[EXOFFI FREELANCE] Café Latte (Chapter 2)

photogrid_1473564360429

Café Latte

Tittle            : Café Latte (Chapter 2)

Author        : Dancinglee_710117

Main Cast        :

  • All EXO member
  • Ji Hae Young (OC)
  • Park Misun (OC)
  • Jung Jae Rim (OC)
  • Rae In Sung (OC)
  • Tae Kyura (OC)
  • Jo Na Ri (OC)
  • Moon Hyera (OC)
  • Lee Minyeo (OC)
  • Go Muyeol (OC)
  • Lee Haeri (OC)

Genre        : Drama, Slice Of Life,  Comedy (a little bit), Romance and other

Rating        : T

Length        : Chapter

~Happy Reading~

-What My Heart Want To Say-

Hari kedua pembukaan café masih berjalan lancar. Setelah café tutup, para pegawai membereskan tempat sementara para leader dan sang manajer berkumpul di meja paling ujung untuk rapat soal café dalam dua hari ini. Sehun yang membantu Haeri mengelap meja sesekali menengok ke belakang, dimana orang-orang itu melakukan rapat. Sementara Kyungsoo masih di dapur dan Baekhyun merapikan meja bartendernya.

“Jadi, keuntungan hari ini dan kemarin cukup lumayan. Setidaknya bisa menutupi modal awal kan?” Suho menyimpulkan sekaligus menghibur empat gadis itu.

Mereka sedikit kecewa karena meskipun dua hari café ramai pengunjung, tapi itu karena promosi besar-besaran yang diberikan. Keuntungan yang di dapat sangat kecil. Hal itu yang membuat mereka sedih dan lesu seperti ini. Suho yang ikut ambil andil besar dalam pemberian modal, bahkan membangun café itu sudah mengatakan kalau ini tidak masalah, tapi kekecewaan mereka terlalu besar.

“Hei, ini café baru. Masih terlalu awal untuk terpuruk seperti ini.” lagi-lagi Suho menenangkan mereka. Ia mengusap punggung Misun yang tertunduk lemas sejak Jae Rim mengumumkan hasil penjualan mereka.

“Tapi oppa, meskipun modal tertutupi, bagaimana kita menghitung gaji pegawai nanti?” Jae Rim mengingatkan. Diantara empat gadis itu, dia yang paling terlihat frustasi.

Na Ri mengangguk, “Dua hari ini memang banyak pengunjung datang. Tapi kebanyakan dari mereka hanya melihat band performance dan pegawai pria kita.” Ujarnya.

“Sudah, biar gaji pegawai kita pikirkan menjelang akhir bulan. Jika masih belum tercukupi, aku akan bantu-”

Perkataan Suho langsung dipotong oleh Misun. “Oppa!, kau selalu bilang ‘akan kubantu’ tapi ini juga café kami. Sudah menjadi tanggung jawab kami juga untuk mengurus setiap masalah café, jadi kumohon jangan bersikap seolah kau bisa menyelesaikannya sendiri!” nada bicara Misun naik, sepertinya ia sangat kesal saat ini.

Suho terhenyak, tapi dia segera menjelaskan maksud baiknya tadi. Namun Misun menolak mendengarkan dan kembali menunduk. Pandangan mereka beralih pada Hae Young yang sedari tadi diam dan hanya menangkupkan muka di meja. Jae Rim yang duduk di sampingnya mendekat lantas mendengar suara isakan. Dia terkejut dan memberitahukan pada yang lain apa yang dia dengar.

“Hae Young-ah!, kau kenapa?” tanya Misun khawatir. Hae Young bukan tipe gadis yang mudah menangis, justru jika ada masalah seperti sekarang dia akan bercanda untuk menghibur yang lain.

“Hae Young-ah!, kau menangis?!” Haeri yang mendengar keributan akhirnya menghampiri, bersama dengan Sehun. Ia terkejut karena sang sahabat menangis.

Na Ri menggeleng tidak percaya, “Biasanya Misun yang cepat tersentuh.” Dan yang disindir langsung mengelak. “Bukan aku! Tapi Jae Rim yang mudah menangis hanya karena video idolanya!”

“Yak! apa ini waktu untuk berdebat?!” Jae Rim mengingatkan situasi mereka.

Baekhyun datang membawa jus jeruk dan menaruhnya di samping Hae Young. Yang lain menatapnya bingung tapi Baekhyun hanya memasang wajah innocent dan langsung duduk di kursi kosong tak jauh dari meja tempat para leader melakukan rapat tadi. Kyungsoo yang tadinya sibuk di dapur ikut keluar mendengar keributan yang mereka timbulkan.

“Ada apa dengan Hae Young-ssi?” tanyanya bingung.

“Entahlah, dia menangis, sepertinya karena kecewa akan pendapatan café yang kecil.” Na Ri menjelaskan, “Walau itu agaknya mustahil.” Tambahnya.

“Bukan itu.” Akhirnya Hae Young bersuara. Ia mengangkat kepala meskipun masih menunduk dan menutup wajahnya. Yang lain memasang telinga untuk mendengar suara lirih Hae Young, dimana isakannya masih terdengar jelas.

“Ini semua karena Kyungsoo!” dia menunjuk pria bermata bulat itu, yang lain semakin terkejut dan belum mengerti.

Sementara itu Kyungsoo menunjuk dirinya sendiri, “Aku? Apa kesalahanku?” dia berfikir sejenak lalu mengangguk paham sambil tersenyum, “Ooh, karena yang tadi?” dan mendapat jawaban anggukan dari Hae Young.

Mereka mulai berprasangka buruk pada Kyungsoo, dalam hati bertanya apa yang sudah terjadi pada kedua orang itu tadi, namun hanya Baekhyun yang langsung memberanikan diri untuk bertanya.

“Ada apa tadi?, kau melakukan ‘sesuatu’ pada gadis ini?”

Hae Young menginjak kaki Baekhyun sambil mengusap air matanya. Pria itu kesakitan, tapi seperti biasa, Hae Young tidak peduli.

“Jangan salah paham. Ini hanya karena ketidaksengajaan. Tadi sebelum tutup kami bercanda dan Kyungsoo melempar bawang merah sehingga mengenai mataku.” Dia menjelaskan.

“APA?! LALU KENAPA KAU MASIH DISINI?!. Hei!, kau sudah membasuhnya dengan air?” Jae Rim gelagapan, dia pergi ke kamar mandi dan membasahi handuk kecil untuk diberikan kepada Hae Young.

“Maafkan aku.” Kata Kyungsoo, “Tadi aku sudah menyuruhnya ke kamar mandi tetapi dia lebih mementingkan rapat.”

Begitu mendapat tatapan tajam dari Jae Rim, Hae Young tersenyum konyol seraya mengusap air mata yang turun ke pipi.

Sorry, tapi aku baik-baik saja. Terima kasih.” Dia mengambil handuk yang diberikan oleh Jae Rim. “Kalau begitu aku pulang dulu. Rapat sudah selesai kan?”

“Dengan keadaan seperti itu?” tanya Haeri tidak percaya.

“Aku bawa motor, biar aku antar.” Tawar Sehun. Dia hendak mengambil kunci motor di loker ruang ganti tapi Hae Young menolak.

“Aku bisa naik bis, sungguh aku baik-baik saja.”

“Tapi akan sulit dengan mata seperti itu.”

“Tidak apa, sungguh ini bukan masalah besar!”

“Baiklah kalau begitu.” Sehun melepas celemek dan menuju ruang ganti. Haeri menggeleng tidak percaya, Hae Young selalu memaksakan diri padahal ia tahu kalau dirinya tidak sanggup. Tapi Haeri tidak bisa melakukan apapun, keras kepala gadis itu terlalu besar untuk di lawan bahkan oleh si cerewet Jung Jae Rim.

Na Ri mendekati Hae Young, ketika yang lain sibuk mentertawakan kecerobohan Hae Young serta Kyungsoo ataupun membicarakan hal lain, Na Ri justru bertanya mengenai kenapa Hae Young menolak tawaran Sehun.

“Apa kau masih trauma?”

“Eoh? Apa maksudmu?”

Na Ri menghela nafas, sudah jelas tercetak di wajah gadis itu kalau spekulasi Na Ri benar adanya.

“Jangan pura-pura, bahkan sudah setahun berlalu, tapi kau masih mengingat masa lalu?”

“Yak Jo Na Ri!, kau mulai bersikap aneh.”

Na Ri yang kesal karena sikap pura-pura Hae Young, memukul gadis itu di bagian kepala. Padahal biasanya Na Ri tidak memukul walau sedang kesal sekalipun. Hae Young sedikit terkejut, tapi dia paham betul maksud Na Ri. Ia menundukkan kepala, menghela nafas sejenak lantas tersenyum simpul.

“Yak! Oh Sehun!”

Semua orang di café menoleh pada Hae Young yang tiba-tiba berseru keras, menghentikan langkah Sehun yang hendak keluar café.

“Ya?”

Hae Young menyambar jaket dan ranselnya di meja dimana Baekhyun duduk lalu menghampiri Sehun.

“Maaf mendadak, tapi tawaran untuk mengantarku pulang masih berlaku kan?”

Hae Young tersenyum, tapi entah kenapa senyumannya mengundang perasaan aneh untuk setiap orang yang sangat mengenalnya.

Sehun mengangguk, “Baiklah. Aku ambil motor dulu.” Dia membuka pintu café.

“Eoh!, aku akan menunggu di ujung jalan sana.” Hae Young menunjuk tempat yang dimaksud, “Semuanya! Aku dan Sehun pulang dulu. Bye!” dan keluar dari café.

Haeri menatap Misun, Misun menatap Jae Rim, Jae Rim menatap Na Ri lantas Na Ri menatap Haeri. Para wanita itu kemudian menggeleng, membuat para pria yang tidak mengerti masalahnya bingung sendiri.

“Ada apa?”

Pertanyaan Baekhyun, mewakili para pria, tidak ditanggapi baik oleh para wanita.

“Bukan urusanmu!”

***

“Hari ketiga café buka!”

Seruan dengan nada ceria dari Hae Young yang tengah membalik tulisan ‘tutup’ menjadi ‘buka’ kembali menarik perhatian sahabatnya. Keempat gadis itu memberikan tatapan tajam dan menelisik untuk Hae Young dari belakang, namun kembali normal saat Hae Young berbalik atau berbicara dengan mereka. Baekhyun yang selalu berpapasan dengan mereka menjadi takut.

“Dasar wanita, sulit sekali dimengerti…” gumamnya seraya mengelap gelas.

Bel berbunyi, membuat para pegawai atau siapapun di ruang tengah langsung bersiap menyambut kalau-kalau ada pelanggan. Namun rupanya yang datang adalah Suho, bersama seorang pria.

“Pagi semuanya!” sapa Suho ceria.

“Pagi!”

Suho mempersilahkan pria yang dia bawa untuk ikut menempati salah satu meja tamu. Haeri segera menghampiri dan bertanya pesanan mereka.

Mocca float dan jus jeruk saja.”

Haeri tersenyum dan mengambil buku menu, “Baik.” Dia hendak memberitahukan pesanan pada Baekhyun namun Suho menahannya sebentar.

“Setelah itu sampaikan pada yang lain untuk segera berkumpul ya?”

Walau bingung namun Haeri menurut saja. Seusai menunjukkan pesanan, ia memanggil Hae Young dan Kyungsoo yang ada di dapur, serta membangunkan Misun yang tertidur di lantai dua. Setelah semua berkumpul, Suho menyampaikan maksud kedatangannya hari ini.

“Semuanya! Aku ingin memperkenalkan pegawai baru café ini!”

Mereka terkejut, tidak menyangka Suho akan mengangkat pegawai baru untuk café yang juga tergolong masih baru ini, mengingat kalau café sudah memiliki banyak pegawai.

“Perkenalkan dirimu!” kata Suho pada pria di sampingnya. Pria itu mengangguk lalu berdiri.

“Saya Kim Minseok!, setelah ini akan bekerja sebagai barista untuk Our’s Café!. Salam kenal dan mohon kerjasamanya!”

“I-i-iya…” hanya Haeri yang mampu bersuara. Bahkan Baekhyun yang tidak bisa diam, sekarang hanya bisa melongo karena lelaki yang dibawa sang manajer.

“Kita… tidak punya alat membuat kopi…” kata Haeri kemudian.

Misun menambahkan, “Bahkan… tidak punya kopi…”

“Lalu, mocca float ini?” Minseok mengangkat minuman pesanan Suho.

“Maaf sebelumnya, tapi kami menggunakan mocca dalam kemasan. Dengan kata lain itu hanya perisa mocca.” Jelas Baekhyun.

Suho tersenyum sambil menepuk tangan sekali. “Karena itu!, aku meminta Minseok hyung untuk bekerja disini. Dengan begitu akan menambah cita rasa kopi serta mendatangkan lebih banyak pelanggan bukan?”

Mau tak mau mereka semua mengangguk, tidak tega untuk menolak perkataan Suho. Selain itu dia bos, sekaligus manajer dan pemilik setengah modal dan café tersebut, dengan kata lain dia punya kuasa untuk menambah atau bahkan mengurangi pegawai.

“Untuk alat dan kopi itu sendiri tidak perlu khawatir!” Minseok memecah keheningan sementara tadi. “Aku sudah bawa dari rumah!”

“Da-dari rumah?” tanya Jae Rim setengah tak percaya.

“Iya, ayahku punya… anggap saja tempat les untuk menjadi barista. Karena itu aku juga suka pada kopi dan menjadi barista seperti beliau.”

Terdengar suara tepuk tangan di barisan paling ujung. “Keren…” gumam Hae Young yang sebenarnya masih bisa di dengar karena hanya dia yang mengeluarkan suara setelah penjelasan dari Minseok.

“Kalau begitu, kita gunakan lantai dua untuk penjualan kopi dan kue. Semuanya bantu Minseok hyung dengan baik ya?. Maaf aku tidak bisa ikut karena ada urusan di perusahaan.”

Yang lain tidak masalah, mereka tahu betapa sibuknya seorang Kim Joonmyeon alias Suho. Misun mengantarkan Suho sampai ke mobil sementara Baekhyun, Kyungsoo dan Sehun segera membantu Minseok untuk mengeluarkan alat membuat kopi dari mobil Minseok serta membawanya ke lantai dua. Jae Rim serta Na Ri membersihkan lantai dua, sedangkan Haeri berjaga di bawah siapa tahu ada pelanggan, begitu pula dengan Hae Young yang siap sedia di dapur.

“Minseok-ssi, usiamu berapa?” agak mendadak, tapi pertanyaan dari Kyungsoo bertujuan agar dia tahu bagaimana bersikap di depan Minseok. Apakah dia sseorang senior atau malah junior.

“Oh, aku tahun ini 25. Kalian?”

Kyungsoo hampir menjatuhkan sekarung kecil kopi ketika mendengar jawaban dari Minseok. Setelah mengira Sehun lebih tua darinya, sekarang Minseok yang dia sangka lebih muda.

“Aku 22 tahun. Walau kau lebih tua, bisa kita bicara informal?” jawab sekaligus tanya Baekhyun yang menurunkan kardus berisi cangkir. Minseok setuju, ia pikir itu akan lebih baik supaya mereka bisa lebih akrab dan tidak kaku meskipun baru bertemu.

Sehun mengulurkan tangannya pada Minseok, “Berarti aku Maknae disini!. Oh Sehun, usiaku 20 tahun, paling muda diantara para pegawai disini dan setelah ini akan lulus.” Minseok menyambut ularan tangan itu dengan ramah.

“Kalau aku 21 tahun.” Giliran Kyungsoo yang menjawab pertanyaan dari Minseok.

“Wah!, aku kira kau lebih muda dari Sehun!”

Kyungsoo hanya tersenyum mendengar penuturan Minseok. Setelah mengeluarkan semua barang, mereka segera naik ke lantai dua dimana Jae Rim dan Na Ri sudah hampir selesai membersihkan. Beruntung lantai dua tidak begitu berantakan. Disana ruangannya hampir sama dengan lantai satu, hanya saja cuma ada satu sofa berukuran sedang yang biasa digunakan Misun untuk tidur dan meja panjang seperti meja bartender namun lebih simpel serta beberapa kursi di sepanjang meja tersebut. Interiornya juga lebih sederhana, tapi yang menarik adalah dinding kaca di bagian kiri ruangan yang berhadapan langsung dengan pemandangan kota Seoul yang akan terlihat sangat indah di malam hari.

“Aaah!” Minseok langsung menjatuhkan diri di sofa ketika sampai, “Tempat yang nyaman!”

Sehun mengangguk setuju, dia menuju ke jendela. Sebelumnya pria itu belum pernah ke lantai dua karena cerita dari Haeri yang mengatakan Misun akan terlihat menyeramkan ketika tidur. Bukan karena takut, dia tidak ingin mengganggu Misun saat tidur.

“Kalau begitu, aku dan Kyungsoo akan memanggil orang untuk membawa etalase kue kemari.”

“Baiklah!”

Baekhyun dan Kyungsoo pun turun, Jae Rim dan Na Ri juga kembali ke lantai satu untuk berjaga siapa tahu ada pelanggan sekaligus mengawasi Hae Young yang masih bertingkah aneh. Tinggallah Sehun dan Minseok. Kedua pria itu berinisiatif untuk merapikan tempat nanti saja dan sekarang beristirahat sejenak.

“Sehun-ah!”

“Ya?”

Minseok hendak membuka mulut tapi suara ribut dari bawah menghentikannya. Sehun segera turun diikuti Minseok di belakangnya. Begitu sampai, beberapa meja café sudah berantakan seolah telah dilempar, etalase kue pecah hingga setengahnya, dan Haeri yang ditahan Misun serta Jae Rim agar tidak menghajar pelaku yang sekarang sedang berdiri di tengah ruangan.

Baekhyun dan Kyungsoo datang, namun tidak membawa orang seperti yang dia bilang tadi karena buru-buru kembali sebelum melakukan tugasnya sebab mendengar keributan di café. Mereka sama terkejutnya dengan Minseok dan Sehun. Na Ri keluar dari balik meja bartender, di pipinya terdapat luka kecil dan ada pecahan botol berserakan disana. Matanya menatap takut pada pelaku perusakan café tersebut. Walau seorang wanita, namun dia punya kekuatan besar sampai sanggup mengacaukan seisi café bahkan melempar botol wine kearah Na Ri.

“KAU INI SIAPA?!, SEENAKNYA DATANG DAN MENGHANCURKAN TEMPAT ORANG!!!” Haeri berteriak keras seraya meronta. Misun dan Jae Rim sampai kewalahan untuk menahannya tapi masih bisa mengatasi.

Hae Young yang tahu kejadian dari awal dan dalam keadaan cukup tenang, maju untuk menghadapi wanita itu.

“Ke-kenapa anda melakukan ini?, apa kami telah berbuat suatu kesalahan terhadap anda?”

Tapi wanita itu tidak menjawab. Dia hanya diam lalu tersenyum sinis pada Hae Young. Tangannya meraih kursi dan akan dilempar kearah Hae Young jika saja Minseok tidak mencekal tangan wanita itu.

“Siapa kau?” tanyanya kesal, tapi wanita itu justru menyeringai padanya. “Wanita gila yang jatuh cinta.” Ujarnya dingin, ia menepis tangan Minseok lalu berjalan menuju pintu keluar. Tapi Baekhyun dan Kyungsoo menghadangnya.

“Anda tidak bisa kabur, anda harus ganti rugi atas kerusakan yang sudah anda buat.” Kata Baekhyun tegas.

Wanita itu mengambil dompet dari tasnya, mengeluarkan beberapa lembar uang dengan jumlah besar dan dilemparkan tepat mengenai wajah Baekhyun. Pria itu menggeram kesal, ia hendak menghajar wanita itu tapi dia tahu aturan. Kyungsoo menarik lengan wanita itu dan mencoba berlaku sopan.

“Apa lagi huh?!” seru wanita itu.

“Bisakah kita selesaikan dulu masalahnya?, bukan soal kekacauan café atau bahkan soal ganti ruginya saja. Tapi juga soal kenapa anda berlaku seperti ini?, apa diantara kami atau mungkin semuanya telah melakukan kesalahan kepada anda?”

Wanita itu diam, walau kesal pada Kyungsoo tapi dia tidak bisa mengelak atau kabur dari pertanyaan pria bermata bulat itu. Meskipun sebenarnya tidak ingin, tapi dia menuruti Kyungsoo dan pasrah ketika pria itu membawanya duduk di salah satu kursi yang masih rapi dan tidak terbalik seperti kursi lainnya.

Pegawai lain menghampiri, kecuali Haeri yang masih marah dan Na Ri yang ketakutan akibat lemparan botol tadi. Mereka mengerubungi wanita itu, menunggunya untuk bicara, menjelaskan alasan dibalik perbuatan gilanya. Tapi sepuluh menit berlalu namun tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, sementara banyak yang tidak sabaran dan tidak bisa hanya berdiam diri saja.

“Kau bisa bicara tidak?!”

Seruan Haeri dari meja bartender membuat wanita itu mengepalkan tangan kuat dan memasang ekspresi marah. Tapi Haeri tidak peduli, dia punya hak untuk lebih marah lagi.

“Kenapa kau melakukannya?” kali ini Hae Young yang bertanya, dengan informal. Dia berjalan gelisah kesana-kemari, “Kesabaranku sudah habis, bung!”

“Aku hanya…” akhirnya wanita itu bersuara, “…ingin menunjukkan diri pada Joonmyeon oppa.”

Misun tersedak, dia menatap wanita itu, tapi tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ada banyak pertanyaan, dan semuanya berputar-putar di kepalanya, sayangnya tak satu pun yang bisa dia utarakan. Bahkan menghentikan Hae Young yang ingin mengatakan kebenaran pada wanita itu.

“Joonmyeon adalah… cinta pertamaku.”

***

Ponsel Suho bergetar, terhitung sudah sepuluh kali seseorang menelponnya tapi apa daya, Suho masih sibuk mempresentasikan laporan keuangan dan membahas produk baru perusahaannya. Walau ia sangat khawatir dengan panggilan di ponselnya, namun presentasi kali ini sangat penting bagi perusahaan.

“Baiklah, sekian rapat kali ini.”

Begitu presdir perusahaan mengatakannya, Suho bergegas mengambil ponsel serta tasnya dan berjalan keluar ruang rapat dengan tergesa. Langkah Suho terhenti saat atasannya memanggil dan berbicara dengannya mengenai kinerja karyawan baru tahun ini yang merosot tajam. Suho tak memperhatikan, fokusnya terpecah pada notifikasi di ponselnya. Sepuluh kali panggilan tak terjawab dari Minseok, Jae Rim dan Misun. Serta beberapa pesan singkat yang belum ia baca.

“Maaf, tapi saya harus bergegas pulang. Sekali lagi saya mohon maaf.”

Setelah berkata demikian, Suho berlari menuju lift. Dia terus sibuk menghubungi nomor siapapun yang berurusan dengan café. Tapi masih belum ada yang menjawab panggilannya. Suho keluar dari lift, menghadang taksi yang lewat, menaikinya dan meminta sang supir untuk melaju lebih cepat. Dia masih berusaha menghubungi, lalu menyerah dan beralih pada pesan singkat tersebut. Ada banyak, terutama dari Minseok yang menyuruhnya segera ke café karena ada keributan. Namun yang membuat perhatiannya teralihkan adalah pesan dari nomor tak dia kenal.

‘Oppa, aku kembali. Kuharap sambutan baik yang aku terima. Aku menunggumu, di café.’

Tangan Suho mengepal kuat. Rasa keterkejutannya dikalahkan oleh amarah.

Ajhussi!, tolong lebih cepat lagi!”

“Baik.”

***

“Hei! Kami tidak butuh cerita masa lalu mu!. Yang kami butuhkan adalah alasan dibalik kelakuan konyolmu!” seru Haeri tidak sabaran. Dia juga tidak ingin terjadi salah paham pada Misun tentang Suho.

Hae Young hendak mengatakan sesuatu tapi Misun lagi-lagi mencegahnya. Hae Young ingin protes, tapi melihat bagaimana ekspresi gadis itu sekarang, melunturkan niatnya.

“Aku mencintai Joonmyeon!”

Semuanya menatap wanita itu heran.

“AKU MENCINTAI JOONMYEON!”

“Dan apa dia mencintaimu?”

Kali ini pandangan semua orang beralih pada Misun. Gadis itu akhirnya angkat bicara.

“Bicara apa kau!, jelas-jelas dia mencintaiku!” jawab wanita itu yakin.

“Apa kau punya bukti?, apa… satu kali saja Joonmyeon pernah mengatakannya secara langsung?”

Bel pintu berbunyi. Semua orang kecuali Misun beralih menatap kedatangan Suho. Sementara Suho sendiri menghiraukan setiap tatapan bertanya dari para pegawai. Ia menghampiri Misun dan langsung memeluk kekasihnya dengan erat. Wanita yang mengaku mencintai Suho melotot dengan perlakuan Suho pada Misun.

OPPA!” teriaknya tidak terima.

Suho merenggangkan pelukannya, tanpa ada niat untuk melepaskan Misun sedikitpun. Dia tersenyum.

“Hyera-ya!, aku… sekalipun tidak pernah menyukaimu.”

Hae Young menutup mulutnya cepat agar tawanya tidak keluar dan memperkeruh suasana. Haeri tersenyum puas, ia sangat senang melihat wanita itu dipermalukan. Dan Baekhyun, lagi-lagi dia membawa jus jeruk dan meletakkannya di dekat wanita itu.

“Ta-tapi…”

“Kau sudah salah sangka. Mungkin orangtuaku sangat memperhatikanmu bahkan lebih dari aku. Tapi itu mereka, dan aku hanya menganggapmu sebagai adik, tidak lebih.”

Hae Young membungkam mulutnya sendiri, matanya sampai berair menahan tertawanya sendiri. Jae Rim menatap tajam Hae Young tapi dia tidak bisa melakukan apapun karena rasa geli itu muncul saat wanita bernama Hyera tersebut dipermalukan Suho.

“Tapi oppa!-”

“Hyera hentikan!”

Ini pertama kali mereka melihat Suho menyentak seseorang, bahkan seorang wanita dengan paras cantik hanya saja berkelakuan buruk. Melihat bagaimana amarah seorang Kim Joonmyeon sekarang, mereka berjanji untuk tidak membuat pria itu kembali emosi.

Mata Hyera memanas, air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. Melihat itu rasa geli Hae Young lantas menghilang. Ia mulai merasa iba padanya, bahkan Haeri yang sangat kesal pun ikut bersimpati. Baekhyun, Kyungsoo dan Jae Rim memilih untuk menjauh, Hae Young memalingkan muka dan Minseok hanya diam mengamati. Sementara Haeri dan Na Ri yang memang berada di kejauhan tidak tahu harus bagaimana.

Misun diam di pelukan Suho. Tidak ada ekpresi yang dia tunjukkan, pandangannya kosong. Suho tidak menyadari keadaan kekasihnya, yang dia pikirkan adalah bagaimana untuk mengusir Hyera. Meski kejam, tapi dia harus melakukannya.

Nappeun oppa!”

Kemudian Hyera berlari keluar dari café.

“Syukurlah…” lirih Haeri ketika wanita itu sudah benar-benar pergi.

Oppa…”

Haeri menoleh pada Misun, begitu pula yang lainnya. Mereka menerka apa yang akan terjadi pada pasangan itu setelah ini. Berharap hubungan mereka tetap baik-baik saja.

“Maafkan aku.” Ucap Joonmyeon, “Aku janji dia tidak akan mengganggumu lagi.”

Misun mengangguk, tapi sepertinya ada hal lain yang mengusik gadis itu.

Oppa, sebaiknya… kita putus saja.”

Semua orang yang mendengar itu kaget. Tentu saja, mereka tahu bagaimana Misun mencintai Suho selama ini. Bahkan pernikahan mereka sudah direncanakan jauh-jauh hari. Permintaan putus dari Misun yang tiba-tiba sangat tidak masuk akal.

“Misun-ah…”

“Aku serius soal ini. kita putus saja.”

~TBC~

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Café Latte (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s