[EXOFFI FREELANCE] Our Little Babe (Oneshot)

cover-2-crop

Our Little Babe- Real Choco

Poster by Reamoree

Cast    :

  • Kim Jong Dae
  • Kim Han Bin
  • Kim Jong Hee        (OC)
  • Lee Hae Ra        (OC)
  • Kim Na Ra        (OC)

Genre    : Family, Roman, Angst
Rating    : PG-16

Aku menantinya. Di depan sebuah pintu, yang bahkan aku tak tahu, milik siapa itu. Kelak siapa yang akan membukanya, untuk membiarkanku masuk dan duduk. Aku sudah berdiri sekitar lima belas menit, lalu akhirnya memutuskan untuk duduk di atas lantai yang begitu dingin. Jujur saja, lelaki itu membawaku kemari sudah tiga puluh menit yang lalu. Bahkan saat perempuan yang biasa menemaniku-pun belum terbangun.

Tiba-tiba saja, kenop pintu berkunci otomatis itu berbunyi. Daun pintu bergaya minimalis itu terbuka, memperlihatkan kepala sang pemilik dengan rambut yang tak beraturan dan dipaksa untuk menjadi satu ikatan. Ada seekor anjing yang mengikutinya, menempel selalu ke kaki pemilik.

“Oh Tuhan, kau mengagetkanku.” Itu kalimat pertama yang menyambutku. Lalu tatapan bingung dan menyelidik bagai scanner terarah penuh padaku.

“Maaf, kau mencari siapa?” Tanyanya dengan lembut. Nadanya berbicara bahkan begitu indah.

“Selamat pagi.” Lelaki yang mengantarku tadi, menyuruhku untuk memberikannya salam. Lengkap dengan bungkukan badan Sembilan-puluh derajat.

“Ya.” Jawabnya singkat, membalas salamku dengan anggukan kepalanya yang anggun.
“Aku membawa sebuah surat.”

“Untukku?”
“Sepertinya iya. Karena aku hanya disuruh untuk menunggu dan memberikan titipan itu setelah pintu ini terbuka.” Jelasku panjang lebar. Sepertinya ia wanita yang cerdas, ia langsung mengambil surat yang ada di genggamanku.

“Masuklah lebih dahulu. Tanganmu dingin sekali.” Ucapnya, menawarkan. Dalam hati, aku bersorak. Setidaknya aku tak merasakan dinginnya ubin lagi.

Aku duduk di sofa-nya. Melihat sekilas keadaan rumah. Sepertinya wanita ini hanya seorang diri. Tumpukan botol wine dengan tahun yang berbeda-beda menunjukkan sepertinya ia orang yang berkelas. Anjingnya ramah, langsung duduk di sampingku. Tangan mungilku, secara otomatis, mengelus kepalanya.

Ia membuka surat yang kubawa, saat ia menyiapkan minuman hangat untukku.

Halo, Hae Ra.
Ini masih kau, bukan?
Lee Hae Ra?

Mungkin kau belum berpikir siapa yang menulis ini
Mungkin kau juga berpikir bahwa aku terlalu kuno
Sampai-sampai harus menulis surat
dan menyuruh seorang gadis cantik mengan tarnya.

Aku titipkan dia.
Padamu.

Jangan kau biarkan dia terluka
Karena setidaknya ia telah menjadi malaikat sekaligus bidadari untukku
Yang menggantikanmu
Sudah sekitar lima tahun

Aku harus pergi
Hanya seminggu
Setelah itu aku akan datang
Memastikan ia tidak terluka
Juga menjemputnya.

Hanya sampai itu,
Jangan anggap jikalau memang aku mengganggu hidupmu sekarang.


Baiklah,
Kalau kau anggap seperti itu.
Aku minta maaf.

Tapi, kau tetap harus merawatnya.
Hanya seminggu.

Dia Na Ra.
Kim Na Ra.
Kau sudah tahu, bukan?
Siapa dia.

Kim Jong Dae

Sontak saja, seperti suara tercekik ia berteriak. Aku menolehkan kepalaku, lalu tersenyum tipis. Toh, aku tidak tahu siapa dia. Yang membuatnya terkejut. Aku hanya berpikir, bahwa ia adalah teman dari lelaki yang mengantarku tadi.

“Kau, Kim Na Ra?” tanyanya. Ia menyodorkan segelas coklat panas.
“Ya.” Jawabku. Aku meminum apa yang ia buat.

Tangannya tiba-tiba mengelus rambutku. Pelan. Dan kurasakan sesuatu yang sulit untuk aku dapatkan selama ini. Rasa puas, dan tenang?

“Tante, kau sedang apa?”
“Ah, maaf. Rambutmu cukup indah. Jadi aku mencoba untuk mengelusnya.”

“Ya. Memang ayahku pintar mencuci rambutku.”

Matanya berkaca-kaca. Kini tanda Tanya besar muncul di dalam benakku.

“Tante.”
“Ya?” Ia sedikit tercekat. Mungkin karena aku memanggilnya ‘tante’

“Nama anjingmu siapa?”

Kim Jong Hee Pov.

Kalian akan mengatakan, kalau keluargaku benar-benar harmonis? Jangan, jangan katakan itu. Karena itu membuatku muak.

“Cinta, kau ada pelanggan.”

“Berhentilah memanggilku seperti itu.” Protesku. Aku langsung berdiri sigap dibalik bilik bermeja tempat pemesanan.

“Kau mau pesan apa?” Tanya pelanggan itu pada lelaki disampingnya. Ya, sepertinya mereka sepasang kekasih.
“Aku hanya memesan Americano.” Jawabnya singkat, lalu kembali men-scroll up layar handphonenya.

Aku pikir dia lelaki yang tidak romantis. Tidak perhatian, dan begitu dingin. Bukan hak-ku untuk menilai orang dari luarnya saja.

“Baiklah, kami pesan dua Americano dan chocolate cake satu.”
“Oke. Tunggu sebentar.”

“Kau butuh bantuanku?” Tawar lelaki yang sedari tadi hanya mengamatiku dari salah satu bangku pelanggan.

“Kau benar-benar mau membantuku?”
“Tentu saja.”

“Baiklah. Tolong buatkan dua gelas Americano. Aku akan menyiapkan kue coklat-nya.”
“Siap.”

Itu dia. Sosok lelaki yang hangat, tidak pernah acuh tak acuh.  Selalu mengerti, apa yang membuatku marah, kesal, dan lelah. Ia selalu membuka tangannya, untuk membantuku juga menjadi sasaran untuk meredam amarahku.

“Terima kasih.” Aku mengucapkannya sembari memegang kedua pundaknya.

Ia tersenyum.

Ya, dia lelaki yang luar biasa. Menurutku. Bahkan tidak sebaik ayahku. Kini ia sudah memiliki kehidupannya yang baru. Ia menikahi seorang anak dari pengusaha kaya. Setelah meninggalkan ibuku, juga memutuskan untuk berpisah dengannya.

Setelah beberapa tahun, Ibuku meninggal. Ia terlalu bekerja terlalu keras. Juga mungkin karena luka yang ditinggalkan ayahku terlalu dalam.

Dan aku, masih memiliki sosok laki-laki lain. Kim Jong Dae. Aku sulit untuk menjelaskannya. Dia lebih muda dua tahun dariku, juga dia adalah lelaki yang tinggal satu atap denganku. Dia adikku. Untung saja aku masih menganggapnya adikku. Setelah kejadian itu terjadi, yang menurutku juga sebuah kesalahan. Menuntutku untuk selalu bersabar menahan amarah.

Flashback ON

Aku memukulinya. Habis-habisan. Entah itu menggunakan alat dapur. Atau bantal. Bahkan lampu meja sepertinya juga ikut terlempar.

Setelah lelah. Bukan, lebih tepatnya setelah ada luka yang membekas di mukanya. Aku berhenti. Rumah, berantakan. Ada beberapa benda yang pecah. Itulah kekuranganku hingga saat ini. Terlalu sulit untuk mengemas emosiku sendiri.

Jong Dae duduk bersimpuh di lantai. Sedangkan aku, masih dalam ekspresi lelah bercampur dengan kesal dan dibumbui beberapa tetes air mata. Duduk dan tanganku berdarah karena menggenggam bingkai foto yang telah pecah.

“Noona.” Ia akhirnya membuyarkan lamunanku. Pelarian dari kekesalan juga rasa kecewaku.
“Noona.”
“Kumohon bicaralah.” Pintanya. Ia begitu takut, bila sampai aku tak mengucap satu patah kata pun. Ia takut aku memendam kekesalanku sendiri dan malah menjadi perempuan dewasa yang depresi.

“Sebentar.” Aku akhirnya berbicara.
“Noona.” Panggilnya lagi.

“Diamlah dulu.” Ucapku pelan.

Seperti ada angin kelam yang menghempas badanku. Angin kesedihan yang begitu dingin dan membuatku merasakan kesendirian akan luka itu kembali. Sakit, dan begitu perih. Ingin sekali aku berteriak, sebenarnya. Tapi sepertinya ada yang menahannya di tenggorokanku. Membuatku hanya bisa menangis keras dan bersuara seperti orang yang tercekik.

Aku memukul dadaku. Terus-menerus. Terlalu sakit. Pukulan yang kuberikan tidak begitu sakit dibandingkan dengan pergolakan batin yang ada dalam diriku. Jong Dae tentu saja cemas. Ia mendekatiku lalu memelukku erat. Padahal aku begitu murka hingga pelukannya tidak berpengaruh sama sekali.

Ia terus memelukku. Mendekapku, dan menungguku hingga tenang. Untung saja aku bisa tenang. Sepuluh menit setelah aku merasakan sekat di tenggorokanku. Mataku masih menerawang, entah apa yang aku lihat. Kedua kakiku tertekuk, dan aku terduduk di atas lantai. Bersama Jong Dae yang berusaha membersihkan amukanku.

Jong Dae duduk dan menghadap ke arahku. Tangannya kembali menenangkanku. Mengusap pelan wajahku yang berbekas tetesan air mata. Lalu ia menggapai tanganku yang terluka. Membersihkannya lalu mengobatinya.

“Noona.” Ia memanggilku kembali. Setelah itu ia meniup pelan luka di tanganku yang sangat perih.
“Ayo kita ke rumah sakit. Tanganmu terluka terlalu dalam.”

Aku menarik tanganku. Aku sedang tak ingin kemana-kemana.

“Baiklah.” Jong Dae kembali meraih tanganku.

“Noona. Kau tahu, betapa aku sangat takut bila kau seperti ini lagi.”
“Aku tahu. Noona memiliki luka itu, karena ayah bukan?”

Ucapannya membuatku sedikit marah. Aku kembali menarik tanganku dan mencoba bangkit dari dudukku. Namun Jong Dae mencegahnya. Ia menarik pundakku, dan tanganku kembali dalam genggamannya.

“Baik, baiklah. Aku tidak akan seperti ini lagi.” Ucapnya tulus.

“Noona, anakku juga perempuan. Hae Ra sedang berusaha untuk menjaganya.”
“Lalu, bagaimana jika aku hanya diam saja?”
“kau mau anakku, juga keponakanmu, memiliki luka yang sama denganmu?” Kata Jong Dae. Membuatku harus menatap wajahnya. Aku berpikir.

Mungkin memang adikku sudah pantas untuk menjadi Ayah. Aku berharap semoga setelah itu, ia lebih dewasa, dan lebih dapat melindungi mereka. Dua perempuan yang nantinya akan mengisi hari-harinya, lebih sering daripada denganku.

“Noona, tanganmu sudah kubalut dengan kain. Mungkin ini akan sangat perih bila terkena air.”

Jong Dae memasukkan semua obat-obatan kedalam kotaknya kembali. Ia bangkit dan berdiri. Kemeja yang tadinya rapi, kini sudah morat-marit kesana-kemari.

“Jong Dae.” Aku memanggilnya pelan.

Mungkin aku sudah terlalu lama memendam kekesalanku. Amarahku. Bahkan kekesalan kecil-pun bisa saja sangat berpengaruh padaku, jika hobi memendam itu masih kuteruskan. Kini aku tahu, adikku sudah dewasa. Sudah pantas, jikalau aku butuh pundaknya untuk bersandar. Walaupun nanti pundaknya akan terbagi dengan perempuan yang lain. Aku tak apa.

“Bawa dia kemari. Jangan biarkan dia tinggal sendiri.”
“Noona, kau benar-benar membolehkanku membawa Hae Ra kemari?”

“Bawa dia, sebelum aku mengubah pikiranku.”

“Gumawo Noona.” Ia mengucapkannya dengan semangat. Mungkin karena ia terlalu bahagia.

Aku berdiri. Aku ingin mengistirahatkan badanku sebelum aku kembali ke rutinitasku. Membuat kopi dan makanan ringan seperti biasanya. Aku berbalik. Dan kurasakan badan Jong Dae memelukku dari belakang. Aku benar-benar tenang, walaupun ia baru saja membuat kesalahan yang sulit untuk dimaafkan bila dinalar.

“Noona, terima kasih.”
“Jangan kau tangisi sendiri, Noona. Aku bisa diajak untuk menemanimu, setidaknya kau tidak akan menangisinya sendiri.”

Aku berbalik. Pelukannya terlepas. Aku mengelus pelan kepalanya. Aku benar akan keputusanku, kubiarkan perempuannya tinggal di rumah kami. Dengan seorang bayi perempuan yang masih dalam kandungan orang yang dikasihinya.

Kau tahu, mengapa aku awalnya tidak menyetujui mereka. Aku memiliki, sebentar biar aku hitung terlebih dahulu. Ada banyak pertanyaan yang mucul diikuti dengan rasa cemas. Sekurang-kurangnya ada tiga alasan kuat, mengapa awalnya aku tidak merestui mereka. Mereka masih sama-sama muda. Alasan selanjutnya, Jong Dae belum memiliki pekerjaan dan gaji yang mumpuni. Terakhir, perempuannya adalah seorang model. Bukan maksudku untuk menyalahkan ‘model’ tapi permasalahan yang kutakutkan ternyata terjadi juga.

“Jong Dae.” Ucap Hae Ra, adik ipar non-resmiku.
“Wae?” Jong dae menjawab. Ia masih sibuk mengajak Na Ra bermain.

“Aku mau pergi ke Jepang.”
“Jepang?!” Jong Dae menatap tak percaya pada Hae Ra.

“Ya, setelah kurasa waktu cuti setelah melahirkan cukup. Aku ingin kembali ke dunia itu. Aku mendapat tawaran bekerja disana.”

“Berapa lama? Tiga hari, atau seminggu?”

“Kupikir itu memakan waktu satu bulan.”
“Kau bekerja atau menetap disana?!” Jelas, Jong Dae meninggikan nada bicaranya.

“Jong Dae, kumohon. Aku sudah terlalu lama tidak muncul kembali. Mana mungkin aku bisa lebih lama lagi.”
“Kau juga, belum memiliki pekerjaan yang tetap.” Tambahnya.

Jong Dae termakan amarahnya sendiri. Mengapa keturunan ibu sama-sama tidak bisa mengemas emosinya sendiri? Aku dan Jong Dae sama saja. Hanya aku yang lebih parah.

“Baiklah! Pergi saja.”
“Kau yakin? Memperbolehkan aku pergi? Aku akan kembali sebulan lagi.” Kata Hae Ra, menjanjikan.

“Pergilah. Tak perlu kembali.”
“Jong Dae.”

“Pergilah, tak masalah.”

Hati Hae Ra tersakiti. Kata-kata Jong Dae, yang menyuruhnya untuk tak kembali. Membekas dalam benaknya. Ia sudah memakan semua kalimat menyakitkan Jong Dae itu. Sepertinya ia sudah meniatkan diri untuk tak kembali.

“Kau gila apa?!” Teriakku, saat Jong Dae datang ke café malam hari. Semua pelanggan sudah pergi.
“Jangan kau teriaki dia seperti itu.” Kata Han Bin menasehati. Dia lelaki yang selalu menyuruhku untuk lebih sabar lagi.

“Oke. Baiklah. Lalu kau mau bagaimana Jong Dae?” aku bertanya kembali pada Jong Dae.
“Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua. Sini, berikan Na Ra padaku. Aku akan mengajaknya jalan-jalan ke luar café.” Dirasakannya pembicaraan itu akan lebih intens, Han Bin mengundurkan diri dari pembicaraan.

“Entahlah. Aku masih cukup kesal Noona.” Ya memang, masih tujuh jam setelah Hae Ra berpamitan untuk pergi.

“Jong Dae, kau sudah dewasa. Pikirkan, apa yang kau mau sekarang. Kau ingin dia kembali, atau memnag kau membiarkannya pergi?” aku mencoba mengembalikan jalan pikirannya.

“Biarkan dia selama satu bulan, setelah kontrak pekerjaannya selesai. Dia seharusnya kembali.”
“Jika tidak?” aku bertanya. Lugas.

“Baiklah. Aku akan menghubunginya.”
“Ya. Aku akan mendukung keputusanmu. Tapi jangan sampai buat Na Ra menjadi korban juga. Sama sepertiku.” Aku mengucapnya dalam kesadaran penuh. Berharap ia akan berpikir lebih panjang lebih panjang dan lebih panjang lagi dari sebelumnya.

“Jangan termakan dengan kekesalanmu sendiri, Jong Dae. Kau sudah menyembuhkanku, dan sekarang aku baik-baik saja. Jangan sampai kau malah sama sepertiku yang dulu.”

“Baiklah, Noona. Aku mengerti. Aku akan pulang, kau mau pulang bersamaku atau kau mau bersama Han Bin?”

“Pulanglah dulu, aku amsih harus membersihkan lantai atas.”
“Oke. Hati-hati di jalan Noona. Aku akan menyuruh Han Bin menemanimu.”

“Ya. Terima kasih.”

Kalau aku tak salah memperhitungkan, ini sudah hampiri lima tahun. Semua pesan dari Jong Dae, juga dariku tidak ada yang dibalas. Panggilan yang ditujukan padanya malah dialihkan. Jong Dae pernah menyusulnya hingga ke Jepang. Mencari alamat tempat ia kerja empat tahun yang lalu. Tapi tidak ada sosoknya disana.

“Kau tidak menemukannya?” tanyaku, baru saja ia pulang. Diikuti Han Bin dibelakangnya, menjemputnya di Bandara tadi.

“Kau pikir Jepang hanya seluas sekolah Na Ra?” jawabnya ketus.
“Na Ra sudah tidur?”
“Ya, dia sudah tidur dua jam yang lalu. Katanya ia mau menunggumu, tapi aku menyuruhnya untuk tidur terlebih dahulu.”

“Terima kasih, Noona.” Jong Dae masuk ke dalam kamar Na Ra. Mungkin ingin memberikan kecupan malam di dahi Na Ra.

“Apa dia tak menemukannya?” tanyaku setelah Han Bin terduduk di sebelahku.
“Sepertinya tidak. Raut mukanya menunjukkan itu.”

“Kau sudah bertanya padanya?” tanyaku lagi.
“Apa aku harus menanyakannya saat mukanya sudah seperti itu?”

Author Pov.

“Noona!”

Ya ampun dia kembali lagi. Tiada habisnya ia mengikutinya. Berharap pintanya segera ditaati.

“Kenapa kau mengejarnya terus?” Tanya Han Bin, tenang. Jong Dae menemukan peluang, ia berharap lelaki kakaknya akan membantunya.

“Hyung.”
“Jangan dengarkan dia.”

“Hyung. Kau harus membantuku sekali ini saja.”
“Berhentilah, Jong Dae.” Kakaknya datang dan duduk di samping Han Bin. Menjaganya dari bisikan pengganggu.

“Hyung. Tolong rawat Na Ra.”
“Maksudmu?” Tanya Han Bin.
“Sudah kubilang jangan dengarkan dia.”

“Aish, Noona!”
“Ya ampun, kau meneriakiku.” Kakaknya terkaget.

“Hanya selama seminggu. Aku harus pergi ke Busan untuk mengurus proyek perusahaan.” Tambah Jong Dae.

“Bukankah Na Ra biasanya ikut denganmu, Jong Hee?”
“Ya. Kalau ada Jong Dae.”

“Noona, apa bedanya itu?” protes Jong Dae.

“Oppa, kau tidak merasakannya? Dia lebih kasar dari anak seusianya.” Ucapku.
“Lihatlah bagaimana dia berbicara.” Tambahnya.
“Dia malah menyuruh kita untuk menjaganya.” Jong Hee langung melingkarkan lengannya pada lengan Han Bin dan bersamaan dengan kepalanya yang bersandar.

“Itu karena dia terlalu mirip dengan bibi-nya.” Jong Dae membela anaknya.

Na Ra berlarian ke semua sudut café. Membuat Jong Hee semakin cemas dan menutup mukanya dengan lengan Han Bin.

“Noona, Hyung. Kumohon.”
“Tidak mau.” Jawab Jong Hee lantang. Menolak mentah-mentah.

“Noona!”

Dalam perdebatan kedua kakak beradik itu, Han Bin mengeluarkan handphonenya. Ia membuka sebuah kotak percakapan. Ada sebuah alamat apartemen tertulis disana. Han Bin menyodorkannya pada Jong Dae.

“Alamat siapa ini?” Jong Hee langsung menarik handphone Han Bin kembali.
“Itu alamat Hae Ra.”

“Hae Ra?” Jong Hee berusaha memastikan apakah ingatannya masih ada tentangnya.
“Ya.”

“Bagaimana kau mendapatkan ini?” Tanya Jong Hee penuh selidik. Mungkin saja Han Bin bertukar nomer telepon dengan teman seprofesi Hae Ra. Bukankah mereka pasti cantik-cantik.

“Aku mendapatkannya dari temanku. Kau tahu, aku masih bekerja dalam lingkungannya.”
“Bukan dari seorang perempuan.” Tambahnya sembari menrpuk pelan rambut Jong Hee.

“Datanglah kesana. Bawa Na Ra juga.” Usul Han Bin. Jong Dae masih membeku karena mendengar nama itu lagi.

“Ya. Kau bisa membawanya pada ibunya.” Jong Hee menjulurkan handphone Han Bin pada Jong Dae yang masih enggan untuk membacanya.

“Kau tidak mau menemuinya?” Tanya Jong Hee penuh kehati-hatian.
“Anni, aku tetap harus membawanya pada ibunya. Dan itu sebuah keharusan.” Jong Dae mengirim alamat itu ke handphonenya. Ia sudah mengantongi alamat seorang yang dirindukannya.

“Aku harus menjemput Na Ra di sekolah. Noona, biar aku yang menjelaskannya pada Na Ra.”
“Ya. Aku tahu. Bawa keponakanku dengan hati-hati. Jangan sampai dia terluka.”

“Apa dia akan membawa Na Ra pada ibunya?” Tanya Han Bin pada akhirnya.
“Entahlah.”

Langit sudah berganti warna. Kini gelap dan terlihat cahaya satu demi satu bertebaran di atas sana. Jong Hee sudah tertidur, bukan di kamarnya. Ia tertidur di atas sofa setelah menonton acara musik kesukaannya. Na Ra masih terjaga, ia keluar kamar lalu mematikan televisi setelah ia melihat bibi-nya sudah tertidur.

“Bagaimana, katanya dia mau menonton hingga selesai? Ini belum selesai.” Ocehnya. Ya, bisa terlihat ia sangat mirip dengan bibinya.

Gadis kecil itu melangkahkan kaki masuk ke kamar ayahnya. Lampu kamarnya masih menyala.

“Kau belum tidur, Appa?”
“Ya. Belum mengantuk.”

“Bibi masih tidur di luar. Appa harus memindahnya. Nanti ia kedinginan dan demam. Dia pasti akan menyuruhku untuk membukakan obatnya.”

“Na Ra, kau tidak boleh begitu. Bibi hanya meminta bantuanmu.”
“Arrasseo.”

“Ah, Na Ra. Ayah mau bilang sesuatu.”

“Ada apa?” Gadis kecil itu berdiri tepat di depan ayahnya yang sedang duduk di kursi dalam kamarnya. Ayahnya mengelus pelan rambutnya, juga pundak dan punggungnya.

“Besok, ayah mau mengajakmu ke sebuah rumah.”
“Rumah?”

“Ya, rumahnya besar. Dan bagus dan rapi. Kau pasti suka.”
“Memang aku boleh tinggal disana?”

“Boleh. Maka dari itu, besok pagi bibi Jong Hee akan membantumu mengemas pakaianmu.”
“Benarkah? Aku bisa tinggal disana?”

“Ya. Kau bisa tinggal disana selama seminggu.”
“Bersama Appa?”

“Ya? Maaf Na Ra, Appa harus pergi ke Busan. Appa harus kerja kesana. Hanya seminggu. Bagaimana, kau tak apa?”

“Baiklah. Tak apa. Aku sudah besar, Appa.” Goda Na Ra. Dibalas senyum oleh Jong Dae.

“Tidurlah, besok Appa akan mengantarmu pagi hari.”
“Oke, Appa. Selamat malam.”

“Selamat malam. Mimpi indah.”
“Kau juga, Appa.”

Paginya, Na Ra sibuk sendiri di dalam kamarnya. Menarik berbagai baju yang kiranya akan dipakainya dalam seminggu ke depan. Ia juga memilih beberapa boneka untuk dibawa. Ayahnya mendekatinya, masih dengan rambut yang berantakan.

“kau sendiri Na Ra? Bibi Jong Hee dimana?”
“Dia masih tidur Appa.” Protesnya.

Jong Dae membuka pintu kamar Jong Hee yang bersebelahan dengan kamar Na Ra. Tak ada raga Jong Hee terbaring disana.

“Aku tidak menemukan bibi-mu di kamar Na Ra.”
“Bibi tidur di depan televisi.”

Jong Dae hanya tinggal sedikit mendongak, ia sudah bisa melihat Jong Hee masih tertidur lelap.

“Bibimu masih tidur. Mungkin lelah. Kau mau Appa bantu mengemas barangmu?”
“Tidak Appa. Aku bisa. Appa mandi saja.”

“Memang kau sudah mandi?”
“Belum.” Jawab Na Ra singkat. Ia masih sibuk menarik bonekanya.

“Ayo, kau mandi dulu.” Jong Dae menggendong Na Ra.
“Ayo kita mandi dengan air hangat.”

Bubble?” Tanya Na Ra.
“Ya, Bubble soap juga ada.”

Mereka sudah siap. Bukan bermaksud untuk tidak berpamitan pada Jong Hee. Tapi memang perempuan yang berumur dua-puluh-enam ini bagai mayat yang bernapas. Ia tidak bergerak tapi badannya masih hangat dan dia masih bernapas.

“Kenapa Bibi sulit dibangunkan?”
“Ya, mungkin dia lelah.” Jong Dae bangun dari duduknya setelah mencoba membangunkan kakaknya.

Mobil itu melaju di tengah kesunyian lingkungan rumah. Masih pagi. Udara di luar juga tak segan untuk menyebarkan hawa dingin dan sunyi. Sebuah gedung tinggi itulah, mobil itu terhenti. Sebuah apartemen di lantai dua-belas. Dengan nomer 456 menjadi tujuannya.

“Appa, kau langsung ke Busan?”
“Ya, Appa harus naik pesawat pagi sekali.”

“Apa aku tak apa bila tinggal disini?”
“Tunggu.” Jong Dae merogoh saku dalam jasnya. Ada sebuah amplop putih.

“Peganglah Na Ra. Saat pintunya terbuka, berikan saja ini pada pemiliknya.”
“Appa, kau tak mau ikut masuk?”
“Bagaimana ya. Appa harus pergi sekarang.”

“Baiklah. Aku akan menunggu disini.”
“Appa pergi.” Jong Dae mengelus pelan kepala anaknya. Llau melangkah pergi menjauhi Na Ra. Namun ia berbalik. Memeluk Na Ra sekali lagi, ini pertama kalinya ia meninggalkan Na Ra dalam waktu lama. Ditambah ia bukan bersama Jong Hee. Tapi seseorang dari masa lalunya.

“Jangan lupa untuk menyapanya. Membungkukkan badan, dan sopan padanya.”
“Baik Appa. Hati-hati.”

“Ya. Appa akan menelepon ke handphonemu jika sudah sampai Busan.”
“Ya.”

Jong Dae meninggalkan gadis itu sendiri. Na Ra tidak tahan untuk menunggu dan berdiam diri terlalu lama. Ia mencoba mengetuk pintu tebal itu. Tak akan terdengar sampai dalam. Ia meloncat sekuat tenaga, melihat ada tombol di samping pintu. Sama seperti di café Bibi Jong Hee. Mungkin apabila ditekan, pintunya akan terbuka. Namun, ia tak sampai. Ia masih terlalu pendek.

Mobil super mewah itu terhenti di depan café Jong Hee. Na Ra ingin keluar, tapi sang sopir menyuruhnya untuk menunggu di dalam. Sopir itu keluar dengan pakaian serba hitam, dan serba panjang. Lengkap tertutup dari atas hingga bawah.

“Jong Hee.”
“Eoh, Wae?” Tanya Jong Hee.

“Kau mengenalnya?” Tanya Han Bin.

“Siapa dia?” Jong Hee malah balik bertanya.
“Apa dia salah satu investor di café-mu?”
“Bukan. Aku tidak pernah membuat kontrak dengannya.”

“Siapa dia?” Tanya Han Bin.

Ponsel Jong Hee bergetar dalam saku celananya. Nomer lama, alam sekali. Dan ia sangat mengenal siapa pemilik nomer itu.

“Oppa, tolong jaga café ini sebentar. Sepertinya aku mengenalnya.”
“Kau butuh ditemani atau tidak?”

“Tidak, Oppa. Tak apa.” Tolaknya halus.

Jong Hee berjalan mendekati orang serba tertutup itu. Ia mengenalnya, dalam bayangannya ia ingin segera mendorong perempuan itu hingga tengah jalan. Membiarkannya tertabrak kendaraan lain. Namun, ia tidak bisa melakukannya. Ia malah ditarik paksa untuk masuk ke dalam mobil itu.

“Ya ampun. Bagaimana kau bisa menarikku?!” oceh Jong Hee. Ia menoleh ke belakang. Didapatinya Na Ra duduk di bangku belakang.

“Eonni.”
“Kenapa?” Jong Hee mencoba menahan kekesalannya.

“Eonni, Na Ra ada di depan rumahku tadi pagi.”
“Lalu?”
“Kau serius?”

“Kau tanya pada siapa? Padaku?”
“Seharusnya kau tanya pada Jong Dae. Bukan padaku.” Tambah Jong Hee.

“Apa dia benar-benar anakku?”

Sontak Jong Hee menatap Na Ra.
“Na Ra, kau bisa menutup telingamu sebentar? Bayangkan kau sedang bernyanyi tanpa ada suara bibi yang mengganggumu menyanyi.”

Na Ra mengangguk. Langsung melakukannya.

“Kau ibunya bukan? Bagaimana kau tega mengatakan itu.”
“Eonni, bukan itu masalahnya.”

“Bukan itu masalahnya?! Kau ini masih waras atau tidak?”
“Bagaimana aku bisa merawatnya?”

“Kau malah bertanya padaku, kau ini ibunya.”
“Eonni.”

“Ahjumma, jangan berteriak pada Bibi Jong Hee.” Protes Na Ra dari bangku belakang.
“Tak apa Na Ra. Dia hanya ingin mengajakku bernyanyi tapi Bibi sedang lelah sekali. Tolong tutup telingamu, Na Ra.”

“Rawatlah sebisamu. Aku tak tahu, mengapa Jong Dae belum member tahu Na Ra kalau kau ibunya.” Jong Hee sudah mulai tak nyaman berada di mobil yang sama dengan Hae Ra.

“Eonni.” Kini suara Hae Ra lebih pelan.
“Mengapa ia tak menemuiku? Padahal dia bisa memberikannya padaku secara langsung, bukan lewat surat.”

“Mungkin karena dia tak mau menemuimu. Lagi.” Jong Hee benar-benar ingin keluar dari mobil itu. Ia mengelus pelan lutut gadis mungil itu.

“Sudah cukup bernyanyinya. Na Ra, maafkan Bibi. Karena banyak yang minum dan makan di café Bibi, aku jadi tidak bisa bermain denganmu. Tak apa kan? Kau tak marah?”

Na Ra menggeleng.

“Bermainlah dengan tante ini ya. Baik-baiklah. Namanya Hae Ra. Oke?” ditambah tatapan sinis Jong He ke arah Hae Ra diakhirnya.

Na Ra mengangguk lagi.

“Jagalah dia baik-baik. Awas saja kalau sampai terluka.” Ancam Jong Hee.

Banyak yang Hae Ra lalui. Membuatnya sadar, jikalau Jong Dae pasti lebih repot dan lelah untuk merawat Na Ra. Sudah lima tahun Jong Dae dengan sabar merawat gadis mungil mereka. Menjadikannya gadis yang cantik.

Hingga seminggu telah berlalu, walau Hae Ra dan Na Ra belum sedekat antara Na Ra dan Bibi Jong Hee. Hae Ra mengajak Na Ra untuk pergi ke Bandara. Membuat kejutan kecil untuk ayahnya. Na Ra tentu girang, mengetahui ada ‘Appa’ dalam rencana itu.

“Ayo kita pergi, Na Ra.” Ajak Hae Ra. Setelah memakaikan mantel tebal untuk Na Ra agar tak kedinginan.

Bandara sama seperti biasanya. Padat. Biasanya Hae Ra yang akan berjalan dan mencari papan nama. Sekarang ia harus mencari pemilik nama ‘Jong Dae’ itu dan berdesakan dengan penjemput lainnya. Sampai akhirnya ia melihat sosok lelaki jangkung dan mancung itu. Model rambutnya telah jauh berbeda dari lima tahun yang lalu. Gayanya berpakaian kini lebih rapi.

“Jong Dae.”

Langkah sang pemilik nama itu terhenti. Setahunya, Han Bin dan Jong Hee tidak bisa menjemput karena Jong Hee menemani Han Bin dalam konser mini-nya. Lalu siapa yang memanggilnya.

Perempuan itu, masih datang mendekatinya dan tersenyum lebar. Mengapa ia masih tetap manis. Menimbulkan rasa rindu yang beriringan dengan degup jantungnya. Namun jujur, itu pasti lebih lemah dari lima tahun yang lalu.

“Jong Dae.”
“Hae Ra? Kenapa kau disini?”

“Aku? Aku mau menjemputmu.”
“Lalu dimana Na Ra?”

“Na Ra? Na Ra tadi disampingku.” Wajah Hae Ra kini berubah jadi panic. Ditambah Jong Dae yang langsung membanting kopernya setelah tahu Hae Ra terpisah dengan Na Ra.

“Kau terakhir bersamanya dimana?!” Jong Dae bertanya setengah berteriak. Dalam keadaan panik seperti ini, ia berlari menuju tempat informasi. Meminta petugas untuk mencari anaknya yang hilang. Di Bandara yang sebesar ini.

Tak lupa ia mencoba mengetikkan nomer telepon Jong Hee. Ia begitu panik dan butuh ditemani. Namun Jong Hee sedang ada di tengah konser. Mana mungkin ia mendengar dering teleponnya.

“Bagaimana ini Jong Dae?”
“Sudah kubilang untuk menjaganya dengan hati-hati. Begini saja kau malah kehilangannya.”  Ia tak bisa menahan rasa paniknya. Ia terus berlari kesana kemari. Berlawanan arah dengan Hae Ra. Hingga akhirnya pihak informasi menginformasikan lagi, bahwa ditemukan gadis kecil dan sudah dibawa ke sumber suara.

Jong Dae berlari, begitu juga Hae Ra.

Hae Ra sampai lebih dulu, disusul Jong Dae beberapa detik setelahnya. Benar, dia Na Ra. Gadis itu berlari dan melewati Hae Ra. Memeluk Jong Dae dan menangis sekeras-kerasnya. Mana bisa gadis kecil itu ditinggal di dalam hiruk pikuk orang berlaluan. Masih untung ada orang yang melihatnya dan langsung melaporkannya.

“Tak apa, Appa sudah disini.” Jong Dae mencoba menenangkan Na Ra.

Jong Dae menggendong Na Ra dan mengucapkan terima kasih pada orang yang menemukannya. Ia berjalan mengambil kopernya kembali. Jong Dae juga ingin cepat pulang.

“Jong Dae, maafkan aku.” Ucap Hae Ra saat Na Ra sudah sedikit tertidur.
“Sudahlah. Setidaknya Na Ra tidak terluka.”

Hembusan napas Jong Dae kini panjang. Sepertinya ia sudah memikirkan sesuatu dalam-dalam, dan ingin segera menyampaikannya.

“Hae Ra.”
“Ya?”

“Biarkanlah aku hidup bersama Noona dan Na Ra. Hanya kita bertiga. Bukan, akan berempat jika Noona akan menikah nanti.”

“Jong Dae. Aku-“

“Berhentilah Hae Ra. Kau bisa berhenti pada kami, tapi kau tidak bisa berhenti pada duniamu sendiri. Kau bisa meninggalkan kami, tapi kau tak bisa meninggalkan semua pekerjaanmu.”

“Jong Dae.”

“Jadi, jalani hidupmu sendiri Hae Ra. Aku tahu, gemerlap duniamu terlalu mengerikan buat kami. Selamat menjalani hidupmu.”

“Jong Dae.”

“Aku sudah sampai. Kau bisa berhenti di pemberhentian bis selanjutnya.” Ucap Jong Dae, untuk perpisahan mereka.

Na Ra masih dalam gendongan Jong Dae. Bis yang membawa Hae Ra sudah pergi menjauh.

“Appa.”
“Ya. Kau belum tidur?” jawabnya setelah menahan kesedihannya.

“Itu tadi Eomma ya?”
“Na Ra.” Jong Dae menurunkan Na Ra dari gendongannya. Berlutut dihadapannya.

“Sedari kemarin dia yang mengikatkan rambutku selain Bibi Jong Hee. Dia juga memilihkan baju untukku.”

“Na Ra.”

“Apa Eomma pergi, Appa?” Na Ra menangis sejadi-jadinya. Keras, hingga tak ada jeda untuk bernapas, membuatnya sedikit tersengal. Jong Dae tak bisa berkata apa-apa. Tak ada kalimat yang pas untuk menjelaskannya saat ini. Ia hanya bisa memeluk erat Na Ra. Memintanya untuk sedikit tenang.

Jong Hee dan Han Bin baru saja menyelesaikan meet and greet para penggemar, datang dan melihat adegan itu. Ayah dan anak menangis bersama. Entah apa alasannya, Jong Hee langsung berlari dan Han Bin mengikutinya.

“Kenapa?” Jong Hee melepas pelukan Jong Dae, lalu memeluk Na Ra erat.

“Bibi Jong Hee, Eomma.” Ucap Na Ra di tengah isakannya.

Jong Hee tahu apa maksudnya. Ia langsung memukul lengan Jong Dae, tidak terlalu keras. Jong Dae telah bersilah di atas tanah. Ikut menangis walau tak sekeras Na Ra. Yang Han Bin lakukan, hanya bisa menenangkan Na Ra dengan mengelus pelan punggungnya.

“Kau berbicara apa padanya?!” protes Jong Hee.

Jong Dae tetap menangis. Begitu-pun Na Ra.

Eomma
Jikalau kau menerima surat ini,
Jangan lihat bagaimana aku menuliskannya
Karena baru saja aku bisa menulis

Bibi Jong Hee juga membantuku
Tapi sepertinya Bibi Jong Hee akan segera pergi dari rumah
Paman Han Bin ingin sekali membawanya pergi
Sepertinya rumahnya lebih indah

Maka,
hanya aku dan Appa
Hanya berdua.

Mungkin aku bisa menyuruhmu kembali
Tapi aku yakin itu tak mungkin
dinginnya sungai Han
Malah memrenggutmu dari sisiku

Kim Na Ra

3 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Our Little Babe (Oneshot)

  1. Huft.. Sedih kak.. Nyesek juga
    Walau sempet bingung di awal” tapi makin kesini aku ngerti kok..

    Duhh., pass baca surat yg di akhir itu yg dari nara gx tau kenapa ini ada aliran kecil di pipiku, 😢😢

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s