[Chen Birthday Project] I CAN SEE YOU – Nisa Amini

untitled-1-3

Title : I CAN SEE YOU | Author : Nisa Amini | Main cast : Kim Jongdae – Yoon Mina | Genre : Romance, Fantasy, Drama | Rating : PG15 | Length : Oneshoot
Summary
Aku baru menyadari… bahwa kita berbeda

*
*
*


Tak ada yang ia rasakan selain keheningan dan hawa dingin yang menerpa kulitnya. Ia hanya bisa merasakannya tanpa bisa melihatnya. Ini aneh, ia bingung dengan apa yang terjadi. Membuatnya hanya bisa diam kaku tanpa ada gerakan sedikit pun. Ia ingin sekali bisa membuka matanya dan melihat semuanya. Tetapi rasanya begitu berat.
Hampir setiap saat ia mencoba membuka matanya, tetap saja terasa sulit. Apa yang salah dengannya?
Sekilas dan cepat sebuah cahaya putih menghampirinya. Hanya putih bersih, tak ada siapapun disana. Ia mencoba mencari seseorang untuk membantunya tapi hasilnya nihil. Sampai matanya menangkap sebuah benda atau lebih tepatnya sesuatu yang bergerak terbang pergi meninggalkannya, itu seperti seekor kupu-kupu.

 

Sampai kemudian ia merasakan suara yang semakin lama semakin terdengar oleh telinganya, semua orang seperti sedang memanggil namanya. Sampai pada akhirnya ia mendengar dengan jelas suara itu.
“Jongdae-ya!”

 

Berat dan sulit ia sedikit demi sedikit mencoba membuka kelopak matanya. Ruangan yang serba putih serta bau obat-obatan menyambutnya. Ia merasakan kepalanya masih terasa pusing.

 

“Jongdae? Kau sadar?!”

 

Ia yang baru saja tersadar, mencoba melihat siapa yang memanggil namanya. Hingga ia menghela nafas dan ternyata itu adalah Ibunya. Ia bisa melihat dengan jelas Ibunya yang berlari keluar lalu memanggil dokter, kemudian Ibu Jongdae kembali dengan beberapa orang yang mengikutinya, sepertinya itu teman-teman Jongdae yang datang.

 

“Akhirnya kau sadar juga Jongdae-ya.”

 

*
*
*

 

Sejak kejadian sepuluh hari itu akhirnya ia kembali ke sekolah. Jongdae sama sekali tidak menyangka kalau dirinya dinyatakan koma sampai satu bulan lamanya. Beberapa hari setelah ia sadar dari koma ia baru ingat kalau ia mengalami sebuah kecelakaan. Sekarang ia tidak mau lagi mengingat kejadian itu.

 

Kini Jongdae sedang berjalan menaiki tangga sekolah, ia ingin mengerjakan tugas yang sudah banyak ia tinggalkan. Bayangkan saja berapa pelajaran yang ia tidak ikuti selama dirumah sakit. Jongdae termasuk anak yang notabene rajin di sekolah, meski tidak bisa dibilang pintar sekali tetapi kalau masalah nilai ia tidak terlalu buruk. Satu lagi kebiasaannya, yaitu mengerjakan tugas di tempat yang sepi dan hening. Makanya ia memilih mengerjakan di lantai atas sekolah, karena tempatnya yang jarang di huni murid lain.

 

Langkahnya kini terhenti ketika melihat seorang gadis sedang terduduk lesu sembari bersandar pada dinding gedung. Jongdae mengerutkan dahinya bingung, kalau tak salah Jongdae sama sekali tak pernah melihat gadis itu. Bahkan pakaian yang gadis itu kenakan bukan seragam sekolah ini.

 

Jongdae pun tak memperdulikannya, ia memilih duduk dengan adanya jarak pada gadis itu.

 

“Oh? Ada seseorang disini?” gadis itu bersuara dengan nada heran, karena menurutnya jarang sekali murid yang kesini.

 

“Apa aku tidak boleh berada disini?” tanya Jongdae kembali secara tiba-tiba tanpa menatap gadis itu.

 

Terlihat gadis yang bernama Yoon Mina itu terkejut dengan pertanyaan balik Jongdae, sampai-sampai matanya sempat terbelalak. “Apa kau baru saja berbicara padaku?” tanya Mina heran.

 

Jongdae menoleh sesaat, lalu menjawab. “Kau kira aku berbicara pada siapa lagi.” Mina yang tidak bisa menahan kesenangannya pun terlonjak dan langsung mendekat ke arah Jongdae. Membuat Jongdae terkejut, “Apa yang kau lakukan?!” sambung Jongdae.

 

“Aku tidak percaya ada yang berbicara padaku!” Mina langsung memeluk Jongdae dengan erat. Membuat Jongdae terbelalak dibuatnya, lalu mencoba melepaskan pelukan itu. Tapi entah bagaimana tenaga gadis ini lebih kuat dari perkiraannya.

 

“Yak lepaskan!”

*
*
*

 

Suara langkah kaki kian terdengar di daerah yang terasa hening ini. Ya Jongdae sedang berjalan menuju rumahnya setelah hari pertamanya masuk sekolah. Terlihat raut wajah Jongdae yang kesal karena suara langkah di belakangnya masih terdengar. Sejak tadi Jongdae hanya membiarkannya, tetapi makin lama gadis itu semakin menjadi.

 

Saat pertemuan pertama mereka di sekolah, Mina terus saja mengikuti Jongdae kemanapun laki-laki itu berada. Jongdae hanya sekali menegurnya agar tidak lagi mengikutinya tetapi apa boleh buat sampai detik ini pun gadis itu tidak berhenti. Sampai Jongdae pun mulai tak sabar lalu berbalik menghadap Mina.

 

“Bisakah kau tidak mengikutiku?” tanya Jongdae yang mulai kesal. Mina pun terdiam.

 

“Apa kau tidak punya teman?! Kenapa kau terus membuntutiku?!” nada Jongdae kian meninggi.

 

Mina hanya menunduk, ia sudah bisa menebak bahwa hal seperti ini akan terjadi. “Salahkan dirimu. Kenapa kau harus muncul di hadapanku.” Elak Mina yang mengalihkan pandangannya.

 

“Apa?”

 

“Kau itu hanya satu-satunya orang yang mengetahui keberadaanku.”

 

Jongdae terlihat mendengus tak percaya, apa gadis ini gila? Itulah yang ada dipikirannya saat ini. “Jadi selama ini tidak ada orang yang mengakui keberadaanmu? Konyol sekali. Apa kau pikir dirimu hantu? Malaikat? Atau nenek sihir?” tanyanya yang terkesan mengejek.

 

Mina mulai tersulut emosinya. Ia tidak terima dibilang seperti itu. Apa katanya? Nenek sihir? Apa mulutnya mau ia sumpal dengan batu?. “Kalau aku seorang malaikat, kau mau apa?” tantang Mina tanpa takut. Bagaimana mungkin ia takut? Kalau memang sebenarnya ia itu adalah seorang malaikat yang sedang dalam masa hukuman di dunia ANGELOS. Sebuah dunia yang dihuni oleh para malaikat. Mereka memiliki beberapa keunikkan, yaitu mereka tidak akan bisa dilihat oleh manusia biasa pada umumnya. Tetapi beruntungnya Mina menemukan Jongdae yang bisa melihatnya.

 

Terdengar Jongdae menghela nafas, ia hanya berfikir Mina hanyalah seorang gadis konyol yang mungkin sedang kabur dari rumahnya. “Kau sepertinya harus pulang. Orang tua mu pasti sekarang sedang mencari mu.” Ujar Jongdae yang nada suaranya sudah mulai mereda. Sebelah tangan Jongdae menyentuh pundak Mina lalu menepuknya pelan, “Aku pergi dulu dan kau harus segera pulang.” Setelahnya Jongdae berbalik dan kembali berjalan meninggalkan Mina yang masih terdiam ditempatnya.

*
*
*
*

Jongdae sedang terduduk sambil memainkan laptopnya. Meski sudah larut malam tetapi ia masih tidak mau meninggalkan game yang sedang ia mainkan. Sebelah tangan Jongdae terlihat memijat tengkuknya, sesekali juga mulai menguap. Meski ia terlihat mulai mengantuk tetapi sebenarnya ia tidak bisa tidur.

Jongdae bangun dan hendak menutup tirai jendelanya. Tapi tangannya terhenti saat ia tak sengaja melihat gadis itu lagi. Bahkan Jongdae meresa terkejut dibuatnya, karena Mina sedang berdiri di tengah jalan yang sepi sambil menatap rumah Jongdae. Apa gadis itu benar-benar tidak mau pulang kerumahnya? “Apa yang dilakukan gadis itu tengah malam ini?” pikir Jongdae tak habis pikir. Kemudian ia langsung bergegas turun untuk menemui gadis itu kembali.

Jongdae berlari berhamburan keluar rumah. Seketika raut wajah Mina berubah cerah saat Jongdae kini sudah ada dihadapannya.
“Ternyata dugaanku benar, ini rumahmu.” Ujar Mina senang. “Awalnya aku ragu. Tapi nyatanya ini benar-benar rumahmu.” Lanjut Mina sambil tersenyum tipis.

 

Jongdae hanya mengamati gadis dihadapannya ini, ia melihat Mina hanya mengenakan pakaian dress selutut berwarna putih yang masih sama dipakaianya saat di sekolah. Apa gadis ini tak merasa kedinginan? Bahkan udara diluar tidak bisa dibilang hangat.

 

“Katakan padaku dimana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu sekarang juga.” Jongdae berbicara langsung lalu meraih tangan Mina dan menariknya.

 

“Ah tidak-tidak! Aku benar-benar tidak mempunyai tempat tinggal disini! Lepaskan aku!” Mina menahan tangan Jongdae, setelah Mina mengatakan hal itu Jongdae langsung menghentikan aksinya. “Dengarkan aku, aku sama sekali tidak memiliki tempat tinggal atau teman disini. Aku hanya seorang malaikat yang sedang masa hukuman.” Mina kembali melanjutkan, “Aku tidak perduli kau mau percaya atau tidak. Tapi asal kau tahu, hanya kau yang bisa melihatku saat ini. Jadi aku hanya terus mengikutimu, kau sama sekali tidak tau bagaimana membosankan hidupku selama sebulan ini? Aku hanya terus diam di gedung sekolah itu tanpa ada yang bisa mengetahui keberadaanku.” Terang Mina yang menceritakan semua alasannya kenapa ia berbuat seperti ini pada Jongdae.

 

Jongdae terdiam sesaat, ia kemudian berfikir. Apa yang dikatakan gadis ini benar? Ia tidak sedang di bodohi kan?

 

“Ya asal kau tahu bahwa aku tidak semudah itu kau bodohi. Kau bahkan tidak bisa membuktikan apapun agar aku bisa mempercayaimu.”

 

Tiba-tiba Mina melihat dua orang sedang berjalan yang mulai mendekati mereka berdua. “Kau mau aku membuktikannya kan?” Mina langsung berjalan menghadang dua orang yang sedang berjalan itu.

 

Jongdae terbelalak kaget saat melihat sesuatu sebelumnya belum pernah ia lihat. Bagaiman ia tidak terkejut kalau kedua orang itu melewati Mina tanpa tahu keberadaannya sama sekali? Mina bahkan bisa menembus tubuh kedua orang itu. Jongdae sama sekali tidak berkedip selama beberapa saat, apa yang salah dengan dirinya?

 

“Kau sudah lihat kan?” tanya Mina sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Jadi izinkan aku selama beberapa saat untuk bersama dirimu sampai hukumanku di dunia ANGELO selesai.” Lanjutnya sambil tersenyum melihat Jongdae yang masih terdiam menatapnya.

 

“Sepertinya aku mulai gila.” Gurau Jongdae tiba-tiba dan membuat Mina tertawa.

 

“Ayo masuk kerumahmu.” Mina langsung menarik tangan Jongdae dan masuk kedalam rumah.

*
*
*

 

“Wah foto-fotomu bagus.” Puji Mina yang sedari tadi terus saja mengelilingi setiap inci kamar Jongdae. Memang kamar Jongdae diisi oleh banyak foto-foto hasil karyanya sendiri. “Kim… Jongdae… itu namamu?” tanya Mina tiba-tiba, ia bertanya karena nama itu tertulis tepat di foto anak kecil yang terpasang di dinding, ya itu foto Jongdae saat masih kecil.

 

“Ya itu namaku.” Jawab Jongdae singkat. “Ehm, kau sendiri? Siapa namamu?” lanjut Jongdae yang belum mengenal Mina.

 

“Namaku Yoon Mina, panggil saja Mina. Senang berkenalan denganmu Jongdae-ya.” Kata Mina sambil duduk di ranjang milik Jongdae. “Kau tidak tidur?” tanya Mina lagi.

 

Jongdae sedikit terhentak, “Oh? Ya tentu saja aku mau tidur. Asal kau tahu, sebenarnya aku sudah tidur saat ini tapi itu semua terganggu karenamu.” Gurau Jongdae.

 

“Maaf-maaf, aku tidak bermaksud mau menggangumu. Aku hanya ingin bersamamu, itu saja.” Katanya dengan nada suara yang masih tidak enak.

 

Jongdae masih belum bergerak dari atas kursi, sebetulnya ia tidak masalah jika gadis ini bersamanya hanya saja keberadaan gadis ini masih membingungkannya. Ia bahkan tidak dapat memastikan dengan jelas makhluk seperti apa gadis ini, meski ia berkata kalau dirinya malaikat tapi tetap saja Jongdae masih merasa penasaran.

 

“Mina-ssi?”

 

“Hm?”

 

“Bisakah kau ceritakan semuanya?” Jongdae tiba-tiba bertanya, ya Jongdae ingin mengetahui semuanya. Karena menurutnya ini semua terasa tidak masuk akal.

 

“Ah itu.” Mina mendesah pelan, ia lupa kalau bercerita dengan Jongdae perihal semua tentang dirinya. Ya Mina akan menceritakannya semua. “Aku bisa berada disini karena dalam masa hukuman. Kau pasti ingin tahu kan motif dari hukumanku? Sebenarnya aku ini adalah anak dari raja ANGELO, aku dihukum karena telah menentang Ayahku. Ayahku menikah lagi, dan aku tidak menerima pernikahan mereka. Aku memaki calon Ibu tiriku bukan tanpa alasan, calon Ibu tiriku itu hanya menginginkan tahta keluarga. Orang itu tidak benar-benar mencintai Ayahku, tapi sayangnya Ayahku tidak percaya dengan apa yang kuceritakan. Sampai pada akhirnya ia mengirimku kedunia ini.” Mina menghela nafas pelan sambil tersenyum murung.

 

“Dan sekarang kau tidak bisa kembali lagi?” tanya Jongdae yang mulai dilanda rasa penasaran.

 

“Aku tidak tahu masa hukuman ini akan berlangsung berapa lama.” Jawab Mina, “Tapi jika masa hukumanku sudah habis aku pasti akan langsung menghilang dari sini.” Lanjutnya.

 

“Kau pasti merasa tersiksa karena tidak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaanmu.” Ucap Jongdae tanpa sadar.

 

“Ya tentu saja.” Mina hanya bisa mengangguk kemudian ia bangkit dari ranjang Jongdae, lalu berjalan menuju Jongdae yang masih terduduk diam menatapnya. “Bukankah kau ingin tidur? Lihat, matamu sudah mulai lelah.” Katanya sambil menunduk memperhatikan Jongdae. Sampai tanpa mereka sadari jarak diantara keduanya sangatlah dekat. Jongdae pun tersadar, lalu langsung bangun dan berjalan meninggalkan Mina. Sejujurnya Jongdae sedikit terkejut.

 

“Lalu kau tidur dimana?” tanya Jongdae.

 

“Aku bisa tidur diluar.” Ucapnya sambil membuka jendela kamar Jongdae.

Jongdae yang kini sudah dalam posisi berbaring pun mulai berfikir, ia tidak mungkin membiarkan Mina tidur diluar. “Kau bisa tetap disini jika kau mau.” Tanggapnya pelan. Mina yang mendengar hal itu tentu merasa senang.

 

“Terima kasih Jongdae-ya.”

*
*
*

 

Semilir angin yang berhembus membuat hawa dingin serta sejuk terasa di kulit Jongdae. Membuatnya tanpa terasa bergidik dingin, ia pun memasukan sebelah tangannya kedalam saku celananya. Ia pun tanpa terasa tersenyum melihat hamparan bukit berwarna hijau di hadapannya. Ya saat ini ia sedang berada di sebuah tempat yang menjadi favoritnya, sebuah tempat yang sepi dan juga indah. Jongdae sering sekali pergi kesini untuk sekedar mengambil beberapa foto. Tapi kali ini terasa sedikit berbeda baginya, karena sekarang ia mengajak seseorang dengannya.

 

“Wah kenapa tempatnya bisa semirip bukit di ANGELO ? apa kau sering kesini?” tanya Mina yang mengekor di belakang Jongdae. Ia tampak riang, bahkan sesekali ia berlari kecil.

 

Jongdae tanpa sadar tersenyum, “Tentu saja, ini tempat favoritku.” Jawabnya, lalu ia berbalik menghadap Mina. “Aku sering kesini setiap bulannya. Tempat ini benar-benar memberikan kenyamanan padaku. Dan… tadi kau bilang tempat ini mirip dengan bukit di ANGELO ? aku sekarang bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang berada disana.” Katanya sedikit menerawang jauh dalam pikirannya.

 

“Sungguh ini sangat mirip! Aku merasa seperti ada di ANGELO !” serunya senang, Mina pun langsung berlari kecil meninggalkan Jongdae yang masih diam di tempatnya. Tetapi matanya tak bisa lepas dari gadis itu.

 

Sudah sejak lima hari yang lalu mereka berdua selalu bersama. Pada awalnya Jongdae merasa belum terbiasa dengan semuanya, tapi untuk sekarang ia merasa sudah bisa memahaminya. Ia jadi sedikit tahu tentang malaikat ANGELO. Ia measa hidupnya tidak terlalu membosankan seperti sebelumnya, sekarang dengan adanya Mina hidup Jongdae terasa lebih ramai. Suara nyaring yang mengganggunya seakan sudah biasa baginya, padahal dulu ia tidak terlalu suka hal-hal yang bising.

 

Jongdae pun mengangkat kameranya, lalu mengarahkan kamera itu kepada Mina yang berdiri membelakanginya. Jongdae langsung mempotretnya tanpa Mina sadari.

 

Ia langsung melihat hasilnya…

 

Dan… foto itu hanya menampilkan bukit hijau tanpa ada seseorang disana. Ya tidak ada Mina disana.

 

Entah bagaimana hati Jongdae langsung mencelos, ia merasa takut dan bingung. Bagaimana bisa seseorang yang didepannya ini tidak nyata? Sampai saat ini pun Jongdae masih terperangkap dalam tanda tanyanya. Jika benar mereka berdua berbeda, itu terasa menakutkan bagi Jongdae.

 

“Mina-ssi.”

 

Mina pun menoleh dengan senyum tipis dibibirnya, “Ada apa?”

 

“Aku baru menyadari sesuatu.”

 

Mina terlihat mengerutkan dahinya bingung, “Menyadari apa?” ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Jongdae katakan.

 

“Kita benar-benar berbeda.” Ucapnya dengan senyuman yang terlihat dipaksakan. “Meski kau sudah memberitahuku beribu-ribu kali kalau kita berbeda, tetapi baru detik ini aku mempercayainya.” Terangnya, “Dan apa kau tau apa yang aku rasakan sekarang? Aku sedikit merasa takut. Aku tidak tahu bagaimana bisa seperti ini.”

 

“Ya Jongdae-ya, apa yang kau bicarakan? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” Mina merasa bingung dengan apa yang di bicarakan Jongdae.

 

“Kau tahu? Selama ini tidak ada seorang pun yang benar-benar dekat dengangku selain Ibuku.” Kata Jongdae sembari berjalan mendekati Mina, Mina sedikit mundur dengan gerakan kikuk. “Kau orang pertama yang benar-benar dekat denganku.” Setelahnya Jongdae langsung memeluk Mina.

 

Mina merasa tersentak dengan apa yang dilakukan Jongdae saat ini. Ada apa dengannya? Bahkan Mina tidak tahu sekarang harus berbuat apa. Sedangkan Jongdae memeluknya dengan erat. Tapi beberapa saat kemudian Mina pun hanya bisa diam lalu balik memeluk Jongdae, ia bisa merasakan bagaimana kesepiannya Jongdae selama ini. Ya persis seperti apa yang Mina juga rasakan saat di dunia manusia.

 

“Apa kau benar-benar akan hilang suatu saat nanti?” tanya Jongdae, ia sangat penasaran dengan kapan hal itu akan terjadi. Entah bagaimana sekarang ia sedikit menginginkan hal itu tidak terjadi. Sedikit egois memang.

 

“Aku tidak bisa menjawabnya.” Jawabnya dengan nada suara yang pelan. “Karena aku benar-benar tidak tahu Jongdae-ya. Maafkan aku.”

*
*
*

 

Sejak saat itu kepulangan mereka menuju rumah Jongdae sempat dirundung suasana hening dan juga canggung. Mereka hanya saling diam satu sama lain, bahkan saat mereka sampai di rumah Jongdae langsung masuk kekamar lalu setelah itu ia masuk kedalam kamar mandi. Sampai sekarang Jongdae belum keluar dari dalam kamar mandi.

 

Mina terlihat mengusap-usap tangannya gugup. Dalam pikirannya ia selalu terbayang saat Jongdae memeluknya. Hal itu terus saja mengahantuinya, dan hal itu selalu membuat hatinya berdebar. Untung saja Jongdae belum keluar dari kamar mandi. Mengingat kembali apa yang dikatakan Jongdae di bukit tadi membuatnya merasa bersalah. Kerena bagaimanapun ia pasti akan kembali, di sisi lain ia juga meninggalkan Jongdae. Ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini hukum alam dan tidak ada yang bisa melebihi batasnya.

 

Terdengar suara decitan pintu, Mina refleks menoleh kearahnya. Ia lihat Jongdae keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Mina sedikit menggerutu, meski ia seoarang malaikat tapi tetap saja ini mengganggunya. Bagaimana bisa Jongdae tidak bisa berfikir bahwa sekarang ada seorang gadis dikamarnya? Mina pun langsung keluar menuju balkon depan kamar Jongdae.

 

“Apa ia tidak tau ada seorang gadis disini?” gerutu Mina sedikit kesal.

 

“Siapa bilang kau laki-laki?” suara Jongdae terdengar dan mengagetkan Mina.
“Ya! Kau mengagetkanku!”

 

“Lagipula apa yang kau lakukan disini?”

 

“Aku hanya –”

 

“Menghindariku?” potong Jongdae cepat. “Benar kan?” lanjutnya mencoba memastikan.

 

“Kalau iya memangnya kenapa? Kau selalu seperti itu sehabis mandi, apa kau tidak menganggapku seorang gadis?”

 

“Ah maafkan aku. Aku kira karena kau seorang malaikat kau tidak akan tertarik.” Gurau Jongdae sedikit tertawa.
“Meski aku malaikat aku juga – oh?”

 

Tiba-tiba Mina berhenti berbicara. Karena sesuatu hal terjadi padanya. Tangan kanannya tiba-tiba menghilang lalu kembali terlihat dan begitu seterusnya. Ia sama sekali tidak tahu dengan apa yang terjadi. Sedangkan Jongdae yang melihatnya juga sama terkejutnya, sampai-sampai ia langsung meraih tangan Mina.

 

“Apa yang terjadi padamu?!” tanya Jongdae yang mulai panik. “Apa ini…”

 

“Tidak mungkin… apa ini salah satu tanda kalau aku akan bebas dari hukuman? apa Ayahku mau membebaskanku?” tanya Mina dengan penuh harapan.

 

Terbalik dengan Mina, Jongdae malah melihat Mina dengan tatapan yang sulit diartikan. Saat Mina berkata seperti itu, membuatnya merasa kesal dan juga tidak tahu harus bagaimana. Setelah Jongdae langsung melepaskan tangan Mina dan berjalan meninggalkan Mina tanpa sepatah kata pun. Mina yang melihatnya juga tidak mengerti.

 

“Aku ingin pergi tidur.” Ucap Jongdae tanpa melihat Mina. Jongdae sekarang merasa sedikit kesal. Mina pun tidak menjawabnya, ia hanya diam membiarkan Jongdae. Mina sebenarnya tahu saat ini Jongdae sedang kesal padanya. Ia seharusnya tidak berkata seperti itu.

 

“Bagaimana jika aku benar-benar hilang esok hari?” Mina tiba-tiba bertanya, ini salah satu pertanyaan yang sebenarnya tidak mau Jongdae dengar. Meski Jongdae sudah berbaring tapi tetap saja Jongdae belum benar-benar tertidur.

 

“Bukankah itu kemauanmu sejak awal? Kau benci saat tidak ada orang yang mengetahui keberadaanmu kan? Jadi pergilah, karena itu keinginanmu.” Suruh Jongdae yang terdengar tidak perduli lagi, itulah yang ada di pikiran Mina. Padahal itu semua sebaliknya. Ya sebenarnya Jongdae tidak menginginkan Mina pergi, sungguh itu terasa menakutkan baginya.

 

Mina sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jongdae, “Kau benar-benar menginjinkan aku pergi?” Mina mencoba memastikan, dalam lubuk hatinya Mina sebenarnya menginginkan Jongdae menahan agar ia tidak pergi. Tetapi akhrinya, laki-laki itu bersikap seperti ini. Jujur, Mina merasa sedih sekarang. “Bukankah tadi kau tidak ingin aku pergi? Kenapa kau seperti ini?”

 

“Maaf atas sifat egoisku.” Kata Jongdae sambil bangun dan duduk di atas kasur miliknya. Lalu kembali melanjutkan, “Agap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu. Tenang saja, aku akan mencoba melupakan hal ini ya aku angap semua ini tidak pernah terjadi. Jadi kau bisa pergi jika kau mau.” Pungkas Jongdae menatap Mina yang masih berdiri.

 

Tanpa Mina sadari kedua bola matanya mulai memanas, ia merasa perkatakan Jongdae begitu menyakitkan. Bahkan Mina harus memalingkan wajahnya untuk tidak memperlihatkan bahwa dirinya menangis.

 

“Ah jadi pada akhirnya kau mengusirku?”

 

“Tidak, aku tidak meng –”

 

“Kalau itu keinginanmu aku akan mengabulkannya. Maaf atas semuanya, aku kan segera pergi jadi kau tidak perlu khawatir ada orang yang selalu menganggumu.” Mina kembali melanjutkan, “Aku akan kembali ke sekolahmu, ya tepat dimana pertama kali aku datang. Jadi kau juga tidak perlu menemuiku lagi.” Ucapnya dengan air mata yang mengalir di pipinya. Setelah itu ia langsung melangkah pergi meninggalkan Jongdae yang sedikit membeku tak bergerak dari tempatnya. Jongdae berfikir bahwa dirinya saat ini benar-benar bodoh, ya ia laki-laki yang bodoh.

*
*
*

 

Bodoh memang. Benar-benar bodoh apa yang dilakukan oleh Jongdae sekarang. Sungguh, dirinya sendiri pun mengakuinya. Yang di lakukannya saat ini adalah berlari menuju sekolah tengah malam seperti ini. Mengerjar sesuatu yang sudah ia usir sendiri. Setelah kepergian Mina hampir setengah jam yang lalu, Jongdae langsung bergegas keluar menuju sekolah. Ia bahkan tidak perduli dengan suara Ibu yang memanggilnya tadi di rumah.

 

Sampai pada akhirnya ia saat ini ada di depan gerbang sekolah. Sesuai tebakkanya, gerbang sekolah ini di kunci. Tapi ini bukan suatu halangan yang berbarti bagi Jongdae. Ia langsung menaiki gerbang ini, untung saja sang penjaga Sekolah tidak ada di tempatnya. Ia langsung berlari kembali, bahkan Jongdae sudah tidak memperdulikan deru nafasnya yang memburu.

 

Sesampainya ia di tempat dimana ia dan juga Mina pertama kali bertemu. Ia langsung berteriak memanggil Mina.

 

“Yoon Mina!”

 

Sudah berapa kali Jongdae memanggil nama itu. Tapi tidak ada yang menjawabnya. Bahkan Jongdae sudah mencari kemanapun, di setiap dan koridor sekolah tapi tetap saja hasilnya nihil.

 

“Tidak mungkin… kau tidak mungkin hilang secepat ini. Yak Yoon Mina! Dimana kau?!”

 

Jongdae menghentikan langkah tepat di lantai paling atas sekolah ini. Matanya kini mulai memerah, deru nafasnya tak beraturan dan bahkan kedua kakinya seakan kehilangan kekuatannya dan ia pun terjatuh tunduk. Baru kali ini ia merasakan kehilangan sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Ya hanya gadis itu. Dan bodohnya ia melepaskan gadis itu dengan mudahnya.

 

Jongdae mendongkakkan kepalanya keatas, ia menatap langit yang hitam gelap. “Apa kau benar-benar sudah pergi? Sungguh aku minta maaf… aku minta maaf…” ucapnya yang mulai terisak. Segala macam emosi sedang mengusainya saat ini, terlebih karena gadis itu.

 

Jongdae merasakan sebuah penyesalan yang teramat sangat. Ia baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya. Jika saja waktu bisa ia putar, ia akan terus berada di sisi gadis itu dan bukan malah mengusirnya. Ia kembali menangis tertunduk, sungguh ia malu pada dirinya sendiri. Ia merasa mulai gila sekarang. Yang terlontar saat ini hanyalah pernyataan maaf dan maaf, tidak ada yang lain. Tidak ada yang menemaninya saat ini selain semilir angin dan juga isak tangisnya. Jika saja ia diberi kesempatan kedua pasti ia melakukan yang terbaik demi gadis itu. Ya tetapi semuanya terlambat… sungguh terlambat baginya.

*
*
*
*
*

FIN

8df185afbcba14ce468206703aec0c99cd138bbf584b28f6ae1dec8485c3c04ffe722bfcc6eb622b4baa2545e0e38358tumblr_np4n0e9snc1sgoz6co1_500121378114

One thought on “[Chen Birthday Project] I CAN SEE YOU – Nisa Amini

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s