[Vignette] Love and Grief by ShanShoo

69252024c45f0fe588cfd5a03d9bb1ffb5234eda_hq

It’s a fanfiction by ShanShoo

Starring EXO Sehun, OC Eunhee, f(x) Soojung/Krystal, EXO Kai

hurt/comfort, fluff, friendship, slight!romance // vignette +2500ws // PG-15 (for harsh and cursing words)

personal blog : ShanShoo

disclaimer : I just own the plot!

-o-

“Hari ini adalah hari pernikahan mantan kekasihku,”

-o-

Jung Soojung. Itulah nama seorang gadis berparas cantik serta memiliki rambut halus tergerai indah. Warna kulitnya bak batu pualam yang jika disentuh sembarangan, akan pecah begitu saja. Senyuman menawan yang disuguhkan di bibirnya bagaikan candu bagi siapapun. Tawa renyahnya terdengar indah, membuat siapapun bisa ikut tertawa karenanya. Oh, jangan lupakan sikap serta sifatnya juga yang begitu baik. Dia, Jung Soojung, tak pernah menyakiti orang lain. Tidak pernah.

Iya, itu kata banyak orang yang mengetahui Jung Soojung. Tapi akan berbeda jika kau mendengar dari bibir sosok Oh Sehun, sekarang.

“Gadis itu payah! Bisa-bisanya dia tak mengacuhkanku dan lebih memilih untuk menikah dengan pria lain!” nah, ini kata Oh Sehun, ketika ia tiba di kediaman Park Eunhee, temannya semasa SMA dulu.

Eunhee tak memberikan respons. Kedua tangannya sibuk menata camilan-camilan ringan siang hari di atas meja. Atensi terarah sejenak pada laki-laki berusia dua puluh tiga itu―sebaya dengannya―yang kini sedang berbaring terlentang di tempat tidurnya. Abaikan gumaman-gumaman kesal dari laki-laki bertubuh jangkung itu.

“Aku tak menyangka dia akan meninggalkanku seperti ini. Hah … sungguh gadis payah! Aku jadi benci padanya!”

Kendati menjawab, Eunhee lebih memilih tertawa kecil. Ia lantas berjalan ke arah tempat tidur lalu duduk di tepiannya. Paras eloknya nampak bersinar kala sang mentari hangat menyapanya lewat celah-celah gorden kamar.

“Kalau mau, kau temui saja gadis itu. Lalu katakan bahwa dia adalah gadis yang payah karena meninggalkan laki-laki sepertimu begitu saja.” Kata Eunhee setelah jeda tiga detik mengisi ruang kamarnya. Tambahkan satu senyuman geli sehingga mengundang atensi Sehun untuk terarah padanya.

Terdengar embusan napas berat kala Sehun bangkit duduk. Surai sehitam arang miliknya ia sisiri dengan jari jemari tangan, meremasnya di bagian puncak seraya berujar, “Aku pasti akan mengatakannya.”

Woah,” Eunhee berdecak beberapa kali. “Benarkah?”

Uhuh,” Sehun mengangguk pasti. “Asal kau tahu saja, aku bukanlah laki-laki pengecut yang hanya bisa berbicara dari belakang.”

Yang diajak bicara agaknya sedikit sangsi setelah mendengar pernyataan tersebut. Eunhee lantas berdiri, mengambil setoples kecil berisi cokelat kacang mede di atas meja untuk ia sodorkan pada temannya. “Nih, makan cokelatnya. Biar kau tidak marah-marah terus,” kata Eunhee, pun menaruh toples itu di atas paha Sehun. Sebelum akhirnya Eunhee beranjak meninggalkan kamarnya sejenak.

“Kau mau ke mana?” tanya Sehun, tepat saat kaki jenjang gadis itu berada di ambang pintu kamar.

Eunhee menoleh, memicingkan matanya. “Asal kau tahu saja, aku bukanlah tipe gadis yang senang mendengar laki-laki banyak berkoar sepertimu.”

-o-

Keesokan harinya, ketika mentari baru saja menunjukkan sepertiga wujudnya, Sehun kembali menyambangi rumah Park Eunhee. Sang pemilik rumah hanya bisa mendesahkan napasnya ketika ia tahu kalau Sehun datang kemari karena untuk menenangkan pikirannya kembali. Karena katanya, “Aku tidak bisa berpikir dengan benar kalau berada di rumah terus.”

Maka, mau tak mau, Eunhee kembali ‘menampung’ Oh Sehun di rumahnya. Membiarkan Sehun berkelakar ini-itu tentang mantan kekasihnya―lagi.

Argh, sialan! Sampai saat ini, aku masih bisa mengingat bagaimana manisnya senyuman Soojung ketika―”

“Demi Tuhan, Hun. Memangnya kemarin waktunya tak cukup, ya, untuk membahas mantan kekasihmu itu?” Eunhee menghela napas. “Ah, tidak, sepertinya sudah hampir satu minggu kau membicarakannya terus.”

My … my, kau hanya tak bisa merasakan bagaimana perasaanku saat ini, Park.” Jawab Sehun, kemudian membuang napasnya dalam satu kali sentakan. “Dia berhasil menghancurkan mood-ku dalam sekejap mata.”

Nah,” Eunhee bersedekap, menatap Sehun lewat matanya yang memicing. “Kaupikir aku tak pernah bersikap sepertimu? Aku juga pernah merasakan sakit hati ketika Kai mencampakkan cintaku dalam satu kali jentikan jari.” Gadis itu tampak geram di saat benaknya terpaksa mengingat kembali memoar busuk tentang Kim Kai, laki-laki yang ia idolakan sejak masa SMA. Namun bedanya, Eunhee dan Kai tidak dalam status berpacaran. Eunhee hanya memuji dan mencintai Kai tanpa sepengetahuan laki-laki itu sendiri. Oh, menyedihkan, memang.

Sehun baru akan berbicara, namun Eunhee lekas menyela, “Tapi aku tak pernah sampai mengeluh ini-itu, atau merasa hari-hariku terasa menjadi usang hanya karena masalah cinta,”

Ya, Park Eunhee, apa kau sedang mengejekku saat ini?”

Untuk sejenak Eunhee menundukkan kepalanya. Tangan kanan terangkat, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut keras. “Oke, oke. Lupakan saja ucapanku barusan. Jadi, katakan, apa yang kauinginkan sekarang, Oh Sehun? Aku akan membantumu sebisaku.” Ujar gadis itu sambil mendongak menatap sang teman.

Tanpa perlu berpikir lama, Sehun segera menyuarakan keinginannya. “Temani aku ke pesta pernikahan Soojung.”

What the …” Eunhee membuang napas, frustasi. “Aku? Ke pesta pernikahan mantan kekasihmu? Kenapa harus aku? Kenapa tidak dengan―”

“Luhan sedang sibuk memanjakan mobil barunya, Park.” Sehun senang sekali memanggil nama Eunhee dengan marganya saja. Namun meski begitu, Eunhee tak begitu mempermasalahkannya. Selagi temannya itu memanggil namanya dalam batas yang ‘wajar’.

“Kalau saja aku tidak mendapat undangan pernikahannya, sumpah demi jidat lebar milik Chanyeol, aku tidak akan datang ke sana!”

“Lalu, kenapa harus aku?” ulang Eunhee, dengan nada malas yang kentara. Mengabaikan ucapan Sehun barusan.

“Karena hanya kau temanku yang bisa kuandalkan.”

“….”

Mengabaikan ketiadaan ucap dari sang lawan bicara, Sehun menyandarkan punggung pada kursi sofa yang ia duduki bersama gadis itu. Manik menatap menerawang ke arah langit-langit ruangan. Menggigit bibirnya sebentar untuk kembali berkata, “Hari ini, adalah hari pernikahan mantan kekasihku, kalau kau lupa.”

Tidak ada kekeraskepalaan lagi dalam diri Eunhee. Semua mendadak hilang dalam hitungan detik. Entahlah, namun sekarang Eunhee mendapati adanya roman muram di wajah tirus temannya. Manik mengerjap beberapa kali, selagi benak kembali memikirkan ajakan Sehun ke acara itu. Oh, baiklah, kalau Eunhee mendadak gila, ia akan menyalahkan Sehun dan menyeret laki-laki itu untuk merawatnya selama ia berada di Rumah Sakit Jiwa.

Hah … oke, lupakan saja pernyataan barusan. Karena Eunhee tak ingin masuk ke sana.

“Hari ini?” Eunhee mengulang, membiarkan irisnya bertemu dengan netra serta kegelisahan yang terpancar di wajah Oh Sehun.

Um-hm.” Sehun mengangguk lemah.

Eunhee terdiam, lagi. Dan Sehun mengambil napas dalam-dalam.

“Apa kau akan tega membiarkanku menjadi bulan-bulanannya? Apa kau tak merasa sedih ketika melihat temanmu ini―”

Just stop it, Hun! Aku tak ingin mendengarnya!” Eunhee berdecak sebal. “Oke, aku akan menemanimu ke sana. Kau puas, huh?”

Tak ada jawaban. Melainkan satu senyuman penuh rasa puas di wajah Sehun, disertai anggukannya yang begitu antusias.

-o-

Suasana gedung resepsi pernikahan terlihat ramai oleh para tamu undangan. Mungkin sekitar dua ratus orang berada dalam gedung mewah itu. Gelak tawa memenuhi rungu keduanya, manakala mereka baru saja tiba di tempat. Eunhee mengenakan gaun berwarna merah marun sebatas lutut, rambut sebahunya yang dibiarkan tergerai, serta polesan make-up sederhananya. Sementara Sehun mengenakan kemeja putih polos yang dipadukan dengan setelan jas berwarna hitam, senada dengan rambut sehitam arangnya.

“Aku sengaja datang setelah mereka meresmikan hubungan di altar.” Kata Sehun, memulai. Berjalan bersisian dengan Eunhee.

“Agar?”

“Agar aku tidak merasa muak, tentu saja.”

Oh, bolehkah Eunhee tertawa sekarang? Alasan Oh Sehun benar-benar membuat perutnya mual bukan main.

Suasana di gedung pernikahan terasa semakin ramai dan padat. Ada banyak tamu undangan berada di tengah-tengah ruangan untuk saling bercengkrama dengan tamu lainnya. Baiklah, Eunhee akui kalau mereka terlihat begitu mewah dengan pakaian-pakaian yang dikenakan. Terlebih ketika mereka sedang memegang segelas sampanye sambil merangkul mesra pasangannya. Ugh, Eunhee menginginkan hal itu, sungguh. Hingga ia sempat berkhayal, kalau saja ia datang ke pesta pernikahan temannya bersama dengan sang kekasih. Mungkin saja ia juga akan mendapat satu rangkulan hangat dari kekasihnya, sembari meneguk segelas sampanye.

“Mereka berdua ada di sana.” Tutur Sehun, membuyarkan khayalan indah Eunhee. Membuat gadis itu lekas menyamakan langkah lebar milik Sehun, saat laki-laki itu menarik lengannya kuat-kuat hingga Eunhee berpikir bahwa ia tak bisa menepisnya barang satu dua kali.

Sampailah mereka di depan pasangan yang sedang berbahagia sekarang. Jung Soojung dan … Kim Kai?!

Eunhee tercengang. Matanya membeliak lebar, membiarkan pandangannya menjadi jelas ketika ia harus bersitatap dengan sang pemilik netra cokelat, Kim Kai.

“Hai, Oh Sehun! I miss you so much! Kenapa kau baru datang sekarang? Kenapa kau tidak melihat―”

I’m sorry, I have to waiting my girlfriend for choosing her dress to come here.” Jawab Sehun, seraya memerhatikan riasan wajah serta gaun pengantin yang dikenakan Soojung. Begitu pas dan elegan di tubuh sintal miliknya.

Woah, so … she’s your new girlfriend?

Since I’ve to broke up with you, by the way.”

Eunhee terlalu sibuk dengan pemikirannya sekarang. Mendadak ia menulikan pendengaran, sehingga ia mengabaikan berapa banyak konversasi yang mengalir dari bibir Sehun dan juga sang mantan kekasihnya.

Benaknya hanya tertuju pada sosok mempelai prianya.

Kim Kai.

Laki-laki yang berhasil memporakporandakan perasaannya dalam satu jentikan jari.

Sungguh tragis.

“Oke, Soojung, perkenalkan, namanya Park Eunhee. Dan, Park, dia adalah Jung Soojung.”

Eunhee tak merespons. Mengedip pun tidak.

Satu kerutan samar akhirnya terukir di kening Sehun. “Park? Are you okay, huh?”

“….”

“Jawab aku―”

“Selamat atas pernikahan kalian. Dan … yeah, namaku Park Eunhee. Nice to meet you, Soojung-ssi.” Lekas, Eunhee meraih tangan kanan Soojung dan menggenggamnya erat-erat, lalu menggoyangkannya cepat sebagai tanda perkenalan mereka.

Nice to meet you, Eunhee-ssi.” Soojung tersenyum. Eunhee akui, senyuman gadis ini benar-benar manis.

Lalu, jabat tangan mereka berakhir dalam hitungan detik.

Jeda beberapa jenak. Membiarkan Eunhee memindai wajah Kai lebih lama lagi, begitu pun sebaliknya. Kai memerhatikan wajah Eunhee dalam diam.

“Sepertinya, aku pernah melihatmu.”

Eunhee tertegun mendengar penuturan Kai.

“Tapi, aku tak ingat kapan tepatnya.” Ujar Kai, disusul dengan embusan napas tertahan dari gadis di hadapannya.

“Kita … kita memang belum pernah bertemu.” Eunhee membalas, memaksakan seulas senyum di bibirnya. Ada sedikit rasa lega yang hinggap di saat Kai mengatakan tentang pertemuan mereka.

Lalu, hening lagi. Dan tak lama, kekeh ringan terlontar dari Jung Soojung. “Oke, kalau begitu silakan menikmati hidangan yang telah kami siapkan,” katanya, memotong pembicaraan tak terarah antara suaminya dan Park Eunhee.

“O-oh ….”

Well, maafkan kami. Tapi kami harus segera pergi ke rumah Eunhee untuk menyambut kedatangan kakaknya dari Amerika.”

Woah, itu keren sekali.” Puji Soojung, tulus. Terlihat dari bagaimana cara gadis itu tersenyum.

Uhuh,” hei, ingatlah bahwa hanya Sehun dan Soojung saja yang kini sedang berbincang. Abaikan Eunhee dan Kai yang sama-sama diam mendengarkan. Oh, terlebih Eunhee. Ia sudah terlalu masa bodoh dengan perkataan temannya itu. Lagi pula, mereka tak akan bertemu lagi, ya. Eunhee pastikan ia dan juga sepasang suami istri ini tak akan kembali bertemu pandang.

“Dan … sampai ketemu lagi?” itu pernyataan yang terdengar seperti pertanyaan dari bibir Sehun. Adalah sebuah tawa ringan sebagai respons atas pernyataannya. Kendati Soojung yang menjawab, Kai lah yang mewakili jawaban.

“Ya, kita pasti akan bertemu lagi. Suatu saat nanti.”

-o-

“Kaulihat? Bahkan wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan sama sekali.” Kelakar Sehun, seraya menyetir mobilnya. Di sampingnya ada Eunhee yang tengah duduk muram sembari mengarahkan pandang pada sisi kaca mobil.

“Mungkin dia berpikir kalau aku ini adalah laki-laki yang mudah melupakan mantan kekasihnya. Tapi, nyatanya aku―”

“Bisakah kau diam dan hanya kendalikan setir mobilmu saja?” Eunhee berkelakar. Menatap wajah Sehun dengan ekspresi muram yang kentara.

“H-hei, kau kenapa? Kau baik-baik saja, kan?” Sehun cukup cemas, sekarang. Ia memerhatikan jalan dan Eunhee secara berkala. Dan terakhir ia menatap Eunhee, gadis itu telah kembali memerhatikan kaca mobil di sampingnya.

“Apa ada seseorang yang telah menyakitimu, Park?”

Eunhee mendengus kesal. Ia mencoba menahan laju cairan bening di kedua kelopak matanya. Maniknya lantas melirik ke arah Sehun, menghela napas sebelum berujar,

“Perhatikan saja jalanmu,”

“Hei, Park―”

“Seharusnya kau memberitahuku kalau mempelai prianya adalah Kim Kai, Oh Sehun!” Eunhee berkata dengan nada sedikit meninggi. Membuat Sehun melambatkan mobilnya, lalu menepikannya di depan kios sederhana di tepian jalan raya. Keheningan sempat merayapi keduanya. Membiarkan isak tertahan menguar, bersamaan dengan jatuhnya bulir bening untuk menyusuri lekukan pipi tirus gadis itu.

“Park Eunhee,” Sehun menoleh, memerhatikan roman kesedihan yang terpancar di wajah sang gadis. “Aku tak tahu kalau―”

“Kau tak tahu kalau dia adalah Kim Kai, kan?” Eunhee tertawa tak percaya. “Bukankah kau melihat nama yang tertera di kartu undangannya, huh?”

Sehun menelan ludahnya susah payah. Ia lantas mengusap wajahnya karena gusar. “Baiklah, dengarkan aku, Park. Aku tak bermaksud untuk membiarkanmu kembali mengingat Kim Kai. Aku hanya ingin―”

“Lupakan saja, aku ingin segera sampai di rumah.” Eunhee menyeka air matanya. Memberikan tatapan tajam pada Sehun sembari melanjutkan, “Lupakan juga soal air mata sialan ini yang jatuh begitu saja.”

Sehun diam setelah mendengar penuturan sarkastis temannya itu.

Ha! Kau pasti berpikir bahwa perkataanku tidak sesuai dengan kenyataan, bukan? Mengenai rasa sakit hati yang sempat kualami?” Eunhee bertanya-tanya, ia takut jika Sehun berpikir soal ucapannya di rumah mengenai Kim Kai. Ya Tuhan, riwayat Park Eunhee benar-benar tamat sekarang. Dan sepertinya Rumah Sakit Jiwa siap menampungnya sekarang.

“Tidak, bukan itu masalahnya.” Sehun mendesah. “Air matamu. Memang sudah seharusnya air matamu tidak turun untuk laki-laki itu, Park.”

Kali ini giliran Eunhee yang terdiam.

“Kau tahu? Aku merasa sangat bersalah karena telah membuatmu menangis.” Katanya, selagi punggung mulai bersandar rileks.

“Cepat jalankan mobilmu.”

“Kadang aku selalu berpikir, apa kau akan marah kalau aku memelukmu dikala kau sedang bersedih seperti ini?”

“….”

“Atau … haruskah aku mengusap air matamu dan berusaha menenangkanmu agar tak menangis lagi? Entahlah, aku merasa bingung.”

Ya, Oh Sehun―”

“Oke, maafkan aku. Kita akan pulang sekarang.” Sehun tersenyum kecil. Ia kembali melajukan mobilnya, membelah jalanan kota Seoul menuju kediaman sang teman.

Perjalanan diisi dengan keheningan yang terasa sangat memuakkan.

Eunhee membuang muka, wajahnya tampak masam. Dadanya bergemuruh cepat semenjak ia mendengar ungkapan Sehun di tepi jalan, tadi. Oh, ayolah. Itu hanya sebuah perkataan. Kenapa Eunhee jadi memikirkannya seperti ini?

Lebih baik Eunhee memendam semuanya. Dan membiarkan keheningan menjamah keduanya sampai mereka tiba di tempat tujuan. Rumah gadis itu.

-o-

“Apa kau sudah merasa baikan, Park?”

Eunhee mendongak, mengalihkan tatapan dari mug berisi teh panasnya pada Oh Sehun, sang pembuat teh panas. Diembuskan napasnya perlahan, menyimpan mug di atas nakas, lalu memerhatikan manik Sehun yang kini memilih duduk di sampingnya.

Um-hm,” Eunhee mengangguk mengiakan. “Terima kasih atas tehnya.”

Sehun mengedikkan kedua bahunya, lalu, “Seharusnya aku yang berterima kasih, karena kau mau menemaniku ke … yah, kaubilang tak perlu membahas ini lagi, kan?”

Eunhee mengangguk, lagi. “Kuharap kau bisa segera melupakan mantanmu itu, Hun. Tapi kurasa, dia adalah gadis yang baik,”

Heol, tunggu sampai kau mengetahui bagaimana sifat aslinya, Park. Maksudku, tunggu sampai kau mendengar kabar bahwa mereka bercerai karena sifat Soojung yang―oh, kau tak perlu memberiku tatapan seperti itu.” Sehun meringis. “Sungguh menyeramkan.”

“Perkataanmu terlalu jahat,” Eunhee mendesah. “Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu ketika mereka baru saja melangsungkan pernikahan? Kau ini sungguh keterlaluan.”

Sehun terkekeh setelah ia mendengar ucapan Eunhee. “Setidaknya, aku telah menjelaskan padamu bagaimana sifat dan sikap gadis itu padamu, bukan?”

Tak ada jawaban. Eunhee lekas mendorong bahu Sehun sekuat yang ia bisa.

“Pulanglah, kau tak perlu menemaniku. Aku sudah merasa cukup baikan.”

“Kauyakin?” tanya Sehun, dengan bahu yang masih didorong oleh gadis itu.

Yeah, and I’ll be better if you get out from here, Mr. Oh.”

 

“Eh?”

“Cepatlah, aku ingin beristirahat. Kau benar-benar mengacaukan hariku!” celoteh Eunhee sembari menyeret Sehun untuk keluar dari kamarnya. Ia sempat memikirkan bagaimana waktu ke depannya kalau Sehun masih berada di sini. Bisa-bisa, Eunhee akan merasa sakit jiwa dan Sehun dengan senang hati akan membawanya pergi ke Rumah Sakit―God! Forget it!

“Kauyakin tak mau kutemani? Bagaimana dengan―”

“Pergilah sebelum aku menendang bokongmu!”

Mendengar hal itu, Sehun justru menghadirkan satu tawa renyah. Sesampainya ia di ambang pintu rumah sang gadis, Sehun membalikkan tubuhnya ke hadapan Eunhee yang berdiri di belakang. Menatapnya lamat-lamat dalam diam, selagi tangan terangkat untuk mengusak puncak kepala gadis itu.

“Tak usah sok kuat di hadapanku, kalau ternyata kau masih menangis jika mengingat Kim Kai-mu itu.”

“Berhentilah mengejekku, Sehun. Atau aku akan menendang bokongmu hingga menembus langit ke tujuh.”

“Memangnya bisa, huh? Menendang bola saja kau tidak bisa. Dasar Bodoh!”

Ya!”

Sehun terkekeh lagi. “Iya, iya. Aku pulang sekarang. Istirahatlah yang banyak. Lupakan saja laki-laki itu, okay?”

Eunhee memiringkan kepalanya ke kiri. “Memangnya kau sudah bisa merelakan Jung Soojung-mu itu ke pelukan Kai?”

Sehun pun ikut memiringkan kepalanya ke kanan, sejajar dengan Eunhee. Diiringi cengirannya yang lebar, ia lekas menjawab;

.

.

.

“Aku pasti bisa melupakannya, jika kau bisa membantuku untuk melakukan hal itu.”

.

.

.

Fin.

Yeaaay! Pertama kalinya aku bikin ff vignette tentang kapel HunHee ini. Eh, tapi di sini mereka gak kapelan(?) melainkan berstatus sebagai teman. Tapi yah, mudah-mudahan status mereka berubah menjadi kapel(?) amiiiin xD

Maapkeun ke-absurd-an ff ini, Guys. Coz ff ini baru menetas alias baru aku buat, dan langsung aku posting tanpa dibeta dulu. Yang mau betain, silakan. Aku seneng banget kalau kalian berkenan untuk memberikan krisarnya :”)

Sampai ketemu di ff HunHee yang lainnya, ya ^^

 

6 thoughts on “[Vignette] Love and Grief by ShanShoo

  1. Kasian banget yah yang satu ditinggal nikah ama mantan, yang satunya lagi ditinggal gebetan nikah dan apesnya meraka pasangan 😂😂
    Sehun kode keras nie, semoga mereka berdua menyusul di pelaminan sebagai suami istri ea 😂
    Ditunggu ffnya
    Cemungudh qaqa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s