[Chen Birthday Project] Erase

tumblr_o0qo5mqli71riav2to1_500

Starring by:

Kim Jongdae (Chen)

GENRE: Family, Hurt, Sad | RATING: PG-13 | LENGHT: Oneshoot | Plot is mine, thank’s for your comment and like. And for my angel Kim Jongdae, Happy Birthday! I wish God bless you. I just wanna wish you all the best. You are a kind person. Be my Kim Jongdae with big heart forever and ever!

Ayah, satu kata penuh dengan ketulusan dan kerja keras. Terkadang aku sempat berpikir, kenapa sosok ayah tidak terlampau dielu-elukan. Padahal dia juga memiliki kasih sayang yang tak kalah besarnya dari seorang Ibu. Menurutku terkadang itu tidak terlampau adil.

Ayah, tangannya yang kasar dipenuhi dengan luka. Memang mereka tidak terlalu jago untuk masalah menunjukkan kasih sayang kepada anaknya. Tapi bukan karena mereka tidak sayang tetapi sebagai lelaki biasanya mereka terlalu gengsi untuk melakukannya. Bukan salahnya sebenarnya, hanya saja mereka butuh waktu.

Ayah, terimakasih untuk dirimu yang selalu ada disampingku ketika aku terluka. Terimakasih kau yang bersorak ketika aku pertama kalinya dapat berdiri dengan kakiku sendiri. Walaupun terkadang kau terlampau konyol untuk menjadi seorang ayah. Tetapi terimakasih sudah membesarkanku. Aku sedikit menyesal tidak bisa mengatakan bahwa aku sangat amat mencintai dan mengasihimu karena aku terlalu malu untuk melakukannya. Kita sama tidak bisa banyak berekspresi satu sama lain. Tetapi terkadang dengan tatapan mata atau bahasa tubuh yang kita ciptakan kita dapat mengatahui isi hati masing-masing.

Ayah, maafkan aku yang tidak sempat bicara padamu bahwa aku sungguh-sunggub menyayangimu. Ini jagoan kecilmu yang dulu kau gendong di pundak lelahmu. Ini jagoan kecilmu yang suka kau belikan es krim sehabis kau pulang bekerja. Ini jagoan kecilmu, dia sering bertanya masalah dunia kepadamu. Maafkan aku yang mengucapkan kata sayang yang terlambat, bahkan sampai kau tidak pernah meningatnya bahwa aku pernah melakukannya.

Angin musim gugur berhembus, membuat diriku yang masih dalam versi kecil itu menggigil. Duduk di depan pagar menunggu kedatanganmu yang amat sangat kunanti. Aku menggosok-gosok kedua tanganku. Sedari tadi, rongga hidung dan mulutku telah mengeluarkan asap.

Bahumu naik turun ketika sampai di depan pagar. Ku raih lehermu kemudian kukecup pipi itu berkali-kali. Jongdae kecil saat itu bertanya, “Appa, kenapa pipimu ditumbuhi janggut?”

Aku mendnegar suara tawamu yang halus. Kau kemudian memelukku dan menggendongku masuk ke dalam rumah. “Jongdae, jika kau sudah besar kau juga pasti akan mempunyai janggut seperti Appa,” ucapmu sambil mengacak rambutku.

“Aku tidak ingin mempunyainya, Appa. Itu menjijikkan,” ucapku sambil mengerucutkan bibir kala itu. kau pun tergelak untuk kesekian kalinya.

Dibalik jaketmu yang lusuh kau mengeluarkan sebuah kantong plastik. Aku terlonjak saking sennagnya. Kau selalu begitu Ayah, disela waktu sibukmu untuk bekerja kau selalu ingat padaku dan membelikanku mainan atau kudapan.

Saat itu selesai mencuci muka dan menggosok gigi, diri ini melihatmu membuka pagar rumah. Aku langsung berlari ke arahmu dengan langkah ringan. Mencekal tanganmu yang jauh lebih besar dari milikku.

“Appa mau kemana?” ucapku.

“Mau ke gereja. Kau mau ikut?” tanyamu sambil menggenggam tangan mungilku.

“Iya aku ikut. Kajja!” ucapku riang. Kau menggenggam jemariku dengan hangat. Memandang diri ini dengan penuh kasih sayang. “Kenapa Appa setiap hari ke gereja?” ucapku yang penuh dengan keingin tahuan kala itu.

“Eumm… Appa ke gereja setiap hari untuk mendoakanmu supaya jika sudah besar mendapat banyak uang dan hidup dengan baik. Kau harus lebih sukses dan lebih bahagia dari Appa mengerti?” ucapnya.

“Aku akan bahagia jika Appa selalu disampingku,” ucapku sambil menggenggam tanganmu lebih kuat saat itu. kau hanay tersenyum sambil memandangku. Wajahmu begitu teduh walaupun aku terkadang bandel.

Ayah, aku jagoan kecilmu yang suka memakan permen di balik pintu tanpa menggosok gigi. Ayah, ini jagoan kecilmu yang kau peluk setiap malam dalam tidurmu. Ayah, apakah kau masih mengingatku seperti dahulu? Ayah, aku mengasihimu, sungguh.

Seperti hari sebelumnya, aku juga berada di sini. Sebuah bangunan yang setiap orang menghindari untuk masuk ke sana. Jika diantara mereka ada yang tidak beruntung mereka akan menginap. Apa kalian tahu tempat apa itu?

Aku menurunkan Jisoo, anak lelakiku di depan pintu. Kemudian kutatap wanita yang sedang berdiri disampingku itu dengan lembut. Ia menggenggam tanga lembut, meyakinkanku jika semua akan baik-baik saja. Aku takut aku akan di tolak, lagi.

Ruangan putih menyeruakkan bau yang khas -bau obat-obatan dan sejenisnya- Di ranjang berbalut kain putih tersebut Ayahku berbaring. Tubuhnya kurus seolah hanya kulit yang membungkus tulang. Ia memalingkan wajahnya ke jendela melihat mentari pagi. Ia sakit sejak lima tahun berlalu, dahulu tubuhnya sehat dan bugar. Tidak seperti ini. Rambutnya juga telah dicukur habis.

Tetapi saat ini keadaannya jauh lebih baik dari beberapa waktu lalu, yang mana dia harus dipasang masker oksigen karena lupa cara bernafas.

Appa..,” panggilku sambil memaksakan senyumku. Lelaki di atas ranjang itu seolah menuli, entah apa yang di pikirannya. Aku mencoba lebih dekat dengannya. Meraih sebuah kursi lalu duduk di samping ranjangnya.

Kugenggan jemari itu, ia terlihat menoleh kearahku. Ia memandangku seolah tidak mengenaliku sama sekali. Aku hanya dapat tersenyum dan menatapnya dengan nanar. “Nuguya?” ucapnya dengan suara yang bergetar.

“Ini aku Appa. Kim Jongdae,”

“Kim Jongdae kecil. Besar bukan…, pundak pundak… kemarin,” ucapnya.

Tanpa di perintah cairan bening itu mengalir dari pelupuk mataku lalu terjun begitu saja di pipi. Iya dia ayahku. Dia mengidap Alzheimer sejak lima tahun lalu. Tingkat Alzheimer yang diderita ayahku telah mencapai stadium terakhir. Jika kalian mencari kata alzheimer di mesin pencari, sesuatu yang akan muncul adalah seperti ini. Aku paham maksud dari perkataannya. Ia berkata bahwa, “Kim Jongdae masih kecil, ia masih kugendong di pundak kemarin.”

‘Alzheimer adalah keadaan dimana terjadi kelebihan protein yang mengakibatkan menumpuknya plak di otak. Hal ini menyebabkan otak mengecil dengan seiring berjalanan waktu. Penyakit ini dapat di ditandai oleh melemahnya daya ingat, gangguan otak dalam menyusun perancanaan, penalaran, presepsi, dan berbahasa.’

Keadaannya memburuk sejak itu. Awalnya kupikir ia hanya mengidap penyakit lupa yang biasa. Tetapi aku curiga saat ia berniat memanaskan makanan di microwave. Bukannya memanaskannya, ia malah hampir membuat seluruh rumah terbakar. Bukan karena lupa mengangkatnya. Tetapi ia memasukkan ponsel bukan mangkuk ke dalam microwave. Itu semua menyebabkan meledaknya microwave yang hampir membakar seluruh rumah.

Krieettt….

Pintu itu terbuka menampakkan sosok wanita itu yang menghampiriku. Ia menggandeng Jisoo siseblahnya yang tersenyum tak kalah cerahnya padaku.  Ia memandangku dengan tatapannya yang teduh, hanya melihatnya membuat dadaku terasa lega walaupun hanya sedikit.

Aku mengusap wajahku kemudian kembali menatap ayah yang memalingkan wajahnya ke arah jendela. Wanita itu memegang pundakku, kemudian ia berbisik tepat di telingaku. Mengatakan bahwa aku harus mengatakannya sebelum aku tidak ada waktu lagi.

“Ayah aku mecintaimu,”

Mungkin itulah kata terakhir yang kuucapkan padanya. Walaupun aku tahu ia tak akan pernah mengingatnya. Setidaknya aku tidak akan pernah menyesal karena tidak pernah mengatakannya. Terimakasih ayah kau adalah karunia yang amat indah yang pernah diberikan Tuhan kepadaku. Bahkan jauh berharga daripada istri dan anakku.

END

One thought on “[Chen Birthday Project] Erase

  1. Huaaa., Tisu mana tisuu..
    nangiss nangiss aku nangis..hiks
    Ceritanya menyentuh banget kak.,

    Andai aku punya ayah yg selalu memerhatikanku dan memberikan kasih sayangnya walau hanya satu kali..hiks#maafjadicurhatkak

    Aku baperr kak ke inget ayahku..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s