[CHEN BIRTHDAY PROJECT] By Those Beautiful Melodies

exo-mchen-%eb%ac%b4%eb%8c%80%ec%97%90%ec%84%9c3

 

Gecee proudly present

 

BY THOSE BEAUTIFUL MELODIES

 

A school-life friendship fluff fanfiction in vignette length in T-Rate

.

Starring Kim Jongdae aka EXO’s Chen, OC’s Melody Hong

.

I own the plot.

.

“Alasan yang sebenarnya adalah aku malu harus menampilkan laguku di hadapanmu.”

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Ini tinggallah seminggu menuju waktu tenggang proyek aransemen lagu serta menyanyi duet di Sekolah Seni Jaeguk. Meski sekilas terdengar seperti tak ada ubahnya dengan tugas seni musik biasa, kenyataannya tidak. Pada hari pementasan, setiap pasangan akan menampilkan karyanya di panggung utama Jaeguk Convention Hall, sebuah aula yang sudah sering digunakan oleh penyanyi-penyanyi senior terkenal sebagai tempat konser solo mereka. Tak tanggung-tanggung, seorang komposer orkestra bahkan diundang sebagai salah satu penguji.

Kim Jongdae sendiri sudah menyelesaikan komposisi lagunya sejak seminggu yang lalu. Lagu yang ia pilih adalah lagu genre ballad, kisah sedih seorang pemuda yang ditinggal pergi oleh kekasihnya. Perpisahan mengharukan sepasang kekasih, lengkap dengan melodi yang ia yakin akan meluluhlantakkan hati setiap pendengarannya, membuat setiap benteng air mata roboh.

Komposisi itu telah siap, bahkan beserta kertas partitur serta part untuk pasangan duetnya.

Namun, ada satu masalah. Sampai hari ini, ia belum mendapatkan pasangan duet.

Kalau mau jujur, alasan ia selama ini belum mencari pasangan duet adalah karena ia ingin meminta Melody Hong untuk menjadi partnernya. Melody Hong, seorang gadis bertubuh mungil namun dengan suara merdu. Dara empunya kurva manis yang senantiasa merekah, menyapa orang-orang di sekitarnya. Rambutnya cokelat gelap panjang, kulitnya putih susu, maniknya bulat beriris cokelat. Perawakan Melody benar-benar melukiskan bagaimana sosok bidadari yang selama ini ia baca.

Paras yang cantik, otak yang cemerlang, serta perilaku yang menyenangkan, membuat gadis itu mempunyai banyak pengagum, termasuk Jongdae sendiri. Banyak yang mendekati gadis Hong itu, sadar atau tidak.

Masalahnya, Jongdae yang pemalu tidak punya keberanian bahkan untuk sekadar meminta Melody menjadi partner duetnya. Lagipula, belum tentu Melody mau. Selain itu, besar kemungkinan Melody telah terlebih dahulu didapuk menjadi pasangan duet orang lain, mengingat bakat serta popularitasnya.

Huft … Jongdae pasrah. Yah, kalaupun tidak dengan Melody, ia masih bisa mengajak gadis lain. Mungkin ia bisa mengajak Hwang Seon Ah? Meski tak sepopuler Melody, toh gadis Hwang itu juga sama dianugerahi suara emas.

***

Aish … sampai sekarang aku belum mendapat pasangan duet … “

Mendengar keluhan yang diucapkan dengan cukup keras itu, Jongdae menoleh, mendapati Baekhyun yang sedang menelungkupkan kepala di atas meja. Di sebelahnya, Park Chanyeol sedang menepuk-nepuk punggungnya, mencoba menghibur.

Alis Jongdae terangkat sedikit. Oh, ternyata bukan hanya aku yang belum dapat partner? tanyanya pada diri sendiri. Sebuah pertanyaan lain muncul. Baekhyun, mantan ketua OSIS yang dikenal juga akan kepopuleritas serta senyum manisnya, belum mendapat partner?

“Tenanglah, bung. Mungkin pasangan duetmu akan datang sehari sebelum pementasan tiba,” ujar Chanyeol, diiringi senyum jahil yang mendapat hadiah sebuah pukulan pada bahunya.

“Kalau begitu kapan aku latihan?” balas Baekhyun dengan bibir mengerucut, ngambek.

“Bukankah waktu itu kau sudah mengajak gadis Hong si anggota paduan suara itu?” Chanyeol bertanya lagi. “Siapa itu namanya? Melanie Hong? Melody Hong? Ah, siapa pun namanya itu, kau sudah mengajaknya? Bagaimana hasilnya?”

Wajah merengut Baekhyun makin menjadi-jadi. “Sudah. Ditolak.”

Chanyeol tertawa kecil. “Astaga, pasti sakit seperti ditolak orang yang kau taksir, ya? Dia bilang mengapa menolakmu? Mungkin sudah punya pasangan duet?”

Baekhyun hanya mengangkat baju. Matanya masih menatap ke depan dan bibirnya masih mengerucut.

“Dia tidak bilang apa-apa?” Chanyeol mengacak rambut hitamnya. “Kalau sudah punya pasangan duet, siapa ya pasangan duetnya?”

Percakapan dua insan itu mulai tak terdengar oleh Jongdae karena kini pria Kim itu mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Meski tak yakin apakah menguping merupakan kegiatan yang baik dan sopan atau tidak, tetapi setidaknya ada beberapa informasi yang bisa ia dapatkan serta kesimpulan yang bisa ia ambil.

Pertama, rupanya gadis itu tidak selalu memilih lelaki yang sama populernya dengan dia. Semua pria punya kesempatan yang sama untuknya.

Kedua, ada dua kemungkinan. Melody menolak Baekhyun karena gadis itu sudah mendapat pasangan duet atau …

Atau apa?

Memangnya Jongdae yakin gadis sepopuler Melody sampai sekarang belum mendapat pasangan duet? Bukankah semua orang sepertinya memperebutkan gadis manis nan berbakat itu?

Kini Jongdae ikut menelungkupkan kepala di atas meja. Sudahlah, jangan berharap macam-macam, Kim Jongdae. Terima saja kenyataan, mulai ajak gadis lain yang kau pikir pantas untuk menjadi partnermu.

Walau tetap saja selama belum mendapat kepastian yang jelas tentang ketersediaan gadis Hong itu, Jongdae tetap diliputi rasa penasaran.

***

Empat hari menuju hari pementasan. Jongdae sedang asyik berkutat dengan komposisi lagunya di studio sekolah. Sebelah tangannya mencoba berbagai akor melodi pada keyboard elektrik, sementara sebelah tangannya lagi mencoret beberapa melodi di kertas partitur dan menggantinya dengan yang baru, yang mungkin menurutnya lebih baik.

Tiba-tiba pintu studio yang kedap udara itu terbuka. Jongdae buru-buru menarik tangannya dari keyboard, lalu menatap pintu yang dilapisi kain peredam suara berwarna kelabu.

Seorang gadis bersurai cokelat melongokkan kepalanya. Pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Jongdae, sebelum sekon berikutnya pemuda Kim itu menundukkan kepala. Itulah Jongdae yang pemalu, tak kuat jika harus menatap atau tak sengaja bertatapan dengan manik seseorang. Meski begitu ia sempat menangkap wajah gadis itu. Sang dara tak lain dan tak bukan adalah Melody Hong.

Walau tak tahu apa maksud kedatangan gadis itu, presensi sang gadis sudah mampu membuat jantung Jongdae berdegup lebih kencang.

Gadis itu berjingkat-jingkat masuk, entah mengapa. “Uhm … boleh aku masuk?”

Huh? Ah, tentu saja, Melody­-ya,” balas Jongdae.

Tungkai jenjang gadis itu melangkah menghampiri Jongdae. Oh, jantung pemuda itu yang malang. Sekarang detaknya makin tak karuan.

“Hei, kenapa berhenti?” ujar Melody. “Apakah kedatanganku mengganggu sehingga kau berhenti bermain?”

“Bukan begitu … “ sahut Jongdae. Alasan yang sebenarnya adalah aku malu harus menampilkan laguku di hadapanmu.

“Main lagi,” pinta sang gadis. “Aku sempat mendengar lagumu, nadanya sangat bagus. Lembut dan enak didengar.”

Oh?” Jongdae mengerjap. “Kapan?”

Bukankah ini ruang kedap suara?

“Tadi. Pintu studio agak terbuka sedikit, jadi aku bisa mendengarnya,” jawab Melody, sekaligus menjawab pertanyaan yang hanya Jongdae ucapkan dalam hati. “Karena itu, mainkan lagi.”

“Tidak ah … “ Jongdae mengulum senyum.

“Mengapa?”

Jari telunjuk kirinya menekan tombol power pada keyboard, mematikan alat tersebut. Kemudian ia mengumpulkan tiga lembar partitur lagunya, merapikannya sejenak dengan mengetuk-ngetukkan di atas keyboard, lalu memasukkannya ke dalam map berwarna biru. “Latihanku sudah selesai. Aku mau pulang. Kau mau pakai studio ini?” jelas Jongdae seraya bangkit dari duduknya.

Ah … “

Meski sekilas, tetap saja raut kecewa gadis itu tertangkap oleh ekor mata Jongdae.

Jongdae mengambil beberapa langkah menjauh dari gadis itu, mendekati pintu studio, bergegas keluar. “Aku pulang dulu, Melody,” ujarnya sambil melambaikan tangan.

“Tunggu!”

Satu kata itu berhasil menghentikan langkah Jongdae. Pemuda itu berbalik, menatap gadis yang kini sedang memelintir ujung rambutnya dengan jari. Kepalanya agak tertunduk. Kalau lebih diperhatikan lagi, gadis itu tengah menggigit bibir bawahnya beberapa kali layaknya orang yang ragu-ragu.

Alis Jongdae terangkat sebelah. “Ada apa?”

Untuk lima detik, gadis Hong itu masih dengan aktivitas memelintir ujung rambutnya, sebelum akhirnya wajahnya terangkat dan tatapannya terarah pada Jongdae lurus-lurus.

“Jongdae-ya …

“Hmm?”

“Aku … uhm … “ Wajah manis itu kembali tertunduk lagi. Kali ini sang gadis memainkan buku jarinya.

“Kenapa?”

Sekali lagi wajah Melody Hong terangkat. Entah untuk alasan apa gadis itu menunjukkan ekspresi malu-malu yang menurut Jongdae sangat imut hingga besar keinginannya untuk mencubit pipi gadis itu. Jongdae mengukir sebuah senyum geli.

Dua detik kemudian sebuah pertanyaan keluar dari bibir sang gadis.

“Aku … ehm … Maukah kau menjadi pasangan duetku?”

 

 

 

 

– fin –

 

A/N

  1. Pertama-tama, LEMME SAY HAPPY BIRTHDAY TO ONE OF OUR MAIN VOCALIST CHEN OPPA! Thank you for your awesome voice, for your kindness, your presence, your laugh, your everything. Stay healthy and keep success oppa!❤❤
  2. Semacam comeback dengan membawa fic kurang jelas ini ahahaha😀 Maafkan kalau kalian menemukan salah kata atau typo atau semacamnya ya🙂

Anyway, mind to review?😀

© 2016 Gecee’s Story
(https://gcchristina.wordpress.com/)

One thought on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] By Those Beautiful Melodies

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s