[EXOFFI FREELANCE] Sunflower (Chapter 7)

4c08ebe31040a8a191c848c9da7234d4.jpg

Judul : Sunflower Chapter 7

Author : Himawari

Length : Chapter

Genre : Sad Romance

Rating : PG-17

Main Cast : Xi Luhan, Lee Dae Ah

Oh Sehun, Huang Zi Tao

Disclaimer : Ini fanfiction murni dari pemikiran saya sendiri terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

Preview Chapter 6:

“Aku tidak tau kenapa,ada banyak pria yang baik padaku mereka banyak yang menyukaiku. Tapi aku mengabaikannya, dan sekarang seseorang yang aku cintai, yang aku tunggu selama ini, dia telah menghancurkan hatiku. Apa ini karma Tao-ya? Apa ini hukuman dari Tuhan? Lalu, apa yang harus aku lakukan?” Lelaki itu hanya diam menunggu lontaran kalimat dari bibir gadis itu. “Sekarang, apa yang aku takutkan dari dulu akhirnya terjadi. Apa yang harus aku lakukan Tao-ya? Aku tidak boleh mempunyai perasaan kepada orang yang akan menikah!” Gadis itu kembali terisak Tao kembali memeluknya mengelus punggungnya dengan lembut dan membisikkan sesuatu di telinganya. “Cobalah buka hatimu untuk namja lain dan ingatlah aku akan selalu berada di sisimu Dae Ah-ya.”

Chapter 7

‘Tuhan selalu mempunyai jalan cerita yang tak terduga yang tentu saja lebih indah dari pikiran kita’

“Mama, bangun.” Suara kecil tersebut sontak menyadarkan Dae Ah dari alam mimpinya. Matanya setengah terbuka, manangkap bayangan seorang malaikat kecil yang duduk disebelahnya. Gadis itu segera menegakkan punggungnya bersandar pada dashboard. Ia terlihat memijit keningnya merasa pusing. Ia mengingat-ingat, apa yang telah terjadi semalam sampai ia bisa tertidur di atas kasur bersama Shao, ia bahkan tidak ingat kapan ia tertidur. “Mama, kenapa mata mama sembab? Mama habis menangis ya?” Pertanyaan dari bocah tersebut sontak membuat ia mengingat semuanya. Ia tersadar bahwa semalam pasti terdidur saat menangis di pelukan Tao. Ia bahkan mengingat kata terakhir yang namja itu ucapkan sebelum ia memejamkan matanya. Ia memukul pelan kepalanya merutuki tingkahnya tadi malam yang menurutnya kelewat batas. ‘Kenapa aku menceritakan semuanya pada Tao? Dasar bodoh.’ Umpatnya dalam hati. “Mama,kenapa? Bukankah kita akan pulang hari ini?” Lontaran pertanyaan dari bocah tersebut kembali menyadarkannya. “Aigoo,,, kenapa bisa lupa. Seharusnya kita bangun lebih pagi Shao-ya.” Keluh gadis tersebut mengingat matahari yang telah terbit beberapa jam yang lalu. “Shao sudah bangun dari tadi, tapi Mama masih tidur.” Ucap anak kecil tersebut sambil mengerucutkan bibirnya membuat Dae ah gemas. “Baiklah, kita harus cepat-cepat mandi sebelum Tao Xiansheng marah.” Ujar gadis tersebut dengan diikuti lengannya yang menggendong Shao menuju ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian kedua insan tersebut sudah siap dengan pakaian rapi yang melekat di tubuh mereka serta tas besar bertengger di lengan gadis itu. Sebelum pergi ia membuka ponselnya, mengecek apakah namja itu sudah menghubunginya atau belum. Ternyata belum, tanpa babibu gadis itu menekan-nekan layar androidnya untuk mengirim pesan pada Tao bahwa mereka sudah siap dan sedang menuju ke lobi.Setelah mendengar nada dering ponsel tersebut yang menyatakan bahwa pesan berhasil terkirim, gadis itupun dengan tangan kanan yang menggandeng bocah kecil dan lengan kiri yang menenteng sebuah tas serta sebuah kacamata hitam yang dengan apiknya bertengger di depan kedua maniknya bersiap keluar kamar hotel. Betapa terkejutnya ia setelah berhasil membuka gagang pintu yang tadi menghalangi jalannya, retinanya menangkap bayangan seorang namja jangkung dengan tatapan tajam dan teduhnya berdiri di hadapannya. Gadis itu melirik sebentar kedua manik tajam namja tersebut dan kemudian menundukkan kepalanya malu melihat tatapan namja itu yang seolah memerangkap pandangannya. Ia pun kembali berjalan melewati pria di depannya dengan kedua tangan yang masih sibuk dengan tas dan jemari Shao. Ia dengan pelan berkata pada namja tersebut. “Ayo,”

Di dalam mobil suara Shao yang bernyanyi diiringi oleh alunan musik anak-anak menyeruak memecah kesunyian antara kedua insan yang duduk berdampingan di depan bocah tersebut. Dae Ah sesekali melirik Shao yang duduk sendiri di belakang, tentu saja ia juga tidak akan melewatkan kesempatan untuk melirik sang pengemudi yang dengan serius menjalankan mobil tersebut agar selamat sampai mereka tiba di Qingdao. Semakin lama suara yang sedari tadi memecah kesunyian tersebut terus memelan sampai-sampai sang pemilik suara terlelap memasuki dunia mimpinya. Sang pengemudi tentu saja mematikan MP3 yang sedari tadi mengiringi nyanyian bocah kecil tersebut. “Untuk perkataanku yang kemarin, aku serius mengatakannya.” Gumam namja tersebut memecah kesunyian. Seorang yang merasa diajak bicara menolehkan kepalanya menghadap wajah namja tersebut. “Bukalah hatimu untuk namja lain, dan… belajarlah untuk mencintaiku.” Lanjut namja itu dengan serius. Dae Ah lalu menundukkan kepalanya memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab ucapan Tao tadi. Setelah beberapa saat berpikir akhirnya gadis itupun mendongakkan kepalanya menatap kedua mata elang milik namja tersebut dan ia kaget di buatnya karena kedua manik tersebut juga sedang menatapnya. “Tolong perhatikan jalan, nanti kita bisa kecelakaan.” Ucap gadis itu yang sepertinya ingin mengalihkan pembicaraan. Namja itu menuruti gadis tersebut, ditolehkan kembali kepalanya menatap lurus jalanan beraspal di depannya dengan rasa kecewa. “Aku akan mempertimbangkan kembali.” Lanjut gadis tersebut sontak membuat sang pengemudi mengukir senyum di wajahnya. “Aku akan menunggu.” Jawab namja tersebut lalu menancapkan gas membuat mobil tersebut bergerak lebih kencang membelah jalanan kota Guangzhou yang akan ia tinggalkan.

Di dalam kamar gadis tersebut duduk di atas kasur dengan kedua kaki ditekuk di depan dada. Raut sendu terpancar dari wajahnya. Mata gadis itu menerawang memikirkan apa yang terjadi pada dirinya nanti, jika selamanya Luhan benar-benar tidak akan membalas cintanya. Ia juga kembali memikirkan ucapan Tao yang menyuruhnya supaya membuka hatinya untuk namja lain. Akhirnya gadis tersebut memutuskan menerima saran dari namja yang telah menjadi sahabatnya selama di negri tirai bambu tersebut. Dae Ah memandangi ponselnya cukup lama,dia berpikir apakah ia akan mencobanya ? Akhirnya jemarinya dengan perlahan mengambil ponsel tersebut, membukanya lalu menekan-nekan layarnya mencari nama seorang namja yang akan ia hubungi. Ia menghela nafas panjang sebelum menekan item telepon di layar ponselnya. Ia kembali memantapkan hatinya untuk menghubungi namja tersebut memberinya jawaban atas ucapannya kemarin. ‘Benar, aku aku akan mencoba melupakan Luhan walaupun itu sulit, aku tidak boleh kehilangan orang yang menyayangiku.’batinnya.

Tut tut tut

“Dae Ah-ya,”

“Tao-ya”

“Weishenme?”

Gadis itu kembali menghela nafas panjang yang di dengar oleh namja diseberang telepon untuk memantapkan hatinya.

“Aku akan mencobanya, tolong buat aku mencintaimu.” Akhirnya kata itupun lolos dari bibir yeoja tersebut membuat orang yang yang sedang mendengarnya di seberang tersenyum bahagia.

“Xie-xie, aku pasti akan membuatmu mencintaiku. Wo ai ni.”

Dae Ah tertunduk dan memutuskan sambungan teleponnya sesaat setelah mendengar kata dari namja tersebut. Ia lalu mendongakkan kepalanya meyakinkan hatinya bahwa ia bisa merelakan heliosnya.

“Maaf, aku tidak bisa sepertimu Clytie. Aku tidak boleh menyia-nyiakan orang yang yang mencintaiku, karena aku tau rasanya pasti sakit. Tenanglah karena Luhan masih memiliki hatiku.”ucap gadis tersebut pada bunga matahari yang teletak di atas nakas samping tempat tidurnya.

Tak terasa sudah hampir satu bulan hari berganti semenjak Dae Ah memutuskan untuk menerima Tao. Semua kegiatan gadis tersebut berjalan dengan lancar, walaupun kadang ia masih melamun dan menangis di tengah malam. Meskipun begitu, ia sudah menemukan semangat hidupnya kembali. Gadis itu juga sering mengajak Tao untuk ke Panti asuhan menjenguk Shao dan mengajak bocah itu bermain.

Saat ada waktu luang Dae Ah pasti mengunjungi Shao, seperti saat ini. Ia dengan perlahan berjalan menyusuri koridor sebuah gedung dimana Shao belajar bersama temannya. Langkahnya ia hentikan ketika melihat sesosok bocah kecil sedang serius menggoreskan crayon kedalam kertas putihnya. Ia mengamati bocah tersebut sambil tersenyum dari balik jendela hingga suatu tepukan di bahunya berhasil mengalihkan perhatiannya. “Bibi Zhou, Ni Hao?” sapanya sambil membungkukkan badan. “Wo hen hao,” ucap wanita paruh baya tersebut dengan tangan yang masih bertengger manis di bahu gadis tersebut. “Shao itu anak yang cerdas dan juga manis.Kau memilih anak yang bagus.” Dae Ah menoleh akan kata yang telah dilontarkan bibi Zhou, ia mengulas senyum di bibirnya sambil menatap kembali bocah tersebut. “Shao itu mirip dengan seseorang.” Ucap gadis itu. “Seseorang yang spesial bagimu?” Dae Ah kembali tersenyum sambil menganggukkan kepala membuat Bibi Zhou terkekeh pelan. “Lebih baik kita ngobrol sambil meminum teh saja, ayo.” Ajak wanita tersebut.

Mereka tiba di sebuah bangku taman, duduk berdua dengan segelas teh hangat di tangan mereka masing-masing. Suasana sejuk dan asri membuat tubuh mereka menjadi rileks. Dae Ah menghirup dalam-dalam udara bersih di sekitarnya menikmati setiap molekul oksigen yang masuk ke organ pernafasnya. “Tempat ini benar-benar membuatku nyaman.” Ucap gadis tersebut. Bibi Zhou hanya tersenyum menanggapi sebelum ia melontarkan beberapa kalimat untuk kembali merespon gadis itu. “Kau pasti sedang dalam masa sulit sekarang.” Tebak bibi Zhou benar membuat gadis itu kembali mengulas senyum. “Iya, Bibi benar.”ujar Dae Ah. “Apa masalah cinta?” tebak Bibi Zhou lagi-lagi mendapatkan nilai seratus. “Orang yang selama ini aku tunggu akan menikah bi, sebagai wanita Bibi pasti taukan sakitnya seperti apa?”

“Iya, bibi tau. Aku juga pernah mengalaminya.” Kalimat dari wanita tersebut membuat Dae Ah terkejut tidak menyangka Bibi Zhou pernah merasa merasakan hal yang sama sepertinya.

“Dulu aku menikah dengan pria yang di jodohkan oleh orangtuaku. Waktu itu, aku merasa bahagia sekali mendengar orang yang akan menjadi suamiku adalah orang yang selama ini aku sukai. Namun, semua tidak berjalan sesuai yang aku harapkan. Ternyata ia sudah mempunyai wanita lain yang ia cintai. Awalnya pernikahan kami berjalan dengan lancar sampai-sampai aku bisa melahirkan anak pertamaku. Namun semuanya berakhir setelah kedua mertuaku meninggal. Suamiku melakukan hubungan terang-terangan dengan pacarnya dulu. Hingga membuatku tidak kuat dan harus mengakhiri pernikahanku.” Dae Ah menyimak cerita Bibi Zhou dengan antusias, ia terlihat tidak sabar lagi dengan lanjutan kisah cinta wanita paruh baya di depannya ini.

“Lalu bagaimana dengan anak Bibi,” tanya Dae Ah

“Ia ikut bersama ayahnya di Korea, sepertinya dia seumuran denganmu.” Jawab Bibi Zhou yang kembali teringat dengan anak yang sudah lama tidak ia temui.

Drrtt Drrtt Drrtt

Suara getar ponsel membuat Dae Ah mengalihkan pandangannya dari cerita Bibi Zhou.Ia mendapati sebuah pesan dari Tao. Tanpa banyak berpikir iapun segera membuka pesan tersebut.

‘Cepatlah datang ke apartemenku, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.

From Tao’

“Aku merasa sedih mendengar ceruta bibi, maaf jika aku telah memancing Bibi untuk bercerita tentang hal yang membuat bibi menjadi sedih. Dan terima kasih karena bibi sudah membuat hatiku menjadi lebih baik.”

“Bukan apa-apa kok,”

“Maaf ya Bi, aku harus pamit dulu, ada hal yang harus aku kerjakan. Aku titip Shao. Terima kasih banyak Bi.” Ujar gadis itu yang diakhiri dengan membungkukkan badannya.

Tao menyodorkan selembar koran di tangannya kepada Dae Ah. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke barang tersebut. Tangan kanannya mengambil koran tersebut dari genggaman namja itu. Gadis itu hanya mengehela nafas setelah membaca rentetan huruf dengan font tebal pada koran tersebut. “Inikan hanya spekulasi mereka, kau tidak usah mengkhawatirkanku. Aku tau memang berita ini berlebihan tapi bukankah memang benar kita punya hubungan?” Tao terkejut sekaligus gembira, tidak menyangka Dae Ah memberikan respon seperti ini, berbeda dari sebelumnya yang selalu mendesak Tao agar menghentikan gosip tentang hubungan mereka.“Ibuku mengundang kita untuk makan malam.”ucap Tao yang langsung mendapatkan tatapan terkejut oleh gadis di depannya ini. “I..i.ibumu? Kenapa?” Tao hanya menggeleng menjawab pertanyaan Dae Ah. “Bagaimana ini?” keluh gadis itu. Terlihat raut mukanya yang sangat panik, Tao hanya mengelus pelan surainya menenangkan gadis itu. Sebenarnya di dalam hati namja tersebut ia juga khawatir mengingat ibunya yang selama ini selalu mencampuri urusan asmaranya. Ia takut ibunya tidak merestui hubungan mereka dan lebih parahnya lagi Dae Ah yang menjadi korban. “ Kau tidak usah panik, ada aku di sampingmu nanti.” Ujar Tao menenangkan gadis itu. Sebenarnya Dae Ah merasa panik karena tidak yakin akan perasaannya pada Tao. Ia belum siap jika harus bertemu dengan ibunya Tao yang mungkin saja akan membicarakan hubungan mereka dengan serius.

Suasana hening menyelimuti ruang makan keluarga Huang tersebut. Mereka bertiga hanya menikmati suapan demi suapan hidangan yang disajikan di atas meja. ‘Tuk’ Suara dentingan yang diakibatkan oleh tumbukan sepasang sumpit dengan meja kaca dari Nyonya Huang mengalihkan kedua pasang mata tersebut untuk menatap sang pelaku. Mereka sontak mengikuti apa yang di lakukan Nyonya Huang untuk meletakkan alat makan mereka di atas meja. “Apa yang dikatakan berita tidak benarkan?” Tanya Nyonya Huang. “Itu tidak benar Mama, kami tidak pernah menikah secara diam-diam atau apa, dan apalagi sudah mempunyai anak. Itu tidak mungkin.” Ujar Tao meyakinkan wanita paruh baya di depannya. Sedangkan Dae Ah hanya diam sambil menunduk tidak berani menatap mata tajam dari Nyonya Huang. “Lalu siapa anak itu? Apa dia anakmu dari pria lain?” Nyonya Huang kembali bertanya, kali ini pertanyaannya dengan khusus ia tujukan kepada gadis yang duduk dihadapannya. “Anak itu adalah anak saya, saya mengadopsinya dari panti asuhan. Dia adalah anak yang manis dan lucu, dia juga mengingatkanku kepada seseorang. Jadi,saya mengadopsinya.”Jawab gadis itu yang mendapat anggukan dari Nyonya Huang. “Jadi, sebenarnya hubungan kalian apa?” Kedua sejoli yang berada di depan Nyonya Huang hanya saling menatap seperti sedang mendiskusikan apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan dari wanita tersebut. “Kami sudah satu bulan berpacaran Mama,” jawab Tao dengan hati-hati. Nyonya Huang hanya mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti apa yang diucapkan oleh anak semata wayangnya. Karena tak ada yang akan dibicarakan lagi oleh wanita tersebut, iapun segera bangkit dari tempat duduknya yang membuat kedua prang di depannya ikut berdiri. “Aku rasa sampai di sini saja acara makan malam kita. Kalian bisa lanjutkan sendiri atau langsung pulang.” Kadua sejoli tersebut langsung saja memberi bungkukkan salam untuk Nyonya Huang. Tao menatap kekasihnya yang masih berdiri di sampingnya. “Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap namja tersebut

Keesokan harinya

Seperti biasa gadis itu mengisi acara tersebut dengan baik. Seolah tidak ada masalah yang sedang menimpanya. Benar saja ia memang tidak mau ambil pusing tentang kejadian kemarin. Sekarang ia malah sedang sibuk membalas pertanyaan dari email para penonton. Tangannya dengan teliti mengetik beberapa huruf dalam smartphone miliknya untuk memberikan jawaban kepada para pengirim yang rata-rata seorang pecinta binatang. “Official weibo acara ini jadi banyak komentar tentang scandalmu dengan Direktur Huang.” Ucap seorang gadis bernama Yuan Lei staf acara tersebut yang merupakan teman Dae Ah. “Kau sudah berhasil menjadi Cinderella sekarang.” Lanjut gadis tersebut. “Cinderella apanya? Kau tau kan gosip itu terlalu berlebihan?” Timpal Dae Ah. “Iya, tapi melihat kalian sedekat itu, mungkin saja gosip itu benar.” balas gadis tersebut yang semakin membuat Dae Ah semakin kesal.

Drrtt Drrtt

Merasakan ponselnya bergetar gadis itu segera mengangkat panggilan dari nomor asing tersebut.

“Halo.”

“Apa ini Lee Dae Ah ?, ini saya Nyonya Huang.”

“Ah Nyonya Huang, I..iya .Apa ada hal penting yang ingin anda bicarakan kepada saya?”

“Apa kau sedang sibuk sekarang?”

“Tidak, saya sedang tidak sibuk sekarang.”

“Kalau begitu, temuilah aku di Great Hotel, aku ingin mengajakmu ke pameran binatang peliharaan. Mungkin saja kau bisa memilihkan yang bagus untukku?”

“Oh, baiklah Nyonya. Saya akan segera kesana.”

Pip. Yuan Lei memandang penuh tanya pada Dae Ah. Mendengar gadis itu menyebutkan Nyonya Huang. “Yuan Lei, Aku harus pergi sekarang.”ucap Dae Ah sambil membereskan barang-barangnya di atas meja. “Bersama Nyonya Huang kan?” Dae Ah hanya diam tidak menanggapi ucapan gadis itu dan langsung pergi. “Kurasa gosip itu memang benar.”ucap gadis itu selagi Dae Ah keluar dari ambang pintu.

Setelah beberapa menit melajukan mobil, akhirnya sampailah ia di depan Gedung Great Hotel tempat di mana Nyonya Huang menyuruhnya datang. Dengan mantap gadis itu melangkahkan kakinya memasuki bangunan mewah tersebut. Ia disambut dengan ramah oleh para pelayan hotel tersebut dan ditunjukkannya tempat diselenggarakannya pameran tersebut. Kedua bola mata gadis itu dengan teliti menyusuri setiap penjuru ruangan mencari sosok yang mengajaknya ke tempat ini. Sampailah kedua manik itu pada seorang wanita setengah baya dengan pakaian yang tetap modis sedang menggendong seekor kucing persia berbulu putih di salah satu stan pameran tersebut. Dae Ahpun segera melangkah mendekati wanita tersebut.

“Nyonya Huang, Ni Hao!”Sapaan seolah gadis itu memberitahu kepada Nyonya Huang bahwa orang yang di tunggunya sudah datang.

“Oh, Kau sudah datang? Emm bagaimana menurutmu tentang kucing ini? ” ucap Nyonya Huang sambil menyodorkan kucing lucu tersebut ke arah Dae Ah yang langsung disambut oleh kedua tangannya. Terlihat para pelayan berbisik-bisik melihat kedua pelanggan mereka. Dae Ah pun yang menyadarinya hanya mengabaikan ucapan kedua pelayan tersebut yang samar-samar didengarnya.

“Dia lucu sekali Nyonya, bulunya sehat dan bagus. Tidak rugi jika anda membelinya.” Komentar gadis itu.

“Aku akan membelinya.” Ucap Nyonya Huang kepada pelayan tersebut.

Drrt Drrtt

Suara getar yang berasal dari dalam tas Nyonya Huang pun menghentikan kegiatan wanita tersebut dan membuatnya menjauh dari tempat itu dan mengangkat telepon yang berasal dari anak buahnya itu.

“Anda terlihat lebih cantik daripada di televisi, Tuan Huang pasti sangat mencintai anda.” Ucap salah seorang pelayan tadi.

“Ah, Xie-xie.” Timpal Dae Ah. “Orang tuanya cantik dan tampan, pantas saja anak anda begitu lucu.” Ucap seorang pelayan lainnya. “Ah, itu bukan anak kami. Berita itu tidak benar. Apa kalian sudah selesai? Aku akan memberikan hewan lucu ini ke Nyonya Huang.”  Kedua pelayan itu hanya bisa mengangguk mendengar permintaan pelanggannya. “Eoh, tentu saja.”

Dae Ah melihat Nyonya Huang sedang berdiri sambol tangan kanannya memegang ponsel yang ia tempelkan di daun telinganya. Dae Ah menunggunya dari kejauhan tidak berani mendengar percakapan di telepon wanita itu. Setelah melihat Nyonya Huang menutup teleponnya, gadis itu segera menghampiri Nyonya Huang dengan sebuah keranjang hewan ia tenteng di tangan kirinya. “Eoh sudah selesai?” ujar Nyonya Huang melihat gadis itu mendekatinya sambil membawa makhluk lucu tersebut. “Sebaiknya kita ke lantai dua untuk makan malam, bisakan?” ajak Nyonya Huang. Dae Ah hanya mengangguk akan permintaan wanita paruh baya tersebut.

Makan malam kali ini tidak seperti yang kemarin. Nyonya Huang lebih sering mengeluarkan suaranya. Dae Ah pun juga tidak bisa hanya diam jika seorang yang dihormatinya mengajaknya berbicara. “Sebenarnya apa yang membuatmu menerima anakku?” tanya Nyonya Huang kepada Dae Ah yang sedang meminum tequillanya. “Aku tidak yakin Nyonya. Menurutku dia orang yang baik, jadi aku menerimanya.” Jawab gadis itu. “Apa sebelum mengenalnya kau sudah tau kalau dia itu pewarus dari perusahaan kami?” Wanita tersebut kembali mengajukan pertanyaan kepada gadis di depannya seolah-olah mereka sedang ujian wawancara untuk calon menantu yang tepat. “Aku tidak mengetahuinya, tapi setelah kita berteman cukup lama akhirnya ia memberi tahuku.” Nyonya Huang menganggukkan kepalanya puas mendengar jawaban gadis itu. “Lalu, kau pasti taukan kalau anakku itu tidak bisa menjalin hubungan dengan gadis sembarangan, sebagai calon pewaris perusahaan tidak peduli cinta atau tidak yang terpenting dalam sebuah hubungannya menghasilkan keuntungan pada perusahaannya sendiri. Jadi, apa menurutmu kau bisa mengembangkan perusahaan kami? Mungkin orang tuamu juga seorang pembisnis di korea sana?” Dae Ah tertegun mendengar pertanyaan Nyonya Huang yang langsung menusuk hatinya. “Jadi, maksud anda, anda menyuruhku untuk menjauhi anak anda begitu?” Nyonya Huang tersenyum mendengar jawaban gadis itu yang sesuai dengan sasarannya. “Seorang dokter memang benar-benar cerdas.” Dae Ah hanya mendesis mendengar perkataan Nyonya Huang. “Sekarang kau sudah mengerti maksudku, jadi aku tidak perlu berlama-lama di sini.” Gumam wanita tersebut yang langsung beranjak dari tempat itu. Sedangkan Dae Ah hanya menatap lurus kedepan, merenungi apa yang sudah terjadi. ‘Baiklah, aku akan melakukannya Nyonya.’ Ucapnya dalam hati. Tuhan seolah-olah tidak adil, ketika ia akan memuali bab baru di hidupnya bersama dengan orang yang akan ia coba untuk cintai, seolah-olah cerita tersebut langsung di tamatkan oleh sang pencipta, Ia tidak mengerti tentang kisah cintanya yang selalu berakhir tragis.

Tao berkali-kali menghubungi gadis itu tapi tidak ada jawaban darinya. Tidak sabar namja itupun segera melesatkan mobilnya menuju ke apartemen gadis tersebut. Di dalam mobil ia juga dengan setia menghubungi gadis itu berkali-kali, tapi dari 56 panggilan tersebut tak satupun yang gadis itu angkat. Setelah sampai di apaertemen Dae Ah, namja jangkung itu segera memasukkan rangkaian angka untuk membentuk suatu kode agar pintu apartemen tersebut bisa dibuka. ‘Ting’ Tao segera mengambil langkah untuk memasuki ruang tersebut mencari sosok yang ia hubungi dari tadi. Kedua manik tajamnya dengan cepat menemukan sesosok bayangan yang ia cari tadi sedang berdiri menghadap ke jendela yang membiaskan pemandangan malam Kota Qingdao. Kedua kaki  panjang tersebut melangkah mendekati gadis itu. Merasakan kedatangan seseorang Dae Ah pun membalikkan tubuhnya menghadap namja jangkung itu. “Maafkan ibuku, Aku akan berusaha membujuknya.” Ucap namja itu sambil memegang kedua tangan Dae Ah. “Kau tidak perlu repot-repot membujuk ibumu, Tao-ya, kita akhiri saja sampai di sini.”ujar Dae Ah menatap manik Tao. Sedangkan namja itu hanya menunduk mendengar ungkapan yeoja di depannya yang sukses menjatuhkan perasaannya.”Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi jika kau butuh sandaran saat kau jatuh, aku selalu siap untukmu.” Dae Ah hanya mengangguk. “Xie xie.”

Luhan, seorang pemuda tampan dari Korea Selatan kini sedang mengabdikan diri menjadi relawan di Pulau Samo. Sebuah pulau yang memiliki hutan hujan tropis yang cukup besar, namun kondisinya sangat memprihatinkan dengan adanya penebang dan pemburu liar yang terus saja menggaruk kekayaan pulau tersebut. Tugasnya adalah berpatroli untuk menjaga kelestarian flora dan fauna yang ada di pulau itu. Selain itu, ada juga Sehun seorang dokter hewan yang ikut menjadi relawan di pusat konservasi satwa liar di Pulau tersebut.

“Kau pantas sekali menjadi ayahnya.” Ucap Luhan kepada Sehun yang sedang menggendong seekor Orang Utan di lengannya.

“Kau jahat sekali, dasar rusa. Kenapa kau tidak cari kembaranmu saja di hutan sana.” Balas namja itu.

“Namaku saja yang rusa, wajahnya sih nggak mirip.” Ujar Luhan.

“Oh, ya. Katanya hari ini tim relawan WWF China akan datang. Aku berharap ada dokter hewan cantik yang akan membantuku. Aku sangat lelah mengurus mereka sendirian.” Keluh Sehun yang membuat Luhan menepuk kepalanya. “Yak! Kau pikir akan ada gadis cantik yang mau tinggal di hutan belantara seperti ini. Tidak usah terlalu bermimpi Sehun-ah.” Ucap Luhan seolah ingin menyadarkan Sehun.

Dua mobil jeep berlogo panda dengan bendera China telah tiba di depan Kantor pusat konservasi satwa liar Pulau Samo. Luhan dan teman lainnya sudah bersiap di halaman untuk menyambut kedatangan para relawan dari China tersebut. Para rombongan pun segera turun dan menuju ke gedung sederhana tersebut untuk disambut. Selagi menyambut relawan dari negeri tirai bambu itu, Luhan dan Sehun terkejut bukan main melihat teman SMA-nya berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

“Lee Dae Ah?”

TBC

Note : Pulau Samo dalam ff ini hanya pulau imajinasi author saja, jadi jangan di cari di peta ya.

5 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Sunflower (Chapter 7)

  1. Huiii…. ketemu juga secara langsung 😀 udah lama banget!!😆 tapi dae ah mungkinkah kembali galau setelah bertemu luhan?😂 Atau sehun nih yg paling semangat?! 😆

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s