[EXOFFI FREELANCE] Pervert Sehun (Chapter 6)

pervert-sehun-5

Title :

Pervert Sehun #6

Author :

Kusumaningpark99

Leght :

Chapter (Perhatikan perubahan leght)

Genre :

Romance, Comedy, Absurd, Marriage Life etc

Rating :

PG 17

Main Cast :

  • Oh Sehun (EXO)
  • Kwon Yoora (OC)

Support Cast :

  • Xi Luhan
  • Kim Jennie (BLACKPINK)
  • Other

Disclaimer :

Story is mine, cast belong to owner except OC. Please dont’t be a plagiator.

My Blog :

https://Kusumaningpark99.wordpress.com

Recomended Song :

  • Davichi – This Love
  • Ailee – Ice Flower
  • BLACKPINK – Whistle
  • A Pink – Remember

Kwon Yoora

Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jennie

Don’t Be A Plagiator~~

Don’t Be A silent Readers~~

WARNING! Ingat rating Brow!!!

Happy Reading~~

–Author POV—

Chapter sebelumnya

“permisi, ada apa ini?”

“Sehun? Yoora?”

“Kim Jennie?”

“Kim Jennie?”

PERVERT SEHUN #6

 

“ya, anyheong! Bagaimana kabar kalian? Kudengar kalian telah menikah. Chukkae!” Sehun-Yoora hanya melemparkan senyum canggung kearah wanita anggun dengan style fashionable itu. Bagaikan de javu, pertemuan mereka berdampak sulit bagi Yoora yang memasang wajah datar, ia seperti tak suka akan kehadiran wanita yang mereka panggil ‘Kim Jennie’ itu.

“ya, benar. Kami baru saja menikah.” Jawaban Sehun memberikan reaksi tersendiri pada wanita manis yang berkulit sedikit gelap itu.

“maaf, aku tidak bisa menghadiri acara pernihakan kalian.” Kalimat itu membuat Yoora menatap kearah Jennie dengan tatapan tak bisa diartikan. Yoora menatapnya lama denga raut datar yang sangat kentara, seperti wanita bernama Jennie itu memberikan kenangan terburuk yang tak pernah ingin ia ingat lagi.

“tidak apa-apa. Kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu.” Lagi-lagi Sehun yang menjawabnya. Jennie tersenyum kecut, lalu berubah pada ekspresi awalnya.

“kalian mau membeli dress ini?” tunjuknya pada dress abu-abu yang dibawa salah satu pelayan. Sehun hanya mengangguk, sedang Yoora menatap kearah lain.

Perasaan Yoora campur aduk, antara kesal, bergejolak dan sesak di dalam hatinya. Kenangan pahit itu kembali berputar di otaknya, bagai roll film yang memutar kejadian ulang pada masa lampau. Anehnya, melihat wajah gadis bernama Jennie itu benar-benar membuatnya muak. Dasar wanita munafik!

“tidak, aku mau pulang.” Setelah berkata seperti itu, Yoora langsung meninggalkan Sehun dan Jennie yang menatap kepergiannya dengan alis mengernyit.

“maaf, sepertinya aku tidak jadi membelinya.”

“iya, gwaenchana.”

“aku pergi dulu, anyheong!”

ne, Anyheong!”

“……”

‘kita bertemu lagi Kwon Yoora.’

“yak! Kau ini kenapa? Yak, Kwon Yoora!” teriak Sehun sambil berusaha mengejar Yoora yang telah berjalan cepat.

“lepas!” mata Yoora berkilat, tangannya telah ditahan Sehun dengan kuat.

“kau kenapa?”

“lepas! Lepaskan aku Oh Sehun!”

“sudah kulepas, sekarang katakan kau ini kenapa sebenarnya?”

“apa pedulimu?” Yoora menatap Sehun dingin, terpancar emosi yang sedang mengerubungi Yoora. Sehun menghela napas berat, berat rasanya untuk mengerti Yoora.

“iya, aku peduli karena aku tahu apa yang kau rasakan.” Ucapan Sehun membuat Yoora membeku, perlahan tatapan Yoora luluh. Wajahnya tertekuk dan dadanya kembali sesak.

“kau tidak tahu, betapa sesaknya dadaku saat melihat kembali wanita itu Oh Sehun.” Kalimat itu sukses membuat Sehun menegang ditempat, Yoora masih sangat membenci masa lalunya.

“sebaiknya kita ke toko lain saja.” Tangan Sehun menarik lengan Yoora dengan lembut, masih menunduk Yoora merasakan matanya memanas sekaligus dadanya terasa terhimpit hingga membuatnya sesak.

“coba yang ini!”

“yak! Aku tidak mau.”

“ish, kau mau aku cium di tempat umum seperti waktu di pantai?”

andwae!”

“ya sudah, pakailah!”

“menyebalkan!” begitulah pertengkaran kecil yang terjadi antara Sehun dan Yoora. Sekarang mereka sudah berada di toko pakaian yang terletak di lantai 2 Mall itu.

Sehun duduk di sebuah sofa berwarna pastel di dekat ruang ganti. Menanti Yoora mencoba dress yang sudah dipilihkannya, walau sebelumnya terjadi cek-cok adu mulut tentang Sehun yang memaksa dan Yoora yang menolak. Iming-iming sebuah ancaman yang Sehun berikan, tanpa bisa menolak lagi akhirnya Yoora mau masuk ke ruang ganti untuk mencoba dress yang telah dipilihkannya.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang ganti terdengar berdecit. Muncullah seorang gadis dengan dress selutut tanpa lengan yang sangat pas melekat ditubuh kurusnya. Mata Sehun tak berkedip, memandang karya Tuhan yang begitu cantik dengan pakaian yang telah dipilihkannya.

Sehun menelan ludah susah, sedang Yoora mengernyit tak mengerti dengan reaksi Sehun setelah melihat penampilan barunya. Ia lantas merosotkan bahunya, lalu melangkah malas kearah Sehun yang belum bergeming dari tempatnya. Berdiri dengan mulut menganga, mata tak berkedip dan tubuh yang membeku, Sehun benar-benar mirip patung manequin.

“sudah kubilang, aku tak mau memakainya.” Suara kesal Yoora membuat Sehun tersadar dari lamunannya yang sudah terbang sampai ke langit.

“tidak, kau sangat cantik.” Entah sadar atau tidak, yang keluar dari mulut Sehun adalah kalimat pujian yang tidak memberi efek sama sekali pada Yoora yang memberengut tak suka.

“aish, menyebalkan! Seumur hidupku aku hanya sekali ini memakai pakaian seperti ini selain gaun pengantin menyusahkan itu.” Ia berteriak frustasi, padahal memang ia sangat cantik dengan dress itu.

“tolong bungkus dress ini!” suruhnya pada seorang pegawai. Pegawai itu mengangguk lalu membungkuk.

Setelah berganti pakaian, Yoora keluar dari ruang ganti dengan wajah masam. Ia selalu kesusahan saat memakai pakaian seperti itu, dan ia sangat benci memakai pakaian yang ribet seperti itu. Namun apalah dayanya, jika pun ia datang ke acara makan malam dengan pakaiannya mungkin ia akan di cap gadis tak punya sopan santun oleh keluarga Sehun.

Ia menuju kasir, menghampiri Sehun yang masih membayar dress yang baru saja dibelinya. Tapi belum sampai tepat di kasir, ia berbelok arah ke rentetan pakaian pria. Ia menghampiri deretan kaos, karena sebelumnya ia tak jadi membeli kaos yang sekarang ini sangat dibutuhkannya.

Ia mengambil beberapa kaos dengan warna gelap seperti biru dongker, hitam, abu-abu, coklat dan lain-lain. Lalu kearah celana yang digantung di bagian sisi terbelakang toko itu. Setelah mengambil beberapa potong celana jeans selutut, ia membawa setumpuk pakaian itu ke kasir. Ketika Sehun berbalik dan menemukan Yoora yang berjalan dengan setumpuk pakaian matanya melotot.

“kau beli pakaian sebanyak ini?”

“menurutmu? Kita tidak tahu akan terdampar disini berapa hari, dan aku tidak punya baju sama sekali.” Ucapnya sambil meletakkan setumpuk pakaian itu ke tangan pegawai.

“uh, aku lapar. Setelah ini ayo kita makan!” ajakan Yoora membuat Sehun geleng-geleng. Gadis ini sangat maniak makan selain maniak bikini.

“MWO?”

“ani.”

Setelah keluar dari toko itu, Yoora menyeret kakinya menuju sebuah restoran yang bersebelahan dengan toko baju. Di tangannya tercangking 4 tas baju, Sehun pun juga. Mereka memasuki restoran khas Korea yang menyediakan berbagai menu. Meletakkan belanjaannya pada dua kursi kosong di meja yang mereka tempati lalu mengambil buku menu.

“pasti kau akan makan banyak lagi, kan?” dugaan Sehun tak sepenuhnya meleset, tapi karena Yoora merasa tersindir akan ucapan Sehun ia langsung melirik sebal.

“kau menyesal mentraktiru? Baiklah, aku akan membayarnya kali ini.” Masih sibuk membolak-balik buku menu, matanya mengikuti setiap deret hurup yang ia baca.

“pelayan!”

Seorang pelayan menghampiri meja Sehun-Yoora setelah Yoora memanggil dan melambaikan tangan. Sepertinya Yoora sangat bersemangat ketika menyangkut soal makanan, terlihat wajahnya sangat antusias saat pelayan itu menghampiri mejanya.

“aku pesan Bibimbap, Bulgogi dan Orange Juice.” Begitulah pesanan Yoora. Saat pelayan itu menoleh kearah Sehun untuk menanyakan pesana Sehun.

“mau pesan apa Tuan?”

“aku pesan Bibimbap dan Lemon Tea.”

ne.”

“kau tahu, wajahmu sangat menakutkan saat bertemu dengan Jennie?” Sehun menyender kursi restoran yang terbuat dari kayu itu sambil melipat tangan.

“kau tahu sendiri, seberapa besarnya aku membenci wanita licik itu.”

“ya, dan tatapanmu benar-benar ingin menguliti Jennie dengan tajamnya matamu yang seperti pisau itu.” Kepala Sehun menganggu-angguk mengerti dengan perasaan Yoora. Ya, bisa dikatakan bertemu dengan wanita yang telah memfitnahmu di masa lalu, bagaiman reaksi yang akan kau tunjukkan?.

“jadi kenapa kau membahas wanita itu lagi, aku sungguh muak mengingat wajah wanita picik itu.”

“baiklah-baiklah, kita hentikan sampai disini saja.”

Beberapa menit kemudian 2 pelayan telah datang membawa pesanan Sehun-Yoora di masing-masing nampan. Bahkan bisa tercium aroma masakan khas Korea yang sedang dimasak di dapur belakang. Dan reaksi Yoora saat melihat menu makanannya berbinar, Sehun yang melihatnya terkekeh.

“kau benar-benar maniak makan, selain maniak bikini.”

‘AWWW…’ mulut Sehun mengerang pelan saat kepalanya dengan sadisnya di pukul sumpit oleh Yoora. Sekarang ganti Yoora yang terkekeh melihat Sehun menderita.

“sudah, aku mau makan. Jangan ganggu aku!”

“ish…” Sehun mendecih kearah Yoora yang sudah melahap bulgoginya dengan rakus. Gadis ini benar-benar.

Sehun sibuk melahap Bibimbap-nya namun matanya bukan terfokus pada makanan itu, melainkan kepada Yoora yang memakan dengan lahap Bulgogi-nya di seberang. Matanya tak luput memberikan segala spekulasi mengenai Yoora yang tak sedikitpun peka terhadap Sehun. Memang, Yoora bukanlah gadis yang mudah ditaklukkan, karena gadis itu berpegang teguh pada keyakinannya mengenai tidak ada orang yang akan membuatnya bahagia. Itu menurut Yoora, tapi tidak tahu takdir akan berkata seperti apa.

Rambut sebahu yang tergerai, tidak seperti biasanya yang selalu diikat. Baju semalam yang masih melekat, karena acara ditukar dengan bikini menjijikkan menurutnya. Wajah polos tanpa make up yang memberikan kesan natural pada gadis yang tak pernah repot dengan hal-hal seperti itu. Ke kantor, hanya memakai kemeja dan celana, itupun karena bentuk formalitas, jika pun diperbolehkan memakai pakaian casual, ia pasti lebih memilih memakai kaos oblong dan celana jeans.

Bagaimana dengan rok?, jangan tanyakan mengenai hal yang membuatnya repot, ia segan memakainya. Untungnya ia adalah seorang direktur di perusahaan ayahnya, jadi dengan sesuka hatinya ia akan memakai pakaian formal yang menurutnya tidak ribet dan membuang tenaga. Saat pernikahannya dengan Sehun pun, ia setiap detiknya mengeluh gerah, berat, gatal, menyusahkan dan masih banyak keluan lain.

Menafsirkannya, membuat Yoora kadang berpikir kenapa menjadi wanita harus se-repot itu? . bahkan ia marah-marah tak jelas pada Jihye, teman waktu SMA-nya yang menjadi perias waktu acara pernikahan. Sehun yang melihat Yoora mengumpat tak jelas dengan tangan sebagai sampiran gaun malah tertawa lebar, membuat Yoora tak segan-segan menginjak kakinya dengan kejam.

Kembali ke cerita awal, Sehun maupun Yoora telah menyelesaikan acara mengisi perutnya pagi ini. Mereka sama-sama menyandarkan punggungnya pada kursi, perut mereka sangat kekenyangan. Yoora melirih jam tangan hitamnya, jam menunjukkan jam 9 dan ia akan melakukan apa setelah ini?.

“sebentar, perutku sangat kekenyangan.” Ia meringis kala perutnya bergejolak, uh ia merasa mau muntah juga.

“bagaimana tak kekenyangan, kau makan sepiring Bibimbap dan Bulgogi. Aku heran, apakah perutmu terbuat dari karet?” tubuh Sehun condong ke depan, wajahnya bertanya serius.

“mungkin iya. Ayo pulang!”

“kita tidak pergi kemana-mana setelah ini?”

“tidak, aku mau tidur di hotel. Kalau kau mau keluar, terserah.”

“aish, kita ini Bulan Madu. BU-LAN-MA-DU!”

“ya, ya terserahlah. Kau itu sadar tidak sih, kau belum mandi dan aku tahu itu.”

“bagaimana kau tahu?”

“kau bau.”

“tidak, aku tidak bau.”

“ish, kau jorok sekali. Sudah pulang saja dan kau mandi.”

“mau memandikanku?”

“YAK!”

“hehe, walaupun tak mandi aku tetap terlihat tampan dan keren.”

“tingkat percaya dirimu sangat tinggi Oh Sehun.”

“itu memang kenyataannya.”

“ayo pulang!”

“kajja.”

Sehun dan Yoora telah menaiki mobil Audi hitam metalic milik Sehun. Tidak ada percakapan yang terjadi, Sehun fokus pada acara mengemudinya sedangkan Yoora sibuk menikmati pemandangan di luar jendela. Mereka melewati kawasan Pantai Haeundae yang mereka datangi kemarin, sekarang ini sudah banyak pengunjung yang memenuhi sekitar pantai. Melewati jalan raya yang memang menjadi penghubung antara Pantai Haeundae dan hotel mereka menginap.

Mata Yoora terhenti pada sebuah bangunan bercorak warna-warni dekat Pantai Haeundae. Matanya menyipit mencoba lebih mengenali detail apa kedai di pinggir jalan sebelah kiri itu. Kedai es krim?.

“yak, berhenti!”

“yak, Wae?” Sehun mengerem mobilnya mendadak setelah menepikannya. Ia menatap Yoora kesal, untungnya ia pandai membawa mobil, kalau tidak mungkin mereka sudah menghantam tiang listrik di depan sana.

“kesana, ke kedai es krim itu.”

“kau mau beli es krim?”

“iyalah, masa mau beli gorengan.”

“ya, ya sebentar.”

Sehun kembali mengemudikan mobilnya menuju halaman kedai es krim yang dimaksud Yoora. Tampak dari luar pun kedai itu sangat ramai pengunjung. Apalagi musim panas telah membuat setiap orang merasa tenggorokan mereka kering walau masih jam pagi. Di parkiran, tanpa menunggu Sehun yang sedang memarkirkan mobilnya, Yoora telah berjalan cepat menuju kedai itu.

Sehun keluar dari mobil, kepalanya celingak-celinguk mencari sosok Yoora. Kemana yeoja itu? Seperti hantu saja sukanya menghilang tiba-tiba. Setelah membatin seperti itu, Sehun melangkahkan kakinya menuju kedai es krim. Ia membuka pintu kedai berwarna bening yang terbuat dari kaca itu hingga menimbulkan bunyi gemerincing dari bel yang dipasang di atas pintu.

Matanya mengikuti gerakan kepalanya mencari sosok gadis berambut hitam sebahu dengan kaos abu-abu yang dipakainya dari kemarin. Disana ia menemukan gadis itu sedang memesan es krim, ia mendekati gadis itu lalu matanya memandangi baner besar berisi menu es krim.

“aku pesan es krim rasa cokelat, vanilla dan strawberry.”

“aku pesan es krim rasa mint dan grapes.”

“ne, silahkan duduk di meja nomor 5.”

“ne.”

Mereka berjalan ke meja yang ditunjuk, meja nomor 5 yang berada di pojok kedai dekat jendela besar. Terik matahari terasa menyengat, dari meja nomor 5 Yoora dapat merasakan sengatan matahari dapat menembus jendela besar berbahan kaca itu. Tangannya menggapai kerah kaosnya, lalu mengibas-ngibaskannya mencari angin. Padahal kedai ini cukup besar dan memiliki faslitias AC yang memadai, tapi tak cukup menghalau terik matahari di bulan Agustus.

“uh, panas. Kenapa panas sekali sih?”

“kau tahu, tadi malam kau mengerang kepanasan dan membuka kaosmu sendiri. Jadi sekarang kau mau membuka kaosmu disini?”

Mwoya? Kau gila, huh?”

“aku tidak gila, karena memang itu kenyataannya.”

“ini pesanannya Tuan, Nyonya.”

“ne, kamsahamnida.”

ne.”

Yoora menyendok es krim rasa cokelat, rasa favoritnya ke mulutnya. Uh, tenggorokannya terasa sangat lega saat es krim berteksture lembut itu melewati tenggorokannya.

“sepertinya kita harus membungkusnya banyak.”

“iya, aku setuju dengan usulanmu Oh Sehun.”

“kenapa kalau berhubungan dengan makanan kau selalu berbinar seperti itu?”

“memangnya tidak boleh? Aku suka makan.”

“dan kau tidak pernah gendut, malah tubuhmu semakin kurus.”

“memang begini adanya diriku.”

“kau sudah selesai?”

“sebentar, tinggal sedikit.”

“sini, mulutmu belepotan, tuh.”

“ish, jangan kayak di drama-drama deh.”

“cih, kau tidak mengerti momen romantis?”

“sudahlah, lebih baik kita memesan untuk dibungkus lalu kembali ke hotel.”

Putaran kunci pintu terdengar disebuah hotel mewah di kawasan Busan. Nampak seorang laki-laki dan seorang perempuan, berdiri tepat di depan pintu sambil menenteng segunung tas belanja yang tampak memenuhi kedua tangan masing-masing.

palli!”

“iya, kau cerewet sekali sih.”

ceklek…

Pintu terbuka, dengan begitu kedua manusia itu memasuki sebuah ruangan bernuansa putih yang terlihat begitu terang terkena sinar matahari. Sehun, sang laki-laki yang nampak ngos-ngosan dengan nafas terengah bersender pada punggung sofa. Sungguh, kakinya rasanya mau patah setelah berjalan sambil membawa 6 tas belanja.

Ia pikir tadi mereka tak belanja sebanyak ini, tapi setelah dari kedai es krim Sehun dan Yoora beradu argumen untuk membeli makanan ringan di supermarket. Dan berakhirlah mereka terjun menuju supermarket dekat hotel, kira-kira 500 meter dari kawasan hotel. Malangnya, ia harus membawa puluhan kantong kresek berisi cemilan yang mereka beli. Sedangkan Yoora, ia membawa tas belanjanya yang berisi kaos, tak lupa satu kresek es krim yang dibelinya di kedai.

Yoora tak mengindahkan keberadaan Sehun, ia berjalan lurus ke kamar. Sehun mendengus, ia sudah seperti kakek-kakek berumur 70 tahun baru jogging 1 kilometer. Ya, kalau parkiran mobilnya tidak jauh, lha parkiran mobilnya ada di lantai dasar, sedangkan mereka menempati lantai 5.

Yoora memasuki kamarnya dengan langkah lebar, peluh menetes disekitar pelipisnya. Hari yang panas sungguh membuatnya terasa terbakar, bahkan badannya sudah lengket karena keringat. Ia membanting tas belanjanya ke lantai, lalu membanting tubuhnya ke ranjang. Sungguh, matahari serasa berada di atas kepala.

Ia tertelungkup di atas ranjang, dengan posisi kaki saling membentang memenuhi sisi ranjang. Jam 10 adalah waktu yang tepat untuk berendam di bath up berisi air es penuh, saking panasnya musim panas kali ini. Ia mengambil remote AC yang ada di atas nakas samping tempat tidur lalu menurunkan suhunya. Ia sangat ingin berendam di bath up selama 2 jam penuh kalau perlu. Sepertinya, itu hanya angan-angan semata, karena kini Yoora telah memejamkan matanya.

Sayup-sayup pandangannya mulai mengabur bersama suhu udara yang mulai lebih mendingin, ia mulai terbang ke alam mimpi bersama sejuta kepenatan. Tak pelak, tak sampai 5 menit matanya telah benar-benar tertutup rapat, tertidur pulas dalam arti sebenarnya.

‘ceklek…’ pintu kamar terbuka menampakkan sosok Oh Sehun dengan wajah kusamnya. Ia beralih menatap kearah sesosok wanita yang sudah terbang entah kemana yang begitu pulas di atas ranjang. Tak mempedulikan keadaan orang lain, ia berjalan lurus ke arah kamar mandi.

‘Brooook…….’

“yeoboseyeo, wae, Lu?’

“yak! Dasar bocah tengil! Panggil aku Oppa!”

“shireo.”

“aish, bagaimana Bulan Madumu hem?. Pasti kalian sudah ehem-eheman, kan?”

“apa maksudmu? Dasar, apakah semua laki-laki hanya memiliki otak mesum?”

“wae? apa itu artinya Sehun sudah berbuat mesum padamu?”

“neo jinjja, aku akan menendangmu setelah aku pulang dari sini.”

“tidak, tidak. Aku mengaku kalah, kau selalu membuat pantatku membiru karena tendanganmu Nyonya Oh.”

“Nyonya Oh? Yak! Xi Luhan kubunuh kau!!”

“ish, pelankan suaramu! Sudah kututup dulu, nikmati acara Bulan Madumu Nyonya Oh.”

‘tuuuutt………..tuuuuttttttt…….’

“dasar, semua laki-laki sama saja.”

Di balik pintu kamar mandi, seorang laki-laki dengan wajah serius namun terkesan memendam sesuatu sedang menguping pembicaraan Yoora dan Luhan lewat telepon. Tentu saja Yoora juga tidak tahu, tapi mengingat apa Yoora tahu yang dirasakan Sehun saat ini. Sehun menghela nafas panjang, seiring bahunya yang merosot.

‘mereka hanya teman.’ Ujarnya pada dirinya sendiri. Ia seperti mencoba menghapus prasangka buruk yang entah mengapa membuat hatinya bergejolak sakit.

Tangannya memegang knop pintu lalu memutarnya, setelah nya ia keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk putih sepinggang. Ia melirik sekilas ke tempat ranjang yang ditempati Yoora. Lalu melanjutkan langkahnya menuju kopernya yang berada di samping koper Yoora. Setelah membuka resletingnya, ia mencari-cari kaos, dan menemukan kaos berwarna biru dongker dan celana santai selutut berwarna hitam.

Ia hendak menarik handuknya, lupa akan sesuatu mungkin hingga….

“yak, Oh Sehun! Apa yang kau lakukan?” teriakan memekakan itu langsung membuat tangannya berhenti, ia menoleh sekilas lalu tersenyum jahil, tanpa diketahui Yoora.

“mau ganti bajulah.” Ucapnya santai tanpa merasa bersalah, seringaian jahil tercetak di bibir  tipisnya. Sedetik kemudian, sebuah bantal berukuran besar mengenai punggungnya dengan telak.

“kau tidak lihat aku masih disini?” tak terima dengan perbuatan yang akan dilakukan Sehun, Yoora mulai marah-marah yang malah membuat Sehun terkikik lirih tanpa terdengar.

“memangnya kenapa kalau kau masih disini?” pertanyaan Sehun tak digubris Yoora, Yoora langsung keluar dari kamar, sebelumnya ia mengambil tas es krim yang berada di lantai.

“sialan kau!”

‘BROOOOKKKKK………’

jinjja, gadis itu sangat mudah dikerjai. Eh, sebenarnya juga tidak apa-apakan kalau dia melihat isi tubuhku, kita kan sudah menikah.”

“sialan Oh Sehun, dia pikir dia punya tubuh bagus? Cih, badannya sangat tidak menggoda, badan kayak ikan teri memang apa yang bisa dibanggakan?” Yoora  mengumpat tak jelas di atas sofa sambil menggigit sendok es krim dengan geram. Wajahnya merona, entah karena godaan Sehun atau ia benar-benar emosi.

Wajahnya bersungut-sungut, bibirnya mengerucut. Ia melahap es krimnya dengan cepat, seperti sedang ada lomba makan es krim, dengan siapa yang dapat menghabiskannya paling cepat akan memenangkan uang ratusan ribu won. Ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

“kenapa pipiku rasanya panas begini?” ia memegang kedua pipinya,  dengan sendok di mulut.

“ah, mungkin karena cuacanya yang panas.” Ia lantas kembali memakan es krimnya. Menghedikkan bahunya, lalu kembali menyendokkan es krim ke mulutnya.

Suara derap langkah terdengar menuju kearah Yoora, tanpa diduga pun pasti Sehun adalah orangnya. Yoora berlagak tak peduli, padahal sekarang ini hatinya sedang bergejolak tak karuan membuatnya uring-uringan sendiri. Yoora sedikit terhenyak saat merasakan seseorang menduduki bagian sofa di sampingnya, pergerakan yang sukses membuat jantungnya memompa lebih cepat.

Orang itu lantas menyangga dagunya, setelah sukses duduk di samping Yoora yang masih ‘sok’ asik memakan es krim. Dalam hatinya, Yoora juga bertanya-tanya kenapa wajah makhluk mesum yang biasanya selalu membuatnya mual itu tiba-tiba murung. Kepo memang, tapi gengsinya membuat tak ada sedikitpun keinginan untuk mempertanyakannya secara langsung.

Kalian tahu apa yang dilakukan Sehun? Menghela nafas panjang, menyenderkan tubuhnya ke sofa, menyangga dagu lagi dan terus menerus berulang-ulang. Kelakuan Sehun benar-benar membuat Yoora gagal fokus#E ciye#, Yoora meletakkan cup es krimnya ke meja dengan sedikit keras, lalu menatap Sehun sebal.

“kau kenapa, sih? Mengganggu tahu.” Segera meneriakkan uneg-uneg yang sedari tadi membelenggu hatinya, alhasil malah membuat Sehun menatapnya tak peduli.

“memangnya kau mau tahu aku kenapa?”

“kau membuatku terganggu dengan hal tak berguna yang kau lakukan itu.”

“aku sedang bosan.”

“bukannya aku menyuruhmu keluar kalau mau, lantas kenapa lagi?”

“aku akan semakin bosan kalau keluar sendiri, kau tahu kita ini sedang BU-LAN-MA-DU.”

“ya, lalu?” Yoora kembali menyendokkan es krim yang tadinya ia enyahkan ke meja.

“seharusnya kita kan-“

“cukup Oh Sehun!”

“seharusnya kita melakukan hal yang biasanya dilakukan sepasang suami-istri ketika ber-Bulan Madu.” Nada protes Sehun membuat Yoora menatap kejam kearahnya.

“memang apa yang dilakukan suami-istri ketika be-Bulan Madu?”

“kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?.”

molla.

“di dalam kamar, saling bersentuhan, ciuman, membuka baju, melakukan olahraga malam, lalu saling berpelukan ketika selesai, lalu-”

“CUKUP!” Yoora menutup kedua telinganya, tak mau mendengar lebih hal mesum dari Sehun.

“kau tahu, aku juga seorang pria jadi-“

“DIAM!”

“Kwon Yoora, aku-“

“yak! Yak! Apa yang akan kau lakukan Oh Sehun?”

Mata Yoora melotot seketika saat tubuh Sehun mendekat kearahnya hingga punggung Yoora menabrak punggung sofa dengan telak. Wajah Sehun berubah serius, itu membuat Yoora menelan ludah kesusahan. Bahkan jarak yang tercipta semakin membuat jantung Yoora berdebar keras tak karuan seperti baru mendengar bom meledak dalam radius 5 meter darinya.

Tangan Yoora menyangga tubuh Sehun yang sudah tepat berada di atasnya tanpa ada jarak sedikitpun. Kenapa Yoora tidak melawan seperti biasanya?, itu karena wajah Sehun benar-benar berbeda dari biasanya, bisa dikatakan wajahnya benar-benar wajah serius. Mata Yoora hanya berkedip-kedip tak tentu, bahkan ia dapat merasakan hembusan nafas rasa mint Sehun pada wajahnya.

Mata Sehun memancarkan kilatan lain, seperti bukan seorang Oh Sehun yang Yoora kenal. Dan diri Yoora menjadi orang lain, dalam arti ini bukan diri Kwon Yoora yang sebenarnya. Hidung mereka bersentuhan, mengikis jarak 2 cm yang mulanya tercipta. Hingga kini, kedua bibir mereka saling menempel. Bukan hanya menempel karena sekarang bibir Sehun telah bergerak menelusuri setiap detail bagian bibir Yoora dengan lembut.

Menggigit kecil ujung bibir Yoora lalu lidahnya memasuki isi bagian mulut Yoora untuk mengajak berperang#emangkorselamakorut#. Saling membelit satu sama lain, lidah Yoora telah merespon gerakan lincah lidah Sehun yang mulai nampak liar. Tangan Sehun yang mulanya menjadi penyangga tubuhnya pada punggung sofa kini sudah mulai merangkak menelusuri bagian atas Yoora dengan lembut. Wajah Sehun menjauh dari wajah Yoora, namun selanjutnya wajahnya mulai menelusuri leher jenjang Yoora dan menggigit kecil kulitnya hingga membekaskan kissmark berwarna merah. Beberapa kissmark telah tercetak jelas, bahkan Yoora sudah melenguh akibat  perbuatan liar Sehun. Sampai pada arah tangan Sehun yang dengan alami tertuntun untuk menyibak kaos abu-abu yang dipakai Yoora.

‘ting….tong….ting…tong….’

Yoora melenguh sesaat lalu mendorong tubuh Sehun kuat hingga terjungkal ke sisi sofa yang lain. Lantas ia langsung berdiri dan berjalan tergesa menuju arah pintu kamar hotel. Tak mengindahkan posisi Sehun yang terjungkal, namun parahnya Sehun melongo seperti orang tolol#mian#. Sehun menatap kosong kearah kepergian Yoora beberapa detik lalu. Reflek tangannya memukul kepalanya sendiri beberapa kali, lalu mendengus dan menghela napas sepanjang-panjangnya.

‘hampir saja.’ Batinnya berperang antara ‘kecewa’ dan ‘berterima kasih’ karena sudah digagalkan acara “….” –nya. Kecewa karena itu adalah kesempatan emas, berterima kasih karena hampir saja ia memasuki lubang buaya untuk yang kesekian kalinya.

nuguseyeo?” pertanyaan Yoora terdengar sesaat setelah membuka pintu kamar hotelnya. Tampak seorang laki-laki memakai baju khas pegawai hotel membawa sebuah paper bag berwarna hitam.  Pegawai hotel itu mengulurkan paper bag entah berisi apa itu ke hadapan Yoora.

Alis Yoora mengrenyit karena setelah memberikan paper bag itu pegawai tersebut langsung membungkuk pamit tanpa berucap satu kata pun. Ia menatap lekat jejak kepergian pegawai itu hingga menghilang di ujung koridor hotel. Bisa saja kan laki-laki itu hanya menyamar dan ternyata seorang teroris?, lalu Yoora menggedikkan bahu acuh.

nuguya?

kkamjagiya!

waeyo?

ani.” Tanpa mempedulikan Sehun yang beraut penasaran disana, Yoora langsung berjalan meninggalkan seonggok manusia dengan wajah super duper kepo.

IGE MWOYA?” teriakan kencang terdengar dari arah dalam, membuat Sehun langsung bergegas menutup pintu dan berlari menuju sumber suara.

waeyo?

“ige….”

HAHAHAHA…………

“YAK!”

“B-Bi-ki-ni, HAHAHAHA…….”

“DIAM!”

‘awww……..’ Sehun meringis kesakitan sambil meloncat pincang kesana-kemari setelah terkena injakan maut dari Yoora pada kaki kanannya.

“ish, menyebalkan!”

“Haha, sungguh beruntung nasibmu Kwon Yoora.”

“beruntung kepalamu! Ish siapa yang mengirim barang-barang menjijikkan seperti ini?”

“mungkin Eomma dan Appa.”

“ish, mereka benar-benar.”

“hey, mereka itu menginginkan kau memakainya, dan menggodaku dengan bikini itu.”

“YAK!”

Yoora keluar dari kamar mandi, setelah acara adu mulut dengan Sehun beberapa jam lalu ia memutuskan untuk mandi sore ini.

“Kwon Yoora, ige mwohae?” mendengar pertanyaan dari makhluk bernama Oh Sehun seketika membuat Yoora was-was. Bahkan kakinya belum sepenuhnya memijaki lantai kamar hotel. Separuh badannya masih berada dalam kamar mandi. Ia berdiri di ambang pintu kamar mandi dan melirik sekilas kearah Sehun.

Sebelum……

“YAK!”

“kembalikan Oh Sehun!”

“tidak, sebelum kau mau menciumku.”

“kembalikan sekarang juga atau aku akan memukulmu!” ancaman bernada serius Yoora tak sedikitpun membuat pendirian Sehun goyah. Sehun malah semakin gencar menyembunyikan bra berwarna hitam Yoora di balik tubuhnya.

Yoora menatap geram tepat pada sosok Sehun yang bersedekap dada, namun satu tangannya menyiwir sebuah ‘benda keramat’ milik Yoora. Letak Sehun di samping ranjang yang sedikit jauh dari posisi Yoora berdiri, pintu kamar mandi. Jadi, kemungkinan besar menurut Sehun ia tak akan tertangkap oleh Yoora.

Kaki Yoora melangkah panjang-panjang menuju Sehun yang belum gencar, namun sedetik kemudian nyali Sehun sedikit demi sedikit mulai menyusut seiring kakinya yang mulai bergetar. Wajah Yoora benar-benar bisa diibaratkan dengan ibu singa yang mengamuk besar karena daging mangsanya direbut suaminya sendiri#eh#.

Makin tak terbendung suara teriakan Yoora yang memenuhi kamar tersebut. Beribu makian ia luncurkan seiring larinya Sehun menghindari jangkauannya. Sehun naik ke atas ranjang, disusul Yoora yang belum juga ikut menaiki ranjang guna menggapai tubuh Sehun utnuk dihajarnya, mungkin.

“berikan padaku Oh Sehun!”

“tidak, sebelum kau mau menuruti satu permintaanku.”

“baiklah, apa permintaanmu?” ini belum berakhir, kita lihat adegan selanjutnya.

“cium aku!”

“baiklah, kemarilah!” nada bicara Yoora terdengar santai dan entahlah.

jinjja? Kau tidak akan memukuluku?” raut sedikit tak percaya menghiasi wajah Sehun yang sedikit terbuai oleh persetujuan Yoora.

“hem…cepat sebelum aku berubah pikiran.” Masih santai dan terdengar begitu meyakinkan.

“cha, sekarang cium aku!” Sehun membungkuk ke arah Yoora yang berada di bawahnya, mencondongkan wajahnya tepat di depan wajah Yoora.

“tutup mata!”

“kenapa harus tutup mata?”

“tidak mau? Yasudah.” Yoora hendak berpalin, namun tangannya ditahan Sehun.

“iya, aku sudah tutup mata.” Tidak sepenuhnya menutup mata karena mata Sehun masih terbuka 0.1 cm, mengawasi gerak-gerik yang mencurigakan dari Yoora. Tidak ada hal yang dilakukan Yoora selain memandang wajah Sehun yang hanya berjarak sekitar 5cm dari wajahnya.

Entah apa yang Yoora ingin lakukan, namun ia hanya diam di tempat sambil memandangi lekat wajah Sehun. Perlahan tangan Yoora terulur untuk menggapai ‘benda keramat’-nya dari tangan kiri Sehun. Pelan namun pasti, tangannya telah menarik ujung talinya, namun….

“yak, kau mau membohongiku ya?” Sehun membuka matanya dan sedikit menjauhkan wajahnya, dan ada niatan untuk kabur dari Yoora. Tangan Yoora dengan sigap menarik kaos yang dipakai Sehun, dan….

BRUUUUUUKKKK………’ mereka terjatuh bersama di atas ranjang, dengan posisi Sehun di bawah dan Yoora di atas. Saling berpandangan sedikit lama, tanpa ada yang berkedip.

‘cupppp…..’

“apakah kau masih ingat ciuman pertama kita, Kwon Yoora?”

–Flashback—

Would you be my Girlfriend?’

“aku? Kenapa aku?”

“yak, Kwon Yoora AKU MENCINTAIMU, MAUKAH KAU JADI KEKASIHKU?”

“kau… kenapa?” mulut Sehun melongo, sebenarnya siapa disini yang bodoh?.

“Kwon Yoora AKU MENYUKAIMU. Ani, AKU MENCINTAIMU!”

“m-m….” belum sampai satu kata terucap dari bibir Yoora, kejadian selanjutnya benar-benar memutus satu kata yang belum tuntas tersebut.

‘cupppp….’

“yak, itu First Kiss-ku!” Yoora berteriak tak terima, sambil memegangi bibirnya yang baru saja direnggut kesuciannya

“jadi, aku yang telah mencuri First Kiss-mu?” pertanyaan tak percaya lolos kemudian dari bibir Sehun, wajahnya ada sedikit pancaran tak percaya namun ada juga pancaran senang sekaligus bangga disana.

“Oh Sehun, sialan kau!” pekikan kencang terdengar seiring suara sepatu yang beradu dengan lantai kayu lapangan basket indoor tersebut.

Terjadilah aksi kejar-kejaran di lapangan basket indoor tersebut. Sehun berlari menghindari amukan Yoora yang juga berlari cepat mengejarnya. Tak lelah sekali pun, aksi kejar-kejaran itu diiringi tawa lebar dari Sehun yang semakin gencar menggoda Yoora dengan teriakan ‘aku telah mencuri First Kiss ice princess, Kwon Yoora’ berulang-ulang. Dengan Yoora yang bersungut-sungut di belakang sana. Coba siapa yang tidak mengamuk jika First Kiss-mu dicuri dengan cara yang menyebalkan seperti itu.

chamkkanman!” Sehun berhenti, memegang lututnya yang terasa sangat pegal setelah mengitari lapangan basket luas tersebut sebanyak 5 putaran.

“kena kau!” satu tangan Yoora telah menggapai ujung kerah seragam sekolah Sehun.

“ampun, ampun Kwon Yoora.” Sehun bersimpuh mendelosor di lantai, tepatnya juga di bawah kaki Yoora dengan napas ngos-ngosan.

“tidak, aku tidak akan mengampunimu.” Wajah Yoora memerah padam, bercampur marah juga sedikit tersipu.

jebal!” memelas adalah hal yang dilakukan Sehun saat ini, diiringi wajahnya yang benar-benar merasa bersalah.

“kau telah mencuri First Kiss-ku dengan lancang.” Tak terima, Yoora menyerukan protes yang sedari tadi begitu membuatnya terbang ke langit sana.

“itu juga First Kiss-ku.” Tak sedikitpun terdengar nada bohong dari satu kalimat ungkapan Sehun. Mulai surut amarah Yoora, namun ada secuil ketidak percayaan disana.

jinjja?”

“em…” anggukan mantap Sehun layangkan pada Yoora yang masih setia menyengkeram kuat kerah seragam Sehun.

geojitmal.” Masih tak percaya, dengan kalimat yang menurut Yoora hanya bualan Sehun semata.

“tidak, aku tidak berbohong.” Serius, benar-benar nada dan raut serius yang terilihat dari wajah Sehun.

dasar playboy!” setelahnya tangan Yoora melepaskan kerah Sehun dan ikut mendelosorkan kakinya di samping Sehun yang kini bernafas lega.

“jadi, maukah kau menjadi kekasihku Kwon Yoora.”

“tidak.”

“ah, wae?’

“…..”

“yak, Kwon Yoora aku serius.”

“tidak, aku tidak menolak.”

jinjja?”

“em…”

cupppp……..

“aku mencintaimu Kwon Yoora-ku.”

Di sisi lain……

‘tidak, aku tidak akan membiarkanmu mengambil Sehun-ku Kwon Yoora. Tidak dan tidak akan pernah.’

–TBC—

Hoi hoi, Pervert Sehun-nya udah kembali, maaf kalau menunggu lama#siapayangnunggu?#. ada sedikit kendala waktu pengerjaannya, ya begitulah tertimpa musibah. Ini udah banyak banget sweet moment-nya Sehun-Yoora menurut aku, tapi nggak tahu menurut kalian gimana. Maafkan diriku kalau nggak nge-sreg di hati kalian, dan makin nggak ada feel disetiap pertambahan chapter. Aku udah pernah bilang, kalau aku nggak bisa bikin ff chapter, jadi ini sedikit maksa juga buat ngeluarin ide-ide. Udah gitu aja curcol-ku kali ini, aku mohon banget komennya untuk nambah semangat aku untuk nerusin ff ini.

–Thank You—

–SEE YOU LATER–

9 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Pervert Sehun (Chapter 6)

  1. loh jadi mereka dulu sempat pacaran?
    Yoora nerima sehun? Tapi kok skrg yoora kek cuek gitu yah? Aku bingung nih kak atau aku nya yang baca kurang mendetail di chapter sebelumnya ya?
    Tapi aku sukaa mereka lucu ya pasangan kocak ><
    Ditunggu kelanjutannya kak ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s