Sad Movie: A Tale of Broken Heart Women

kai-krystal-2

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Sehun, Jung Nara, Oh Jino, Suho, Jung Soojung, etc | Marriage Life, Hurt/Comfort, and Romance | PG17 | Line: @NYC8880L (with @) | Wattpad: twelveblossom

Mungkin aku terlalu sering menonton film menyedihkan. Akibatnya, hidupku menjadi mengikuti alur cerita yang menderita. Aku terlalu penasaran, bagaimana rasanya membuang bayiku sendiri, seperti yang dilakoni aktris dalam sebuah kisah. Lalu aku melakukannya. Aku membuang darah dagingku, tepat setelah melahirkannya.

Dunia begitu riang untuk dilewatkan.

Kehidupan ini terlalu luas untuk membuatku memutuskan hanya singgah di satu tempat. Aku gadis yang sempurna. Melewati banyak keriangan. Menikmati ke indahan setiap hembusan napasku. Tidak ada yang mengekang. Tubuh memesona, senyum manis, dan perilaku anggun mampu membuatku mendapatkan label ‘wanita berkelas’.

Setidaknya, semua orang menganggap bahwa kehidupan gadis yang diberi nama Jung Nara diberkati dengan banyak keberuntungan. Tetapi, jauh di dalam diri. Jauh di sana, ada luka yang menganga.

Ada sesuatu yang tertinggal dan menjadikan aku tak akan pernah sempurna. Aku berusaha lari dari satu tempat indah ke tempat lainnya. Hati yang kesakitan memang tidak bisa berkelit. Di mana pun aku berada, pikiran ini hanya tertuju pada satu hal. Sekarang dengan bodohnya, aku menyerahkan diri pada masa lalu yang telah kuhindari selama delapan tahun.

Seoul ….

Aku dilahirkan di sana.

Aku melahirkan bayiku di sana.

Dan … aku membuang bayiku di sana.

Kenyataan yang menghantui kehidupan bebasku, lebih terlihat jelas dari biasanya. Bayangan, tubuh mungil yang menjadi setengah dari jiwaku muncul secara nyata. Dulu, bayi itu hanya bagian dari mimpi-mimpi indah. Membayangkan aku menimang bayiku, membelainya, dan menyentuhnya adalah imajinasi paling indah yang bisa aku rasakan.

Secara tersurat motifku kembali ke negara ini karena surel dari adik perempuanku. Jung Soojung akan menikah, dia menginginkan aku hadir di pernikahannya. Alasan itu, menjadikan topeng yang akurat untukku.

Sebenarnya, ada sesuatu yang tersirat dibalik itu. Aku merindukan Seoul. Tidak, lebih tepatnya aku masih berharap netra ini dapat bertemu dengan bayi itu. Keinginan yang lebih tolol lagi adalah aku ingin menyentuh ayah dari bayiku. Pria paling brengsek di dunia. Pria yang paling kucintai di masa muda.

“Sehun,” bibirku menyuarakan apa yang ada di pikiran.

Nama pria itu Oh Sehun. Nama yang indah. Dulu, jantungku akan berdebar kencang ketika aku mengucapkan namanya. Sekarang?

Tidak berkurang. Rasa rindu yang menumpuk memberikan bumbu yang membesarkan rasa kasihku padanya.

Semoga saja, Tuhan dapat memberikan takdir yang baik padaku. Agar aku tidak bertemu dengan pria itu sekarang. Akan sangat memalukan jadinya, apabila aku masih mencintainya setelah dicampakan dan dibuang.

Aku menghembuskan napas berat. Tanganku memutar gelas, lalu menyeruput isinya. Aku mengecap latte yang masih terasa di lidah. Pahit. Bukan, minuman ini yang terasa pahit, tetapi kenangan di baliknya. Seakan, gulungan film yang berputar di ingatanku kembali ke latte lain yang telah aku minum sembilan tahun lalu. Kembali pada perjanjian yang menyenangkan sekaligus menyedihkan.

“Aku sangat tahu kau mencintaiku.”

“Ya?”

“Aku tahu kau tidak akan menolak tentang perjodohan tolol ini.”

“Sehun, aku—“

“Tetapi, aku menyukai Soyeon.”

“Apa?”

“Kita akan menikah, tentu saja. Kau menginginkan tubuhku, bukan? Aku setuju menikah denganmu—“

“Benarkah?”

“Jangan munafik Jung Nara. Ada persyaratan di sini.”

“Oh Sehun!”

“Kau dapat menyalurkan rasa cintamu, padaku. Berikan aku anak. Lalu pergilah.”

“Apa kau gila?”

“Pikirkan baik-baik Jung Nara atau kau akan menyesal.”

Iya benar, sebut saja aku gadis bodoh. Saat itu usiaku baru saja menginjak sembilan belas tahun. Keluarga kami mengatur perjodohan kuno itu untuk kelangsungan hubungan perusahaan. Alasan klasik.

Aku terjebak di dalamnya. Pikiranku pada waktu itu tidak seluas sekarang. Aku menyetujui persyaratan Sehun. Aku mencintai Sehun, sedangkan pria itu mencintai kakak perempuanku, Jung Soyeon. Mereka berciuman di depan mataku. Aku cemburu. Aku ingin memiliki Sehun. Menyingkirkan kakakku dari hati pemuda itu.

Seperti jalan cerita dalam opera sabun, aku berharap rasa cinta itu akan tumbuh. Namun, aku keliru. Alur kisah dan takdir tidak bisa ditorehkan seperti pembuatan skenario. Tidak semudah itu.

Sehun enggan melupakan Soyeon. Tak sekalipun Soyeon enyah dalam benaknya. Tidak saat kami bercinta. Nama yang ada di pikiran pria itu hanya Soyeon…

Aku murka terhadap saudariku sejak saat itu.

Aku membenci keluargaku.

Aku tidak memiliki alasan yang pasti untuk kemarahan yanh meledak.

Hanya saja, aku terlalu larut dalam rasa cinta yang tak terbalas.

Sakit dan sesak. Aku memiliki tubuh Sehun, tetapi tidak dengan hatinya. Aku hanya memiliki sebongkah daging.

Tangan memukul pelan dada, gerakan refleks yang aku lakukan saat rasa benci itu kembali ke puncak memori. “Kau benar-benar gadis bodoh, Jung Nara.” Aku merutuki diri sendiri.

Pikiran ini sudah akan beranjak lagi melamun, tetapi dering ponsel menggagalkannya.

Ada satu panggilan, dari Jung Soojung—adik perempuanku.

“Kak, sudah sampai?” Pertanyaan berasal dari seberang telepon. Aku mendengus keras sebagai tanggapan.

“Bagaimana bisa kau tidak mengucapkan salam terlebih dahulu, Soojung?”

“Maaf, hai, Kak! Apa kau sudah sampai?” Soojung membenarkan kalimat tanyanya.

“Sudah lima belas menit lalu.”

“Ah, maafkan aku, Kak. Ada urusan sangat genting. Kak Soyeon melahirkan. Aku sedang berada—“

“Baiklah.” Aku memotong perkatannya.

“Apa tidak ingin melihat bayi Kak Soyeon?”

“Kemudian bertemu ayah dan ibu? Lalu, memberitahu mereka aku pulang ke Korea? Tidak terima kasih.”

“Kakak—“

“—Tidak Jung Soojung. Aku sudah memutuskan untuk hanya bertemu mereka di pernikahanmu. Setelah itu, meninggalkan tempat terkutuk ini.”

“Baiklah, gadis keras kepala. Aku sudah meminta temanku untuk datang menjemputmu di bandara. Tunggu di gerai kopi. Mengerti?”

“Tunggu, jangan memutuskan sambungan terlebih dahulu. Kau belum memberitahu, bagaimana ciri-ciri orang yang menjemputku?”

Soojung tertawa pelan, “Kak, kau pasti mengenalinya.”

Sebelum aku sempat berkomentar, Soojung menutup panggilannya dengan tidak sopan. Aku memijat pelipis kepala. Rasanya berdenyut-denyut. Aku baru saja melakukan perjalanan dari Paris ke Seoul dengan durasi puluhan jam. Seharusnya, Soojung lekas menjemput, bukannya menyuruhku untuk menunggu dan mengabarkan Soyeon melahirkan.

Soyeon melahirkan?

Apa dia sudah menikah?

Siapa suaminya?

Apa Sehun dan Soyeon menikah setelah aku pergi ke Paris?

Berjuta pertanyaan terpampang jelas di pikiranku. Tak sanggup berdusta, aku masih sangat peduli.

Peduli pada Sehun … Apakah pria itu mencintai anakku, setelah ia mendapatkan bayi lain dari wanita yang ia cintai?

Pertanyaan di pikiran terhenti, saat aku melihat seorang pria yang baru saja masuk dari pintu gerai kopi. Demi Tuhan.

“Oh Sehun,” kataku panik dengan suara decitan pelan.

Pria itu berjalan santai. Mengenakan kaus biru dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Rambut cokelat, sangat pas dengan wajahnya yang tampan. Ia menolehkan kepala, tanda jika sedang mencari sesuatu.

Aku meraba meja, menemukan buku menu yang lumayan lebar. Katakanlah aku wanita pengecut. Aku membuka buku itu, lalu menyembunyikan parasku di sana.

Tunggu dulu!

Kenapa aku bersembunyi?

Memangnya, apa yang salah dengan diriku sekarang?

Aku seharusnya menegakkan badan, bukannya malah bertindak seperti orang bodoh.

Kututup buku itu, mantap.

Namun…

“Astaga, Oh Sehun.” Seruku dengan suara melengking, berlebihan. Aku hampir saja terjungkal dari kursi. Pria itu sudah duduk di kursi berhadapan denganku. Jangan tanya, kapan ia berada di sana. Aku juga tidak tahu. Aku terlalu panik untuk memikirkan kapan ia singgah.

Sehun tersenyum mengejek, “Dasar gadis ceroboh. Sudah delapan tahun dan kau tidak berubah. Untuk apa kau jauh-jauh pergi ke Paris?” Kata Sehun sengit.

Aku melipat tangan di depan dada, mendongakkan kepala sedikit. Berusaha tampak angkuh dan cantik. “Apa urusanmu kemari?” Tanyaku.

“Tentu saja menjemputmu. Apa kau kira aku gembira satu meja denganmu?”

“Aku bisa pergi sen—“

“—Lalu Soojung akan membunuhku. Ah, tidak terima kasih,” jawab Sehun, kalimatnya persis seperti kalimatku tadi.

Aku akan menyuarakan sesuatu yang sengit untuk membalas. Sekali lagi Sehun membuatku bungkam.

Pria itu meletakkan jari telunjuknya, bahasa non-verbal yang mengartikan aku harus diam. “Diamlah, saat ini bukan waktunya menolak. Aku tahu kau masih mencintaiku. Jadi, jangan pura-pura menolak,” lanjut pria itu.

Aku ingin menendang kakinya, tetapi aku ingat kalau tindakan kekerasan seperti itu tidak patut dilakukan oleh wanita yang sudah berusia 27 tahun.

Sehun berdiri. Jari-jari miliknya yang sering aku impikan, tiba-tiba menarik tanganku. Tergesa-gesa, pria itu menyeretku pergi dan aku mengikutinya.

Tubuh ini tidak mampu melawan.

Baiklah, bukan hanya ragaku.

Namun, hatiku yang merindu … sulit untuk melawan.

Jadi, aku pasrah. Sangat rela. Murahan sekali, terserah kalian ingin berkata apa.

Ekspresi wajahku mengeras. Aku duduk di kursi penumpang. Sehun yang mengemudikan mobil. Ia terlihat tampan, seperti tahun-tahun sebelumnya. Oke, atensi netraku harus segera diperbaiki agar tak hanya menatap ke pria itu.

Akhirnya, aku memutuskan untuk diam sembari mengamati foto di dasbor mobil. Aku merasa tubuhku terkena hantaman yang menyakitkan. Di foto itu terlukis, seorang pria yang memeluk anak laki-lakinya.

Umur anak laki-laki itu sekitar delapan tahun. Anak laki-laki yang tampan. Hidungnya mirip Sehun dan ia memiliki warna pupil yang serupa denganku.

Aku menyentuh foto itu, mengusapnya pelan.

“Aku menamainya Oh Jino,” ucap Sehun, ternyata kegiatan kecilku tadi menyita perhatiannya.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Ada rasa rindu. Bayiku sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan. Mirip sekali dengan Sehun.

“Dia mirip sekali denganmu.”

Sehun terkekeh pelan, “Semua orang berkata seperti itu, tapi kau tahu kalau aku yang membesarkannya, jadi aku lebih tahu Jino lebih mirip siapa.”

“Memangnya dia mirip siapa?” tanyaku ingin tahu, secara sembunyi-sembunyi aku mengusap airmataku yang jatuh.

Sehun menatapku sekilas, sebelum fokus lagi pada jalan raya. “Mirip sekali denganmu.”

Jantungku melorot. Oh Jino. Bayiku. Anakku. Aku mencintai dengan seluruh jiwa yang kumiliki.

Aku menutup mulut berusaha menahan isakkan. Ayolah, Jung Nara. Jangan menangis ini memalukan.

Sudah pilihanku meninggalkan bayi itu.
Tidak perlu menyesal.

Itu keputusanku.

Terdapat jeda yang panjang, tidak ada pembicaraan lagi. Aku terlalu pusing akan keadaan ini. Tapi, sesuatu yang lain menggelitik untuk ditanyakan.

“Jino, pasti senang mendapatkan adik baru.” Aku bergumam, berharap mendapatkan respons dari Sehun.

“Adik?”

“Soyeon melahirkan, jadi—“

“—Tentu saja, Jino menantikan bayi Soyeon. Dia berulang kali meminta Soyeon untuk segera melahirkan. Anakmu itu sangat tidak sabaran seperti ibunya.” Sehun memotong dengan kalimat panjang.

Mereka menikah.

Mereka ….

“Selamat atas pernikahanmu dengan Soyeon.” Aku membubuhkan nada ceria di dalam kalimat yang menyedihkan itu.

Sehun mengernyitkan kening, “Aku menikah dengan Soyeon? Jangan bercanda.” Pria itu menghamburkan tawa.

Bibirku ikut tertawa. Tidak tahu perasaan apa ini, aku tertawa sangat riang. Sehun belum menikah lagi.

Ya, lalu?

Jangan berharap yang tidak-tidak.

Jangan, terlalu serakah Jung Nara.

Jangan … Jangan ….

Terdapat banyak kalimat yang berawalan dengan kata penolakan di pikiranku. Benteng berusaha terbangun.

Benteng itu terasa kokoh dan cukup. Melindungi dari masa lalu.

Ternyata ….

Aku salah, sangat keliru. Sekat yang terasa kokoh itu. Dinding yang kuat itu…

Runtuh.

Hanya dengan satu ucapan dari seorang anak laki-laki yang datang berlari menghamburkan diri ke arah kami, ketika aku dan Sehun memasuki lobi hotel.

“Dad, apakah ini Mom? Mom, Jino merindukan Mommy. Sangat rindu. Mommy sangat cantik, seperti cerita Dad,” celoteh anak laki-laki itu dan aku mematung.

Oh Sehun apa yang kau lakukan?

Ini tidak sesuai perjanjian.

Sangat tidak sesuai ….

Apakah ini benar-benar film menyedihkan seperti yang aku bayangkan?

Seharusnya, aku dilupakan di sini.

Seharusnya, anak laki-laki itu membenciku sebab meninggalkannya sewaktu bayi.

Aku memerankan tokoh yang kurang ajar dalam alur ini. Wanita yang kabur. Tapi, apa yang terjadi dengan jalan ceritanya?

Apa Tuhan mengubah skenario hidupku yang menyedihkan ini?

“Setelah kau pergi. Jangan pernah lagi muncul di hadapan bayimu, Jung Nara.”

“Sehun ….”

“Aku tidak ingin—“

“Kau tahu Oh Sehun. Kau pria brengsek. Aku akan segera pergi dan meninggalkan hal konyol ini. Berbuatlah semaumu. Kejar Soyeon dan jangan pedulikan kehamilanku. Ambil anak ini setelah aku melahirkan. Aku berjanji, itu janjiku. Aku sudah tidak tahan denganmu!”

Soyeon menatap Sehun dengan pandangan curiga. Pria yang sedang duduk di sampingnya itu sibuk menatap Nara yang  tertawa bersama Soojung. Soyeon tersenyum, “Mulai menyukainya Oh Sehun?”

“Tidak. Aku mencintainya.”

“Kau ini sangat membingungkan.”

“Secara logika, mana mungkin aku membuat Nara hamil … Apabila diriku tidak mencintainya.”

Mendengar jawaban Sehun, Soyeon menatap Nara yang sekarang  membelai perutnya yang mulai membesar.

Kehamilan tujuh bulan, membuat adiknya menjadi wanita yang dewasa.

“Lalu, untuk apa persyaratan konyol itu?”

“Aku menyukaimu awalnya, tetapi Jung Nara lebih menarik daripada Jung Soyeon.”

“Dasar berandalan! Ya, bagaimana kalau Nara benar-benar kabur?”

“Aku akan menunggunya atau menyeretnya pulang.”

“Kau benar-benar membingungkan.”

Sehun hanya tersenyum kecil menanggapi Soyeon.

-oOo-

a/n: Part selanjutnya dapat dibaca di twelveblossom.wordpress.com dan untuk mengetahui passwordnya silahkan add Line @NYC880L (menggunakan @). Terima kasih sudah membaca.

14 thoughts on “Sad Movie: A Tale of Broken Heart Women

  1. oh ya ampun ini msh ada lanjutannya…kirain oneshoot hahahaha
    serius bikin salah fokus… kenapa jg sehun bohong dan bersikap gtu ke nara…uhhh sehun menyebalkan… kalo tau gtu kan nara gk sampe salah paham..

    lanjutannya musti baca di blog pribadi author yaaa… okeeeee

    ehh tapi aku gk pake line, ada cara lain buat dapet passwordnya???? please…

  2. Ceritanyaa wksnsdbjsjsjsj. Nggak bisa nebak. Kirain dikit ceritanya cuma sampe nara buang anaknya. Ternyata semakin kebawah semakin kebawah dan ketemu si sehun dan yaah happy ending 😄😄

  3. wah,ceritanya keren authrnim^^ Itu ada lanjutannya kah? penasaran ama lanjutan ceritanya ey. ditunggu karya selanjutnya ya authornim ^^

  4. Waha Nara, kamu dipermainkan sama si sehun, tsk…kok bia pergi sekian tahun padahal ada yg nunggu di seoul? Kok jadi ane yg kesel sendiri sama nih Nara..😂
    Keep writing thor, hwaiting!😆

  5. maygad oh sehun……😱😱 duh aku tak bisa berkata kata baca ffnya thor(?) /halah.
    karena mungkin otak aku yang loadingnya suka lama pertamanya aku kira nara ngebuang anaknya dijalanan gitu hahaha sempet ga mudeng tapi setelah kesini baru engeh jalan ceritanya buahaha xD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s