[CHEN BIRTHDAY PROJECT] My Neighbour My Love

1473778302827.jpg

by bebebaek_

( https://beebbaek.wordpress.com )

Main cast : Kim Jong Dae (EXO), Shim Yun Mi (oc).

Genre : romance, school life

Length : Oneshoot | Rating : General

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Terang bias sinar matahari memasuki jendela kamar yang di dominasi warna cream itu. Semuanya telah tertata rapi, bahkan selimut dan tempat tidurpun telah bersih.

Sret~

Seorang pemuda berjalan keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragam sekolah yang terlihat pas di tubuhnya.

Pemuda itu mengambil ransel yang terletak di atas meja belajarnya. Tidak lupa ponsel yang tergelak di tempat yang sama di masukkannya ke dalam saku celananya.

“Eoh jongdae-ya, kau akan pergi sekarang ?”

“Kau tidak ingin sarapan dulu ?” Seorang wanita paruh baya bersuara ketika pemuda bernama jongdae itu keluar dari kamarnya dan berlalu begitu saja menuju pintu apartemen sederhana mereka.

“Tidak eomma, aku akan terlambat” jawab jongdae kepada sang ibu yang tengah sibuk bergelut di belakang kompor dapurnya.

“Kau bisa berangkat bersama appamu” suara wanita itu lagi menginterupsi langkah jongdae ketika pemuda itu berada tepat di ambang pintu.

“Tidak perlu, appa tidak boleh melewatkan sarapan penuh cinta dari eomma bukan?” jawab pemuda itu dengan senyum melebar, terlihat jelas ia begitu menyukai menggoda kedua orang tuanya.

“Aku pergi” lanjut jongdae masih dengan senyumnya kemudian hilang di baling daun pintu apartemen yang kembali tertutup.

“Ckckc, anak itu” decak ibu jongdae setelahnya.

“Sudahlah yeobo. jongdae tengah beranjak dewasa, mana mungkin dia memilih ikut denganku sementara teman gadisnya menunggu” suara ayah jongdae membela. Pria paruh baya itu tersenyum kemudian menyeruput kopi paginya.

—————————–

Tok! Tok! Tok!

Jongdae kini telah berada di depan sebuah pintu apartemen yang terletak tepat di sebelah apartemennya. Sembari tersenyum pemuda itu membenturkan kepalan ringan tangannya dengan pintu berwarna cokelat itu.

“Eoh jongdae-ya” suara seorang wanita paruh baya setelah membuka pintu dan mendapati jongdae berdiri di baliknya.

“Masuklah dulu, yunmi masih berada di kamarnya” lanjut wanita itu mempersilahkan.

“Kau pasti tidak sempat sarapan kan ?” Tanya wanita itu kepada jongdae yang tengah berjalan mengekori langkahnya.

Jongdae hanya tersenyum menjawab pertanyaan dari ibu teman sekaligus tetangganya itu.

“Duduklah” perintah wanita itu lagi dan setelahnya ia berjalan menuju lemari es untuk mengambil sekotak susu.

“Yunmi-ya, keluarlah. Jongdae menunggumu!” suara wanita itu sembari menuangkan susu pada dua gelas mug di depannya.

Tidak lama setelahnya gadis dengan surai hitam sebahu itu keluar dari kamarnya. Dengan ransel yang telah bertengger di kedua bahunya yunmi berjalan menghampiri keduanya.

“Apa kau sudah lama ?” Suara yunmi setelah mengamit satu roti isinya dan duduk di sebalah jongdae.

“Kau selalu membuat jongdae menunggu” sahut sang ibu menimpali sementara orang yang di tanya hanya tersenyum melihat keduanya.

“Baiklah, kami harus segera berangkat. Terima kasih untuk sarapannya bi” suara jongdae bangkit dari duduknya.

“Eoh ya. Pergilah sebelum kalian terlambat” jawab ibu yunmi tersadar akan waktu yang terus berlalu.

“Hey! Ya! Yunmi-ya cepat selesaikan sarapanmu!” suara ibu yunmi lagi saat menemukan sang putri masih sibuk dengan rotinya.

“Ya, ya baiklah” yunmi akhirnya bangkit dari kursinya berdiri kemudian melangkah menuju pintu apartemen mereka.

“Eomma, aku pergi!” suara yunmi nyaring sesaat sebelum sosoknya hilang di baliknya. Ibu yunmi hanya dapat tersenyum sembari bergeleng kepala mendapati perilaku putrinya yang sama sekali tidak berubah bahkan di usia remajanya.

“Kau lama di dalam kamarmu untuk terlihat cantik di depanku ?” Jongdae membuka suaranya pertama kali saat keduanya kini berjalan menyusuri lantai demi lantai apartemen mereka.

“Tidak. Mengapa kau berpikir seperti itu ?” Yunmi mengelak.

“Karena kau terlihat begitu cantik hari ini” jawab jongdae sembari menatap gadis di sampingnya itu.

Yunmi diam menunduk, entahlah wajah gadis itu terasa panas. Yunmi menggigit bibir bawahnya menahan sudut bibirnya yang hendak melengkung tanpa izin darinya.

Yunmi mendongak saat merasakan hangat tangan seseorang menggenggam lengannya dan orang itu telah menyunggingkan senyum yang tidak kalah hangat saat yunmi menatapnya.

Yunmi membalas senyum itu dengan wajah merona yang tidak lagi dapat di sembunyikannya. Lantas keduanya berjalan bersama dengan lengan yang saling bertaut.

Ya, keduanya memang menjalin hubungan lebih dari sekedar tetangga, teman ataupun sahabat. Sejak tujuh bulan yang lalu, saat jongdae memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya yang mana di sambut gadis itu dengan senyum malu-malu.

Keduanya menjalin hubungan tanpa sepengetahuan orang tua masing-masing. Bukan bermaksud membangkang ataupun bersifat tidak baik. Jongdae dan yunmi hanya belum siap. Ya, mereka masih berusia belasan tahun, seorang siswa yang belum siap mendapat anggapan ataupun segala bentuk godaan dan pendapat jika orang tua mereka mengetahuinya, karena itu keduanya memilih untuk menyembunyikannya hingga hanya waktulah yang akan menjawab.

——————————

Dug! Dug! Dug!

Yunmi mengernyit saat mendengar bunyi ketukan pada jendela kamarnya, gadis yang tengah duduk dan membaca novel kesukaannya itu segera bangkit dan melangkah mendekat.

Yunmi membuka jendela kamarnya mencondongkan kepalanya keluar. Mata bening gadis itu menangkap sosok jongdae yang juga tengah mencondongkan kepalanya keluar menatapnya dengan sebuah senyum yang selalu saja membuat hati yunmi berdesir hangat.

Saat yunmi masih terlarut dalam senyum itu sang pemuda tiba-tiba mengisyaratkan sesuatu kepadanya. Jongdae mengangkat satu lengannya yang tengah memengang ponselnya bermaksud agar yunmi memeriksa ponselnya.

Yunmi mengerti. Gadis itu kemudian beranjak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja belajarnya.

Setelah mengambilnya yunmi kembali berdiri di depan jendela kamarnya dan menunjukkan ponselnya pada jongdae.

Jongdae tersenyum sesaat, lalu pemuda itu menggerakkan kedua jempolnya di atas layar datar ponselnya.

Tting! Layar ponsel yunmi menyala. Gadis itu menatap pemuda di belakang jendala kamarnya sama sepertinya dan mendapati jongdae yang kembali tersenyum dengan menaikkan kedua alisnya.

Yunmi membuka pesan chat itu.

‘Ayo ke atap, ada yang ingin ku beritahukan padamu’

Lagi yunmi menatap jongdae setelah membaca pesan pemuda itu. Gadis itu menggeleng pelan saat jongdae juga menatap ke arahnya.

Tting! Kali ini ponsel jongdae berdering.

‘Tidak bisa. Eomma masih di ruang tv dan tadi aku bilang aku akan tidur’

Jongdae mendongakkan kepalanya setelah membaca chat balasan dari yunmi. Pemuda itu memasukkan ponselnya kedalam saku celana kemudian memanjat jendelanya keluar hingga kini pemuda itu berada di beranda sempit dengan pagar besi sebatas pinggang itu.

Yunmi hanya mampu membelalakkan kedua bola matanya. Gadis itu bahkan menutup mulut terbukanya dengan satu lengannya saat merekam jelas jongdae menyeberang dengan memanjat dan melompat kecil menuju beranda kamarnya.

“Hey! Minggirlah sedikit. Kau tidak membolehkan aku masuk” suara jongdae setelah kini pemuda itu berdiri di depan yunmi.

“Huhhh!” Yunmi membuang nafas tertahannya. Kedua bola matanya masih membola tidak percaya.

“Yak! Kau ingin membuatku mati berdiri ?” Suara yunmi keras setelah kesadaran menghampirinya kembali. “Oh astaga jongdae-ya itu sangat berbahaya, bagaimana jika-” kalimat yunmi terpotong saat sesuatu kembali terlintas di kepalanya.

“Jadi selama ini kau ke kamarku dengan cara seperti itu ?” Tanya yunmi saat menyadari ini bukanlah kali pertama jongdae menyelinap ke kamarnya.

Jongdae tersenyum gemas kemudian mengacak puncak kepala gadisnya. “Kau khawatir ? Ouhhh lucunya” suara pemuda itu membuat yunmi mendelik kesal padanya.

“Baiklah, maaf membuatmu khawatir. Tapi bisakah kau memberiku jalan untuk masuk. Aku kedinginan. Apa kau tidak khawatir jika aku membeku” lanjut jongdae setelahnya.

Yunmi menggeser tubuhnya memberi jalan untuk jongdae memanjat dan masuk ke dalam kamarnya. Pemuda itu kemudian duduk di atas kursi di samping tempat tidur yunmi sementara yunmi duduk di tepi tempat tidurnya.

“Apa kau ada rencana besok ?” Tanya jongdae mengingat besok adalah akhir pekan.

“Sepertinya tidak ada. Kenapa ?”

“Mau pergi denganku ?”

“Kemana ?”

“Eyy.. tidak asik jika ku beri tahu sekarang. Bagaimana kau mau ?”

“Baiklah”

“Yunmi-ya, kau masih terkejut ?” Tanya jongdae melirik sang gadis yang sejak tadi diam dan hanya membalas singkat setiap pertanyaannya.

“Eoh! Kau benar-benar”

“Jadi kau sangat menyayangiku ?” suara jongdae kali ini membuat kedua alis yunmi mengernyit bingung.

“Karena kau sangat mengkhawatirkanku. Bukankah itu artinya kau sangat menyayangiku ?” Tanya jongdae dengan seringai mematikannya.

“Ckckc, yak! Kau sangat percaya diri” kekeh yunmi.

“Tidak. nyatanya memang seperti itu bukan ?”

“Yak! Hentikan” yunmi bersuara tidak tahan. Keduanya lantas terlarut dalam canda sampai ketika sebuah ketukan pada pintu kamar yunmi menginterupsi mereka.

Refleks yunmi menutup mulutnya dengan satu lengannya dan mulut jongdae dengan lengan lainnya.

“Yunmi-ya, kau sudah tidur ? Ingat matikan lampunya sayang!” suara ibu yunmi di luar sana.

“Diamlah” bisik yunmi pada jongdae di depannya lalu melepaskan lengannya dan mematikan lampu kamarnya

“Eoh! Eomma” suara gadis itu setelahnya.

“Selamat malam yunmi-ya”

“Eummm, selamat malam eomma” sahut yunmi kemudian mengalihkan tatapannya dari pintu dan gadis itu terdiam saat maniknya bertemu dengan manik jongdae yang tengah menatapnya dalam meski dalam kegelapan.

“Yunmi-ya, biasanya setelah ini akan terjadi sesuatu seperti di adegan-adegan film-”

“Yak… kau bicara apa ?” Potong yunmi. “Pulanglah, aku ingin tidur” lanjut gadis itu gelagapan.

“Baiklah aku akan pulang tapi apa kau tidak ingin memberiku sebuah-, eumm sesuatu yang akan membuatku bermimpi indah misalnya” jongdae berkata dengan menahan senyumnya.

“Tidak. Cepat pulanglah” jawab yunmi cepat, gadis itu sudah sangat memerah.

“Eoh, selamat malam yunmi-ya. Jangan lupa mimpikan aku” suara jongdae sebelum pemuda itu keluar melalui jendela yang sama.

“Eumm kau juga, selamat malam dan hati-hati” suara yunmi lemah. Gadis itu mendongak di depan jendelanya memastikan jongdae tiba di depan kamarnya tanpa terjadi sesuatu.

——————————

Yunmi berjalan keluar dari kamar mandinya, dengan handuk yang masih melilit di atas kepalanya gadis yang telah mengenakan pakaian tidur itu beranjak menuju tempat tidurnya.

Yunmi memandang langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Kedua lengan gadis itu berada di belakang untuk menopang tubuhnya.

Gadis itu mengukir senyumnya saat acara jalan-jalannya bersama jongdae hari ini kembali terlintas di benaknya.

Yunmi mengakhiri lamunannya saat kembali teringat akan sosok pemuda itu. Yunmi meraih tas kecilnya di tengah tempat tidur dan membukanya.

“Eoh. Ponsel jongdae di sini ?” gumam yunmi saat mendapati ponsel pemuda itu berada di dalam tas miliknya.

“Bagaimana ini ? Pantas saja dia tidak menghubungiku” yunmi bergumam gelisah. “Aku harus mengembalikannya. Tapi bagaimana ? eomma dan appa masih di ruang tengah, jika aku pergi keluar mereka pasti akan bertanya” gadis itu berujar sembari berjalan mondar mandir di sisi tempat tidurnya.

Setelah beberapa saat gadis itu bergerak gelisah sembari berfikir, tiba-tiba yunmi menghentikan langkahnya. Bola matanya kembali menerawang untuk sejurus kemudian senyum itu terukir indah di bibirnya.

Dengan cepat yunmi melepaskan lilitan handuk di kepalanya dan melemparnya sembarangan.

Tok! Tok! Tok!

Jendela kaca kamar jongdae bergetar, menandakan seseorang tengah mengetuknya dengan tidak sabaran.

Jongdae yang telah merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur empuknya lantas bangkit dan melangkah menuju jendela di mana suara itu masih terdengar dari sana.

Jongdae membelalakkan kedua bola matanya mendapati yunmi yang tersenyum kepadanya saat pemuda itu membuka tirai jendelanya.

Segera jongdae membuka jendela itu, membantu yunmi masuk dengan ekspresi khawatirnya. “Yak! Apa yang kau lakukan ? Bagaimana-” suara jongdae terputus saat sebuah pemikiran tentang bagaimana gadisnya itu berada di teras kamarnya terlintas di benaknya.

“Yunmi-ya, apa kau ?” Jongdae menggantungkan pertanyaannya.

Yunmi mengangguk membuat pemuda itu tanpa sadar membuka mulutnya tidak percaya.

“Astaga yunmi-ya, apa yang kau lakukan ? Kau tau itu sangat berbahaya” suara jongdae tidak habis pikir mengapa gadis itu meniru apa yang di lakukannya.

“Huh ? Memangnya kenapa ? Lagi pula kau juga melakukannya lalu mengapa aku tidak boleh ?” Tanya yunmi tidak terima.

“Oh ayolah yunmi-ya, kau itu perempuan. Itu sangat berbahaya dan aku mengkhawatirkanmu” suara jongdae melemah. Pemuda itu sadar jika ia tetap bersikap keras kepada gadisnya dapat di pastikan hanya akan berujung pada pertengkeran. Jongdae tahu pasti gadis itu tidak akan pernah mau mengalah dan tidak akan menerima ia di salahkan.

“Baiklah. Kita lupakan saja lagipula kau sudah di sini” lanjut jongdae menyudahi.

Yunmi tetap diam dengan berdiri di tempatnya dan menatap ke lain arah dengan raut kesal. Ya, gadis itu kesal karena kekhawatiran jongdae yang menurutnya berlebihan.

“Jadi ada apa kau ke sini ?” Jongdae kembali membuka suara, berusaha mengubah suasana yang terlanjur tidak nyaman bagi keduanya.

“Kau masih ingin bersamaku ? Atau kau sudah merindukanku lagi ?” Lanjut pemuda itu mendekat dan menangkup wajah yunmi membuat gadis itu menatap ke arahnya.

Jongdae tersenyum. Pemuda itu kemudian menatap dalam manik hitam yunmi dengan masih mempertahankan senyumnya.

“Ti-dak. Ak-ku” yunmi berusaha mengeluarkan suaranya. Ah mengapa ia harus gugup hanya karena tatapan itu. Oh jantung gadis itu bahkan berdetak lebih cepat sekarang.

“Lalu untuk apa kau kesini bahkan dengan cara berbahaya. Apa kau sangat merindukanku ?” Lanjut jongdae semakin mendesakkan tubuhnya.

“Tidak. A-hh, ak-ku hanya ingin mengembalikan ini” yunmi mengeluarkan ponsel jongdae dari saku jaketnya. “Kau meninggalkannya di tasku” lanjut gadis itu menyerahkan ponsel itu ke tangan jongdae membuat lengan pemuda itu turun dari wajahnya.

“Aku takut kau memerlukannya” yunmi kembali bersuara kagok. “Emmm, baiklah aku sudah mengembalikannya. Jadi aku akan pulang” lanjut gadis itu kemudian berbalik kembali menuju jendela.

Langkah yunmi terhenti. Tubuhnya tehuyung saat di rasanya sebuah tangan mencengkaram dan menariknya hingga kembali berbalik dan mendarat tepat di depan pemuda pemilik lengan itu.

“Kenapa buru-buru ? Kau sudah di sini mengapa kita tidak memanfaatkannya untuk-”

“Aku harus pulang jongdae-ya, ak-ku. Aku mengantuk. Aku ingin tidur” potong yunmi berkata dengan mata yang gelisah, jelas sekali gadis itu tengah mencari alasan.

“Jika kau mengantuk tidurlah di sini” jawab pemuda itu tidak menghiraukan kegelisahan gadisnya.

“Eomma akan mencariku. Eoh! Aku lupa mematikan lampu kamarku” yunmi kembali beralasan.

Jongdae melangkah menuju jendelanya, membuka sedikit tirai berwarna putih tulang itu dan mengintip kamar di sebelahnya.

“Sepertinya kau lupa yunmi-ya, kamarmu sudah gelap” suara jongdae menahan senyumnya.

“B-benarkah ?” yunmi menatap ragu jongdae yang kembali mendekat ke arahnya dengan sebuah seringaian yang oh tolong jongdae tidak pernah menampilkan seringaian seperti itu sebelumnya.

“Aku harus pulang. Jika aku terus di sini eomma dan appamu bisa curiga” yunmi kembali bersuara tanpa berani menatap wajah jongdae.

“Eomma dan appa-ku sedang pergi menjenguk pamanku. Mereka tidak ada di rumah dalam dua hari ke depan jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu” jongdae lagi-lagi mendekat,memangkas jarak yang tersisa di antara keduanya.

Alarm peringatan berbunyi nyaring di kepala yunmi. Gadis itu tidak dapat berfikir bagaiman cara ia bisa terlepas dari situasi ini.

“Jongdae-ya, besok kita harus sekolah. Aku harus tidur, kau juga” bola mata yunmi bergerak gelisah saat wajah jongdae benar-benar dekat dengan wajahnya.

“Bagaimana kalau kita tidur bersama saja” jawab jongdae ringan membuat yunmi mendongak menatap pemuda itu dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Ppffh” jongdae terkekeh, pemuda itu tidak lagi dapat menahan tawanya, wajah gadisnya benar-benar menggemaskan. Kedua pipi yunmi memerah seperti tomat dan oh lihatlah ekspresi tegangnya. Ingin rasanya jongdae mencium pipi tomat itu. “Apa yang kau pikirkan yunmi-ya ?” Tanya jongdae mengacak pelan puncak kepala gadisnya.

“Hmmmm apa kau baru saja berpikir-” jongdae sengaja menggantungkan perkataannya menggoda.

“T-tidak!” Jawab yunmi cepat, gadis itu segera memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan wajah yang di rasanya memanas karena ulah pemuda itu.

Jongdae menelan senyumnya samar kemudian kembali menatap gadis yang tengah menunduk malu di depannya.
“Kajja! Aku akan mengantarmu pulang” suara jongdae kembali mengambil lengan yunmi.

“Masuklah” suara jongdae setelah keduanya kini telah berada di depan teras kamar yunmi.

Gadis itu mengangguk lalu memanjat naik melalui jendelanya. “Kau pulanglah” yunmi bersuara lembut.

“Heum. Aku akan pulang” jongdae mengukir senyum terbaiknya. Pemuda itu berbalik melangkah menuju ujung teras kamar yunmi yang bersebelahan dengan teras kamarnya.

“Hati-hati, jongdae-ya” yunmi kembali bersuara yang walaupun pelan namun telinga jongdae cukup baik untuk dapat mendengarnya.

Jongdae menghentikan langkahnya. “Yunmi-ya” panggil pemuda itu setelah sebelumnya berbalik dan kembali mendekati jendela dimana yunmi masih berdiri di ambangnya.

Kedua bola mata yunmi terbuka lebar saat di rasanya hangat dan lembut benda itu menempel di bibirnya. Tubuh yunmi membatu, darahnya berdesir merambat di sekujur tubuhnya sebagai efek dari kencangnya kerja jantungnya.

Jongdae melepaskan tautannya dengan menarik kembali wajahnya kebelakang. Pemuda itu tersenyum tulus.

“Selamat malam yunmi-ya” ucap jongdae sebelum akhirnya pemuda itu benar-benar pergi meninggalkan yunmi yang masih mematung di tempatnya.

Perlahan lengan yunmi bergerak menyentuh permukaan bibirnya dimana jejak itu masih di rasanya begitu jelas.

Jadi seperti itukah rasanya sebuah ciuman ?. Ya, yunmi baru saja tahu bagaimana rasanya karena ini merupakan ciuman pertamanya.

Fin

 

3 thoughts on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] My Neighbour My Love

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s