[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Propose – ECCEDENVY

PROPOSE

Vy‘s Storyline

Starring
Kim Jongdae with Do Arin

In Romance and Humor with Rated General

Kalau seandainya Jongdae sekali saja punya kehebatan tertentu. Dia bakal pilih jadi orang romantis sekali saja malam ini. Tapi kenyataannya dia gak seromantis itu. Jadi kepercayaan dirinya sedikit turun. Padahal Baekhyun udah kasih kiat kiat ngelamar pacar yang pasti ditolak. Eh/? Maksudnya di terima. Tapi tetap saja kepercayaan dirinya gak naik. Walau ia bisa liat sendiri video di mana Baekhyun ngelamar pacarnya. Mau tanya Chanyeol, tuh bocah belum ngelamar. Hubungannya sama kekasihnya masih adem ayem tentram. Mau tanya sama Minseok, juga gak mempan. Minseok malah nakut nakutin soal pernikahan. Mentang mentang udah punya anak tiga.

Jongdae bingung setengah hidup. Mau ngajak makan malam, tapi itu udah biasa. Nutup mata pacarnya terus di bawa ke pantai yang di kasih lilin lilin juga sudah ada. Ia mau lamarannya berkesan buat kekasihnya. Tapi ia bingung pake banget. Nanyain tips ke orang tuanya juga gak ada yang menarik di telinganya. Semuanya hal biasa. Sampai Junmyeon bilang ke dia,

“Lakuin apa yang biasanya kamu lakuin biar pacarmu senang.” 

Terus Jongdae mikir lagi sampai jedotin kepala. Biasanya pacarnya senang kalau dia ngapain. Nyari jawaban di bawah pohon cabe tujuh hari tujuh malam gak mempan. Masih bingung setengah hidup. Terus akhirnya dia nanya Baekhyun lagi.

“Baek, biasanya pacarmu senang kalau kamu ngapain?” Jongdae nanya.

“Eum, apa ya?” Baekhyun berfikir sebentar.

“Aku butuh saran.” Kata Jongdae lagi.

“Chohyun biasanya senang kalau aku nyiksa diriku di depan matanya.” Baekhyun jawab seakan akan itu hal biasa. Tapi memang biasa buat Baekhyun. Jongdae melotot horor. Masa dia nyiksa diri depan Arin. Mati duluan sebelum nikah dia.

“Serius?” Jongdae nelen ludah.

“Iya, dia biasanya nyuruh aku nyiksa diri sendiri. Contohnya guling di tangga, itu yang paling ringan.” Baekhyun cuma ngangguk ngangguk.

“Pantesan aja otaknya gesrek.” Jongdae gumam sendiri.

Setelah nanya ke Baekhyun tapi gak nemu jawaban yang tepat. Jongdae nganggur lagi di pohon cabe. Tapi cuma tiga hari empat malam. Sambil nyemilin cabe dia mikir lagi siapa yang kira kira biaa dia tanyain. Terus dia milih Chanyeol.

“Chan, biasanya kamu bikin senang pacarmu gimana?” Jongdae nanya lagi. 

“Biasanya kalau dia minta sesuatu, aku penuhin. Kayak makan mangga.” Jawab Chanyeol. Jongdae senyum, jawaban Chanyeol lumayan waras.

“Ooh, kamu penuhin, terus dia senang?” Jongdae mau meyakinkan lagi. Chanyeol ngangguk.

“Iyalah, abis kalau aku gak manjat pohon mangga depan rumah buat ngambilin mangga, dia bilang mau putus.” Ternyata gak waras juga. Jongdae geleng geleng. 

Udah nanya Chanyeol tapi gak nemu juga. Akhirnya dia nanya ke Minseok. Kan anaknya sudah tiga. Jadi ia menganggap Minseok lebih berpengalaman.

“Hyung, biasanya hyung nyenengin Reen Noona gimana caranya?” 

“Meluk dia doang.” Jawaban pendek singkat padat dan jelas. Waras iya, tapi Jongdae masih mentok. Sampai dia ketemu lagi sama Junmyeon.

“Junmyeon Hyung! Hyung kalau nyenengin Ahra gimana caranya?” Tanya Jongdae. Waktu itu Junmyeon yang ngasih pencerahan buat Jongdae. Jadi siapa tau aja kali ini dia dapat pencerahan lagi.

“Biasanya aku jemput dia pakai helicopter. Terus kita suka makan di dalam bola yang nyelam ke dalam aquarium.” Jongdae mikir, uangnya gak sebanyak Junmyeon. Jadi kali ini dia gak bisa ngikutin kata Junmyeon. Dan lelaki itu gak ngasih pencerahan. Jongdae jadi bingung setengah waras. Akhirnya mutusin buat berguru ke Kyungsoo aja. Siapa tau calon adik iparnya tau.

“Kyung! Arin Noona senangnya dikasih apa sih?” 

“Arin Noona? Hmm, di keluargaku, cuma aku anak laki laki. Dan cuma aku yang suaranya enak di dengar. Jadi Noona-deul senang dengar aku nyanyi.” Oke, akhirnya dapat pencerahan. Jongdae senyum lebar. Lebih lebar dari bahunya Sehun. 

“Makasih ya Kyung!” Jongdae nepuk nepuk pundak Kyungsoo. Dalam hati janjiin bakal beliin tiga mangkok buljjajang buat Kyungsoo.

Jongdae sekarang senang. Tapi dia masih mikir, dia harus nyanyi, tapi dia bingung harus nyanyi kayak gimana. Akhirnya nganggur lagi nyemilin cabe. Entah itu kok gak diare. Tapi biarkan saja Jongdae. Lagi pusing sama acara lamarannya. 

“Aku harus apa ya? Ngajak nyanyi karouke terus di lamar?” Gesreknya Baekhyun nular. “Gak mungkin, apa ngajak pergi ke restoran terus kasih kejutan nyanyi? Hambar. Apa ya?” Jongdae garuk kepalanya pake batang pohon cabe. Dia masih semedi sampe rambutnya tubuh sesenti. Dan akhirnya nemuin apa yang bisa dia lakuin.

โ€ฆ

“Nah, baju sudah bagus. Lirik hafal. Reservasi siap. Sekarang jam tujuh kurang dua puluh. Masih cukup waktu buat jemput Arin.” Jongdae keluar apartementnya lalu jemput Arin. Hari ini mobil Audi hitamnya ia cuci hingga mengkilat. Tak lupa pakaiannya. Jeans hitam dengan paduan kemeja dan sweater warna dongker dan jas hitam. Rambutnya di tata sedikit ke atas menunjukkan keningnya. 

Lima belas menit perjalanan dari apartementnya menuju kediaman Keluarga Do. Ia memarkirkan mobilnya sebentar dan turun. Memencet bel sambil menunggu seseorang yang ditunggunya membukakan pintu.

“Nuguseyo?” Suara dari dalam menyapa telinga Jongdae. 

“Jongdae.” 

“Oh Jongdae, Arin masih dandan. Tunggu sebentar ya!” Jongdae tau itu kakak tertua Keluarga Do, Myungsoo. Suaranya yang sedikit melengking sumbang. Jongdae kira setelah calon kakak iparnya bilang kalau Arin masih siap siap, ia akan di bukakan pintu dan menunggu di dalam. Taunya dibiarin di luar. Berakhir nunggu dalam mobil. 
Jongdae menunggu beberapa saat sampai Arin masuk mobilnya. Calon tunangannya itu memakai dress selutut warna pastel dengan tangan motif renda. Rambutnya dibiarkan tergerai. Jongdae suka cara berpakaian kekasihnya malam ini.

“Kita mau kemana?” Arin bertanya. Jongdae hanya tersenyum dan menjalankan mobilnya tanpa bilang apapun. Perjalanan jadi terasa sepi. Arin tidak bertanya lagi. Walau ia cukup penasaran. Tiga puluh menit perjalanan, mereka sampai di sebuah cafe. Cafe itu terlihat cukup ramai. Kerlap kerlip dekorasi di luar cafe membuat Arin tersenyum. Entah kenapa. Mereka masuk dan duduk di salah satu meja dekat dengan panggung. Band di sana baru akan menyanyikan lagu baru. Arin yang melihatnya buru buru memesan.

“Kau kenapa membawaku ke sini? Kupikir kita akan makan di restoran.” Arin bertanya setelah mereka selesai memesan dan duduk sambil menikmati lagu. Jongdae berkedip sebentar.

“Entahlah.” Jongdae jawab seadanya. Ia jadi gugup. 

“Hah?” Arin malah bingung.

“Sudahlah, nikmati saja lagunya sebentar!” Jongdae malah maksa nikmatin lagunya. Supaya Arin gak bertanya lebih lanjut.

“Oke…” Arin tambah bingung. Kok pacarnya jadi aneh. Apa gara gara kebanyakan bergaul sama Baekhyun dan Chanyeol ya? Pikirnya. Jadi otaknya geser juga. Tapi Jongdae dekat sama mereka sudah lama. Tapi biasa biasa aja dia selama ini. Arin jadi makin bingung. Ia garuk kepalanya. Sambil ngeliatin antara Jongdae sama bandnya. 

“Silahkan pesanannya.” Pelayan datang dengan pesanan mereka. Jongdae sumringah. Arin makin bingung aja. Jongdae gak pernah sesenang itu ngeliat makanan manis. Pikir Arin. Tapi akhirnya dia bodo amat. 

Mereka nikmati makanan sembari mendengar lagu dari band. Suasanya jadi romantis sekali. Kerlap kerlip kota saat malam juga terlihat dari jendela besar cafe. Arin tiba tiba suka suasanya. Kali ini dia memuji Jongdae. 

“Aku ke toilet sebentar.” Jongdae bangkit. Arin mengangguk. Sedikit ada rasa tidak peduli. Ia bahkan mengibaskan tangannya. Jongdae mendengus sebal. 

Setelah itu Arin menikmati waktunya sendiri. Ia memperlambat makannya agar dapat mendengarkan band lebih lama. Saat melihat jam dia kaget. Sudah hampir dua puluh menit Jongdae ke toilet. Tapi lelaki itu belum kembali. Arin sudah ingin menyusul Jongdae. Menunggu di depan toilet pria jika suara yang mengalun tadi tidak membuatnya berbalik. Ia mencoba melihat panggung, tapi yang terlibat hanya siluet saja. Lampu panggung di matikan. Arin terpaku pada suaranya. Penyanyinya berbeda dengan yang tadi. Ia kembali duduk di kursinya. Dalam waktu tiga menit yang indah, ia menikmati lagunya. Saat lagunya selesai ia bertepuk paling kencang.

“Its a beautiful night, we looking for something dumb to do. Hey babe, i think i want to marry you…” Lampu panggung menyala dan di sana duduk Jongdae. Lelaki itu memegang bunga dan turun dari panggung. Ia memberikan bunga itu pada Arin. Suasana cafe langsung riuh. Jongdae berlutut di depan Arin dan mengambil kotak cicinnya. Ia memperlihatkan cincinnya di depan Arin,

“So, want to marry me?” Cafe makin riuh. Arin tersenyum senang. Ia mengangguk sebagai jawaban. Jongdae memakaikan cincinnya pada Arin. Satu cafe bertepuk tangan. Dan Jongdae mengakui bahwa sebenarnya cukup membuat hal kecil menyenangkan untuk Arin agar ini berkesan.
โ€ฆ
“Aku akui kau romantis! Tapi kita masih belum melihat, mungkin sehabis ini Arin Noona bisa sekejam Chohyun.” Yah, dan terima kasih untuk sahabatku semua. Jongdae tersenyum.

END

Bacodhannya Vy :

Happy birthday chenchen kita tersayang. Gak kepikiran mau buat apaan. Jadi post aja yg ada .-. Makasih saja yang mau baca ff absurd. Vy baru aja debut kembali setelah sekian lama ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ dasar author php! Vy terlalu males bikin draft. Jadinya gini… /bunuhvy/ jangan jadi kayak vy yak ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ ngomongnya aja gak jelas sekarang. Minta dicium. Ini makasih banget buat kadel yang nyuruh ngepost ff chen buat ultahnya. Klo enggak melumut aja semua file di pc. Gak dipost. Udah ah… ntar rumpi lagi. Babai~ Salam EXO L~

One thought on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Propose – ECCEDENVY

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s