[EXOFFI FREELANCE] Regret (Oneshot)

picsart_09-17-05-36-19

REGRET

Cast:

Kim Jong Dae / Chen EXO

Cho Hana (OC)

Kim Jong In / Kai EXO

Lee Ahra (OC)

Genre: Sad

Rate: T

~*~

Seorang pria memijakkan kakinya di sebuah tempat yang asing, sangat asing. Tempat yang sangat aneh dengan pemandangan yang sangat indah.

Langit di tempat ini tampak seperti langit malam dengan bintang dan bulan-bulan yang terlihat amat dekat. Ya, hanya terdapat sebuah bintang yang sangat besar dengan ribuan bulan sabit yang berkelap-kelip.  Di tempat ini, ia juga bisa melihat hamparan rumput berwarna ungu dengan banyak bunga yang tumbuh. Bunganya pun terlihat cantik dengan warna-warna dan ukuran  yang unik.

Matanya sempat menangkap seekor kupu-kupu cantik dengan warna yang dominan biru. Kupu-kupu itu hinggap di atas sebuah mawar hitam. Dirinya seakan tertarik untuk melihat lebih dekat kupu-kupu itu. Namun, ketika tangannya berusaha menyentuhnya, kupu-kupu itu terbang mengepakkan sayapnya yang kemudian terpancar sinar yang indah. Hampir terlihat seperti kunang-kunang ketika makhluk itu semakin jauh.

Ketika matanya masih kagum memandangi kupu-kupu itu, ia mendengar langkah kaki dari arah belakangnya. Ragu, ia memutar tubuhnya demi memastikan apa yang ia dengar. Benar saja, seorang wanita cantik kini tengah tersenyum di hadapannya.

Wanita dengan gaun selutut berwana putih serta terlihat sebuah pita biru muda menghiasi rambut hitamnya. Pria itu hanya membalas senyumnya dengan senyuman manisnya. Lupakan soal siapa wanita itu, ia bahkan tidak tahu di mana ia berada.

“Untukmu.” Wanita itu memberinya sebuah bunga aster berwarna biru cerah. Bunga itu memiliki batang dan daun yang berwarna hitam. “Hana (bunga).” Sambungnya.

Setelah memberikan sebuah bunga, wanita itu tiba-tiba menghilang. Pria itu terkejut dan memalingkan wajahnya ke segala arah untuk mencari wanita itu. Lalu sebuah cahaya menyilaukan menutupi pandangannya dan ia serasa tertarik ke dimensi lain.

TENG~

Suara dentingan jam terdengar bersamaan dengan mata seorang pria yang membuka sempurna. Ia langsung mendudukkan dirinya dan bersandar di dashboard. Ia ternyata baru saja mengalami mimpi aneh, bahkan bisa dibilang sebagai mimpi paling aneh yang pernah ia alami. Ia melirik kea rah jam dinding besar di kamar itu. Pukul 07.07, ia harus segera bersiap karena sejatinya ia masih pelajar SMA di tingkat akhir. Jadi, ia memutuskan untuk segera beranjak.

Setelah selesai mempersiapkan segalanya, pria ber-name tag Kim Jong Dae itu beranjak turun ke ruang makan untuk sarapan. Penampilannya terlihat sedikit kurang rapi bila dibandingkan yang seharusnya. Meski begitu, ia terlihat tampan dengan gaya seperti itu.

“Morning, mom!” Sapanya pada seorang wanita paruh baya yang terlihat sedang menyusun menu sarapan di atas meja.

“Morning, son!” Wanita itu tersenyum lembut pada putranya itu.

Jong Dae memberikan kecupan ringan di pipi sang ibu lalu duduk di salah satu kursi. Ia melihat ibunya yang baru saja duduk berhadapan dengannya.

“Mom, di mana dad?” Tanyanya dengan wajah bingung.

“Dad-“ Ucapan wanita itu terpotong dengan suara seorang pria paruh baya.

“Apa anak dad yang nakal sedang menanyakan dad-nya?” Seorang pria berjalan ke arah mereka dengan setelan jas lengkapnya.

Jong Dae menyeringai kecil ke arah ayahnya itu. “Sepertinya dad sangat suka mem-bully ku.” Katanya pura-pura sinis.

Ayahnya hanya menanggapi ucapan putranya dengan senyum khasnya. Begitupun dengan ibunya yang juga ikut tersenyum.

Setelah ayahnya, Mr.Kim duduk, ibunya, Mrs.Kim mulai mengambilkan sarapan nasi goreng kimchi ke atas piring suaminya. Lalu mereka sarapan bersama.

“Chen, sebentar malam kau tidak akan keluar kan?” Kata Mr.Kim di sela-sela sarapan.

“Tidak. Memang ada apa dad?”

“Dad dan mom ingin berbicara sesuatu denganmu malam ini saat makan malam. Penting!” Wajah Mr.Kim terlihat begitu serius.

“Baiklah.”

Setelah itu mereka kembali diam hingga sarapan mereka habis. Mr.Kim memutuskan ke kantor dengan mobil, sedangkan Chen (nama Cina Jong Dae) memilih menggunakan motor sport hitam kesayangannya. Lalu, Mrs.Kim hanya berdiam di rumah mengurus keperluan rumah tangga.

#Di Sekolah

Setelah memarkirkan motor miliknya, Chen langsung berjalan santai menuju kelasnya. Ia mendapatkan banyak tatapan dari siswa maupun siswi yang ia lewati. Para siswa yang khususnya memberikan tatapan iri dan para siswi yang menunjukkan tatapan kagum dan terpesona. Chen selalu menunjukkan senyum terbaik miliknya kepada mereka, berpenampilan ala-ala badboy, dan memang sikapnya yang sedikit pemberontak. Ditambah lagi otak dan status keluarganya yang mendukung, lantas membuat ia berada di jajaran ‘most popular’ dan ‘most wanted’ di sekolah bahkan di Kota itu, Seoul.

Namun, pada dasarnya ia adalah seorang playboy, pengacau, dan terkadang terlibat perkelahian di sekolah hingga tawuran dengan murid sekolah lain. Para guru serta kepala sekolah tidak bisa berbuat banyak selain memberikan teguran karena selain orang tua Chen yang punya kendali besar atas sekolah itu, mereka juga tidak akan rela mengeluarkan murid terpintar yang mereka miliki.

Chen menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan seorang siswi. Ia sedikit tidak asing dengan wajah gadis itu, tapi ia juga merasa tidak pernah melihat gadis itu di sekolah ini. Ia membalikkan badannya untuk melihat gadis itu. Berbeda dengan Chen, gadis itu terus melangkah seperti orang asing. Seperti tidak ada minat pada pria Cassanova itu.

Chen menyunggingkan senyum atau lebih mirip sebuah smirk. Lalu ia meneruskan langkahnya yang sempat tertunda.

Jam pelajaran telah dimulai sedari 37 menit yang lalu. Chen merasa bosan dengan pelajaran yang dibawakan Mrs.Ahn, Matematika. Ia jenuh mendengarkan penjelasan serta merasa mengantuk melihat rumus-rumus yang tidak sedikit itu. Bahkan ia sempat menguap di tempat duduknya, barisan paling belakang dekat jendela. Mrs.Ahn yang melihat itu langsung menegurnya.

“Kim Jong Dae! Kalau kau merasa bosan dengan pelajaranku, keluarlah!”

Perhatian seluruh kelas mengarah pada pria itu. Chen hanya sempat sedikit terkejut. Namun, kemudian bibirnya mengulas smirk kecil. Seakan mendapatkan kembali gairah hidupnya, ia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kelas. Saat berada di hadapan Mrs.Ahn, ia tersenyum dan membungkuk hormat pada wanita itu. Wanita itu hanya memasang ekspresi datar. Ini sudah sangat sering terjadi dan yang mengherankan ia tidak bisa betul-betul murka dengan muridnya itu. Karena bagaimanapun, Chen adalah murid terbaik hampir di seluruh mata pelajaran. Sungguh mengherankan.

Di sinilah ia, di atap sekolah. Tempat yang telah telah menjadi tempat favorite-nya sedari dulu. Angin musim semi terasa menenangkan. Ia menutup matanya dan membiarkan terpaan angin di tubuhnya.

Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya lebih jauh, matanya menangkap sosok gadis yang tadi pagi berpapasan dengannya. Rasa penasarannya akan gadis itu muncul. ‘Kenapa ia ada di sini?’ batinnya. Namun, ia menahan dirinya dan berdiri di pintu.

Tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya. Chen terkejut dan segera menyembunyikan tubuhnya di balik daun pintu. Pria itu mengembangkan senyumnya dan segera melangkahkan kakinya cepat dari situ.

Hari ke hari, Chen semakin penasaran dengan gadis itu. Namun, ia juga semakin menahan gejolak dari dalam dirinya yang sangat ingin berbicara langsung pada gadis itu.

Ketika tidak sengaja berpapasan, Chen meghindari menatap gadis itu dan berakting seolah-olah tidak tertarik padanya. Ketika tidak sengaja mata mereka bertemu, Chen segera mengalihkannya dan berakting selayaknya seorang bad boy. Tapi, setelah gadis itu pergi, ia buru-buru menghela nafas lega. Sebenarnya, ada apa dengannya? Apa yang ia rasakan selama ini? Apa yang telah gadis itu lakukan pada seorang bad boy sepertinya? Ia seperti terkena mantra yang membuatnya tertarik dengan gadis itu, namun juga seakan membuat jarak untuknya. Ia merasa tiba-tiba menjadi seorang ‘shy boy’.

Hingga hampir satu bulan lamanya, Chen tetap menahan dirinya dan tak ia rasa, ia semakin jatuh karena gadis itu. Ia bahkan terkesan menghindari gadis itu, namun juga semakin memperhatikannya dari jauh. Ia sudah seperti seorang ‘Secret admirer’. Ia sendiri sudah tahu siapa gadis itu. Hana, nama gadis itu Cho Hana. Ia adalah murid yang seangkatan dengannya (XII) dan juga tingkal di daerah Gangnam, sama seperti dirinya. Namun, pria itu merasa aneh karena ia tidak pernah sekalipun melihat gadis itu.

Hana sangat menyukai bunga, hampir segala jenis bunga. Ia termasuk murid yang berprestasi. Ia gadis yang pendiam, pemalu, dan lumayan tertutup. Meski begitu, ia punya seorang sahabat, seorang siswi bernama Lee Ahra. Chen berterima kasih pada detektif kesukaannya.

Suatu hari, Chen sedang menunggu seseorang di pintu gerbang sekolah. Ia menyandarkan tubuhnya di pinggir gerbang sambil meneliti setiap orang yang keluar melewati gerbang. Rencananya, ia akan menajak Hana berkenalan secara langsung. Saat memikirkan apa yang akan terjadi, ia tersenyum-senyum sendiri. Lagipula, Hana tidak mungkin menolaknya kan? Ia adalah pria yang tampan dan pintar. Para gadis menginginkannya. Sosok Cassanova yang bad boy, dengan jurus ‘senyum mematikan’-nya.

Sekitar 10 menit menunggu, ia melihat Hana berjalan kea rah gerbang dari kejauhan. Ia pun menegakkan posisi tubuhnya dan mengabaikan tatapan-tatapan para gadis yang ia  telah dapat sedari tadi. Matanya berfokus kepada gadis itu.

Namun, tiba-tiba tidak jauh dari gadis itu, ia melihat seseorang yang ia kenal. Itu adalah sahabatnya, Kai. Senyumnya menjadi luntur saat pria itu, Kai melambai padanya dan segera berlari kecil menghampirinya. Gagal lagi rencananya. Ia masih merasa sedikit gengsi mengakui perasaannya pada orang lain bahkan pada sahabatnya sendiri, Kai.

“Hei, buddy! Sepertinya kau sudah lama menungguku.” Kata pria berkulit tan itu, Kai.

Chen menggerutu dalam hatinya. ‘Dasar hitam! Jika saja kau bukan sahabatku, ku bunuh kau!’. Ekspresi yang ditunjukkan Chen berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan. Sekilas tadi Chen melihat gadis itu sudah melewati gerbang sekolah.

“Ok buddy. Ayo pulang!” Kai melewati Chen menuju ke parkiran mobil.

Di perjalanan pulang, tidak seorangpun dari mereka berdua yang berbicara. Kai yang sedang mendengar musik sambil menyetir mobil dan Chen yang melihat ke arah luar jendela. Tidak jauh dari persimpangan, Chen melihat kerumunan orang. Ia pun menyuruh Kai untuk menepikan mobil. Entahlah, ini kali pertama ia sangat penasaran seperti ini. Kai hanya menuruti perintahnya.

Setelah keluar dari mobil, Chen segera mendekati kerumunan itu diikuti Kai yang baru saja keluar dari mobil sportnya. Karena sangat penasaran, ia memaksa menembus kerumunan. Dan jantungnya seakan berhenti berdetak seketika. Matanya membulat dan terasa memanas. Jiwanya seakan hilang.

Ia melihat seorang gadis sudah tidak bergerak dengan darah yang keluar dari beberapa bagian tubuhnya. Seragam gadis itu dipenuhi warna merah dari darah miliknya. Seorang gadis juga kini telah duduk di jalanan sambil memeluknya, menangisi kepergian sahabatnya. Gadis itu meneriaki nama temannya sambil terisak kencang.

“HANA!! Hikss.. hiksss.. HANA!!” Ya! Gadis yang sudah mengeluarkan banyak darah itu adalah Hana, Cho Hana, dan gadis yang memeluknya adalah Ahra, sahabatnya.

Langkah Chen gontai mendekati mereka. Lututnya seketika lemas saat berada tepat di dekat Hana. Ia berlutut di depan mereka. Air matanya mulai keluar, jatuh melewati wajahnya.

“Hana.. CHO HANA! Bangunlah!” Ia mulai menyebut nama gadis itu dan mengguncang pelan tubuhnya, membuat Ahra sedikit terkejut. Tapi, kemudian Ahra kembali menangis.

Kai membeku. Ini pertama kalinya ia melihat Chen menangis dalam kurun waktu 10 tahun persahabatan mereka. Ia tidak menyangka Chen menangisi gadis tertutup itu. ‘Ia mungkin, tidak, pasti sangat mencintai gadis itu.’, pikirnya.

Tangisan pilu terus terdengar dari mereka berdua, Chen dan Ahra, hingga ambulans dan tim medis datang. Namun, batin mereka terutama Chen semakin hancur saat salah seorang tim medis memeriksa tanda-tanda kehidupan pada gadis itu. Orang itu langsung menggelengkan kepalanya kepada temannya yang lain. Chen langsung memeluk tubuh Hana dan menangis lebih kencang.

“HANA!!! HANA!! KUMOHON BANGUNLAH! BUKA MATAMU, KUMOHON!!” Chen merasa sangat menyesal. Ia belum bisa berbicara langsung dan mengungkapkan perasaanya pada Hana, tapi gadis itu sudah pergi meninggalkannya. Ia benar-benar menyesal. Seandainya saja sedari dulu ia berbicara dengan Hana, seandainya saja ia tidak menghindar darinya, seandainya saja.. seandainya saja.  ‘Maafkan aku, Hana! Maafkan aku.’

THE END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s