pribadi Minseok, bahwa ia sudah meninggal karena serangan jantung sama seperti ayahnya dulu,” tangan ibuku bergerak untuk memelukku erat, kehangatannya terasa makin kuat ketika ia meraih punggungku. “Maafkan Eomma, Jongdae. Maafkan Eomma.”

Eomma—” aku memejamkan mata, membiarkan diriku dikuasai perasaan untuk sementara. “Jangan meminta maaf, Eomma sama sekali tidak bersalah.”

Aku menepuk pundak ibuku beberapa kali, hanya untuk membuat dirinya sedikit lebih tenang. Air mata kami berdua bercampur saat itu juga, membuat suasana pagi yang hangat menjadi mengharu biru. Orang-orang berlalu-lalang seolah tak melihat keberadaan kami berdua yang hanyut dalam kepiluan. Namun alam mengulurkan lengannya untuk menjangkau kami, mendekap kami dalam kehangatan sebuah kasih sayang. Burung-burung berkicau menenangkan, angin berhembus menyejukkan, dan bayang-bayang di langit biru sana tengah tersenyum kepada kami. Minseok hyung.

Minseok hyung, Xiu Min hyung,

Terima kasih atas semua kenangan masa lalu yang tak tergantikan,

Meskipun waktu telah memisahkan kita untuk tidak bersua,

Semoga waktu juga yang akan mempertemukan kita kembali,

Di suatu dimensi yang berbeda,

Aku menyayangimu, Kakak.

“Jongdae, kalau kau bisa meminta apa saja di dunia ini, apa yang kau inginkan?”

“Aku? Umm, aku ingin memiliki seorang saudara, seorang kakak atau seorang adik. Kalau kau apa, Xiu Min?”

“Aku ingin kita bisa bersama selamanya.”

“Kita pasti akan bersama selamanya, karena kita sudah ditakdirkan begitu.”

“Wah, kalau begitu, aku mau jadi saudaramu, dan kita akan terus bersama sebagai saudara. Bukankah itu menyenangkan, Jongdae?”

“Tentu saja, saudaraku Xiu Min. Tentu saja.”

Ya, tentu saja.


a/n: Selamat ulang tahun untuk dinosaurus tersayang, Chensing Machine! Saya sendiri sebenarnya bingung, kenapa posting ff sedih di ulang tahun Chen :”) mungkin karena isi hati saya. #apasih #kokcurhat #bukankok

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s