[Chen Birthday Project] – LOVE? BULLSHIT!

lb1

SHIN TAMA

production

LOVE? BULLSHIT!

(Just Need 24 Hours)

Kim Jong Dae/ Sung Rae Mi

Romance/ PG-13

Oneshoot

 

Chen

Aku tidak percaya siapapun yang ada di dunia ini. Mereka semua telah menghianatuku. Terutama makhluk yang disebut ‘wanita’. Ada apa dengan mereka? Apakah kalian dendam dengan kaum laki-laki, sehingga kalian membuat kami merasakan sakit hati sesakit-sakitnya. Rupa mu menawan, tutur katamu lembut, tapi aku heran… disimpan dimana hatimu?

Omong kosong dengan kata ‘cinta’ bila kau hanya memberikan harapan palsu. Persetan dengan kata ‘setia’ bila hatimu kau obral.

 

Author

“menjijikan…”

 

Chen menoleh ke samping. Lalu membuka mulut “apa yang kau maksud?” tanya Chen kepada gadis itu. “pasangan-pasangan itu.” jawab Rae Mi seraya menatap Chen, lalu melanjutkan kalimatnya “si namja begitu pintar membual dengan kata-kata manis. Sedangkan si yeoja dengan bodohnya, percaya begitu saja.”

 

“aku sependapat denganmu, si yeoja yang berkedok senyuman manis mengumbar cintanya, sedangkan si Pria dengan polosnya terbuai dengan itu semua.” Balas Chen tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.

 

Rae Mie terdiam. ‘sependapat jidatmu? statmentmu itu berbanding terbalik dengan pendapatku!’ umpat Rae Mi dalam hati. Sungguh ia menghargai Valentine Party yang diadakan oleh sahabatnya ini, sampai ia harus bisa menahan diri untuk tidak berdebat dengan pria yang baru ia temui itu

 

“aku pesan Tequila satu lagi.” Rae Mi memesan segelas minuman lagi untuk menggantikan gelas berkaki yang sudah kosong digenggamannya. Tak lama seorang bartender menyajikan Tequila untuk Rae Mi.

 

“Masukkan semua pesanan yeoja bergaun ungu ini- ke dalam bon ku.” ucap Chen kepada bartender yang melayani gadis itu. Refleks Rae Mi menoleh ke arah pria itu. Tidak salah lagi, yang Chen maksud adalah Rae Mi, karena Rae Mi adalah satu-satunya gadis yang mengenakan gaun ungu di saat semua gadis lainnya memakai gaun pink di pesta itu.

 

“anggap saja sebagai ucapan terimakasihku karena kau telah menemaniku mengobrol.” lanjut Chen yang membaca tatapan penuh tanya gadis itu.

“emh ya, sama-sama.” balas Rae Mi seraya mengangkat gelas Tequila nya. ‘mengobrol apanya? bukankah yang tadi itu kau mengajakku berdebat?Namja aneh.’ Rae Mi menggerutu lagi dalam hatinya.

 

Chen memandang punggung gadis itu yang semakin menjauh. Lalu menghilang dalam kerumunan orang-orang. Ia tersenyum sinis. mustahil, tapi Memang terjadi padanya. Ia seperti bercermin ketika menatap sorot mata gadis itu. Tatapan penuh kebencian dan tidak percaya akan cinta.

 

Rae Mi

Aku meninggalkan area pesta dengan langkah tergesa-gesa. Menghidari kebisingan untuk mengangkat sebuah panggilan via telfon. “ya eomma bicaralah, aku bisa mendengarmu sekarang.” ucapku setelah aku menemukan suasana yang cukup tenang.

 

“hiks…hiks…Rae Mi-ah…” dapat kudengar isakan eomma dari sebrang sana.

eomma ada apa? berhentilah menangis dan ceritakan semuanya!” responku dengan panik. Tanganku gemetar. Tangisan itu begitu menyayat hati. Sebenarnya apa yang terjadi?

 

“Yeoboseyo Raa ni, maaf ya aku tidak bisa ikut pestanya sampai selesai, aku harus pulang sekarang, ada urusan yang harus aku selesaikan.”

“Eoh begitu ya, ne gwaenchana. Kau hati-hati di jalan ya. Bye.” balas Raa Ni.

 

Sial. Tengah malam begini sulit sekali mendapat taksi. Kalaupun ada, pasti sudah ada penumpang didalamnya. Walaupun begitu aku tetap berdiri dipinggir jalan, berharap ada supir taksi insomnia yang masih keluyuran.

 

“perlu tumpangan?” Kata seorang pria yang ada didalam sebuah mobil silver yang tiba-tiba saja berhenti dihadapanku.

 

‘hah si namja Tequila’ begitulah aku menyebutnya, aku belum tau namanya.

 

“hei, kenapa kau malah bengong? masuklah!” lanjut pria itu yang berhasil membuatku tersentak, sadar dari lamunanku.

 

“dimana alamat rumahmu?” Tanya pria itu ketika mulai menginjak pedal gas mobilnya. aku tidak memiliki pilihan lain, kecuali menerima tawarannya. Itu semua karena eomma. saat ini eomma sangat membutuhkanku. Aku harus segera kesana. Bagaimanapun caranya. Termasuk menerima tumpangan dari orang yang tidak dikenal.

 

“Rumah sakit Samsung Medical Center.”

“….”

“eh, maksudku tolong antar aku ke rumah sakit itu.” ralat ku cepat yang menyadari ekspresi kebingungan Pria itu.

“eoh, baiklah nona…”

“Rae Mi. Itu namaku.”

“Iya nona Rae Mi. Dan panggil saja aku Chen.”

 

Aku menghela napas panjang. Berusaha mengumpulkan energi untuk sekedar mendorong pintu mobil. “terimakasih atas tumpangannya. Kau bisa pulang sekarang.” Kataku kepada Chen setelah menutup kembali pintu mobilnya. Aku berbalik dan menatap plang rumah sakit ‘Samsung Medical Center’ rangkaian kata itu yang tertulis disana. Saat itu juga fokusku kembali kepada nasib ibuku yang berada didalam. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Aku sangat takut dengan segala kemungkinan yang terjadi nanti. Aku mencoba melangkah tegap, namun kakiku goyah di langkah berikutnya. “akan kuantar kau sampai dalam.” Chen tiba-tiba saja ada disampingku dan menyagah tubuh lemasku.

 

“mungkin aku bisa acuh saat pria brengsek itu kencan dengan wanita lain. Tapi aku tidak bisa tinggal diam ketika dia melakukan hal biadap ini kepada eomma.” Tangisku pecah. Hatiku begitu perih  ketika melihat luka-luka itu bersarang di tubuh ibuku. “aku mohon ceraikan dia eomma. Dia sudah keterlaluan. Ini namanya penganiayaan.” Lanjutku seraya menyeka air mataku yang terus jatuh. Tak ada balasan kalimat dari bibir ibu. Iya terus menangis, lalu memelukku erat. Aku tidak pernah mengerti jalan pikiran mereka. Bukankah mereka memutuskan menikah karena saling mencintai, tapi kenapa sekarang mereka malah saling menyakiti?

 

Auhtor

Di seperempat malam, Chen belum memejamkan mata layaknya orang-orang pada umumnya. Bahkan ia belum pulang kerumah. Ia lebih tertarik memperhatikan seorang gadis yang kini tengan duduk di taman sendirian.

 

Chen sudah mendengar semuanya. Tanpa sengaja ia menguping percakapan Rae Mi dan Ibunya di rumah sakit tadi. Ia juga tidak mengerti kenapa ia tetap berada disana, lalu mengikuti mereka pulang ke rumah, dan sekarang ia juga mengikuti gadis itu sampai ke taman. Bisa diprediksi ia merasa khawatir, perasaan takut terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti.

 

“hai…Keluar kau!” teriak Rae Mi seraya mengetuk-ngetuk kaca mobil.

Chen terperanjat ketika tiba-tiba saja gadis itu menghampiri mobilnya.

“kenapa kau mengikutiku? ah…Aku tau, kau penguntit ya!” Rae Mi kembali memekik setelah Chen keluar dari persembunyiannya.

“aniya!” tepis Chen cepat. Ia berusaha bersikap setenang mungkin. Toh ia bukanlah seorang kriminal yang tertangkap basah ketika sedang beraksi. “aku tidak sengaja mendengar Pembicaraan kalian tadi. Emm, kau mau berkeliling? kupikir kau butuh udara segar.” lanjut Chen Seraya membuka pintu depan mobil.

 

‘sejauh mana dia tahu tentang aku?’ Gumam Rae Mi dalam hati. “baiklah.” balas Rae Mi akhirnya. Rae Mi menurunkan kaca mobil, mengulurkan tangannya keluar dan mengizinkan angin dini hari menyapu tangan serta wajahnya.

 

“kau ingin kemana?” Chen membuka suara.

“kemanapun. Asalkan bukan kerumahmu. Aku akui usahamu gigih sekali. Tapi aku tidak tertarik kepadamu.”

“Jika aku tetap membawamu kerumahku? bagaimana?”

“aku sudah berlatih taekwondo selama 3 tahun, pria mesum sepertimu dapat dengan mudah ku singkirkan.” balas Rae Mi dengan mata mendelik.

“hahahaha…Tenangkan dirimu. Aku hanya bercanda. Aku sudah sering menghadapi yeoja munafik sepertimu.”

“Aku tidak munafik.”

“Kalau begitu kau gampangan.”

“Tutup mulutmu namja kurangajar.”

 

Detik itu juga suasana di dalam mobil menjadi sunyi dan dingin. Jika wanita lain yang ada diposisi Rae Mi, mungkin dia akan langsung menampar pria itu. Lalu pergi dari hadapannya. Namun ini adalah Rae Mi, seorang wanita yang penasaran dengan pancaran mata penuh kesakitan yang dimiliki pria itu. Baginya, kata-kata kasar yang diucapkan oleh Chen hanyalah topeng. Rae Mi merasa ada kesamaan diantara mereka. Tapi, dimana letaknya?

 

“hentikan mobilnya disini!” rajuk Rae Mi tiba-tiba. diteriaki seperti itu. Refleks Chen menginjak pedal rem nya. Rae Mi ke

luar dari mobil, kemudian berjalan menuju taman bermain anak-anak yang hanya beberapa meter dari tempat berhentinya mobil Chen.

 

“Hah, menjadi dewasa itu melelahkan. Aku ingin kembali menjadi anak-anak lagi.” keluh Rae Mi sambil duduk di ayunan lalu mengayunkannya pelan.

“ehm, kau mengantarku kerumah sakit dan menemaniku jalan-jalan. Tidakkah kau terlalu baik? sebenarnya apa tujuanmu?” sambung Rae Mi seraya menoleh ke arah Chen yang tengah duduk diayunan tepat disampingnya.

“kenapa kau sangat membenci namja? apa karena sikap ayahmu kepada ibumu?”

“Hei, aku sedang bertanya, kenapa kau malah balik bertanya kepadaku hah?”

“Jawab dulu pertanyaanku, maka kau akan menemukan jawaban atas pertanyaanmu itu.”

“Ck, aku benci teka-teki.” dengus Rae Mi. “bagiku cinta itu hanyalah sebuah teori. Pada kenyataannya, cinta itu tidak semanis seperti yang mereka ucapkan. Ayahku sering selingkuh dan kasar kepada ibuku. Dan kakak perempuanku bunuh diri karena dicampakan oleh pacarnya. Pada akhirnya ‘cinta’ hanya membuat mereka tersakiti. Omong kosong tentang cinta! aku tidak percaya!” Tanpa disadari air mata Rae Mi meleleh, segera ia menyekanya. Apa-apa an ini? sekarang ia seperti wanita gampangan yang membiarkan orang yang baru dikenalnya melihat ia menangis.

“gwaenchana, nasibmu lebih baik daripada aku. Tidak ada yang lebih melelahkan daripada dihianati oleh yeoja berkali-kali. Dokter manapun tidak ada yang tahu seberapa dalam luka ku Ini. Dan Sampai sekarang aku belum mendapatkan jawaban ‘kenapa orang yang saling mencintai, pada akhirnya saling Menyakiti?’ ” Chen menghela napas panjang, lalu melirik ke arah Rae Mi yang sedang terpaku setelah mendengar penuturannya. “Euu, sepertinya aku sudah banyak bicara, ayo kita pulang. Sebentar lagi pagi.” kata Chen cepat untuk mengalihkan pembicaraan mereka yang mulai melantur entah kemana.

 

Malam itu, rasa penasaran diantara mereka terkuak. Kenapa Chen tertarik mengikuti Rae Mi? dan kenapa Rae Mi tak merasa terganggu dengan Chen? jawabannya sederhana ‘mereka hanya memiliki teori yang berbeda dengan tujuan yang sama’.

 

***

 

1 bulan kemudian

Neo Michesseo?!” pekik Rae Mi. Gadis itu segera merubah posisinya yang tadinya berbaring, dan sekarang duduk sempurna. “ini masih jam 5 pagi. Sedang apa kau disana?” sambungnya.

“iya aku tahu. Cepatlah kemari!”

“Tapi…”

“….” Tut tut tut

“halo? Chen? Hei!”

 

Rae Mi menggerutu kesal. Mimpi apa dia semalam? pagi-pagi buta pria itu menelfon untuk memintanya datang ke lantai paling atas kantornya. Sebulan terakhir mengenal pria itu membuat Rae Mi bertingkah polah aneh. Sepertinya pria itu yang menularkannya.

 

“Ada apa kau memintaku kemari? jam masuk kantor masih beberapa jam lagi.” Rae Mi mendekat ke tempat pria itu berdiri.

“berhentilah mengumpat! berdiri disampingku dan lihatlah kesana.” Chen mengangkat tangannya, lalu bergerak ke arah timur.

“eoh? sunrise…” lirih Rae Mi dengan mata tak berkedip saat fenomena alam itu terjadi dihadapannya. ‘menakjubkan’ kata itu yang pertama terlintas dibenaknya.

“indah bukan?!” tambah Chen.

Rae Mi mengangguk pelan tanpa menoleh ke arah Chen. Matanya berbinar tak bisa berpaling dari benda besar bersinar itu, serta senyumnya yang terus merekah.

“terimakasih kau telah mengizinkanku untuk mengenalmu. Dan ini untukmu.” Chen menyodorkan bag paper kepada Rae Mi.

“apa ini?” tanya Rae Mi seraya menerima bag paper itu.

“buka saja, aku membelinya ditukang loak kemarin.”

“Dasar pendusta.” Rae Mi tersenyum masam. “mana ada tukang loak yang menjual cincin berlian seperti ini.” sambungnya lagi setelah membongkar isi bag paper yang berisi sebuah cincin dari toko perhiasan terkenal di korea selatan. Terbukti dari logo yang terukir di bag paper berwarna gold itu.

“hahaha…Selera humormu bagus sekali.”

“Will you marry me?” ucap Chen lugas.

“….” Tawa Rae Mi mereda digantikan oleh wajah yang termangu.

 

‘cahaya apa itu? begitu terang mengelilingi pria itu. Bahkan lebih bersinar dibandingkan sunrise yang baru saja aku lihat.’ ucap Rae Mi dalam hatinya.

“apakah sekarang kau percaya cinta?” Rae Mi malah balik bertanya.

“tidak. Tidak ada yang bisa aku percaya didunia ini kecuali diriku sendiri. Aku memilihmu karena aku merasa Kau yeoja yang harus kupilih.”

 

Lama Rae Mi membisu. Butuh waktu untuk mencerna kalimat pria itu.

 

“yes, I Will.” jawab Rae Mi akhirnya.

 

Senyun Chen mengembang sempurna. lalu menyematkan cincin itu dijari manis Rae Mi. Tampak pas dan cocok. ia tidak dapat menahan diri lagi untuk tidak memeluk Gadis itu. Segera Rae Mi membalas pelukan pria itu yang menurutnya lebih hangat dari sorot mentari pagi ini.

“apakah Kau tidak takut ‘cinta’ lagi?” tanya Chen di sela pelukannya.

“kenapa harus takut? kau tidak percaya cinta. Karna itu aku tidak takut kau akan menyakitiku.”

 

~THE END~

One thought on “[Chen Birthday Project] – LOVE? BULLSHIT!

  1. yaampun chen so sweet bngt , rae mi beruntung ketemu sama chen , tbc nya menggagu sekali , kalo bisa bikin squel ya😂 daebakk , di tunggu karya selanjutnya😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s